Evangelism Unlimited

WHAT NOT TO DO IN MARRIAGE!

WHAT NOT TO DO IN MARRIAGE!

6 10 99
WHAT NOT TO DO IN MARRIAGE! 10 6 99

Sebagian besar pasangan memasuki jenjang pernikahan secara alami. Karena sudah sewajarnya pria dan wanita yang dewasa menikah. Jarang sekali pasangan-pasangan yang sudah terlebih dahulu mempersiapkan diri, mempelajari secara khusus apa itu pernikahan: tujuan, tugas, tanggungjawab, visi dan sebagainya. Kebanyakan orang meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya, tanpa mengetahui kebenaran yang pasti. Tidak heran jika banyak pernikahan yang kacau balau.
Patut digaris-bawahi bahwa pernikahan adalah untuk satu pria dan satu wanita, didasari rasa cinta dan saling percaya, berkomitmen seumur hidup untuk membina rumahtangga hingga maut memisahkan mereka berdua. Mereka menjadi satu daging yang tak terpisahkan karena persatuan suami istri merupakan gambaran Allah sendiri. Tujuan pernikahan adalah untuk mempermuliakan Tuhan dan jika memang ingin memiliki anak, maka tujuannya adalah membangun generasi Illahi.

Dengan konsep dasar ini maka ada berbagai “Jangan” yang harus dihindari:

1. Jangan memisahkan milik masing-masing.

Ada teman-teman wanita yang berprinsip bahwa uang istri adalah milik istri, sementara uang suami adalah uang istri juga. Alasannya, sebagai wanita harus berjaga-jaga, jika suatu saat suami macam-macam, wanita sudah ada pegangan. Artinya, sudah ada kecurigaan dan harapan akan perpecahan di masa yang akan datang. Hendaknya suami istri dengan terbuka mengelola bersama keuangan keluarga dan merasa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagai suami istri, susah dan senang seharusnya ditanggung bersama.

.
2. Jangan pernah berusaha mengubah pasangan kita.

Kesalahan terbesar kita adalah ingin mengubah orang lain. Tidak ada seorang pun yang bisa kita ubah, kecuali diri kita sendiri. Kita yang harus berubah! Karena itu jika kita tidak menyukai apa yang dilakukan pasangan kita, apa yang harus kita lakukan? Ubah cara pandang kita agar kita bisa menerimanya. Jika ada sifat buruk yang tidak kita sukai, sudah resiko harus kita terima. Bukankah ini pasangan pilihan kita sendiri?

Berdoalah! Doa mengubah banyak hal. Tidak hanya mengubah orang yang didoakan, namun mengubah orang yang mendoakan juga.

Saat pasangan melakukan hal yang baik sesuai keinginan kita, segera puji dia. Pujian senantiasa lebih efektif daripada cercaan.  Perlakukan pasangan kita dengan baik, seolah-olah dia adalah pria atau wanita idaman kita, maka secara bertahap dia akan berubah sesuai dengan yang kita harapkan.

.
3. Jangan pernah membandingkan pasangan kita atau pernikahan kita dengan orang lain.

Saat kita menikah, ibaratnya kita membangun sebuah negara yang baru. Setiap negara memiliki hukum dan undang-undang yang berbeda dengan negara lainnya. Karena itu saat menikah, buat peraturan, kesepakatan dan cara hidup yang sesuai dengan visi rumahtangga yang akan kita bangun dengan pasangan. Tidak perlu meniru orang lain bahkan kita tidak perlu mengikuti aturan di rumah orangtua masing-masing. Kita harus membuat undang-undang dan hukum baru untuk rumah tangga kita sendiri agar visi, cita-cita dan mimpi-mimpi kita dengan pasangan terealisasi.

.

4. Jangan pernah mengucapkan kata “Cerai”
.
Hidup bersama dengan pasangan pasti pernah mengalami gesekan. Kita datang dari keluarga, latar belakang, kebiasaan dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Namun jangan pernah berpikir apalagi mengucapkan kata “Cerai” karena kita sudah berkomitmen seumur hidup dalam pernikahan dan hanya maut yang boleh memisahkan kita dengan pasangan kita.

Pasangan yang kerap mengucapkan kata “cerai” biasanya berakhir dengan perceraian. Firman Tuhan mengatakan berkat dan kutuk ada di dalam mulut kita.

.
5. Jangan menjawab saat pasangan sedang emosi.
.
Banyak pertengkaran meruncing dan menimbulkan sakit hati berkepanjangan karena salah kata. Hal ini biasa terjadi karena ketika salah satu pasangan sedang emosi, lalu yang lain menjawab. Suasana kian memanas karena ke dua belah pihak emosi.

Saat emosi, mudah sekali kita mengeluarkan kata-kata yang akan kita sesali kelak. Luka akibat keterlanjuran ini, apalagi yang bersifat melecehkan, sulit sekali dihilangkan. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

.
6. Jangan mengambil kesimpulan sebelum bertanya dengan jelas.
.
Banyak pasangan yang hubungannya dingin karena persepsi yang salah tentang pasangannya. Seorang suami yang sudah punya persepsi bahwa istrinya pelit, maka apa pun yang dilakukan akan dianggap pelit. Padahal sang suami belum menanyakan alasan dibalik keputusan istrinya.

