Evangelism Unlimited

DIKTAT KITAB WAHYU

DIKTAT KITAB WAHYU

6 10 99
DIKTAT KITAB WAHYU 10 6 99
(BAGIAN PERTAMA)


PENDAHULUAN
 
Penulis Kitab Wahyu
Menurut 1:4, 9 dan 22:8 menyatakan tanpa penjelasan bahwa kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes.  Karena tidak adanya keterangan tentang Yohanes yang lain, maka menurut Hagelberg bahwa Yohanes yang dimaksudkan adalah Yohanes Rasul (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 1).

Justinus Martyr menulis dalam dialog dengan Trypho tahun 135 menyatakan bahwa Rasul Yohanes-lah penulis kitab Wahyu.  Pernyataannya itu dapat diterima kebenarannya karena beberapa tahun Justinus tinggal di Efesus.  Demikian juga dengan Eusebius, Irenius, Clement, Origen, Tertullianus, dan Hippolytus sama-sama mengakui bahwa penulis kitab Wahyu adalah Rasul Yohanes (Ibid.)
Menurut Peter Wongso bahwa keraguan dan penyangkalan akan Rasul Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu dimulai dan dipelopori oleh Dionysius dari Alexandria (190-264).  Dionysius adalah murid dari Origen (185-254).  Ketika Origen diasingkan oleh pemerintah Romawi ke Kaisarea, maka Dionysius menjabat sebagai kepala Catechetical School of Alexandria.  Dia menyangkal Rasul Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu.  Alasannya didasarkan pada 22:1-6 di mana Kristus akan datang kembali untuk mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi.  Dionysius tidak setuju dengan istilah kerajaan seribu tahun.
Selain itu, menurut Dionysius bahwa ada dua kuburan Yohanes di kota Efesus, yang satu untuk Yohanes Rasul dan yang lain untuk Yohanes dari Efesus.  Ia berpendapat bahwa Yohanes dari Efesus bukan seorang rasul, melainkan seorang penatua dan ia inilah penulis kitab Wahyu.  Teori Dionysius telah banyak memengaruhi para sarjana Barat, termasuk William Barclay dan R. H. Charles (Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab: Kitab Wahyu, 88),

Alasan lain yang dipakai Dionysius menolak Yohanes Rasul sebagai penulis kitab Wahyu adalah karena bahasa Yunani yang dipakai dalam kitab Wahyu berbeda dengan Injil Yohanes dan ketiga surat Yohanes lainnya.  Bahasa Yunani yang dipakai untuk Injil Yohanes dan ketiga kitab Yohanes adalah bahasa yang halus dang indah, sedangkan bahasa yang dipakai dalam kitab Wahyu adalah bahasa Yunani yang baku (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 2).  Alasan Dionysius adalah benar jika ditinjau dari segi tata bahasa, tetapi apakah alasan itu sudah cukup kuat dipakai sebagai standar?
George Eldon Ladd mengemukakan bahwa perbedaan tata bahasa, seperti yang dipakai Dionysius disebabkan karena Yohanes menulis Injil Yohanes dan ketiga kitab Yohanes dibantu dengan sekretaris, sehingga menghasilkan tata bahasa Yunani yang bagus sedangkan kitab Wahyu adalah hasil buah pena Rasul Yohanes sendiri.  Kita dapat memahami tata bahasa Yohanes karena dia adalah seorang Ibrani asli yang menulis dalam bahasa Yunani (Ibid.).
John R.W. Stott memberikan kesimpulan bahwa penulis kitab Wahyu adalah Yohanes tanpa penjelasan lebih lanjut, yaitu Yohanes Rasul, murid yang paling dikasihi Yesus, anak Zebedeus, yang masih hidup setelah rasul-rasul lain sudah meninggal, dan menikmati umur panjang sebagai pemimpin gereja Efesus (John R.W. Stott, Bagaimana Pandangan Kristus akan Gereja, 10).   Demikian juga dengan Billy Graham setuju bahwa Rasul Yohanes-lah penulis kitab Wahyu pada masa tuanya di Pulau Patmos (Billy Graham, Derap Kuda yang Mendekat, 7).

