Evangelism Unlimited

GEREJA YANG DIPERLENGKAPI DARI SORGA Kis 2:1-13

GEREJA YANG DIPERLENGKAPI DARI SORGA Kis 2:1-13

6 10 99
GEREJA YANG DIPERLENGKAPI DARI SORGA Kis 2:1-13 10 6 99

1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;

3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,

11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."

12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?"

13 Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."





1.  Pendahuluan

Gereja yang sehat adalah gereja yang dipersiapkan oleh Tuhan, hal itu tercatat dalam Kisah Rasul pasal 1.  Dalam pasal 2 ini kita diberitahu  bahwa gereja yang sehat adalah gereja yang diperlengkapi oleh Tuhan.  Tuhan Yesus sendiri yang memersiapkan mereka dalam pasal 1, sedangkan dalam pasal 2, Roh Kudus yang memerlengkapi mereka atas perintah Yesus Kristus.  Dalam pasal 1:4-8,  Tuhan Yesus menyuruh orang-orang percaya itu menanti janji Bapa, di dalam pasal 2, janji itu digenapi.  Mereka dipersiapkan supaya dapat diperlengkapi, dan mereka diperlengkapi supaya dapat diberdayakan.  Hal itu selalu menjadi prosedur kerja Tuhan di atas dunia ini melalui gerejaNya.

Pencurahan Roh Kudus merupakan penggenapan nubuat dan janji Tuhan Yesus dalam injil Yohanes 16:7-15.  Kehadiran Roh Kudus menjadi lanjutan dan pelaksana Visi dan Misi pelayanan Tuhan Yesus Kristus di dunia ini.  Roh Kudus menjadi penyataan Trinitas yang lebih memerdalam imanensi (kehadiran) Allah, karena oleh kehadiran Roh Kudus maka Allah itu tidak lagi terlalu jauh di atas kita (seperti tampak dalam PL), dan tidak lagi hanya berada bersama-sama dengan kita (Immanuel dalam keempat Injil), melainkan Dia berada di dalam kita.  Suatu penyataan Allah yang sungguh ajaib. Oleh kehadiran Roh Kudus maka terwujudlah nubuatan Yermia di abad 6 SM akan suatu era baru dalam rencana Allah yaitu kehadiran Perjanjian Baru dari Allah, yang sempurna. Perjanjian Torat yang telah Allah buat dengan umat Israel telah mereka ingkari,  tidak mereka taati.  Perjanjian baru yang dinubuatkan Yermia itu adalah Allah menaruh Taurat-Nya dalam batin manusia dan menuliskannya dalam hati mereka; Perjanjian Baru itu memungkikankan terwujudnya kebenaran bahwa orang percaya menjadi umat-Nya dan Dia menjadi Allah mereka, dalam makna yang sedalam-dalamnya, Yermia 31:31-33.

Dengan demikian pencurahan Roh Kudus merupakan suatu jaminan untuk semakin menyatakan mutu rohani komunitas Ilahi yaitu gereja-Nya di tengah-tengah dunia ini dan akan memungkinkan gereja itu berhasil dalam kehidupan kesaksian dan di dalam pelayanannya. Roh Kudus akan menginsafkan jemaat-Nya dan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; Ia akan menggerakkan manusia untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus; Ia juga akan menginsyafkan dunia mengenai penghakiman dan penghukuman penguasa dunia ini;  Ia akan memimpin gereja-Nya ke dalam seluruh kebenaran; Ia akan memberitakan kepada orang-orang percaya akan hal-hal yang akan datang.  Roh Kudus akan memuliakan Kristus.  Melalui Roh Kudus, maka surga dan terutama hati Allah terbuka bagi orang percaya dan dunia ini.  Suatu perlengkapan yang luar biasa!  Haleluyah.

Hari pencurahan Roh Kudus, banyak kali dibandingkan dengan peristiwa pembangunan menara babel atas kepemimpinan Nimrod dalam Kejadian psl 11.

