Evangelism Unlimited

PEMIMPIN JEMAAT DIBERDAYAKAN MELALUI PELAYANAN YANG MENANTANG

PEMIMPIN JEMAAT DIBERDAYAKAN MELALUI PELAYANAN YANG MENANTANG

6 10 99
PEMIMPIN JEMAAT DIBERDAYAKAN MELALUI PELAYANAN YANG MENANTANG 10 6 99
Kis 3:1-10

 1 Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.
2 Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah.
3 Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.
4 Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami."
5 Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka.
6 Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"
7 Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.
8 Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.
9 Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah
10 lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.



Pendahuluan

Pemimpin yang Tuhan dapat pakai menumbuhkan gereja-Nya adalah pemimpin yang dipersiapkan oleh Kristus, Kis 1.  Dan diperlengkapi dari Atas, dari Surga, Ps 2.  Pemimpin yang telah dipersiapkan dan telah dilengkapi dari atas, perlu diberdayakan oleh Tuhan, dengan diberikan tugas-tugas pelayanan yang seringkali memberikan tantangan yang berat kepadanya.  Hal itulah yang Tuhan lakukan di dalam Kis Psl 3 ini.

Dalam Pasal 1 para pemimpin jemaat itu masih bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke surga. Di dalam pasal 2 mereka masih berkumpul bersama mengalami pencurahan Roh Kudus.  Di dalam pasal 3 ini hanya Petrus dan Yohanes yang diutus ke tengah-tengah masyarakat umum di Bait Suci dan di hadapan para pemimpin dan rakyat bangsa Israel.  Suatu tantangan baru, yang akan menguji mereka apakah mereka akan tetap maju ataukah mundur, apakah mereka tetap kuat ataukah lemah.  Akan membuktikan diri sebagai pemimpin yang diutus khusus oleh Tuhan sehingga memunyai kapasitas lebih ataukah sama saja dengan pemimpin biasa dalam masyarakat Yahudi.

Kata kunci yang dapat dijadikan penuntun pelajaran dalam ayat-ayat ini untuk mengikuti kinerja kepemimpinan kedua hamba-Nya adalah kata-kata: “Ketika Petrus dan Yahanes.....!  Yang pertama di ayat 1, yang kedua di ayat 2-5 dan yang ketiga di ayat 6-10.  Kiranya Roh Kudus yang mengilhami penulis kitab Kisah Rasul ini, memberi kita penerangan untuk memahami ayat-ayat yang luar biasa ini.

1.          Ketika Petrus dan Yohanes naik ke Rumah Tuhan, ayat 1

Naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Suci, 1.  Sudah biasa bagi orang Yahudi naik ke Bait Allah untuk sembahyang dilakukan paling sedikit tiga kali, pagi sore dan malam.  Waktu pukul 3 petang adalah waktu sembahyang ke dua pada hari itu.  Saat di mana orang beriman bersyukur kepada Tuhan, dan untuk memuji-muji Dia serta menyampaikan permohonan doa. Hal seperti itu telah Tuhan tetapkan melalui Musa sejak nenek moyang mereka masih dalam perjalanan dari Mesir ke Tanah Kanaan.

Sebagai orang Yahudi, walaupun mereka bukan lagi umat Tuhan PL melainkan sudah merupakan umat Tuhan PB, Petrus dan Yohanes, masih ikut ibadah di Bait Suci menyembah kepada Tuhan.  Dalam Alkitab terjemahan baru (TB) kata “naik” dua kali dipakai dengan arti bertumbuh dan dua kali dipakai dengan arti makin besar.  Laksana bibit tanaman yang telah ditanam lalu mulai tumbuh makin lama makin naik tinggi dan makin besar. Menunjukkan bahwa bagi Petrus dan Yohanes menyembah Tuhan di Bait Suci-Nya bukan sesuatu yang hanya sekadar rutinitas, dilakukan karena diperintahkan seperti itu, supaya dilihat sebagai orang yang taat kepada Torat.  Penyembahan, doa, bersekutu dengan Tuhan dan memuji serta bersyukur kepada-Nya adalah bahagian pertumbuhan hidup mereka, secara rohani.  Pertumbuhan mereka semakin besar lagi setelah mereka mengalami pemberdayaan baptisan dan kepenuhan Roh Kudus pada hari Pentakosta beberapa minggu yang lalu. Pertumbuhan hidup adalah eksistensi hidup manusia baik secara jasmani demikian juga secara rohani.  Petrus dan Yohanes terpelihara dalam eksistensi hidup mereka yang terus bertumbuh di dalam kuasa-Nya.  Banyak pemimpin jemaat berhenti bertumbuh!

