Evangelism Unlimited

DIKTAT KITAB WAHYU (Part- 4)

DIKTAT KITAB WAHYU (Part- 4)

6 10 99
DIKTAT KITAB WAHYU (Part- 4) 10 6 99
Artikel Ini Merupakan lanjutan dari artikel Diktat Kitab Wahyu Part 1,2 Dan 3

I.    Bagian Ketiga: “... Apa yang akan Terjadi Sesudah ini ...”
4:1-22:21

Ps. 4:1, “Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini ....”  Ayat ini dapat dibandingkan dengan 1:19, “Tuliskanlah ... apa yang akan terjadi sesudah ini.”  Ps. 4 merupakan permulaan dari bagian ketiga.  Bagian ini berbicara tentang “apa yang akan/harus terjadi sesudah” hal-hal mengenai ketujuh jemaat.  Apa yang terjadi pada ps. 1 sampai 3 sudah terjadi.  Ketujuh jemaat itu sudah tiada lagi, sedangkan apa yang digambarkan pada ps. 4 sampai 22 belum terjadi (Hagelberg, 139).

Fungsi Bagian ini:
Memang Tuhan Yesus sudah menjanjikan pahala yang indah kepada mereka yang setia, kepada “barangsiapa yang menang”, kepada yang menuruti apa yang tertulis dalam kitab Wahyu.  Dalam bagian ketiga kitab Wahyu dibuktikan bahwa janji-janji itu bukan omong kosong, tetapi Dia mampu menggenapi janji-Nya karena Dia akan mengalahkan musuh-Nya dan mendirikan kerajaan-Nya.  Juga mereka yang menganiaya anggota jemaat Kristus akan dikalahkan oleh Raja atas segala raja (King of Kings), sehingga mereka yang dianiaya akan dihibur dan didorong untuk setia di dalam penganiayaan (Ibid).
Struktur Bagian ini:

•    Visi Ruangan Takhta sebagai Pendahuluan, 4:1-5:14.
•    Masa Kesengsaraan, 6:1-20:3.
•    Kerajaan Seribu Tahun, 20:4-15.
•    Yerusalem yang Baru, 21:1-22:5.
•    Penjelasan Akhir dari Penglihatan, 22:6-17.
•    Bagian Penutup dari Kitab Wahyu, 22:18-21 (Ibid).

