Evangelism Unlimited

DIKTAT KITAB WAHYU (Part-3)

DIKTAT KITAB WAHYU (Part-3)

6 10 99
DIKTAT KITAB WAHYU (Part-3) 10 6 99
 Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel Diktat Kitab Wahyu Part 1 & 2

I.    Bagian Kedua: “... Apa yang Terjadi Sekarang ...”
2:1-3:22

A.    Surat kepada Jemaat di Efesus, 2:1-7.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Efesus, 2:1.
Dari segi ekonomi dari ketujuh jemaat di Asia Kecil, jemaat Efesus-lah yang paling makmur.  Dari segi perdagangan, kota Efesus sangat terkenal karena terletak pada pelabuhan laut yang terkemuka pada masa itu.  Efesus merupakan setiga tiga jalur:  Satu jalan menuju Mesopotamia, satu jalan dari Galatia, satu lagi dari Maeander.  Jelas di Efesus penuh dengan barang mewah, seperti yang dituliskan pada 18:12-13.
Dari segi politik, Efesus terkemuka.  Tidak ada kekacauan politik di situ.  Kota Efesus dijadikan kota bebas dari pemerintahan Romawi.  Dari segi agama, Kuil Artemis adalah kebanggaan mereka.  Pada mata uang mereka tertulis: Efesus, tukang sapu dari Kuil Artemis.
Kuil Artemis berukuran 140 X 20 M.  Di dalamnya terdapat patung Artemis yang hitam, pendek, dan sangat kasar.  Konon dewi itu turun dari langit (meteor yang jatuh, yang mirip dengan dewi yang memunyai banyak buah dada).  Di situ ada seribuan imam perempuan yang melayani sebagai pelacur.  Penyembahan di situ sangat kacau, fanatik, dan ekstrim.  Segala sesuatu yang najis, kotor, jijik, dan ngeri terjadi di situ.  Dari segi sifat, orang Efesus terkenal sebagai orang yang kotor dan terikat dengan ilmu gaib.  Penduduk kota Efesus terdiri atas pribumi, Yunani, dan Yahudi.
Sekarang tinggal hanya reruntuhan saja, sungai Kaister telah membawa begitu banyak lumpur, sehingga pelabuhan di sana sudah lama tertimbun endapan lumpur (Hagelberg, 62-65).
2.    Sifat Kristus, 2:1.
Menurut 2:1, Tuhan Yesus berada di antara atau di dalam jemaat-jemaat dan Dia aktif (Dia berjalan) di situ.  Berarti Dia memunyai hubungan erat dengan jemaat-jemaat.  Dia ada di antara setiap jemaatNya.  “Memegang ketujuh bintang di tangan kananNya” menunjuk kepada pemeliharaan kehidupan rohani mereka (Guthrie, ed., 931).
3.    Pujian untuk Jemaat, 2:2-3.
Ps. 2:2, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.”  Apa yang dikatakan Tuhan Yesus kepada jemaat Efesus, mirip dengan apa yang dituliskan kepada jemaat Tesalonika pada 1Tes. 1:3, yang memunyai “pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan”.  Sebutan “rasul” pada ayat 2 menunjuk kepada 2:6, yaitu pengikut-pengikut Nikolaus (Hagelberg, 66-67).
Ps. 2:3, “Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.”  Jarang jemaat yang begitu rajin bahkan sampai menderita.  Jemaat Efesus giat dari segi pelayanan dan murni dati segi ajaran (Ibid).
4.    Kritikan, 2:4.
Ps. 2:4, “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”   “Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Yun. ten agapen sou ten proten aphiekas) terjemahan harafiahnya: Engkau telah meninggalkan kasih yang pertama atau terdahulu.  Di tengah sikap waspada terhadap ajaran yang begitu ketat, justru jemaat sudah meninggalkan kasih yang pertama.
Ajaran yang ketat dan kuasa kebencian terhadap ajaran sesat telah memadamkan kasih dalam jemaat.  Kasih mereka terhadap Tuhan Yesus sudah agak dingin.  Kata “kasih” (agape) di sini memang menunjuk  kepada Tuhan, tetapi juga dapat dimanifetasikan kepada sesama.  Ada penafsir yang mengatakan bahwa upaya perlawanan terhadap ajaran palsu telah membawa mereka kepada sikap suka mencela dan terpecah-pecah dalam jemaat.  Dengan demikian, mereka meninggalkan kasih yang semula (Wongso, 207; Hagelberg, 67-68; Guthrie, ed., 931).
5.    Tuntutan, 2:5a.
Ps. 2:5a, “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.”  Ada tuntutan Tuhan Yesus kepada mereka: Mengingat, bertobat, dan melakukan.  Tuntutan pertobatan di sini menunjuk kepada pertobatan Kristen, pertobatan yang wajar bagi mereka yang hidupnya sudah tidak berkenan lagi.  Pertobatan dibutuhkan untuk memperbaiki sikap hati terhadap Tuhan Yesus (Hagelberg, 69).
Penekanan pertobatan dalam ayat ini ialah mereka harus mengakui bahwa kasih mereka telah hilang dan bersedia meninggalkan kesalahan mereka.  Pertobatan adalah perubahan pemikiran yang mengakibatkan perubahan arah (John Stott, 27).
6.    Ancaman, 2:5b.
Ps. 2:5b, “Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”  Kata “mengambil” (Yun. kineso) memunyai beberapa pengertian: Menggelengkan kepala, memindahkan gunung, mengambil (Wongso, 298).
Jika jemaat Efesus tidak menuruti tuntutan Yesus, maka Yesus akan datang mengambil “kaki dian”.  Kaki dian adalah jemaat sebagai tempat pelita.  Jika kaki dian diambil berarti akan terjadi kegelapan di dalam jemaat.  Jika kaki dian sudah diambil, mungkin masih ada orang yang datang kebaktian hari Minggu, tetapi tidak ada gereja lagi yang sebenarnya, yang ada tinggal organisasi sosial.  Menurut surat Ignatius kepada Efesus, ternyata mereka bertobat, sehingga ancaman ini tidak harus digenapi atau ditunda (Hagelberg, 70).
7.    Pujian dilanjutkan, 2:6.
Ps. 2:6, “Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.”  Mungkin yang dimaksud adalah Nikolaus yang berasal dari Antiokhia, satu dari 7 pelayan meja yang disebut dalam Kis. 6:5, tetapi kemudian murtad.  Tetapi ada juga penafsir yang tidak setuju.
Jadi pengikut Nikolaus agaknya tidak jelas.  Pengikut Nikolaus melakukan kesalahan sama seperti para penganut Bileam, yaitu mengajar orang untuk makan persembahan yang telah dipersembahkan kepada berhala dan melakukan perzinahan (Guthrie, ed., 932).  Pada prinsipnya pengikut Nikolaus adalah pengajar sesat.  Sikap jemaat Efesus adalah teladan yang baik, tetapi sikap seperti itu jangan berlebihan, hingga meninggalkan kasih semula.
8.    Janji, 2:7.
Ps. 2:7, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.”  Kata “jemaat” di sini dalam bentuk jamak, berarti himbauan ini bukan hanya ditujukan kepada jemaat Efesus, tetapi juga kepada orang Kristen lain, termasuk kepada kita pada masa kini.  “Dikatakan Roh” artinya firman Kristus dan firman Roh adalah satu.
“Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah”, bagian ini sangat berlawanan dengan 2:5 yang berbicara tentang penghakiman.  Jika mereka bertobat, maka mereka akan makan buah pohon kehidupan.  Dalam 22:2, daun pohon kehidupan itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa, tetapi hanya bagi mereka yang menang yang berhak memakan buahnya.  Pohon kehidupan disebutkan dalam Kej. 2:9; 3:22, 24.  Pohon itu yang dijaga dengan pedang yang menyala-nyala dan menyambar-nyambar, ternyata sudah disediakan bagi mereka yang menang.  Barangsiapa menang berarti barangsiapa menuruti apa yang tertulis dalam Wahyu 1:3 (Hagelberg, 73-74).

