Evangelism Unlimited

Bersahabat Dengan Anak

Bersahabat Dengan Anak

6 10 99
Bersahabat Dengan Anak 10 6 99
                                         
Orangtua tak jarang menangis dengan susah hati karena terus mengalami konflik dengan anak kesayangan mereka. Tak sedikit para Ayah, termasuk saya, pernah merasa frustrasi saat mengasuh anak. Suatu hari saat hubungan saya masih sering konflik dengan si bungsu, dengan jujur dia berkata: "Kebutuhan remaja di seluruh dunia, adalah orangtua bisa menjadi sahabat mereka. Apakah Papa bisa menjadi sahabatku...?"

Mengapa orangtua kesulitan bersahabat dengan anak mereka sendiri? Ada banyak alasan. Diantaranya, Orangtua  dilahirkan pada zaman berbeda dengan anak mereka, Salah satu perbedaan yang menonjol adalah anak-anak mengenal teknologi internet sejak kecil. Orang tua paling hanya main catur, bola, dsb.  Anak mengakses Dunia hiburan begitu limpah lewat sosial media. Dengan hadirnya google, mereka merasa bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Komunikasi dunia maya menjadi bagian hidup mereka. Belum lagi soal gaya hidup: makan, baju, rambut, dll, sebagian tidak cocok atau bentrok dengan nilai nilai yang dianut orangtua.

Disamping orangtua perlu memahami anak, sebaliknya anakpun perlu memahami orangtua. Sering remaja sulit akrab dengan orangtua karena tidak memahami latar belakang orangtua, demikian sebaliknya. Orangtua memiiki latar belakang dan masa lalu tersendiri.

Lahir dalam Keadaan Berbeda

Setiap kita lahir dalam kondisi yang berbeda. Dalam satu keluarga saja, anak pertama, kedua, ketiga dst tidak ada yang sama. Ini terjadi karena kondisi ibu tidak pernah sama saat melahirkan, termasuk Anda dan saya.  Selain proses kehamilan dan proses kelahiran, ada beberapa hal yang membentuk kepribadian kita. Pertama, kondisi emosi ibu yang membesarkan kita. Kedua, kualitas relasi ayah dan ibu kita saat membesarkan kita. Ketiga, kualitas relasi dengan orang terdekat lainnya seperti kakak/adik dll, termasuk kualitas cinta yang kita terima dari sekitar. Keempat, kondisi spiritual dan sosial-ekonomi. Kelima, faktor lingkungan seperti sekolah, pergaulan dll.

Jika ada trauma atau beban keluarga asal ayah anda bisa jadi pemicu. Misal, ayah seorang pemarah suka pukul. Itu bisa jadi cara yang dia alami dari kakek/nenek kita. Tidak kreatif mendisiplin. Mungkin hanya dengan dua cara, membentak dan memukul. Buruknya pengasuhan kakek terhadap orangtua menyisakan masalah saat mereka dewasa dan kemudian menjadi orangtua. Saat saya memahami masa lalu ayah saya, mulai bisa berempati dan memaafkan ayah. Dia dibesarkan tanpa seorang ayah.....dan hidup dalam keadaan sulit.

Terapi Kelahiran

Salah satu jalan pemulihan dari tekanan dan persoalan hidup adalah dengan "merayakan" kelahiran. Artinya, berusaha menghayati bagaimana kita dikandung dan dilahirkan; bagaimana kita dibentuk Allah di dalam rahim ibu.

Merayakan kelahiran tidak hanya saat kita berulangtahun. Tapi setiap saat, ketika kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan. Menghayati kelahiran dan mengagumi orangtua yang memberi kita hidup, akan membuat hati kita hangat, penuh sukacita.

Kelahiran adalah sebuah keajaiban. Apakah keajaiban dari kelahiran? Keajaiban kelahiran adalah bahwa kita mendapatkan kesempatan hidup di dunia ini melalui orangtua kita.  Kelahiran adalah sebuah keajaiban, karena Tuhan langsung membentuk kita dengan tangan-Nya di rahim Ibu kita. Tidak ada kelahiran kita yang kebetulan.