Dalam pembangunan menara babel, manusia ingin membangun suatu menara raksasa yang sampai ke langit, bagi kebesaran nama manusia, untuk melawan Tuhan, terutama menghindarkan diri dari hukuman Tuhan seperti peristiwa air bah itu.  Dapat dikatakan suatu pembangunan budaya manusia tanpa Tuhan.  Suatu upaya untuk membangun kembali keadaan kejahatan manusia, yaitu manusia dan kejahatannya yang telah Tuhan hancurkan melalui air bah.  Melalui pembangunan menara Babel itu, manusia mau menyatakan protesnya atas tindakan kebencian Tuhan atas kejahatan manusia, dan mengungkapkan ketidaksetujuan Nimrod dan masyarakatnya atas penghukuman Tuhan melalui air bah.  Maka Tuhan mengacaukan dan menggagalkan pembangunan dan cita-cita manusia tersebut dengan mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak dapat lagi saling memahami.  Ya suatu kepemimpinan segaya Nimrod yang satanis harus dihancurkan oleh Tuhan.

Sedangkan dalam peristiwa Pentakosta Pemimpinnya adalah Tuhan Yesus melalui Roh Kudus.  Bukan untuk membangun kebudayaan manusia yang sesat yang tingginya sampai ke langit melainkan dengan kuasa yang dari surga yang melampaui langit itu.  Allah bertindak membangun satu budaya Ilahi di dalam dunia ini, untuk menghancurkan budaya yang satanis.  Manusia yang telah terpecah belah di antara satu dengan yang lain, bahkan terpecah dengan dirinya sendiri terutama terpecah dengan Penciptanya, disimbolkan dengan tidak saling memahami bahasanya, kini Allah bertindak untuk menyatukan kembali secara utuh melalui pemberian kuasa untuk saling memahami kembali bahasanya.  Melalui kuasa dan kemampuan pemahaman bahasa tersebut maka semua manusia di dunia ini, yang jumlahnya jauh lebih dahsyat banyaknya dibandingkan dengan yang ada pada peristiwa penggagalan pembangunan menara babel dapat mendengar dan memahami serta memberi respons terhadap Kabar Baik, Injil Yesus Kristus, yang berkuasa menyelamatkan manusia dari kejahatan dan dari kebinasaan dosa bahkan dijadikan penghuni surga mulia yamg melampaui ketinggian dan keagungan langit.

Menara Babel dibangun untuk memutuskan rantai hubungan dengan komunitas baru yang benar dengan jalan menghancurkan manusia milik Allah yaitu Nuh dan keturunannya yang benar di hadapan Tuhan dan yang membangun budaya yang berkenan kepada Tuhan.  Selanjutnya komunitas menara babel itu akan membangun suatu komunitas besar meliputi semua manusia di seluruh dunia yang tanpa Tuhan atau jika Tuhan ada akan dilawan dan ditentang segala tindakan dan pekerjaan-Nya.

Peristiwa Pentakosta memulai suatu komunitas Ilahi di atas dunia ini, yaitu pendirian dan pengembangan gereja, Tubuh Kristus yang anggota-anggotanya terdiri dari semua manusia yang bertobat dari dosa dan percaya serta menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya. Rancangan komunitas Ilahi itu telah dimulai segera setelah menara babel dihancurkan yaitu dengan pembentukan umat Israel melalui pemanggilan Abraham sebagai nenek moyang bangsa itu. 



2,   Bukti-bukti Perlengkapan dari Atas



Apakah ada bukti-buktinya bahwa ini benar2 perlengkapan dari surga?  Teks Kis 2:1-13 ini mencatat bukti-bukti tersebut.  Terdiri dari tiga aspek spiritual atau rohani yaitu, adanya tanda-tanda spiritual dari atas, membangkitkan pengalaman spiritual dalam hidup orang percaya dan membawa kesaksian spiritual di dalam masyarakat. Kiranya Roh Pentakosta itu menolong kita memahami dan menghayati sedalam-dalamnya aspek-aspek spiritual tersebut.



Bukti Pertama: Kehadiran tanda-tanda spiritual dari surga, ay 2-3

Lukas mencatat secara teliti dan tepat laporan nara sumbernya ketika menulis kitab ini dengan kalimat yang tegas “Sesuatu turun dari langit.”  Bagi orang-orang Yahudi semua fenomena yang bersangkut paut dengan langit musti agung, luar biasa dan berkaitan dengan ilahi.  Sehingga kata-kata “turun dari langit” berarti suatu yang datang dari ketinggian, melampaui alam dan manusia serta bernilai surgawi.

