Evangelism Unlimited

SUATU AKTIFITAS LAYAK SANGAT PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM PIMPINAN ROH KUDUS

SUATU AKTIFITAS LAYAK SANGAT PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM PIMPINAN ROH KUDUS

6 10 99
SUATU AKTIFITAS LAYAK SANGAT PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM PIMPINAN ROH KUDUS 10 6 99

Kisah 1:15-26

 15 Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata:16 "Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu. 17 Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini."18 -- Yudas ini telah membeli sebidang tanah dengan upah kejahatannya, lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar. 19 Hal itu diketahui oleh semua penduduk Yerusalem, sehingga tanah itu mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri "Hakal-Dama", artinya Tanah Darah --.20 "Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain.21 Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami,22 yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya."23 Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias. 24 Mereka semua berdoa dan berkata: "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini,  25 untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya."  26 Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.
 
 Pendahuluan

Dalam perikop ini berisi satu kegiatan para perintis jemaat Yesus Kristus, yaitu aktifitas pemilihan rasul pengganti Yudas, yang telah menghianati Tuhan Yesus dan telah meninggal. Ada hamba-hamba Tuhan yang menyetujui tindakan yang diprakarsai oleh Petrus tersebut dan ada yang mempertanyakan kelayakan dan kepatutan tindakan tersebut.  Terlepas dari kedua sikap tersebut, dari bahagian Firman Tuhan ini kita dapat belajar prinsp-prinsip rohani dalam mewujudkan kehidupan yang layak bagi persekutuan umat Tuhan di tengah-tengah komunitas dunia ini.

Dua pandangan berbeda
Penafsir yang setuju berpendapat bahwa cara atau prosedur penggantian Yudas adalah benar, berdasarkan Firman Tuhan dan dalam penyerahan penuh kepada pimpinan Tuhan terbukti dari doa yang mereka naikkan.  Syarat-syarat untuk calon yang mereka tetapkan cukup baik dan objektif.  Membuang undi dengan penggunaan umim dan tumim, sesuai dengan amanat dalam kitab Musa.  Lagi pula pada waktu Tuhan Yesus bangkit, Dia telah menghembusi mereka dengan Roh Kudus, sehingga dapat menuntun mereka termasuk menuntun dalam proses pemilihan pengganti Yudas.  Matias, dengan demikian, sah sebagai rasul keduabelas, pengganti Yudas.
Penafsir yang tidak setuju berpendapat bahwa tugas yang Tuhan Yesus amanatkan kepada mereka saat itu adalah menanti kegenapan janji Bapa akan Roh Kudus, dan setelah mereka menerima baptisan dan kepenuhan-Nya barulah  mereka dapat melakukan aktifitas pelayanan yang benar.  Memang benar mereka telah dihembusi dan menerima Roh Kudus pada saat kebangkitan Tuhan Yesus seperti tertulis dalam Yohanes 20:22, namun hal itu adalah suatu karya Roh Kudus yang sangat mereka perlukan untuk meyakini dan memahami serta mengimplikasi kebangkitan dan pengajaran-pengajaran Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke surga.  Tetapi untuk kuasa pelayanan dan pengorganisasian serta manajemen gereja-Nya, Tuhan Yesus memerintahkan bahwa mereka masih harus menanti sampai hari Pentakosta.  Lagi pula tugas pemilihan rasul tidak pernah Tuhan Yesus amanatkan kepada mereka, karena hanya Dia yang dapat menentukan sendiri siapa yang Ia berkenan masuk dalam kelompok 12 rasul itu.  Ayat Alkitab yang Petrus kutip sebagai dasar aktifitas mereka saat itu, Mazmur 69:26 dan Mazmur 109:8,  memang benar menetapkan soal pengisian tempat yang ditinggalkan oleh Yudas, tetapi ayat itu tidak mendelegasikan tugas penggantian itu kepada manusia.  Ini adalah salah satu contoh pentingnya cara pemahaman dan sikap memperlakukan ayat-ayat Firman Tuhan secara benar dalam pimpinan kuasa Pentakosta yang waktu itu belum turun ke atas mereka itu.  Kenyataannya, setelah pemilihan Matias, namanya tidak pernah lagi muncul dalam Alkitab dan yang lebih nyata lagi ialah Tuhan Yesus sendiri memilih rasul-Nya yaitu Saulus yang kemudian diganti namanya menjadi Paulus, Kis 9:15-16.  Fakta empiris menunjukkan bahwa Kisah Rasul pasal 13-28 dan lebih setengah surat-surat PB mencatat tentang aktifitas pelayanan rasul Paulus yang penuh dengan urapan Roh Kudus dalam otoritas penuh Tuhan Yesus Kristus baik dalam pelayanan penginjilan maupun dalam pelayanan pembinaan warga dan pengorganisasian gereja-Nya.

