Evangelism Unlimited

DIKTAT KITAB WAHYU (Part ke-2)

DIKTAT KITAB WAHYU (Part ke-2)

6 10 99
DIKTAT KITAB WAHYU (Part ke-2) 10 6 99
 Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel diktat-kitab-wahyu Part 1

I.    Bagian Pertama: “... Apa yang telah Kaulihat ...”
1:1-20

Bagian ini merupakan dasar seluruh kitab Wahyu karena di dalamnya terdapat penglihatan tentang pribadi Tuhan Yesus.

A.    Pembukaan, 1:1-8.
1.    Judul dan kata pengantar, 1:1-3.

Ps. 1:1, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa  yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya,  Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.”
Kata “Wahyu” (Yun. apokalypsis) dari kata apo artinya singkapkan dari dan kata kalypsis artinya sesuatu yang tertutup.  Dalam arti ada sesuatu yang tertutup yang sifatnya rahasia disingkapkan, sehingga orang lain dapat melihat dengan jelas.  Kitab Wahyu menyingkapkan secara sempurna rahasia tentang keilahian Yesus, menyatakan kemenangan Kristus yang kekal, dan relasi Yesus dengan jemaatNya ... (Wongso, 200).
Yohanes tidak ingin agar kitab ini diragukan, sehingga Yohanes pertama-tama memperkenalkan sumber wahyu itu, yaitu dari Allah sendiri.  Menurut 1:1, wahyu itu disalurkan kepada manusia melalui mata rantai:  Allah ... Kristus ... MalaikatNya ... Yohanes ... dan akhirnya hamba-hambaNya, yaitu setiap orang yang percaya dan taat kepadaNya, baik yang ada di ketujuh jemaat di Asia Kecil maupun semua orang kudus yang berada di lain tempat dan zaman (Hagelberg, 31-32).

Ps. 1:1, “... apa yang segera terjadi ...” (Yun. ha dei genesthai en tachei artinya hal-hal yang segera akan terjadi).  Penekanannya pada “segera” akan terjadi, namun ini tidak menunjukkan kesegeraan dalam konotasi waktu.  Sebab dalam kekekalan Allah, kemenangan, kemahaadaan, kemahakuasaan, penebusan, dan sebagainya dari Yesus Kristus telah digenapi.  Kini segera dinyatakan kepada para hambaNya.  Kalimat ini dipakai 14 kali dalam kitab Wahyu, semuanya memunyai makna yang sama.

Wahyu yang diberikan dalam kitab Wahyu bukan teori tentang masa depan, melainkan yang bersifat kekinian dan terus berlangsung dalam sejarah gereja (Wongso, 200-201).  Maksud dari kalimat “segera akan terjadi” supaya hidup mereka segera disesuaikan dengan kenyataan mengenai kedatanganNya (Hagelberg, 32).
Ps. 1:2, “Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya.”  Fungsi ayat ini sama seperti fungsi tanda tangan, di mana Yohanes menekankan secara khusus kepaa pembaca supaya tidak meragukan ini kitab ini (Ibid).
Bersaksi (emarturesen) dan kesaksian (marturian) berasal dari akar kata martur yang diterjemahkan martyr dalam bahasa Inggris; semuanya dalam satu akar kata yang sama; tidak lain, yaitu seorang yang memberikan kesaksian dengan kerelaan untuk membayar harga yang mahal, nyawanya sendiri.  Itu berarti kesaksiannya sungguh benar, sehingga rela membayar harga yang mahal (Wongso, 201).

Ps. 1:3, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”  Ayat ini mengandung ucapan bahagia, yaitu untuk dia yang membacakan kata-kata nubuat ini, mereka yang mendengarkan, dan menuruti apa yang tertulis di dalamnya.

