Evangelism Unlimited

SOTERIOLOGI

SOTERIOLOGI

6 10 99
SOTERIOLOGI 10 6 99
Pengertian

Menurut Louis Berkhof, soteriologi berkaitan dengan pelimpahan berkat keselamatan kepada orang berdosa dan pembaharuan yang dialaminya berkenaan dengan kehendak Ilahi agar mereka menikmati hidup dalam persekutuan yg akrab dengan Allah. 
Soteriologi berhubungan dengan pemulihan, pembaharuan, dan penebusan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Sejak kejatuhan manusia, maka hubungan dengan Allah menjadi putus (manusia mati secara rohani) (Kej. 3).
Soteriologi adalah pemulihan hubungan yg telah putus itu melalui penebusan.
Keselamatan orang berdosa sepenuhnya tergantung pada karya Allah yg diketahui oleh Allah sejak kekal, maka wajarlah jika dikatakan soteriologi adalah perundingan damai sejak kekal dan perjanjian anugerah, di mana dibuat rencana penebusan bagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa.
Menurut Rasul Paulus bahwa keselamatan itu adalah kasih karunia Allah yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus.Keselamatan bukan hasil usaha atau hasil pekerjaan manusia, tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8-9).
Keselamatan diibaratkan dengan HADIAH. 
Itu berarti keselamatan adalah kelepasan dari hukuman kekal melalui karya penebusan Yesus Kristus yang diterima manusia melalui iman.
Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya, upah yang seharusnya diterima manusia adalah maut (Rm. 6:23).

Apakah arti Iman yang menyelamatkan? 
Iman yang menyelamatkan adalah:
-       Menerima Yesus sebagai Tuhan yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati (Rm. 10:9-10).
 -       Mengandalkan dan percaya (trust) Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat.
 -      Iman yang dibuktikan dalam perbuatan/tindakan yang nyata (Yak. 2:17-19 bnd Ef. 2:10).


Urutan Keselamatan
Menurut Rasul Paulus pada Rm. 8:29-30:

a.        Dipilih dari semula (bnd. Ef. 1:4, dipilih di dalam Yesus sebelum dunia dijadikan).  Berkhof menyebutnya sebagai perundingan sejak kekal.
b.        Ditentukan juga dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya.
c.        Dipanggil (Kristus memanggil melalui firmanNya, Rm. 10:17 dan oleh pekerjaan Roh Kudus, Mat. 10:20; Yoh. 15:26; 16:8).
d.   Dibenarkan (justifikasi) melalui iman (Abraham dibenarkan, Kej. 15:6; Yak. 2:23). Di sini terjadi pertobatan, pengudusan, kelahiran kembali, dan pemeteraian oleh Roh Kudus (bnd. Ef. 1:13-14).
Kita dibenarkan karena kebenaran Yesus diberikan kepada kita (ada istilah Imputasi, 2Kor. 5:21).
e.     Dimuliakan (glorifikasi).
Semuanya adalah pekerjaan Allah semata-mata, kecuali pada poin 4 ada respon manusia dalam bentuk iman (percaya), sehingga dibenarkan.

