Evangelism Unlimited

TIDAK ADA ANAK YANG SULIT: Memutuskan Rantai Kebiasaan yang Salah Orangtua

TIDAK ADA ANAK YANG SULIT: Memutuskan Rantai Kebiasaan yang Salah Orangtua

6 10 99
TIDAK ADA ANAK YANG SULIT: Memutuskan Rantai Kebiasaan yang Salah Orangtua 10 6 99

PENDAHULUAN
Sebagian dari kita para  orang tua memandang anak-anak kita  sebagai investasi  dan tempat berteduh di hari tua. Ada yang menganggap anak sebagai kebanggaan. Sebagian lagi memandangnya sebagai  milik pusaka Tuhan. Apa pun pandangan kita tentang anak, sangat mempengaruhi cara kita mendidik dan membesarkan anak.

            Di dalam keluarga,  nilai anak beragam sekali nilainya, sesuai dengan budaya keluarga dan masyarakat yang membentuk sang anak. Pada umumnya nilai anak didefinisikan dari sudut harapan-harapan atau tugas yang di bebankan kepada  keluarga dan sang anak sendiri.  

Jika anak adalah sumber investasi, anak disekolahkan tinggi-tinggi dan diberi modal usaha. Tapi untuk apa?  Apakah hanya supaya anak-anak kita bisa urus orang tua di waktu tua.

Berkat Terbesar Kedua

            Untuk membangun rumah yang baik, perlu arsitek.Membangun rumah tangga yang baik, perlu ahlinya. Mazmur 127:1. Mendidik anak yang tangguh, butuh orang tua yang tangguh dan  takut akan Tuhan (Mazmur 112;  128). Tujuan Allah membentuk keluarga adalah untuk membentuk satu masyarakat baru milik Allah, (jika diperkenan) melahirkan keturunan Ilahi – Maleakhi 2:15.

Menjadi mitra Allah menyelamatkan manusia berdosa.    Kalau kita mengerti hal ini maka kita akan mampu menilai Keluarga kita sebagai berkat Allah yang sangat indah, yang kedua setelah penebusan Kristus.

            Firman Tuhan menegaskan istri adalah kasih karunia, anak adalah pusaka.  Di sisi lain,  keluarga pada hakekatnya adalah kesaksian (Efesus 5:32) atau   gambaran ideal  hubungan Allah dan jemaat.  Jadi  sesungguhnya  keluargalah tempat pertama anak mengenal  Allah. Mengenal Allah dan menghormati Dia, adalah awal menjadi anak tangguh.

Bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa yang kokoh, tangguh, dan perkasa.Bangsa yang mengutamakan pendidikan, terutama pendidikan keluarga.Sejak dini anak mendapat pendidikan langsung dari orang tuanya.Mengapa mereka sangat peduli pada pendidikan anak yang dimulai dimulai dari rumah? Sebab mereka  mengerti (dari sejarah dan hukum Yahudi) bahwa  mereka adalah umat pilihan Allah, yang dipanggil menjadi saksi bagi bangsa lain. Apa yang terjadi pada anak-anak mereka dapat mempengaruhi seluruh  keluarga dan keturunan mereka kelak. Mereka punya “budaya malu” yang sangat kuat.Itu sebabnya mereka sangat mempedulikan kekerabatan dan memperhatikan keturunan.


Konsep Anak Tangguh

          Tangguh atau perkasa dalam bahasa aslinya ”gibbor” (Mazmur 112:2) berarti berani, kuat, mantap, berjiwa pahlawan dan bertanggung jawab.  Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Menurut Mazmur 112:1-3, untuk menghasilkan anak tangguh dibutuhkan kondisi atau atmosfer keluarga  yang:

Dipimpin orang  yang takut  akan Tuhan  (ayat 1)
Menyukai Firman dan menjadikannya  dasar hukum keluarga (ayat 1b). 
Mengutamakan keluarga dan pertumbuhan anak-anak di atas segala aktifitas lainnya (ayat 2). 


Penjelasannya:

1.      Keluarga dipimpin orang suami/ayah yang takut akan Tuhan

      Sebagian kita tanpa sadar mengadopsi nilai-nilai yang mengutamakan (bahkan kadang mendewakan):   kepandaian, ketrampilan, kesuksesan, kekayaan dan ke-tampanan/kecantikan. Juga jabatan, pangkat dan ketenaran.Nilai ini tentu tak sepenuhnya salah. Namun sangat tragis bila nilai utama, yaitu takut akan Tuhan tidak kita tanamkan dengan seksama.