Istilah “nubuat” (propheteias) dari kata pro artinya keluar dan kata phemi artinya berkata.  Nubuat berarti menyatakan keluar.  Septuaginta (LXX) memakai kata nubuat dalam pengertian mewakili Allah berbicara (Ibid).

ayat 3 merupakan ayat kunci untuk mengerti tujuan utama kitab Wahyu.  Orang yang menuruti apa yang tertulis dalam kitab Wahyu dikatakan berbahagia karena pada saat yang sudah dekat orang yang menaati firman ini akan mendapat pahala yang indah, seperti yang dituliskan pada pasal 2 dan 3.

Pada dasarnya nubuatan merupakan kata-kata dari Allah yang harus ditaati.  Mungkin kata-kata itu mengenai masa depan atau masa kini, tetapi yang pasti ialah bahwa kata-kata nubuat ini berasal dari Allah.
“Waktunya sudah dekat” (o gar kairos eggus).  Kata waktu dalam bahasa Yunani adalah kairos pada mulanya kata ini dipakai sebagai alat pengukur, ukuran waktu, dan memunyai konotasi kesempatan.  Di sini dipakai present tense, sehingga terjemahannya secara harafiah: “Sebab waktunya telah tiba” artinya kesempatan itu telah tiba.  Sudah dekat memunyai konotasi yang akan datang, sedangkan kenyataannya ialah wahyu yang diberikan Allah kepada Kristus, kemenangan Kristus itu semuanya sudah digenapi dan kini sedang dinyatakan kepada orang-orang percaya.  Kesempatan untuk melaksanakan petunjuk Allah itu sudah tiba, jadi harus segera dilaksanakan.  Maksud seluruh ayat ini, bacalah kitab ini bagi mereka yang mendengar dan menurutinya, kesempatan untuk mendapat berkat telah tiba (Hagelberg, 34 dan Wongso, 202-203).

2.    Salam, 1:4-8.
Ps. 1:4, “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya.”  Dari Yohanes maksudnya sebagai penulis atau agen dari wahyu Yesus Kristus.  Kitab ini ditujukan kepada ketujuh jemaat yang berada di Asia Kecil, yang lokasinya disebutkan pada 1:11.
Tujuh jemaat yang disebutkan pada ayat 11 menunjukkan tujuh nama lokasi atau tujuh jemaat kota, karena kata jemaat ditulis dalam bentuk jamak.  Tidak berarti satu tempat dengan satu jemaat saja.  Pemakaian angka “7” menunjukkan milik Allah yang sempurna.  Tidak berarti bahwa di Asia Kecil hanya terdapat tujuh kota atau tujuh jemaat saja, sebab di Asia terdapat Troas, Miletus, Metilene, dan beberapa kota lain (bnd. Kis. 20:6-38) (Wongso, 203).