“Bunyi seperti tiupan angin keras” itulah yang disebut penulis kitab ini sesuatu yang turun dari langit.  Ada bunyi yang cukup keras dan bunyi itu seperti tiupan angin, tetapi jelas bukan angin, paling sedikit bukan angin biasa karena tidak terdengar dan tidak menimpa rumah-rumah, tanaman-tanaman di sekitarnya, melainkan hanya terjadi di dalam ruangan dimana 120 orang percaya itu berkumpul, yang oleh Brink dikatakan mungkin di salah satu serambi Bait Allah atau di rumah seorang saudara di dekat Bait Allah.  Kalau angin biasa pasti ketahuan dari arah mana datangnya karena sudah bertiup di tempat lain sebelum datang ke tempat itu.  Bunyi angin itu termasuk di dalam turun dari langit.  Jadi para pelapor yang ditanyai Lukas, memunyai kesan bahwa itu bukan angin alami melainkan angin dari langit, dari ketinggian, di luar nalar manusia, ya angin surgawi, angin ilahi, begitulah pemahaman para nara sumber Lukas.  Dan kita menilai bahwa mereka tidak salah dalam kesan seperti itu.  Angin keras, menunjukkan suatu kekuatan besar sekali karena kata yang digunakan Lukas sama dengan jika menyatakan kedahsyatan Tuhan.  Walaupun tiupan dan bunyi angin luar biasa itu sangat kuat dan dahsyat, tetapi terkontrol, mampu mengatur sasarannya, hal itu di jelaskan dalam kalimat “memenuhi seluruh rumah yang mereka tempati.” Tidak mengenai hanya sebahagian dan juga tidak sampai keluar dari rumah tempat berkumpul. Dahsyat seolah-olah sedahsyat Tuhan tetapi diatur oleh suatu otoritas yang lebih dahsyat dari angin itu.  Rumah itu dan orang-orang serta isi rumah itu tidak diterjang dan tidak diterbangkan sehingga kacau. Dalam Kis 16:23-26 kita baca tentang gempa bumi yang hebat yang terjadi hanya di penjara di mana Paulus dan Silas dipenjarakan di kota Filipi.  Semua pintu terbuka dan ikatan para nara pidana terlepas, tetapi tidak merobohkan gedung itu dan tidak menyebabkan para nara pidana melarikan diri.  Kekuatan gempa hebat yang terjadi itu adalah mujizat Tuhan, mujizat yang dahsyat, membebaskan tak dapat dilawan kekuatan apapun, akan tetapi terkontrol dan teratur, tidak menyebabkan kerusakan dan tidak ada yang melanggar hukum dengan melarikan diri.  Maka mudah disimpulkan tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah itu adalah dari atas, datang atas perbuatan Tuhan sendiri.

Dalam ayat 3 ditambahkan dua tanda lagi.  Yang pertama adalah “nampak lidah-lidah seperti nyala api.”  Dalam Alkitab kita kata lidah pertama kali dicatat di dalam kitab Kel 4:10.  Mengenai Musa dipanggil oleh Tuhan untuk melepaskan umat Israel dari Mesir dan memimpin umat Tuhan itu ke Kanaan.  Tugas itu tidak dapat diterima oleh Musa dengan alasan dia berat mulut dan berat lidah.  Benar sekali bahwa tugas itu memerlukan kemahiran berkata-kata dan kelincahan berdebat dan kesanggupan meyakinkan melalui dialog baik dengan Firaon maupun dengan umat Israel bahwa berita yang disampaikan Musa berasal dari Tuhan sehingga harus mereka taati.

Lebih hebat lagi keadaannya bahwa pemberitaan tentang Injil Yesus Kristus harus disampaikan pertama-tama oleh warga mula-mula jemaat Kristus itu.  Masyarakat yang harus dilepaskan dari perhambaan dosa dan harus dituntun ke surga oleh kuasa Injil itu meliputi semua manusia di dunia dalam berbagai benua, bangsa suku dan bahasa serta berbagai kebiasaan dan latar belakang budaya.  Penampakan tanda lidah-lidah itu memberi jaminan akan kesanggupan yang Tuhan berikan kepada orang-orang percaya untuk memberikan kesaksian yang jelas dan lengkap tentang Injil. Apalagi itu bukan lidah-lidah biasa, karena “seperti nyala api.”  Api selalu memunyai kesanggupan positif dan negatif.  Positif yaitu membersihkan, melindungi, membangun/membentuk sesuatu yang baru.  Fungsi negatifnya adalah menghancurkan, membunuh dan merusak. Penampakan lidah-lidah seperti nyala api pada peristiwa pentakosta itu adalah dalam fungsi positif api itu.  Dinyatakan dalam dua ungkapan.

