Evangelism Unlimited

Mencari "Puzzle" yang Hilang

Mencari "Puzzle" yang Hilang

6 10 99
Mencari "Puzzle" yang Hilang 10 6 99
Saya dan Witha merasa frustrasi, meski kami saling mencintai tapi sulit berkomunikasi. Relasi kami sarat konflik dan saling membenci. Emosi sering dibajak rasa marah yang tidak jelas dan sulit kami mengerti. Sampai rasa putus asa menggelayuti hati.
Pergumulan semakin berat, karena menyadari pekerjaan saya adalah gembala sidang. Saya merasa tidak menjadi saksi bagi jemaat, dan merasa hidup munafik. Lain di bibir lain di hati.
Akhirnya pada tahun ke 5 pelayanan sebagai Gembala (1996) saya memutuskan untuk berhenti sebagai gembala. Merasa ada yang tidak beres dengan diri maka saya memilih studi lanjut S2 bidang konseling di STTRI Jakarta (tahun 1996-1998).

KULIAH DAN PEMULIHAN
Salah satu mata kuliah favorit saya saat kuliah adalah : Pohon Keluarga dan kepribadian (1997). Saya mulai sadar lewat kuliah tsb, bahwa ada masalah dengan kepribadian yang saya bawa sejak kecil. Saya bertumbuh dalam keluarga yang tidak sehat dan tidak berfungsi. Ayah seorang pemabok dan sering konflik dengan mama. Kami diabaikan dan saya dibeda-bedakan sejak kecil.
Lewat studi konseling inilah hidup pernikahan kami mulai berubah, komunikasi menjadi minim konflik. Meski relasi dengan Witha relatif membaik, tapi saya masih sulit menjalankan fungsi keAyahan bagi dua putra kami. Namun seiring waktu dan saya rutin di Konseling oleh dua Konselor pribadi, peran itu membaik. Hingga tahun 2002 saya memutuskan untuk menemukan puzzle hidup lewat belajar asal usul keluarga kami.

MENCARI "PUZZLE" KELUARGA ASAL
Saya kemudian memutuskan mengenali pohon keluarga asal dengan sering pulang ke medan. Juga memperbanyak waktu berkunjung ke rumah mertua untuk mengenal pohon keluarga roswitha istri saya.
Dari perkunjungan itu saya mendapatkan banyak informasi baru tentang keluarga asal. Misal, saya baru tahu ayah hanya tamatan sekolah dasar. Papa dan mama menikah muda, 19 dan 20 tahun.
Papa ditinggal ayahnya saat bayi, dan nyaris besar tanpa pengasuhan ibunya karena sibuk mencari nafkah. Akibatnya ayah tumbuh dengan kepribadian yang buruk sering berkelahi. Umur 15 ayah pernah masuk penjara. Setahun kemudian saat masih 16 tahun ayah sdh menjadi polisi. Masih sangat muda ayah kenal dengan alkohol dan menjadi pemanuk serta kebiasaan berjudi.
Saya juga tahu tentang apa yang terjadi saat saya masih kanak-kanak. Saya adalah anak yang tidak diinginkan. Papa dan mama berharap saya lahir sebagai anak perempuan. Saya dibesarkan mbok Ira, seorang napi tahanan luar. Penjara berada di belakang rumah kami.
Begitulah, setiap tahun selalu ada informasi baru seperti melengkapi kepingan puzzle hidup saya yang banyak hilang berserakan. Dengan mengenali masa lalu keluarga asal makin jelas saya memahami diri, dan ada kerinduan untuk memperbaiki diri.

LIBURAN NATAL 2015
Liburan Natal, saya senang bisa berkumpul dengan keluarga asal, dan mendapat banyak cerita baru. Menemukan "puzzle" lainnya yang belum sempat saya ketahui. Terutama mengenai kakek (Opung) dari ayah dan Ibu kami. Saya baru tahu ternyata Opung (kakek) dari Ayah adalah pejabat PU. Sementara Kakek dari mama seorang mantri terkenal, dan mapan.‎
Sayangnya mereka bergaul akrab dengan kuasa gelap, judi dan alkohol. Buah dari alkohol banyak dari keluarga yang meninggal dalam usia relatif muda. Akibat judi dan mabuk banyak konflik dan permusuhan diantara saudara-saudara papa dan generasi anak-anak dan sepupu.
Ayah saya sendiri dulu dukun terkenal di padang sidempuan (1975), dan bertobat beberapa tahun sblm dipanggil Tuhan diusia relatif muda yakni 58 tahun. Akibat kuasa gelap, keluarga kami sulit untuk menerima injil meski satu persatu menerima Kristus.
Puji Tuhan Rantai itu mulai diputuskan dalam generasi kami dan anak2 karena menerima Kristus dan kebebasan anugerahNya. Meski melewati proses yang sangat sulit, ya melewati banyak konflik dan pergumulan warisan dari generasi sebelumnya. Pertikaian atau konflik kadang masih terjadi tapi ada upaya mediasi dan perdamaian.

MEMUTUS RANTAI

Satu warisan buruk dari Opung atau kakek kami adalah: Konflik antar saudara. Puji Tuhan kami juga bersepakat memutuskan Rantai itu di generasi kami dan anak2.
Sebagian waktu kami saat natal lalu adalah membicarakan itu dari hati ke hati. Yang bertikai memilih berdamai. Tadinya saling membenci memutuskan saling memaafkan. Tuhan memberi kami sukacita melewati masa raya Natal 2015 dan memasuki TAHUN BARU 2016. Puji Tuhan!


by : Pdt. Julianto Simanjuntak 
Koselor Rohani










Baik Untuk Dibaca
Perselingkuhan Maya 
Tidak Ada Anak Yang Sulit : Memutuskan Rantai Yang Salah Orang Tua 





0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top