Prinsip-prinsip rohani
Terlepas dari kedua macam penafsiran di atas, dari bahagian Firman Tuhan ini kita dapat menggali enam prinsip penting bagi pembentukan dan penatakelolaan persekutuan umat Tuhan yang hidup dan melayani dengan layak dan patut.

1.     Kepemimpinan yang aktif-dinamis, 15 
Tim pertumbuhan gereja di bawah kepemimpinan Dr. Donald McGavran, telah menemukan beberapa prinsip pertumbuhan gereja di seluruh dunia, dan salah satu prinsip itu menyatakan bahwa gereja yang bertumbuh adalah gereja yang memunyai pemimpin yang aktif-dinamis.  Ayat 15 mencatat: “Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata…” dan itu adalah rekaman bagi kita bahwa Petrus adalah salah seorang pemimpin yang aktif-dinamis. 
 Kehadiran seorang jenderal ditengah-tengah pasukan yang sedang bertempur akan merupakan daya dorong luar biasa bagi pasukan itu untuk merebut kemenagan.  Dalam jemaat, yang menjadi pemimpin adalah gembala jemaat.  Ia laksana seorang jenderal bagi pasukan Kristus (warga Jemaat),  yang menjadi orang “kunci” dalam menciptakan gerakan-gerakan besar karena ia memunyai sikap mental yang positip.  Anda akan kagum kepadanya karena ia selalu melihat kesempatan besar dalam setiap kesulitan  yang bagimana pun,  bukan melihat kesulitan dalam semua kesempatan.  Karena sikap hidup dalam imannya yang terpuji maka ia selalu dihormati,  dikasihi bahkan akan selalu dibela oleh anggota jemaat yang digembalakannya.  Ia menjadi pemimpin yang dinamis dan aggressive serta membangkitkan semangat sebab:
(1).  Ia selalu berpikir lebih dahulu mengenai hal-hal yang akan datang sebelum orang lain dapat memikirkannya.
(2).   Ia kaya gagasan dan tujuan-tujuan besar.  Ia selalu menjadi penemu pertama dari ide-ide pengembangan jemaat.  Ia dikendalikan oleh kebenaran: “menabur sedikit menuai sedikit,  menabur banyak menuai banyak,”  dalam penyusunan program kerjanya.
(3).  Ia adalah seorang perencana masa depan.  Tidak dikenal dan tidak dipraktekkannya:  “Maju memukul angin,” atau pelayanan tanpa tujuan.  Ia tidak memunyai sikap yang hanya memikirkan,  melainkan setiap ide akan dituangkan dalam perencanaan dan program kerja yang tepat dan konkrit.
(4).   Ia memunyai  “mata yang terbuka”  akan linkungannya.  Melalui pengamatan yang akurat,  ia tahu tepat keperluan jemaat dan masyarakatnya.  Ia selalu memunyai daftar panjang tentang segala kemungkinan-kemungkinan.  Bahkan hal yang merupakan persoalan atau hambatan-hambatan telah dibayangkannya,  dan ia sudah siap dengan resep untuk mengatasi semuanya.
(5). Terhadap pengurus-pengurus organisasi gereja di atas dia,  ia berpengaruh secara luas bahkan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin rakyat,  ia dikenal dan dihargai.


