Evangelism Unlimited

(Awas) Gereja "Pendukung" LGBT

(Awas) Gereja "Pendukung" LGBT

6 10 99
(Awas) Gereja "Pendukung" LGBT 10 6 99
12 tahun lalu kami memulai lembaga LK3 atau Layanan konseling Keluarga dan Karir, pusat konseling khusus masalah Homoseksual, narkoba/HIV, depresi dan kasus rumah tangga lainnya. Saya dan Witha dibantu dua staf, satu berlatar belakang waria dan seorang lainnya berlatar gay. Keduanya sangat rajin dan produktif bekerja. Lembaga LK3 dengan cepat dikenal di seluruh Jabotabek hingga rutin mengadakan pertemuan konselor nasional.

Dengan bantuan mereka kami mengadakan pertemuan rutin konseling kelompok untuk kaum LGBT. Untuk konseling pribadi Penulis sendiri rutin mendampingi, dan jumlah klien dengan kasus ini relatif banyak.

Ditolak.

Staf yang pernah jadi waria tsb suatu hari bercerita tentang masa lalunya. Karena sudah lama tidak gereja, suatu hari ia ingin masuk ibadah. Tapi justru ia dipermalukan, karena saat masuk ke dalam gereja ia pas datang terlambat. Kursi bagian belakang penuh dan terpaksa berjalan ke depan, tentu dengan gaya berjalan seorang perempuan. Spontan para pemuda yang duduk bagian belakang tertawa mencemooh saat  melihat cara jalannya yang feminin. Spontan staf kami ini marah dan membalikkan badan, keluar dari gereja. Sejak saat itu dia bertekad tidak mau masuk gereja. Sampai suatu hari ia memutuskan masuk sekolah teologi dan menjadi seorang guru agama dan penyiar radio.

Sementara mantan staf kami yang 8 tahun hidup sebagai Gay curhat, tentang betapa kaum LGBT relatif sulit mendapat pekerjaan. Saya sendiri melihat kenyataan apa yang staf kami ceritakan. Saya sengaja mengunjungi komunitas LGBT jakarta dan surabaya, bersama rekan saya seorang transjender, Yani namanya.  Menurut penuturan Yani, kebanyakan rekan waria beragama Kristen bekerja di salon, sebagai asisten rumah tangga, dan tak sedikit mengamen.

Kepada Yani mereka suka curhat, sering mengalami penolakan termasuk dari sesama orang Kristen. Tak heran mereka akhirnya mereka membentuk persekutuan dan gereja sendiri. Penulis pernah memimpin Natal kaum LGBT di Jakarta. Di surabaya Penulis bertemu dengan penginjil kaum LGBT, Bu Yani (transjender) yang sebelum operasi sebagai waria yang hidup di jalan. Setelah operasi kelamin menjadi perempuan, ia tekun memberi pelayanan Firman Tuhan pada rekan se kaumnya. Karena dia sendiri pernah merasakan sebagai orang yang dibuang oleh keluarganya.

Jadi jangan heran, saudara2 kita yang Gay, lesbi, waria dan biseksual menjadi sangat sulit untuk terbuka ke publik. Penolakan sangat terasa menyakitkan, baik dari keluarga, teman maupun dari komunitas gereja. Mereka disisihkan, dan memilih membentuk komunitas sendiri.

Mereka yang kristen tentu tidak berambisi jadi pendeta, majelis atau tampil sebagai aktifis. Tapi mereka  butuh diterima sebagaimana saudara lainnya.

Sadar Bersalah

Dari semua klien kami yang LGBT, boleh dikatakan 90 persen sadar mereka berdosa, dan bergumul serta berusaha untuk keluar dari keadaan itu. Namun mereka tidak berdaya. Mereka bukan saja butuh konselor tapi lebih dari itu. Perlu mentor yang bisa melatih mereka keluar dari sikap dan kecenderungan pikiran dan emosi yang salah. Memang kalau faktor gen dan hormon jauh lebih sukar. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Sebagian klien kami yang "pulih" (tentu tidak 100 persen), terus bergumul dengan fantasi seksual mereka. Namun itu tidak membuat mereka putus asa. Mereka terus mencari Tuhan dan lingkungan yang menerima mereka. Tapi lingkungan itu justru sulit mereka temui.

Sebagian mereka yang bertobat, rindu melayani Tuhan. Meski dalam keadaan "jatuh bangun" terutama dalam pikiran,‎ memilih tetap melayani di gereja. Tentu tidak menceritakan siapa mereka sebenarnya di komunitas tsb. Kuatir dicemooh.

Diantara LGBT yang konseling dengan kami ada yang aktif melayani sebagai penginjil, guru agama, pemain piano, worship leader, dan pemimpin koor. Ada juga diantara mereka bekerja sebagai pejabat penting di lembaga penting negara.

 Andai ada pemimpin gereja yang tahu bahwa mereka ternyata adalah gay/lesbi maka langsung tanpa proses KONSELING mereka disingkirkan. Hingga saat ini kami rutin mendampingi klien dengan kasus LGBT, mereka kerap menyatakan kekecewaan akan sikap gereja, dan terutama para pemimpin yang mereka anggap munafik.

Gereja tempat orang suci?

