Evangelism Unlimited

DIKTAT KITAB WAHYU (Part- 5)

DIKTAT KITAB WAHYU (Part- 5)

6 10 99
DIKTAT KITAB WAHYU (Part- 5) 10 6 99
Artikel ini merupakan lanjutan dari Diktat Kitab Wahyu Part I, II, III & IV.

Tambahan Pertama: 144.000 Orang Dimeteraikan, 7:1-8.
Isi bagian ini tidak meneruskan masa meterai ke-enam, melainkan memandang kembali pada masa enam meterai dan sekarang memperhatikan Israel dan gereja Tuhan.  Pokok utamanya ialah pemeteraian 144.000 orang (Scheunemann, 83).
Dalam seluruh kitab Wahyu, ada 11 tambahan yang disisipkan dalam kerangka tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan.  Tambahan pertama: Ada 144.000 orang Yahudi yang dimeterai.  Meterai yang disebutkan dalam tambahan ini membawa perlidungan.  Mengapa perlu meterai atau segel?  Ini dikaitkan dengan ps. 6:17, yang memberikan kesan bahwa tidak ada orang yang tahan dalam penghakiman.
Malapetaka yang digambarkan pada ps. 6 begitu dahsyat, sehingga muncul pertanyaan: Mungkinkah sesudah hukuman-hukuman ini masih ada orang yang hidup?  Nas ini menjadi penghiburan bagi jemaat-jemaat yang menghadapi penganiayaan karena walaupun mereka  di tengah-tengah penderitaan yang berat, Allah melindungi mereka (Hagelberg, 180-181).
Angka 144.000 orang, agak sulit ditafsirkan, karena dikatakan mereka adalah dari suku Israel (7:4), dengan rincian: 12.000 dari setiap suku Israel.  Namun angka 144.000 orang, muncul kembali dalam penglihatan Yohanes pada ps. 14.  Pada ps. 14, angka 144.000 orang adalah pengikut Anak Domba yang setia, yang ditebus dari antara manusia.  Mereka adalah korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba, yang tidak berdusta dan tidak bercela (14:1).
Oleh karena itu, jawaban di atas meskipun jelas dan tegas, perlu disempurnakan:  gereja Perjanjian Baru adalah juga tercakup dalam jumlah 144.000 itu.  Dengan demikian, angka 144.000 tidak hanya diartikan secara harafiah, melainkan juga secara simbolis.  Jumlah 144.000 orang adalah merupakan jumlah seluruh umat Tuhan, baik gereja sebagai Israel Rohani maupun bangsa Israel secara jasmani.
Pohl menambahkan bahwa angka 12 kali 12 adalah angka untuk Israel, dan angka 10 kali 10 adalah angka untuk gereja, angka 1000 dalam Alkitab merupakan angka untuk jumlah yang besar (bnd Mzm. 84:11; Ayub 9:3; Why. 5:11), sehingga angka itu  merupakan kesempurnaan umat Tuhan yang mencakup Israel jasmani dan rohani (Scheunemann, 84).
Menurut Peter Wongso, dari 12 suku Israel masing-masing  12.000 orang.  Angka ini adalah 12 kali 1000, yaitu angka sempurna dikalikan dengan angka tak terhingga.  Menurut struktur syair Ibrani, angka ini bukanlah sebenarnya angka yang nyata, melainkan suatu angka yang tidak terhitung oleh manusia, sama maknanya dengan ungkapan “yang tidak dapat terhitung banyaknya” pada 7:9.
Angka itu hanya didengar oleh Yohanes (7:4), bukan hasil hitungannya sendiri.  Angka itu tidak boleh dihitung secara matematis dan tidak boleh dengan sesuka hati menentukan siapa orang yang dimaksudkan.  Mereka adalah totalitas orang-orang percaya dalam Perjanjian Lama yang disebut “golongan saksi Jehova” (Wongso, 443).  Pandangan ini berbeda dengan pandangan Dave Hagelber.
Ps. 7:1, “Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.”  Istilah “kemudian dari pada itu ...” menandai penglihatan yang baru.  Demi kepentingan penglihatan ini, dunia dipandang berbentuk segi empat panjang, di mana seoranng malaikat berdiri pada setiap penjuru untuk mengatur angin yang merusakkan, yang berhembus dari sudutnya (Guthrie, ed., 944).
Pemakaian kata “ke-empat penjuru bumi” mencerminkan kiasan arah ujung mata angin.  Maksudnya bahwa empat malaikat itu menguasai seluruh bumi.  Menurut Bauckham, angka 4 dalam kitab Wahyu menunjuk pada alam semesta.  Ada 4 penjuru bumi, juga pada ps. 20:8, ada 4 angin bumi dan semesta alam dibagi dalam 4 bagian menurut 5:13; 8:7-12; 14:7; dan 16:2-9.
Dalam kitab Zakharia 6:5, ke-empat kereta yang ditarik dengan 4 kuda dikaitkan dengan “ke-empat angin Surga”, maka ada kemungkinan bahwa yang ditahan pada ps. 7:1 adalah ke-empat kuda yang dikisahkan pada ps. 6.  Kalau demikian, ada kemungkinan bahwa dalam peristiwa ini, yakni saat mereka “menahan ke-empat angin bumi”, walaupun dilihat oleh Yohanes setelah melihat ke-empat kuda, sebenarnya akan terjadi sebelum ke-empat kuda itu membawa malapetaka di bumi.
Dalam Yer. 49:36-38, yang berbicara tentang akhir zaman, “ke-empat angin dari ke-empat penjuru langit” membawa penderitaan (Hagelberg, 181-182).  Ke-empat malaikat itu menahan angin berarti terjadi pengrusakan bumi.
Ps. 7:2-3, “Dan aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut,  ayat 3, katanya: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!"  Dalam kitab Yeh. 9:3-6, dikisahkan bagaimana Tuhan memerintahkan supaya setiap orang yang “berkeluh kesah” karena dosa-dosa Yerusalem diberi tanda T (tau) pada dahi mereka sebelum malaikat yang lain melaksanakan penghukuman bagi mereka yang tidak memunyai tanda tersebut.
Menurut beberapa penafsir, perlindungan yang disediakan melalui meterai itu adalah perlindungan rohani, yaitu bahwa orang yang dimeteraikan pasti memunyai hidup kekal.  Tetapi rupanya perlindungan yang diberikan melalui meterai adalah perlindungan jasmani juga, karena dalam konteks nas ini, yang mengancam adalah malapetaka secara jasmani dan angin jasmani harus ditahan supaya mereka dapat dimeterai.
Rupanya mereka yang dimeterai dilindungi secara jasmani, paling sedikit dari bahaya yang dinubuatkan pada ps. 7:3, yaitu malapetaka angin kencang.  Ada kemungkinan bahwa meterai pada dahi mereka adalah nama Anak Domba dan nama Bapa-Nya (14:1; 22:4) (Hagelberg, 182-183).
Ps. 7:4-8, “Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.  Dari suku Yehuda dua belas ribu yang dimeteraikan, dari suku Ruben dua belas ribu, dari suku Gad dua belas ribu, dari suku Asyer dua belas ribu, dari suku Naftali dua belas ribu, dari suku Manasye dua belas ribu, dari suku Simeon dua belas ribu, dari suku Lewi dua belas ribu, dari suku Isakhar dua belas ribu, dari suku Zebulon dua belas ribu, dari suku Yusuf dua belas ribu, dari suku Benyamin dua belas ribu.”
Di seluruh Perjanjian Baru, inilah daftar satu-satunya yang menuliskan nama-nama suku-suku Israel.  Munculnya daftar nama suku tersebut menimbulkan permasalahan baru: Apakah jemaat Kristus sudah menggantikan umat Israel selama-lamanya?  Atau apakah gereja dapat dijuluki “Israel baru?”  Masalahnya ialah orang Yahudi secara keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus bukan orang Yahudi yang sejati, tetapi sebagian sudah percaya kepada Tuhan Yesus.
Dave Hagelberg mengatakan bahwa pembahasan mengenai masalah ini terdapat pada Roma 10:9-11.  Kalau pembahasan itu dipelajari (11:11), maka menjadi sangat jelas bahwa ada masa depan yang peuh harapan yang indah, saat janji-janji Allah akan digenapi bagi orang Israel secara jasmani, yaitu bagi keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub yang percaya kepada Tuhan Yesus.  Justru masa depan itulah yang dijelaskan pada kitab Wahyu ps. 7 (Hagelberg, 184-185).