A.    Visi Ruangan Takhta sebagai Pendahuluan, 4:1-5:14.
Adegan penglihatan Yohanes berubah dari bumi ke Surga dan tinggal di sana hingga ps. 10 (Guthrie, ed., 939).  D. Scheunemann mengataakan bahwa tema ps. 4 adalah “takhta Allah yang disembah”, sedangkan tema ps. 5 adalah “Anak Domba yang layak membuka gulungan” atau dengan kata lain ps. 4 dan 5 berbicara tentang “berita takhta Allah” dan “berita Anak Domba” (Scheunemann, 69).
Pendahuluan ini melukiskan ruangan takhta Allah di Surga.  Dalam bagian ini Tuhan Yesus yang telah menjanjikan pahala, mulai menyediakan pahala-pahala itu.  Oleh karena bumi masih penuh dengan orang-orang jahat, maka bumi perlu dibersihkan.  Musuh Tuhan dan orang yang menindas umat Tuhan belum dikalahkan.  Sama seperti ketujuh surat diawali dengan satu visi mengenai Tuhan Yesus, demikian juga ada visi Tuhan Yesus di Surga yang mengawali bagian ini.
Apa yang dialami Yohanes pada ps. 4 dan 5 merupakan “engsel” dalam struktur kitab Wahyu.  Dari satu segi, bagian ini terkait erat dengan ps. 1-3 mengenai pahala-pahala yang dijanjikan, karena pada ps. 4 dan 5 ada juga takhta, pakaian putih, dan mahkota.  Dari segi yang lain, bagian ini terkait dengan ps. 6 sampai 22, dengan ketujuh Meterai dari gulungan kitab yang dibuktikan satu per satu.
Pada ps. 4, Dia yang bertakhta, yang di kelilingi dengan takhta dan 4 makhluk, dipuji sebagai Pencipta.  Pada ps. 5, Domba Allah yang mendekati Dia yang bertakhta dipuji sebagai Penebus.  Peristiwa pengambilan gulungan kitab yang ada di tangan Dia yang bertakhta menjembatani 2 pasal ini.  Makna dari gulungan kitab tersebut sangat penting, akan dibahas pada bagian berikut ini.
Menurut pengalaman jemaat-jemaat yang ada pada ps. 2-3, kuasa kejahatan di bumi ini dengan bebas mengancam dan menyusahkan jemaat-jemaat Kristus.  Tetapi menurut perspektif ruangan takhta yang digambarkan pada ps. 4 dan 5, yang berkuasa mutlak adalah Tuhan Allah dan bukan kejahatan yang ada di bumi (Hagelberg, 140-141).  Ps. 2 dan 3 menyoroti kelemahan jemaat di bumi, namun ps. 4 menyoroti kesempurnaan jemaat Surgawi, yang hanya tahu memuji dan menyembah saja (Wongso, 394).
1.    Peralihan, 4:1-2.
Ps. 4:1, “Kemudian daripada itu aku melihat: Sesungguhnya sebuah pintu terbuka di Surga dan suara yang dahulu yang telah kudengar berkata kepadaku, seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.”  Yohanes dibawa ke Surga untuk “melihat apa yang harus terjadi sesudah ini”.  Titik ini merupakan peralihan struktur dari ketujuh pesan, yang menceritakan situasi jemaat tertentu pada zaman itu ke bagian berikutnya, yang menceritakan tentang akhir zaman.
Istilah “harus” perlu ditekankan.  Ini berarti nubuatan-nubuatan yang ada dalam bagian ini bukan hanya merupakan peristiwa yang akan terjadi, tetapi “harus” terjadi, karena Dia yang bertakhta sudah mengatakannya (Hagelberg, 141).
Ps. 4:2, “Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terletak di Surga, dan di takhta itu duduk Seorang.”  Kata “Seorang”  dapat lebih jelas jika dibandingkan dengan ps. 5:7, yaitu Allah, Bapa itu yang duduk di takhta itu.  Kata “takhta” sangat penting dalam kitab Wahyu karena dipakai 47 kali.  Ini memberikan isyarat bahwa hal pertama yang perlu diketahui mengenai Surga ialah bahwa Allah yang tinggal di dalamnya memunyai wibawa yang mutlak atas alam semesta ini (Guthrie, ed., 939).
2.    Takhta dan sekelilingnya, 4:3-11.
Ps. 4 dikhususkan untuk mengorientasi para pembaca pada situasi, oknum, dan kelakuan yang terjadi di ruang takhta di Surga.
Ps. 4:3, “Dan Dia yang duduk di atas takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang gemilang bagaikan zamrud rupanya.”  Permata-permata yang disebutkan pada ayat ini sulit dipastikan identitasnya yang sebenarnya.
Ada penafsir yang mengatakan bahwa rincian permata, seperti permata yaspis dan sardis hanya dicatat untuk menciptakan suasana kemuliaan Surga, tidak perlu mencari makna yang dalam.  Tetapi ada juga penafsir yang berkata bahwa setiap rincian dalam firman Allah penting dan perlu ditafsirkan.  Seorang penafsir bernama Thomas mengikuti pola ini.
Dia menjelaskan bahwa  identitas permata yang disebut yaspis sulit dipastikan, tetapi permata sardis adalah batu permata yang berwarna merah tua, yang sering diukir pada zaman itu.  Ada juga yang menafsirkan, seperti Beasley-Murray: Yaspis dari jenis yang paling berharga adalah hijau, sardis berwarna merah, dan zamrud adalah batu kristal yang memantulkan warna-warni prismatis yang berupa pelangi.  Tujuan dari pelangi itu adalah untuk menyembunyikan bentuk dari Allah.  Pelangi itu bukan awan biasa, tetapi pelangi adalah peringatan abadi tentang janji Allah untuk membatasi amarahNya terhadap manusia di bumi (bnd. Kej. 9:13) (Hagelberg, 142-143; Guthrie, ed., 939-940).
Ps. 4:4, “Dan sekeliling takhta itu ada 24 takhta, dan di takhta-takhta itu duduk 24 tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.”  Untuk memastikan identitas ke 24 tua-tua itu, kita harus menafsirkan berdasarkan konteks dan struktur.  Konteks dekat lebih baik daripada konteks jauh.
Dalam konteks dekat telah disebutkan tentang takhta, pakaian putih, dan mahkota.  Barangsiapa yang menang menurut ps. 2 dan 3 akan didudukkan di atas takhta (3:21), akan dikenakan pakaian putih (3:4), dan akan dikarunia mahkota (2:10).  Ada hubungan dengan ps. 2 dan 3, karena ketiga unsur tadi dijanjikan kepada “barangsiapa yang menang”.  Ps. 4:4, yang mengungkapkan 24 tua-tua yang memiliki ketiga unsur tadi.
Pada ps. 2 dan 3 diungkapkan tentang janji kepada barangsiapa yang menang dan pada ps. 4:1 dituliskan tentang apa yang harus terjadi sesudah ini, yaitu penggenapan dari janji Tuhan kepada barangsiapa yang menang.  Berarti bilangan 24 tua-tua adalah menunjuk kepada “orang-orang percaya yang setia sampai mati, orang-orang percaya yang telah menang”.  Mereka sudah diberikan sebagian dari pahala, yaitu takhta, pakaian putih, dan mahkota, tetapi mereka belum menerima kuasa atas bangsa-bangsa dan pahala itu akan disediakan Kristus dengan segera (Hagelberg, 143-144).
Beasley-Murray menafsirkan ke-24 tua-tua dalam 2 pengertian: Pertama, menunjuk kepada makhluk-makhluk malaikat.  Kedua, mereka adalah perwakilan Surgawi dari umat Allah dalam aspek mereka yang rangkap dua selaku imam-imam dan raja-raja yang jumlahnya 24 orang, yang mengingatkan kita kepada ke-12 suku bangsa Israel dan ke-12 rasul (Guthrie, ed., 940).  Penafsiran ini apakah sesuai dengan konteks atau suatu penafsiran yang dipaksakan?  Kelihatannya masuk akal, tetapi sulit dijelaskan.
Ps. 4:5, “Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.”  Pada waktu Allah turun ke gunung Sinai, ada “guruh, kilat, dan awan padat” (Kel. 19:16).  Dalam Wahyu 1:4, “ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya” sudah ditafsirkan sebagai Roh Kudus.  Dalam ayat ini “ketujuh obor yang menyala-nyala” juga ditafsirkan sebagai Roh Allah.  “Ketujuh Roh Allah” dapat dibandingkan dengan ps. 5:6 (Hagelberg, 145; Guthrie, ed., 940).
