Evangelism Unlimited

BERPUASA YANG ALKITABIAH

BERPUASA YANG ALKITABIAH

6 10 99
BERPUASA YANG ALKITABIAH 10 6 99
Teks: Im. 16:29-31
Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.(TB)

Pengantar:
Salah satu pengajaran Alkitab yang kadang kurang dipahami oleh orang-orang Kristen adalah masalah berpuasa.
Sering kali ada ada pertanyaan yang muncul:
•    Apakah orang Kristen harus berpuasa atau tidak?
•    Apakah puasa itu penting atau tidak?
•    Apakah puasa orang Kristen sama dengan puasa agama-agama lain?
Murid-murid Yohanes Pembaptis pernah bertanya Tuhan Yesus, “Mengapa kami dan orang-orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?”  Jawab Yesus, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama-sama mereka?  Tetapi waktunya akan datang mempelai itu akan diambil dan waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat. 9:14-15).
Menurut pemahaman saya dari PB bahwa Tuhan Yesus tidak meniadakan puasa, tetapi juga tidak mengajarkan khusus tentang puasa, seperti yang dipraktikkan oleh para Farisi dan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis yang harus berpuasa pada setiap hari Senin dan Kamis.
Terlepas dari, apakah berpuasa itu harus atau tidak dan apakah puasa itu penting atau tidak, hal yang paling urgen dipahami adalah apakah arti berpuasa?
Orang Kristen berpuasa atau tidak, sangat tergantung pada pengertian dari berpuasa menurut Alkitab.
Proposisi:
Apakah arti berpuasa menurut Alkitab?
Outline:

I.    Secara Umum
Berpuasa artinya tidak makan dan tidak minum selama waktu tertentu, seperti Ester tidak makan dan minum selama 3 hari dan malam (Est. 4:16).  Berpuasa bukan berarti menjauhkan diri dari makanan tertentu.

II.    Menurut Perjanjian Lama
Dalam PL dipakai kata tsum atau tsom dan inna nafsyo dari bahasa Ibrani secara harafiah berarti merendahkan diri (Im. 16:29).
Merendahkan diri dalam arti kesempatan untuk mentahirkan diri dari segala dosa di hadapan Allah (Im. 16:30).
Sebelum pembuangan, orang Ibrani diharuskan berpuasa pada tgl. 10 bulan ketujuh setiap tahun yang disebut sebagai hari pendamaian, di mana orang-orang Ibrani diharuskan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan (Im. 16:29-31).
Setelah pembuangan, waktu berpuasa bertambah menjadi 4 kali setahun, yaitu pada bulan keempat, kelima, ketujuh dan kesepuluh.
Di samping itu, ada juga puasa yang disebut puasa sewaktu-waktu, baik dilakukan secara pribadi (seperti yang dilakukan Daud, 2Sam. 12:22) maupun yang dilakukan secara bersama-sama (seperti yang dilakukan orang-orang Israel ketika mereka melawan suku Benyamin karena peristiwa noda pemerkosaan di Gibea, di mana mereka berpuasa karena dikalahkan oleh suku Benyamin, Hak. 20:26).
Berpuasa dalam arti merendahkan diri adalah bukti dukacita secara lahiriah dan pernyataan pertobatan di hadapan Tuhan.
Itu berarti puasa dalam PL adalah bermakna pemberesan diri di hadapan Tuhan.  Karena itu orang rela tidak makan dan tidak minum sebagai tanda perendahan diri di hadapan Allah.
Berpuasa juga dalam PL sering dilakukan dengan tujuan memohon bimbingan dan belas kasihan Tuhan, seperti yang dilakukan Ester, Daud, orang-orang Israel, dan sebagainya.
Karenanya perlu pertobatan sebab puasa tanpa pertobatan pada hakikatnya adalah sia-sia (Yes. 58:1-12; Yer. 14).

