Evangelism Unlimited

Anak dan Kelemahan Mereka: 7 Langkah Efektif bagi Orangtua yang Rindu Menolong Anak untuk Bertumbuh Menjadi Lebih Baik

Anak dan Kelemahan Mereka: 7 Langkah Efektif bagi Orangtua yang Rindu Menolong Anak untuk Bertumbuh Menjadi Lebih Baik

6 10 99
Anak dan Kelemahan Mereka: 7 Langkah Efektif bagi Orangtua yang Rindu Menolong Anak untuk Bertumbuh Menjadi Lebih Baik 10 6 99
Kita tak perlu menutup mata atas kekurangan dan kelemahan yang ada pada anak kita, justru kita perlu menunjukkan dengan gamblang letaknya, agar anak mudah mengerti apa yang menjadi harapan orangtuanya.

Beberapa waktu lalu, saya sempat menerima sebuah broadcast message. Seorang anak telah hilang, demikian isinya. Seketika itu, hati saya pilu. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orangtua yang harus berpisah, entah sesaat - entah untuk berapa lama, tanpa tahu keberadaan anaknya. Juga sebaliknya, betapa panik dan takutnya si anak saat menyadari keberadaannya yang jauh dari orangtuanya. Oleh karena itu, setiap kali mendengar atau membaca kabar tentang anak yang hilang, saat itu pula jantung saya berdegup kencang - serasa kehilangan anak sendiri.

Namun, berita kehilangan anak yang di-broadcast kali ini cukup mengejutkan saya. Tertulis di sana bahwa anak itu sengaja diturunkan dari mobilnya karena nilainya di sekolah kurang bagus. Orangtua anak itu memberikan punishment dengan menurunkan si anak di jalan raya. Berharap si anak jera dan akan belajar lebih rajin lagi setelah mendapatkan hukuman seperti itu. Namun, kenyataan yang terjadi, anak tersebut hilang ketika orangtuanya berbalik arah untuk menjemputnya di tempat di mana ia diturunkan. Sudah dicari-cari, namun hasilnya: nihil. Dengan penuh penyesalan, orangtua anak tersebut mencoba menyebarluaskan berita kehilangan anak mereka lewat beberapa media.

Rasanya tidak perlu lagi kita menghakimi orangtua anak tersebut. Tak perlu juga kita berandai-andai, apakah saat itu mereka khilaf hingga tak mampu berpikir panjang, ataukah memang si anak telah sangat keterlaluan hingga membuat amarah orangtuanya demikian meluap tak terbendung.

Satu hal yang pasti, kejadian nyata ini bisa menjadi pembelajaran yang penting bagi kita - para orangtua yang seringkali mengalami hal serupa. Inilah saatnya kita belajar bersama untuk menjadi orangtua yang semakin bijak dalam mengambil keputusan dan langkah yang tepat demi perkembangan anak kita.

Bagaimana sikap terbijak dalam menghadapi kelemahan dan kekuarangan anak? Inilah 7 cara orangtua untuk bersikap bijak, menghadapi serta membantu anak dalam mengatasi kekurangan dan kelemahan mereka:


1. Tunjukkan dengan jelas letak kesalahan/kelemahan anak


Apakah anak kita suka berbuat onar, usil di sekolah? Ataukah ia memiliki kelemahan di bidang studi tertentu? Dua hal tersebut adalah penyebab utama yang seringkali membuat kita sebagai orangtua harus bolak balik menghadap guru untuk menerima warning. Atau, ada juga anak yang berprestasi baik dan tidak pernah memiliki masalah apapun dengan teman di sekolah, namun justru di rumah selalu menjadi biang kerok, dan membuat orangtua jadi naik darah menghadapi tingkahnya. Memang harus diakui, setiap anak mempunyai pola perilaku, kemampuan, dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda-beda. Dan karena itu, menghadapi anak yang satu dengan anak yang lain pun tentu perlu cara yang berbeda.

Meskipun demikian, pedoman penting dalam menghadapi anak dan kekurangan mereka adalah tunjukkan dengan jujur dan jelas [to the point] di mana letak kesalahan yang anak kita buat atau apa yang menjadi kelemahan dan kekurangannya. Beri tahu saat itu juga, jangan menunda waktu menegur. Jangan juga baru memberi tahu anak nanti, saat ia mengulangi kesalahan. Hal ini penting agar anak tidak salah menangkap pesan dari kita, orangtuanya.