Saya pernah lama menyesali mengapa saya lahir dari orangtua saya. Sistem keluarga orangtua saya disfungsi dan penuh konflik. Saya dibesarkan ayah dan ibu yang adalah alkoholic. (Puji Tuhan, beberapa tahun sebelum meninggal ayah & ibu saya bertobat dan melayani Tuhan).

Tahun 2001 saya disadarkan oleh Mazmur 139 : 13-14 bahwa Allah sudah mengatur semuanya. Dia Allah yang berdaulat mengatur kelahiran saya. Saya menyadari bahwa saya bukan hanya dikandung dalam rahim Ibunda saya tetapi Allah sendirilah yang mengatur hal tersebut.  Allah sendirilah yang memproses kelahiran saya dengan meminjam kandungan Ibu saya. Tidak ada yang kebetulan. Tuhan memiliki tujuan tertentu untuk kelahiran Anda di bumi ini.

Allah menyelamatkan kita melalui keluarga (Jusuf dan Maria). Dia menggunakan wadah keluarga menebus manusia. Karena itu keluarga adalah berkat terbesar kedua setelah penebusan. Keluarga berharga karena pasangan dan anak-anak adalah milik kesayangan kita yang bernilai kekal. Uang dan jabatan tidak akan kita pertanggungjawabkan.

Tetapi anak dan pasangan akan ikut bersama kita mempertanggung-jawabkan diri dihadapan Allah. Keluarga berharga karena menjadi orangtua dan pasangan adalah posisi yang tidak tergantikan. Pekerjaan kita sebagai karyawan, dosen atau pengkotbah bisa digantikan banyak orang. Tapi tidak demikian menjadi suami bagi istri (atau sebaliknya) tidak mungkin tergantikan.

Kembalilah kepada keluargamu. Jika Anda bisa mencintai keluarga yang melahirkanmu, Anda akan mendapat semangat pencerahan, bahwa hidup itu indah dan berharga serta layak diwariskan kepada generasi mendatang. Anda akan semakin mencinta pasangan dan anak-anak. Semangat inilah yang akan membangun dedikasi Anda dalam bekerja (karir) dan melayani di tengah masyarakat. Keluargalah tempat kita membangun kualitas hidup dan kualitas mati. Sehingga baik hidup dan mati kita sungguh berguna dan memuliakan Sang Pencipta.

Bersahabat dengan Anak

Sebagai orangtua dan pembina remaja ada beberapa sifat yang kita perlu bangun dalam diri kita. Pertama, dapat menoleransi paradoks dalam diri remaja. Anak remaja sering suka berjanji namun tidak dapat menepatinya. Kita perlu belajar menerima mereka apa adanya. Kedua, mempunyai rasa humor. Sebab humor menjadi sarana komunikasi yang sangat efektif dengan remaja. Anak remaja suka ngobrol dan bercanda. Ketiga, fleksibel. Kita bisa menyesuaikan diri dengan remaja. Perubahan pada mereka sering begitu cepat. Kalau nasehat kita tidak diterima, jangan cepat kecewa.

Mengerti tekanan yang dihadapi para remaja adalah salah satu bentuk empati orangtua terhadap anak-anaknya.  Walaupun nampaknya mereka tidak memerlukan kehadiran orangtuanya, sebenarnya remaja selalu mencari figur yang memberikan rasa aman dalam diri mereka. Membutuhkan teman sharing yang enak dan tidak menggurui.  Sebab mereka tidak ingin terus dianggap anak kecil. Tetapi di sisi lain mereka juga tidak mau dibebani tanggung jawab yang belum bisa mereka pikul. Karena itu, sikap orangtua yang tepat adalah menjadi pendamping.

Penutup

Kalau jujur, lebih banyak sukacita dan kegembiraan karena kehadiran mereka. Konflik sering menjadi pintu memperkaya pengertian dan hubungan dengan remaja kita. Kalau kita sedang kesulitan dengan remaja, jangan lupa, masa itu akan lewat. Kita perlu belajar bergumul dan menangis bersama mereka.

by: Julianto Simanjuntak










Baik Untuk Dibaca
Menikmati Kehadiran Anak Selagi Bisa 
Show Me Your Friends 
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top