Tambahan Kedua: Orang Banyak ... yang Keluar dari Kesusahan Besar, 7:9-17.
Ps. 7:9, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.”  Istilah “kemudian dari pada itu” adalah menandai bahwa penglihatan pada ayat 9-17 berbeda dengan penglihatan pada ayat 1-8 di atas.
“Orang banyak” yang disebutkan pada bagian ini berbeda dengan orang banyak (144.000 orang) pada ayat-ayat sebelumnya.  Orang banyak ini bukan berasal dari orang Israel, tetapi mereka berasal dari setiap suku, bangsa, kaum, dan bahasa (7:9).  Mereka tidak dilindungi di bumi, tetapi dikatakan “mereka keluar dari kesusahan besar” (Hagelberg, 186).  Orang-orang ini berasal dari segala penjuru dunia.  Dikatakan “mereka keluar dari kesusahan besar” (7:14), menyatakan bahwa orang-orang percaya di seluruh penjuru dunia sama-sama akan menghadapi kesusahan besar (istilah lainnya masa kepicikan).  Kesusahan besar itu bukan hanya terjadi pada satu lokasi saja, tetapi secara menyeluruh (Wongso, 445).
Mereka memakai “jubah putih”, yaitu pakaian yang menandakan kemuliaan kebangkitan dan “daun-daun palem” memberi isyarat kemenangan dan kegembiraan sesudah perang (bnd Mrk. 11:8) (Guthrie, ed., 945).  “Kesusahan besar” bukan pengalaman normal dari seorang Kristen, tetapi menunjuk kepada pengujian iman pada akhir zaman ini (Ibid).
Menurut Dave Hagelberg, “kesusahan besar itu” dapat juga diterjemahkan “kesengsaraan besar”.  Pemakaian artikel tes thlipsios tes megales (the great tribulation) (R.A. Marshal, 978), menyatakan bahwa yang dimaksudkan bukan kesusahan yang biasa yang dialami oleh umat Allah dari zaman ke zaman, tetapi kesusahan besar yang akan diadakan pada hari menjelang kiamat (bnd 3:10; 6:17) (Hagelberg, 188).
  Ps. 7:16-17, “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.  Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."  Ayat 16 diambil dari kitab Yesaya 49:10, yang menceritakan tentang kebahagiaan bagi mereka yang pulang dari pembuangan ke Babel.  Ayat ini sangat menghibur mereka yang takut dibunuh oleh kaisar.
Maunce mencatat bahwa “air mata” yang akan dihapus oleh Allah bukanlah air mata yang keluar akibat menyesali kehidupan yang boros atas apa yang fana, tetapi air mata ini, seperti air mata di wajah anak yang sedih dan tiba-tiba bersukacita.  Demikianlah juga kelak orang-orang yang baru keluar dari kesusahan besar, di mata mereka masih ada air mata yang keluar akibat penderitaan berat yang dialami di bumi, sebelum mereka dibunuh karena kesaksian mereka (berarti orang Kristen dapat mengalami kesusahan besar).  Allah “akan menghapus segala air mata dari mata mereka” yang keluar dari kesusahan besar.  Baru pada ps. 21:4, setelah kerajaan seribu tahun, kita dapat membaca bahwa “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka.”
Jadi ps. 7, mencatat dua penglihatan Yohanes yang disebut sebagai tambahan karena bukan  bagian dari mata rantai hukuman yang menyertai dibukanya ketujuh meterai.  Pertama, penglihatan tentang 144.000 orang Yahudi yang dimeterai sebagai perlindungan.  Kedua, penglihatan tentang orang banyak yang tak terhitung, yaitu orang-orang yang lulus keluar dari kesusahan besar.  Kedua penglihatan itu berkaitan erat dengan pembukaan ketujuh meterai dan juga berkaitan erat dengan ketujuh jemaat yang merupakan pembaca mula-mula dari kitab Wahyu (Hagelberg, 190-191).
a.    Meterai Ketujuh, 8:1-6.
Bagian ini kembali kepada mata rantai tujuh meterai dan membahas meterai ketujuh.  Nampaknya hukuman yang mengikuti meterai yang ketujuh terdiri atas tujuh sangkakala.  Meterainya dibuka dan tujuh malaikat menerima serta menyediakan tujuh sangkakala.  Ini berarti hukuman bagi mereka yang diam di bumi masih berat dan masih banyak.
Ps. 8:1, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di surga, kira-kira setengah jam lamanya.”  Menurut Scheunemann, kebanyakan penafsir mengartikan fase setengah jam itu sebagai Surga menahan nafas, karena sudah merasakan hukuman-hukuman yang dahsyat yang akan dibunyikan melalui sangkakala (Scheunemann, 111).
Menurut Hagelberg, saat yang sunyi senyap ini adalah saat yang khidmad.  Semua irang yang di sana merasakan bahwa saat ini adalah saat yang bersejarah (Hagelberg, 193).  Menurut Beasley-Murray, sunyi senyap di Surga terjadi agar dapat mendengarkan doa-doa orang-orang kudus (Guthrie, ed., 946).
Adolf Pohl mengatakan bahwa doa orang-orang kudus dalam ayat 3-5, masih sedang ditunggu.  Malaikat tidak akan membunyikan sangkakalanya sebelum orang-orang kudus berdoa.  Penulis Ibr. 1:3, menegaskan bahwa kosmos ditopang oleh firman Allah.  Tatkala Allah diam, tidak berfirman lagi, maka kosmos kembali menjadi chaos.  Maka dengan meterai ketujuh dinubuatkanlah akan kehancuran dunia lama.  Allah tidak berfirman lagi.  Setengah jam menjadi jam kematian.  Allah berfirman lagi dan menciptakan bumi dan langit yang baru.  Yang jelas bahwa isi meterai yang ketujuh adalah sama dengan peniupan ketujuh sangkakala (Scheunemann, 111).
Ps. 8:2, “Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala.”  Di sini terjadi perubahan, pada ps. 6, “Anak Domba” membuka tujuh meterai, sedang pada ps. 8, ada 7 malaikat tertentu membunyikan sangkakala demi sangkakala.  Fokusnya terletak pada gereja Tuhan dan Setan (Ibid, 113).
Apakah saat yang sunyi senyap ini sudah menjadi akhir zaman?  Ternyata tidak!  Masih ada hukuman-hukuman lain yang harus dijatuhkan ke bumi.  Di atas setiap hukuman, diawali dengan pembukaan meterai, tetapi dalam bagian ini diawali dengan peniupan sangkakala.
Sangkakala sering ditiup dalam konteks perang (Yos. 6:20, misalnya), dan dalam konteks sukacita hari raya (Bil. 10:10).  Maka layaklah jika sangkakala ada dalam konteks hari kiamat (Mat. 24:31), karena kedatangan Anak Manusia mendirikan kerajaan-Nya di bumi membawa kesusahan, seperti kesusahan perang bagi orang-orang tertentu (mis. Amos 5:16-20), dan sukacita bagi orang-orang tertentu (mis. Yes. 40) (Hagelberg, 194).
Ps. 8:3, “Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.”  Pada ps. 5:8, “kemenyan” adalah lambang doa orang-orang kudus, sedang dalam nas ini “kemenyan” dipersembahkan bersama-sama dengan doa semua orang kudus.
Sama seperti hukuman ketujuh meterai diawali dengan kemenyan atau doa, demikian juga dengan hukuman ketujuh sangkakala diawali dengan kemenyan atau doa.  Dalam kitab Keluaran 30:1-10, diceritakan tentang mezbah.  Mezbah emas dipakai dalam Bait Allah, sedangkan dalam Kemah Suci dipakai pedupaan atau perbaraan yang terbuat dari tembaga (Kel. 27:3; 1Raj. 7:50).
Ps. 8:4, “Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.”  Oleh karena “doa semua orang kudus” disucikan di mezbah (karena pengorbanan Anak Domba), maka doa kita menjadi berkenan di hadapan Dia yang duduk di atas takhta.  Pengamatan ini sungguh membesarkan hati orang yang teraniaya di Asia Kecil, karena mereka diyakinkan bahwa doa-doa mereka didengarkan oleh Allah, dan juga bahwa doa yang dalam skala globalpun didengar oleh Tuhan.