      Nilai uang, pangkat dan popularitas masih menjadi urutan pertama yang ditanamkan sebagian  orang tua. Waktu saya memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah teologia, keluarga saya tegas menolak.Alasannya menjadi pendeta, dalam pandangan mereka, tidak banyak income. Bisa dimengerti cara berpikir orang tua di awal tahun 80-an. Tapi sampai sekarang ternyata  tidak sedikit orang tua mengarahkan  sekolah dan kerja anaknya hanya untuk menghasilkan uang yang banyak. Jangan heran, banyak orang tua yang masih keberatan jika anaknya memilih jurusan psikologi, psikiatri, atau jurusan yang dianggap “kering” uang masuk.

      Sangat menarik cara mertua saya mengajarkan takut akan Tuhan pada anak-anaknya. Waktu mertua saya dicalonkan jadi  bupati di sebuah kota di Sumatera Utara, ia bergumul karena ada “keharusan” memberikan amplop. Ia mengajak anak-anak berdoa lalu memutuskan  tidak menerima pencalonan itu. Cara lain adalah, dia menanamkan sikap antisuap. Sering para mahasiswanya yang masih aktif kirim hadiah ke rumah, dalam segala bentuk  semua dia tolak  dengan tegas. Ini adalah teladan yang langsung dapat dilihat anak-anak.


2.      Menjadikan firman sebagai kesukaan keluarga
Ayat  1 b: “yang SANGAT suka kepada segala perintahNya…”

      Firman itu harus ditanam di dalam hati anak-anak sejak masih di rumah (1 Korintus 3:6-7). Nilai itu ibarat benih, dan benih itu adalah Firman (Lukas 8:11). Penanaman nilai itu terus-menerus dan berdimensi banyak, seperti benih, lahan, cara, proses. Ada nilai yang hasilnya dapat dipetik dalam waktu yang relatif cepat seperti palawija, dan ada benih yang memerlukan waktu lama untuk dituai, seperti tanaman keras.Lahannya juga macam-macam (Matius 13:4-8).Cara menanam nilai juga bermacam-macam, disesuaikan dengan benih, kondisi, dan jenis lahan (orang yang ditanami).

      Tujuan pewarisan juga mencakup masa depan dan masyarakat yang lebih luas, yaitu menjadikan keluarga sebagai garam dan terang dunia (Matius 5:13-16), atau dalam bahasa sehari-hari Keluarga Berbudaya (Kristen).  Firman memang mengajar, tetapi teladan itulah yang menggerakkan orang untuk mematuhi atau menjalankannya.Lihat saja keluarga Abraham. Bapa orang percaya ini berhasil menjadi saksi dan alat Tuhan, karena berpegang  teguh pada janji Firman (Kejadian 12). Dia meneruskan nilai dan janji Tuhan pada keturunannya. 

      Berbicara dengan Tuhan menjadi menu utama Abraham. Saya bersyukur, setelah Ayah saya menerima Tuhan Yesus, dia langsung  mengajak kami mengadakan doa keluarga.  Kami merasakan bahwa sumber utama pemulihan keluarga, yang sebagian besar adalah pecandu narkoba, karena doa yang terus dilakukan di rumah. Demikian juga keluarga asal istri saya.Mereka punya kebiasaan bersekutu berdoa dua kali dalam sehari, pagi dan malam.

      Menghadirkan lingkungan yang berdoa menjadi sangat penting.  Pada suatu saat, mertua saya jalan dengan  anak nomor lima, Immanuel mengikuti pertemuan keluarga di rumah anak nomor tujuh bernama Sola Gratia. Keluar perumahan Alam Sutera, mobil yang dikendarai oleh ipar saya bernama Immanuel, diserempet oleh sebuah motor dengan dua muda-mudi. Mertua saya bilang, waktu itu ucapan yang keluar dari mulut Immanuel, “Tolong Tuhan Yesus.”


3.      Menjadikan Keluarga Pusat Aktifitas dan Mengutamakan Pertumbuhan Anak
      Ayat 2: Anak cucunya perkasa di bumi….