Ps. 4:6, “Dan di hadapan takhta itu ada sesuatu seperti lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada 4 makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan sebelah belakang.”  Morris menegaskan bahwa Yohanes memakai kata-kata “seperti dan bagaikan” memberi kesan bahwa Yohanes sendiri yang melihat langsung, tetapi tidak dapat memberi kata-kata yang jelas tentang apa yang dilihatnya itu.  Oleh karena itu, seorang penafsir sebaiknya tidak usah menafsirkan ayat tersebut secara rinci. Pada zaman Yohanes, pada umumnya kaca tidak bening dan sama sekali tidak mirip kristal.  Pasti kaca bagaikan krisal dianggap oleh pembaca mula-mula sebagai sesuatu yang luar biasa dan sangat berharga.
Nampaknya apa yang dikatakan “seperti lautan kaca bagaikan kristal” serta “kilat dan bunyi guruh yang menderu” dan “tujuh obor menyala-nyala” memberi kesan bahwa takhta itu tidak dapat didekati oleh manusia, karena takhta itu begitu mulia (bnd. Kel. 24:10; Yeh. 1:22, 26; Why. 15:2-3).
“Empat makhluk” dapat dibandingkan dengan Yesaya 6:1-3, ada “Serafim” dan Yehezkiel 10:14, ada “Kerubim”.  Mereka penuh dengan mata di sebelah muka dan di sebelah belakang.  Mereka ada di tengah-tengah takhta itu.  Selain makhluk ini, hanya Anak Domba yang dapat berdiri begitu dekat dengan Allah sendiri (5:6; 7:17).  Adanya begitu banyak mata melambangkan bahwa makhluk itu mengamat-amati apa saja yang terjadi di situ (Hagelberg, 146).
Ps. 4:7, “Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.”  Masing-masing makhluk yang digambarkan dalam Yehezkiel 1:10-11 memunyai 4 muka, sedangkan pada ayat ini masing-masing makhluk memunyai satu muka, tetapi baik di dalam kitab Yehezkiel maupun pada ayat ini ada “singa, lembu, manusia, dan burung nasar”.
Pada tahun 300 Masehi, Rabbi Abahu menjelaskan Yeh. 1:0-11 dengan berkata, Ada 4 binatang yang perkasa.  Burung yang paling perkasa adalah rajawali, binatang ternak yang paling perkasa adalah lembu, binatang liar yangb paling perkasa adalah singa, dan yang paling perkasa dari semuanya adalah manusia.  Allah telah mengambil semuanya ini ... untuk takhta-Nya.”  Kalau tafsiran tokoh Yahudi itu diterapkan pada ke-4 makhluk dalam ayat ini, maka ada kesan bahwa seluruh ciptaan Allah diwakili oleh ke-empat makhluk tersebut (Hagelberg, 147; Guthrie, ed., 940).
Ps. 4:8a, “Dan ke-empat makhluk itu masing-masinng bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata.”  Dalam Yesaya 6:2, ada “Serafim” yang juga memunyai 6 sayap, 2 sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, 2 sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka, dan 2 sayap dipakai untuk melayang-layang.  Menurut seorang penafsir bernama Thomas, ini berarti bahwa “Serafim” itu kagum dan siap menuruti perintah Tuhan.  Dalam nas ini Yohanes menyebut kembali keberadaan mata mereka, yang sudah dijelaskan pada 4:6 (Ibid).
Ps. 4:8b, “... dengan tidak henti-hentinya mereka berseru siang dan malam: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”  Seruan makhluk-makhluk ini mirip dengan apa yang dikatakan pada nas lain, “Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir” (1:17; 22:13), dan bahwa “Dia-lah Alfa dan Omega” (1:8; 21:6; 22:13).  Kata-kata yang hampir sama dipakai untuk menunjuk kepada Allah, Bapa itu sendiri.
Ps. 4:9, “Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya.”  Ayat ini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk itu adalah pemimpin penyembahan Surgawi.  Dalam kitab Wahyu, sebutan “yanng duduk di atas takhta itu” dipakai 11 kali dan sekali pada ps. 20:11 dengan ungkapan yang hampir sama (Hagelberg, 148).
Ps. 4:10, “Maka tersungkurlah ke-24 tua-tua di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya.  Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu sambil berkata: ....”  Ke-empat makhluk itu memuji Allah dan sebagai tanggapan ke-24 tua-tua itu menyembah Dia dengan melemparkan mahkota mereka di hadapan-Nya.  Kejadian ini bukan hanya sekali, tetapi “setiap kali” (ayat 9) makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian.  “Pelemparan mahkota” itu dari tua-tua tidak jelas.  Rupanya mereka melakukan itu terus menerus, tetapi mahkota mereka tidak habis-habisnya.  Istilah “melemparkan” dapat diterjemahkan “meletakkan”, tetapi pada umumnya istilah ini berarti melemparkan (Ibid, 149).
Ps. 4:11, “... Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau yang layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”  Pujian sebelum gulungan kitab diketengahkan lebih terfokus pada kemuliaan Alllah sebagai Pencipta, dan sesudah gulungan kitab itu diilhamkan, pujian lebih terfokus pada kemuliaan Tuhan sebagai Penebus.
3.    Gulungan kitab dan Anak Domba, 5:1-7.
Ps. 4 berbicara tentang lingkungan dan pelaku, namun baru pada ps. 5 ada satu unsur lagi yang dikemukakan, yaitu sebuah gulungan kitab yang ada di tangan kanan Allah, yang menjadi pusat ps. 5.
Ps. 5:1, “Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan 7 meterai.”  “Gulungan kitab yang ada di tangan kanan Allah dan dimeterai dengan 7 meterai”, menurut hukum Romawi bahwa gulungan itu adalah satu Testament yang berisi kehendak terakhir seseorang sebelum meninggal.  Memang Allah tidak mati, tetapi Allah telah menyatakan kehendak-Nya untuk zaman akhir dalam gulungan itu.  Gulungan itu berisi rencana Allah yang sudah ditetapkan (Scheunemann, 72).
Gulungan kitab itu ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya.  Barclay menjelaskan bahwa bagian balik papirus sulit untuk ditulisi, sehingga bagian sebelah luar dari gulungan kitab jarang ditulisi.  Bagian ini dapat dibandingkan dengan Yehezkiel 2:10, “timbal balik”.
Gulungan itu dimeterai dengan 7 meterai.  Menurut hukum Roma “surat wasiat” harus ditutup dengan 7 meterai, sama seperti gulungan kitab itu.  Setelah pewaris telah meninggal, ke-7 saksi yang dulunya sudah memasang meterai mereka masing-masing dipanggil dan gulungan surat wasiat dibuka.  Karena itu, makna “gulungan kitab” pada ps. 5 ini sangat jelas bagi mereka, yaitu adanya warisan yang akan dibagi (Hagelberg, 151).
Pada ps. 21:7, mereka yang menang dikaitkan dengan mereka yang menerima warisan.  Dalam Efesus 5:5 dan Matius 5:5; 19:29, dituliskan bahwa ada warisan khusus untuk orang percaya yang mantap ketaatannya.  Kalau memang gulungan kitab itu merupakan surat wasiat peristiwa itu mengandung suatu arti yang indah bagi orang percaya yang sungguh setia dan sungguh-sungguh menuruti apa yang tertulis pada ps. 2 dan 3.  Tuhan sudah menentukan suatu warisan yang luar biasa untuk “orang yang menang”.  Tinggal surat wasiat itu dibuka dan warisan menjadi milik orang yang menang.  Tetapi surat wasiat itu disegel dengan 7 meterai.  Kebiasaan budaya dan hukum Roma ini dipergunakan oleh Tuhan menjadi unsur yang pokok dalam struktur kitab Wahyu (Ibid, 152).
Ps. 5:2, “Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”  Mereka semua mengerti bahwa meterai itu tidak boleh dibuka oleh sembarangan orang.