Ayat 4-5, menunjukkan bahwa isi doa orang kudus mengakibatkan api dari mezbah Allah dilemparkan ke bumi.  Isi doa mereka segaris dengan seruan orang-orang kudus pada ps. 6:10, seruan untuk menegakkan keadilan (Scheunemann, 113).  Jadi sebelum doa orang kudus berkenan di hadapan Allah, maka harus lebih dahulu dibersihkan di atas mezbah.
Ps. 8:5, “Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.”  Leon Morris dalam tafsirannya mengatakan, “Doa umat Allah memainkan peran penting dalam penghakiman.”  Pernyataan ini dibantah oleh Peter Wongso dengan mengatakan bahwa penghakiman Allah bukan hasil pemberitahuan orang kudus, tetapi adalah inisiatif Allah sendiri, seperti pada waktu Allah menghukum manusia pada zaman Nuh (Wongso, 524-525).
Pedupaan yang baru saja dipakai memmbawa doa orang-orang kudus, sekarang dipakai untuk menyampaikan hukuman kepada manusia di bumi.  Doa orang-orang kudus, bukan hanya didengarkan, tetapi juga dikabulkan.  Pada ps. 6:10, jiwa-jiwa yang ada di bawah mezbah berseru meminta penghakiman dari Hakim yang Adil, dan pada nas ini doa mereka naik ke hadapan Allah dan Allah mengabulkannya.
Nampaknya, sebagai tanggapan dari doa orang-orang kudus, Dia yang duduk di atas takhta menghakimi dan membalaskan darah mereka dengan “bunyi guruh, halilintar, dan gempa bumi.”  Sesudah doa itu sampai ke hadapan Allah, Allah mendatangkan penghakiman, berarti doa orang-orang kudus tidaklah sia-sia, melainkan doa itu sangat diperhatikan oleh Allah (Hagelberg, 196).
Ps. 8:6, “Dan ketujuh malaikat yang memegang ketujuh sangkakala itu bersiap-siap untuk meniup sangkakala.”  Ayat ini mengingatkan kita akan segala persiapan di Surga yang sudah diselesaikan untuk mendatangkan hukuman kepada manusia di bumi.
1.    Ketujuh Sangkakala, 8:7-11:19.
Beasley-Murray menguraikan bahwa hukuman ketujuh sangkakala sejajar dengan ke sepuluh tulah dalam kitab Keluaran 7-11.
a.    Keempat Sangkakala Pertama, 8:7-12.
Sama seperti ke-empat meterai pertama menjadi satu kelompok, demikian juga dengan ke-empat sangkakala pertama menjadi satu kelompok.  Hukuman-hukuman itu penuh dengan hal-hal yang aneh.
Sangkakala Pertama
Ps. 8:7, “Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau.”  Sangkakala pertama memengaruhi sepertiga dari bumi, bandingkan dengan tulah hujan es dan api pada kitab Kel. 9:24.
Seluruh rumput hijau yang hangus, hanya dalam sepertiga dari bumi yang kena tulah.  Ayat ini bukan penghakiman seluruh bumi (Guthrie, ed., 947).
Hanya “sepertiga dari bumi dan pohon-pohon yang kena tulah” sebagai tanda bahwa mereka yang diam di bumi masih diberikan kesempatan untuk bertobat, seperti peringatan kepada bangsa Israel pada kitab Yeh. 33 (Hagelberg, 198).
Sangkakala Kedua
Ps. 8:8-9, “Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah, dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal.”  Sangkakala kedua memengaruhi sepertiga laut, sebagaimana sungai Nil menjadi darah pada waktu kena tulah (Kel. 7:20-21).
Yohanes memakai kata-kata “sesuatu seperti”, mungkin apa yang dilihatnya itu di luar jangkauan bahasa Yunani atau bahasa-bahasa yang diketahui oleh Yohanes.  Istilah itu dipakai, rupanya tidak ada kata dalam bahasa Yunani yang tepat untuk menjelaskan, sehingga dijuluki sesuatu seperti “gunung besar yang dilemparkan ke dalam laut.”  Mounce menegaskan bahwa hukuman itu masih mengingatkan dan memberikan kesempatan untuk bertobat (Hagelberg, 199).
Sangkakala Ketiga
Ps. 8:10-11, “Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air.  Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.”  Sangkakala ketiga menyebabkan sepertiga air tawar menjadi beracun.  Menurut Mounce, meteor dianggap sebagai tanda kesusahan pada zaman itu.
Hukuman yang ketiga ini mirip dengan tulah yang pertama pada kitab Kel. 7.  “Apsintus” adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang pahit rasanya.  Ketiga sangkakala yang pertama membawa hukuman dengan memakai api sesuai dengan pedupaan yang sudah diisi api dari mezbah yang kemudian dilemparkan ke atas bumi pada ps. 8:5 (Guthrie, ed., 947; Hagelberg, 199).
Sangkakala Ke-empat
Ps. 8:12, “Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari.”  Hukuman dengan sangkakala ke-empat ini sejajar dengan tulah yang kesembilan pada kitab Kel. 10:21, tetapi pada nas ini hanya “sepertiga dari siang hari menjadi gelap.”  Kegelapan melambangkan dosa (Ef. 5:11) dan hukuman (Amos 5:18).  Terjemahan Bohairic mengatakan bahwa “sepertiga dari padanya tidak akan bersinar pada siang hari, dan pada malam haripun demikian juga” (Guthrie, ed., 947).
b.    Ketiga Sangkakala Terakhir, 8:13-11:19.
Sama seperti antara hukuman meterai yang ke-enam dan yang ketujuh, ada tambahannya, demikian juga ada dua tambahan pada sangkakala ke-enam dan ketujuh.
Sangkakala kelima, 8:13-9:12.
Ps. 8:13, “Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: "Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya.”  Ayat ini merupakan peralihan antara ke-empat sangkakala pertama dengan ketiga sangkakala yang terakhir.
Ke-empat sangkakala pertama tertuju kepada bumi, matahari, bulan, dan binatang, sedangkan tiga sangkakala yang terakhir tertuju kepada “mereka yang diam di atas bumi”, yaitu mereka yang tidak mau bertobat, walaupun sudah melihat hukuman Allah yang dahsyat.  Malaikat itu mengucapkan kata “celaka” sebanyak tiga kali dan masih ada tiga sangkakala yang menyusul.
Empat sangkakala pertama membinasakan lingkungan hidup manusia: Pertama, sepertiga permukaan bumi terbakar ialah tempat tinggal manusia dan daerah pertanian dibatasi; Kedua, sepertiga samudera dengan isinya dijadikan darah melalui gunung api, letusan yang luar biasa dari bom nuklir dan bom H (Why. 8:8);  Ketiga, sepertiga air di atas permukaan bumi menjadi pahit, yang membunuh banyak umat manusia; Keempat, sepertiga matahari, bulan, dan bintang-bintang digelapkan.
Keterangan “sepertiga” tidak dapat diartikan secara harafiah, khususnya pada akibat sangkakala kedua, ketiga, dan keempat.  Kita artikan: sebagian besar samudera dan sungai-sungai, sebagian besar kekuatan sinar matahari, bulan, dan bintang-bintang.  Tetapi sepertiga juga menunjukkan bahwa ada batasan dalam setiap penghukuman Tuhan.  Matahari, bulan, dan bintang-bintang berhenti memberitakan kasih setia dan kemurahan Tuhan (Mzm. 136:7-9) (Scheinemann, 114-115).
“Burung nasar” dalam bahasa Yunani aetou yang diterjemahkan dalam King James Version (KJV) angel, kemungkinan besar kitab Wahyu 14:6; 19:17, “malaikat terbang”, kemudian mengartikan bahwa bagian ini adalah malaikat yang menyampaikan berita dan bukan burung nasar.
Burung nasar dalam kitab nabi Yehezkiel sebagai lambang untuk Mesir dan Babel yang dipakai Allah menghukum umat Israel yang sudah rusak (Yeh. 17).  Sayap burung nasar dipakai dalam kitab Ayub, melambangkan kekuatan besar.  Mata burung nasar tajam, sanggup melihat jauh, di mana ada orang mati terbunuh, ke sanalah ia terbang; melambangkan fungsi penghakiman dan penyucian (Ayub 39:26-30) (Wongso, 539).
Ps. 9:1, “Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut.”  Identitas dari bintang yang jatuh dari langit ke bumi, sulit dipastikan.  Ayat ini mirip dengan apa yang tertulis pada Luk. 10:17, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.”
