Evangelism Unlimited

Peranan KAUM PRIA Dalam Pertumbuhan Jemaat

Peranan KAUM PRIA Dalam Pertumbuhan Jemaat

6 10 99
Peranan KAUM PRIA Dalam Pertumbuhan Jemaat 10 6 99

PENDAHULUAN

                  Pada masa kini, kelompok-kelompok dalam jemaat yang telah terbentuk dan yang telah aktif bergerak dengan baik, pada umumnya, adalah Kaum Pelayan (Gembala, Guru Injil, Majelis), Kaum Wanita, Kaum Muda dan Sekolah Minggu/Remaja.  Banyak karya nyata dan membangun yang telah dihasilkan oleh unit-unit jemaat tersebut, yang merupakan andil besar bagi pertumbuhan jemaat.  Capaian/hasil-hasil itu menjadi “meterai” Ilahi bahwa Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja, memperkenankan kehadiran unit-unit tersebut dalam jemaat.

          Akan tetapi ada satu kelompok/unit jemaat yang belum banyak ditampilkan, paling tidak dalam lingkungan Gereja kita, yaitu “KAUM PRIA. “   Pada hal kelompok tersebut tidak kalah besar potensinya bagi pengembangan jemaat.  DR. H. Kraemer mengatakan: “Kita selalu mengartikan secara axiomatis bahwa dalam istilah kaum awam itu, laki-laki dan perempuan adalah sama-sama termasuk.” ( Theologia Kaum Awam, Jakarta: BPK, Tahun 1981, hal. 51 ).

          Oleh karena itu penentuan pokok bahasan dalam tulisan ini, menunjukkan adanya kiat yang kuat dari kita  untuk mengoreksi penganaktirian Kaum Pria dalam jemaat, dan apabila kiat ini diejawantah atau dilakukan di dalam setiap jemaat GEREJA KIBAID, maka hal ini merupakan satu terobosan baru yang perlu dicatat dalam lembaran sejarah Gereja kita.



PENGERTIAN TENTANG JEMAAT YANG BERTUMBUH

          Jika kegiatan Kaum Pria diadakan hanya untuk menambah daftar kegiatan dalam jemaat, maka tindakan tersebut tidak akan memenuhi tujuannya yang utama.  Sama seperti semua unit kegiatan dalam jemaat, kegiatan Kaum Pria harus diarahkan kepada pencapaian pertumbuhan jemaat.  Oleh karena itu, kita harus memahami secara benar, arti/makna jemaat yang bertumbuh, menurut konsep Alkitab.

          Jemaat yang bertumbuh adalah jemaat yang:

A.       Kehidupannya mengalami peningkatan MUTU ROHANI (Kualitas)
           Peningkatan mutu rohani jemaat harus nampak dalam kehidupan yang :
          1.       Sinambung-meningkat dalam proses kekudusan, I Kor 1:1-8
                    a.       Ay 2   :  “dikuduskan” (secara status/posisi di hadapan Tuhan)
                    b.       Ay  2: “dipanggil menjadi orang kudus” (secara pengalaman/ sifat dalam jemaat dan masyarakat)
                    c.        Ay 8   :  “tak bercacat pada hari Kristus” (secara posisi dan  pengalaman yang paripurna, di dalam sorga)
          2.       Meningkat secara total dalam Ibadah Kristiawi, sesuai Kis. 2:41-47
                    a.       Dalam Pengajaran (doktrin), ay 42a
                    b.       Dalam Persekutuan (sosialisasi), ay 42b
                    c.        Dalam Penyembahan (hubungan vertikal), ay 42c, 46d
                    d.       Dalam Pelayanan (hubungan horizontal), ay 44,45

B.       Mengalami peningkatan dalam MUTU ORGANISASI
          Peningkatan mutu organisasi jemaat nampak dalam hal:
          1.       Struktur organisasinya tepat ( lengkap, dapat bergerak, sesuai prinsip Alkitab )
          2.       Personalia organisasinya tersedia dalam jumlah yang cukup dan bergerak dinamis-positif
          3.       Ketrampilan personalia organisasinya cukup dan terus dikembangkan secara terstruktur (pengembangan sumber daya manusia = SDM)
          4.       Penyelenggaraan manajemen jemaat berjalan lancar, tepat dan bermutu (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan  dan penilaian)     