“Kasih karunia dan damai sejahtera” merupakan berkat.  Kasih karunia (Ing. grace) adalah kebiasaan yang biasa dipakai oleh orang Yunani, sedangkan kata damai sejahtera (Ing. peace) adalah kebiasaan yang biasa dipakai oleh orang Ibrani.  Berkat kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah ... dan dari ke tujuh roh ... dan dari Yesus Kristus ....  kebiasaan ini sama dengan yang biasa dipakai oleh Paulus, seperti dalam 2Korintus 13:14 (Hagelberg, 37).
Sebutan “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” menunjuk kepada nama Allah dalam Perjanjian Lama, seperti dalam Kel.3:14.  Sebutan “ketujuh roh” memunyai dua kemungkinan: Pertama, menunjuk kepada makhluk-makhluk Surgawi.  Kedua, menunjuk kepada Roh Allah yang sempurna (karena angka 7 adalah angka kesempurnaan).  Dalam konteks kitab Wahyu, sebutan tujuh roh atau tujuh Roh disebutkan 4 kali, antara lain: pada 1:4; 3:1; 4:5; 5:6.  Adanya kesejajaran dengan nama Allah (Bapa) dan nama Yesus dengan ketujuh roh, maka ketujuh roh itu menunjuk kepada Roh Kudus (Hagelberg, 37-38 dan D. Guthrie, Tafsiran Alkitab Masa Kini, 928).
Ps. 1:5, “Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.”  Yesus adalah Saksi yang setia, bukan saja dalam hal wahyu ini, tetapi dalam seluruh kebenaran dari Allah.  Dia yang pertama bangkit dari antara orang mati adalah menunjukkan “kesulungan” dari antara orang mati.  “Yang sulung” telah ditafsirkan oleh orang Yahudi selaku Mesias dalam arti yang berdaulat, karena itu Dia disebut yang berkuasa atas raja-raja di bumi (Guthrie, 928).
“Dia yang mengasihi kita ....”  Kata “mengasihi” dalam bentuk present tense artinya Dia sedang mengasihi atau Dia mengasihi kita terus menerus.  Kasih Tuhan Yesus dinyatakan secara sempurna pada waktu Dia menjadi pengganti kita di kayu salib.  Dia tidak hanya mengampuni kita, tetapi Dia juga telah melepaskan kita dari dosa oleh darahNya (Hagelberg, 40).
Ps. 1:6, “Dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”  “Yang membuat kita menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah” (kai epeiesen hemas basileis kai hiereis tou theou arti harafiahnya agar kita menjadi para raja Allah dan imam-imam Allah.  Oleh iman, orang-orang percaya kepada Kristus, Allah mengaruniakan jabatan raja dan imam kepada mereka bersama-sama dengan Kristus.  Menjadi raja berarti ada kuasa dan menjadi imam berarti menjadi juru syafaat bagi umat manusia (Wongso, 203-204).

Ps. 1:7, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”  Ayat ini merupakan gabungan dari kitab Daniel 7:13 dan Zakharia 12:10.  Pada kedatanganNya yang pertama, Yesus hanya dilihat oleh beberapa ribu orang saja di Timur Tengah, tetapi pada waktu kedatanganNya yang kedua kali, akan dilihat oleh setiap mata, juga oleh yang telah menikam Dia.  “Ia datang dengan awan-awan” dalam NIV diterjemahkan He is coming with the clouds harafiahnya Ia sedang datang dengan awan-awan.  “Ia datang” (Yun. herchetai) dalam versi lain ditulis Ia turun.  Ini mengandung konotasi Ia dari atas ke bawah.  Dalam bahasa Yunani tidak memberikan pengertian turun dari atas ke bawah, melainkan “sedang datang” bersama-sama dengan awan-awan menunjukkan penampakan diri di dalam kemuliaan (Wongso, 204).
Ps. 1:8, “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”  “Aku adalah Alfa dan Omega” (hego eimi to a kai to o.  Alfa dan Omega adalah huruf yang pertama dan terakhir dari abjad Yunani (Handbook, 731).  Alfa dan Omega sering menjadi simbol dari “yang pertama dan yang terakhir”.  Penulis memakai simbol ini di awal (1:8, 17) dan menjelang akhir kitab Wahyu (21:6).  Nabi Yesaya menggunakan ungkapan yang mirip untuk menunjukkan kesempurnaan dan totalitas Allah (Yes. 44:6; 48:12) (Alkitab Edisi Studi, 2045).

Kalimat berikut menjelaskan artinya.  “Yang awal dan yang akhir” (arche kai telos.  Siapakah yang disebut “yang awal dan yang akhir?”  Jika ayat ini dihubungkan dengan ayat 4, jelas ini menunjuk kepada Allah Bapa, tetapi pada pasal 22:13, Tuhan Yesus disebut Alfa dan Omega.  Juga pada pasal 1:17, Tuhan Yesus disebut Yang Awal dan Yang Akhir.  Sebutan Alfa dan Omega menegaskan bahwa kedaulatan Allah melintasi segala zaman.

