Evangelism Unlimited

Perempuan dan Misi Sedunia

Perempuan dan Misi Sedunia

6 10 99
Perempuan dan Misi Sedunia 10 6 99
Peran perempuan dalam pekabaran Injil dunia tidak boleh dianggap sebelah mata. Walaupun sampai hari ini masih ada gereja yang memperdebatkan boleh dan tidaknya kependetaan perempuan, tapi peran perempuan telah memberi kontribusi besar dalam pekabaran Injil dunia, di mana perempuan telah diutus ke berbagai negara lewat berbagai lembaga misi yang ada mulai dari Anglican, Reformed, Presbiterian, Lutheran, Baptis dan lainnya. Ada beberapa tahapan peran perempuan sejak tahun 1792 sampai tahun 1900an:

Pertama, di awal perempuan berperan sebagai penggerak dan pendukung pelayanan misi. Dengan munculnya lembaga-lembaga misi yang terpisah dari gereja tradisional, maka peran perempuan sudah dilibatkan dalam penginjilan. Peran mereka bukan sebagai pemimpin tapi mengatur organisasi pelayanan, peran merekrut penginjil, penggalian dana, menggerakkan doa dan menjadi pengajar dalam sekolah misi.

Kedua, peran perempuan selanjutnya sebagai kaum profesional yang berhati pelayan. Di ladang misi ternyata banyak membutuhkan tenaga perawat untuk rumah sakit dan guru untuk sekolah. Bila Katolik memiliki biarawati yang mengerjakan peran itu, maka di Kristen Prostestan didatangkan kaum profesional yang memiliki hati misi sehingga mereka mendapat status pekerja yang setara dengan misionaris pria.

Ketiga, mulai tahun 1865 perempuan mulai dikirim sebagai tenaga penginjil. Adalah Hudson Taylor yang mendirikan lembaga misi China Inland Mission (CIM) yang menekankan kepada peran orang percaya sama dalam pelayanan sehingga tidak perlu ada sistem klergi (kependetaan). Dicatat bahwa Taylor yang pertama merekrut perempuan sebagai tenaga misionari secara penuh waktu. Memang tidak mudah mengutus perempuan karena CIM berbasis pembiayaan oleh iman, sehingga mereka harus pergi ke gereja-gereja untuk mendapatkan dukungan sedangkan gereja belum siap menerima perempuan untuk berkhotbah. Tapi ini tidak menghalangi perempuan untuk diutus, sehingga di tahun 1865 ada 15 perempuan yang diutus ke luar negeri di mana ada 7 di antaranya berstatus lajang. Ini yang menginspirasi lembaga-lembaga misi untuk mengutus perempuan ke ladang misi.

Apakah yang dibuat perempuan dalam pelayanan misi? Perempuan diperlukan karena dianggap mampu melakukan penginjilan lewat persahabatan. Lewat kemampuan berelasi maka mereka akan mampu bersosialisasi dengan para perempuan terdidik di ladang misi seperti di China, Jepang dan India. Para perempuan ini memiliki pengaruh yang besar di masyarakat sehingga kemampuan menjalin persahabatan ini membawa sukses dalam pelayanan. Juga para misionaris perempuan diberi peran mengerjakan pelayanan kesehatan, mengajar dan organisasi pelayanan lainnya. Karena kesuksesan itu maka dibentuk beberapa lembaga misi khusus perempuan seperti Society for Propagating Gospel (SPG) dan London Missionary Society di tahun 1866. Bahkan di tahun 1910 di Amerika Serikat saja ada 40 lembaga misi khusus mengutus perempuan dan di masa keemasan misi Protestan perempuan telah diutus lebih banyak daripada pria. Luar biasa!