      Kata perkasa dalam bahasa Ibrani, berarti: berani, gagah, kuat, mantap dan berjiwa pahlawan serta bertanggung jawab. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan mendidik anak.Kita harus menentukan lingkungan tempat anak kita bertumbuh. Untuk itu pertimbangkanlah faktor geografi, di mana sebaiknya kita membeli rumah, di mana anak-anak sekolah, ke gereja mana mereka berbakti setiap minggu, dengan siapa mereka berteman, kepada siapa kita bisa menitipkan mereka, media apa yang kita gunakan, dan seterusnya. Keluarga, teman, media, pendidikan formal, gereja, pendapatan, guru formal maupun nonformal, dan geografi, semua itu akan mempengaruhi pembentukan anak yang tangguh.

      Anak-anak adalah pemberian Tuhan, mereka “bukan” anak kita.Kalau dilihat dari konsep ini, pendidikan anak-anak itu tidak lepas dari peran anugerah Tuhan.Artinya kita bisa saja salah mendidik.Kesulitan kita mendidik anak, itulah yang membuat kita semakin dekat kepada Tuhan.

Keluarga yang rusak tidak selalu menghasilkan keturunan yang tidak baik, keluarga yang baik juga tidak selalu menghasilkan keturunan yang baik semua.

Keturunan Abraham pun banyak yang rusak. Ada juga yang menjadi pelacur atau  raja yang jahat. Tetapi rencana Tuhan tidak bisa dibatalkan oleh kegagalan manusia.Rencana Tuhan untuk melahirkan Kristus melalui keturunan Abraham tidak bisa digagalkan oleh karena generasi di atasnya sudah gagal.Kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap generasi di atas kita, tetapi kita bisa mengubah generasi di bawah kita. 


Bagaimana membentuk anak Tangguh

Tidak ada jalan lain, memberi prioritas pada keluarga. Kalau ada tawaran kerja dengan gaji tinggi, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah tawaran ini akan membangun atau menghancurkan keluarga saya?”Tawaran bisnis, kerja dengan gaji puluhan juta (namun membuat Anda tidak pernah bertemu anak?).

Keluarga juga perlu menghadirkan lingkungan yang berkorban. Pengorbanan Ibu mertua  yang sedia meninggalkan pekerjaan demi mengasuh anak-anak, ditiru beberapa anak-anaknya, termasuk istri saya. Saya bersyukur, istri saya (Wita)  juga memilih jalan meninggalkan perkerjaan kantor yang mapan dan menarik. Demi  mengasuh kedua anak kami serta mendukung pelayanan suami, Wita mengorbankan pekerjaannya. Kami sadar, semua ini investasi jangka panjang.

Keluarga yang sehat menghasilkan keturunan yang sehat.Dalam suratnya Yohanes pernah menuliskan, “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran. (3 Yoh.1:4).  Marilah kita terus belajar memusatkan perhatian pada  pendidikan dan pertumbuhan anak kita. Supaya kita tidak menyesal di kemudian hari.Demikian juga keturunan kita tidak menyesalkan diri kita saat kita sudah tiada.Sebaliknya mereka bangga dan bersyukur punya leluhur seperti kita.

      Kondisi lingkungan anak-anak kita saat ini makin tidak kondusif, ada beberapa kondisi yang perlu kita ciptakan, yaitu:

1.      Orang tua yang hidup takut akan Tuhan. Beribadah  dan menyerahkan anak-anak dalam doa setiap hari. Hidup jujur dan saleh, baik dalam perkataan maupun perbuatan.Orang tua mengajarkan Firman kepada anak sebagai pedoman hidup.Menciptakan kebaktian keluarga yang hangat.

2.      Mengajar dengan hati dan mata.
Apa artinya? Anak-anak adalah sarana latihan untuk kesabaran orang tua.Lewat kesabaran yang dianugerahkan Allah dalam diri orang tua, anak-anak belajar bahwa orang tuanya sungguh-sungguh mengasihi mereka. Perasaan dikasihi akan menciptakan rasa hangat dalam hati anak. Itulah yang mereka perlukan untuk menghadapi dunia sekitar mereka yang penuh kekerasan.

3.      Mengajar dengan contoh (teladan). Keluarga bisa diumpamakan sebagai universitas yang dinamakan Universitas Keluarga.Dalam hal ini orang tua adalah dosen utama, dan Teladan Orang Tua adalah buku pegangan utama. Teladan akan lebih banyak berbicara pada anak daripada kata-kata, apalagi nasihat yang itu-itu saja. Anak di bawah 12 tahun rata-rata masih berpikir kongkret.Untuk mereka, teladan lebih bisa dihayati dibandingkan kata-kata.Untuk remaja, lebih baik orang tua memperbanyak diskusi, karena mereka membutuhkan penjelasan.