C.       Mengalami peningkatan JUMLAH (kuantitas)
          Pertumbuhan jemaat dalam jumlah, meliputi:
          1.       Peningkatan jumlah warga jemaat, Kis 2:47
          2.       Peningkatan jumlah jemaat lokal, Kis 1:8
          3.       Peningkatan personil pelayan, II Tim 2:2
          4.       Peningkatan jumlah dukungan keuangan dan fasilitas pelayanan,  Pil 4:14-18


KAUM PRIA DAN KAUM WANITA DALAM SEJARAH

          Terlihat jelas dalam Alkitab bahwa dalam masyarakat umat Tuhan (bangsa Israel), peranan yang paling dominan adalah peranan “Kaum Pria”.  Terjadi, baik dalam rumah tangga, dalam masyarakat luas, maupun di dalam bidang pemerintahan dan organisasi masyarakat.  Hal itu terutama disebabkan oleh kepentingan penyataan Allah sebagai “Bapa” yang sedang dalam proses pada waktu itu.

          Dalam masyarakat bangsa-bangsa di sekitar umat Tuhan, walaupun yang lebih menonjol adalah peranan kaum pria tetapi peranan wanita diberi pula tempat, walaupun peranan keduanya berbeda dalam jumlah dan bentuknya.  Ada kelompok wanita di sekitar setiap isteri pembesar yang bertugas untuk mengurus semua kepentingan sang isteri pejabat tersebut, tetapi sering juga dimintai pendapat dalam pengambilan keputusan-keputusan penting.  Keadaan semacam itu terjadi di Mesir, Babilonia dan Romawi.

          Dalam dunia/kebudayaan Yunani, keadaan seperti itu kurang nampak.  Dalam kehidupan agama, memang ada “Dewi” yang disembah, dan hadir sejumlah besar “imam-imam”wanita, tetapi tugas mereka hanyalah sebagai “pelayan” laki-laki untuk menyenangkan sang “Dewi” pujaan mereka.  Ada konsep dan praktek bahwa yang diartikan sebagai warga negara yang memunyai hak-hak sah dalam masyarakat hanyalah laki-laki.  Kebudayaan seperti itulah yang menguasai dunia tatkala Gereja Yesus Kristus mulai hadir dan berkembang di atas dunia.

          Pada masa kini telah terjadi banyak perobahan.  Peningkatan peran kaum wanita telah mencapai titik paling tinggi dalam sejarah dunia.  Tetapi walaupun demikian peran kaum pria masih tetap lebih dominan dan lebih menonjol.  Sebagai bahagian dari perjuangan untuk menyatakan kemuliaan penebusan di dalam Kristus, maka Gereja-Gereja berupaya mengedepankan kaum wanita dalam jemaat lebih dari kaum pria.

          Sikap Gereja seperti itu disebabkan oleh beberapa faktor.  Upaya “perlindungan” terhadap kaum wanita dapat dikatakan sebagai faktor pertama.  Wanita dianggap sebagai  pihak yang lebih lemah.  Mereka perlu diperlengkapi terus menerus supaya mampu mempertahan diri terhadap setiap ujian kehidupan.  Mengoreksi perlakuan dunia pada umumnya terhadap kaum wanita, dapat merupakan faktor kedua, dimana kaum wanita selalu berada pada posisi terbelakang.  Hal itu sejalan dengan perjuangan Rasul Paulus sebagaimana nampak dalam banyak surat-surat jemaat yang ditulisnya.  Mengikuti gerakan Emansipasi/perjuangan persamaan hak wanita, pada umumnya dianggap sebagai faktor yang mendorong gereja-gereja memajukan kelompok/kegiatan kaum wanita, walaupun gereja tidak bermaksud menyetujui dan menerapkan semua prinsip perjuangan kaum emansipator, yang jelas-jelas ada yang bertentangan dengan Firman Tuhan.  Kaum wanita yang pada umumnya bergerak secara individu dalam kurungan ruang rumah tangganya masing-masing perlu diberi kesempatan untuk keluar dari kungkungan ketersendirian mereka supaya dapat bertemu, berbagi rasa, dan bertukar pengalaman dengan sesamanya, dan dengan demikian mereka memasuki suatu proses sosialisasi, suatu hal yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan yang utuh, itulah sebagai faktor kelima.