 

1)          Bertebaran.


Lidah seperti nyala api itu diatur terbagi-bagi supaya dapat menjangkau, menemukan dan berada atas dan di dalam tiap-tiap 120 orang itu.  Terbagi-bagi bukan untuk perpecahan melainkan untuk meliputi serta menyatukan tiap-tiap pribadi itu.



2)          Hinggap pada mereka masing-masing.


Roh Kudus yang mendatangi mereka masing-masing selanjutnya berkedudukan atau bertempat tinggal di dalam tiap-tiap orang percaya itu, itulah yang diartikan dengan kata hinggap pada mereka masing-masing. Tidak lagi seperti dalam masa PL bahwa Roh itu datang dan pergi atas dan dari orang percaya.  Di era baru itu Roh Kudus berkedudukan dan menetap di atas dan di dalam setiap orang percaya dan di dalam persekutuan mereka. Betapa hebatnya potensi setiap anggota tubuh Kristus oleh pendiaman Roh Kudus itu, tentu mereka lebih dahsyat lagi di dalam status kesatuannya.  



Bukti kedua: Ada Pengalaman Spiritual




Bukti lain dari perlengkapan dari atas itu adalah para warga awal gereja itu mengalami pengalaman spiritual/rohani yang baru, ay 2-11, yang terdiri dari Dibaptis oleh Roh Kudus, ay 2-6;  Dipenuhi oleh Roh Kudus, ay 4a dan Diberi karunia Roh Kudus, ay 4b, 6, 8-11.



(1).  Dibaptis oleh Roh Kudus, 2-6

 Ketika Tuhan Yesus akan naik ke surga, Dia memberi perintah supaya murid-murid-Nya jangan tinggalkan Yerusalem.  Mereka harus menanti penggenapan Janji Bapa di Yerusalem dan janji itu adalah mereka akan dibaptiskan oleh Roh Kudus, Kis 1:4-5.  Tidak dapat diragukan lagi bahwa peristiwa Pentakosta merupakan penggenapan dari janji Bapa tersebut.

Apakah arti dari dibaptiskan oleh Roh Kudus itu? Rasul Paulus, atas Ilham Roh Kudus memberikan pengertian Ilahi akan arti dibaptiskan Roh Kudus dalam I Kor 12:13: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Baptisan Roh itu adalah karya Roh Kudus untuk memasukkan setiap orang percaya ke dalam Tubuh Kristus supaya mereka tidak menjadi orang-orang percaya yang berdiri sendiri atau terisolasi satu dengan yang lain, melainkan supaya mereka semuanya menjadi satu dalam satu tubuh yaitu Tubuh atau gereja Yesus Kristus yang meliputi semua umat percaya sungguh-sungguh dan lahir baru.  Baptisan Roh itu terjadi hanya satu kali di dalam kehidupan seorang anak Tuhan, dan hal itu terjadi segera setelah dia menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya dan dengan demikian mengalami kelahiran kembali.  Roh Kuduslah yang melakukan pembaptisan Roh tersebut, sehingga di dalam Alkitab tidak pernah diperintahkan kepada orang percaya untuk melakukannya. Baptisan Roh menentukan status keanggotaan kita dalam Tubuh Kristus yang universal dan tidak kelihatan itu, bukan menentukan sifat dan karya kita.