Tahun Penulisan Kitab Wahyu
Mengenai tahun penulisan kitab Wahyu, ada dua pendapat, yaitu: Pertama, ditulis pada zaman kekaisaran Nero (54-68).  Kedua, ditulis pada zaman kekaisaran Domitianus (81-96).  Kemungkinan tahun penulisan yang benar adalah:
Pertama, Irenius mengatakan bahwa kitab Wahyu ditulis pada akhir kerajaan Domitianus, yaitu tahun 96.
Kedua, sudah ada pengalaman yang matang dari ke-tujuh jemaat.  Jika terjadi pada zaman Nero, belum ada data bahwa jemaat-jemaat itu sudah mengalami kemerosotan (pasal 2-3).
Ketiga, jemaat Laodikia menganggap dirinya kaya (3:17), sedang pada zaman Nero kota Laodikia mengalami gempa bumi yang dahsyat (tahun 60 atau 61).
Keempat, adanya penganiayaan pada 1:9; 2:10, 3; 3:10 adalah cocok dengan zaman Domitianus.  Setelah pembakaran kota Roma, Nero mengkambing hitamkan orang Kristen, sehingga orang Kristen dianiaya dengan kejam, tetapi penganiayaan yang diceritakan dalam kitab Wahyu bukan model penganiayaan yang dilakukan oleh Nero karena penganiayaan Nero hanya di Roma saja, sedangkan dalam kitab Wahyu terjadi sampai di Asia Kecil.  Kaisar Domitianus mewajibkan setiap orang harus menyembah kaisar.  Orang Kristen yang tidak siap menyembah kaisar dianiaya di setiap tempat (Ibid).
Menurut Handbook to the Bible, “Kitab Wahyu ditulis sekitar tahun 90-95 M, walaupun ada yang mengatakan lebih awal lagi.” (Handbook, 730).

Penerima Kitab Wahyu
Alamat kitab Wahyu seperti yang tertera pada 1:4 adalah jemaat-jemaat yang ada di Propinsi Asia Kecil dalam kerajaan Roma bagian Barat Turki masa kini.  Sejak tahun 900 BC orang Yunani sudah merantau ke Propinsi Asia dan membangun kota-kota yang termashyur (Scheunemann, Berita Kitab Wahyu, 20).
Secara khusus kitab ini ditulis kepada tujuh jemaat tertentu di tujuh kota di Asia Kecil (1:11).  Jarak antara tujuh kota itu sekitar 50-80 Km.  Di setiap tujuh kota itu terdapat Kantor Pos besar untuk wilayah Propinsi Asia bagian Barat Tengah.  Secara umum, sebagai bagian dari Alkitab, kitab Wahyu juga ditulis untuk setiap orang Kristen (2:7, 17, 29, dst) (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 5).
Tempat Penulisan Kitab Wahyu
Kesaksian Tertullianus mengatakan bahwa pada permulaan masa penganiayaan kaisar Domitianus, baik keluarga Tuhan Yesus maupun saksi mata terakhir yang masih hidup ialah Rasul Yohanes yang dibawa ke Roma atas perintah Domitianus.  Setelah Yohanes disiksa, dia dibuang ke Pulau Patmos (Scheunemann,

Berita Kitab Wahyu, 20).
Billy Graham juga menuliskan bahwa Yohanes adalah tahanan politik Roma yang dibuang ke pulau dekat pantai Asia Minor (Turki).  Di sana ia bekerja sebagai pekerja tambang, yaitu membawa pecahan-pecahan batu granit dari karang ke galangan kapal di bawah benteng Romawi.  Yohanes dibuang ke pulau Patmos yang berbatu dan berukuran panjang 16 Km dan lebar kurang lebih 10 KM (Graham, Derap Kuda yang Mendekat, 1 dan 6).
Kesaksian tersebut adalah sesuai dengan pernyataan Yohanes sendiri pada 1:9, “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.”  Patmos adalah salah satu pulau di kepulauan Dodekanese terletak kurang lebih 55 Km Barat Daya dari tepi pantai Asia Kecil.  Dari Efesus, Yohanes dibuang ke Patmos selama beberapa tahun (kira-kira tahun 95) dan di situlah Yohanes menulis kitab Wahyu.  Sekarang Patmos termasuk wilayah Yunani (Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2, 207).