PANDANGAN ALKITAB TENTANG KAUM PRIA
          Di dalam Alkitab, “Bapak-Bapak” dan “Bapak” tertulis sebanyak 1634 kali; 1215 kali di dalam PL dan 419 kali di dalam PB.  Bandingkan dengan “Ibu-Ibu” dan “Ibu” yang tertulis hanya sebanyak 305 kali dalam seluruh Alkitab; 220 kali dalam PL sedangkan 85 kali di dalam PB.
          Fungsi Kaum Pria secara teologis dapat ditarik dari paling kurang 10 makna atau arti yang diberikan oleh Alkitab terhadap (kaum) Bapak.

          Bapak adalah ayah (orangtua) dari satu pribadi;  Bapak adalah kepala dan atau pembentuk rumah tangga, satu kelompok, satu keluarga dan satu suku/marga;  Bapak adalah nenek moyang atau leluhur;  Bapak adalah pemula dan atau model dari satu kelompok dan profesi;  Bapak adalah penghasil dan pembangkit;  Bapak adalah sumber kebajikan dan perlindungan;  Bapak adalah alamat penghargaan dan penghormatan;  Bapak adalah pemimpin/kepala;  Bapak adalah seorang yang menanamkan semangatnya kepada seseorang;  Bapak adalah gelar penghormatan.

          Tujuan penyajian makna/fungsi (kaum) Bapak oleh Alkitab adalah supaya fungsi-fungsi tersebut dapat terlaksana atau tercapai di dalam kehidupan setiap Kaum Pria, secara kelompok maupun perorangan.  Jemaat berkewajiban memberikan pelayanan kepada mereka supaya mereka mampu menunaikan semua tugas panggilan tersebut, secara utuh dan memuliakan Tuhan.  Kaum Pria harus menunaikan tugasnya sebagai “bayangan” dari ke “Bapak”an Allah atas ciptaan-Nya, baik manusia maupun alam semesta.



POTENSI KAUM PRIA DALAM JEMAAT

          Andil terbesar bagi terjadinya pertumbuhan dunia di semua sektor, disumbangkan oleh Kaum Pria, tanpa kita menutup mata terhadap semakin meningkatnya peran kaum wanita.  Satu pertanyaan besar terentang di depan kita: “Apakah sebabnya kaum yang lebih dahulu diciptakan oleh Tuhan itu, lebih dimanfaatkan oleh dunia daripada oleh gereja/jemaat?”

          Kunci keberhasilan dunia dalam pemanfaatan kaum pria tersebut, terletak dalam pemahamannya akan potensi kaum pria lalu memanfaatkan potensi tersebut seluas-luasnya, walaupun tidak jarang dengan cara mengeksploitasi baik secara halus maupun secara kasar.  Gereja dan jemaat harus memahami akan potensi Kaum Pria dalam jemaat, karena dengan pemahaman itu, akan menjadi suatu daya dorong yang kuat untuk melayani dan membina mereka secara lebih intensif supaya berdaya-guna di dalam perluasan Kerajaan Allah di dunia ini.  Kaum Pria mampunyai paling kurang empat potensi penting.

          Yang pertama, adalah potensi hubungan keluar (extern).  Ia memiliki potensi ini disebabkan terutama oleh karena tugas/kerja kesehariannya di luar rumah, di tengah-tengah lingkungan ramai/banyak orang, sehingga secara otomatis dia telah membangun hubungan dengan banyak orang, baik rakyat biasa, baik kelompok usaha/kegiatan/profesi tertentu, maupun dengan pemimpin organisasi pemerintahan dan swasta.  Hubungan-hubungan yang telah tercipta tersebut, tidak selamanya terbangun secara harmonis, tetapi hal semacam itu berada diluar pagar kewajaran, dan karena itu harus semakin menunjukkan perlunya pembinaan khusus terhadap Kaum Pria.  Dengan potensi hubungan extern tersebut, maka jika jemaat dilukiskan sebagai pasukan prajurit Kristus, maka Kaum Pria merupakan prajurit di barisan terdepan;  jika jemaat dilihat sebagai penjala manusia, maka Kaum Pria adalah jaring yang jangkauannya paling jauh dan luas;  jika jemaat adalah menara jaga Kristus di dunia ini, maka Kaum Pria adalah menara jaga yang jarak pandang dan pengaruh suaranya paling jauh.  Betapa mereka perlu diperlengkapi supaya potensi hubngan luar mereka mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pertumbuhan jemaat.