Peristiwa Pentakosta dalam Kis 2, oleh Dr Unger, disebut sebagai peristiwa kelahiran gereja karena pada saat itulah untuk pertama kalinya sepanjang sejarah dunia, orang-orang yang lahir baru karena beriman kepada Tuhan Yesus, diikat ke dalam satu kesatuan hidup secara rohani yaitu Gereja Yesus Kristus.  120 orang percaya dan 3000 petobat baru dalam peristiwa pentakosta itu dibaptiskan oleh Roh Kudus pada hari itu menjadi anggota-anggota yang disatukan dalam Tubuh atau gereja Yesus Kristus. Walaupun dalam Kis 2 itu kita tidak menjumpai kata dibaptiskan oleh Roh Kudus, tetapi begitu nyata dalam ayat-ayat tersebut tentang penyatuan semua orang percaya ke dalam Tubuh Kristus. Semua janji Tuhan pasti tergenapi, jadi mereka mengalami baptisan Roh Kudus sebagai penggenapan nubuatan atau janji Bapa yang disampaikan Tuhan Yesus di dalam 1:4-5. Mulai dari Kis 2: 41 sampai akhir kitab Kisah Rasul itu kita membaca tentang kesatuan semua orang percaya di dalam Tubuh Kristus sebagai meterai peristiwa baptisan Roh Kudus.



(2).  Dipenuhi Oleh Roh Kudus, 4a

 Baptisan dan kepenuhan Roh adalah dua pengalaman orang percaya yang berbeda.  Baptisan Roh terjadi pada awal menjadi orang percaya supaya dia menjadi anggota dalam Tubuh Kristus, sedangkan kepenuhan Roh terjadi dalam pengalamannya setelah menjadi bagian dari Tubuh Kristus. 

Apakah arti dari kepenuhan Roh? Kepenuhan Roh adalah karya Roh Kudus dimana Dia memerlengkapi orang percaya yang menyerahkan diri dengan sungguh-sungguh kepadaNya, dengan kuasa Ilahi untuk hidup dalam kepenuhan hidup Kristus sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kualitas serta kuantitas pelayanan orang percaya terasebut dengan tujuan untuk pengembangan kesaksian berita Injil dan pertumbuhan gereja-Nya.  Para Rasul dan lebih dari 108 orang percaya sebelum pentakosta demikian juga 3000 petobat baru dalam masa pentakosta itu, mengalami kepenuhan Roh Kudus sehingga menghasilkan kehidupan rohani mereka yang sungguh-sungguh sesuai kehendat Tuhan dan dengan demikian menyebabkan pengaruh pemberitaan Injil semakin meluas dan gereja Tuhan dipertumbuhan sampai ke ujung bumi.

Orang-orang percaya yang mengalami peristiwa pentakosta, mengalami kedua karya Roh itu yaitu dibaptiskan Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus.  Baptisan Roh memungkinkan mereka mengalami kepenuhan Roh sedangkan kepenuhan Roh memungkinkan mereka mengalami karunia-karunia Roh. 120 orang yang telah menerima Tuhan Yesus sebelum hari Pentakosta dan demikian juga orang-orang percaya dalam masa PL telah ada yang mengalami peristiwa kepenuhan Roh, tetapi 120 orang percaya itu baru mengalami baptisan Roh pada hari pentakosta,  Orang-orang percaya setelah hari pentakosta semuanya mengalami baptisan Roh terlebih dulu baru setelah itu berkemungkinan untuk mengalami kepenuhan Roh.

Kepenuhan Roh merupakan pengalam setelah menerima Tuhan Yesus supaya orang percaya tersebut menghasilkan kehidupan yang menghayati kekudusan Alllah, dan selanjutnya semakin berbuah lebat, menang atas tabiat lama dan pengaruh keduniawiaan dalam hidupnya dengan semakin dipenuhi oleh sifat=sifat dan karakter Tuhan Yesus Kristus.  Dengan demikian kepenuhan Roh menentukan kualitas hidup orang percaya.  Kepenuhan Roh diperintahkan di dalam Alkitab untuk dialami oleh setiap orang percaya.  Pengalaman tersebut diberikan oleh Roh Kudus selama seorang anak Tuhan sungguh menyerahkan diri kepada Roh Kudus.  Seberapa banyak dan seberapa lama hidup anak Tuhan diserahkan sepenuhnya kepada-Nya sebanyak dan selama itu pula Ia akan memenuhi-Nya.  Ada kemungkinan bahwa pengalaman kepenuhan Roh terjadi berulang-ulang di dalam kehidupan orang percaya sejalan dengan pertumbuhan rohaninya. Kita dapat melihat anggota-anggota jemaat Yerusalem dipenuhi Roh setelah penyerahan diri mereka dalam doa bersama, 4:31, padahal sebahagian diantaranya tentu sudah pernah mengalaminya pada hari pentakosts, secara khusus rasul-rasul itu. Anggota-anggota jemaat di Efesus telah dipenuhi Roh pada saat pelayanan Paulus di sana, Kis 19:1-10, tetapi beberapa tahun kemudian Paulus menulis surat kepada mereka dan mendorong mereka untuk penuh dengan Roh Kudus, Ef 5:18.