Ps. 5:3, “Tetapi tidak ada seorang-pun yang di Surga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.”  “Di bawah bumi” adalah menunjuk kepada hades (Guthrie, ed., 941).  Pembagian ciptaan Allah menjadi tiga bagian: Surga, bumi, dan di bawah bumi atau hades.
Ps. 5:4, “Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.”  Yohanes menangis karena ia mengerti kepentingan dari gulungan kitab itu.  Dia ingin sekali agar meterainya atau segelnya dibuka, sehingga orang yang menang dapat menerima warisan mereka dari tangan Kristus (Hagelberg, 152-153).
Ps. 5:5, “Lalu berkatalah seorang dari tua-tau itu kepadaku: Jangan engkau menangis! Sesungguhnya singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab dan membuka ketujuh meterainya.”  Ada 2 sebutan, yaitu “singa dari suku Yehuda” dan “tunas Daud” adalah sebutan yang diambil dari Kej. 49:9-10 dan Yes. 11:1, sebutan yang sudah lama dipakai oleh guru-guru Israel mengenai Mesias.  Dikatakan Dia telah menang, yaitu menunjuk kepada kemenangan-Nya di kayu salib (Guthrie, ed., 941; Hagelberg, 153).
Ps. 5:6, “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan ke-empat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh; itulah Roh Allah yang diutus ke seluruh dunia.”  Di tengah-tengah taktha, di tengah-tengah 4 makhluk dan di tengah-tengah tua-tua berdirilah bukan singa, tetapi Anak Domba yang telah disembelih.  Domba yang telah disembelih mengingatkan kita akan Yesaya 53:7.  Yang ditekankan di sini ialah kemenangan-Nya dijelaskan.  Anak Domba itu tidak mati lagi, tetapi Dia berdiri di tengah-tengah segala kemuliaan ruangan takhta Allah.
“Bertanduk tujuh”, tanduk dalam Perjanjian Lama melambangkan kekuatan (Mzm. 75:4-7) dan kemuliaan (Zak. 1:18-19).  Angka 7 menunjukkan kerajaan-Nya yang sempurna.  Memiliki “tujuh mata”,  dalam Perjanjian Lama “mata” menunjukkan kemahatahuan yang ada pada YHWH (dibaca Adonai) (bnd Zak. 4:10).  Anak Domba itu penuh kuasa dan pengetahuan (Guthrie, ed., 941; Hagelberg, 154).
Ps. 5:7, “Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.”  Anak Domba itu menerima gulungan kitab dari Allah, yaitu Dia yang duduk di atas takhta itu.  Dalam Mazmur 2:8 dituliskan, “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepada-Mu menjadi milik pusaka-Mu, dan ujung bumi menjadi kepunyaan-Mu.”  Pada ps. 5:7, jelas bahwa yang datang mendekati dan meminta adalah Tuhan Yesus sendiri.
4.    Pujian kepada Dia yang mengambil gulungan kitab, 5:8-14.
Ps. 5:8, “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah ke-empat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan, itulah doa orang-orang Kudus.”  Menurut Beasley-Murray, agaknya hanya tua-tua saja yang memegang satu kecapi dan satu cawan emas (Guthrie, ed., 941).
Setelah Yesus menerima gulungan kitab itu dari Dia, maka tersungkurlah makhluk-makhluk itu menyembah Dia.  Apa yang dianggap hina di bumi, sangat dihargai di Surga, “doa orang-orang kudus ada di dalam cawan emas.”  Kemenyan melambangkan doa umat Allah (Mzm. 141:2; Why. 8:3-4).
Ps. 5:9, “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli kami bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.”  Nyanyian yang dinyanyikan itu bukan hanya baru dari segi waktu, tetapi secara hakikatnya memang baru.  Dan sebelumnya memang tidak pernah ada nyanyian yang sama dengan nyanyian baru tersebut.
Allah, Bapa dipuji sebagai Yang Layak pada 4:11 karena Dia yang menciptakan segala sesuatu.  Pada pasal ini, Tuhan Yesus dipuji sebagai Yang Layak karena Dia yang menjadi Penebus.  Nyanyian itu menekankan bahwa Tuhan Yesus bukan hanya Penebus Israel saja, tetapi Penebus manusia dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa (Hagelberg, 157).
Ps. 5:10, “Dan Engkau telah membuat mereka menjadi raja-raja dan imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”  Bagian pertama dari ayat ini ada pada ps. 1:6 dan seluruh ayat ini diulangi pada ps. 20:6.  Apa yang direncanakan bagi umat Israel, yaitu keturunan jasmani Yakub, sudah digenapi pada nas ini.  Menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam-imam adalah panggilan Israel (Kel. 19:6), suatu hak istimewa yang diberikan juga bagi gereja (1Ptr. 2:9).
Ps. 5:11, “Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.”  Rasul Yohanes baru sadar bahwa sekian banyak malikat yang turut  menyembah Yesus.  Menurut Beasley-Murray angka “laksa”, yaitu 10.000 adalah angka yang paling besar dalam bahasa Yunani.  Secara harafiah, Yohanes berkata bahwa di situ ada beberapa laksa kali beberapa laksa ditambah beberapa ribu kali ribu malaikat, tetapi rupanya yang ingin ditekankan adalah bahwa jumlah malaikat itu tak terhitung jumlahnya, seperti juga pada Daniel 7:10; Ibr. 12:22 (Hagelberg, 160).
Ps. 5:12, “... katanya dengan suara nyaring: Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian.”  Sekali lagi istilah “layak” ditekankan dalam pujian kepada Anak Domba.  Dia dipuji karwna Dia telah menjadi korban bagi kita (Dia dipuji dengan 7 istilah).  Ke-empat istilah yang pertama menunjuk kepada hakikatNya sendiri dan tiga istilah terakhir menunjuk pada sikap manusia dan malaikat terhadap Dia.
Ps. 5:13, “Dan aku mendengar semua makhluk yang di Surga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya berkata: Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.”  Pada ps. 5:6, penglihatan Yohanes diperluas, sehingga dia dapat melihat Tuhan Yesus.  Pada ps. 5:11, penglihatannya diperluas, sehingga dia dapat melihat sekian banyak malaikat di Surga.  Demikian juga pada ayat ini, Yohanes dapat mendengar semua yang diciptakan oleh Allah.
Dengan menyebut “di Surga, di bawah bumi, di laut dan yang di dalamnya”, Yohanes sungguh menegaskan bahwa pujian ini disampaikan oleh semua makhluk yang ada.  Itulah yang perlu direnungkan, bukan rincian yang jauh dari maksud Yohanes, misalnya: “Siapa yang memuji di laut?”  Karena penebusanNya menjangkau seluruh ciptaanNya, maka pujian bagi Dia juga datang dari seluruh ciptaanNya.  Hagelberg, 161).
Pada ps. 4 dan 5 dapat diringkaskan: Ps. 4, Allah, Bapa (Dia yang duduk di atas takhta) yang dipuji, sedang pada ps. 5:1-12, Tuhan Yesus (Anak Domba) yang dipuji, dan ps. 5:13-14, baik Allah, Bapa maupun Tuhan Yesus kedua-duanya dipuji (Ibid).
Ps. 5:14, “Dan ke-empat makhluk itu berkata: Amin.  Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.”  Pada ps. 4:8-10, segala pujian yang digambarkan dalam ruangan takhta Allah, dimulai oleh ke-empat makhluk dan ke-24 tua-tua dan pada ayat ini pula pujian tersebut ditutup oleh mereka juga.
Pada ps. 4 dan 5 pembaca mengetahui waktu pemberian pahala yang indah yang disediakan bagi mereka yang setia da taat sampai kesudahannya, yaitu saat Penebus dan Raja kita meminta dari Allah, Bapa itu supaya warisan-Nya disiapkan untuk diwariskan melalui pembersihan yang dahsyat, sehingga Dia dapat mendirikan kerajaan-Nya dan mereka yang setia turut serta memerintah bersama dengan Dia.