Di dalam PL para raja Israel yang menjadi alat Tuhan di dalam membawa pertumbuhan rohani rakyat, menunjukkan pola hidup yang sama.  Contoh seperti Daud, Salomo di awal pemerintahannya, Hizkia dan Yosia.  Mereka mengikuti pola yang sama yaitu, langkah awal mereka sama yaitu mereka mencari Tuhan secara pribadi.  Mengaku dosa nenek moyangnya, kaum keluarganya dan diri mereka sendiri, kemudian menyembah Tuhan, membaharui perjanjian untuk setia dan taat akan Firman-Nya.  Demikian juga pelayan-pelayan Tuhan lainnya seperti Ezra, Daniel, dan Nehemiah.

Doa dan penyembahan pribadi Petrus dan Yohanes demikian juga hamba-hamba Tuhan lainnya, menunjukkan bagaimana mereka mengakui bahwa tanpa Tuhan, mereka tidak akan dapat berarti sedikit pun.  Pelayanan Petrus dan rasul-rasul yang sukses besar di hari Pentakosta tidak membawa mereka merasa sanggup, melainkan semakin meyakinkan mereka bahwa capaian semuanya itu hanya semata-mata karena kuasa Roh Kudus, maka kepada-Nyalah segala kemuliaan harus dikembalikan.

Pemimpin jemaat yang Tuhan pakai di dalam pertumbuhan pekerjaan-Nya adalah para pemimpin yang memprioritaskan penyembahan, penyerahan total kehidupan kepada Tuhan dan bertumbuh dalam kerendahan hati.

Mereka berdua naik ke Bait Suci pada pukul 3, karena pada saat itu mereka memeroleh kesempatan untuk bertemu dengan orang banyak yang merupakan sasaran pelayanan pemberitaan Injil mereka.  Orang-orang itu telah datang dengan hati yang siap menghadap Tuhan, tidak disibukkan dengan berbagai urusan keluarga dan pekerjaan sehari-hari mereka, benar-benar suatu kesempatan yang sangat baik yang tidak boleh dilewatkan.  Penuai besar di ladang Tuhan haruslah orang-orang yang tahu ladang menguning yang siap untuk dituai dan berusaha keras untuk memasuki ladang penuaian tersebut.  Jika terlambat tuaian akan rusak dan mungkin kesempatan kedua tidak akan ada lagi.  Kesadaran seorang pemimpin jemaat akan urgennya keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang, berkembang seimbang dengan pertumbuhan kesadarannya akan pentingnya hidup rendah hati di dalam persekutuan pribadi dan kelompok dengan Tuhan.

2.          Ketika Petrus dan Yohanes melihat orang yang perlu dilayani,2-5

Di pintu gerbang Bait Suci bernama pintu gerbang Indah, mereka melihat duduk seorang laki-laki lumpuh sejak lahir yang saat itu telah berumur lebih 40 tahun.  Ia diusung pada waktu pagi ke gerbang indah itu untuk meminta sedekah dan pada waktu sore diambil lagi kembali ke tempat tinggalnya, demikianlah kegiatannya setiap hari untuk bisa memeroleh makanan.