B.    Surat kepada Jemaat di Smirna, 2:8-11.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Smirna, 2:8.
Ps. 2:8, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna...”  Kota Smirna adalah salah satu kota termakmur di Asia dan mendapat julukan kota metropolis.  Kota Smirna sama seperti Efesus kuat dalam perdagangan.  Pelabuhannya sangat baik untuk kapal barang.
Pada tahun 195 sebelum Masehi kota Smirna mengalahkan 5 kota lain dalam mendapat izin untuk menjadi kota pertama yang mendirikan kuil bagi dewa Roma (dewi Roma).  Pada tahun 26 Masehi Smirna berhasil memperjuangkan hak untuk mendirikan sebuah kuil untuk kaisar Tiberius.  Yang menjadi ancaman bagi orang Kristen di Smirna adalah paksaan untuk menyembah kepada kaisar (Guthrie, ed., 932 dan Hagelberg, 75-76).
Di kota Smirna terdapat jemaat Smirna yang tidak jelas didirikan.  Menurut tradisi kuno bahwa Rasul Paulus pernah mengunjungi kota ini dalam perjalanannnya ke Efesus pada awal penginjilannya (John Stott, 32).
Penyembahan kepada kaisar adalah bersifat politik, bukan rohani karena setelah menyembah kaisar, orang bebas menyembah kepada siapa saja.  Kaisar bagi Roma dianggap sebagai Tuhan.  Orang Kristen Smirna tidak mau menyebut kaisar sebagai Tuhan, selain dari Tuhan Yesus.  Hal itu yang mengundang tindakan yang sangat keras dari kekaisaran Romawi.
Di kota Smirna-lah Polikarpus seorang Uskup bekas murid Yohanes dibunuh sebagai martir yang kedua belas dari orang percaya di Smirna.  Polikarpus ditantang dengan kata-kata Kaisar adalah Tuhan atau dibakar hidup-hidup?  Jawab Polikarpus: Sudah 86 tahun aku melayani Kristus dan Dia tidak pernah berbuat salah terhadap aku, bagaimana mungkin aku memfitnah Rajaku yang telah menyelamatkan aku?  Saat lidah-lidah api mulai menjilat tubuhnya, dia berdoa:  Aku bersyukur bahwa Engkau dengan kasih karuniaMu menganggap aku layak menerima seperti yang terjadi pada pagi hari ini, jam ini, sehingga aku boleh dihisapkan ke dalam golongan orang yang mati syahid, dalam cawan Kristus-Mu (Hagelberg, 77-79).
2.    Sifat Kristus, 2:8.
Ps. 2:8, “... Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.”  Nama “Yang Awal dan Yang Akhir” dikutip dari 1:17.  Sebutan itu berarti Dia ada sebelum bumi ini diciptakan dan sesudah bumi dihancurkan, Dia masih ada.  Sebutan ini sangat tepat bagi situasi jemaat Smirna yang sedang menghadapi aniaya karena nama Yesus.  Bagi orang yang mengalami aniaya sangat penting diingatkan bahwa Tuhan Yesus sudah mengalahkan maut karena Dia “yang telah mati dan hidup kembali.”  Aniaya boleh datang dan mengakibatkan maut, tetapi itu bukan sudah akhir, melainkan awal kehidupan orang percaya di seberang sana (Hagelberg, 84).
3.    Pujian untuk Jemaat, 2:9.
Ps. 2:9, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu -- namun engkau kaya -- dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.”  Tuhan mengetahui tiga hal dari jemaat Smirna: Kesusahan, kemiskinan, dan fitnahan.
Kesusahan mereka disebabkan dengan kemiskinan dan aniaya.  Mereka miskin bukan karena latarbelakang dari golongan rendah yang miskin, tetapi disebabkan oleh aniaya atau penjarahan.  Istilah “kaya” di sini bukan lawan dari kata “kemiskinan”, karena isilah “miskin” pada ayat ini adalah menunjuk kepada hal materi, sedangkan istilah “kaya” menunjuk kepada perkara rohani.  Keadaan jemaat Smirna berlawanan dengan jemaat Laodikia yang menganggap diri “kaya” materi, tetapi “miskin” secara rohani.
Istilah “jemaah Iblis” muncul dalam surat kepada jemaat Tiatira (2:24) dan jemaat Filadelfia (3:9).  Dalam bahasa Yunaninya dipakai kata synagoge tou satana, harafiahnya: Tempat perkumpulan Setan.  Synagoge menunjukkan orang yang sependirian berkumpul bersama-sama atau tempat terkumpulnya sejumlah materi.  Tatkala orang Israel terbuang ke Babel, di sana mereka berkumpul bersama untuk beribadah dan membaca kitab suci, yang dalam bahasa Yunani disebut synagoge.  Dalam bahasa Yunani kata “jemaat” adalah ekklesia (bukan synogoge) artinya bahwa jemaat bukan tempat perkumpulan, tetapi persekutuan orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang Kristus (Wongso, 800).
4.    Kritikan.
Menurut penilaian Tuhan Yesus, jemaat Smirna tidak perlu dikritik karena mereka adalah jemaat yang setia.
5.    Tuntutan, 2:10.
Ps. 2:10, “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  Yesus memberitahu mereka bahwa mereka masih akan mengalami penganiayaan bahkan ada yang akan masuk penjara.  Tetapi Yesus meminta supaya mereka tetap setia dan jangan takut.
Sifat dari aniaya itu kata Yesus adalah supaya kamu dicobai untuk membuktikan kesetiaannya kepada Yesus.  Istilah “sepuluh hari” lebih baik diterjemahkan secara sederhana dan harafiah yang menunjuk kepada lamanya penderitaan itu sangat singkat, walaupun berat, tetapi ada batas waktunya (Hagelberg, 88 dan Guthrie, ed., 933).
“Hendaklah engkau setia sampai mati” dapat disejajarkan dengan kata “barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya” (2:26).  Syarat untuk mendapat hadiah sebagai pemenang adalah: SETIALAH.
6.    Janji, 2:10b, 11b.
Jemaat Smirna tidak perlu ancaman apa-apa, tetapi yang ditekankan ialah janji bagi mereka.
Ps. 2:10b, “...dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  Di kota Smirna sering diadakan pertandingan olahraga dan para pemenangnya mendapat karangan bunga sebagai hadiah (mahkota yang fana).  “Mahkota kehidupan” dikhususkan kepada mereka yang “setia sampai mati”.  Mahkota kehidupan juga disebutkan dalam Yak. 1:12 yang diperuntukkan kepada mereka yang bertahan dalam pencobaan sampai akhir (Hagelberg, 89-90).
Ps. 2:11b, “Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.”  “Kematian yang kedua” dijelaskan dalam ps. 20:14 dan 21:8, yaitu menunjuk kepada siksaan di dalam Neraka.  Maksud dari kata-kata ini adalah bahwa jemaat Smirna akan mengalami kematian yang pertama, tetapi tidak akan mengalami kematian yang kedua, yaitu hukuman kekal (Ibid).