Keselamatan adalah Anugerah Allah
Kata Anugerah dalam PL dipakai kata chen (adj. Chanun) dari akar kata chanan.
Kata bendanya dpt berarti Kebaikan atau keindahan, tetapi yg paling umum berarti kemurnian hati atau kemauan baik.Allah dalam PL berulang kali memberikan kebaikan atau kemurnian hatiNya kepada manusia, contoh kepada Nuh (Kej. 6:9).Kebaikan hati Allah yg diterima manusia di sini mengandung berkat.Anugerah itu adalah suatu prinsip yg aktif dan bekerja yg menyatakan dirinya sendiri dalam tindakan yang membawa hasil (Kej. 6:9; 19:19; Est. 2:7, dst).
Pengertian dasar Anugerah adalah bahwa berkat-berkat itu dicurahkan secara melimpah dan diberikan dengan cuma-cuma tanpa memperhitungkan jasa apapun.Contoh: Abraham mendapat anugerah bukan karena ada jasanya.
Kata Anugerah dalam PB, dipakai kata charis yang artinya bersukacita.
Pertama-tama memunyai makna suatu penampilan yg menyenangkan, keindahan, disetujui, dan diterima (Luk. 4:22).Arti kata yang lebih tepat adalah maksud atau kehendak yang baik (Luk. 1:30, diterjemahkan dengan kasih karunia).
Kata itu menyebabkan emosi yang terbangkit dalam hati mereka yang menerima kebaikan, sehingga menimbulkan rasa syukur (Luk. 1:46).Itu berarti orang yg telah menerima anugerah keselamatan harus berbuat baik sebagai tanda rasa syukurnya kepada Allah (Ef. 2:10).
Kata charis dipakai dalam PB menyatakan pekerjaan Allah yg tidak membutuhkan jasa manusia, tetapi dimungkinkan melalui Roh Kudus. 
Anugerah adalah kasih Allah kepada manusia secara cuma-cuma, berdaulat, tidak berubah, ketika manusia masih berdosa.
Anugerah itu diungkapkan dalam pengampunan dosa dan pembebasan dari hukuman dosa (Rm. 6:23).Anugerah itu berhubungan dengan kasih karunia Allah yg berbeda  dengan keadilanNya.Inilah anugerah yang menyelamatkan dalam arti yang paling mendasar.
Anugerah ini juga yang merupakan penyebab utama dari tujuan Allah memilih manusia, untuk membenarkan orang berdosa dan pembaharuan rohani.
Kristus sebagai Pengantara adalah bukti hidup dari anugerah Allah (Yoh. 1:14).Hukum diberikan kepada Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus (Yoh. 1:17; Ef. 2:7).Kata anugerah juga menunjuk kepada pengampunan yang menyebabkan kita memperoleh pembenaran, sebuah pengampunan yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah (Rm. 3:24).Allah telah memberikan anugerahNya kepada dunia ini, barangsiapa yang menerimanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yg kekal (Yoh. 3:16).

Istilah Anugerah itu, ada yg bersifat umum dan ada yg khusus.
-Anugerah umum adalah kasih Allah yang berlaku universal bagi manusia seperti Allah memberikan matahari dan hujan kepada semua manusia.
-Anugerah khusus adalah kasih Allah melalui Yesus Kristus yang diberikan kepada semua yang dipilihNya dari semula.
Menurut Shedd bahwa orang berdosa tidak menolak anugerah Allah karena kerja Roh Kudus.Dalam keadilan Allah, semua manusia harus dihukum, tetapi jika ada yg memperoleh keselamatan itu adalah anugerah Allah secara khusus, bukan hasil usaha atau pekerjaan atau keinginan manusia.Karena itu dikatakan jangan ada yg memegahkan diri (Ef. 2:9).

Panggilan
Ada 2 jenis Panggilan:

a.       Panggilan Umum, yaitu panggilan melalui wahyu umum tentang hukum (bukan Injil), untuk mengakui, takut, dan menghormati Allah sebagai Pencipta.Panggilan ini tidak berkaitan dengan Kristus, karenanya tidak membawa kepada keselamatan.
b.        Panggilan Eksternal (vocatio verbalis), yaitu tindakan Allah yg  penuh kasih di mana Ia memanggil orang berdosa untuk menerima keselamatan yg ditawarkan oleh Tuhan Yesus (Mat. 11:28).
Vocatio verbalis adalah panggilan Ilahi kepada manusia melalui pemberitaan Firman Tuhan.
Panggilan Eksternal biasa juga disebut panggilan yang tidak disadari, yaitu tawaran keselamatan dalam Kristus bagi orang berdosa, bersamaan dengan panggilan yg tulus untuk menerima Kristus melalui iman, dengan tujuan memperoleh pengampunan dosa dan hidup kekal.

Ciri Khas Panggilan Eksternal:
a.        Bersifat umum dan universal, artinya panggilan Injil itu umum dan universal (Yes.  55:1, Ayo, semua haus .....; Mat. 11:28,  ... Kamu semua ...).
Panggilan Injil tidak terbatas kepada orang pilihan saja, Why. 22:17.
b.        Panggilan itu sifatnya bona fide (panggilan dalam iman yang baik atau panggilan yg sungguh-sungguh serius).
Ketika Allah memanggil orang berdosa untuk menerima Kristus dengan iman, Ia sungguh-sungguh menghendakinya dan ketika Ia berjanji bahwa mereka yg bertobat dan percaya akan menerima hidup kekal, maka janji itu dapat dipercaya.
Panggilan ini merupakan sarana untuk membawa orang berdosa untuk bertobat atau sarana untuk mengumpulkan orang pilihanNya dari segala bangsa.
Panggilan seperti ini harus universal sebab tak seorang pun dapat menunjuk yg mana orang pilihan.
Tentu saja hasil akhirnya hanya orang pilihan saja yang menerima Kristus dengan iman.
Kristus mati bagi orang berdosa dan Ia menawarkan  keselamatan bagi mereka yg sungguh-sungguh bertobat dan menerima Dia dengan iman yg hidup.