III.    Menurut PB
Dalam PB kata puasa dipakai kata nesteuo, nesteia, nestis secara harafiah berarti tidak makan (Kis. 27:21, 33).
Tuhan Yesus tidak berpuasa selama 40 hari dan malam sebagai persiapan untuk pelayananNya (Mat. 4).
Tuhan Yesus mengajarkan supaya para pengikutNya berpuasa dengan cara berhadapan dengan Allah bukan dengan manusia (Mat. 6:16-18).
Puasa menurut Tuhan Yesus bukan bersifat ceremonial atau penampilan, tetapi penekanannya pada hubungan pribadi seseorang dengan Bapa di tempat yang tersembunyi (jangan berpuasa seperti orang-orang munafik, yaitu para  Farisi).
Pada Kis. 13:2-3, para pemimpin jemaat berpuasa sebelum mereka memilih utusan Injil, sehingga Roh Kudus berbicara kepada mereka.
Pada Mat. 17:21, naskah Terjemahan Baru menuliskan, “Jenis ini tidak dapat diusir, kecuali dengan doa dan puasa.”
Itu berarti puasa dalam PB begitu penting, walaupun tidak diatur seperti dalam PL.  Penekanan PB bukan pada waktu atau frekwensi, tetapi sifatnya puasa sewaktu-waktu, perseorangan, dan sesuai dengan kebutuhan yang didasarkan pada hubungan pribadi dengan Tuhan.
Makna puasa dalam PB tidak berbeda dengan makna puasa dalam PL, yaitu membereskan diri dan memohon bimbingan, serta pertolongan Tuhan dengan penekanan pada hubungan pribadi dengan Bapa.
Puasa tidak senonim dengan tidak makan dan tidak minum, tetapi puasa menurut ajaran Alkitab ialah merendahkan diri di hadapan Allah karena adanya dosa atau karena adanya pergumulan, entah pergumulan pribadi atau pun pergumulan pelayanan.

Berapa lamakah kita harus berpuasa?  Tergantung pada jenis puasa yang kita lakukan.  Dalam Alkitab ada paling kurang 3 jenis puasa:

1.    Puasa Total, yaitu puasa yang disertai tidak makan dan tidak minum secara total dalam waktu tertentu.
Biasanya puasa total dilakukan dalam waktu yang singkat, seperti Paulus berpuasa 3 hari lamanya (Kis. 9:8-9), Ezra berpuasa semalaman (Ez. 10:6), dan Ester yang berpuasa 3 hari dan 3 malam (Est. 4:16).

2.    Puasa Super Natural atau Ilahi, yaitu puasa total yang dilakukan dalam waktu yang cukup lama.
Secara manusia, puasa jenis ini tidak mungkin dilakukan, kecuali oleh pertolongan Ilahi.  Jenis puasa ini hanya dilakukan oleh 2 orang dalam Alkitab, yaitu:
•    Musa, pernah berpuasa selama 40 hari/ malam (Ul. 9:9, 18).
•    Elia, setelah ia membunuh 850 nabi Baal dan Asyera di gunung Karmel.  Karena takutnya kepada Izebel, maka ia berjalan ke gunung Allah (gunung Horeb) selama 40 hari/ malam.

3.    Puasa Normal, yaitu puasa dalam jangka waktu tertentu dengan tidak makan seperti biasanya atau porsinya makannya dikurangi atau hanya minum air saja, seperti yang dilakukan oleh:
•    Raja Daud dalam 2Sam. 12:16-17 selama 7 hari.
•    Daniel dalam Dan. 10:2-3 selama 3 Minggu.  Dikatakan bahwa ia tidak makan makanan yang sedap, daging, dan tidak minum anggur.  Ia juga tidak berurap.  Ia tetap makan, tetapi tidak seperti biasanya.

Kesimpulan:
1.    Berpuasa tidak sinonim dengan tidak makan dan tidak minum karena puasa adalah suatu pergumulan pribadi dengan Tuhan.
2.    Waktu dan lamanya berpuasa tergantung pada masing-masing pribadi.  Alkitab, khususnya PB tidak mengajarkan berapa lama harus berpuasa.  Karenanya kita bisa berpuasa semalaman, 3 hari, 7 hari, 3 Minggu, 40 hari, dan sebagainya.
3.    Berpuasa lebih banyak dilakukan oleh pribadi-pribadi daripada dilakukan oleh kelompok-kelompok atau bersama-sama.
4.    Berpuasa adalah sebuah pergumulan, apakah itu dosa atau pergumulan yang lain dengan tujuan memohon bimbingan, pertolongan, kuasa, dan pemeliharaan Tuhan.
5.    Jangan melakukan puasa karena tradisi.
Amin!

By: Markus lingga Lihat Profile Penulis

Must be Read
Pendidikan Seksualitas Yang Alkitabiah

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top