          Yang kedua, adalah potensi ketrampilan dan pengalaman  Sebagai Kepala dan pelindung keluarga, kaum pria telah dilengkapi dengan naluri alamiah oleh Tuhan untuk mengupayakan diri lebih mampu dan lebih berpengalaman.  Termasuk upaya memunyai pendidikan yang baik dan memadai.  Dan Tuhan melangkapi dia dengan keadaan, kesempatan dan kemampuan serta daya fisik untuk mencapainya.  Sejarah dan kehidupan sehari-hari di seluruh dunia menjadi saksi kebenaran ini, paling tidak sampai sekarang.   Karena keahlian, ketrampilan dan pengalaman yang dimilikinya, maka kaum pria memainkan peranan penting di berbagai sektor.  Di sana mereka menjadi panutan, dihormati, dijadikan gantungan nasib banyak orang, ya, mereka menjadi pelindung dan pemimpin.  Mereka mampu menciptakan terobosan-terobosan untuk menembus benteng-benteng penghalang pelaksanaan secara sukses tugas mereka.  Mereka menjadi alamat kekaguman banyak orang.  Sebenarnya jemaat memiliki mereka sebagai “tenaga siap pakai” .  Kegiatan Kaum Pria dalam jemaat akan menjadi tempat dan kesempatan di mana mereka perlu didorong dan diberi motivasi yang benar serta dilengkapi dengan cara dan etika kerja yang berorientasi kebenaran Firman Tuhan, dan dengan demikian, keahlian, ketrampilan dan pengalaman “dunia” mereka dapat “disucikan” supaya sesuai untuk dimanfaatkan di “tanah suci” Tuhan:  Tubuh Kristus.

          Yang ketiga, adalah potensi Kepemimpinan   Pentingnya peran kepemimpinan dalam pertumbuhan gereja dan jemaat, dibuktikan dalam strategi kerja Tuhan Yesus.  Jauh sebelum Dia menggulirkan lembaga jemaat-Nya, Dia terlebih dahulu menyiapkan beberapa lapis kepemimpinan: ada kelompok 12, kelompok 70, kelompok 120 dan kelompok 500 orang percaya.  Roh Kudus memimpin sehingga terdapat 4 kitab dalam PB yang mencatat semua proses pembelajaran yang Tuhan Yesus terapkan dalam menyiapkan kader pemimpin, 1 kitab yang mencatat sejarah sepakterjang, baik tantangan-tantangan maupun keberhasilan-keberhasilan para kader terdidik tersebut.

          Satu pilar/tiang jemaat adalah rumah tangga warga jemaat, yang dikomandani oleh kepala rumah tangga: Bapak.  Jika jemaat ingin membangun dirinya secara teguh, hal itu dapat dicapai dengan memperkokoh kehidupan rumah tangga warga jemaat.  Walaupun “kebaktian rumah tangga” memunyai peran dalam upaya itu, tetapi strategi yang paling jitu dan berakibat tetap ialah melalui “pembentukan” komandan rumah tangga.  Anak-anak dari keluarga yang dikomandani secara benar oleh seorang Bapak yang terbina baik dalam jemaat, akan menjadi generasi kepemimpinan berikutnya, yang akan menjalarkan kehidupan yang benar di dalam rumah tangga mereka, jemaat dan masyarakat.

          Yang keempat, adalah potensi psikologis.  Atas penentuan Tuhan, maka kaum pria lebih mudah didengar, diterima dan diikuti oleh orang lain.  Sulit membayangkan akibat positif yang dihasilkan apabila jemaat “mengutus” kaum pria yang dibina secara khusus dan baik, ke dalam masyarakat.  Walaupun Iblis akan “menempatkan” lebih banyak kaum pria miliknya ke dalam lingkungan yang sama, tetapi walaupun hanya satu lilin kecil dari kehidupan kaum pria jemaat, yang menyalah dengan baik, telah cukup untuk mengusir kegelapan dari kehidupan setiap orang yang hatinya “ditarik” oleh Bapa yang di sorga.