C.    Surat kepada Jemaat di Pergamus, 2:12-17.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Pergamus, 2:12.
Pada tahun 133 Attalus III meninggal, menurut wasiat kerajaannya diserahkan kepada kekaisaran Romawi dan dijadikan sebagai Propinsi Asia dalam kerajaan Roma.  Pada saat itu Pergamus menjadi ibu kota Propinsi baru.  Itu juga yang melatarbelakangi Pergamus menjadi pusat penyembahan kepada kaisar.
Menurut Prof. Swete, Pergamus sebagai “suatu pusat kuat kekafiran”.  Pergamus terletak kurang lebih 55 Mil sebelah Utara Smirna (John Stott, 51-52).  Di kota Pergamus ada sebuah bukit yang berbentuk kerucut yang tingginya kurang lebih 300 meter.  Di bukit itu terdapat kuil-kuil kafir.  Kuil yang paling terkenal ialah kuil Asklepios artinya juru selamat atau penyembuh.  Jika orang sakit tidur di dalam kuil dan disentuh oleh ular yang dibiarkan di situ, ia akan sembuh.  Kota Pergamus kurang lebih 24 Km dari laut, berarti sarana perdagangan tidak begitu menonjol, kecuali perpustakaan yang memuat kira-kira 200.000 gulungan (Hagelberg, 92).
2.    Sifat Kristus, 2:12b.
Ps. 2:12b, “Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua.”  Sifat ini dikutip dari penglihatan Yohanes dalam 1:16.  “Pedang yang tajam dan bermata dua” melambangkan bahwa Tuhan Yesus dapat melawan musuh dan dapat melawan sahabatNya jika sahabatNya berbuat dosa.
Para penafsir juga mencatat bahwa Proconsul kota Pergamus (pemerintah dari ibu kota Propinsi) diberi “hak pedang” dari pemerintah Roma, sehingga dia dapat menjatuhkan hukuman mati tanpa konsultasi dengan pusat di Roma.  Ada kemungkinan bahw ayat ini mengingatkan kitab bahwa Yesus memunyai hak dan otoritas yang lebih daripada pemerintah yang ada di Pergamus (Hagelberg, 92).
3.    Pujian untuk Jemaat, 2:13.
Ps. 2:13, “Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.”  Istilah “tempat takhta Iblis” menunjuk kepada situasi kota Pergamus yang dipenuhi oleh kuil-kuil, kota penyembahan berhala yang paling menonjol.  Jelas kota Pergamus adalah tempat yang berbahaya bagi orang Kristen yang setia kepada Kristus.  Pada waktu mereka dituntut untuk menyembah kaisar, mereka menolak dan tetap konsisten menyembah kepada Yesus, sehingga Yesus memuji mereka: “Berpeganglah pada namaKU.”
Antipas adalah seorang saksi yang setia.  Menurut tradisi, dia dibakar hidup-hidup secara perlahan-lahan dalam patung kuningan yang berbentuk sapi jantan dan rupanya jemaat menyaksikan kematian Antipas (Ibid).
4.    Kritikan, 2:14-15.
Ps. 2:14-15, “Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.  Ayat 15. Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.”  Kritikan Yesus ada dua, yaitu ada yang mengikuti ajaran Bileam dan ajaran pengikut Nikolaus.
Ajaran Bileam (Yun. ten didachen Balaam).  Kata Balaam dari kata Bela Haam dalam bahasa Ibrani artinya menaklukkan rakyat.  Nikanlaon dalam bahasa Yunani juga berarti menaklukkan rakyat (Wongso, 302).
Jemaat Pergamus tidak sama dengan jemaat Efesus yang melawan ajaran sesat dengan sikap yang tegas, rupanya jemaat Pergamus tetap membiarkan ajaran sesat di tengah-tengah mereka, sehingga dicela oleh Yesus.  Bileam yang tidak sanggup mengutuki orang Israel bagi Balak, ternyata dia menyuruh Balak untuk memakai wanita-wanita Moab dan berhala mereka untuk menyesatkan orang Israel.  Itu berarti “ajaran Bileam” adalah ajaran yang memperbolehkan orang dapat menyembah kaisar (Hagelberg, 95).
5.    Tuntutan, 2:16a.
Ps. 2:16a, “Sebab itu betobatlah.”  Yesus menuntut agar ajaran sesat jangan dibiarkan di dalam jemaat, tetapi mereka harus bertindak meluruskan ajaran yang sudah dibengkokkan (back to basic) atau dengan kata lain mereka harus mereformasi ajaran.
6.    Ancaman, 2:16b.
Ps. 2”16b, “Jika tidak demikian, Aku akan datang dengan tiba-tiba kepadamu dan akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulutKu ini.”  Ternyata bertobat itu begitu sulit bagi mereka yang ada di Pergamus, sehingga mereka perlu didorong dengan ancaman.
Kata “jika” adalah bentuk condisional.  Jika mereka tidak bertobat dalam arti tidak meluruskan ajaran yang sudah dibengkokkan, maka akibatnya ialah “pedang” yang bermata dua dipakai melawan mereka, terutama bagi mereka yang menganut ajaran sesat di Pergamus.  Tuhan Yesus benci terhadap dosa, tetapi menghargai ketaatan (Hagelberg, 95-96.
7.    Janji, 2:17b.
Ps. 2:17b, “Barangsiapa menang ... Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.”  “Manna” adalah roti dari Surga yang dikisahkan dalam Kel. 16.  Dulu ada “manna” tersimpan dalam Tabut Perjanjian Tuhan, tetapi akhirnya “manna” itu telah hilang.
Menurut 2 Makabeus 2:4-7 (salah satu buku yang diakui oleh Roma Katholik, berisi karangan sejarah Israel antara zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) bahwa “manna” itu disembunyikan di bawah gunung Nebo dan akan muncul lagi pada akhir zaman.  Tradisi Yahudi mengatakan bahwa pada kedatangan Mesias akan ada perjamuan besar di mana “manna” akan dimakan lagi (Ibid, 96-97).
Istilah “batu putih” tempat menulis nama baru adalah istilah yang sulit ditafsir.  Batu putih diberikan kepada penuntut dalam pengadilan menandakan pembebasan; dan batu hitam berarti kesalahan (Guthrie, ed., 934).  Menurut Hagelberg bahwa “batu putih” pada zaman itu memunyai beberapa fungsi: 1) Untuk menghitung suara di pengadilan.  2) Untuk menghitung barang dan uang.  3) Sebagai suatu kiasan untuk hari kemenangan.  4) Sebagai karcis masuk dan menikmati upacara yang diadakan pemerintah untuk menyenangkan masyarakat.  5) Sebagai jimat yang ditulisi tulisan yang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali oleh yang memakainya.  6) Sebagai tanda penghargaan kepada gladiator (orang yang terlatih untuk berkelahi dengan disaksikan oleh para penonton pada zaman kekaisaran Romawi) yang disukai rakyat saat mereka pensiun (Hagelberg, 97).
Istilah “nama baru yang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali oleh yang menerimanya” menunjuk kepada nama baru sebagai pemenang.  Hanya Kristus dan dia yang menang yang dapat membaca nama baru yang diberikan Kristus kepada dia yang setia dalam segala kesusahan di bumi ini (Ibid).