Gaya Penulisan Kitab Wahyu
Penulisan kitab Wahyu berbeda dengan penulisan Injil Yohanes dan ketiga kitab Yohanes lainnya.  Di sini Dionysius salah memahami tentang tata bahasa yang dipakai oleh Rasul Yohanes menulis kitab Wahyu.
Nama kitab Wahyu berasal dari kata pertama naskah kitab Wahyu ialah “apokalypsis” yang berarti penyataan atau yang tidak terselubung lagi atau wahyu.  Kata “apokalypsis” adalah istilah yang khas Perjanjian Baru.  Kata ini dipakai dalam lima pengertian:
Pertama, dipakai untuk penyataan kehendak Tuhan dalam kehidupan seorang Kristen supaya ia tahu langkah mana yang patut diambilnya.  Paulus ke Yerusalem karena “apokalypsis” Allah (Gal. 2:2).
Kedua, dipakai untuk penyataan kebenaran Allah kepada manusia, seperti pernyataan Rasul Paulus dalam Galatia 1:12.
Ketiga, dipakai untuk penyataan rahasia-rahasia Allah, khususnya rahasia Tuhan menjadi Manusia dalam inkarnasi Tuhan Yesus (Roma 16:25).
Keempat, dipakai untuk penyataan kuasa dan kekudusan Allah pada hari penghukuman Allah (Roma 2:5).
Kelima, dipakai untuk penyataan kedatangan Tuhan Yesus dalam kemuliaan yang disambut oleh orang yang diampuni dosa-dosanya sebagai apokalypsis pujian dan kemuliaan (1Ptr. 1:7), kasih karunia (1Ptr. 4:13) (Scheunemann, Berita Kitab Wahyu, 17-18).
Kitab Wahyu bersifat “apokalypsis” yang memiliki empat gaya kepenulisan, yaitu penglihatan, perumpamaan, pelambang, dan dialog (Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab: Kitab Wahyu, 29).
Billy Graham mengakui bahwa Yohanes menulis kitab Wahyu dalam gaya bahasa puitis tertentu yang dikenal sebagai bahasa apokalyptik.  Penulis apokalyptik seperti Yohanes adalah penulis yang menggunakan gambaran dan lambang yang hidup untuk berbicara tentang penghakiman Tuhan dan akhir zaman.  Beberapa bagian dari Perjanjian Lama, seperti Yehezkiel dan Daniel mempergunakan bahasa apokalyptik.  Sebagai seorang apokalyptis, Yohanes memusatkan perhatiannya pada satu tema yang menggemparkan: Akhir dari sejarah manusia dan permulaan zaman Yesus Kristus yang mulia.  Karena itu pesannya selalu merupakan peringatan dan pengharapan, yaitu peringatan akan penghakiman yang akan datang dan pengharapan akan kemenangan Kristus yang tak dapat dielakkan atas kejahatan dan berdirinya kerajaanNya yang abadi (Graham, Derap Kuda yang Mendekat, 10-12).