B.    Masa Kesengsaraan, 6:1-20:3.
Bentuk Bagian ini:
Bentuk bagian yang mengisahkan masa kesengsaraan ini menarik.  Ada 7 meterai atau segel, ada 7 sangkakala, dan ada 7 cawan.  Meterai, sangkakala, dan cawan merupakan kerangka atau garis besar dari bagian ini.  Enam meterai itu dibuka Tuhan disertai hukuman atas bumi.  Lalu meterai yang ketujuh terdiri atas 7 sangkakala.  Enam sangkakala pertama diceritakan, lalu sangkakala yang ketujuh terdiri atas 7 cawan.  Struktur ini menekankan dahsyatnya hukuman atas “mereka yang diam di bumi”.  Meterai yang ketujuh merupakan ketujuh sangkakala dan sangkakala yang ketujuh merupakan ketujuh cawan.
Jadi, setelah enam hukuman berlalu, muncul lagi tujuh hukuman yang baru, dalam bentuk sangkakala dan setelah enam hukuman berlalu, muncul lagi tujuh hukuman baru, dalam bentuk cawan, menunjukkan hukuman yang bertubi-tubi akan menimpa bumi.  Selain rantai kisah ini, ada beberapa hal lain yang juga disisipkan sebagai tambahan.  Setiap “tambahan” itu, juga merupakan dorongan untuk ketujuh jemaat di Asia Kecil.
Bagian ini menceritakan “masa kesengsaraan” yang merupakan “minggu ketujuh puluh” pada kitab Daniel 9, suatu masa yang berlanjut tujuh masa.  Di antara nas-nas yang lain, Amos 5:18-20, menceritakan kesengsaraan yang akan dialami umat Israel pada masa itu.
Ada penafsir yang mengatakan bahwa ke-enam meterai dalam Wahyu 6 melambangkan masa kini, yaitu “zaman gereja”, yang penuh peperangan dan penderitaan, seperti yang dikatakan pada Mrk. 13:5-13, “barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru”.  Tetapi paham tersebut agak sulit diterima kalau kita membaca 6:8.  Jadi kalau meterai ke-empat dibuka, paling tidak ada kira-kira satu milyar orang akan dibunuh.  Berarti itu bukan zaman sekarang.  Alasan lain berkaitan dengan permintaan Tuhan Yesus pada ps. 5, kalau enam meterai adalah zaman gereja, seharusnya gulungan  kitab sudah diminta Tuhan dan sedang dibuka, tetapi tidak demikian yang terjadi.
Lebih baik, sesuai dengan dahsyatnya pembukaan meterai dan kepentingan pengambilan gulungan kitab, pengambilan gulungan kitab dianggap permulaan “masa kesengsaraan” dan pembukaan meterai dianggap sebagai bagian sebagian dari hukuman Allah atas “yang diam di bumi” pada masa kesengsaraan.  Hukuman yang dahsyat harus mendahului pendirian kerajaan Allah di bumi, sangat jelas dalam Amos 5:18-20 dan Yesaya 2:12-21 (Hagelberg, 162-165).
Isi Bagian ini:
Bagian ini memunyai kesamaan dengan Mrk. 13, Mat. 24, dan Luk. 21, saat Tuhan Yesus bernubuat mengenai akhir zaman.  Beasley-Murray mencatat kesamaan-kesamaan tersebut sebagai berikut:


Markus 13                                                                          Wahyu 6
1.    Perang-perang                                                       1.    Perang-perang
2.    Perselisihan Internasional                                        2.    Perselisihan Internasional
3.    Gempa bumi                                                          3.    Kelaparan
4.    Kelaparan                                                             4.    Wabah atau Sampar
5.    Penganiayaan                                                        5.    Penganiayaan
6.    Gerhana, bintang berjatuhan,                                 6.    Gempa bumi, gerhana, bintang berjatuhan
 dan goncangan kuasa-kuasa langit                                       pembesar bersembunyi di gua dan Langit         
                                                                                            menyusut


1.    Ketujuh Meterai atau Segel, 6:1-8:6.
Pada saat setiap meterai dibuka, hukuman disampaikan kepada yang diam di bumi.  Hukuman ini berasal dari Surga, bukan dari Iblis atau Anti-Kristus.  Bumi ini dihakimi oleh Allah.  Juga gulungan kitab itu (surat wasiat untuk barangsiapa yang menang) sedang dibuka oleh Tuhan, bukan oleh Iblis.
Empat Meterai Pertama: Empat Kuda, 6:1-8

a.    Meterai Pertama, 6:1-2.

 Kuda Putih
Ps. 6:1, “Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: “Mari!”  Yang membuka meterai pertama itu adalah Anak Domba yang telah disembelih dan yang layak, yaitu Tuhan Yesus sendiri.  Tuhan Yesus hanya membuka meterai atau segel dan salah satu dari ke-empat makhluk itu ditugaskan untuk memanggil “kuda yang pertama datang” (“Mari!”).
Ps. 6:2, “Dan aku melihat: Sesungguhnya ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota.  Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.”  Ke-empat jenis kuda ini ada hubungannya dengan ke-empat kereta perang yang dinubuatkan dalam kitab Zakharia 6:1-8.  Ke-empat warna yang disebutkan dalam kitab Zakharia melambangkan ke-empat penjuru mata angin, sedangkan warna yang diungkapkan dalam Wahyu 6 tampaknya sesuai dengan “sifat malapetaka masing-masing” (Hagelberg, 166-167).
“Kuda putih dan penunggangnya.”  Menurut Peter Wongso bahwa “kuda putih dan kuda merah” dari 2 meterai yang pertama melambangkan peperangan dan pertempuran antar umat manusia.  “Kuda hitam dan kuda hijau kuning” dari meterai ketiga dan ke-empat menyatakan kekurangan bahan makanan yang disebabkan oleh peperangan, sehingga harga barang kebutuhan melonjak naik (Wongso, 440).
Ada juga yang menafsirkan penunggang kuda yang menang yang dikaitkan dengan ps. 19:11-12 adalah Kristus sendiri.  Ada juga tafsiran yang mengatakan bahwa yang menunggangi “kuda putih” adalah Anti-Kristus.
Tidak terlalu aneh jika Tuhan Yesus menunggangi “kuda putih” pada ps. 19:11-12 dan Anti-Kristus pada ps. 6:2, karena Anti-Kristus adalah imitasi dari Kristus.  Menurut tafsiran ini, Anti-Kristus akan menang, tetapi mungkin tanpa penumpahan darah.  Nas ini dikaitkan dengan 1Tes. 5:3; 1Yoh. 2:18; Mat. 24:5.  Tafsiran ini sejajar dengan pandangan Billy Graham (Hagelberg, 167; Graham, 106).
Scheunemann juga mengatakan bahwa Anti-Kristus digambarkan dengan orang yang berkuda putih.  Menurut Why. 13:7, Anti-Kristus maju dari kemenangan kepada kemenangan.  Busur dan panah dapat diartikan sebagai senjata Anti-Kristus (Yeh. 39:2-3) (Scheunemann, 79).  Penjelmaan Anti-Kristus masa kini adalah dalam wujud agama palsu atau agama tiruan (pesatnya pertumbuhan agama-agama Timur di Amerika Utara), Setanisme, bidat-bidat, ajaran liberal yang berasal dari dalam gereja, dan materialisme modern (Graham, 106-164).
Hagelberg mengatakan penafsiran itu kuat, tetapi sebaiknya “kuda putih dan penunggangnya” dimengerti sebagai lambang dari kekuasaan militer yang akan demikian menonjol pada masa kesengsaraan.  Memang Anti-Kristus merupakan satu unsur yang amat penting dalam kekuasaan militer, tetapi lambang tersebut tampaknya lebih tepat ditafsirkan sebagai kekuasaan militer akhir zaman daripada hanya sebagai Anti-Kristus (Hagelberg, 167).  Kuda putih membawa penunggang yang menipu telah menderap dari gulungan kitab dan turun dari Surga menuju bumi untuk menimbulkan malapetaka (Graham, 165).