D.    Surat kepada Jemaat di Tiatira, 2:18-29.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Tiatira, 2:18a.
Ps. 2:18a, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira.”  Kota Tiatira adalah kota terkecil dari ketujuh kota yang disebutkan pada pasal 2 dan 3.  Kota Tiatira tidak memunyai kuil untuk menyembah kaisar, sehingga orang Kristen di kota itu tidak begitu terganggu seperti dengan kota-kota lainnya.  Tiatira terkenal sebagai kota perdagangan yang makmur pada zaman itu.
Di sana ada asosiasi tukang roti, tukang tembaga, pembuat pakaian, tukang sepatu, tukang tenun, tukang celup, pembuat alat-alat tembikar, dsb.  Lidia yang bertobat di Filipi adalah seorang pedagang kain ungu yang berasal dari Tiatira.  Walaupun kota ini kecil, tetapi jemaat di sana mendapat kiriman surat yang paling panjang.  Tiatira terletak pada jalur yang menuju ke Pergamus (John Stott, 70; Guthrie, ed., 934, dan Hagelberg, 98).
2.    Sifat Kristus, 2:18b.
Ps. 2:18b, “Inilah firman Anak Allah, yang mataNya bagaikan nyala api dan kakiNya bagaikan tembaga.”  Istilah “mataNya ... dan kakiNya ...” diambil dari ps. 1:14-15.  Istilah “Anak Allah” dilatarbelakangi Mazmur 2:7-8.  Dalam budaya pemazmur, istilah “Anak” dapat menunjuk kepada “raja” yang ditetapkan untuk memerintah dan bukan menunjuk kepada keturunan jasmani dari seorang ayah.  Oleh karena latarbelakang itu, maka istilah “Anak”, seperti istilah “Kristus” dapat diartikan dengan kata “raja”.  Ayat ini lebih dijelaskan pada ps. 19:12 bahwa Dia datang ke bumi untuk menghakimi dan memerintah.
“MataNya bagaikan nyala api” menyatakan bahwa Dia dapat melihat setiap dosa, bagiNya tidak ada yang bersifat rahasia dan tersembunyi.  “KakiNya bagaikan tembaga”, yaitu murni dan kuat untuk menginjak-injak dosa, seperti yang tertulis pada ps. 2:27 (Guthrie, ed., 935 dan Hagelberg, 99-100).
3.    Pujian, 2:19.
Ps. 2:19, “Aku tahu segala pekerjaanmu; baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu, Aku tahu bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak daripada yang pertama.”  Charles berpandangan bahwa istilah “pekerjaanmu” dirumuskan oleh kualitas-kualitas yang berikut: kasih, iman, pelayanan, dan ketekunan.  Jemaat Tiatira adalah jemaat yang terus maju dan berkembang, berbeda dengan jemaat Efesus yang mundur (Guthrie, ed., 935 dan John Stott, 71).
4.    Kritikan, 2:20-21.
Ps. 2:20-21, “Tetapi Aku mencela engkau, ... membiarkan wanita Izebel yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala ....”  Walaupun jemaat Tiatira berkembang, tetapi padanya masih ada kekurangan yang dicela oleh Tuhan Yesus, yaitu: membiarkan “wanita Izebel” mengajar dan menyesatkan.  Siapakah wanita Izebel?  Menurut John Stott bahwa istilah itu tidak mutlak bahwa di Tiatira ada wanita yang bernama Izebel secara harafiah, tetapi yang ditekankan di sini ialah ajarannya, seperti yang dilakukan oleh Izebel (ratu yang jahat, istri raja Ahab).  Izebel adalah wanita non-Yahudi yang membawa masuk ke Israel penyembahan berhala atau penyembahan kepada allah asing (John Stott, 74).
Jemaat Tiatira “membiarkan Izebel” mengajar dan menyesatkan.  Izebel dipakai untuk melambangkan satu kelompok nabi palsu dalam jemaat Tiatira yang menyesatkan jemaat.  Kelompok ini seharusnya tidak boleh dibiarkan mengajar dan menyesatkan jemaat.
5.    Ancaman, 2:22-23.
Ps. 2:22-23, “Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, ....  Dan anak-anaknya akan Kumatikan.  ... Aku akan membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”  Ancaman ini khusus untuk si wanita Izebel atau pengajar sesat dan para pengikutnya.  Mereka diancam dengan penyakit yang parah, bahkan anak-anaknya atau pengikutnya akan dimatikan oleh Tuhan Yesus.
Mereka akan dilemparkan ke dalam “kesukaran besar”, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan zinahnya itu.  “Ranjang” sejajar dengan kesukaran besar, sehingga “ranjang” ini adalah ranjang penderitaan, bukan ranjang kenikmatan.
Perzinahan adalah dosa yang melawan kebenaran tentang hubungan seks, perbuatan zinah akan membawa penyakit kelamin, yang tidak hanya membawa kesukaran baginya, tetapi juga menjerumuskan mereka yang berbuat zinah dengannya.  Sejak Lamekh beristri banyak, manusia menuntut jasmaniah kuat untuk perbuatan zinah, dengan tubuh kuat untuk melampiaskan hawa nafsu dalam perzinahan.  Akibat dosa perzinahan dan hubungan seks bebas justru membawa malapetaka yang dahsyat bagi umat manusia, tetapi makin banyak penyakit yang didatangkan oleh Tuhan sebagai hukuman, manusia makin menggebu-gebu melakukannya, seperti manusia Sodom dan Gomora.
6.    Tuntutan, 2:22b, 24-25.
Ps. 2:22b, 24-25, “Jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan wanita itu .... Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu.  Tetapi apa yang ada padamu peganglah itu sampai Aku datang.”  Tuntutan kepada wanita Izebel dan para pengikutnya adalah bertobat atau berhenti berbuat zinah.
Izebel dan pengikutnya menghimbau agar jemaat Tiatira menyelidiki apa yang mereka sebut seluk beluk Iblis.  Pengertian kata-kata ini adalah merupakan sindiran, di mana Izebel menyebut ajaran dan kegiatannya sebagai seluk beluk Allah.
Tuntutan bagi jemaat yang tidak ikut ajaran Izebel, yaitu: peganglah apa yang ada padamu sampai Aku datang.  Apa yang ada pada mereka, yaitu: kasih, iman, pelayanan, dan ketekunan (Hagelberg, 103).
7.    Janji, 2:26-28.
Ps. 2:26-28, “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa dan ... Memerintah mereka dengan tongkat besi, ... kepadanya akan Kukaruniakan bintang Timur.”  Janji kepada mereka yang menang dan setia bekerja sampai akhir akan diberikan beberapa hal: “kuasa atas bangsa-bangsa dan bintang Timur”.  “Kuasa atas bangsa-bangsa” harafiahnya kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa, ayat ini dikutip dari Mzm. 2:8-9 (Wongso, 308).  “Kuasa” itu menunjuk kepada otoritas (authority), seperti yang telah diberikan kepada Kristus (Stott, 84).
“Bintang Timur” dapat dibandingkan dengan ps. 22:16, di mana Kristus melukiskan diriNya sebagai Bintang Timur yang gilang gemilang.  Dia adalah Bintang yang terbit dari Yakub.  Dengan memberikan bintang Timur berarti Kristus memberikan diriNya sendiri kepada para pemenang (Ibid, 85).
“Bintang Timur” melambangkan kemenangan dan kemuliaan dalam kerajaan Allah bagi orang yang taat (Hagelberg, 105).