Sesungguhnya, pengemis itu sudah sangat biasa melihat orang masuk-keluar Bait Suci selama dia duduk di situ.  Banyak di antara orang-orang itu bahkan tanpa peduli dan tanpa melihat kepadanya walaupun mereka tahu ada pengemis di pintu itu.  Tanpa meminta sedekah pun orang-orang sudah tahu bahwa ada pengemis di tempat itu.  Tetapi ketika pengemis itu melihat Petrus dan Yohanes akan masuk Bait Suci, ia melihat sesuatu yang lain dengan mereka, berbeda dari orang-orang lain yang masuk-keluar Bait Suci, sehingga dia meminta sedekah kepada kedua pemimpin jemaat itu.  Kata meminta dalam ayat 3 itu berarti memohon disertai dengan bujukan atau memelas. Sikap pengemis yang sangat lain kepada Petrus dan Yohanes, bukan karena kedua pemimpin itu kelihatan tidak memedulikan atau tidak mau melihat pengemis tersebut.  Bisa di duga bahwa Petrus dan Yoahanes telah merencanakan sebelumnya untuk menemui dan berbuat sesuatu yang melebihi sekedar memberi sedekah kepadanya.  Karena sebagai orang Yahudi keduanya sudah sering masuk Bait Suci bahkan sebelum hari Pentakosta, sedangkan pengemis yang telah lumpuh lebih 40 tahun itu telah ada di gerbang Indah Bait Suci mungkin puluhan tahun.  Dapat diyakini bahwa kedua hamba Tuhan itu telah berdoa banyak untuk pertemuan mereka dengan orang lumpuh sore itu.  Hal itu sesuai dengan yang diucapkan R. Dixon: “Peristiwa kesembuhan orang lumpuh itu adalah hasil dari banyak doa yang mempersiapkan rasul-rasul itu.  Mujizat ini dapat dihubungkan dengan doa.”  Jadi perhatian orang lumpuh kepada Petrus dan Yohanes yang lain dari pada yang lain, dan perhatian khusus Petrus dan Yohanes kepadanya, merupakan suatu tali rohani yang terentang melalui harapan dan doa yang sungguh-sungguh.  Pemimpin jemaat yang berdoa akan menjadi pemimpin yang memimpin orang lain datang berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus.

Apakah reaksi Petrus dan Yohanes kepada permohonan sedekah orang lumpuh itu? Dua hal yang mereka lakukan kepadanya yaitu menatap dia dan berkata kepadanya, ay 4.  Kata menatap dalam ayat itu berarti menatap dan mengamat-amati dengan seksama.  Mereka tidak melihat sambil lalu saja, melainkan mengamat-amati dengan seksama seolah-oleh ingin melihat sesuatu yang seharusnya ada pada orang lumpuh itu.  Biasanya para pengemis setelah berhadapan muka dengan orang yang diharapkan akan memberi sedekah, segera mengangkat tempat uang untuk calon dermawan itu meletakkan sedekah sambil pengemis menundukkan mukanya, tidak berani lagi menatap muka dermawan tersebut.  Mungkin itulah sebabnya menyusul tindakan yang ke dua dari Petrus dan Yohanes yaitu perintah supaya orang lumpuh itu melihat kepada keduanya. Kata lihatlah yang dipakai Petrus dan Yohanes dipakai dalam Alkitab TB LAI paling kurang 116 kali, dan 5 kali diantaranya dipakai dengan arti perhatikanlah, awas dan waspada 8 kali dan memandang 3 kali. Terbanyak dipakai dengan arti lihat.

Jadi Petrus dan Yohanes meminta kepada orang lumpuh itu supaya dia melihat mereka disertai perhatian dan kewaspadaan, serta mengikuti sepenuhnya setiap yang dilakukan atau diperintahkan mereka kepadanya.  Dari dua tindakan para rasul itu keduanya membangkitkan minat, semangat dan pengharapan besar orang lumpuh itu.  Tentunya bagi orang lumpuh itu, minat, semangat dan pengharapan besar untuk mendapat sedekah lebih besar dari keduanya.  Tetapi bagi Petrus dan Yohanes minat, semangat dan pengharapan besar orang lumpuh itu untuk bisa memeroleh kesembuhan.  Seperti perumpamaan penabur benih, hati orang lumpuh itu telah diolah supaya siap menerima taburan benih Injil keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan melalui kedua hamba-Nya.  Petrus dan Yohanes sangat yakin akan kuasa Tuhan sanggup menyelamatkan dan menyembuhkan orang lumpuh itu, akan tetapi untuk memeroleh keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan, orang lumpuh itu sendiri harus memunyai pengharapan dan iman kepada Tuhan.  Hal itulah yang dibangunkan di dalam dirinya oleh kedua pemimpin jemaat tersebut.