          Ada dua kebutuhan psikologis paling mendasar dari manusia yaitu rasa aman dan rasa berharga.  Rasa aman lebih dibutuhkan oleh kaum wanita sedang rasa berharga lebih dibutuhkan oleh kaum pria.  Keahlian, ketrampilan dan pengalaman yang dimiliki oleh kaum pria membawa mereka mendapat posisi-posisi di berbagai sektor kehidupan di dalam masyarakat dengan tingkatan yang berbeda-beda.  Dengan berperan dalam masyarakat, melalui bidang tugas yang diembannya, maka akibat pertama dan terutama yang didapatkannya ialah dia merasa dihargai.  Merasa bahwa kehadirannya diperlukan oleh pihak atau orang lain.  Tatkala ia pulang ke rumah membawa hasil dari karyanya, maka dia semakin bangga karena dia berguna kepada warga rumah tangganya.  Lalu mereka masuk ke dalam jemaat, mengikuti kebaktian atau acara jemaat lainnya.  Di sana, di jemaat, mereka menjadi pihak yang duduk untuk mendengar dan menerima wejangan, serta menonton segelintir pengerja yang menjadi alamat tatapan mata, serta tempat bergantung warga jemaat, untuk mendapat berkat rohani.  Di dalam masyarakat dan rumah tangganya, Kaum Pria/Laki-laki itu merasa dibutuhlkan, dan karena itu merasa dihargai, tetapi di dalam jemaat, dia menemukan keadaan yang sangat lain.  Dimana dia merasa tidak berguna, tidak berharga, menjadi pihak yang hanya menggantungkan dirinya kepada pihak lain, karena dia merasa, tidak tahu apa-apa.  Maka pada situasi demikian, Kaum Pria menarik diri dari jemaat, mula-mula sesekali, tetapi lama-kelamaan bisa “menghilang”.  Pada dewasa ini, yang hadir dalam setiap kebaktian kristen, terbanyak adalah kaum wanita. Pernah ada yang mengatakan bahwa perbandingan jumlah kehadiran kaum wanita dengan kaum pria dalam kebaktian kristen adalah 3:1.  Apa sebabnya?  Apakah memang wanita lebih rohani sedangkan laki-laki lebih duniawi?  Seorang pakar dalam penggembalaan menyatakan bahwa penyebabnya ialah karena kebutuhan akan keberhargaan tidak diperoleh dalam jemaat oleh kaum pria.  Jelaslah bahwa pembinaan Kaum Pria supaya mereka didaya-fungsikan di dalam jemaat, sangat penting bagi pertumbuhan jemaat.  Semakin mereka berperan dalam kegiatan-pelayanan jemaat,  semakin mereka insyaf akan keperluan kerohanian mereka di hadapan Tuhan.


RANCANGAN PENDIDIKAN KAUM PRIA DALAM JEMAAT

          Bahagian ini merupakan inti dari seluruh diskusi kita.  Pemfungsian Kaum Pria sebagaimana yang terdapat di dalam Alkitab, pemanfaatan dan pengembangan potensi-potensi mereka, hanya mungkin tercapai jika mereka dididik dengan baik, yaitu dengan bahan/materi pelajaran yang tepat.  Diskusi ini tidak bermaksud menyajikan satu bahan pendidikan yang lengkap dan siap diterapkan, karena tugas untuk itu, harus dikerjakan oleh satu team khusus, melalui satu proses kerja yang membutuhkan waktu, karena harus ditunjang dengan data yang diperoleh dari penelitian lapangan dan banyak diskusi dengan para gembala jemaat.

