Evangelism Unlimited

“INILAH TANDANYA BAGIMU” Lukas 2:8-20

“INILAH TANDANYA BAGIMU” Lukas 2:8-20

6 10 99
“INILAH TANDANYA BAGIMU” Lukas 2:8-20 10 6 99



“Mengaktualisasi identitas atau eksistensi diri” merupakan salah satu ciri perjuangan manusia di era globalisasi dewasa ini.  Setiap orang, semua kelompok, ingin tampil dengan “tanda”nya masing-masing, supaya dia tampil beda dari orang atau kelompok lain, dengan segala dampak lanjutan yang diharapkannya.

 Natal, Anak-Allah lahir, diberitakan mempunyai tanda khusus.  Para pencari Bayi Natal itu, pasti menemukan Dia, tanpa keliru, jika mereka mengikuti “tanda” yang diberitahukan Malaekat kepada mereka.  Dan apabila para peraya Natal itu telah kembali dari menemui Dia, mereka juga mempunyai tanda khusus, yang sebelumnya tidak ada pada diri mereka.

“Tanda pemiskinan diri”

 “Bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”, ayat 12, merupakan ungkapan yang dipilih oleh Lukas untuk menyatakan bagaimana Yesus, Allah sejati itu, meninggalkan surga, rumah-Nya yang penuh kemuliaan, dikelilingi para mahluk surgawi, turun ke dunia, mengambil derajat rendah di tengah-tengah manusia. Dia yang dari kemuliaan turun kekehinaan, dari ketinggian turun ke kerendahan, agar supaya Dia dapat mengangkat semua manusia dari lumpur dosa, karena semua manusia telah berdosa, dan hanya dapat selamat melalui karya Natal itu, tidak peduli bagaimana status sosial dan ekonomi seseorang dalam dunia ini. Dia menegakkan satu panji kehidupan yang mulia yaitu kerelaan berkorban untuk orang lain.  Dia datang ke sisi orang yang akan ditolong-Nya dan menyamakan diri-Nya dengan mereka, karena hanya dengan cara itu manusia dapat memahami dan menerima uluran tangan penyelamatan-Nya.

“Tanda Kesurgawian”

Tanda itu dijelaskan dengan kata-kata yang jelas: “tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan Malaekat itu sejumlah besar bala tentara surga” dalam ayat 13.  Lukas, yang menujukan Injil ini pertama kali kepada orang-orang Yunani, merasa sangat perlu mencatat laporan tersebut.  Untuk memberitahukan satu kepastian bahwa Yesus melebihi Zeus, yang hanya turun dari bukit Olympus, untuk memasuki kehidupan manusia, sedangkan Yesus turun dari surga.  Dia lahir, hidup, mati, sebagai manusia, karena Dia mengambil rupa manusia, tetapi sesungguhnya Dia adalah Firman dan Firman itu adalah Allah. Dia bukan saja datang dari surga, tetapi Dia memang Raja surga, dan karena itu hanya Dialah yang dapat membawa manusia ke surga.  Kalau para Malaekat dan bala tentara surga mengabdi kepada-Nya, hal itu lebih perlu lagi kepada manusia yang telah ditebus-Nya.  Bagi nalar dan penglihatan manusia, penampakan tanda kesurgawian-Nya, merupakan sesuatu yang sangat tiba-tiba.  Tidak direncanakan oleh dan diluar jangkauan pengaturan manusia.  Sepenuh-penuhnya rencana Allah sendiri.  Rencana untuk menyelamatkan manusia.  Untuk itu, tanda kesurgawian itu dinampakkan.  Mata manusia diisinkan menatap, walaupun hanya untuk sementara dan terbatas, tetapi hal itu sudah cukup bagi kepentingan manusia.  Merupakan demonstrasi karya Allah, supaya manusia diyakinkan akan keberkuasaan-Nya untuk menyelamatkan.