Penulis mengatakan bahwa Alfa dan Omega berarti bahwa Allah adalah Tuhan dari sejarah, awalnya, akhirnya, dan juga seluruh tenggang waktu antaranya.  Istilah “Tuhan yang mahakuasa” adalah gelar yang sering dipakai oleh Yohanes dan yang dalam Hos. 12:6 dan Am. 9:5 dalam LXX menerjemahkan “Tuhan semesta alam” (Hagelberg, 42-43 dan Guthrie, ed., 928-929).

B.    Penglihatannya, 1:9-20.
1.    Latarbelakang Penglihatan, 1:9-11.

Peristiwa ini terjadi ketika Yohanes menerima firman ini dari Tuhan.  Peristiwa ini terjadi di satu tempat tertentu dan dalam waktu tertentu.
Ps. 1:9, “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.”  Bersekutu di dalam kesusahan, Kerajaan, dan ketekunan menantikan Yesus terjemahan harafiahnya: bersahabat di dalam penderitaan, kerajaan serta ketekunan Yesus.  Yohanes memperkenalkan dirinya sebagaimana penerima surat ini yang sedang mengalami penderitaan, demikian juga Yohanes mengalami penderitaan di pulau Patmos.
Pulau Patmos terletak pada jalur pelayaran dari Roma ke Efesus, kurang lebih 65 Km dari kota Miletus (atau kr. 50 Km).  Luas pulau Patmos sekitar 22 Km persegi.  Mungkin karena pulau ini sepi dan tandus, maka dipakai sebagai tempat tawanan oleh kekaisaran Romawi.  Menurut tradisi, Yohanes dibuang ke sana pada zaman Domitianus karena kesaksian firman Allah.  Di sana Yohanes bekerja sebagai pekerja tambang, tetapi setelah Domitianus wafat, Yohanes diperbolehkan kembali ke Efesus (Wongso, 237 dan Hagelberg, 43-44).  Kemungkinan besar Yohanes meninggal dan dikuburkan di kota Efesus, seperti laporan Dionysius.
Ps. 1:10, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala.”  “Aku dikuasai oleh Roh” berarti Yohanes masuk ke dalam suasana ekstase (harafiahnya: menjadi dalam Roh), sehingga menampilkan penglihatan yang berikut (Guthrie, ed., 929).

“Hari Tuhan” dalam Perjanjian Baru sama dengan “hari Jehovah” dalam Perjanjian Lama.  Dalam kitab Yeremia, istilah tersebut ada 16 kali dipakai.  Kitab Amos ada 1 kali dan Zefanya memakai 4 kali.  Kebanyakan menunjuk kepada hari penghakiman berdasarkan keadilan Allah (Wongso, 238).  Menurut Mounce, sama seperti orang Roma merayakan hari Kaisar, demikian juga orang Kristen merayakan hari Tuhan, yaitu hari Minggu (Hagelberg, 45).  Pendapat ini sama dengan pendapat para penulis Tafsiran Alkitab Masa Kini pada halaman 929.
Ps. 1:11, “katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.”  Kitab Wahyu bukan hasil dari lingkungan Yohanes, tetapi adalah wahyu dari Tuhan Yesus.  Perintah kepada Yohanes untuk menuliskan apa yang ia lihat dipakai 12 kali dalam kitab Wahyu (1:11, 19; 2:1, 8, 12,18; 3:1, 7, 14; 14:13; 19:9; 21:5).  Ini menunjukkan tanggung jawab setelah melihat, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan semua yang dilihatnya harus sempurna dituliskan kepada ketujuh jemaat.  Ketujuh jemaat dipilih itu memunyai tuntutan istimewa untuk menjadi penerima-penerima dari surat-surat ini, karena mereka terletak pada jalan yang berbentuk suatu lingkaran dalam sekitar wilayah Asia.  Lagi pula menurut Ramsay, kota-kota ini merupakan pusat dari ketujuh distrik pos daerah, karenanya merupakan pusat terbaik untuk mengedarkan surat-surat ini ke jemaat-jemaat lain di wilayah Asia (Wongso, 241 dan Guthrie, ed., 929).