Tak jarang ibadah di gereja pada hari minggu justru menjadi hari paling menyesakkan  hati. Dengan kerinduan besar mereka rindu kabar baik, tapi nyatanya dari mimbar Pendeta sering mencela hingga mengutuk homoseks sebagai dosa. Menegaskan waria sebagai kutukan Tuhan. Tapi sayangnya tidak apa  upaya gereja menolong mereka. Nyaris pendampingan atau konseling tidak mereka dapatkan. Tak heran lama kelamaan, mereka menyimpan kemarahan terhadap umat di gereja dan pendeta.

Lihat saja, ‎hampir tidak ada pusat konseling dan konselor ahli yang disediakan gereja. Malah Kaum LGBT diperlakukan seperti penderita kusta jaman Yesus dulu. Disingkirkan, dipinggirkan dan dikecam sebagai sumber masalah dalam keluarga dan gereja.

Membuktikan Diri

Karena penolakan keras sekelompok gereja atau tokoh agama lainnya, sebagian kaum LGBT ingin membuktikan diri di masyarakat. Mereka bekerja dan berkarya dengan baik. Hingga menduduki posisi-posisi kunci di lembaga bertaraf dunia dan punya pengaruh. Mereka Membangun komunitas gay/lesbi dan memperkuat solidaritas diantara sesama mereka. Jangan heran di bali atau tempat lainnya ada cafe khusus gay dsb. Mereka bertekad saling membantu dan rutin "bersekutu" untuk mencari jalan agar pemerintah mau mengakui keberadaan mereka dan memberkati pernikahan antar sesama jenis. Setelah puluhan tahun berjuang kaum LGBT menang. Setidaknya puluhan negara sudah mensahkan pernikahan sesama jenis. Terakhir mahkamah agung negara amerika serikat mensahkan UU pernikahan sesama jenis.

Injil menegaskan Yesus datang untuk orang yang sakit (fisik/mental), hilang dan yang berdosa. Sarana layanan injil untuk mereka yang sakit, hilang dan berdosa adalah konseling dan perkunjungan.

Pertanyaannya, apakah gereja menyediakan layanan tsb? Coba cek daftar jemaat yang dikunjungi, apakah ada kaum LGBT? Coba cek daftar anggota jemaat yang datang konseling ke pendeta, apakah ada dari mereka yang LGBT? Coba cek seminar pemberdayaan gereja untuk umat, apakah ada khusus pemberdayaan kaum LGBT? Coba cek dari dana anggaran gereja setiap tahunnya, apakah ada dana khusus untuk mereka yang bergumul dengan LGBT?

Mungkin ada yang berkata, ah di gereja kami tidak ada gay. Siapa bilang, darimana anda tahu?
Atau ada yang berpikir, paling di gereja kami ada satu atau dua saja? Tapi  Bukankah Yesus memberi perumpamaan, tentang dombba yang hilang. Gembala segera meninggalkan yang 99 dan mencari 1 domba yang hilang?

Dari uraian di atas maka saya menyimpulkan ciri-ciri gereja yang secara tidak langsung "mendukung" LGBT adalah:

Pertama, gereja yang tidak peduli dengan pergumulan jemaatnya kaum LGBT, tapi hanya bisa mencela sebagai dosa tanpa solusi bermakna

Kedua, membiarkan kaum LGBT bergumul sendiri, tanpa komunitas yang bisa membawa mereka pulih, dan memperlakukan mereka sama seperti anggota lainnya yang bukan LGBT.

Ketiga, tidak menyediakan konselor atau pendeta yang trampil serta sarana yang dibutuhkan untuk memberikan konseling khusus bagi LGBT.


Penulis tidak menyetujui LGBT, tapi sejak 2002 memberi diri mendampingi, bergumul dan menangis bersama mereka. Menjadi sahabat dan tempat curhat.

Saya menghimbau, kiranya sesama orang percaya dan komunitas gereja di Indonesia perlu bersatu mengadakan program pemberdayaan kepada kaum LGBT, agar mereka bisa pulih dalam kasih dan kuasa Kristus. Setidaknya dalam skala kecil, ada orang-orang yang dipilih khusus dalam pendampingan kaum LGBT. Meski mereka tidak diberi ruang dalam melayani formal di gereja, tapi mereka tetap merasa diterima dalam persekutuan yang hangat seperti orang yang bukan LGBT. Dalam kamus injil, justru mereka layak menerima penerimaan yang lebih dari orang yang sudah "baik-baik" di gereja. Sebab Yesus datang untuk orang yang hilang dan berdosa. Yesus selama hidupnya bersahabat dengan para pemungut cukai, pelacur, wanita dengan lima suami, orang kusta, dsb. Dengan cara itulah injil paling baik diterima.



Author : Pdt. Julianto Simanjuntak 









  
Baik Untuk Dibaca
Jangan Dilakukan Dalam Pernikahan 
Perselingkuhan Emosi: Ketika Persahabatan Melewati Batas Kewajaran 


1 Comments
Comments
  1. Telah terbit buklet "Hubungan Sesama Jenis" - penilaian atas masalah homoseksualitas menurut perspektif Kristen; cuplikan dari bab Isu-isu Global edisi revisi karya John Stott

    BalasHapus

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top