(3).  Diberi karunia-karunia Roh Kudus, 4b, 6, 8-11


 Dalam catatan Kis 2 hanya satu jenis karunia Roh yang disebutkan, yaitu karunia “berkata-kata dalam bahasa lain.” Akan tetapi catatan itu sudah cukup untuk meyakinkan kita bahwa karunia-karunia Roh lainnya dapat diterima pada saat itu.

Karunia Roh adalah karya Roh Kudus memberikan kesanggupan khusus kepada anggota-anggota Tubuh Kristus supaya mereka dapat melibatkan diri di dalam pelayanan jemaat Tuhan baik pelayanan secara ke dalam maupun pelayanan keluar.  Kalau baptisan Roh Kudus menentukan status orang percaya dalam gereja Yesus Kristus, kepenuhan Roh menentukan kualitas hidup orang percaya maka karunia Roh menentukan kinerja atau kegiatan pelayanan anggota jemaat.  Sejak anggota jemaat mengalami pembaptisan Roh Kudus, mereka telah memiliki potensi karunia Roh karena sejak saat itu Roh Kudus sudah berada di dalam dirinya.  Semua anggota jemaat, tanpa kecuali, memiliki karunia Roh di dalam hidupnya.  Adalah kewajiban setiap anggota jemaat untuk menyerahkan diri dan waktu serta semua potensi yang ada padanya supaya karunia rohaninya diberdayakan.  Tuhan Yesus sungguh berkenan kepada orang percaya penerima karunia Roh-Nya yang mengembangkan dan memberdayakan karunianya tersebut. Sebaliknya Dia sungguh tidak berkenan kepada mereka yang menggali lubang untuk menguburkan karunia yang Dia berikan, artinya karunia itu tidak dikembangkan dan tidak diberdayakan.  Pimpinan dan warga jemaat Kristus harus menolong setiap warga jemaat untuk memberdayakan karunia rohani mereka di dalam pelayanan jemaat.  Kepemimpinan jemaat yang tidak menyediakan cukup kesempatan pelayanan bagi semua anggota jemaat dan tidak mengembangkan penggunaan karunia rohani itu, oleh Tuhan Yesus, Kepala Gereja, dinilai sebagai pihak yang menggali lubang penguburan karunia warga jemaat.  Gereja seharusnya merindukan sapaan Kristus terus menggema dalam jemaat: “Sabaslah engkau hai hambaku yang setia, engkau telah setia dalam perkara-perkara kecil maka Aku mempercayakan perkara-perkara besar kepadamu.”

Karunia berkata-kata dalam bahasa lain yang diterima warga jemaat pada hari pentakosta, sangat perlu dipahami dengan baik supaya kita jangan terjebak di dalam berbagai pemahaman yang menyimpang.

Dari ayat 5-11 dicatat ada 15 daerah asal para pendengar khotbah para rasul di hari pentakosta, ditambah bahasa aram yang digunakan para rasul atau pembicara.  Semua daerah itu mewakili 15 dialek atau jenis bahasa yang semuanya saling berbeda. Ada dua kemungkinan yang terjadi dalam kejadian itu.  Pertama, para rasul dalam pikirannya, berbicara dalam bahasa yang mereka pahami betul dan dipakai di Palestina, yang juga dimengerti orang Yudea.  Tetapi tanpa mereka ketahui yang keluar dari bibir mulit mereka adalah bahasa-bahasa lain yang dipakai oleh para pendatang dari 15 daerah/negara itu.  Jika kemungkinan ini yang terjadi maka mujizat itu terjadi dalam bibir mulut para rasul.  Kedua, para rasul itu memang berbicara di dalam bahasa mereka tetapi para pendengar mendengar ucapan para rasul itu dalam bahasa mereka masing-masing.  Jika kemungkinan ini yang terjadi maka mujizat itu terletak dalam telinga atau pendengaran para pendengar.  Dari kalimat dalam ayat 11: “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri” maka dapat dikatakan bahwa kemungkinan kedua itulah yang terjadi yaitu para rasul berbicara dalam bahasa Yahudi mereka namun didengar oleh para pendengar dalam bahasa mereka masing-masing.  Jadi karunia “berkata-kata dengan bahasa lain” di dalam Kis 2 bukanlah bahasa yang tidak dimengerti yang keluar dari mulut para rasul melainkan bahasa daerah atau bahasa kebangsaan mereka tetapi didengar dalam bahasa daerah/kebangsaan para pendengar.