E.    Surat kepada Jemaat di Sardis, 3:1-6.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Sardis, 3:1a.
Ps. 3:1a, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis.”  Kota Sardis terletak kurang lebih 30 Mil sebelah Tenggara Tiatira dan 50 Mil sebelah Timur Smirna.  Kota Sardis pada zaman kuno adalah ibu kota dari Lidia sampai akhirnya jatuh ke tangan Persia (Koresy).  Kemudian mulai terkenal di bawah pemerintahan Alexander Agung dan Antiokhus Agung, tetapi kembali merosot karena gempa bumi.  Di kemudian hari, kota itu dibangun kembali oleh Tiberius, tetapi tidak semegah dengan kota semula (Stott, 88).
Kota Sardis terkenal karena dua hal: Pertama, perusahaan pencelupan dan wol.  Kedua, percabulannya (Guthrie, ed., 936).  Tampaknya keadaan kota Sardis terlalu enak, sehingga penghuninya terkenal sebagai orang malas, suka berpesta, dan tidak suka bekerja keras.  Di sana tidak ada pengajar palsu yang mengancam kemurnian iman.  Juga penyembahan kepada kaisar tidak kuat di Sardis, sehingga kemungkinan besar mereka tidak mendapat penganiayaan.  Kelihatannya orang Kristen di Sardis terlalu nyaman (Hagelberg, 107).
2.    Sifat Kristus, 3:1b.
Ps. 3:1b, “Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu.”  Ketujuh Roh Allah sudah dijelaskan pada 1:4, yaitu menunjuk kepada Roh Kudus.  Demikian juga dengan ketujuh bintang pada ps. 1:20.  Secara umum jemaat Sardis sudah dianggap mati, karena itu jemaat Sardis sungguh membutuhkan pekerjaan Roh Tuhan.  Jadi Tuhan Yesus memiliki apa yang mereka perlukan untuk dapat hidup, yaitu Roh Allah sendiri.
3.    Kritikan, 3:1c-2.
Ps. 3:1c-2, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal mati.  Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan AllahKu.”  Yesus tidak memberikan pujian kepada jemaat Sardis, melainkan kritikan.  Jemaat yang enak tanpa aniaya dan ancaman, kelihatan baik dan hidup (terlena dalam zona kenyamanan), tetapi ternyata Tuhan menyebut mereka sebagai “jemaat mati”.
Istilah “mati” adalah semacam gaya bahasa, karena Yesus berkata, “Hampir mati.”  Dia menilai pekerjaan mereka: tidak satu pun Yesus dapati sempurna atau lengkap artinya seluruh pekerjaan mereka diwarnai dengan dosa.  Kritikan ini sangat keras (Hagelberg, 108).
4.    Tuntutan, 3:2-3.
Ps. 3:2-3, “Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati ....  Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah ....”  Jemaat Sardis adalah jemaat “mati”, “hampir mati”, dan “tidur”.  Dalam Ef. 5:14, orang Kristen yang tidak tekun digambarkan sebagai orang yang tidur dan harus bangun.  John Stott menyebutnya sebagai “kuburan rohani”.  Pekerjaan-pekerjaannya merupakan pakaian jenazah yang indah yang hanya merupakan sedikit penyamaran bagi mayat gerejawi.
Karena mati, maka tak satu pun dari kegiatannya yang sempurna, secara harafiah berarti tidak ada kegiatannya yang “dipenuhi” (Hagelberg, 109; Stott, 89-90).
5.    Ancaman, 3:3b.
Ps. 3:3b, “Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.”  Walaupun tidak ada ancaman dari luar seperti dengan keenam jemaat lainnya, tetapi Tuhan dengan keras berkata kepada mereka supaya mereka harus berjaga-jaga.  Herodotus, sejarawan Yunani menceritakan bagaimana Koresy mengepung dan mengalahkan kota Sardis tahun 549 BC, sewaktu Sardis masih terletak di lereng gunung.  Demikian jugalah dengan kedatangan Tuhan Yesus yang tiba-tiba bagi mereka (Hagelberg, 110).
6.    Pujian untuk Jemaat, 3:4.
Ps. 3:4, “Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya: ... akan berjalan dengan Aku dalam pakian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.”  Di Sardis masih ada orang yang “tidak mencemarkan pakaiannya” dalam arti bahwa orang-orang ini tetap menjaga kekudusan mereka sama seperti orang yang menjaga pakaian putih supaya jangan kena kotoran.
“Pakaian putih” diambil dari tradisi orang Roma yang memakai pakaian putih untuk merayakan kemenangan yang besar (Hagelberg, 111).  Swete mengatakan bahwa pemakaian sesuatu yang putih kadang-kadang mengungkapkan perayaan pesta dan kemenangan (Guthrie, ed., 936).
7.    Janji, 3:5.
Ps. 3:5, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikatNya.”   Orang menang di sini menunjuk kepada mereka yang tidak mencemarkan pakaiannya.
Kepada mereka yang menang dijanjikan tiga hal: Janji pertama, akan dikenakan pakaian putih.  Bagi orang Yunani “pakaian putih” melambangkan kesucian, suasana sukacita dalam pesta, dan kemenangan.
Janji kedua, namanya tidak akan dihapus dari kitab kehidupan.  Menurut Stanley, “kitab kehidupan” yang disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah satu daftar nama orang yang hidup, sedang dalam Perjanjian Baru merupakan daftar nama setiap orang yang memiliki hidup yang kekal atau orang yang telah diselamatkan.  Dalam kitab Wahyu, “kitab kehidupan” dipakai enam kali.  Dalam penghakiman, “kitab kehidupan” merupakan patokan untuk menghukum bagi mereka yang tidak tertulis namanya di dalam buku tersebut (bnd ps. 20:12, 15).
Janji ketiga, Yesus akan mengaku nama mereka di hadapan Bapa-Nya dan di hadapan para malaikat-Nya.  Janji ini juga pernah diucapkan Tuhan Yesus dalam Mat. 10:32, yaitu bagi mereka yang tidak menyangkal nama-Nya di hadapan manusia (Hagelberg, 112-114).