4.      Mengutamakan anak-anak dari sekian banyak prioritas, tidak mengorbankan anak dengan alasan apa pun. Banyak hal merebut perhatian dan energi orang tua setiap hari.Sebab itu, tekad untuk mengutamakan anak, lebih baik dibangun sejak dini.Orang tua perlu menyediakan waktu untuk anaknya, mulai dari ngobrol tiap hari, mencari keperluan mereka, sampai libur bersama.Semuanya perlu direncanakan.

5.      Untuk membangun lingkungan yang baik bagi pertumbuhan anak, kita memerlukan dana yang memadai. Terutama guna mencukupi sandang, pangan (gizi) anak, pendidikan, tempat tinggal, sampai rekreasi untuk mereka.Untuk memenuhi itu semua, kita perlu bekerja keras dengan bijaksana, sehingga tidak juga mengabaikan keluarga.

6.      Menyediakan kebutuhan emosi dan sarana rekreasi: termasuk game,  film serta internet yang sehat.  Berkomunikasi sesuai kebutuhan anak: makan bersama, bercerita, bermain bersama, bercanda dan sebagainya. Setiap anak punya kebutuhan bahasa cinta berbeda.

7.      Tinggal di lingkungan (rumah/kompleks) yang sehat dan cocok bagi anak. Geografi sangat penting.Anda perlu mencari tempat tinggal yang cocok untuk anak-anak bertumbuh.Hati-hati membeli rumah di dekat jalan raya yang ramai.Usahakan anak-anak punya teman bermain.Abraham diminta keluar dari kampungnya karena masyarakat Ur Kasdim waktu itu adalah penyembah berhala.

8.      Menyediakan sekolah yang cukup baik yang membuat anak-anak bertumbuh dan suka belajar. Bersahabatlah dengan guru dan teman anak-anak.

9.      Menyediakan lingkungan pembinaan iman dan pergaulan yang sehat buat anak. Ajak anak berbakti di gereja yang cocok untuk mereka, gereja yang memberi perhatian pada pelayanan anak.

10.  Upayakan berkomunikasi dengan anak secara rutin. Ajak mereka berdiskusi mengenai nilai-nilai yang dianut keluarga.Supaya tidak membosankan, kreatiflah dalam mendisiplin anak. Suatu kali Moze menegur saya, “Papa kalau mendisiplin hanya dua cara: tidak boleh nonton TV dan tidak boleh main gameboy. Padahal itu kesukaan saya. Cari cara lain dong, Pa. Tolong papa lebih kreatif mendisiplin saya.”

11.  Jika orang tua berbuat salah, jangan malu meminta maaf pada anak. Hal-hal ini membuat anak juga tidak akan ragu atau malu meminta maaf jika dia berbuat salah.


Memutuskan Rantai kebiasaan yang salah Orangtua
Ada beberapa kesalahan orang tua yang perlu disadari dan jangan diulangi, yaitu:

1.      Membeda-bedakan anak satu dengan lainnya (favoritism).

      Terkadang orang tua tidak menyadari kesalahan ini. Orang tua beranggapan sudah mengasihi anak sama rata. Tetapi sebenarnya tidak.Jika kita merenungkan dengan sadar, ternyata kita lebih sayang pada anak yang baik-baik dan tidak menyusahkan kita. Kemudian kalau marah kita akan bilang, “Mengapa kamu tidak bisa taat seperti adikmu?"

      Menjadi anak yang dibedakan dengan adik atau kakaknya sungguh tidak menyenangkan.Ada perasaan tertolak, tidak dikehendaki dan tidak berdaya.Sebagai anak, tentunya dia tidak menginginkan keadaan itu. Jika orang tua memelihara cara mendidik seperti itu, maka anak akan bertumbuh menjadi rendah diri.

2.      Membanding-bandingkan situasi anak sekarang dengan keadaan kita waktu seusia mereka (veteranism). Umumnya, orang tua mengganggap anak-anaknya lebih beruntung dibandingkan mereka dulu. Jika anak terus-menerus mendengar kalimat “kamu sekarang lebih enak, tidak seperti mama/papa dulu …” dia akan menyesali zaman di mana dia hidup. Seperti anak yang bertumbuh dengan dibeda-bedakan, anak yang demikian juga cenderung merasa tertolak karena dia tidak berdaya menghadapi zamannya sekarang.Cara mendidik seperti ini juga bermuara pada perasaan rendah diri si anak.