Memang malaikat dapat dilambangkan sebagai bintang, seperti pada kitab Hak. 5:20; Ayub 38:7.  Menurut Scheunemann, “sebuah bintang” adalah satu makhluk Surgawi yang membuka tempat kediaman Iblis.  “Lobang jurang maut” itu adalah “abyssos”, tempat yang dalamnya tidak dapat diukur, tempat roh-roh jahat, dan tempat Iblis.  Pada kitab Why. 20:1 dan 3, Iblis ditahan di “abyssos” selama seribu tahun (Scheunemann, 115).
 Sangkakala kelima memperkenalkan tulah belalang demonis.  Jadi bintang itu jatuh ke bumi untuk membuka lobang jurang maut, di mana tinggal gerombolan demonis (Guthrie, ed., 947).
Ps. 9:2, “Maka dibukanyalah pintu lobang jurang maut itu, lalu naiklah asap dari lobang itu bagaikan asap tanur besar, dan matahari dan angkasa menjadi gelap oleh asap lobang itu.”  Adanya asap yang besar dari lobang itu dapat ditafsirkan bahwa lobang itu adalah tempat hukuman sementara, yang dapat dikaitkan dengan Wahyu 20:1-3.  Sama seperti matahari dan bulan menjadi gelap karena belalang pada kitab Yoel 2:10; demikian juga matahari dan bulan menjadi gelap karena asap dari lobang itu (Why. 9:2) (Hagelberg, 202).
Ps. 9:3, “Dan dari asap itu berkeluaranlah belalang-belalang ke atas bumi dan kepada mereka diberikan kuasa sama seperti kuasa kalajengking-kalajengking di bumi.”  Belalang-belalang melambangkan malapetaka yang dahsyat.  Belalang-belalang itu tidak dapat ditafsirkan secara harafiah, melainkan menggambarkan beberapa hal:
1)    Luasnya dan meratanya serangan roh-roh jahat, tetapi orang-orang yang dimeteraikan, dipelihara sesuai dengan ps. 7:2-4; 9:4.
2)    Siksaan yang dibawa serangan roh-roh jahat, seperti siksaan orang yang disengat kalajengking.  Seluruh kebudayaan dunia diracuni roh yang suka binasa, suka mati, suka hancur, permainan dengan keputusan manusia dilakukan oleh roh-roh jahat, tetapi manusia tidak dapat mati.
3)    Belalang-belalang juga dinyatakan dengan muka manusia dan rambutnya sama seperti rambut perempuan (9:8).  Latar belakangnya adalah kultus dewa Dyinisos dengan tarian estatis, di mana para wanita menari dengan rambut panjang lepas.  Belalang-belalang membawa banjir seks di atas muka bumi.
4)    Tentara berkuda yang menyerang (9:9b bnd nubuatan Yoel 2).
5)    Juga menggambarkan besarnya tentara yang digerakkan oleh roh-roh jahat.  Giginya seperti gigi singa, hebatnya perlengkapan ialah baju zirah.  Ahli nuklir B. Philbert mengartikan empat sangkakala pertama adalah nubuatan perang nuklir, sedangkan tiga sangkakala terakhir adalah nubuatan tentang perang konvensional di mana senjata-senjata keluar dari jurang (bawah tanah), yang menunjuk kepada roket-roket dan pesawat-pesawat udara.  Belalang diartikan dengan panser-panser atau tank-tank (Scheunemann, 115-116).
Belalang-belalang itu diberinya kuasa artinya walaupun pelakunya berasal dari bawah, tetapi yang Mahakuasa mengatur malapetaka itu.  “Kepadanya diberikan kuasa” sama seperti kata “kepadanya diberikan anak kunci.”
Pada tahun 1866, ada 200.000 orang yang mati kelaparan di Aljazair karena hasil tanah habis dimakan oleh belalang.  Ayat ini ada kesamaannya dengan tulah belalang pada kitab Kel. 10:1-20, tetapi kaitannya lebiih erat lagi dengan kitab Yoel 2:4-10 (Hagelberg, 202).
Ps. 9:4, “Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya.”  Ps. 8:13, burung nasar itu mengucapkan “celakalah mereka yang diam di atas bumi.”  Kesusahan ini dibawa oleh belalang yang ditujukan kepada mereka yang tidak mau percaya kepada Tuhan.  Pada ps. 13:16, dikatakan bahwa mereka yang tidak memakai meterai Allah di dahinya menerima tanda lain di tangan atau di dahi mereka dari binatang.  Belalang biasanya merusak tanaman, dan bukan manusia, tetapi di sini justru terbalik.
Ps. 9:5, “Dan mereka diperkenankan bukan untuk membunuh manusia, melainkan hanya untuk menyiksa mereka lima bulan lamanya, dan siksaan itu seperti siksaan kalajengking, apabila ia menyengat manusia.”  Allah memakai belalang untuk menyiksa manusia, bukan untuk membunuh.  Manurut Peter Wongso, tujuan siksaan itu adalah supaya manusia bertobat.  Di sinilah nyata bahwa Tuhan Yesus adalah pemegang kunci maut (bnd 1:18), karena sekalipun orang mencari maut, tetapi maut itu lari dari padanya (Wongso, 543).
Musim kemarau di Kanaan biasanya berlangsung selama 5 bulan, kalajengking dapat merusak tumbuh-tumbuhan, tetapi belum tentu ada kaitannya dengan 5 bulan dalam nas ini.  Menurut Beasley-Murray, “lima bulan” adalah tenggang waktu yang normal dari hidup belalang (musim bunga dan panas).  Kalajengking menimbulkan kesengsaraan, tetapi tidak membunuh manusia (Guthrie, ed., 948).
Ps. 9:6, “Dan pada masa itu orang-orang akan mencari maut, tetapi mereka tidak akan menemukannya, dan mereka akan ingin mati, tetapi maut lari dari mereka.”  Karena ngerinya siksaan itu, maka orang rela mati untuk melepaskan diri dari beratnya siksaan yang disebabkan oleh belalang-belalang itu, tetapi kematian malah menjauh dari mereka.
Ps. 9:7, “... rupa belalang-belalang itu sama seperti kuda yang disiapkan untuk peperangan, dan di atas kepala mereka ada sesuatu yang menyerupai mahkota emas, dan muka mereka sama seperti muka manusia,”   Gambaran belalang itu menunjukkan bahwa belalang itu bukan belalang biasa.  Rupanya begitu dahsyat.
Karena itu, tepatlah yang dikatakan oleh Beasley-Murray  bahwa belalang itu adalah belalang demonis.  Belalang itu memunyai sesuatu yang menyerupai mahkota di kepalanya dan mukanya seperti muka manusia, memberikan kesan bahwa belalang itu memunyai “akal” dan bukan belalang biasa, dan itu berarti menunjuk kepada Setan (Hagelberg, 205).
Ps. 9:8-9, “...dan rambut mereka sama seperti rambut perempuan dan gigi mereka sama seperti gigi singa,  dan dada mereka sama seperti baju zirah, dan bunyi sayap mereka bagaikan bunyi kereta-kereta yang ditarik banyak kuda, yang sedang lari ke medan peperangan.”  Zaman dulu, para penafsir berkata bahwa “rambut mereka seperti rambut perempuan adalah lambang dosa seksual, tetapi tafsiran masa kini, rambut belalang-belalang itu dikaitkan dengan rambut panjang yang dipakai oleh pasukan Parthia yang menunggangi kuda.  Menurut Beasley-Murray, rambut mereka yanng seperti rambut perempuan menghunjuk kepada sungut-sungut mereka yang panjang (Hagelberg, 205; Guthrie, ed., 948).
“Giginya seperti gigi singa” adalah menghunjuk kepada pengrusakannya.  Dan “baju zirah” adalah menghunjuk kepada sisik-sisik mereka (Ibid).
Ps. 9:10, “Dan ekor mereka sama seperti kalajengking dan ada sengatnya, dan di dalam ekor mereka itu terdapat kuasa mereka untuk menyakiti manusia, lima bulan lamanya.”  Ayat ini hanya penjelasan saja bahwa belalang itu memunyai sengat pada ekornya.
Ps. 9:11, “Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani ialah Apolion.”  “Abadon” artinya binasa atau maut.  Dalam bahasa Yunani “apollyon” artinya membinasakan.  Belalang itu melambangkan pembinasaan (Wongso, 543).