2.    Penglihatannya sendiri, 1:12-20.
Ps. 1:12, “Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.”  Menurut 1:20, tujuh kaki dian dari emas melambangkan ketujuh jemaat tersebut di atas.  Sebutan ini tepat karena jemaat bukan sebagai sumber terang, tetapi hanya sebagai tempat atau kaki dian saja.  Tujuh kaki dian emas mengingatkan kita dengan kaki dian bercabang 7 dalam tempat kudus di Bait Allah (Kel. 25:31) (Hagelberg, 929).

Ps. 1:13, “Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.”  Ps. 1:13-18 melatarbelakangi nama-nama yang dipakai Tuhan  Yesus mengenai diriNya sendiri dalam ps. 2-3.  “Seorang serupa Anak Manusia” mengingatkan kita pada Dan. 7:13.  Yang ditekankan dalam penglihatan ini adalah Kristus yang sangat mulia, sampai Rasul Yohanes sendiri tersungkur di depan kakiNya.  Istilah Anak Manusia dapat dibandingkan dengan ucapan Tuhan Yesus sendiri dalam Mat. 24:30, “... Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit.”  Tetapi julukan Anak Manusia dalam ayat ini lebih mirip dengan tulisan Daniel dalam Dan. 7:13, yang menunjuk kepada Mesias.
“Jubah yang panjang” biasa dipakai oleh seseorang yang berkedudukan tinggi, seperti Imam Besar (Kel. 28:4).  Dalam Kel. 39:29, ikat pinggang yang dipakai Imam Besar dibuat dari lenan halus, tetapi pada zaman Yosephus, ikat pinggang Imam Besar Israel dibuat dari Emas.  Ini yang memberikan kesan bahwa yang dilihat oleh Yohanes adalah seorang Imam Besar (Hagelberg, 46-49).
Ps. 1:14, “Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.”  Gambaran mengenai rambut putih adalah peringatan yang sengaja tentang Dan. 7:9, di mana Daniel melihat “Yang lanjut usia”, yaitu Allah Bapa sendiri.  Menurut Im. 19:32 dan Ams. 16:31, orang yang rambutnya sudah putih harus dihormati.  “Matanya bagaikan nyala api” melambangkan kemampuanNya untuk melihat sampai ke batin orang untuk menguji mereka (Hagelberg, 50).
Ps. 1:15, “Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.”  Logam yang dipanaskan dalam tungku sampai membara menjadi murni, demikian juga Tuhan Yesus murni dan kudus, maka Dia layak menjadi Hakim.  “KakiNya” adalah pelaksana hukuman.  Karena itu jemaat yang berdosa diperingatkan untuk waspada, jangan sampai diinjak oleh kakiNya.
Dalam Dan. 10:6, suara malaikat: seperti gaduh orang banyak, sedangkan dalam ayat ini: seperti suara air terjun yang menderu.  Karena itu, yang digambarkan dalam ayat ini menunjuk kepada Allah, bukan kepada malaikat.  Menurut penafsir yang lain, Yohanes memakai “desau air bah” adalah menunjuk kepada bunyi air laut Aegea yang menderu sekitar pulau Patmos (Hagelber, 50-51 dan Guthrie, ed., 930).
Ps. 1:16, “Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.”  “Tujuh bintang” diartikan pada 1:20, yaitu tujuh malaikat dari ketujuh jemaat.  Itu berarti Dia berkuasa atas 7 bintang itu karena mereka ada dalam tangan kananNya.  Malaikat tersebut mewakili jemaat.
Gambaran “pedang” bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Tuhan.  Pedang melambangkan wibawa pengadilan dan kekuatan.  Rupanya pedang yang bermata dua artinya Tuhan dapat menolong, tetapi sekaligus dapat melawan.
“WajahNya bagaikan matahari yang terik” menunjuk kepada kemuliaanNya yang luar biasa, yang tidak dapat dipandang dengan mata manusia (bnd Hak. 5:31) (Guthrie, ed., 930 dan hagelberg, 51-52).
Ps. 1:17, “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.”  Karena kemuliaan Yesus, maka tersungkurlah Yohanes karena ketidaksanggupan memandangNya.  “Tangan kananNya” melambangkan kekuatan dan kuasa.  Dalam ayat ini Tuhan Yesus yang luar biasa muliaNya datang menghampiri Yohanes yang sudah rebah dengan nada penghiburan dengan mengulangi identitasNya, “Yang Awal dan Yang Akhir.” (Hagelberg, 52-53).
Ps. 1:18, “dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”  Gelar pada ayat 17 diartikan pada ayat 18 “Yang Hidup”.  Yesus Kristus adalah Allah Yang Hidup dan yang kekal.  Oleh kematian dan kebangkitanNya, Ia telah memeroleh segala kunci maut dan kerajaan maut.
“Kerajaan maut” (Yun. hadou) tidak menunjuk ruang, melainkan suatu kuasa atau kondisi.  Menurut Peter Wongso, perumpamaan si kaya dan Lazarus dalam Luk. 16:19-31 bukan menunjuk dua tempat yang berbeda yang dibatasi oleh ruang pemisah, tetapi menunjuk kepada dua kondisi yang berbeda, dua hal yang non-materi.  Istilah “pangkuan Abraham” mutlak bukan batas ruang, berapa luas pangkuan Abraham itu, tetapi menunjuk kepada kondisi yang menyenangkan (Wongso, 244).