b.    Meterai Kedua, 6:3-4.
 Kuda Merah
Ps. 6:3-4, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: Mari!  Dan majulah seekor kuda lain ... kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.”  Giliran makhluk yang kedua dari ke-empat makhluk untuk memanggil kuda merah padam dan penunggangnya.  Penunggang itu dikarunia kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi dan dikarunia sebilah pedang yang besar.
Menurut Scheunemann bahwa kuda berwarna merah menunjukkan “penumpahan darah”.  Terjadi peperangan demi peperangan.  Anti-Kristus tidak membawa damai , melainkan mengambil damai sejahtera.  Bangsa-bangsa saling membinasakan dan saling membunuh.  Bangsa-bangsa menjadi korban atas mezbah Anti-Kristus.  Manusia yang menolak hidup di bawah salib, hidup di bawah pedang yang besar.  Dalam kekacauan-kekacauan peperangan Anti-Kristus merebu kekuasaan dunia (Scheunemann, 79-80).
“Kuda merah padam” yang berkuasa mengambil damai sejahtera dari atas bumi sejajar dengan Mat. 24:6-7, ketika ada deru perang dan kabar-kabar tentang perang dan bangsa akan bangkit melawan bangsa.  “Kuda yang pertama” menang, tetapi peperangan tidak disebutkan atau tanpa penumpahan darah.  Selanjutnya muncul “kuda kedua” yang membawa peperangan dan kekerasan.
Mungkin “kuda pertama” melambangkan peperangan saat ada satu negara menyerang negara lain, tetapi “kuda kedua” melambangkan kekacauan dan perang saudara.  Pada tahum 68-89 Masehi, kekaisaran Romawi digoncang dengan munculnya empat kaisar yang masing-masing merebut kuasa lewat kekerasan (Hagelberg, 168-169).

c.    Meterai Ketiga, 6:5-6.

Kuda Hitam
Ps. 6:5-6, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.  Ayat 6, Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."  “Kuda hitam” adalah pembawa bala kelaparan.  Sesudah kuda peperangan, muncullah kuda kelaparan.  “Kuda hitam” itu memberi peringatan kepada manusia akan adanya kelaparan yang hebat yang mengakibatkan  kematian besar-besaran karena karena kelaparan (Scheunemann, 80; Graham, 212).
Istilah “timbangan” menunjuk kepada kelaparan.  Satu dinar adalah upah buruh untuk sehari.  Biasanya orang dewasa makan roti yang dibuat dati secupak gandum untuk sehari.  Jika harga secupak gandum adalah sedinar berarti penghasilan setiap orang setiap hari hanya cukup untuk diri sendiri.  Kalau sudah berkeluarga, ia dapat membeli tiga cupak jelai dengan harga sedinar, tetapi kualitas gizi jelai lebih rendah daripada gandum.  Kelaparan ini sejajar dengan Mat. 24:7.
“Janganlah rusakkan minyak dan anggur” agak sulit ditafsirkan, tetapi nampaknya ini berarti bahwa orang kaya masih dapat membeli minyak zaitun dan anggur (Hagelberg, 169-170).  Tetapi Scheunemaan menafsirkan bahwa “jangan rusakkan minyak dan anggur” berarti di tengah-tengah bala kelaparan, Tuhan masih memelihara orang percaya, kalau minyak dan anggur diartikan secara rohani yang tetap disediakan oleh Tuhan (Scheunemann, 80).

d.    Meterai Keempat, 6:7-8.
Ps. 6:7-8, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!"  Ayat 8, Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.”
 Kuda Hijau Kuning
Billy Graham menyebut kuda ke-empat itu “kuda pucat” (Yun. chloros).  Kuda yang gemetar dan yang mengangkat kakinya karena marah, berwarna “hijau kuning”, seperti rumput yang tidak sehat.  Goodspeed menerjemahkan, seperti warna muka yang pucat karena ketakutan.  Moffat mencat kuda dengan warna pucat kelabu, seperti warna mayat (Graham, 261).
Kuda ke-empat ini di samping membawa kematian karena kelaparan dan peperangan, juga akan membunuh seperempat dari yang diam di bumi.  Mereka mati karena kelaparan, perang, sampar (wabah), dan karena binatang-binatang buas.  Hukuman ini sejajar dengan Mat. 24:7.  Menurut Mounce, “warna hijau kuning” adalah warna mayat yang sudah berbau menyengat.  Ke-empat macam penderitaan ini, yaitu pedang, kelaparan, sampar, dan binatang-binatang buas juga dinubuatkan oleh Yehezkiel 14:13-21 (Hagelberg, 170-171).