Pendekatan Penafsiran Kitab Wahyu
Cara menafsir kitab Wahyu tergantung pada pendekatan seseorang.  Berikut ini ada empat cara penafsiran kitab Wahyu:
Pertama, Pendekatan Preterist.  Golongan preterist beranggapan bahwa sebagian besar kitab ini sudah digenapi dalam sejarah gereja abad pertama.  Menurut mereka seluruh kitab Wahyu hanya menceritakan keadaan umat Allah pada zaman kekaisaran Romawi saja.  Segala nubuatan yang besar dalam kitab Wahyu telah digenapi dengan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi.  Kebanyakan penafsir modern memakai pendekatan preterist.  Kesulitan bagi mereka adalah menafsir kemenangan total yang dituliskan pada pasal 18-22, karena tidak ada kemenangan yang seperti ini yang pernah terjadi pada zaman kekaisaran Romawi.
Kedua, Pendekatan Historis.  Golongan ini berpendapat bahwa kitab Wahyu itu suatu nubuatan kejadian-kejadian penting dalam sejarah dari zaman rasul-rasul sampai kepada akhir zaman.  Menurut mereka bahwa kitab Wahyu merupakan nubuatan yang menguraikan sejarah Eropa Barat sampai kedatangan Tuhan Yesus pada hari kiamat.  Banyak orang yang memakai pendekatan ini, tetapi tafsiran mereka tidak menyatu.
Ketiga, Pendekatan Idealis.  Golongan ini berpendapat bahwa kitab Wahyu tidak melukiskan peristiwa-peristiwa sejarah, melainkan membentangkan kenyataan-kenyataan rohani dengan kiasan dan ibarat.  Menurutnya kitab Wahyu tidak menceritakan kelakuan atau peristiwa,melainkan hanya menguraikan prinsip-prinsip yang bersifat teologis.
Keempat, Pendekatan Futuris.  Golongan futuris beranggapan bahwa sebagian besar kitab Wahyu memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman.  Menurut pendekatan ini, pasal 1-3 menceritakan mengenai zaman penulis dan pasal 4-22 merupakan nubuatan mengenai akhir zaman (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 10-12 dan J.S. Baxter, Menggali Isi Alkitab: Roma sampai Wahyu, 213-214).
Morris dan Mounce menghargai keempat pendekatan tersebut.  Menurut mereka setiap pendekatan masing-masing memunyai kekuatan dan kelemahan.  Dan kita harus belajar dari hasil penafsiran mereka.  Golongan Preterist dan Historis mengingatkan kita bahwa kitab Wahyu memunyai akar dalam sejarah dan latar belakang pembaca mula-mula amat penting dalam proses penafsiran.  Dari golongan Futuris mengingatkan kita bahwa kegenapan utama dari pasal 4-22 harus terjadi pada akhir zaman.  Dan golongan Idealis juga mengingatkan kita bahwa prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam kitab Wahyu sungguh berlaku sepanjang sejarah manusia.  Hagelberg setuju dengan Morris dan Mounce, tetapi akhirnya Hagelberg lebih setuju dengan Pendekatan Futuris sebagai patokan untuk menjaga kesatuan struktur kitab Wahyu (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 12-13).
Para penafsir kitab Wahyu yang awal, seperti Justinus Martyr, Irenius, dan Hippolytus menulis bahwa kitab Wahyu menubuatkan kerajaan seribu tahun secara harafiah.  Setelah kerajaan seribu tahun, ada kebangkitan umum, penghukuman, dan pembaharuan langit dan bumi.
Di wilayah Alexandria, bapa-bapa gereja, seperti Origen mengembangkan metode yang disebut metode spiritual atau allegoris.  Metode Origen tidak memperhatikan kebenaran harafiah, tetapi yang dipentingkan ialah kiasan (figuratif) atau selalu merohanikan sesuatu.  Agustinus meneruskan perkembangan metode allegoris.  Selama seribu tahun bagi metode allegoris merupakan pendekatan yang biasa.  Metode allegoris erat hubungannya dengan pendekatan golongan Idealis.
Pada abad XII, Joachim seorang Katolik Italia menolak tafsiran allegoris yang beranggapan bahwa zaman ini adalah zaman kerajaan seribu tahun yang disebutkan pada pasal 20.  Menurut Joachim, kerajaan seribu tahun belum dimulai.  Menurut Hagelberg, ada empat prinsip penafsiran kitab Wahyu yang dapat menjadi pegangan: 1) Berdasarkan konteks dan struktur.  2) Penafsiran yang mempertimbangkan latarbelakang si penulis dan pembaca mula-mula.  3) Penafsiran yang cenderung menerima arti biasa (harafiah), kecuali ada alasan kuat yang menuntut arti kiasan.  4) Penafsiran secara komprehensif (menyeluruh), yaitu penafsiran yang mempertimbangkan seluruh ajaran Alkitab (Ibid, 13-14).

Ringkasan Kitab Wahyu
Bagian pertama: pasal 1 menyatakan “siapakah Tuhan Yesus?”
Bagian kedua: pasal 2-3 tentang tujuh surat yang menuntut penerapan dan menjanjikan hadiah.
Bagian ketiga: pasal 4-22 tentang kedatangan dan kemenangan Tuhan Yesus yang akan mengalahkan setiap musuh dan membagikan hadiah (Ibid, 26).
 
Garis-Garis Besar Kitab Wahyu
Masing-masing penafsir membuat garis besar kitab Wahyu sesuai dengan asumsinya dan pendekatannya.  Dalam penafsiran ini penulis memakai garis besar kitab Wahyu seperti yang dibuat oleh Dave Hagelberg karena cukup praktis dan sederhana untuk dapat memahami kitab Wahyu secara komprehensif.

I.    Bagian Pertama: “... apa yang telah kaulihat ...”, 1:1-20.
A.    Pembukaan, 1:1-8.
   1.    Judul dan kata pengantar, 1:1-3.
   2.    Salam, 1:4-8.
B.    Penglihatan Yohanes, 1:9-20.
   1.    Latarbelakang dari penglihatan, 1:9-11.
   2.    Penglihatannya sendiri, 1:12-20.

II.    Bagian Kedua: “... apa yang terjadi sekarang ...”, 2:1-3:22.
A.    Surat kepada Jemaat di Efesus, 2:1-7.
B.    Surat kepada Jemaat di Smirna, 2:8-11.
C.    Surat kepada Jemaat di Pergamus, 2:12-17.
D.    Surat kepada Jemaat di Tiatira, 2:18-29.
E.    Surat kepada Jemaat di Sardis, 3:1-6.
F.    Surat kepada Jemaat di Filadelfia, 3:7-13.
G.    Surat kepada Jemaat di Laodikia, 3:14-22.