Kelahiran Kembali
Istilah kelahiran kembali dipakai kata palingenesia (Ibr.) pada  Mat. 19:28 dan Tit. 3:5 (Penciptaan kembali) adalah menunjuk awal mula hidup yg baru bagi orang Kristen secara individual.
Dipakai kata gennao (Yun.) yg dapat berarti memperanakkan, memperanakkan kembali, mengandung, atau melahirkan atau menghasilkan hidup yg baru.
Pemikiran tentang menghasilkan hidup yg baru, maka dipakai kata ktizo (Yun.) artinya menciptakan, Ef. 2:10. Hasil dari ciptaan ini disebut kaine ktisis (ciptaan baru) atau kainos anthropos (manusia baru).
Implikasinya:
a        Kelahiran kembali adalah karya kreatif Allah (manusia sepenuhnya pasif).
b        Karya kreatif ini menghasilkan hidup yg baru atau ciptaan baru (jaminan kehidupan dari kematian).
c        Kelahiran kembali menanamkan prinsip-prinsip hidup yg baru dalam jiwa yg terjadi seketika.

Pertobatan
PL memakai 2 kata tentang pertobatan:
 a.    Nacham, artinya adanya perasaan yg dalam, baik perasaan menderita (bentuk niphal) atau perasaan terlepas (bentuk piel).Dalam bentuk niphal, kata nacham artinya menyesal yang disertai dengan perubahan tindakan. Dalam benti piel, kata nacham artinya menghibur (diri sendiri).
b. Shubh, yang berarti berbalik, berbalik kembali atau kembali.
 Shubh (Pertobatan) artinya kembali kepada Dia dari dosa yg telah memisahkan manusia dengan Tuhan.  Contoh “anak hilang yang kembali kepada bapanya” Luk. 15:11-32.

Ada 3 kata yg dipakai dalam PB:
a.  Metanoia, kata ini yg umum dipakai untuk pertobatan dalam PB.
Trench mengatakan, kata itu berarti:
        Mengetahui sesudahnya.
        Berubah pikiran sebagai hasil dari pengetahuan yg diperoleh itu.
        Menyesali jalan yang semula diambil.
        Suatu tingkah laku untuk masa depan.
Walden menyimpulkan bahwa kata metanoia artinya suatu perubahan secara menyeluruh dalam pikiran, yg dalam kepenuhannya menjadi suatu kelahiran kembali secara intelektual dan moral.
b. Epistrophe, artinya berbalik lagi atau berbalik kembali.  Kata ini menunjukkan langkah terakhir dalam pertobatan.
 Pertobatan yg benar dilahirkan dari sukacita Ilahi dan kemudian nampak dalam suatu hidup yg menyembah kepada Allah (2Kor. 7:10).
 Pertobatan adalah perubahan cara berpikir, perubahan pada keinginan dan perbuatan, dan pengakuan akan arah yg sebelumnya salah ke arah yg benar.
c. Metameleia (bentuk kata kerjanya metamelomai), secara harafiah berarti menjadikan perhatian kepada seseorang sesudahnya.
 Kata itu dipakai pada Mat. 21:29, 32; 27:3; 2Kor. 7:10; Ibr. 7:21, yang menekankan elemen penyesalan akan dosa, walaupun tidak selalu menunjukkan penyesalan akan dosa yang sesungguhnya.
Perlunya Pertobatan:
Mat. 18:3, “... Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat ..... Kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”