“Tanda Kegenapan Janji”

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud,” ayat 11, adalah merupakan inti berita para Malaekat itu.  Kata “telah” menunjukkan bahwa Dia pernah “belum” lahir, setelah lama direncanakan dan diumumkan akan kelahiran-Nya.  Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, kelahiran-Nya telah dijanjikan.  Berulang-ulang dalam diri dan melalui berita para Nabi Perjanjian Lama, janji itu ditegaskan.   Sejarah telah bergulir selama ribuan tahun, namun janji itu belum mewujud.  Pengalaman umat Tuhan  khususnya, dan manusia pada umumnya, sarat dengan fenomena dimana menurut pertimbangan manusia, penggenapan janji itu dengan segera, sangat diperlukan, untuk menyelesaikan berbagai kemelut yang terjadi, terutama kemelut yang disebabkan oleh karena semakin merambahnya kuasa dosa di bumi ini.  Sampai-sampai orang yang kurang iman, mulai meragukan kesetiaan Allah terhadap penggenapan janji datanganya “keturunan perempuan” itu untuk meremukkan “kepala ular” itu.  Di tengah-tengah keraguan tersebut, “Tiba-tiba berdirilah seorang malaekat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka”, ayat 9, dengan berita yang jelas: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat”.   Dia yang dulu belum datang, kini telah datang.  Janji yang dulu belum terwujud, kini telah tergenapi.  Tak satupun janji Tuhan yang tidak tergenapi pada waktu yang Tuhan rencanakan.  Janji Tuhan dapat terjadi dalam hidup Anda, bagaimanapun keadaan Anda, jika Anda menyerahkan pengaturan hidup Anda sepenuhnya kepada Dia.  Sementara Anda tidak melihat tanda-tanda penggenapan itu, bahkan mungkin keadaan di sekitar Anda menunjukkan betapa jauhnya Tuhan dari hidup Anda, justeru tangan-Nya sedang memegang Anda melalui berbagai keadaan itu.  Dia yang lahir itu, adalah Juruselamat, Kristus, Tuhan.  Dipercayai atau tidak, ditolak atau diterima, Dia tetap adalah Juruselamat, Kristus dan Tuhan.  Sikap manusia, sikap Anda kepada-Nya, tidak akan mengurangi keberadaan-Nya, tetapi justeru keberadaan Anda ditentukan oleh sikap Anda kepada-Nya.  Bagi ”mu” berarti harus ada respons pribadi setiap orang, termasuk Anda kepada-Nya.  Dia lahir untuk setiap orang, untuk menjadi Juruselamat, Kristus dan Tuhannya.  Akan tetapi keselamatan setiap orang terjadi jika seseorang menerima Dia sebagai Juruselamatnya, satu-satunya.  Dan setelah itu orang yang telah ditebus-Nya itu, perlu menyerahkan dirinya untuk dikuasai dan dirajai oleh Kristus, maka setiap saat akan nampak kuasa Ketuhanan-Nya dalam setiap pengalaman hidupnya.

Tanda-tanda di atas adalah “Tanda” Yesus Kristus, inti Natal itu.  Lukas juga menceriterakan “Tanda-Tanda” yang nyata dalam kehidupan orang yang telah menemui dan menerima Natal itu.

“Tanda komunikasi yang lancar”


“Gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain”, ayat 15.  Bisa saja mereka berbeda majikan, yaitu pemilik domba yang mereka gembalakan;  Mungkin saja pendapatan mereka tidak sama, dan perlakukan majikan yang mereka terima berbeda.  Sifat dan pembawaan merekapun pasti mempunyai ciri sendiri-sendiri.  Tetapi di hadapan berita Natal itu, mereka mengintegrasikan diri satu dengan yang lain.  Komunikasi, keterbukaan, terbangun di antara mereka, dan pada saat yang sama runtuhlah semua tembok pemisah, dan hancurlah dinding-dinding kebekuan sikap mereka terhadap satu dengan yang lain. Natal, tidak saja menghubungkan hati Allah dengan hati manusia, tetapi juga menghubungeratkan hati antar orang percaya.

“Tanda Saling Memotivasi Untuk Datang Kepada Tuhan”

Kebenaran ini dapat tersimpul dari ayat 15: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”  Yang berbicara kepada mereka adalah Malaekat, tetapi mereka telah saling menguatkan sehingga tidak ada lagi yang ragu bahwa apa yang disampaikan Malaekat itu, adalah berita dari Tuhan sendiri.  “Marilah kita pergi”, adalah ucapan yang merupakan pewujudan dari sikap hati untuk saling mendorong ke arah yang benar, ke arah ketaatan terhadap Firman Tuhan.  Saling mendorong dan mengajak seperti itu menjadi sangat perlu dilakukan apabila ada sesama yang berada dalam sikap enggan, bahkan tidak peduli.  Mereka insyaf bahwa mereka harus saling “menggembalakan” dalam arti saling melindungi, saling menguatkan dan saling mendorong untuk maju di dalam ketaatan kepada Tuhan.  Sayang sekali bahwa panoraman rohani seindah itu, kadang jarang kelihatan di dalam jemaat dan di dalam rumah tangga orang percaya, dewasa ini.

