Evangelism Unlimited

MEMILIH PEMIMPIN ROHANI

MEMILIH PEMIMPIN ROHANI

6 10 99
MEMILIH PEMIMPIN ROHANI 10 6 99
Bagaimanakah seharusnya memilih seorang pemimpin rohani? Dalam pemilihan pemimpin rohani tentu berbeda dengan pemimpin sekuler seperti bupati, gubernur atau presiden. Tapi disinyalir bukan tidak mungkin saat ini memilih pemimpin rohani modelnya sudah seperti model pilkada yaitu pakai model transaksi, kolusi dan parahnya saling jegal dan fitnah bak dunia belantara perpolitikan. Memang bukan perkara mudah mendapatkan pemimpin rohani yang benar-benar tuntunan Tuhan karena ada para pemilih sudah melihat organisasi rohani sama dengan organisasi dunia, yaitu mau mendapatkan keuntungan dan istilah berbakti bagi Tuhan dan umat hanya sebuah kedok belaka.

Sepatutnya kita iri dengan umat Katolik yang memilih pemimpin mereka yaitu Paus yang pemilihannya disebut Konklaf (atau Conclave) dengan cara yang begitu spiritual. Para kardinal mulai dengan misa (ibadah) yang meminta pemimpin, lalu mereka dibawa ke sebuah kapel yang mana semua alat komunikasi dilucuti dan tidak boleh dibawa masuk. Tidak boleh ada surat kabar dan media elektronik lainnya. Mereka masuk di kapel dan dikunci. Itu sebabnya disebut Conclave dari kata Cum yang artinya bersama dan Clavis yang artinya kunci, jadi dikunci bersama. Di sana mereka berdoa dan mulai menulis nama yang merupakan tuntunan Tuhan untuk menjadi Paus. Tidak boleh ada lobi, saling memengaruhi dan berkampanye. Mereka bercakap seperti biasa namun tidak ada upaya meminta dirinya dipilih. Hanya berdoa, siapa nama yang dituntun untuk layak menjadi pemimpin. Sebelum didapat suara mayoritas, maka mereka akan terus menuliskan nama. Kalau belum ada yang mayoritas, kertas suara akan dibakar dan dicampur bahan kimia khusus yang kalau dibakar akan mengeluarkan asap hitam. Dari cerobong akan diketahui dari pihak luar (umat) bahwa belum ada pemimpin yang terpilih. Nanti setelah terpilih yang mayoritas dan kemudian bersedia menjadi pemimpin maka akan dibakar lagi kertas tapi yang kali ini mengeluarkan asap putih. Umat bersukacita karena Paus dipilih dengan cara yang benar-benar digumuli dalam doa dan keheningan pribadi.

Kita tidak mungkin meniru mereka. Tapi setidaknya memilih pemimpin harus dengan cara yang rohani. Banyak doa, tidak ada kampanye, unsur transaksi maupun unsur manipulatif lainnya seperti memburukkan pihak lain dengan gosip-gosip serta berbagai opini yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Para pemimpin yang akan memilih pemimpin utama (top leader) pasti tidak akan membiarkan organisasinya dipimpin oleh orang yang membawa kepentingan pribadi yang dicemari dengan motivasi hanya cari makan, numpang hidup dan ketenaran di organisasi tanpa ada visi dan panggilan dari Tuhan yang sungguh.

Semoga organisasi rohani saat ini seperti gereja masih punya hati nurani dalam memilih pemimpin mereka. Pemimpin dipilih bukan karena kepiawaiannya berdiplomasi dan kehebatan dirinya, atau reputasi pendidikan dan kehebatan berelasi tapi lahir dari kehendak Tuhan. Itu hanya didapat dalam doa dan tuntunan Roh Kudus. Semua model perpolitikan yang penuh hiruk pikuk tidak sepatutnya hidup untuk menentukan pemimpin rohani. Bila itu terjadi, maka gereja akan dibawa kepada lembah kenistaan dan tidak beda dengan sebuah kumpulan politik yang hanya berbagi kekuasan, uang dan berbagai kepentingan diri. Urusan umat hanya topeng yang dinarasikan dengan kalimat-kalimat mulia lewat khotbah, sambutan dan kata-kata bijak lainnya. Sebagai bandingan, Yesus mengecam kaum Farisi sebagai pemimpin karena telah membawa lembaga sakral agamawi kepada sebuah gerombolan penyamun. Semoga kecaman sang Gembala Agung ini akan membuat kita tersadar betapa gereja berbeda dengan perkumpulan politik .

 
Author : Pdt.Dr Daniel Ronda. 
Rektor STT Jaffray Makassar 





Baik Untuk Dibaca
Ambisi Pemimpin 
Kajian Atas Kepemimpinan Model Gembala 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top