Ps. 9:12, “Celaka yang pertama sudah lewat. Sekarang akan menyusul dua celaka lagi.”  Ini sesuai dengan seruan burung nasar bahwa akan ada tiga celaka.  Celaka kedua dikaitkan dengan sangkakala yang keenam dan celaka yang ketiga tidak dapat disamakan dengan sangkakala yang ketujuh, karena sangkakala yang ketujuh tidak disusuli hukuman, tetapi berubah menjadi tujuh cawan.  Maka ketujuh cawan itu merupakan celaka yang ketiga.
Sangkakala keenam, 9:13-21.
Dalam malapetaka sangkakala yang kelima, tidak ada manusia yang meninggal, hanya disiksa oleh belalang-belalang, tetapi dalam malapetaka yang berikut, sepertiga manusia akan mati.  Sangkakala ke-enam membawa bala tentara demonis dari Efrat.
Ps. 9:13, “Lalu malaikat yang keenam meniup sangkakalanya, dan aku mendengar suatu suara keluar dari keempat tanduk mezbah emas yang di hadapan Allah,”  Suara dari tanduk emas di hadapan Allah masih harus diperhatikan sebagai titik tolak sangkakala keenam, ialah doa orang-orang yang telah mati syahid di Surga (bnd 6:9-10) (Scheunemann, 116-117).
Ps. 9:14, “...dan berkata kepada malaikat yang keenam yang memegang sangkakala itu: "Lepaskanlah keempat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat itu.”  Menurut Hagelberg, identitas keempat malaikat itu sulit dipastikan.  Pada ps. 7:1, ada 4 malaikat yang dilarang melangkah sebelum hamba-hamba Allah dimeteraikan, tetapi rupanya ke-empat malaikat dalam nas ini lain, karena tempatnya dekat sungai besar Efrat.
Pada zaman Perjanjian Lama, di seberang sungai Efrat ialah Asyur, musuh Israel.  Pada zaman Yohanes, sungai Efrat adalah perbatasan Timur dari kekaisaran Romawi.  Kerajaan Parthia terletak di sebelah Timur sungai Efrat, yang sering menjadi ancaman bagi Roma.  Pada tahun 53 dan 62 Masehi, Roma dikalahkan oleh kerajaan Parthia, tetapi ancaman dalam nas ini lebih hebat lagi (Hagelberg, 208).
Menurut Scheunemann, empat malaikat yang terikat dilepaskan.  Mereka diikat karena sudah lama dipersiapkan sebagai pelaksana hukuman Allah, mereka bukanlah malaikat Iblis (Scheunemann, 117).  Sungai Efrat adalah batas ideal bagi Israel.  Berarti sebagaimana tentara datang dari daerah-daerah yang tidak dikenal, demikian juga akan datang kuda-kuda yang begitu menakutkan untuk membinasakan dunia.
Ps. 9:15, “Maka dilepaskanlah keempat malaikat yang telah disiapkan bagi jam dan hari, bulan dan tahun untuk membunuh sepertiga dari umat manusia.”  Ayat ini menekankan kedaulatan Allah, yang telah menyediakan hukuman.
Ps. 9:16, “Dan jumlah tentara itu ialah dua puluh ribu laksa pasukan berkuda; aku mendengar jumlah mereka.”  Tentara kuda dua puluh ribu laksa (sekitar 200.000.000), sebaiknya dimengerti sebagai angka batas hitungan dalam bahasa Yunani.  Angka itu mengejutkan pembaca.  Mereka itu dari mana?  Kitab Wahyu tidak memberikan jawabannya.  Karena banyaknya tentara itu, sehingga Yohanes tidak sanggup menghitungnya, tetapi dia hanya mendengar jumlah mereka (Scheunemaan, 117; Hagelberg, 208-209).
Ps. 9:17, “Maka demikianlah aku melihat dalam penglihatan ini kuda-kuda dan orang-orang yang menungganginya; mereka memakai baju zirah, merah api dan biru dan kuning belerang warnanya; kepala kuda-kuda itu sama seperti kepala singa, dan dari mulutnya keluar api, dan asap dan belerang.”  Siapakah yang memakai “baju zirah” itu?  Apakah kuda-kuda atau penunggangnya?  Yohanes melukiskan pakaian para penunggang kuda itu: baju zirah, merah api, dan biru dan kuning belerang warnanya.  Baju zirah penunggang kuda terdiri atas tiga warna, menunjukkan sesuatu yang menyilaukan mata, senjata yang menakutkan, dan bau yang menyengat, sehingga manusia sulit bernafas (Wongso, 546).
Ada juga yang berkata bahwa kuda-kuda ini adalah tank-tank perang modern, mungkin karena dari mulutnya keluar api, dan asap dan belerang, tetapi kepala kuda itu sama seperti kepala singa.  Tafsiran tersebut tidak dapat ditolak secara pasti, tetapi rupanya tidak ada tank-tank yang mirip singa, kecuali dari segi keganasannya.  Kuda-kuda itu sama seperti belalang atau kalajengking pada ps. 9:3-11, adalah Setan-Setan yang ditugaskan untuk membawa hukuman Allah kepada mereka yang diam di bumi (Hagelberg, 209-210).
Ps. 9:18, “Oleh ketiga malapetaka ini dibunuh sepertiga dari umat manusia, yaitu oleh api, dan asap dan belerang, yang keluar dari mulutnya.”  Celaka yang pertama membawa siksaan oleh belalang, dan celaka yang kedua membawa maut oleh kuda-kuda.  Istilah sepertiga muncul lagi, karena maksudnya hanya membunuh sepertiga saja supaya mereka yang diam di bumi dapat bertobat, maka hal ini belum menunjuk saatnya semua harus mati (Ibid).
Ps. 9:19, “Sebab kuasa kuda-kuda itu terdapat di dalam mulutnya dan di dalam ekornya. Sebab ekornya sama seperti ular; mereka berkepala dan dengan kepala mereka itu mereka mendatangkan kerusakan.”  Kuasa tentara kuda (dalam arti kiasan) itu tidak terletak pada manusia yang menungganginya, melainkan pada perlengkapan teknis yang luar biasa, pada mulut dan ekornya.  Akibat sangkakala keenam sungguh mengerikan, karena manusia masih bertahan melawan Allah dan tidak bertobat dari ilah-ilahnya dan dari cara hidup yang penuh dengan dosa (Scheunemann, 117).
Setan yang digambarkan dalam ayat ini sangat mengerikan, bukan saja mulutnya yang berbahaya, tetapi ekornya sama seperti ular beracun.
Ps. 9:20-21, “Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan,  dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian.”  Sama seperti Firaun yang kebal terhadap tulah pada kitab Keluaran, demikian juga mereka yang diam di bumi tidak mau bertobat.  Mereka yang tidak dibunuh oleh Setan-Setan, mereka tetap menyembah Setan-Setan.  Jadi malapetaka sangkakala ke-enam adalah kuda-kuda yang membunuh sepertiga penduduk bumi.
Tambahan Ketiga: Gulungan kitab, 10:1-11.
Nas ini menegaskan tugas Yohanes sebagai nabi yang harus memberitakan apa yang harus diberitakan, dan yang harus menutup apa yang harus ditutup.  Tugas ini membawa sukacita dan kesusahan.  Tambahan yang dijelaskan dalam ps. 7 juga membawa kesusahan dan kesyahidan (Hagelberg, 212).  Sama seperti tambahan antara meterai ke-enam dan meterai ketujuh, demikian juga ada tambahan antara sangkakala ke-enam dan sangkakala ketujuh.  Maksud tambahan ini adalah untuk menekankan akan dekat tibanya akhirat itu (10:1-7), berlakunya pelayanan nabiah (10:8-11), keamanan dari gereja (11:1-2), dan kekuatan dari kesaksiannya dalam era Anti-Kristus (11:3-13) (Guthrie, ed., 949).
