Evangelism Unlimited

Ambisi Pemimpin

Ambisi Pemimpin

6 10 99
Ambisi Pemimpin 10 6 99
Tak ada salahnya kita berambisi jadi pemimpin. Selama kita punya kapabilitas, integritas dan akseptabilitas. Rasul Paulus menegaskan: "Orang yang menghendaki jabatan penilik (pemimpin) jemaat menginginkan pekerjaan yang indah."

Tetapi mereka yang mampu tapi tidak bersedia memimpin hanya akan membuat para pemimpin "karbitan" muncul dan menyusahkan banyak orang. Pemimpin model ini hanya menjadi "duri" dalam lembaga atau gereja. Kebanyakan mereka adalah pendiri dan keluarganya, donatur lembaga, atau mereka yang fasih bicara dan tinggi gelarnya tapi tidak cukup integritasnya.

Kini sayangnya sebagian pemimpin gerejawi menggunakan cara-cara duniawi. Mulai dari cara paling barbar yakni kampanye hitam, hingga memberi iming-iming jabatan hingga uang lewat TimSes.

Sebagian (oknum) pemimpin senior ada yang berambisi menjagokan relasinya untuk meneruskan jabatannya. Sayang, motivasi tersembunyi yang susah dikenali adalah, supaya jejak hitamnya tidak dibongkar. Kasus korupsinya tidak ditelusuri oleh si pemimpin baru.

Mengenali motivasi seorang pemimpin memang bukan hal yang mudah. Jauh lebih elegan dan mudah dipahami jika menggunakan assesmen atau psikotes dan menggunakan jasa konsultasi psikolog dan atau konselor independen. Seperti halnya pemilihan Presiden sejak 2004. Menggunakan MMPI sebagai alat penyaring calon pemimpin Negara. Lebih objektif. Sebagian gereja sudah menggunakannya. Lembaga kami menjadi rujukan untuk menyeleksi calon sebagian pemimpin dan calon pendeta.

Tapi rasanya sebagian lembaga tidak siap menggunakan. Sebab takut bisa ketahuan karakter asli, yang memang sulit untuk disembunyikan lewat tes ini.

Salah satu motivasi yang juga sulit dikenali adalah, seseorang mau jadi pemimpin karena merasa jabatan sekarang sudah tidak bisa dipertahankan. Karena terhalang aturan atau AD/ART. Maka, untuk itu individu berjuang untuk mendapatkan jabatan lebih tinggi. Ironisnya, pemimpin ini rela mengorbankan visinya demi hanya untuk jabatan.

Misal, pada mulanya visi hidupnya adalah mengembangkan dunia pendidikan, tapi bisa berubah menjadi yang lain. Awalnya panggilan menjadi gembala, tapi bisa berubah menjadi jabatan yang lain. Alasan biasanya disesuaikan dengan bahasa yang "rohani": "sudah didoakan", dsb.

Tapi seorang pemimpin seharusnya tidak membohongi dirinya sendiri. Membunuh nurani atau panggilan ilahi, hanya demi "sepotong jabatan bergengsi". Memilukan sekali.

Catatan harian ini ditulis setelah melayani beberapa pemimpin yang mulai kehilangan orientasi. Bingung kemana mau dibawa visinya. Semoga bermanfaat bagi rekan yang berambisi jadi pemimpin.

Evaluasi

Dalam melayani kita perlu sadar dan waspada, apakah kita ini:

1. Hanya dimanfaatkan karena kita mampu, dan disamping itu kita sendiri butuh status di lembaga tersebut.

2. Kita diperalat demi kepentingan si pemimpin, tapi kemudian kita (dan keluarga) sebenarnya tidak bertumbuh, dan hanya jadi korban.

3. Bertumbuh bersama si pemimpin. Kita diberdayakan bukan diperdayakan. Kebutuhan kita ikut diperhatikan.

Evaluasi ini sebaiknya dilakukan secara berkala. Ajak pasangan dan anak yang sudah dewasa untuk mempertimbangkannya. Jika perlu temui teman yang matang atau konselor karir yang anda percayai.

Catatan harian : Pdt Julianto Simanjuntak 
Direktur Konseling STT Jaffray Jakarta









Baik Untuk Dibaca
Lima Prinsip Pemimpin Rohani 
Terpesona Dusta 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top