Evangelism Unlimited

BEBAN & KEDEWASAAN

BEBAN & KEDEWASAAN

6 10 99
BEBAN & KEDEWASAAN 10 6 99
Hidup tidaklah lepas dari berbagai permasalahan. Ketika kita mulai mengenal Tuhan, kita senang sekali berdoa menyerahkan beban permasalahan kita ke dalam tangan Tuhan. Sesudah itu kita merasa semuanya tanggung jawab Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita. Saya juga melakukan hal yang sama!

Sampai saya mendengar kotbah Jeffrey Rahmat bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita menyerahkan beban kepada Tuhan tetapi Tuhan meminta kita datang kepadaNya untuk mendapat kekuatan yang baru sehingga kita bisa mengatasi permasalahan kita sendiri agar menjadi makin dewasa rohani.

Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat,

Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu.

Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah kepadaKu,

karena Aku lemah lembut dan rendah hati

dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Sebab kuk yang kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.

Matius 11 : 28 – 30

Seperti Laptop, jika battere-nya penuh maka untuk memproses program yang beratpun akan lancar dan cepat tetapi jika “low-batt” maka program yang ringanpun bisa macet. Ketika kita datang kepada Tuhan, kita akan diberi kekuatan baru atau di-charge dengan penuh sehingga kita bisa menyelesaikan masalah kita tanpa terasa berat. Dalam setiap level kehidupan, ada kesulitannya masing- masing. Setiap kita ingin maju, sukses dan kaya tetapi perlu diingat untuk naik ke level yang lebih tinggi dalam kehidupan ini berarti kita harus lebih cerdik, berhikmat, bijak dan mampu menangani masalah yang lebih besar. Tentu saja semakin tinggi level yang kita capai, semakin besar berkat dan fasilitas yang kita terima.

Allah tidak menghendaki kita melakukan hal-hal yang luar biasa,

Dia ingin kita melakukan hal biasa dengan luar biasa baik.


Bishop Gore

Demikian juga Kong Hee, dari City Harvest Church – Singapura, menceritakan saat pertama-tama menjadi orang Kristen dia berpikir bahwa setiap kali menghadapi masalah, dia bisa berteriak minta tolong kepada Tuhan, lalu Tuhan akan datang menolongnya. Tetapi seiring bertumbuhnya kedewasaan rohani, ternyata keadaannya tidak selalu demikian. Seringkali Tuhan diam saja. Tuhan mengijinkan kita mengalami masalah dan badai dalam kehidupan kita agar kita belajar mengatasi masalah kita sendiri. Dalam kitab wahyu berkali-kali Tuhan mengatakan bahwa kita harus jadi pemenang. Kata pemenang artinya orang-orang yang menyelesaikan masalah. Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah kita maka kita tidak bisa menjadi pemenang di dalam Tuhan.


Kong Hee menjelaskan, Markus 6: 45 -52 menceritakan bahwa Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang. Yesuspun pergi ke bukit untuk berdoa. Pada ayat 48 diceritakan ketika Yesus melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air. Murid-murid berharap Yesus segera menolong mereka. Sesungguhnya Tuhan Yesus datang hanya untuk mengawasi dan memotivasi mereka, “ayo, kamu pasti bisa…..”, agar mereka bisa memenangkan tantangan yang dihadapi. Tuhan Yesus ingin melihat bagaimana mereka mengatasi permasalahan mereka dan menggunakan iman mereka. Tetapi ketika dilihatNya mereka betul-betul tidak mampu maka Tuhan Yesuspun menolong mereka. Tuhan ingin kita belajar agar semakin maju dan kuat sehingga kita mampu mengatasi masalah hidup kita yang semakin berat . Tuhan Yesus lebih peduli perkembangan rohani kita karena mengatasi masalah dan memberkati kita adalah masalah kecil bagi Dia.

Kesuksesan harus diukur bukan oleh posisi yang sudah dicapai

seseorang dalam hidupnya,


melainkan oleh rintangan-rintangan yang telah diatasinya,

saat ia berusaha untuk sukses.


Dr. Booker T. Washington

Ketika kita melihat orang yang ditimpa masalah atau kemalangan, seringkali tanpa sadar dalam hati kita bertanya-tanya : “Dosa apa yang dibuatnya?” sama seperti yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Ayub ketika mereka melihat begitu hebat kemalangan yang menimpa Ayub. Mereka menghakimi Ayub, saat Ayub bertahan bahwa dia tidak berdosa. Bahkan mereka berpikir mereka melakukan hal yang benar yaitu membela Tuhan, mereka merasa lebih tahu kehendak Tuhan dan menyuruh Ayub bertobat.