Ps. 10:1, “Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari surga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.”  Siapakah malaikat yang kuat itu?  Ada yang mengatakan, Kristus dan ada juga yang mengatakan malaikat biasa.  Karena ia turun dari Surga, hanya Yesus sendiri yang turun dari Surga.  “Berselubungkan awan” terjemahan harafiahnya: mengenakan awan atau dikelilingi awan.  Hanya Kristus sendiri yang turun dengan awan pada ps. 1:7 (bnd Mat. 24:30).  Di atas kepalanya ada pelangi sebagai tanda perjanjian Allah dengan Nuh, menyatakan penghakiman Allah yang setia.  “Mukanya seperti matahari” adalah menunjuk kepada kemuliaan Kristus yang pernah disaksikan Yohanes pada ps. 1:16.  Pada ayat 2 dikatakan tangannya memegang gulungan kitab.  Hanya Kristus yang layak membuka gulungan kitab (5:1-5).  Kaki kanannya menginjak laut dan kaki kirinya menginjak bumi, berarti Ia adalah Tuhan semesta alam.  Seruan keras seperti auman singa.  Kristus adalah singa dari Yehuda (5:5).
“Malaikat yang kuat” pada kitab Wahyu dipakai 3 kali, yaitu pada ps. 5:2; 10:1; 18:21.  Ada tafsiran yang mengatakan bahwa malaikat lain yang kuat bukan Kristus, tetapi malaikat (Yun. angelon) dengan beberapa alasan:  Karena malaikat pada ps. 5:2 bukan Kristus, tetapi malaikat saja.  Kitab Wahyu tidak pernah memakai sebutan malaikat untuk Kristus.  Yohanes tidak menyembah malaikat.  Dua kakinya seperti tiang api, yang dialami bangsa Israel di padang gurun, malaikat Tuhan beserta dengan mereka dalam bentuk tiang awan dan tiang api.  Kemudian malaikat itu mengangkat tangannya ke langit, Kristus tidak pernah melakukan hal-hal tersebut (Wongso, 549-550).
Menurut Hagelberg, malaikat itu bukan Kristus, karena nanti pada ps. 19 baru Tuhan Yesus datang, namun tidak dapat disangkal bahwa malaikat itu luar biasa.  Rupanya diceritakan, sedangkan malaikat lainnya tidak diceritakan (Hagelberg, 212).
Ps 10:2, “Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka. Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi, ....”  Gulungan kitab itu terbuka, lain dari rahasia guruh pada ps. 10:4, yang harus dimeteraikan oleh Yohanes dan lain juga dari gulungan yang terdapat pada ps. 5, yang meterainya hanya dapat dibuka oleh Anak Domba.
Rupanya gulungan kitab kecil itu yang terbuka adalah melambangkan tugas Yohanes yang melayani sebagai nabi Allah (gambaran untuk pemberitaan firman Allah, yang dijelaskan dengan rasanya manis berarti pemberitaan keselamatan dan kesukaan).
Malaikat itu kaki kanannya di laut dan kaki kirinya di bumi, mungkin ini menggambarkan bahwa pesan itu berlaku untuk semua manusia, baik yang di darat maupun yang di laut (Hagelberg, 213).
Ps. 10:3, “...dan ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum. Dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya.”  Suara “ketujuh guruh” diawali dengan seruan malaikat yang kuat.  Tujuh guruh itu diikuti dengan malapetaka, seperti malaikat melemparkan pedupaan ke atas bumi mendahului bunyi ketujuh sangkakala (8:3-6).
Ps. 10:4, “Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari surga berkata: "Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!”  Apakah yang dimaksud dengan ketujuh guruh itu?  Pada umumnya para penafsir mengatakan bahwa ketujuh guruh itu adalah ketujuh malaikat yang menyampaikan berita dengan suara nyaring.  Mengapa konten pemberitaan dari ketujuh guruh itu tidak boleh dicatat, tetapi harus dimeteraikan?  “Meteraikan” dalam bahasa Yunani sphragison dipakai untuk konten tulisan atau berita yang didengarkan itu belum waktunya untuk dipublikasikan (Wongso, 551).
Menurut Morris, perkataan ketujuh guruh itu bagi Yohanes adalah suatu pesan yang bersifat pribadi, sama seperti yang pernah diterima oleh Paulus (2Kor. 12:4).  Menurut Ladd, perkataan itu merupakan hukuman yang tetap dirahasiakan, tetapi tidak dibatalkan.  Menurut Bauckhman, ada rantai malapetaka ketujuh guruh yang dibatalkan, supaya ada tiga rantai, yaitu: Meterai, sangkakala, dan cawan.  Maunce sependapat dengan Bauckhman dan dia menambahkan bahwa ada rantai malapetaka guruh yang dibatalkan karena tidak berguna, sebab mereka yang diam di bumi sudah jelas tidak mau bertobat dari dosa-dosa mereka.  Yang jelas bahwa apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu sudah disegel dan tidak dapat diketahui (Hagelberg, 214).
Ps. 10:5, “Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit, ...”  Dalam Perjanjian Lama, mengangkat tangan ke langit adalah ungkapan yang lazim sebagai tanda bagi seorang yang mau bersumpah, seperti dalam Kejadian 14:22.
Ps. 10:6, “... dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: "Tidak akan ada penundaan lagi!”  Para penafsir mengakui bahwa penghukuman atas manusia tidak boleh ditunda lagi.  Makna dari bahasa aslinya: Sudah tidak ada waktu lagi (Wongso, 553).
Ps.10”7, “Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi.”  Pada masa yang dikemukakan pada ayat ini, yaitu “hari-hari” bunyi sangkakala malaikat yang ketujuh, sangkakala itu harus ditiup dan ketujuh cawan harus ditumpahkan, karena sangkakala yang ketujuh terdiri atas ketujuh cawan.  Masa hari-hari itu diceritakan pada 11:15, saat ada sukacita di Surga ketika sangkakala yang ketujuh ditiup.  Dalam Perjanjian Baru, istilah “rahasia” menunjuk kepada kebenaran yang tidak dapat diketahui, kecuali diilhamkan oleh Allah (Hagelberg, 215-216).
Ps. 10:8-9, “Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu.  Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu.”  Setelah peristiwa ketujuh guruh yang dimeteraikan, perhatian kita diarahkan kembali kepada “gulungan kitab yang terbuka” yang harus diambil Yohanes lalu dimakan.
Dalam Yeh. 2:8-3:3, Yehezkiel disuruh makan gulungan kitab, yang terasa manis di dalam mulutnya, tetapi tidak dijelaskan apakah pahit di perutnya.  Sulit dipastikan, tetapi rupanya “gulungan kitab itu” adalah melambangkan firman Allah yang diberitakan oleh Yohanes.  Rasa pahit di perut sulit ditafsirkan.  Mungkin ini berkaitan dengan celaka bagi mereka yang tidak mendengarkan.  Menurut Morris dan Ladd, rasa pahit itu berarti bahwa firman Allah itu juga menceritakan hukuman Allah yang harus diterima oleh setiap orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan bagi seorang hamba Tuhan, memberitakan hukuman ini adalah hal yang rasanya tidak enak, tetapi harus tetap diberitakan.
Menurut Mounce, rasa pahit itu melambangkan kesusahan yang harus dialami oleh jemaat Kristus pada akhir zaman (Hagelberg, 217).  Ayat 8-11, berbicara tentang pengukuhan ulang dari pengutusan Yohanes sebagai nabi Allah di zaman akhir (Guthrie, ed., 949).
Ps. 10:10-11, “Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.  Maka ia berkata kepadaku: "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja.”  Dengan ayat-ayat ini, panggilan Yohanes menjadi lebih jelas sebagai nabi Allah.  Dia harus makan gulungan kitab yang kecil itu dan harus bernubuat.
Tambahan Keempat: Dua Saksi, 11:1-14.
Sudah diamati bahwa tambahan pada ps. 7, rupanya ada kesaksian dan kesyahidan.  Sementara tambahan yang ada pada ps. 10-11, ada unsur kesaksian dan kesyahidan.
Ps. 11:1-2, “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.  Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.”  Ada penafsir yang tidak mau menggunakan banyak lambang berpendapat bahwa pada akhir zaman Bait Allah akan dibangun kembali di Yerusalem (Hagelberg, 219). 
Dalam perikop ini Bait Allah di Yerusalem akan diukur, bersama dengan para penyembahnya untuk perlindungan pada masa pencobaan (Guthrie, ed., 949).  Menurut Walvoord, arti pengukuran ini adalah bahwa Bait Suci dan penyembahnya adalah milik Tuhan dan mereka yang berbakti di sana akan dihakimi oleh Allah.  Menurut Ladd, pengukuran itu menunjuk kepada perlindungan Allah (Hagelberg, 219).