Dengan demikian tujuan perlengkapan mereka dari Allah tercapai yaitu memberitakan: “perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah,”  yang intinya adalah perbuatan penyelamatan manusia dari perhambaan dosa dan memberikan keselamatan yang kekal melalui dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.         

 

Bukti ketiga: Membawa kesaksian spiritual




Ada aksi maka ada reaksi.  Reaksi dalam bentuk orang banyak berkerumun, masyarakat bingung, orang banyak tercengang dan bertanya-tanya serta ada yang menyindir, merupakan beragam rekasi masyarakat melihat kesaksian atau penampilan para rasul.  Bagaimanapun orang-orang percaya waktu itu telah memberi kesan yang menarik, mendebarkan dan bahkan mengherankan. Mereka membawa kesaksian tentang karya Yesus Kristus. Berita dan kesaksian mereka telah sampai kepada dan dimengerti dengan baik oleh objeknya yaitu masyarakat yang belum percaya.

  

(1)        Orang banyak berkerumun mendengar suara itu, ay 6a

Berarti kesaksian para rasul menimbulkan minat orang banyak.  Berapa jumlah nominal orang banyak yang berkerumun itu tidak dilaporkan oleh Lukas.  Dengan sejumlah 3000 petobat maka kita dapat memerkirakan paling sedikit ada 6000 orang yang berkerumun dengan asumsi bahwa yang bertobat sebesar 50% yang terdiri dari pada umumnya orang Yahudi diaspora. Jumlah sebanyak itu, bahkan bisa lebih besar, adalah masuk akal jika tempat terjadinya pentakosta itu adalah di salah satu serambi Bait Suci atau di rumah yang berdekatan dengan Bait Suci sebagaimana diperkirakan oleh Brink. Berkerumunnya orang sebanyak itu merupakan suatu peluang besar bagi pemberitaan Injil. Keberkerumunan mereka tidak terlepas dari daya tarik Roh Kudus menyedikan tanah hati untuk ditaburi benih kebenaran, sama seperti belukar menyala tanpa terbakar di gunung Horeb telah menarik perhatian Musa untuk bertemu dengan Tuhan yang memang mencarinya.

 

(2)        Masyarakat mendengar dengan bingung, ay 6b


“Mendengar dengan bingung” menunjukkan bahwa orang banyak bukannya bingung karena mereka tidak paham ucapan para rasul, melainkan bingung karena yang terjadi adalah bertentangan dengan pikiran logis manusia, yaitu bagaimana orang yang tidak belajar bahasa mereka dapat berbicara dengan lancar, terang dan lantang dalam bahasa mereka.  Bukan kebingungan karena ketidakmengertian tetapi kebingungan karena pengertian yang tidak sesuai nalar lumrah manusia. Maka kebingungan itu tidak membuat mereka pergi meninggalkan objek itu melainkan mereka tambah mendekat untuk mencari pemahaman.  Lagi-lagi suatu karya Roh untuk menyiapkan secara psikologis dan emosional para pendengar bagi taburan kebenaran.

  

(3)        Orang banyak tercengang dan bertanya-tanya, ay 12

Semakin mereka mendekat semakin mereka tercengang.  Kebingungan telah berkembang menjadi ketakjuban.  Mereka melihat sesuatu yang sangat lain, yang mereka perlu ketahui bahkan kalau bisa mereka alami dan memiliki.  Ketercengangan sama seperti yang dimiliki ribuan orang kelaparan yang kemudian dipuaskan oleh Tuhan Yesus dengan bahan baku makanan hanya 5 potong roti dan 2 ekor ikan, tetapi setelah mereka makan kenyang bahkan masih lebih.  Sehingga mereka ingin menjadikan Yesus sebagai Raja dan pemimpin mereka, Yoh 6:14-15.

