Evangelism Unlimited

Kiat Menghadapi Tiran

Kiat Menghadapi Tiran

6 10 99
Kiat Menghadapi Tiran 10 6 99
Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang suka menganiaya anak dan istrinya seringkali menunjukkan gejala awal gangguan kejiwaan, seperti gangguan kepribadian. Mereka umumnya korban kekerasan orangtua di masa kecilnya. Mereka suka mencurigai orang, dan sensitif kalau ditolak. Saat marah cenderung menganiaya orang di dekatnya, baik fisik maupun psikhis. Perkataan mereka cenderung menyerang dan menggunakan kata-kata yang mengejek atau menghina.

Ia suka mengatur atau mengendalikan siapa saja yang di dekatnya. Orang tiran seperti ini bersikap semau dewe alias sewenang-wenang.  Mereka umumnya memiliki konsep diri yang kacau, mengidap rendah diri dan depresi kronis.  Mereka umumnya menderita adiksi hubungan. Cirinya mereka selalu berusaha keras diterima dan dihargai orang lain. Penolakan atau pengabaian sangat menyakitkan bagi mereka. Karena kondisi inilah mereka  tersiksa oleh berbagai rasa takut yang saling bertolak belakang satu sama lain, antara mau diterima di satu sisi tapi disisi lain tidak mau telalu dekat. Karena jika terlalu dekat mereka takut kehilangan kuasa mengontrol orang lain.

Ciri lainnya adalah, orang ini kadang terlihat sangat baik atau ramah. namun dengan cepat ia berubah menjadi kasar. Pola relasi mereka: melekat erat, panik, menolak. Melekat erat, panik, menolak.  Inilah siklus yang umum ditemui pada para tiran, yakni orang yang suka mengendalikan orang lain.  Para tiran ini diam-diam tersiksa karena hubungan-hubungan sosialnya tidak ada yang beres. Semua berakhir dengan berantakan, bayangkan...tidak ada yang benar-benar berani dekat dengan mereka. Menjengkelkan.

Mereka  yang suka menganiaya karena punya masa kanak yang sangat menderita. Mereka pernah dianiaya saat kecil, terutama dari sang ayah, dan terkadang dari Ibu. Penolakan seorang ayah atau dibanding-bandingkan atau disepelekan, membuat dia tersiksa secara batin.

Saat kecil mereka tidak saja tersiksa secara fisik, tetapi terutama menderita karena harga dirinya dianiaya sang ayah. Apakah karena dihukum di depan umum, atau dihukum tanpa alasan yang jelas.

Saat dewasa individu menjadi sangat haus akan penghargaan. Ia menuntut respek yang tinggi dari pasangan dan anaknya. Apapun dia lakukan untuk mendapatkan respek. Termasuk mengancam dan menganiaya. Kalau respek itu tidak didapatkan,  maka ia mendadak berubah menjadi monster yang menakutkan. Penghinaan pada harga diri anak terbukti memberikan sumbangan besar terhadap terbentuknya kepribadian penganiaya pada masa dewasa.

Sekitar tahun 2003 kami pernah mendampingi seorang klien berusia 36 tahun yang sejak kecil diinjak-injak, dikurung, dipukuli, dibenci dan dibuang ayahnya. Pengalaman itu membuatnya berkenalan dengan narkoba sejak usia belasan tahun. Dia menjadi pecandu sampai usianya 36 tahun, dan tidak punya arah hidup yang jelas. Ia menjadi pemarah dan bahkan berani melawan ayahnya. Tersinggung untuk hal kecil saja bisa menimbulkan reaksi yang sangat berlebihan dalam diri klien ini. Umumnya anak yang pernah dianiaya atau ditelantarkan orang tuanya di masa kecil memendam campuran kemarahan, rasa malu, rasa tidak percaya dan kecemasan yang sifatnya sangat mudah meledak.  Begitu anak ini menjadi dewasa, apa yang dulu dipendamnya akan mulai naik dan meledak ke permukaan.