Scheunemann lebih menyetujui bahwa Bait Suci identik dengan sisa Israel yang percaya dan gereja Perjanjian Baru, sedangkan halaman menggambarkan Israel yang telah murtad dan seluruh dunia yang melawan Allah.  Menurut A. Pohl dengan mengaitkan 1Kor. 3:9; Ef. 2:19-22, mengatakan bahwa orang percaya adalah “bangunan Allah” yang didiami oleh Roh Kudus.  Maka Bait Suci adalah menunjuk kepada umat Tuhan Perjanjian Baru atau gereja, yang dipelihara oleh Tuhan sesuai dengan ps. 7:1-8 (Scheunemann, 118).
“Pelataran’ itu telah diserahkan kepada bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak selama empat puluh dua bulan lamanya.  “Empat puluh dua bulan” adalah separuh dari “satu kali tujuh masa” atau “tiga setengah masa”, yang dinubuatkan pada Daniel 9:27.  Masa kesengsaraan yang dijelaskan dalam kitab Daniel 9 dan kitab Wahyu akan berlangsung selama seperdua dari tujuh masa atau sama dengan empat puluh dua bulan (bnd Dan. 9:27).  Selama 42 bulan pelataran Bait Allah tidak mendapat perlindungan (Hagelberg, 220).
Empat puluh dua bulan atau 1260 hari atau satu masa, dua masa, dan setengah masa adalah menunjuk kepada masa pemerintahan Anti-Kristus.  Kitab Daniel menekankan “pertengahan dari satu kali tujuh masa”, tidak berarti harus betul-betul tiga setengah masa, tetapi sebagian dari satu kali tujuh masa itu akan ada masa aniaya karena “masa satu kali tujuh masa” adalah masa sejak kematian Kristus sampai Ia datang kembali.  Secara rohaniah, gereja akan dilindungi pada zaman itu, tetapi pelataran Bait Suci tidak akan mendapat perlindungan (Guthrie, ed., 950).
Ps. 11:3-4, “Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.  Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.”  Arti “dua saksi Allah” adalah menunjuk kepada dua hamba Tuhan, yaitu dua nabi zaman akhir yang luar biasa dan yang bersaksi dengan kuasa dan wibawa sama seperti nabi Musa dan Elia (Scheunemann, 119).
Menurut Beasley-Murray bahwa penglihatan dua saksi itu adalah menghunjuk kepada kegiatan misioner dari seluruh gereja (Guthrie, ed., 950).  Menurut Bauckhman, kisah dua saksi ini merupakan perumpamaan yang dimaksudkan untuk mendorong umat Allah dalam melaksanakan tugasnya sebagai saksi atau nabi dengan memanggil suku-suku bangsa supaya bertobat.  Mereka dilindungi selama kesaksian mereka harus berlangsung, tetapi mereka juga akan mati syahid pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah.  Keberhasilan kesaksian umat Allah diberitakan pada ps. 11:13 (Hagelberg, 221).
“Dua saksi” ini disebut “pohon zaitun dan kaki dian” tanpa penjelasan, tetapi sebutan itu terdapat pada kitab Zakharia 4.  Sebutan Bauckhman di atas diperkuat dengan penjelasan ini, karena pada kitab Roma 11:17-20, “pohon zaitun” adalah melambangkan umat Allah.  Sebutan “kaki dian” adalah melambangkan “dua saksi” itu, yang adalah umat Allah sendiri, seperti jemaat-jemaat di Asia Kecil yang disebut sebagai kaki dian pada ps. 1:20 (Ibid).
Ps. 11:5-6, “Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara itu.  Mereka mempunyai kuasa menutup langit, supaya jangan turun hujan selama mereka bernubuat; dan mereka mempunyai kuasa atas segala air untuk mengubahnya menjadi darah, dan untuk memukul bumi dengan segala jenis malapetaka, setiap kali mereka menghendakinya.”
Kuasa yang diberikan kepada mereka, mirip dengan peristiwa pada 2Raj. 1:10-14, saat Elia dilindungi dengan api yang turun dari Surga (bukan keluar dari mulutnya).  Pada kitab 1Raj. 17:1, Elia menutup langit dan pada kitab Kel. 7, Musa mengubah air menjadi darah.  Musa dan Elia menjadi teladan yang tepat untuk mengisahkan pelayanan kesaksian umat Allah pada akhir zaman.  Bauckhman mengatakan bahwa adanya malapetaka itu tidak akan membuahkan pertobatan, sebagaimana ditegaskan pada ps. 9:20-21.  Namun demikian, dalam pelayanan dua saksi itu ada dua unsur yang tidak ada dalam mata rantai hukuman meterai dan sangkakala, yaitu kematian saksi dan berita yang mereka beritakan.
Ps. 11:7-8, “Dan apabila mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka.  Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.”
“Binatang yang muncul dari jurang maut” harus dikaitkan dengan binatang yang keluar dari laut pada ps. 13:1, yang menunjuk kepada binatang buas yang bertempur melawan gereja (Guthrie, ed., 951).
Pelayanan kedua saksi itu berhenti setelah kesaksian mereka sudah selesai.  Hal ini menjadi penghiburan bagi kita bahwa kita tidak dibunuh sedetik pun sebelum tugas kita selesai.  Mayat dua saksi itu tidak dikuburkan adalah merupakan penghinaan yang sangat besar.  Dalam budaya Roma, mayat yang dilarang dikuburkan mengandung dua pengertian: Pertama, sebagai penghinaan.  Dan kedua, sebagai peringatan (Wongso, 560).
Rupanya dua saksi itu meninggal di Yerusalem, karena di sana juga Tuhan disalibkan.  Pemakaian sebutan “Sodom dan Mesir” berarti dua kota itu sedang melawan kehendak Allah, tetapi jika dua saksi itu melambangkan umat Tuhan yang bersaksi, maka kematian mereka di kota besar yang melawan kehendak Allah, tidak menunjuk pada satu tempat tertentu.  Umat Tuhan yang bersaksi, dianiaya di mana saja dan mereka dibunuh, dan mayat mereka dibiarkan di jalan raya kota-kota besar di seluruh dunia.  Ada kemungkinan pemakaian “Sodom dan Mesir” adalah menunjuk kepada sifat dan prilaku kedua kota itu, bukan secara harafiahnya.
Ps. 11:9-10, “Dan orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, melihat mayat mereka tiga setengah hari lamanya dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat mereka dikuburkan.  Dan mereka yang diam di atas bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah, karena kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang diam di atas bumi.”
Kalau dua pribadi yang bersaksi yang dimaksudkan dalam kisah ini, maka nas ini secara tidak langsung adalah nubuatan tentang adanya televisi, kecuali kalau dua saksi ini adalah merupakan perumpamaan.
Lamanya mayat mereka dibiarkan dan dilihat orang, yaitu tiga setengah hari, sejajar dengan lamanya pelayanan mereka, yaitu seribu dua enam puluh hari atau tiga setengah masa.  Bauckhman berkesimpulan bahwa tiga setengah hari juga sejajar dengan lamanya Tuhan Yesus berada di kuburan sebelum Ia dibangkitkan.
Karena kematian dua saksi itu, maka para penganiaya akan berpesta sementara, mereka merasa bahwa usaha mereka telah berhasil dengan baik.  Walaupun mereka sudah mendengar berita para martyr itu, tetap mereka tidak bertobat.  Tiga setengah hari menunjuk kepada kurun waktu yang singkat (Wongso, 560).
Ps. 11:11, “Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat mereka menjadi sangat takut.”  Dikatakan pneuma zoes dari Allah masuk ke dalam mereka.  Itu menyatakan bahwa Allah adalah sumber, roh kehidupan manusia tergantung padaNya.  Kapankah dua saksi itu dibangkitkan?  Ada dua pendapat: Pertama, saksi itu dibangkitkan pada waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.  Kedua, mereka akan diangkat ke udara sebelum masa sengsara besar terjadi (Ibid, 561).
Peristiwa pada ayat 11 mirip dengan peristiwa dalam kitab Yeh. 37.  Pasti ayat ini mengesankan mereka yang diam di Smirna.  Menjadi penghiburan bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, karena aniaya supaya percaya akan adanya kebangkitan orang mati.  Menurut Beasley-Murray, yang dimaksudkan dengan kebangkitan dua saksi ini adalah kebangkitan secara rohani, seperti dalam kitab Yeh. 37:10, terjadi kebangkita Israel secara rohani.  Kebangkitan rohani yang demikian hebat, sehingga mendahsyatkan dunia (Guthrie, ed., 951).