F.    Surat kepada Jemaat di Filadelfia, 3:7-13.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Filadelfia, 3:7a.
Ps. 3:7a, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia.”  Kota Filadelfia terletak kira-kira 28 Mil sebelah Tenggara Sardis.  Sama seperti Sardis, Filadelfia berada di daerah subur Lidia dan di bawah kaki gunung Tmolus.  Berada pada tepi sungai Kogamus.
Daerah ini merupakan daerah gunung merapi yang berbahaya.  Strabo menyebut Filadelfia sebagai suatu kota yang penuh dengan gempa bumi.  Karena seringnya gempa bumi, maka banyak penduduknya yang meninggal dunia dan ada juga yang pindah ke tempat lain, sehingga penduduk Filadelfia tidak begitu banyak (John Stott, 107).
Kota ini dibangun antara tahun 189 sampai 138 BC.  Kota ini dinamai Filadelfia (kota persaudaraan) karena kasih Attalus II kepada kakaknya Eumenes II, dua raja Pergamus.  Pada tahun 17 Masehi terjadi gempa bumi yang paling dahsyat menghancurkan Sardis dan melumpuhkan Filadelfia.  Juga di Filadelfia, jikalau ada tokoh kota yang mengabdi dengan setia sampai pensiun, sebuah sokoguru yang bertuliskan nama orang itu didirikan di kuil untuk menghormatinya (Hagelberg, 115-116).
2.    Sifat Kristus, 3:7b.
Ps. 3:7b, “Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”  Dalam Yoh. 6:69 istilah “Yang Kudus” adalah sama dengan Mesias.  Istilah “Yang Benar” dikontraskan dengan pemahaman orang-orang Yahudi yang ada di Filadelfia yang menganggap Yesus sebagai Mesias palsu (Ibid).
“Yang memegang kunci Daud” (Yun. ho echon ten klein david).  “Kunci” yang dipakai di sini umumnya dipakai untuk membuka dan menutup pintu.  Pintu itu menunjuk kepada pintu penginjilan, yaitu hak dan kesempatan untuk mengabarkan Injil.  Pemakaian nama Daud menyatakan bahwa kedudukan dan kuasa Raja itu adalah mutlak, yang tidak dapat dirintangi oleh manusia (Wongso, 311).  Istilah ini lebih diperjelas dengan kalimat “apabila Ia membuka ... dan menutup” adalah menegaskan kedaulatan Yesus (Hagelberg, 117).
3.    Pujian, 3:8.
Ps. 3:8, “Aku tahu segala pekerjaanmu; lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun.  Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”  Sambil Yesus memuji mereka, Yesus juga memberi semangat kepada mereka untuk membesarkan hati mereka.  Sekali lagi “pintu” menunjuk kepada kesempatan untuk melayani dan memberitakan Injil.
“Kekuatanmu tidak seberapa” menunjuk kepada ekonomi mereka karena faktor kondisi lingkungan yang sering dihancurkan gempa bumi.  Namun mereka tetap menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Yesus.  Jemaat Filadelfia termasuk jemaat yang setia dalam iman.
4.    Kritikan.  
Tidak ada kritikan apa-apa dari Tuhan Yesus karena jemaat Filadelfia adalah jemaat yang setia dalam iman kepada Yesus Kristus.
5.    Tuntutan, 3:11a.
Ps. 3:11a, “Aku datang dengan tiba-tiba.  Peganglah apa yang ada padamu, ....”  Tuntutan ini agak ringan.  Bagi mereka, kedatangan Tuhan merupakan penghiburan.  “Apa yang ada padamu” menunjuk kepada kesetiaan mereka mengikut Tuhan Yesus.
6.    Ancaman, 3:11b.
Ps. 3:11b, “... supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”  Ancaman ini agak ringan juga.  Tuhan mengingatkan supaya mereka tidak berpuas diri.  Mahkota bukan jaminan, jika mereka berpuas diri dan tidak rajin lagi bagi Kristus, maka mereka tidak akan menerima hadiah sebagai pemenang.  Perlombaan belum selesai (Hagelberg, 119).
7.    Janji, 3:9-12.
Ps. 3:9, istilah “jemaah Iblis” menunjuk kepada orang Yahudi yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias dicap sebagai jemaat Iblis.  Kepada jemaat diberi janji: orang-orang itu akan datang dan tersungkur di depan kaki mereka pada hari kiamat.  Janji kedua terdapat pada ayat 10, “... Aku pun akan melindungi engkau dari jam pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.”
Kata “jam” harus ditafsirkan sebagai gaya bahasa untuk jangka waktu atau masa.  “Jam pencobaan” barangkali berarti masa kesengsaraan, yaitu Minggu ketujuh puluh dalam Daniel 9 dan murka yang akan datang dalam 1Tesalonika 1:10.
“Melindungi dari...” (Yun. tereo ek) memiliki 4 kemungkinan pengertian: 1). Dilindungi dari penganiayaan yang akan terjadi di kota mereka pada zaman itu.  2). Jemaat tidak akan diangkat pada masa kesengsaraan, melainkan akan mengalami, tetapi “akan dilindungi” pada masa itu (paham Post Tribulasi).  Paham ini juga didasarkan juga pada 6:9-11 dan 7:9-14, di mana orang-orang percaya pada masa kesengsaraan justru akan dibunuh.  3).  Hanya jemaat yang setia, seperti jemaat di Filadelfia yang akan diangkat ke Surga sebelum masa kesengsaraan (partial rapture), tetapi tidak ada ayat lain yang mendukung paham partial rapture.  4). Mungkin janji ini, seperti janji mengenai kematian yang kedua, yang akan digenapi dalam riwayat setiap orang percaya yang hidup pada akhir zaman ini, sesuai dengan 1Tesalonika 1:10; 5:9.  Sebelum aniaya besar, semua orang setia diangkat ke Surga supaya dilindungi dari “jam pencobaan” (paham Pre Tribulasi).  Istilah “melindungi dari...” sangat sulit ditafsirkan (Hagelberg, 120-124).
Ps. 3:12, “Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku.”  Yun. poteso auton stulon en to naostou theou, harafiahnya: Aku akan menjadikan dia pilar (bentuk tunggal) di dalam Bait Suci-Ku.  New International Version (NIV) menerjemahkan: I will make a pillar in the temple of My God.  Kata naos menunjukkan bagian terdalam dalam Bait Suci, yang mengarah kepada tempat kudus yang selalu dimasuki oleh para imam (bnd. Luk. 1:9, 21, 22) (Wongso, 312).
Kebiasaan pada zaman itu, yakni di dalam kuil mereka, sokoguru yang didirikan bertuliskan nama orang yang akan dihormati.  Orang setia akan dihormati secara terbuka, untuk diketahui oleh semua orang.  “Padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku” ... meneruskan perumpamaan sokoguru, sehingga tulisan itu dimaksudkan di atas sokoguru, bukan di atas dahi pemenang.  Pada ps. 21 dan 22 dituliskan bahwa di dalam Yerusalem baru, tidak akan ada lagi Bait Allah, selain Allah dan Anak Domba itu sendiri (Hagelberg, 124; Guthrie, ed., 937-938).
“Ia tidak akan keluar lagi dari situ ...” artinya mereka akan terus menikmati persekutuan dengan Allah selama-lamanya, menunjukkan situasi yang permanen.  Ini dibandingkan dengan gedung-gedung di Filadelfia yang ambruk karena gempa bumi.

