Evangelism Unlimited

Karya dalam Keterpurukan

Karya dalam Keterpurukan

6 10 99
Karya dalam Keterpurukan 10 6 99
Ilustrasi
Semenjak Berkeluarga, saya merasa mempunyai kebiasaaan unik di setiap tanggal 25 Desember yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yakni liburan sambil beribadah bersama dengan Warga Binaan di Rutan.
Kebetulan nih kampung halaman kami mayoritas Kristen, jadi tanggal tersebut menjadi ibadah yang pasti dilakukan setiap tahunnya di dalam Rutan untuk merayakan kelahiran Sang Juruselamat.

Dengan sedikit menggigil saya memaksakan mandi dan bersiap untuk tidak selisih masuk bersama tim pelayan yang bersiap pagi itu. Kami menjalani proses yang ketat di lapisan pertama, semua yang kami bawa diperiksa dengan teliti dan menunggu instruksi masuk lebih kedalam. Ini adalah prosedur standar yang harus kami lalui untuk bisa menyatu bersama warga binaan untuk beribadah. Sebelumnya pikiran saya dari kecil bahwa tahanan  adalah sampah masyarakat yang bringas dan tanpa keahlian positif apapun. Mereka tidak mempunyai kasih seperti orang yang bebas, pengganggu dan penuh kebencian. Apalagi dilayar televisi dan cerita yang beredar bahwa mereka kadang tertekan baik sesama napi maupun dari pihak sipir. Namun setelah bersalaman dan beribadah dengan mereka, ada pengalaman luar biasa yang saya petik khusus di Rutan ini :

1. Warga binaan menyambut kami dengan kehangatan, seperti menerima hadiah yang baru dan penuh keakraban untuk berkomunikasi. Mereka saling mendukung untuk menyediakan tampat ibadah buat kami,
menyediakan tempat pelayan, Sound sistem plus ornamen-ornamen natal. Saya berusaha mengetahui dari mana mereka membeli atau menyewanya, rupanya itu adalah karya mereka selama ini, luar biasa untuk ketulusan itu.

2. Sewaktu warga binaan dipersilahkan tampil melayani, mereka mempunyai keahlian yang luar biasa dengan karunia-karunia berbeda, bahkan penampilan yang di persentasekan tidak kalah di gereja-gereja besar. Dalam hati saya berbisik, keahlian mereka sungguh menggetarkan jiwa tuk berkarya dalam pelayanan di negeri yang bebas.

3. Dibacakannya surat dari DepHumKAM tentang remisi menjadi tradisi yang tidak luput di Desember. Mereka bersukacita ketika nama rekan mereka dibacakan dengan remisi hari berbeda (tanpa ada rasa iri), yang memperlihatkan kebersamaan dan saling mendukung dalam hal yang positif, mungkin mereka masih terus memperbincangkan setelah saya keluar.

Saya tidak bisa mengikuti kegiatan hari-hari mereka, namun setidaknya saya ketahui, bahwa secara manusia, jika memang benar-benar melakukan kesalahan, mereka adalah orang yang jujur mempertanggungjawabkannya. Dalam keterpurukan, Mereka antusias memuji Tuhan walau kadang jadi ocehan masyarakat, ya, binaan juga bagian warga Kerajaan Allah dan saya bangga bertemu mereka. 
Selamat berkarya Kawan.

Momen hitam adalah momen ketika pesan nyata tentang transformasi akan tiba.
Pada momen paling gelap, terbitlah cahaya
- Joseph Campbell

note:
Buat Kawan-kawanku di Rumah Tahanan Makale Toraja


Evangelism Unlimited: Manasje Malan; Yuli Bonggatasik (editor)

Baik Untuk Dibaca
Sejarah Lagu Rohani "Mungkinkah" 
Ingin Sukses tapi Benci Orang Sukses 
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top