 3.          Ketika Petrus dan Yohanes tidak memiliki uang, 6-10

Tiga langkah yang ditempuh bagi kesembuhan dan keselamatan orang lumpuh tersebut.

1)          Membangun iman untuk menerima yang lebih mulia

Kita jangan salah paham akan pernyataan Petrus dalam ayat 6a: “Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku.”  Petrus tidak sedang menanamkan sikap pesimistis di dalam diri orang yang memerlukan sikap optimistis.  Petrus ingin supaya orang lumpuh itu keluar dari lingkaran orientasi materi belaka yang telah menguasai seluruh keinginannya selama puluhan tahun.  Mungkin kedua pemimpin itu saat itu memang tidak memunyai uang untuk disedekahkan, dan memang bukan itu tujuan pelayanan mereka kepada orang lumpuh tersebut.  Perobahan yang lebih agung dapat diperolehnya jika dia meninggalkan paradigma lama dan dari apa yang dia anggap kebutuhan paling utama hidupnya. Kedua rasul itu sebenarnya berkata kepadanya: “Emas dan perak atau uang yang anda cari selama ini, dapat menjadi sumber kebutuhan makan minum dan pakaian anda, tetapi tidak memenuhi keputuhan utama hidup dan jiwa anda.  Anda harus melepaskan diri dari hanya mencari perkara-perkara dunia, dan menggantinya dengan mencari perkara-perkara surgawi.”

Supaya dia bangkit minatnya yang lebih besar akan keselamatan dan kesembukan, maka Petrus segera menyambung kata-katanya: “ tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu.”  Kata-kata tersebut indah sekali bagi pendengaran orang lumpuh itu.  Tadinya dia sudah diambang jurang kekecewaan, tetapi sebelum dia jatuh ke jurang itu, Petrus berkata kepadanya bahwa ada sesuatu yang ada padanya yang akan diberikan kepada orang lumpuh itu.  Apa yang dimiliki Petrus dan telah dijanjikan akan diberikan kepada orang lumpuh itu, pasti sesuatu yang melebihi nilai emas dan perak. Pengharapan, kerinduan baru akan makna hidup yang lebih mulia harus dibangkitkan di dalam dirinya.  Selagi harapannya bangkit, maka Petrus menjelaskan sesuatu yang jauh lebih melampaui harapan dan sungguh tak disangkanya:

2)          Membantu orang yang dilayani beriman kepada kuasa Yesus
  “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"  Bisa kita bayangkan pikiran dan kata hati orang lumpuh itu: “Ha, aku dapat berjalan?  Aku dapat terlepas dari belenggu kelumpuhan lebih empat puluh tahun?  Aku bisa bebas seperti orang lain?”  Sesungguhnya kata-kata Petrus selanjutnya mengiakan semua pertanyaan dalam hati orang lumpuh.  “Ya, anda bisa sembuh, bisa berlajan, bisa lepas dari belenggu kelumpuhan anda.  Dan supaya hal itu terjadi anda harus bangkit dan berjalan dalam Nama Tuhan Yesus, orang Nazaret itu.  Pasti orang lumpuh itu sudah tahu tentang nama Yesus, dia juga pasti sudah pernah melihatnya dan mendengar kata-kata-Nya serta telah menyaksikan mujizat-mujizat yang pernah Tuhan Yesus lakukan di dalam Bait Suci, ketika Tuhan Yesus belum ditangkap, tempat “pekerjaan” sehari-harinya selama puluhan tahun.  Dan setiap ada orang lain yang Tuhan Yesus sembuhkan di Bait Suci, dia melihat atau mengetahui hal itu. Dia berharap kalau bisa mujizat itu dilakukan Yesus kepadanya.  Mungkin akhirnya dia berpikir bahwa Yesus berkenan menyembuhkan orang lain, tetapi bagi dia sendiri Yesus tidak berkenan menyembuhkannya.  Hal itu masih mengganjal imannya sehingga, Petrus perlu menolong dia dengan memegang tangannya dan membantu dia berdiri, 7.  Kesembuhan orang itu tidak ditentukan oleh pegangan dan bantuan berdiri dari Petrus.  Ketika tangan Petrus menyentuh tangannya, maka saat itu juga dia sembuh dalam nama Tuhan Yesus:  “Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.”  Tuhan Yesus menguatkan kaki dan mata kaki orang itu sehingga dia segera kuat berdiri.  Sentuhan tangan Petrus lebih bernilai spiritual bukan bernilai psikhologis. Nama Yesus itu yang menyembuhkan dia, Tuhan Yesus menggunakan tangan Petrus untuk membangkitkan tangan iman orang itu, untuk menerima Yesus dan kuat kuasa-Nya.  Istilah teknis kesembuhannya yaitu kuatlah “kaki dan mata kakinya,” adalah ucapan seorang dokter yang tahu persis struktur dan fungsi organ-organ tubuh manusia, dan dengan demikian komentar Lukas sang penulis, yang adalah seorang dokter membuktikan secara medis fisik akan kepastian kesembuhan orang itu secara tuntas.