Iman
Iman berkaitan dengan pertobatan dan pembenaran.
Iman menurut PL:
Hab. 2:4, kata “percayanya”  dari kata emunah, arti dasarnya adalah Kesetiaan.
Kata yg paling sering dipakai dalam PL untuk “percaya” adalah he’emin dalam bentuk niphalnya artinya menjadfi teguh, mapan, dan setia.  Dalam bentuk niphilnya artinya dianggap mapan, dianggap benar, atau percaya. Kata yg ketiga yg dipakai dalam PL, yaitu kata chasah yg berarti menyembunyikan diri sendiri atau mencari perlindungan.
Orang yg beriman artinya orang yg menaruh harapannya untuk masa sekarang dan masa yg akan datang kepada Tuhan.
Iman menurut PB:
Kata yg dipakai adalah pistis (bentuk kata kerja pisteuien) artinya:
        Suatu kepastian berdasarkan kepercayaan dlm diri seseorang dan pengakuannya.
        Kepercayaan yg lebih dari pengetahuan intelektual bahwa seseorang patut disandari.
Di dalamnya terkandung arti adanya hubungan pribadi antara orang itu dengan objek yg dipercayainya, yg muncul dari diri sendiri untuk mau bersandar pd objek itu.
Pada umumnya orang Yunani tidak memakai kata pistis, dalam kaitannya dengan kepercayaan kepada dewa-dewa mereka, sebab mereka menganggap dewa-dewa itu adalah musuh manusia yang menjadi objek rasa takut, tetapi bukan objek rasa percaya.
Dewa-dewa harus dijauhi karena musuh manusia, tetapi pistis dalam Alkitab artinya manusia harus dekat dan bersandar sepenuhnya kepada yg dipercayai, kata yg dipakai dalam bhs Ing. Trust.
Iman Kristen bukan sekedar percaya atau tahu  atau takut dan gentar kepada Tuhan, tetapi iman adalah tindakan mempercayakan diri atau bergantung sepenuhnya kepadaNya.
Setan-setan pun percaya bahwa hanya ada satu Allah, tetapi mereka tidak “beriman” untuk memperoleh keselamatan (Yak. 2:19).
Kepercayaan setan-setan hanya sebatas pengetahuan secara intelektual, tetapi tidak sampai kepada tindakan penyerahan diri yg disertai dengan ketaatan dan kesetiaan.
Elemen-Elemen Iman:
a        Elemen intelektual (Notitia).  Iman yg benar muncul dari pengetahuan yg pasti (ada pemahaman yg jelas).
b        Elemen emosional (Asensus).  Harus ada rasa tertarik yg semakin mendalam kepada objek yg dipercayai.
c        Elemen keputusan.  Harus ada tindakan nyata menerima, mengakui, dan mempercayai Tuhan satu-satunya Juruselamat.
Jaminan dari Iman:
a        Adanya kepastian keselamatan,
        Yoh. 6:47,  barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yg kekal.
        Yoh. 10:28-29, mereka yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa sampai selama-lamanya.
        Yoh. 3:16, setiap orang percaya kepadaNya tidak binasa...
b.  Ada jaminan perlindungan secara rohani, Yoh. 10:29, dan tak seorangpun tidak dapat merebut dari tanganNya.  Bandingkan 1Yoh. 5:18.
c.  Ada jaminan pengabulan doa, 1Yoh. 5:14.

Pembenaran
        Dalam kaitannya dengan keselamatan, pembenaran lebih dahulu daripada pengudusan.
        Pembenaran mengubah status manusia di hadirat Allah.  Allah sendiri yg membenarkan Abraham yg berdosa, ketika Abraham percaya (Rm. 4:3).
        Ketika kita percaya, Allah sendiri mengubah status kita dari posisi salah (guilty) menjadi tidak bersalah di hadapanNya dan dari status budak dosa menjadi status anak.
        Iman adalah syarat yg harus ada dalam pembenaran (Kej. 15:6).  Allah memperhitungkan kebenaran Kristus kepada orang berdosa ketika seseorang beriman kepada Yesus.
        Pembenaran adalah tindakan yuridis Allah di mana Ia menetapkan, berdasarkan kebenaran Tuhan Yesus bahwa semua tuntutan hukum sudah dipenuhi bagi orang berdosa.
        Pembenaran terjadi sekali untuk selamanya.  Pembenaran tidak diulang dan bukan suatu proses.

Pengudusan
Istilah PL:
Dipakai kata qadash, kata bendanya qodesh dan kata sifatnya qadosh artinya menyucikan.
Kata qadash dari kata qad artinya memotong yg menunjuk kepada pengertian “pemisahan”.
Istilah PB:
Dipakai kata hagios artinya sama dengan qadosh artinya pemisahan.
Arti hagios:
        Memberikan kesucian kepada sesuatu (disucikan).
        Memisahkan dari yg biasa untuk tujuan kudus atau disisihkan untuk suatu jabatan tertentu.
Definisi Pengudusan:
Pengudusan adalah sebuah karya Allah dan manusia yg bergerak secara progresif yg menjadikan orang percaya lambat laun dari hari demi hari semakin bebas dari dosa dan semakin serupa dgn Kristus dalam kehidupannya yg aktual.
Tahap Pengudusan:
a        Tahap Regenerasi (kelahiran kembali).  1Yoh. 3:9, orang yg sudah lahir kembali tidak terus menerus berbuat dosa lagi karena ada benih ilahi di dalamnya.  1Kor. 6:11 dikatakan bahwa pada saat seseorang dilahirkan baru, ia disucikan dan dibenarkan.
b        Tahap Proses Pengudusan.  Yg ditekankan di sini ialah “bertumbuh” dalam proses pengenalan akan kebenaran.
c        Tahap Glorification (Pemuliaan).  Tahap di mana orang percaya menyelesaikan proses pengudusannya melalui terminasi kematian atau melalui kedatangan Kristus kedua kali (Fil. 3:20-21).
Pengudusan sifatnya proses, sedangkan pembenaran hanya terjadi sekali saja.   Pembenaran mendahului dan merupakan dasar bagi pengudusan dalam perjanjian anugerah.