3.      Menganggap anak investasi dan sumber kebanggaan orang tua.

      Ini sebenarnya tidak salah, tetapi akan merusak jika kemudian ternyata anak sulit memenuhi keinginan orang tuanya. Sang ayah yang kemungkinan sudah mengeluarkan banyak biaya untuk anaknya, akan sering marah-marah dan menyalahkan anaknya. Lagi-lagi, perasaan tidak berdaya, sudah mengecawakan orang tua, dan berbagai perasaan negatif lainnya akan membuat anak tumbuh dengan harga diri yang rendah. 

      Memberi pendidikan yang baik pada anak adalah kewajiban orang tua. Kita cukup melakukan tugas kita dengan semestinya, maka anak akan mengerti bahwa orang tuanya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mereka, apa pun hasil yang mereka capai. Kita tidak perlu terus-menerus mengingatkan mereka untuk tidak mengecewakan orang tuanya.Jika kita didik anak-anak kita dengan baik, mereka sudah tahu semua itu. Dengan sendirinya, anak-anak juga akan berusaha menyenangkan orang tua mereka.

4.      Membiarkan anak  tumbuh begitu saja (tanpa pengarahan, tanpa teladan).

      Orang tua semestinya adalah guru pertama bagi anak-anak. Jika orang tua tidak hadir, anak-anak akan bingung menghadapi banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya, berkaitan dengan hal-hal di sekitarnya. Andai pun kita tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, dengan hadir saja, mereka akan tahu bahwa orang tuanya mengasihi.

      Anak-anak memerlukan teladan yang baik sehingga mereka tahu harus bagaimana bersikap pada keadaan tertentu.Inilah yang membuat kepercayaan diri mereka tumbuh, mampu bertindak santun, tidak pemalu, dan bertanggung jawab.Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan orang tua.

5.      Mengharapkan si anak kelak membalas jasa pada orang tua, menuntut anak memberikan sejumlah uang kepada orang tua. Salah satu tujuan pasangan ingin punya anak adalah agar ada yang memelihara mereka ketika tua.Ini wajar saja.Banyak orang menguatirkan masa tuanya. Tetapi sebenarnya, jika orang tua melakukan kewajibannya dengan semestinya, anak-anak secara sadar akan memelihara orang tuanya di masa sepuh mereka.

      Jika berkaitan dengan uang, tentu saja jika anak kita sudah berkeluarga, dia akan membicarakannya lebih dahulu dengan istrinya. Sebagai orang tua, jika memungkinkan, kita perlu menyimpan sebagian dana untuk masa tua kita. Dengan demikian kita tidak bergantung pada anak-cucu-mantu kita nantinya.

6.      Orang tua tidak kompak dan  sering cekcok.

      Jika ayah dan ibunya sering konflik, anak-anak akan tumbuh dengan perasaan tidak aman dan waswas. Apakah aku penyebab konflik mereka?Apakah salah saya?Mereka berpikir, akankah mama-papaku bercerai?Di mana saya tinggal jika mereka berpisah?

      Berbagai pertanyaan senada jika seringkali dipikirkan oleh anak-anak, mungkin tanpa disadari, akan menimbulkan ambiguitas, yaitu perasaan mendua. Di satu sisi anak-anak menyayangi orang tuanya, tetapi di sisi lain mereka tidak menyukai perasaan negatif yang disebabkan konflik orang tuanya. Perasaan ambigu itu sangat menyakitkan, khususnya jika mereka mengalaminya dari kanak-kanak.

Anak adalah milik pusaka dan istri kasih karunia.Tuhan memberkati kita di dalam dan melalui keluarga.Jabatan kita sebagai ayah/ibu dan suami/istri sangat istimewa dan tak tergantikan.Selama kita hidup keluarga wajib dirawat, dengan emosi, waktu, tenaga, lingkungan sehat dan finansial memadai.Keluarga menjadi poros aktifitas kita.  Anak dan pasangan tidak minta kita sempurna, tapi mereka berharap kita menjalankan fungsi kita sebaik-baiknya.

Author : Dr. Julianto Simanjuntak



Terapis keluarga dan kesehatan mental
Penulis 20 buku Konseling keluarga







Baik Untuk Dibaca
Portal Inspirasi dan Motivasi
Keluarga Cerdas

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top