Tiga Meterai Terakhir, 6:9-17; 8:1-6
e.    Meterai Kelima, 6:9-11.
Ps. 6:9, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.”  Meterai kelima ini berisi “kematian banyak orang Kristen yang dibunuh karena kesaksiannya dan persoalan ketidakadilan di atas muka bumi”.  Menurut Scheunemann bahwa jiwa-jiwa yang dilihat Yohanes di bawah mezbah adalah jiwa-jiwa orang Kristen Yahudi dahulu yang mati syahid (Scheunemann, 81).  Ayat ini sejajar dengan Mat. 24:9, “... kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh ....”
Ps. 6:10, “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"  jiwa-jiwa tadi bertanya: Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka ...?  Permintaan mereka itu yang berupa pembalasan adalah berpusat pada Dia yang kudus dan benar, dan mereka rindu supaya kekudusan dan kebenaran-Nya dinyatakan di seluruh bumi.  Dalam sastera Yahudi juga dikatakan bahwa:
1)    Mereka yang mati syahid menuntut pembalasan.
2)    Allah sudah memastikan jumlah mereka.
3)    Doa mereka yang mati syahid akan dikabulkan pada waktu kerajaan Allah dinyatakan (Hagelberg, 173-174).
Ps. 6:11, “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.”  Nampaknya “jubah putih” ini sama dengan “pakaian putih” yang diberikan kepada ke-24 tua-tua dan kepada barangsiapa yang menang.
Nampaknya hari terakhir itu masih menunggu sampai jumlah mereka genap.  Sesuai dengan penjelasan ayat ini, jumlah mereka yang mati syahid sudah ditentukan oleh Allah.  Jumlah itu harus digenapi dulu baru Dia datang mendirikan kerajaan-Nya (Guthrie, ed., 944).

f.    Meterai Keenam, 6:12-17: Hari Murka Anak Domba dan Persiapan Pengadilan.
Ps. 6:12, “Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.”  Hukuman yang terkait dengan meterai ke-enam, dimulai dengan “gempa bumi yang dahsyat” secara harafiah.  Demikian juga dengan matahari menjadi hitam dan bulan menjadi merah.  Pendekatan harafiah ini bukan berarti segala kiasan ditolak.  “Menyusutnya langit bagaikan gulungan kitab” merupakan kiasan yang melambangkan dahsyatnya malapetaka-malapetaka di langit.  Peristiwa di angkasa , seperti “matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut”, sudah dinubuatkan dalam nas yang menceritakan tentang hari kiamat.  Yes. 13:10, “Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusan di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya” (bnd Yeh. 32:7-8; Yoel 2:10, 31; Amos 8:9; Mat. 24:29).
Peristiwa-peristiwa itu sungguh dahsyat, sehingga mengakibatkan ketakutan yang luar biasa pada manusia (6:15-16).  Lebih-lebih, inilah satu-satunya tempat dalam Alkitab yang menyatakan “murka Anak Domba Allah” (6:16c-17) (Hagelberg, 177-178; Scheunemann, 82).
Ps. 6:13, “Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang.”  Istilah yang diterjemahkan bintang memunyai arti yang lebih luas daripada hanya bintang, sehingga nas ini menceritakan bintang berekor yang berjatuhan ke atas bumi.
Ps. 6:14, “Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.”  Ayat ini sama dengan Yes. 34:4, “... dan langit akan digulung seperti gulungan kitab.”  Tidak ada tulisan Yahudi yang menceritakan malapetaka yang seperti “tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya”.
Ps. 6:15, “Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung.”  Tujuh sebutan ini menjangkau seluruh lapisan manusia, dengan menekankan lapisan-lapisan atas yang melawan pekerjaan Tuhan di bumi.  Daftar ini diulangi dalam ps. 19:18, saat hukuman yang mereka takuti justru akhirnya terjadi.
Dulu jemaat Smirna dan Filadelfia takut kepada orang-orang tersebut, tetapi sekarang dengan membaca mengenai hukuman ini, mereka tidak perlu takut lagi.  Nanti “orang-orang besar” tidak lagi menakutkan umat Allah (Hagelberg, 178-179).
Ps. 6:16, “Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu."  Mereka takut menghadap Allah yang duduk di atas takhta-Nya dan terhadap Anak Domba, karena itu, mereka lebih suka mati.  Mereka takut terhadap murka Anak Domba.  Murka Anak Domba menunjukkan Kristus dalalm sifat yang telah disinggung dalam Ia memiliki 7 tanduk (5:6), yakni kekuasaan yang bulat mendirikan kebenaran dan melaksanakan keadilan (6:10) Guthrie, ed., 944).
Ps. 6:17, “Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?  Menurut apa yang mereka lihat, sudah tiba hari Tuhan, dan sebentar lagi mereka akan dihukum.  Mereka mengerti bahwa mereka tidak akan sanggup bertahan menghadapi pengadilan yang adil.  Mereka mengutip Nahum 1:6.


Bersambung ….

by : Pdt. Markus Lingga M.Th  Profile Penulis

Link Berhubungan
Diktat Kitab Wahyu Part - 1
Diktat Kitab Wahyu Part - 2
Diktat Kitab Wahyu Part - 3
Portal Pdt.Markus Lingga
Portal Pdt.Aris Mangosa

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top