Ps. 1:19, “Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”  Ayat ini merupakan garis besar atau daftar isi dari kitab Wahyu.  “Apa yang telah kau lihat”  terdiri dari penglihatan Yohanes, yaitu bagian yang pertama, yang dijelaskan pada pasal 1.  “Apa yang terjadi sekarang” terdiri dari pesan kepada ketujuh jemaat di Asia Kecil, yaitu bagian kedua yang dijelaskan pada pasal 2-3.  Dan “apa yang terjadi sesudah ini” terdiri dari kisah tentang kedatangan dan kemenangan Tuhan Yesus, yaitu bagian yang ketiga yang dijelaskan pada ps. 4 sampai 22 (Hagelberg, 55-56).
Ps. 1:20, “Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”  Ayat 20 merupakan puncak peralihan dari pasal satu ke pasal 2 dan 3.  Ketujuh bintang disebut sebagai ketujuh malaikat.  Istilah malaikat pada dasarnya berarti pesuruh atau utusan.  Biasanya pesuruh Allah ialah malaikat, tetapi dalam Mat. 11:10, pesuruh Allah adalah manusia, yaitu Yohanes Pembaptis.
Pada ps. 2 dan 3 Yohanes disuruh untuk menulis kepada pesuruh/ malaikat dari ketujuh jemaat.  Apakah mungkin Yohanes disuruh menulis surat malaikat di Surga?  Karena itu istilah “aggeloi” lebih baik diterjemahkan pesuruh atau utusan, yang menunjuk kepada para pemimpin dari ketujuh jemaat di Asia Kecil.  Menurut William Hendrikson, “aggeloi” seharusnya menunjuk kepada para pendeta dalam jemaat, mereka adalah utusan jemaat untuk menjenguk Yohanes di pulau Patmos (Hagelberg, 57; Guthrie, ed., 930 dan Wongso, 272).

Bersambung …

by : Pdt. Markus Lingga' MTh Profile Penulis

Link Berhubungan
Diktat Kitab Wahyu (Part ke-1)
Portal NKI
Portal Pdt. Pither Pakka'

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top