Anak saya yang duduk di Sekolah Dasar memiliki kekurangan dalam hal menulis, sama seperti saya ketika masih bersekolah dulu. Tulisannya susah sekali untuk dibaca, baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Sampai-sampai, pernah ia mendapatkan nilai jelek di ujian, bukan karena memberikan jawaban yang salah, namun karena tulisannya yang seperti ‘ceker ayam’ itu. Saking susah dibaca, jawaban yang betul pun tetap dicoret, dianggap salah oleh gurunya. Saya sempat merasa jengkel. Namun kemudian saya berpikir, mungkin dengan punishment model begini, akan lebih memberikan efek jera baginya. Ia jadi terdorong untuk memperbaiki tulisannya, menjadi lebih bagus sehingga bisa dibaca dengan baik oleh orang lain. Nilai baik dalam ujian juga akan diraih bila ia menjawab dengan benar dan dengan tulisan yang tak sulit terbaca.

Kita tak perlu menutup mata atas kekurangan dan kelemahan yang ada pada anak kita, justru kita perlu menunjukkan dengan gamblang letaknya, agar anak mudah mengerti apa yang menjadi harapan orangtuanya.

2. Ajarkan cara yang benar

Setelah kita mengetahui letak kesalahan, serta apa kelemahan atau kekurangan anak kita, jangan panik, jangan emosi. Tahan diri, sembari kita pikirkan solusi terbaik yang bisa dipraktikkan oleh anak kita. Setelah itu, ajarkan kepada anak cara melakukannya dengan detail.

Anak saya dengan tulisannya yang tak terbaca, misalnya. Setelah mengamati kebiasaannya ketika menulis, saya menemukan bahwa ternyata kesalahan terletak pada posisi tangan yang kurang tepat. Itulah yang menyebabkan tulisannya menjadi tak terbaca. Sejak itu, saya ajarkan anak saya cara memegang alat tulis dengan benar agar dapat menghasilkan tulisan yang lebih baik.

Mungkin selama ini anak kita sering sekali melakukan kesalahan yang itu-itu saja. Berulang kali kita tegur, bahkan sampai kita marahi pun, sepertinya tidak berdampak. Eits, jangan salah! Mungkin saja kesalahannya terletak di diri kita.

Percuma berkali-kali marah untuk hal yang sama, jika kita belum pernah mengajarkan kepada anak bagaimana caranya agar kesalahan yg sama itu tak terus-menerus terulang.

Memang, diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam hal ini.

3. Beri contoh, praktikkan langsung

Sering ngomel atau memberikan komentar yang tak sedap didengar kepada anak juga bisa menjadi penyebab anak enggan atau malah mengalami kemunduran dalam proses memperbaiki diri.

Dorongan semangat dan motivasi anak tidak hanya cukup melalui perkataan positif, namun juga harus dibarengi dengan tindakan. Dengan demikian, anak akan menilai bahwa orangtuanya tak asal omdo [omong doang], tapi juga ikut benar-benar mempraktikkan apa yang diajarkan.

Seperti kata pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” maka apapun yang kita ingin untuk anak kita lakukan, sebagai orangtua kita harus bisa memberikan contoh teladan terlebih dahulu. Anak dengan sendirinya akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

Kita ingin anak kita suka membaca buku, namun kita sendiri tidak pernah mau membelikan buku atau membacakan buku. Bahkan, anak kita pun jarang pernah melihat kita membaca buku. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa jadi suka membaca buku?


4. Latih terus-menerus

Bila tindakan terjun langsung kita telah membuahkan hasil positif, anak kita telah berhasil mengikuti contoh yang kita berikan, jangan merasa puas dan berhenti sampai di situ saja. Lakukan terus menerus agar anak terlatih dan menjadikan hal yang benar dan baik tersebut sebagai habit. Seperti otot biseps yang jika dilatih terus-menerus akan terbentuk secara ideal, kebiasaan yang baik juga perlu terus menerus dilatih.