Mereka bertanya-tanya tentang makna dari semua yang mereka lihat, dengar, yang mengherankan itu.  Seseorang yang telah memiliki keingintahuan akan kebenaran sebenarnya sudah dekat sekali kepada kebenaran itu.  Keingintahuan mempunyai daya besar sama seperti rasa lapar dan rasa haus berdaya untuk menggerakkan kita untuk mau makan dan minum.  Langkah ini adalah pengaturan Roh memersiapkan orang banyak itu secara mentalitas dan spiritual untuk menyambut kebenaran Injil Yesus Kristus.  Dapat dikatakan bahwa 3000 petobat kemudian di peristiwa pentakosta itu adalah orang-orang yang telah melalui proses penyiapan Roh Kudus yaitu berkerumun (persiapan kesempatan), kebingungan (persiapan psikologis dan emosional), tercengang dan bertanya-tanya (persiapan mentalitas dan spiritual).



(4)        Ada yang menyindir, ay 13


Isi sindiran mereka adalah : “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.” Sindiran itu hanyalah suatu dalih penolakan tanpa ada alasan yang jelas.  Ucapan mereka tidak dapat diterima oleh semua orang Yahudi di tempat itu saat itu karena dua alasan.  Pertama kata-kata mereka bahwa orang percaya itu mabuk oleh anggur manis.  Anggur manis berarti anggur baru dan merupakan anggur yang boleh dikonsumsi oleh masyarakat menurut ketentuan hukum Torat karena sama sekali tidak memabukkan. Anggur dibuat mulai pukul 4 pagi dan pada umumnya selesai pukul 6 pagi lalu mereka mengkonsumsi dalam keluarga dan menjualnya di pasar. Anggur itu bertahan, jika tidak cepat laku dijual atau jika mereka sengaja menyimpan sebagian di rumah untuk konsumsi keluarga,  sampai pukul 6 sore.  Setelah pikul 6 sore rasa manis anggur itu telah berubah menjadi rasa asam, dan tidak boleh lagi dijual dan tidak boleh dikonsumsi karena sudah mengandung alkohol dan memabukkan.  Itulah sebabnya Paulus berkata dalam I Tes 5:7 bahwa para pemabuk mabuk pada waktu malam, karena pada waktu malamlah baru ada anggur yang memabukkan. Kedua, seperti sanggahan Petrus dalam ay 15 bahwa peristiwa pentakosta itu terjadi baru pada pukul 9 pagi.  Tidak mungkin mereka mabuk karena belum ada anggur yang memabukkan pada pukul 9 dan sebagai orang-orang Yahudi adalah pantangan keras untuk meminum anggur memabukkan.

Maka para penyindir itu adalah kelompok masyarakat yang memang telah menetapkan melawan dan menolak kejadian dan makna peristiwa ilahi tersebut.  Walaupun mereka tidak paham, mereka tidak memunyai alasan untuk menolak, tetapi mereka sudah memutuskan tidak memercayai, tidak menerima.  Dalam perkembangan penginjilan selanjutnya mereka menjadi oposisi atau pelawan dan bahkan menjadi penganiaya para rasul dan warga jemaat Kristus. Hati mereka laksana tanah pinggir jalan, tanah berbatu dan tanah berduri bagi taburan berita Injil.

Berita dan kesaksian rohani telah mencapai mereka dengan jelas tetapi sikap mereka sudah tetap yaitu menolak dan malawan.  Namun sindiran mereka justeru meyakinkan kelompok masyarakat yang berespons positif akan kebenaran kesaksian dan berita yang disampaikan oleh 120 orang percaya waktu itu sehingga memantapkan sikap penerimaan Injil oleh 3000 orang itu.  Sering kali terjadi demikian dalam proses pemberitaan Injil bahwa senjata perlawanan Iblis dibalikkan oleh kuasa Tuhan menjadi senjata kekalahannya di satu sisi dan di sisi lain menjadi senjata kemenangan Injil. Puji Tuhan!   




by

Pdt. Dr. John S. Dana, MTh   Lihat Profile Penulis


Menarik Untuk Dibaca
Tokoh Kristen Marten Luther
Tokoh Kristen Charles Wesley


1 Comments
Comments
  1. Saya heran, mengapa banyak gereja yang belum mengakui bahwa hari kebaktian itu adalah hari SABAT/SABTU.!!!

    BalasHapus

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top