G.    Surat kepada Jemaat di Laodikia, 3:14-22.
1.    Alamat Surat: Jemaat di Laodikia, 3:14a.
Kota Laodikia didirikan oleh Antiokhus II, salah satu keturunan dari Jenderal Iskandar Agung.  Kota itu dinamai sesuai dengan nama istri Antiokhus, yaitu Laodike, yang diceraikan pada tahun 253 Sebelum Masehi.
Lokasi kota Laodikia strategis, karena dari sebelah Barat, wilayah Frigia hanya dapat dimasuki lewat lokasi Laodikia dan lokasi Filadelfia.  Laodikia sebuah kota yang kaya.  Terletak dekat persimpangan tiga jalan raya yang menjelajahi Asia Kecil.  Kota ini terkenal dengan wol dan sekolah kedokteran.  Pada tahun 60-61 kota ini dan beberapa kota lainnya dihancurkan oleh gempa bumi yang cukup dahsyat.
Laodikia adalah kota utama dari sebelah Selatan Frigia dan sangat terkenal.  Berdirinya jemaat di Laodikia hampir tidak ada orang tahu kapan dimulai dan siapa yang memulainya, karena Paulus tidak pernah mengunjungi lembah Likus.  Menurut John Stott, ada kemungkinan Epafras adalah pendiri jemaat Laodikia (Stott, 125).  Penganiayaan karena penyembahan kepada kaisar tidak dialami oleh jemaat Laodikia.  Mereka juga tidak dipersalahkan dalam soal percabulan atau soal kemurtadan atau soal penyembahan berhala, kecuali celaan yang keras karena kepongahan dan rasa puas akan diri sendiri (Guthrie, ed., 938).
2.    Sifat Kristus, 3:14b.
Ps. 3:14b, “Inilah Firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, Penguasa ciptaan Allah ....”  Istilah “Amin” hanya ditemukan dalam nas ini saja.  Pada dasarnya istilah “Amin” berarti benarlah.  Karena mereka suam-suam, maka layaklah kalau Yesus disebut Amin artinya hanya Dia saja yang benar dan dapat dipercayai.  “Saksi yang setia dan benar”  adalah sebutan yang hanya mempertegas sebutan “Amin” tadi (Hagelberg, 128).
3.    Pujian untuk Jemaat.
Jemaat Laodikia yang dikenal sebagai jemaat yang kaya, sama sekali tidak mendapat pujian dari Tuhan Yesus, melainkan celaan semata-mata.
4.    Kritikan, 3:15-17.
Ps. 3:15-17, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas ..., karena engkau suam-suam kuku, ... Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.  Karena engkau berkata: Aku kaya ... aku tidak kekurangan apa-apa dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta, dan telanjang.”  Air minum di Kolose adalah dingin, sejuk, dan enak.  Di Hieropolis, 10 Km dari Laodikia, ada mata air panas yang diminum sebagai obat, tetapi di Laodikia kata Tuhan Yesus, “tidak dingin dan tidak panas” menggambarkan keadaan hati atau rohani mereka yang suam-suam kuku.  Karena itu, mereka bagaikan air yang tidak enak, malahan menyebabkan rasa muntah (Hagelberg, 129).
Perbuatan jemaat Laodikia suam-suam kuku, Yun. ta erga hoti oute psu chos et oute zestos, harafiahnya:  perbuatan/pekerjaanmu tidak dingin, juga tidak panas.  Kata ergon menunjuk kepada 2 pengertian: pertama, menunjuk kepada pekerjaan, tugas, dan amanat.  Kedua, menunjuk kepada perbuatan dan perilaku (Wongso, 313).
Istilah “alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas” artinya jika “panas” berarti mereka hidup bersemangat dan bertekun bagi Yesus dan jika “dingin” berarti mereka sama sekali tidak mengenal Kristus.  Seperti orang yang minum air yang sama sekali tidak enak karena mengandung kaporit, rasanya mau memuntahkan air itu dari mulut-Nya.  Berarti Tuhan Yesus dengan tegas tidak mau bersekutu dengan mereka.
Mereka kaya secara material, tetapi Tuhan Yesus mencela mereka sebagai orang yang miskin, melarat, malang, buta, dan telanjang secara rohani.  Penyebab dasar dari sikap yang setengah-setengah ini adalah rasa puas atas diri sendiri.  Tidak diragukan bahwa jemaat di Laodikia dipenuhi dengan pengunjung kebaktian yang merasa puas atas dirinya.  Kota Laodikia memang terkenal makmur karena lokasinya yang strategis.