Kasus lain, sekitar tahun 2010 kami pernah mendampingi seorang klien Pria usia 35 tahun, yang begitu berambisi membunuh Ayah kandungnya (seorang Pdt dan pengusaha). Dia mengalami kepahitan yang sangat dalam sejak masa kecilnya. Ayahnya, juga didukung ibunya, lebih menyayangi adiknya. Itu ditunjukkan di depan mukanya. Itu sangat menjatuhkan harga dirinya. Adiknya dibeli rumah dan mobil, dia harus berusaha sendiri. Dia tak pernah dipuji, apalagi di depan orang banyak. Selalu adiknya. Saat kecil dia pendam, tapi setelah menikah kemarahan itu meledak. Beberapa kali dia cari jalan membunuh ayahnya, tapi selalu gagal. Terutama oleh istrinya, yang selalu menjaga saat dia dalam keadaan tidak stabil. Tapi akhirnya sasaran kemarahan dan makian adalah sang istri.

Begitulah fenomenanya. Saat dewasa dan menikah, anak korban aniaya ini melihat istrinya diharap bisa menggantikan kedekatan yang dulu dia harapkan dari orang tua tapi tidak pernah ia dapatkan. Namun, sayangnya justru kemarahan tersembunyi pada sang ayah ditimpakan pada pasangan. Jika ledakan itu berulang dan dibiarkan pasangannya, maka kecenderungan menganiaya otomatis tertanam di dalam sistem otaknya. Ia menjadi suka menganiaya orang-orang dekatnya, dan menganggapnya oke-oke saja.

Tragis, anak yang dulu jadi korban trauma itu sekarang tumbuh menjadi yang menganiaya, dan kecenderungan itu biasanya bertahan dan tidak mau diubah. Sebab ia sendiri tidak menyadari bahwa ia salah dan bermasalah dengan keluarganya.

Dua contoh kasus di atas mungkin ekstrim. Tapi ada banyak sebagian kita menghadapi tiran  "kelas teri".
Contoh:

1. Seorang anak bernama anette, sejak kecil wajib cuci mobil ayahnya. Bahkan ketika anette sudah dewasa dan punya rumah sendiri. Orangtua Anette memintanya datang. Anette harus menyopir mobil menempuh jarak seraus limapuluh mil pulang pergi untuk mencucikan mobil van mereka tiap bulan.  Tempat cuci mobil dekat rumah orang tua anete sebenarnya terbilang "murah dan bagus” tetapi orangtuanya bilang bahwa tidak ada seorangpun yang mencuci mobil mereka sebersih dan secemerlang seperti Annete.  Sesudah mobilnya dicucikan, mereka sama sekali tidak mengajak Annette masuk ke dalam rumah—mereka hanya ingin mobil vannya di bersihkan, itu saja!  Sesudah itu Anette hanya didiamkan oleh kedua orangtuanya.

2. Suami Cherie minta makan malam harus selalu tersedia jam 6 tepat.  Dia tidak peduli bahwa Cherie harus merangkap menjadi sopir bagi lima orang anak mereka, bukan hanya ke sekolah tetapi juga ke latihan dan pertandingan basket, sepakbola dan berenang serta ulang tahun teman.  Jika makan malam lewat sedikit dari jam enam Gerald dengan wajah cemberut akan memilih tidur di kamar tamu.

Pada para tiran ini terbentuk akar suatu kepribadian yang jahat dan memuja diri sendiri.  Keinginannya begitu kuat untuk menyakiti dan sama sekali tidak peduli rasa sakit apa yang ditimpakannya pada orang lain.  Orang yang sewenang-wenang mempunyai gambaran jiwa yang terlalu mencintai diri sendiri. Tindakannya bukan hanya tanda mencintai diri berlebihan akan tetapi tampak ingin melukai,  membuat cacat dan merendahkan korbannya.

Orang yang suka menganiaya ini pemikirannya terpelintir sedemikian rupa sehingga suka menerapkan pola pembicaraan yang menyerang dan berharap menang. berharap mendapatkan respek. Namun pada kenyataannya mereka sangat terkejut dan jengkel karena ternyata tidak mendapat apa yang mereka inginkan.