 “Tanda pemujian dan pemuliaan Allah”

 Lukas menggunakan bahasa yang indah untuk disimak dengan mengatakan: “Kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah”, ayat 20.  Profesi mereka tetap sama, tetapi junjungan mereka telah berobah.  Kata “sambil” bermakna pula bahwa kini cara kerja mereka telah berobah.  Dalam bekerja, mereka memuji dan memuliakan Allah, tidak peduli siapa majikan dan apapun bentuk pekerjaan itu, asal sesuai dengan kehendak Tuhan.  Bagi mereka, pekerjaannya dan cara kerjanya harus melahirkan pemujian dan pemuliaan Allah.  Mungkin Anda bertanya: “Apa yang menyebabkan mereka penuh dengan sukacita puji dan puja kepada Tuhan?”  Lukas menjawab: “Karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.”  Ya, terjadi kesinkronan antara berita Firman Tuhan yang mereka dengar dengan kenyataan hidup yang mereka saksikan.  Mereka menjumpai, bahwa Firman Tuhan itu memang amin dan ya, di dalam hidup mereka.  Tetapi kesinkronan dan keaminan seperti itu tidak akan mereka jumpai dan saksikan andaikata mereka tidak “pergi” untuk melakukan perintah Tuhan kepada mereka.  Pujian dan pujaan yang tidak bersumber dari pengalaman keindahan dan kegenapan Firman Tuhan di dalam kehidupan, bisa saja marak dan berapi-api pada satu saat, tetapi akan segera padam dengan sendirinya, tatkala terguyur oleh “hujan lebat”, tatkala tertimpa oleh “angin kencang” dan tatkala terlanda oleh “air bah.”


“Tanda Pemberitaan”

 “Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.  Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka,” ayat 17-18.  Dua hal yang membuat kita dapat mengatakan bahwa para gembala itu telah menjadi pendengar yang baik terhadap Firman Tuhan.  Yang pertama adalah karena mereka melakukan apa yang diperintah di dalam Firman yang disampaikan kepada mereka.  Yang kedua, karena mereka memberitakan pula kepada orang lain sesuai yang dikatakan kepada mereka.  Penerimaan mereka akan Firman Tuhan, melalui pendengaran, sesuai atau sebanding dengan pemberitaan mereka kepada orang lain.  Mereka menerapkan “Fair Play” atau “tindakan yang adil” justeru untuk hal yang sangat menentukan kehidupan manusia dalam kekekalan.  Apakah “berita kebenaran yang Anda sampaikan kepada orang lain” sebanyak atau sesuai dengan “berita kebenaran yang Anda telah dengarkan melalui Firman Tuhan?”  

“Apakah Tanda Anda?”


 Tidak lama lagi suasana perayaan Natal akan kita tinggalkan, bersamaan dengan datangnya tahun yang baru.  Tanda-tanda perayaan Natal kita—berupa pakaian baru, pesta, pentas, lagu-lagu, hiasan-hiasan khusus, dan lain-lain—akan hilang.  Akan tetapi para gembala, peraya Natal pertama itu, sejak menemui dan menerima “Anak” Natal itu, tetap memiliki “Tanda Natal” dalam hidup mereka, karena “Tanda Natal” mereka tidak bersifat upacara, bukan bersifat tindakan musiman, melainkan kehidupan mereka sendiri.  Ya, kehidupan yang lebih bermakna bagi sesamanya seiman, kehidupan komunikatif disertai usaha dalam kuasa Tuhan untuk menghancurkan berbagai hambatan hubungan antara mereka dengan orang lain, kehidupan yang menjadi api yang menghidupan orang lain yang hampir padam—bukan justeru memadamkan yang sedang menyala--, kehidupan yang dipersembahkan dalam puji dan puja kepada Tuhan, dan kehidupan yang bersaksi tentang kuasa penyelamatan Tuhan Yesus.

Selamat bernatal!!    


by : Pdt. Dr. John S. Dana, M.Th   Lihat Profile Penulis


Baik Untuk Dibaca
Pilihan Reaksi Kita Terhadap Natal
Memahami Tugas yang Layak
Berpuasa Yang Alkitabiah
Pengorbanan Yang Memerdekakan

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top