Ada satu contoh kesaksian pelayanan perempuan yang berhasil dalam ladang misi yaitu Charlotte Lottie Moon diutus tahun 1873 ke China dari Gereja Southern Baptist. Setelah 12 tahun lamanya melayani dalam tugas misi rutin, Lottie memutuskan untuk pindah dari kota Tengzhou ke kota yang lebih dalam lagi yaitu kota Pingtu. Inilah untuk pertama kalinya perempuan merintis pelayanan di daerah yang baru. Di daerah perintisan ini Lottie Moon membawa ratusan orang Tionghoa kepada Kristus dan pelayanannya berhasil mendirikan lebih dari 30 gereja Tionghoa. Selama 20 tahun di sana, ribuan orang yang baru percaya dibaptis. Ini membuat Pingtu menjadi basis pelayanan Gereja Southern Baptis terbesar di China. Lottie Moon tidak pernah lelah mengunjungi desa-desa mengabarkan Injil, melakukan pelatihan di sekolah-sekolah penginjilan, menulis artikel yang menyentuh dan mempengaruhi banyak orang di majalah Misi Soithern Baptis di Amerika Serikat. Dialah pendorong gerakan perempuan untuk membentuk lembaga misi perempuan untuk mengirim misionaris dan sekaligus pendanaannya. Di tahun 1887, Lottie Moon menulis di Jurnal “Foreign Mission Journal” dan mengusulkan bahwa Minggu sebelum Natal agar ada persembahan khusus untuk pelayanan misi. Sejak tahun itu maka setiap tahun diadakan persembahan khusus yang sekarang dikenal dengan nama “Lotti Moon Christmas Offering”. Pada waktu pertama kali diadakan uang persembahan yang terkumpul berhasil mengirim tiga misisonari perempuan ke China. Sejarah kemudian mencatat bahwa sampai hari ini bahwa persembahan sekali dalam setahun ini menjadi pengumpul dana terbesar sepanjang sejarah misi. Ingat ini hanya sekali saja setahun. Bahkan terakhir bisa mengumpulkan dana 20 juta dollar Amerika atau sekitar 260 Milyar Rupiah sekali persembahan dalam denominasi gereja mereka. Jumlah yang fantastis!

Lottie Moon adalah perempuan yang mendedikasikan hidupnya semata untuk Injil. Dalam catatan sejarah, ketika terjadi kelaparan besar di seluruh China waktu itu dia mengorbankan jatah makanannya untuk memberi makan orang-orang percaya sehingga dia menjadi kurus dan kekurangan gizi. Ketika akhirnya dia jatuh sakit dan dokter memutuskan harus dibawa pulang ke Amerika karena sudah mengalami kekurangan gizi yang parah sekali. Dia dinaikkan kapal kembali ke Amerika untuk diobati, tapi pada malam Natal di tahun 1912 sementara masih dalam perjalanan dengan kapal laut dia meninggal dunia. Saat ini, lewat kisah hidupnya yang penuh pengorbanan dan gagasannya untuk memberi persembahan di hari Natal telah menginspirasi, merekrut bahkan mendukung ribuan misionari baru. Walaupun dia bukan wanita yang menarik dalam penampilan dan tidak tinggi, tapi hidupnya telah mempengaruhi banyak orang dan membawa dampak besar dalam pelayanan misi masa kini.

Pelajaran berharga dari para perempuan bahwa gerakan dan kegiatan perempuan hari ini harus menatap keluar dan bergerak sebagai perempuan yang mengutus penginjil perempuan. Jangan sampai kaum perempuan hanya sibuk dengan aktivitas internal ibadah dan kegiatan rohani saja dan melupakan kegiatan misi. Dahsyatnya peran perempuan dalam kemampuan berelasi, penggerak dana dan berkorban mengingatkan kita untuk tidak menyepelekan peran perempuan dalam tugas pakabaran Injil. Kaum perempuan harus bangkit.

Sumber Penulisan:

Timothy C. Tennent, How God Saves the World: A Short History of Global Christianity (Tennessee, USA: Seedbed Publishing, 2016).


by : Pdt. Dr. Daniel Ronda (Ketum GKII)
Previous
Newer
Next
Posting Lama

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top