Ketika dihancurkan oleh gempa bumi pata tahun 60-61 Sebelum Masehi, tanpa subsidi dari Roma, mereka sendiri dengan cepat membangunnya kembali.  Dari kota ini ada hasil penemuan kedokteran, yaitu “bubuk Frigia” untuk menyembuhkan penyakit mata.  Jemaat Laodikia terpengaruh dengan situasi kota yang kaya raya, menyebabkan mereka angkuh.  Karena itu, Tuhan Yesus mencela mereka (Stott, 129).
5.    Tuntutan, 3:18-20.
Ps. 3:18-20, Tuhan Yesus menasihati mereka supaya mereka membeli emas yang telah dimurnikan dan pakaian putih dari Tuhan Yesus supaya jangan kelihatan ketelanjangan mereka, dan juga membeli minyak untuk melumasi mata mereka agar mereka dapat melihat.  Tuhan Yesus mengajak mereka supaya merelakan dirinya untuk bertobat.  Tuhan Yesus juga mengajak mereka untuk mendengar Yesus mengetok pintu hati mereka dan segera membukakan pintu bagi Dia.
Ada 3 tuntutan Tuhan Yesus bagi mereka, yaitu: Pertama, membeli dari Tuhan 3 macam benda: emas, pakaian putih, dan minyak pelumas.  Kedua, relakan hatimu dan bertobatlah.  Ketiga, membuka pintu bagi Yesus.
Memang mereka sudah punya “emas”, tetapi tidak murni.  Hanya emas dari Tuhan saja yang sudah murni.  Emas itu dapat dibeli dengan ketaatan.  Yang ditawarkan di sini bukan keselamatan, tetapi yang ditawarkan adalah kekayaan surgawi yang diperoleh melalui usaha kita (mahkota atau pahala).
“Pakaian putih” ditawarkan karena mereka sudah punya kain wol yang hitam.  “Pakaian putih” adalah pakaian surgawi.  Demikian juga dengan tawaran minyak pelumas dari Tuhan, walaupun mereka sudah memunyai obat mata, tetapi obat itu tidak menyembuhkan penyakit mata rohani.
Yesus mengetok pintu berarti Yesus berada di luar rumah hati mereka.  Betapa dalamnya mereka telah jatuh.  Bukan keselamatan mereka yang hilang, melainkan persekutuan mereka dengan Kristus yang sudah hilang.  Ayat ini tidak menawarkan keselamatan, tetapi menawarkan persekutuan untuk orang Kristen yang sudah menjadi jauh dari Kristus (suam-suam kuku).  Bagian ini dijelaskan pada kalimat selanjutnya, Aku akan masuk mendapatkannya dan makan bersama-sama dengan dia, dan dia bersama-sama dengan Aku.
“Makan bersama dengan Dia” adalah lambang persekutuan.  Jemaat Laodikia sudah selamat: Tuhan Yesus “berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu” 2:1, bukan di antara keenam kaki dian.  Tuhan juga sudah mengasihi mereka,  karena itu Tuhan hanya menghajar mereka sebagai anak-anak Allah (Hagelberg, 133-134).
6.    Ancaman, 3:16.
Ps. 3:16, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”  Tuhan Yesus mengancam mereka, jika tuntutan Tuhan Yesus tidak ditaati, yaitu akan dimuntahkan karena tidak layak bersekutu dengan Yesus.
7.    Janji, 3:21.
Ps. 3:21, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku sebagaimana Aku-pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.”  Mungkin dari semua janji dalam ps. 2 dan 3, janji ini adalah yang paling indah.
“Duduk bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku ...”  Indahnya janji ini tidak dapat dibayangkan.  Dalam ps. 21:9-22:5, takhta itu digambarkan seperti yang ditawarkan kepada mereka di Laodikia.  Seperti Kristus setia sampai ke kayu salib dan disebut sebagai pemenang, demikian juga bagi mereka yang setia sampai akhirnya akan duduk di atas takhta Yesus.  Syarat untuk dapat duduk bersama-sama di atas takhtaNya harus sebagai pemenang (Hagelberg, 135-136).


Bersambung …

By : Pdt Markus Lingga, MTh  Profile Penulis


Baik Untuk Dibaca
Diktat Kitab Wahyu Part 2
Portal Pdt. Markus Linggga'
Portal Pdt. Aris Mangosa
Portal English
Portal Flashback songs


0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top