Sama seperti ketika kita mengajarkan anak berenang, tidak cukup jika hanya sekali atau dua kali masuk ke kolam renang dengan mempraktikkan gaya berenang yang benar. Perlu latihan berkala agar anak mampu melakukannya dengan sempurna. Begitu pula dengan anak yang cenderung melakukan kesalahan, kita perlu terus-menerus mengingatkan dan mendukungnya untuk belajar melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Dalam hal ini amat dibutuhkan konsistensi, agar anak dan orangtua sama-sama terpacu untuk senantiasa tekun menjaga dan mengerjakan hal-hal yang sudah terbentuk dengan baik itu.


5. Tumbuhkan rasa percaya diri


Bilamana anak telah berhasil melakukan usaha terbaiknya, melangkah setahap lebih maju dari ia yang sebelumnya, jangan pernah pelit memberikan pujian! Itulah sesungguh-sungguhnya penghargaan yang diinginkan oleh anak, selain reward sebagai bonus, tentunya.

Pujian orangtua adalah pupuk yang ampuh untuk menyuburkan rasa percaya diri anak.

Selain itu, lewat pujian, secara tidak langsung kita telah memotivasi anak untuk terus berani mencoba, mencoba, dan tetap mencoba maju. Sebisa mungkin hindarkan hardikan yang kurang sedap didengar atau muka kecut dan asam bila mendapati anak gagal dalam usahanya.

Anak saya yang kecil cenderung lebih pemalu. Ia akan mengalami kesulitan bila harus berbicara atau hanya sekadar tampil berdiri di depan banyak orang atau di tempat umum. Perlahan namun pasti, kami - saya dan suami saat di rumah, maupun guru di sekolahnya - berusaha untuk membantu menumbuhkan rasa percaya dirinya. Meyakinkan agar dia mampu menguasai diri dan melawan rasa takut, kapan pun dan di mana pun ia berada.


6. Biarkan mandiri

Setahap demi setahap, anak pasti akan mengalami kemajuan bila ia mendapati bahwa lingkungan sekitar selalu memberikan dukungan atas usahanya untuk bangkit dari kekurangan/kelemahan/kesalahan yang ada pada dirinya. Namun, kemajuan itu tidak akan cukup berarti bila kita sebagai orangtua tidak pernah membiarkan anak untuk belajar mandiri.

Mandiri maksudnya, anak memiliki kesadaran sendiri - tanpa harus menunggu perintah atau teguran - untuk segera melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dan tidak melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan.

Kemandirian bukanlah sebuah karakter yang dimiliki oleh anak yang dengan usia cukup matang saja, sejak dini pun anak balita juga sudah dapat diajarkan untuk mandiri. Seperti misalnya ini, hal sederhana yang selalu anak terkecil kami lakukan tiap hari, melepas baju dan celana sendiri saat mau mandi, meletakkannya ke dalam keranjang baju, lalu setelah mandi kembali memakai baju dan celana sendiri. Walaupun kadang kurang rapi, but it’s okay!

Biarkan anak-anak melakukan sesuai kemampuan selama mereka memiliki kemauan untuk melakukannya sendiri.

7. Ukir prestasi

Setelah tahapan demi tahapan kita lewati, yakinlah bahwa anak kita telah mampu mengatasi kekurangan atau kelemahannya, bahkan mungkin lebih dari semua itu, anak kita telah berhasil mengukir ‘prestasi’ yang tak terduga sebagai buah manis proses pembentukannya selama ini.


Keberhasilan yang diperoleh adalah bonus dari jerih lelah kita yang senantiasa mendukung pertumbuhan dan perkembangan baik anak kita. Untuk itu, senantiasalah bersyukur. Tak perlu sombong bila anak kita berprestasi. Tak perlu pula rendah diri bila anak kita nampaknya tak pernah mengukir prestasi. Karena sesungguhnya, tiap anak memiliki prestasinya sendiri. Anak yang memiliki segudang prestasi, mengoleksi medali dan piala, adalah sama berprestasinya dengan seorang anak yang telah berhasil dalam perjuangan mengatasi kekurangan, kelemahan, kesalahannya.

Sebagai orangtua sekaligus guru terbaik bagi anak-anak kita, mari terus memotivasi mereka untuk tetap maju, maju, dan terus maju!

Selamat mendidik anak bangsa!

Author : Lany Inawati from RR










Baik Untuk Dibaca
Tidak Ada Anak Yang Sulit 
Dasar Pernikahan Bahagia 
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top