III.    Bagian Ketiga: “... apa yang akan terjadi sesudah ini ...”, 4:1-22:21.
A.    Visi ruangan takhta sebagai pendahuluan, 4:1-5:14.
   1.    Peralihan, 4:1-2.
   2.    Takhta dan sekelilingnya, 4:3-11.
   3.    Gulungan kitab dan Anak Domba, 5:1-7.
   4.    Pujian kepada Dia yang mengambil gulungan kitab, 5:8-14.
B.    Masa kesengsaraan, 6:1-20:3.
1.    Ketujuh Meterai atau Segel, 6:1-8:6.
     a.    Meterai pertama, 6:1-2.
     b.    Meterai kedua, 6:3-4.
     c.    Meterai ketiga, 6:5-6.
     d.    Meterai keempat, 6:7-8.
     e.    Meterai kelima, 6:9-11.
     f.    Meterai keenam, 6:12-17.
Tambahan Pertama    : 144.000 orang dimeteraikan, 7:1-8.
Tambahan Kedua    : Orang banyak ... yang keluar dari kesusahan besar, 7:9-17.
     g.    Meterai ketujuh, 8:1-6.
2.    Ketujuh Sangkakala, 8:7-11:19.
     a.    Keempat Sangkakala yang pertama, 8:7-12.
     b.    Ketiga Sangkakala terakhir, 8:13-11:19.
                   1)    Sangkakala kelima, 8:13-9:12.
                   2)    Sangkakala keenam, 9:13-21.
Tambahan Ketiga    : Gulungan kitab, 10:1-11.
Tambahan Keempat    : Dua Saksi, 11:1-14.
                    3)    Sangkakala ketujuh, 11:15-19.
Tambahan Kelima    : Seorang Perempuan, Anaknya, dan Naga, 12:1-17.
Tambahan keenam    : Binatang pertama, 13:1-10.
Tambahan ketujuh    : Binatang kedua, 13:11-18.
Tambahan kedelapan: 144.000 orang, 14:1-5.
Tambahan kesembilan: Tiga Malaikat, 14:6-13.
Tambahan kesepuluh: Tuaian Gandum di Bumi, 14:14-16.
Tambahan kesebelas    : Tuaian buah anggur di Bumi, 14:17-20.
3.    Ketujuh Cawan, 15:1-16:21.
    a.    Pendahuluan ketujuh Cawan, 15:1-16:1.
    b.    Ketujuh Cawan ditumpahkan, 16:2-21.
4.    Babel dikiaskan sebagai pelacur, 17:1-18.
5.    Kota Babel dimusnahkan, 18:1-24.
    a.    Pemusnahan Babel diberitakan, 18:1-8.
    b.    Tanggapan Dunia, 18:9-19.
c.    Babel tidak akan dipulihkan, 18:20-24.
    6.    Sukacita di Surga, 19:1-10.
    7.    Dia kembali, 19:11-16.
    8.    Dia mengalahkan binatang itu serta tentaranya, 19:17-21.
    9.    Iblis dikalahkan, 20:1-3.
C.    Kerajaan seribu tahun, 20:4-15.
    1.    Orang-orang yang memerintah dengan Tuhan Yesus selama 1.000 tahun, 20:4-6.
    2.    Pemberontakan terakhir, 20:7-10.
    3.    Penghakiman di Takhta Putih, 20:11-15.
D.    Langit dan Bumi baru, 21:1-22:5.
    1.    Pendahuluan: Yerusalem baru, 21:1-8.
    2.    Benteng dan pintu gerbang Yerusalem baru, 21:9-21.
    3.    Kemuliaan Yerusalem baru, 21:22-27.
    4.    Sungai kehidupan dan Hamba Anak Domba di Yerusalem baru, 22:1-5.
E.    Penjelasan akhir dari penglihatan, 22:6-17.

IV.    Bagian Penutup Kitab Wahyu, 22:18-21.


Bersambung..........



Note :
Jika ingin menggunakan artikel ini sebaiknya berhubungan ke Penulis via email : markuslingga@yahoo.com
Artikel ini terdiri dari beberapa bagian yang akan di publish di template yang berikut

by : Pdt Markus Lingga, MTh   Lihat Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Link Pdt. Markus Lingga, MTh
Link Pdt. Dr. John S. Dana, MTh
Link Pdt. Pither Pakka'

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top