Evangelism Unlimited

4 Tips Jitu Membangun Integritas untuk Sukses dan Bahagia

4 Tips Jitu Membangun Integritas untuk Sukses dan Bahagia

6 10 99
4 Tips Jitu Membangun Integritas untuk Sukses dan Bahagia 10 6 99
Orang Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah, suka menolong dan mudah sungkan. Kebanyakan orang merasa tidak enak jika jika harus menolak. Kita terbiasa mencari alasan agar penolakan terasa lebih ‘halus’. Sedangkan alasan biasanya terdiri dari 80% kebenaran ditambah 20% kebohongan ‘putih’ – bohong yang dianggap tidak merugikan atau berbahaya.

Tidak hanya dengan orang lain, ternyata banyak juga yang bahkan tidak bisa jujur terhadap diri sendiri. Karena itu sering muncul ungkapan: jujurlah terhadap diri sendiri! Kebiasaan membohongi diri sendiri seolah-olah semua baik-baik saja.

Yang kerap terjadi dalam keluarga, sesungguhnya ada masalah dengan  pasangan tetapi daripada ribut, ya sudahlah bohong putih saja. Takut untuk terbuka menyelesaikan masalahnya, karena beresiko terjadi perdebatan, bahkan pertengkaran. Tidak berani menanggung kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Dari luar kelihatannya hubungan keluarga harmonis, tetapi sesungguhnya banyak menyimpan kebohongan-kebohongan kecil, kepahitan dan ketidak-puasan yang terpendam. Melakukan sedikit bohong putih tidak apa-apa, demi kebaikan dan perdamaian, demikian alasan yang sering dikemukakan.

Sesuatu yang jarang  disadari, memberikan sedikit kebohongan, meski kecil, dalam perjalanannya menuntut kita berbohong yang lebih besar lagi. Ketika alasan tidak diterima, kita harus menambah kisah baru agar bisa diterima. Kemungkinan saat mengarang sedikit cerita agar alasan masuk akal, ada kata-kata keliru-ketahuan kalau kita berbohong- akan mengurangi kredibilitas kita. Kepercayaan akan hancur. Hubungan yang didasari ketidak-percayaan akan rapuh.

Tidak hanya sampai disini saja, kebohongan-kebohongan kecil ini akan mengurangi rasa percaya diri kita pula. Kita bisa membohongi orang lain, tetapi tidak bisa membohongi diri sendiri. Akibatnya kita menjadi kurang pede.

Hidup manusia tidak bisa terbagi-bagi. Jika pada satu aspek, dalam keluarga misalnya, terbiasa melakukan bohong putih, maka pada sisi lain hidup kita, di kantor atau dalam masyarakat pun kita akan melakukan hal yang serupa. Padahal integritas adalah salah satu faktor penting yang menentukan kesuksesan dan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya.

Sayang sekali bukan jika dikorbankan hanya untuk menghindari rasa sungkan atau dalam skala yang lebih besar, tidak berani menyelesaikan masalah dengan gentle?

Berikut ini ada beberapa tips sikap yang bisa diambil:


Tips pertama, Jika Ya katakan Ya, dan jika Tidak katakan Tidak.
Ada hal-hal seperti kebiasaan on-time dan menepati janji, meski nampak sepele namun penting, Melalui hal kecil ini, tercermin karakter kita yang sesungguhnya. Pribadi yang tidak bisa dipercaya dalam hal kecil, tidak bisa dipercaya pula dalam hal yang besar.

Jika Ya katakan Ya, jika Tidak katakan Tidak. Kalau tidak pasti, lebih baik tidak berjanji. Jangan karena sungkan lalu membuat janji yang tidak bisa ditepati alias ‘bohong’. Akibatnya, harus membuat berbagai alasan yang sesungguhnya tidak perlu.


Tips kedua, Ungkapkan pendapat dengan jujur disertai dasar pertimbangannya. Sampaikan pendapat dengan jelas dan runtut berdasarkan data dan fakta. Jika perlu lengkapi dengan keterangan sumber datanya.

Hindari hal-hal yang hanya merupakan persepsi atau sekedar pendapat pribadi kita. Kalau kita menyampaikan sesuatu yang masih perkiraan atau hanya anggapan kita saja, pastikan digaris-bawahi dengan tegas, untuk menghindari ‘kebohongan’ atau ‘fitnah’ tanpa sengaja.

Meski kejujuran kadang-kadang menyakitkan, tetapi pada akhirnya orang lain akan lebih menghargai kejujuran kita daripada kebohongan meski itu dianggap bohong putih. Mungkin saja pendapat jujur itu menimbulkan situasi yang kurang enak pada awalnya, tetapi pada jangka panjang, akan jauh lebih menguntungkan.

Waktu akan membuktikan bahwa kita pribadi yang terbuka, jujur dan memiliki integritas yang tinggi. Pribadi yang selaras antara hati dan ucapannya. Mereka akan menghormati meski mungkin saja tidak selalu setuju dengan pendapat kita.


Tips ketiga, Dalam menyampaikan segala sesuatu, pastikan hati kita bersih, tulus dan disertai motivasi yang baik. Apa pun yang kita sampaikan: kejujuran, kritikan atau apa saja, bisa diterima atau tidak, tergantung cara kita menyampaikannya. Body language kita akan memancarkan apa yang tersimpan dalam hati.

Serapi apa pun sebuah kebohongan, akan dapat dirasakan secara naluri. Maka orang lain akan dapat melihat serta merasakan, tanpa bisa menjelaskan alasannya kadangkala,  apakah niat kita baik dan tulus, atau tidak? Bohong atau tidak? Hal ini akan menentukan diterima atau tidaknya, apa yang kita sampaikan.


Tips keempat, Belajar dari beberapa orang-orang ‘besar’ dan terkenal di dunia, menolak TANPA  memberikan alasan. Ketika ditanya, mengapa menolak? Dia tersenyum tanpa jawaban atau menjawabnya bahwa dia memang tidak mau titik. Sikap yang bijak daripada harus berbohong dan menambah masalah baru.

Fotografer, Phillippe Halsman, terkenal akan kemampuannya untuk meminta subyeknya agar mengijinkannya memotret mereka di udara, ketika mereka sedang melompat. Richard Nixon, J. Robbert Oppenheimer, Grace Kelly dan Duke serta Duches of Windsor sebagian contoh orang terkenal yang dipotretnya dengan gaya itu.

Suatu hari ketika hampir selesai memotret Van Cliburn, seorang pianis terkenal, dia bertanya apakah pianis itu bersedia melompat demi dia – dan Van Cliburn menolak. Dengan sopan Halsman mempertanyakan alasan yang membuat dia tidak mau melompat. Artis itu meletakkan tangannya di belakang punggungnya, mengangkat dagunya dan berkata, “Tidak perlu penjelasan.”

Halsman sangat terkesan dengan jawaban afirmatif yang tenang ini sehingga dia memotret Van Cliburn dalam gayanya dan mencantumkan foto itu dengan bangga dalam album foto orang-orang terkenal yang sedang melompat dengan judul “Van Cliburn tidak mau melompat”. Halsman memahami bahwa Van Cliburn mempertahankan pilihannya yang unik dan kebutuhannya privasinya, itulah yang menyebabkan Halsman merasa senang, tidak marah dan justru mengaguminya, walaupun pesan itu disampaikan tanpa penjelasan.

For every good reason there is to lie, there is a better reason to tell the truth. -Bo Bennett-




Author: Yenny Indra
Motivator 








Baik Untuk Dibaca
Menghadapi Tekanan dari Rekan Kerja 
Is the Old Testament Reliable? 

 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top