Evangelism Unlimited

PENDIDIKAN SEKSUALITAS YANG ALKITABIAH

PENDIDIKAN SEKSUALITAS YANG ALKITABIAH

6 10 99
PENDIDIKAN SEKSUALITAS YANG ALKITABIAH 10 6 99

PENGERTIAN

Apakah arti seksualitas yang Alkitabiah?   Menurut Roy B. Zuck yang dikutip oleh Epafroditus H. Adijanto, seksualitas Alkitabiah adalah seksualitas yang bersumber dari Alkitab yang adalah sumber dari segala sumber.
Menurut Adijanto, kata seks bagi beberapa kalangan akan memberikan persepsi yang berbeda-beda.  Menurut budaya ketimuran yang masih kuat, seks adalah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, tetapi bagi kalangan yang sudah maju dan yang sudah dipengaruhi dengan globalisasi kebudayaan, berbicara tentang seks adalah masalah yang biasa-biasa saja/sudah umum dan cenderung vulgar (terus terang).

Di kalangan kekristenan terjadi dilematis, di satu sisi  dianggap tabu/dosa untuk diajarkan, tetapi di sisi yang lain  seks  sangat perlu diajarkan mengingat fenomena seksualitas duniawi yang telah menginfiltrasi di dalam kehidupan kekristenan.  Infiltrasi seksualitas duniawi yang mengaburkan untuk membedakan mana seksualitas Alkitabiah dan mana seksualitas duniawi.  Suatu dilema yang kadang menjadi masalah yang pelik dalam hidup bergereja umat Kristiani.
Apakah arti kata seksualitas? 
Kata seksualitas berarti hal yang berhubungan dengan jenis kelamin (Kej. 1:27 – laki-laki dan perempuan) dan juga  berhubungan dengan istilah persetubuhan (Kej. 4:1, 17, 25 – dilaporkan tentang Adam dan Kain yang bersetubuh dengan istrinya, yang melaluinya istrinya mengandung dan melahirkan). 
Apakah seks itu tabu/dosa menurut Alkitab?  Menurut Kejadian 1:31, Allah menilai  segala sesuatu yang diciptakannya itu baik, bahkan amat baik, di mana Allah menciptakan manusia itu dalam kesadaran dan sifat seksualitasnya.  Pada prinsipnya seks  (hubungan seks) itu baik karena seks  adalah ciptaan Tuhan, tetapi hanya dalam konteks pernikahan yang sah, sebab mutlak Allah hanya setuju bila melalui pernikahan sebagai lembaga ciptaan Allah yang sah.  Seks itu digambarkan seperti api yang hanya baik dan berguna pada tempatnya, tetapi bila sudah liar, maka api dapat membahayakan manusia.

ISSU-ISSU SEKSUALITAS
Di era global sekarang ini segala yang terjadi di dalam dunia, dalam hitungan detik saja sudah bisa menyebar ke seluruh dunia.  Sarana internet dengan segala kecanggihannya menawarkan segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini, baik yang memberi informasi, membangun moral maupun yang merusak moral manusia.
Pornografi melalui media visual (TV, film, internet) dan media cetak (buku, majalah, tabloid, dsb) dengan segala strategi berupaya menawarkan tentang  seksualitas begitu mudah dan cepat untuk mendapatkannya.
Kamus Webster mendefinisikan pornografi sebagai “penggambaran perilaku erotis (seperti dalam gambar-gambar atau tulisan-tulisan) dengan tujuan menghasilkan kenikmatan seksual”.
Menurut Dr. Archibald D. Hart, usia pertama kali melihat pornografi, rata-rata berkisar 13-15 tahun. Penelitian yang menarik, di kalangan 600 pria, mereka telah melihat pornografi di masa remaja, padahal keluarga mereka religius.  Dunia kita sedang gencar menawarkan erotisme di mana-mana, pada iklan, film-film (sinetron, opera sabun); televisi (MTV, Cable TV), musik, VCD, papan-papan di jalanan, telepon cabul yang iklannya tersebar di surat kabar, majalah, game, internet, dan sebagainya. Pornografi telah menjadi bisnis terbesar saat ini.
Menurut Epafroditus H. Adijanto bahwa pornografi dan istilah  pornoaksi merupakan akar segala kejahatan manusia dalam masalah perkosaan, dan merupakan akar dari segala pergaulan bebas (free sex) orang muda.  Pornografi telah mengeksploitasi seksualitas menjadi barang yang mudah didapat, murah harganya dan merendahkan harkat dan martabat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah sendiri.   Pornografi telah meracuni pikiran generasi muda secara umum dan generasi Kristen khususnya.  Dampak dari gejala ini ialah martubasi/onani, petting, homoseksual/lesbian dan pedofilia (pelecehan seks yang berorientasi kepada anak-anak laki-laki di bawah umur oleh laki-laki dewasa).
Ini merupakan fakta yang sedang terjadi di sini dan kini.  Karena itu gereja dan orang tua Kristen yang baik tidak bisa tutup mata atau pasrah atau skeptis, tetapi harus membuka mata dan berupaya sedapat mungkin memberikan pengajaran yang benar tentang pendidikan seksualitas yang Alkitabiah kepada muda-mudi Kristen agar tidak terbuai dengan pergaulan bebas dan kejahatan seksualitas.