Misal, ada yang setelah menghina pasanngannya berharap akan dilayani istrinya secara romantis saat berhubungaan suami-istri. Tapi nyata nya tidak, mmalah ditolak.

Orang tua yang dsuka kasar memukuli anak-anaknya dan merendahkan anak itu selama bertahun-tahun, kemudian saat anak itu remaja justru menunjukkan pemberontakan pada sang Ayah. Lalu  Ayah menuduhnya sebagai orang yang tidak tahu diri dan tidak menghargai orang tua. Si tiran ini kecele.

Pesan yang ingin disampaikan orang tua semacam ini ialah:  Setelah aku menghancurkan semangatmu, menghapuskan rasa percaya dirimu, dan menciutkan kemampuanmu bergaul, kamu perlu menunjukkan penghargaan kepada karakterku, menghormati statusku, dan menanggapi nasehatku yang bijak.  Ini hanya menambahkan cuka di atas luka. Anaknya makin marah, dan akhirnya bisa melawan dengan cara melarikan diri dari rumah. Atau setelah menikah, tidak pernah mau datang lagi mengunjungi Ayahnya.

Cilakanya, setelah dewasa anak tadi cenderung untuk terus mencari pengakuan akan nilai dirinya, tetapi terlalu takut menghadapi penolakan sehingga mereka juga tidak berani membela diri.  Mereka terombang-ambing di antara dua ekstrim: dari perilaku penyendiri ke mau mendapatkan keintiman instan, dari kecurigaan ke penghianatan; dan dari mengidolakan ke menguasai orang lain.

Setelah dewasa mereka masih menderita tekanan dari orangtuanya yang narsis dan masih terus mau mengendalikan dan menganiaya meskipun anak itu telah menginjak dewasa.  Tidak heran jika hati yang terluka ini berulang kali tertusuk oleh hubungan-hubungan yang akhirnya mati. Mereka tak lagi berkomunikasi.

Menghadapi Tiran


Kita memang tidak bijak jika membalas dengan keras tindakan suami atau orang yang menganiaya kita. Itu artinya Anda juga menjadi si penganiaya.

Namun jika kita secara pasif mengijinkan orang lain mengendalikan hidup kita seakan akan dia itu Allah, yang berkuasa dalam hidup kita itu sama dengan  tindakan penyembahan berhala.

Taktik terbaik menghadapi tiran atau orang yang suka mengendalikan adalah dengan mengembangkan kemampuan penilaian yang baik dan pengendalian diri. secara perlahan Anda berusaha untuk mengempiskan atau mengurangi kekuasaannya atas diri anda. Caranya:

1. Latihlah hati nurani, penilaian dan kehendakmu dan jangan menyerah kepada paksaan atau kontrol luar yang bersifat mengeksploitasi. Anda harus  berani melakukan penilaian obyektif terhadap  orang tuanya yang menguasai hidup anda. Anda  harus menangisi kehilangan yang disebabkan oleh pelecehan masa kanak, aniaya serta penelantaran.  Anda harus mau mengambil tanggung jawab untuk memulai perubahan.

2. Hargailah hak suami, Ayah atau atasanmu untuk memilih apa yang mereka mau—tetapi bukan memilihkan untukmu.

3. Berbicaralah dengan jujur tanpa menyerang atau menyalahkan. tetaplah bersikap dengan hati-hati dan bertanggung jawab. Misal: "Maaf, saya merasa ttidak nyaman dengan keputusan itu, karena.....

4. Pilih tindakan yang tepat, dan memungkinkan semua pihak merasa nyaman. bersikaplah dewasa, jangan cengeng. Hindari pilihan akan mendorong terulangnya perilaku mengendalikan—oleh diri anda sendiri maupun orang lain.

5. Pilihlah tindakan yang menjaga integritas Anda; sementara pada saat yang sama bangunlah bentuk hubungan yang lebih baik dengan orang yang melakukan kontrol tadi.

6. Dimana perlu, usahakan untuk mematahkan siklus dan mengidentifikasi siapa yang menjadi tiran dalam keluarga.  Ini memerlukan keberanian luar biasa, namun sangat penting bagi terjadinya pemulihan.