2.    Menetapkan kualifikasi pelayan Jemaat, 21-22
Ayat 21-22 mengungkapkan:  “Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya."
Tiga persyaratan yang jelas ditetapkan.
 (1)  Komitmen persekutuannya dengan Tuhan Yesus dan dengan sesamanya hamba Tuhan harus menonjol, berarti ini adalah kualifikasi spiritual dan sosial, yang membangun hubungan dan persekutuan vertikal dan horizontal.  Kedua arah persekutuan itu saling melengkapi dan saling membuktikan.  Bukti persekutuan seseorang dengan Tuhan Yesus kelihatan dalam persekutuannya dengan sesamanya orang percaya, sebaliknya memelihara persekutuan dengan sesama orang percaya tetapi mengabaikan persekutuan dengan Tuhan Yesus dan Firman-Nya adalah suatu kecacatan rohani yang nyata. 
(2)  Kesetiaan dari awal sampai akhir.  Ini adalah salah satu kualifikasi mental yang membangun kepribadian. Syarat kedua ini sangat perlu mengingat ada banyak orang yang memulai dengan baik tetapi tidak mengakhiri dengan baik pula, dan ada banyak orang yang menjadi hanya pengikut sementara dan sporadis, suatu sikap yang sangat tidak layak dalam komunitas tubuh Kristus.  
(3) Menjadi saksi kebangkitan Kristus. Ini adalah kualifikasi pribadi dan pelayanan.  Menjadi saksi berarti melihat atau mengalami sendiri akan Injil itu dan bersedia menjelaskan, memberitakan dan meyakinkan orang lain akan kebenarannya. Itulah poin keyakinan gereja yang paling utama dan paling tidak disukai oleh kuasa gelap.  Pemimpin-pemimpin dunia telah mengeluarkan banyak uang dan kebijakan hebat untuk menutup kemungkinan tersiarkannya berita kebangkitan Kristus tersebut.  Dapat dipastikan bahwa warga jemaat Kristus yang setia mempercayai dan memberitakannya akan mengalami kesulitan besar dari dunia ini.  Seseorang yang bersedia memberikan komitmen terhadap tugas itu sangat patut untuk dihargai peran sertanya dalam pelayanan Kristus di dunia ini.
Dengan agak malu kita harus mengakui bahwa pelayanan gereja pada masa  kini telah banyak kelemahannya karena tidak menetapkan kualifikasi rohani yang benar dan ketat dalam pemilihan pemimpin dan pelayan-pelayannya.  Kecenderungan dunia modern masa kini adalah para pengurus dan pelayan jemaat dipilih dari orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang-bidang bergengsi secara dunia dan masyarakat tetapi tidak secara Alkitabiah. Rendahnya mutu rohani pelayanan dan kehidupan gereja sudah dapat dipastikan menjadi akibatnya.

3.    Mengusahakan supaya setiap tindakan berdasar atas Alkitab, 20
Petrus bukan pemimpin otoriter karena dia berusaha untuk meyakinkan warga jemaat bahwa pemilihan pengganti Yudas adalah sesuai Firman Tuhan yang dia gabungkan dari dua kutipan dari kitab Mazmur 69:26 dan Mazmur 109:8.  Dari poin ini ada hal yang perlu untuk dikaji lebih baik yaitu dalam hal memaknai isi Firman Tuhan secara tepat; Tetapi bagaimana pun Petrus sangat tulus hatinya bahwa dalam tindakan pengorganisasian saat itu sangat perlu didasarkan atas Firman Tuhan, yang berarti bahwa Petrus memunyai konsep yang benar tentang gereja dan aktifitas pelayanannya.  Dia yakin bahwa Gereja harus dibangun atas prinsip-prinsip Firman Tuhan.  Orang yang kurang mahir melakukan pengkajian dan penafsiran Alkitab karena mungkin keterbatasan pendidikan dan kekurangannya dalam penguasaan bahasa-bahasa namun menempatkan Alkitab sebagai dasar pengertian dan landasan cara serta etika pelayanan Gereja lebih dapat diharapkan akan melayani dengan benar Gereja Tuhan ketimbang orang yang telah dilengkapi dengan keterampilan melakukan eksegesa dan sistem analisis teks Alkitab tetapi tidak memberi tempat sentral kepada Alkitab dalam hidup dan pelayanannya. 
Oswald Sanders menyatakan bahwa “minat yang paling utama dan paling besar para pemimpin rohani adalah mempelajari Firman Allah dengan rajin dan dengan penerangan Roh Kudus untuk menguasainya.”  Tentu kelanjutannya yang diharapkan adalah supaya dapat diterapkan dalam kehidupan dan dalam segala aspek pelayanan.
Dalam menggerakkan rekan-rekan sepersekutuannya di bilik atas itu supaya melakukan pemilihan itu atas dasar Firman Tuhan, Petrus telah sungguh maju dari keadaannya sebelum ia dikonseling Tuhan Yesus ditepi pantai dua minggu setelah kebangkitan Kristus, Yohanes 21:10-15.  Dia telah lebih belajar untuk mengikuti telapak Tuhan-Nya yang dalam segala aspek kehidupan, pengajaran dan pelayanan-Nya dengan menjadikan Alkitab, Firman Allah,  sebagai dasar pijakan-Nya.  Dan dia semakin bertumbuh dalam sikapnya kepada Firman Allah sehingga ketika Petrus telah melayani sekitar 35 tahun setelah mengalami peristiwa Pentakosta dia berkata kepada saudara-saudaranya seiman:  “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. Sebab: ‘Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’  Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu,” I Petrus 1:22-25.

