Evangelism Unlimited

Mengapa Pelayanan Tidak Berkembang? (Bag. 1)

Mengapa Pelayanan Tidak Berkembang? (Bag. 1)

6 10 99
Mengapa Pelayanan Tidak Berkembang? (Bag. 1) 10 6 99
Saya sering mendapatkan pengaduan dan sekaligus permintaan untuk dicarikan gembala karena pelayanan di gerejanya mengalami kemunduran bahkan konflik. Saya sendiri susah dapat memenuhi permintaan itu karena untuk menjadikan hamba Tuhan mumpuni membutuhkan proses waktu dan tidak bisa langsung tamat STT sudah otomatis bisa memimpin dengan hebat. Laksana sekolah pilot, tidak mungkin seorang yang baru tamat langsung bisa menerbangkan pesawat komersial yang besar, tapi harus ada prosesnya. Hal yang sama untuk menjadi hamba Tuhan harus ada proses panjang yang dilewati.


Namun dalam proses menjadi hamba Tuhan itu, maka perlu seorang hamba Tuhan belajar apa sebab sebuah pelayanan gereja yang dipimpinnya tidak berkembang? Ada beberapa faktor yang saya amati selama ini:

Pertama, masalah kepribadian pemimpin sendiri. Sang pemimpin tidak mampu menyelaraskan panggilan Tuhan dengan kepribadian dirinya. Seorang gembala menjadi fatal bila tertutup, tidak suka menerima masukan, mudah tersinggung, marah, tidak suka bekerjasama bahkan mau mengatur sendiri serta menjadi seorang yang merasa diri benar dan mau menang sendiri. Dia merasa semua masukan dianggap lawan dan disingkirkan, akhirnya hamba Tuhan menjadi penyendiri dan tertutup serta tidak mau berelasi. Kepribadian model seperti ini bertentangan dengan panggilan seorang hamba Tuhan yang adalah seorang gembala, pelayan dan hamba bagi domba-domba-Nya.


Kedua, ada masalah pada tim kepemimpinan. Memang dalam gereja pasti ada tim yang bekerjasama. Tapi tim ini bukannya menjadi sebuah kekuatan yang dipakai dalam pelayanan tapi justru dalam tim ada ketidakharmonisan. Seolah ada pihak penguasa dan ada pihak karyawan sehingga relasi ini sulit menjadikan pelayanan maju. Apalagi yang merasa menjadi karyawan adalah notabene si hamba Tuhan dan majelis atau diaken menempatkan diri sebagai penguasa. Relasi ini tidak sehat dalam sebuah pelayanan sehingga tidak heran tidak ada semangat dan passion dalam pelayanan.


Ketiga, ada masalah dengan terlalu berorientasi pada program. Gereja yang terlalu banyak program sebenarnya tidak sehat apalagi tidak memiliki tujuan yang jelas. Program yang dibuat adalah hasil visi dan misi gereja bukan kebanyakan acara seremonial. Keseimbangan antara program event-event acara seperti seminar, HUT, KKR, Natal dan seterusnya hendaknya diimbangi dengan pemuridan yang baik, pengajaran serta khotbah yang sehat dan teratur, doa dan penyembahan yang berkualitas.


Keempat, pemimpin menganggap sepele peran kunjungan pastoral jemaat. Kebanyakan jemaat bertahan karena merasa diterima, dihargai dan diperhatikan. Kunjungan jemaat berarti sebuah relasi dan itu penting bagi jemaat sehingga lewat perhatian yang diterimanya mereka akan bangkit memberikan yang terbaik bagi pelayanan. Dalam kunjungan saya beberapa kali di Korea, gereja yang jemaatnya dalam jumlah raksasa sekalipun tidak pernah menghilangkan peran kunjungan. Tentu ada berbagai strategi yang dipakai termasuk mencetak pemimpin-pemimpin awam yang dilibatkan dalam pelayanan. Inti dari kunjungan adalah relasi dan relasi membawa pertumbuhan pelayanan.


Evangelism Unlimited: Pdt.Dr.Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar





Baik Untuk Dibaca
Pemimpin Hebat adalah Pembicara Hebat 
Sejarah Lagu Rohani Peperangan Siksa Tlah Lalulah 




0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top