Ketekunan Orang-Orang Kudus
Doktrin ini menyatakan bahwa orang yg telah mengalami kelahiran baru dan dipanggil ke dalam anugerah, tidak akan jatuh dari anugerah tersebut, tetapi akan terus bertahan sampai akhirnya dan mereka diselamatkan, walaupun mungkin orang itu masih bisa berbuat dosa, tetapi tidak sepenuhnya jatuh dari kedudukan itu, sehingga gagal masuk ke dalam keselamatan kekal (bnd. 1Yoh. 5:16-17).
Agustinus berpendapat bahwa orang pilihan tidak akan jatuh atau terhilang, tetapi pada saat yg sama ia juga menganggap bahwa mungkin orang yg dilimpahi dengan hidup baru dan iman yg benar dapat tersingkir dari anugerah dan akhirnya menderita penghukuman kekal.
Berarti Agustinus tidak konsisten tentang doktrin ketekunan orang-orang percaya.
Ayat-ayat referensi yg mendukung teori ketekunan orang-orang percaya:
         1Yoh. 5:16-17, ada dosa yg tidak mendatangkan maut, menunjuk kepada dosa karena kelemahan orang-orang yang telah dilahirkan baru.
         Yoh. 10:27-29, mereka yg sudah mendapat hidup kekal tidak akan binasa sampai selama-lamanya.
         Rm. 11:29, Allah tidak menyesali kasih karuniaNya dan panggilanNya.
        2Tes. 3:3, Allah itu setia, Ia akan memelihara kamu terhadap yg jahat.
        2Tim. 1:12; 4:18, Tuhan berkuasa memeliharakan umatNya hingga hari Tuhan.
Beberapa bukti yg mendukung doktrin ketekunan orang-orang percaya:
      -  Doktrin Pemilihan, bahwa mereka yg termasuk bilangan orang pilihan pada akhirnya akan diselamatkan dan tidak akan kehilangan keselamatannya.
      - Doktrin Perjanjian Penebusan, bahwa Allah memberikan umatNya kepada AnakNya sebagai upah ketaatan Sang Anak.  Upah ini tidak tergantung pada kesetiaan manusia.
      -  Doktrin Kebaikan dan jasa Syafaat Kristus, bahwa Kristus terus melakukan syafaat bagi mereka yg diberikan BapaNya.  Doa syafaat Kristus selalu berharga dan membawa hasil (Yoh. 11:42; Ibr. 7:25).
      - Doktrin Karya Roh Kudus, bahwa  menurut Alkitab orang percaya sudah memiliki hidup kekal sejak kini melalui pekerjaan Roh Kudus (Yoh. 3:16; 6:47, dst).  Kalau hidup kekal itu bisa batal berarti  tidak kekal.
      -  Doktrin Jaminan Keselamatan, bahwa anugerah jaminan keselamatan itu hanya dapat dinikmati oleh mereka yg berdiri teguh pada keyakinan bahwa Tuhan akan menyempurnakan pekerjaan yg telah Ia mulai (Ibr. 3:14; 6:11; 2Ptr. 1:10).

Sumber:
Alkitab, Jakarta: LAI, 1997.
Louis Berkhof,  Teologi Sistematika: Doktrin Keselamatan.  Jakarta: LRII, 2002.
Daniel Lucas Lucito,  Catatan MK Doktrin Pembenaran & Pengudusan.  Bandung: STTB, 1996.
Henry C. Thiessen,  Teologi Sistematika.  Malang: Gandum Mas, 1995.

by : Pdt. Markus Lingga,M.Th  Lihat Profile Penulis


Link Menarik Lainnya
Pendidkan Seksualitas Yang Alkitabiah
1 Comments
Comments

  1. Hi colleagues, nice article and fastidious urging commented at this place, I am in fact enjoying by these. paypal account login

    BalasHapus

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top