Ps. 11:12, “Dan orang-orang itu mendengar suatu suara yang nyaring dari surga berkata kepada mereka: "Naiklah ke mari!" Lalu naiklah mereka ke langit, diselubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka.”  Waktu mereka diangkat ke Surga mereka “diselubungi awan” sama seperti pada kenaikan Tuhan Yesus ke Surga.  Setelah mereka mengalami aniaya tiga setengah hari atau tiga setengah masa, barulah mereka diangkat ke langit.
Ps. 11:13, “Pada saat itu terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan sepersepuluh bagian dari kota itu rubuh, dan tujuh ribu orang mati oleh gempa bumi itu dan orang-orang lain sangat ketakutan, lalu memuliakan Allah yang di surga.”  Bilangan “tujuh ribu orang” adalah cocok menggambarkan sepersepuluh dari penduduk Yerusalem.  Tetapi angka tujuh ribu juga dapat ditafsirkan dengan bilangan yang sangat banyak (Ibid).
Ayat 13, merupakan puncak dari kisah kesaksian umat Allah pada masa kesengsaraan.  Sama seperti kebangkitan Tuhan Yesus disertai dengan gempa bumi, demikian juga kebangkitan umatNya yang bersaksi disertai gempa bumi.  Adanya kematian tujuh ribu orang adalah mengingatkan kita kepada peristiwa pada kitab 1Raj. 19:14-18, tentang adanya tujuh ribu orang yang tidak menyembah Baal, suatu kumpulan sisa yang setia kepada Tuhan.
Pecahan sepersepuluh dipakai dalam Perjanjian Lama untuk sisa umat Israel yang tidak terkena hukuman.  Yang lain, yang tidak mati, menjadi sangat ketakutan, lalu memuliakan Tuhan, dalam arti mereka menyembah Dia dari hati yang sudah dibenarkan. 
Bauckhman menegaskan bahwa pertobatan yang menjadi hasil kesaksian, kesyahidan, kebangkitan, dan kenaikan umat Allah merupakan pertobatan yang sesungguhnya, sehingga bukan minoritas yang setia yang diselamatkan, tetapi mayoritas yang pada mulanya tidak mau percaya, yang diselamatkan.  Demikian pola yang biasa dalam Perjanjian Lama dijungkirbalikkan dan kesaksian serta darah saksi-saksi dinyatakan lebih berkuasa dari pada kuasa malapetaka (Hagelberg, 226-227).
Jadi ayat 12 bukan menunjuk kepada pengangkatan orang-orang kudus, karena jika mereka sudah diangkat sebelum masa kesengsaraan, bagaimana mereka dapat bersaksi bagi Tuhan di bumi?  Konsep tentang “pengangkatan sebelum masa kesengsaraan besar” adalah konsep yang dipaksakan (Wongso, 563-564) dan tidak sesuai dengan kitab Daniel 9:27.
Ps. 11:14, “Celaka yang kedua sudah lewat: lihatlah, celaka yang ketiga segera menyusul.”  Ayat ini merupakan kelanjutan dari ps. 9:21.  Pemakaian ayat ini menyatakan bahwa ps. 11:1-13, yang mengisahkan buah pertobatan dari kesaksian dan ksyahidan umat Tuhan, dapat disebut sebagai tambahan yang terpisah dari kerangka narasi kitab Wahyu.  Oleh karena itu, kita tidak tahu kapan pertobatan itu terjadi dalam masa kesengsaraan besar.
Pengumuman celaka yang ketiga, berarti kita kembali kepada mata rantai malapetaka yang merupakan kerangka dari seluruh bagian ini.  Oleh karena sangkakala yang ketujuh tidak disusul dengan malapetaka khusus, tetapi disusul dengan ketujuh cawan, maka dapat dikatakan bahwa “celaka yang ketiga” terdiri atas sangkakala yang ketujuh, yang mengandung ketujuh cawan.
Sangkakala ketujuh, 11:15-19.
Bunyi sangkakala yang ketujuh diikuti tanggapan suara-suara dari Surga dan juga dari ke dua puluh empat tua-tua.  Dua tanggapan ini merupakan satu tema yang amat penting dalam kitab Wahyu, yaitu peralihan kekuasaan yang disertai dengan pembagian upah.  Setelah itu, ada catatan mengenai Bait Suci yang di Surga.
Ps. 11:15, “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam surga, katanya: "Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.”  Di sini terjadi peralihan kekuasaan dari dunia kepada Tuhan.  Sebenarnya sukacita mereka rasanya masih terlalu awal karena masih ada ketujuh cawan yang harus ditumpahkan, tetapi oleh karena tidak ada bunyi sangkakala yang lain, karena sangkakala yang ketujuh ini mengandung ketujuh cawan, maka mereka merayakan penyelesaiannya.  Mereka layak bersukacita karena dengan bunyi sangkakala yang terakhir, yang lain harus menyusul dengan segera (Hagelberg, 228-229).
Biasanya dalam Perjanjian Baru, kata “Tuhan” menunjuk kepada Tuhan Yesus, tetapi dalam ayat ini menunjuk kepada Allah, Bapa itu.  Seperti waktu meterai yang ketujuh dibuka tidak ada hukuman, situasinya sepi selama setengah jam, demikian juga pada waktu sangkakala yang ketujuh ditiup, tidak ada hukuman, hanya ada berita sukacita.
Ps. 11:16-17, “Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah, sambil berkata: "Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja....”  Sejak ps. 7, kedua puluh empat tua-tua itu tidak disebutkan, muncul dalam pasal ini, mereka memuji Allah dan Kristus.  Pada ayat 17, tidak usah dibedakan antara Allah, Bapa dan Kristus, karena pemerintahan mereka menyatu.  Pada ps. 1:4 dan 8, disebutkan di sini lagi, hanya bedanya “dia yang akan datang” tidak disebutkan lagi pada ps. 11:17, karena Dia dianggap sudah datang (Ibid, 229-230).
Ps. 11:18, “... dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi.”  Bagian ini merupakan nyanyian yang menguraikan makna dari kedatangan Kristus, suatu makna yang penuh dengan sukacita.
Dalam konteks “amarah semua bangsa, Dia datang dengan amarahNya sendiri.”  Kalau sebutan “orang-orang mati” menunjuk kepada mereka yang mati tanpa Kristus, maka ayat ini memiliki struktur yang indah dan seimbang: Pertama, “hukuman” bagi mereka yang melawan Allah.  Kedua, “upah” bagi semua yang hidup bagi Kristus.  Dan ketiga, pembinasaan bagi mereka yang melawan Allah.
Bumi ini sudah dititipkan kepada manusia (kej. 1:26-28), tetapi manusia membinasakan apa yang telah diberikan kepadanya, karena itu mereka akan dibinasakan.  Segala pencemaran, baik secara fisik maupun secara rohani dinyatakan di sini, akan dibinasakan oleh Allah (Ibid, 230-231).

Ps. 11:19, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.”  Penglihatan yang singkat ini menutup bagian ini.  “Tabut perjanjian Allah” adalah melambangkan kehadiran Allah ditengah-tengah umatNya, walaupun hanya dilihat oleh Imam Besar saja dan hanya sekali setahun, tetapi kalau Tuhan Yesus datang kembali, tabut perjanjian atau hadirat Allah akan nyata secara terang-terangan di tengah-tengah umat Allah.  Lambang dalam ayat ini akan menjadi kenyataan pada ps. 21-22, terutama pada 21:3.
Menurut legenda Yahudi “tabut perjanjian” akan muncul kembali di tengah-tengah umat Israel, tetapi menurut kitab Wahyu, “tabut perjanjian” akan muncul di dalam Bait Suci Allah di Surga.
Adanya “kilat, deru guruh, gempa bumi, hujan es lebat” melambangkan kedatangan atau hadirat Allah, seperti dalam Kel. 19:16.  Dalam Yes. 13:13, pada saat kedatangan Tuhan Allah ke bumi, langit dan bumi akan gemetar dan bergoncang dengan gempa bumi yang amat dahsyat (Ibid, 231-232).


Bersambung.......................


by : Pdt Markus Lingga' MTh     Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Diktat Kitab Wahyu Part -4
Portal Pdt.Markus Lingga
Portal Pdt.Piter Pakka
Portal English

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top