Manusia hanya bisa melihat sebatas pandangan mata kita. Sama seperti sahabat-sahabat Ayub, kitapun seringkali tidak mengerti apa maksud Tuhan di balik segala sesuatu yang terjadi. Oleh karena itu alangkah bijaknya jika kita bisa belajar menjadi sahabat yang tidak menghakimi saat saudara seiman kita sedang menderita, tidak juga selalu ingin memberi nasihat – seolah-olah kita lebih tahu dan lebih benar – tetapi kita bisa menjadi pendengar yang berempati serta menjadi sahabat yang bisa bersama-sama mendukung dalam doa dengan kerendahan hati. Karena ternyata benar, Ayub tidak bersalah!

Lalu apa maksud Tuhan mengajar Ayub melalui segala kemalangan ini ? Kong Hee menjelaskan bahwa semula Ayub sangat takut jika ada sesuatu yang buruk menimpa dia dan keluarganya. Maka setiap hari Ayub mempersembahkan korban dan menyembah Tuhan agar tidak ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya, keluarganya,bisnisnya dll. Ayub begitu stress dan dengan ketakutannya yang konstan, Ayub mengerjakan segala sesuatu dengan detil agar hidupnya berjalan dengan lancar. Dengan segala ketakutannya maka secara tidak sadar Ayub sepertinya menantikan datangnya malapetaka. Kita menarik apa yang terus menerus kita pikirkan, entah itu hal yang positif maupun hal yang negatif!

Inti dari kisah Ayub bukanlah penderitaannya. Karena Ayub menderita hanya satu tahun dan Tuhan memberikan dua kali lipat segala sesuatu dalam hidup Ayub bahkan anaknya terkenal paling cantik di seluruh negeri. Ayub menikmati kelimpahan sepanjang hidupnya, dia masih hidup 140 tahun setelah dipulihkan. Melalui segala masalahnya, Tuhan ingin mengeluarkan Ayub dari praktek agamawi dalam hubungannya dengan Tuhan supaya Ayub membangun hubungan dengan Tuhan bukan berdasarkan ketakutan tetapi berdasarkan iman dan kasih.

Ayub berharap sangat besar pada korban persembahannya sehingga apa yang terjadi dalam hidupnya itu menggoncangkan dirinya. Bukankah sebagian besar agama dibangun diatas rasa takut ? Takut akan nasib buruk, takut diserang iblis, takut rumah salah letak sehingga keuangan seret dll.. Takut adalah senjata iblis yang paling ampuh untuk mengalahkan orang percaya. Ketakutan mempunyai kuasa untuk menarik kita pada apa yang kita takutkan. Ketakutan akan menarik semua kemiskinan, sakit penyakit dan kegagalan terjadi dalam hidup kita. Oleh sebab itu iblis ingin mencengkeram kita dengan ketakutan. Dan ketakutan pula yang menahan langkah kita untuk maju dan melakukan hal-hal yang dahsyat bagi Allah. Apa yang menyebabkan orang yang menerima satu talenta menyimpan uangnya? Ketakutan! Rasa takut membuat kita menguburkan semua talenta kita.

Di dalam kasih tidak ada ketakutan.


Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.


Sebab ketakutan mengandung hukuman,


dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.


1 Yohanes 4 : 18

Sedangkan iman menarik kita kepada hal yang positif seperti keberhasilan, kesuksesan, kebahagiaan dan kebebasan. Dengan iman kita menarik segala kebaikan yang disediakan Allah agar terjadi dalam hidup kita. Sejak peristiwa kemalangan itu, hubungan Ayub dengan Tuhan bertumbuh, Ayub mengenal dengan jelas siapa Allahnya dan hubungannya didasari oleh iman bukan ketakutan lagi. Itulah yang Tuhan inginkan juga bagi kita : hubungan yang dilandasi iman dan kasih.

Tujuan utama manusia

adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.


The Shorter Catechism (1646)

BIBLIOGRAFI:

1. Kotbah Jeffrey Rahmat

2. Kotbah Kong Hee

3. Zig Ziglar – See You At The Top with Pelican Publishing Company,1995.



Author : Yenny Indra (Penulis Motivator Rohani)










Baik Untuk Dibaca
Dengar Kotbah Kok Ngantuk 
Tidak Ada Anak Yang Sulit 

 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top