7. Anda harus belajar mempertahankan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang menghancurkan di dalam keluarga. Caranya, Anda rela berkorban baik Apa perasaan, hubungan sosial, finansial, dll untuk mewujudkan rencanamu membebaskan diri. Anda bersedia membayar harga untuk hal itu supaya anda merdeka.

8. Untuk itu anda perlu  membangun perisai pelindung untuk melindungi Anda dari serangan si tiran dalam keluarga. Penghambaan diri kepada si tiran tidak bisa dibiarkan terus menerus. Sikap menghambakan diri bukanlah cara yang dibenarkan untuk membuktikan kasih dan kesetiaan.

9. Anda perlu membentuk identitas baru, dan melepaskan diri dari  label2 yang pernah diberikan Ayahmu.  Jangan pernah menyetujui pendapat ayahmu atau atasanmu yang negatif tentang dirimu.  Anda tidak seburuk yang mereka duga dan katakan.

10. Jangan mau menerima identitas sebagai korban. Jangan hanya demi menyenangkan hati orangtua atau Bos mu kamu membiarkan diri dengan statuus sebagai korban. Jangan biarkan mereka terus menerus mengendalikanmu, hanya untuk menyenangkan mereka. Cobalah mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap kehidupanmu sendiri. Hanya dengan demikian Anda  melucuti kekuasaan mereka yang  bertindak sewenang-wenang.

11. Bentuk identitas dirimu yang lebih  positif. Misal: Saya Kuat dan tabah.  Saya adalah pemberani dan bersemangat. Terimalah setiap penghargaan yang pernah ddiberikan teman-temanmu. Dengan menerapkan ciri-ciri positif ini, Anda akan berhasil menyingkirkan usaha Ayah/ suami atau bos mu menggkerdilkan dirimu.

12.  Antisipasi datangnya ancaman, kemarahan, hinaan dan mungkin balasan dari si tiran. Perhitungkan baik-baik harga yang harus Anda bayar untuk memperjuangkan persamaan hak. Dengan mengantisipasi hal ini Anda menjadi siap menghadapi keinginan si tiraan untuk balik menekan dan membalas Anda.

13. Batasi dan cegah akses fisik dan emosi dari orang tersebut kepada Anda. Jangan pernah biarkan dirimu dipukul atau dihina. Jika perlu tinggalkan rrumah untuk sesaat.

13. Jika akhirnya si tiran yang berssikap sewenang-wenang berurussan dengan polisi, maka biarkan dia menerima berbagai konsekuensi dari tindakannya yang jahat. Jangan bela atau lindungi. 

14. Hindari perasaan sombong atau keinginan untuk membalas dendam. Jangan. Selama bisa berkomunikasi, jangan mendiamkan orang tsb atau membalas kejahatan dengan kejahatan; Tetap usahakanuntuk  memperjuangkan peranan dan hubungan yang lebih sehat.

Kesimpulan

Ada beberapa ciri atau pola kebiasaan dan pikiran si tiran yang perlu kita kenali: pertama, mentalnya selalu merasa paling berhak bikin apa saja, Kedua, sombong dan selalu merasa lebih penting. Ketiga, hati nuraninya beku miskin empati dan emosinya berkarat. Keempat, suka menunjukkan emosi yang meledak-ledak, kemarahannya kronis dan akut. Kelima, menuntut penghoormatan yang berlebihan. enam, suka memanipulasi dan mengeksploitasi, dan terakhir suka membalas dendam.

Akhirnya, Kehidupan Anda terlalu berharga untuk disia-siakan dan dihancurkan oleh seorang tiran dalam keluarga.

Bahan studi konseling Pelikan LK3
Disadur dari buku healing your family tree Oleh beverly hubble tauke

Author :
Pdt. Julianto Simanjuntak










Baik Untuk Dibaca
Gembala yang Dirindukan Jemaatnya 
Sejarah Lagu Rohani "Hormat Diberi Bagi Allah 
Facebook, Blackberry 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top