Pemimpin pertumbuhan jemaat haruslah seorang pelayan pribadi, penginjil pribadi, menjadi konselor dan menjadi motivator rohani.  Tuhan Yesus sendiri selama pelayanan-Nya di Palestina, banyak kali meninggalkan orang banyak untuk melayani pribadi, memilih kelompok kecil, seperti keluarga, ketimbang sekumpulan besar masyarakat.  Keselamatan dan pertumbuhan kehidupan rohani adalah urusan perorangan, sehingga memerlukan pelayanan pribadi.

3)          Kesembuhan orang lumpuh itu dikonfirmasi oleh semua hadirin
Ayat 8, 9, dan 10, menyatakan:  “Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.

Ketiga ayat itu memberi tiga konfirmasi dari peserta ibadah di Bait Suci. Konfirmasi pertama ialah kesaksian orang yang telah sembuh itu.  Dia masuk Bait Suci mengikuti kedua pemimpin itu, sambil memuji Tuhan dengan melompat-lompat.  Kebrisikan, langkah-langkah, puji-pujiannya  kepada Tuhan, lompatan-lompatan yang dilakukannya adalah aktifitas orang sehat, terutama tidak dapat dilakukan oleh orang yang lumpuh.  Konfirmasi kedua datang dari orang-orang di Bait Suci waktu itu. Mereka menyatakan keyakinan mereka bahwa orang itu adalah pengemis lumpuh yang selama puluhan tahun mencari nafkah dengan mengemis. Konfirmasi yang ketiga adalah bahwa orang itu sungguh telah sembuh, karena dia berjalan masuk Bait Suci mengikuti kedua pemimpin itu, melompat, berteriak memuji Allah. Kita tidak heran bahwa akhirnya orang-orang itu takjub dan tercengang.  Mereka pada bertanya dalam hati atau di antara sesama mereka, bagaimana dan siapa yang menyebabkan dia sembuh.

Sejak Pentakosta para rasul sudah melakukan mujizat tetapi mungkin belum terlalu tersiar kepada masyarakat luas, Kis 2:43. Tetapi dari catatan Alkitab peristiwa penyembuhan orang lumpuh di Bait Suci itulah pertama kalinya penggunaan Nama Yesus  oleh para pemimpin jemaat untuk mendatangkan kesembuhan.  Pelayanan itu sungguh “sukar” atau menantang, tetapi kini para pemimpin itu diberdayakan di dalam pelayanan oleh Nama Yesus.  Hal itu merupakan panji baru yang menjulang tinggi melampaui bumi untuk menyatakan bahwa pemimpin pertumbuhan gereja haruslah hamba-hamba Tuhan yang sungguh yakin dan tahu secara pasti kuasa Nama Yesus dan menggunakan Nama Yesus yang berkuasa itu di dalam pelayanan.

Peristiwa penyembuhan dan kesembuhan itu telah menimbulkan sikap takjub dan tercengang semua hadirin dengan demikian menyiapkan jalan untuk pelayanan kepada mereka, yang lebih penting dari hanya sembuh dari kelumpuhan fisik.



by :   Pdt. Dr. John S. Dana, MTh. Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Pola Pikir Manusia Rohani Yang Telah Dibaharui
Takut Akan Tuhan
Menghadapi Tekanan Dari Rekan Kerja



0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top