          Ada berapa arahan umum yang perlu diutarakan.  Yang pertama adalah sehubungan dengan strategi persekutuan/pendidikan Kaum Pria.  Dalam setiap kegiatan yang diadakan, harus menerapkan efisiensi waktu.  Hal ini sangat perlu diperhatikan karena Kaum Pria, “ditunggu” oleh berbagai tugas dan tanggungjawab di rumah tangga dan di dalam masyarakat.  Materi yang disajikan harus dapat menyentuh atau memenuhi kebutuhan mereka, baik yang mereka sadari maupun yang tidak.  Termasuk dalam kaitan ini adalah kebutuhan rohani dan kebutuhan dalam hubungan rumah tangga dan karier mereka.  Mereka akan tidak tertarik kepada pelajaran yang tidak ada relevansinya dengan pergumulan mereka sehari-hari. Disamping itu, harus menerapkan CBPA (Cara Belajar Pria Aktif=sebagai pengaplikasian dari strategi pendidikan nasional yaitu CBSA yaitu Cara Belajar Siswa Aktif).  Metode “khotbah” terus menerus akan cepat membosankan mereka.  Yang kedua adalah sehubungan dengan kurikulumnya.  Seperti telah dikatakan di atas, materi pendidikan harus dirancang oleh satu team ahli, dari kalagan pengerja GEREJA KIBAID sendiri.  Tidak perlu menunggu siapnya materi secara lengkap baru memulai kegiatan Kaum Pria.  Team dapat memberikan satu panduan dasar/umum lebih dahulu, sehingga dengan panduan itu kegiatan Kaum Pria segera dapat dimulai di dalam setiap jemaat; sebaiknya ditetapkan satu tanggal/hari dimana kegiatan Kaum Pria dimulai secara serentak di seluruh jemaat GEREJA KIBAID.  Sambil jalan, Team terus bekerja untuk meningkatkan pelaksanaan tugas mereka.  Rasanya baik untuk mempertimbangkan penyediaan dua versi bahan pendidikan, yang satu untuk jemaat-jemaat di desa dan yang satu untuk jemaat-jemaat di perkotaan.  Langkah ini perlu dipertimbangkan karena keadaan dan kebutuhan serta tantangan Kaum Pria di desa dan di kota sangat berbeda.  Beberapa hal yang perlu saya sarankan untuk dipertimbangkan dimasukkan dalam bahan yang disediakan adalah: Pembangunan rumah tangga kristen yang berkualitas, pendalaman Firman Tuhan, Kehidupan/Etika dan tanggungjawab orang kristen, pelayanan kristen, penginjilan, konseling ( baik sebagai konseli maupun sebagai konselor ), dan ketrampilan praktis.  Yang ketiga adalah sehubungan dengan “pengajar”.  Tentu perlu adanya rencana penataran kepada para pengerja supaya mereka dapat berdiskusi bersama dan dengan demikian mendapat pengarahan bagaimana melaksanakan pendidikan secara praktis, baik dan berbobot.  Mungkin lebih tepat jika penataran itu diadakan per klasis atau wilayah.


KESIMPULAN/PENUTUP

          Warga jemaat dari kelompok Kaum Pria,  adalah bahagian tak terpisahkan dari satu jemaat;  merupakan bahagian yang di dalam dan melaluinya pertumbuhan jemaat harus terjadi dan nampak.  Mereka perlu meningkat dalam kehidupan rohani dan di dalam ibadah kristiawi.  Banyak dimensi organisatoris dan manajemen jemaat dapat dikembangkan melalui peran-serta mereka.  Yang semuanya itu, akan membawa kepada pertumbuhan kualitas dan kuantitas jemaat.  Tuhan Yesus menghendaki supaya unit/kelompok Kaum Pria dihadirkan dan dikembangkan dalam jemaat, terutama karena mereka harus dibina untuk menjadi gambaran yang kelihatan dari Bapa yang tidak kelihatan, di sorga.  Pembinaan secara intensif dan terencana terhadap kelompok ini semakin terasa keperluannya karena mereka adalah ujung tombak dari jemaat di dalam masyarakat, yang mengandung makna ganda yaitu jemaat dapat menjangkau lebih banyak jiwa melalui mereka, di satu sisi, tetapi di sisi lain mereka menjadi alamat paling dekat dari segala godaan dan upaya pengrusakan jemaat oleh kuasa musuh Injil.  Oleh karena itu, kegiatan/pelayanan terhadap Kaum Pria harus diramu secara seksama, melalui suatu proses penyediaan dan penyajian yang ditangani secara profesional dan bukan seperti “meninju angin”.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk me-nyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap
perbuatan baik”

II Timotius 3:16-17.

By:  Pdt. Dr. John S.Dana, M.Th

Bacaan berhubungan
Suatu Pemikiran Tentang Perlunya PKP
PKP Longori 2012-2016

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top