Ada pula wanita yang selalu cemburu kepada suaminya. Pulang terlambat, langsung curiga. Timbul pertengkaran akibat pikiran-pikiran negatif. Saat mau bertanya, ternyata persepsi dan kesimpulannya salah. Beri kesempatan orang lain untuk menjelaskan alasan dan pemikirannya. Upaya sederhana ini dapat mengurangi ribuan pertempuran yang tidak perlu.

Dari hasil penelitian, orang cenderung ingin menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, orang yang terus menerus dicurigai justru merasa tidak aman dan cenderung ingin melakukan apa yang dituduhkan kepadanya. Karena itu, bijaklah dalam bersikap.

.
7. Jangan mengungkit kesalahan-kesalahan lama.

.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap orang berubah, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Penyebab kita bertengkar karena kita melihat hal-hal yang tidak kita sukai. Tentunya harapan kita adalah melihat pasangan kita menjadi lebih baik. Oleh karena itu, setiap kita melihat perubahan positif, meski pun hanya sedikit, segera puji dia. Dari penelitian, pujian mendorong orang untuk melakukan lebih lagi hal yang dipuji. Sebaliknya, orang paling benci jika kesalahan-kesalahannya dulu selalu diungkit-ungkit. Hal ini menimbulkan sumber pertengkaran yang tidak pernah berakhir. Bersikaplah senantiasa bahwa pasangan kita sedang berubah menjadi lebih baik.

Biasakan jika yang jadi persoalan pulang terlambat, misalnya, jangan bahas diluar persoalan pulang terlambat. Dari pengalaman, tidak ada orang yang marah jika ditegur sesuai kesalahannya. Biasanya persoalan menjadi besar jika dikait-kaitkan dengan kesalahan sebelumnya atau peristiwa yang terjadi sebelumnya. “Kamu ini memang SELALU terlambat…” atau “Kamu ini memang TIDAK PERNAH punya perhatian terhadap keluarga..” Ini contoh-contoh kalimat yang mengaitkan masa lalu sehingga membuat masalah makin besar.

Yang harus dibahas hanya masalah pulang terlambat hari ini. Bukan yang kemarin atau dulu.

.
8. Jangan bertengkar di depan anak.


Saat anak-anak kecil, pertengkaran membuat anak merasa tidak aman. Anak cenderung merasa bersalah dan seolah-olah ‘didorong’ untuk memilih salah satu orangtuanya. Saat anak-anak dewasa, pertengkaran orangtua tidak menjadi teladan yang baik bagi mereka kelak dalam berumah tangga. Anak-anak membutuhkan keteladanan kita bagaimana cara membina rumahtangga yang harmonis.

Jika bertengkar, masuk kamar dan tutup pintu. Cukup suami istri yang tahu persoalannya. Jangan ceritakan ke orang lain meski dengan istilah ‘konseling atau curhat’. Semakin sering kita menceritakan masalah kita, maka masalah itu kian memburuk tanpa kita sadari. Tidak ada perbaikan kecuali ada kesediaan salah satu pihak untuk berkorban dan berubah terlebih dahulu dan jangan lupa berdoa.
Inilah sebagian ‘JANGAN’ yang harus dihindari dalam pernikahan. Pernikahan adalah hubungan yang harus diusahakan dan dibina seumur hidup. Tidak ada pernikahan yang bisa dinilai kesuksesannya hingga salah satu meninggal, lalu bisa dievaluasi perjalanan pernikahannya. Artinya setiap orang harus terus belajar dan membangun pernikahannya hingga akhir hidupnya.

Sesuatu yang menarik, ketika kita memperlakukan pasangan kita seolah-olah dia adalah pasangan yang paling ideal dan paling kita kagumi, secara bertahap, pasangan kita akan menjadi seperti itu. Hargai, hormati, kagumi dan perlakukan pasangan kita penuh kasih, maka kita pun akan menjadi orang yang bahagia. Prinsip dalam kehidupan ini sesuai Firman Tuhan adalah ‘Beri, maka kamu akan diberi’.
.
Dalam hidup ini tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan sebuah keluarga yang penuh kasih, saling menerima dan saling mendukung setiap anggotanya untuk menjadi pribadi yang terbaik sesuai rencana Tuhan dalam hidupnya. Itulah tujuan Tuhan menciptakan dan mempersatukan kita menjadi sebuah keluarga. Kebahagiaan tercipta karena kita mengusahakannya.

Selamat membangun keluarga bahagia. Tuhan memberkati.

.

                                         Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu,

                                          sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

                                              Hai suami-suami, kasihilah isterimu

                                          dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

                                                       The Book of Colossians

.

by : YennyIndra 
Inspirator dan Motivator Kristen









Baik Untuk Dibaca
Portal English 
Pemimpin 
Portal Pdt.Piter Pakka 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top