4.    Menerapkan sistem demokratis kongregasional, 23,26
Dua ayat itu mencatat prosedur yang ditempuh dalam proses pemilihan, yaitu pertama memberikan hak kepada semua warga persekutuan untuk mengajukan usul nama-nama yang memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan dan setelah itu yang kedua, mereka semua diberi hak untuk memilih salah satu dari antaranya dengan membuang undi.  Hasil dari kedua prosedur itu diterima secara mutlak dan mereka yakini sebagai pimpinan Tuhan sendiri sehingga: “ ... yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu,” ay 26.
Hal yang dipraktekkan dalam narasi ini sungguh berbeda dari yang mereka alami dalam pelayanan umat Yahudi dimana para pejabat organisasi dan fungsionaris utama pelayanan semuanya ditentukan dan ditetapkan.  Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam praktek ini Petrus dan warga persekutuan bilik atas itu, yang sedang menantikan hari Pentakosta, telah melakukan terobosan baru dalam manajemen pelayanan pekerjaan Tuhan.  Ketaatan, kesehatian, tim kerja yang solid, kuasa doa dan kuasa berdoa akan dengan mudah menjadi budaya yang menonjol dalam komunitas gereja Tuhan apabila seluruh warga gereja saling menempatkan diri sejajar di hadapan Tuhan dan Firman-Nya, yang ditandai dengan penerapan demokratisasi dalam kongregasi Kristus.  Sekali lagi hal ini menunjukkan betapa Petrus telah jauh lebih maju dari keadaannya ketika masih bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebelum kebangkitan-Nya dimana Petrus selalu mau maju, menonjol dan menang sendiri, sehingga memancing rekan-rekan semuridnya saling berlomba mendapat posisi utama di dalam pemerintahan Kristus.  Seseorang hamba Tuhan hanya akan melakukan praktek pelayanan yang layak apabila dia telah memunyai sikap dan pandangan diri yang layak di hadapan Tuhan, baik terhadap saudara-saudara sepelayanannya maupun terhadap dirinya sendiri.
 
5.    Mengedepankan doa bersama, 24,25

“Mereka semua berdoa dan berkata: ‘Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini,  untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.’"
Pemilihan pengganti Yudas adalah merupakan rangkaian acara berdoa mereka selama 10 hari dalam penantian kegenapan janji Bapa.  Mereka sedang berada dalam kuasa berdoa.  Sehingga doa mereka dalam ayat 24-25 itu bukanlah baru muncul karena ada kebutuhan khusus, melainkan doa kebutuhan khusus itu muncul dari kuasa berdoa mereka. 
Doa itu memberikan pencerahan yang baik dalam pemilihan pejabat dan fungsionaris gerejawi.  Kiranya gereja Tuhan sepanjang abad untuk masa-masa ini dan yang akan datang baik tingkat komunitas kecil, jemaat, denominasi gereja, lembaga antar gerejawi secara daerah, nasional, regional dan manca negara, sungguh-sungguh tulus memberi kesempatan melayani kepada orang-orang percaya yang dipilih oleh Tuhan, karena hanya Tuhan yang sungguh mengenal hati setiap orang.  Kemunduran, paling sedikit stagnasi dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, telah menjadi hasil dari penempatan orang-orang yang hanya pilihan organisasi dan bukan pilihan Tuhan.
Agak dilematis keadaannya karena Tuhan tidak langsung menunjuk orang yang Ia kehendaki melainkan seperti kita pelajari dari Perjanjian Baru Tuhan menyuruh warga gereja-Nya untuk memilih orang-orang yang terlibat dalam pelayanan, dan justeru dalam sistem itulah seringkali terletak kemungkinan pemilihan orang-orang yang tidak tepat.  Tetapi sebenarnya kelemahan itu dapat diatasi dengan penentuan kualifikasi yang jelas dan sesuai Firman Tuhan.  Kemudian setiap orang dalam gereja bersemangat mentaati kualifikasi yang ditentukan dan dilakukan secara matang, hati-hati, banyak wawancara dan doa.  Semua yang terlibat harus sungguh bebas dari faktor suka-tidak suka secara subjektif, sepakat bahwa siapa pun yang akhirnya terpilih itulah pilihan Tuhan melalui umat-Nya yang harus didukung dan diterima kepemimpinannya.  Dalam prosesnya bisa saja ada perbedaan dukungan tetapi hasilnya harus menjadi dukungan semuanya.  Itulah demokratisasi kongregasional yang diperkenalkan oleh Perjanjian Baru dan yang penerapan pertamanya kita lihat dalam bilik atas rumah di Yerusalem itu.

6.    Pengaturan yang berorientasi tujuan, 21,22
 “Yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya,"
demikian rekaman Lukas atas pengantar Petrus dalam pertemuan yang akan memilih itu.
Menentukan tujuan dalam suatu pelayanan sangat banyak manfaatnya.  Terutama akan menciptakan organisasi pelayanan yang terarah.  Setiap pelaksana pelayanan tidak akan ke kiri dan ke kanan melainkan akan terarah kepada apa yang diharapkan tercapai dari fungsi yang diembannya.  Kemudian akan mendorong untuk berusaha, supaya dirinya efektif dan menyenangkan Tuhan, dia akan berdoa dan berusaha semaksimalnya memenuhi harapan atau goal tugasnya.  Apa pun yang merupakan hambatan akan disingkirkannya dan yang dapat menolongnya untuk berhasil akan diusahakan untuk dikuasinya.  Dengan adanya tujuan maka orang yang dipilih akan mudah menilai kemajuannya dan orang lain juga akan mudah menilai dia.  Yang tak kalah pentingnya adalah orang yang sudah tahu tujuannya, maka dia akan fokus dalam pelayanan sehingga menghemat waktu, tenaga dan dana, hal itu antara lain karena dia akan tertolong untuk memilih metode pelayanan yang tepat.
  Menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya, menunjukkan bahwa proses pengorganisasian itu adalah berorientasi tujuan, bukan jabatan kerasulan semata-mata.  Penentuan kualifikasi yang disepakati sudah jelas mengacu kepada orientasi tersebut.  Warga jemaat yang memilih tidak akan sembarang memilih karena mereka sudah tahu dengan jelas tugas yang harus diemban oleh orang itu.  Oleh Roh Kudus seseorang yang dipilih akan yakin bahwa dia dipilih karena di dalam dirinya terdapat karunia Ilahi untuk melaksanakan tugas pelayanan yang ditetapkan.  Dan juga dengan adanya tujuan tersebut maka orang yang terpilih akan mudah diketahui apakah memenuhi kriteria Tuhan atau kah hanya perasaan manusia.  Sayang sekali bahwa Alkitab tidak mengizinkan kita untuk mengetahui kiprah selanjutnya dari kehidupan Matias pasca terpilih, tetapi hal itu memberikan tempat kepada gereja Tuhan untuk bergantung kepada keyakinan atas prinsisp-prinsip yang diberikan oleh Firman Tuhan, walau belum atau tidak melihat sekalipun.

Cukuplah pernyataan itu, “.... dengan demikian, ia (Matias) ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.”  

By Pdt.Dr.John S dana, MTh Lihat Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Mempraktekkan Pola Hidup Yang Layak

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top