PEMAHAMAN TENTANG SEKSUALITAS YANG BENAR
1.    Seks itu ciptaan Allah
Penciptaan manusia mempunyai maksud dan tujuan.  Itu sebabnya Allah menciptakan manusia berlainan jenis kelamin.  Berlainan jenis dengan suatu ‘perangkat lain” yang berbeda pula, yaitu perangkat seksual.  Perangkat seksual pria dan wanita ditunjang oleh sesuatu yang menggerakkan seksual mereka dapat berfungsi. Sesuatu  ini adalah potensi atau gairah seksual.  Itu berarti seksualitas adalah paket anugerah Allah kepada manusia.
2.    Seks itu kudus
Pembicaraan tentang masalah seksualitas di Alkitab dimulai pada Kej. 1:28 (beranakcuculah dan bertambah banyak) dan 2:24 (menjadi satu daging) dan bukan pada atau sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kejadian 3).  Seks  bukanlah akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa.  Akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka  seks mulai disalahgunakan, seperti yang dilakukan oleh Lamekh yang mengambil 2 istri (Ada dan Zila), berarti Lameks berpoligami (Kej. 4:19).
3.    Seks itu Tujuannya Baik atau Indah
H. Norman Wright mengatakan, “Kenikmatan seks dirancang Allah untuk dinikmati di dalam kesucian hubungan perkawinan.  Memang ungkapan seks dalam perkawinan merupakan bentuk komunikasi.  Seks adalah sarana untuk mengungkapkan kesatuan yang dalam yang dirasakan oleh suami-istri terhadap satu dengan yang lain.   Seks merupakan dorongan kuat yang meliputi pelepasan fisik yang menimbulkan kegembiraan yang luar biasa.  Bahkan sensasi dari orgasme dan ejakulasi yang menyenangkan merupakan gagasan Allah sendiri”.
Menurut Adijanto bahwa Kidung Agung Salomo memperlihatkan aktifitas dan kondisi manusia berlainan jenis saling berinteraksi dalam seksualitas.  Keindahan dan kenikmatan seks sangat menonjol dalam tujuan akhirnya.  Ungkapan-ungkapan erotis dan gairah seks yang menggebu-gebu (psl 1-7) dan bahkan menekankan betapa dahsyat kekuatan seks itu (8:6).  Mungkin beberapa orang Kristen menganggap Kidung Agung terlalu vulgar, tetapi sebenarnya tidak demikian, justru Kidung Agung adalah bagian Alkitab yang secara terang, jelas, dan gamblang mengajarkan tentang seksualitas yang benar.  Allah menciptakan pria dan wanita untuk masuk ke dalam seksualitas mereka, di mana mereka memperlihatkan kenikmatan di antara mereka dalam seks secara keseluruhan.  Sama seperti dalam kitab Kejadian, seks dalam Kidung Agung adalah suci dan menyenangkan.
Apakah tujuan dari seks menurut rancangan Allah?  
Menurut Jonathan A. Trisna seks  dalam pernikahan mempunyai beberapa fungsi/tujuan:
1)    Sebagai alat Komunikasi kasih (menyatakan kasih mesra).  Melalui seks yang baik dan positif, seorang dapat menyatakan, “Aku cinta padamu, aku membutuhkan engkau, aku suka padamu, aku menerimamu sepenuhnya, aku suka menyatakan diriku kepadamu dan bersukacita menerima pernyataan dirimu” (1 Kor. 7:4, 5).
2)    Untuk menguatkan identitas diri. Kelelakian dan kewanitaan seseorang diteguhkan dalam seks yang menyebabkan pandangan yang sehat.
3)    Untuk menyatakan kesatuan. Alkitab memakai istilah persetubuhan (hubungan seks) adalah istilah yang tepat sekali dalam menyatakan 2 orang/2 pribadi yang sama sekali terpisah dan berbeda menjadi satu tubuh, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:24).
4)    Untuk prokreasi atau keturunan.  Sejak semula Allah mendisain  seks  untuk mendapatkan keturunan (Kej. 1:28).
5)    Untuk rekreasi atau kesenangan.  Banyak ketegangan fisik dan emosi dapat disalurkan melalui  seks.  Sebab itu  seks  yang baik dan positif memang menyehatkan (1 Kor. 7:2).  Seks secara teratur 2 atau 3 seminggu bagi suami istri, bobotnya sama dengan lari 70 mil (menurut laporan internet).
6)    Untuk pencegahan perbuatan asusila.  Kepuasaan  seks  dalam pernikahan dapat mencegah perbuatan yang asusila (1 Kor. 7:2, 9 – lebih kawin daripada hangus karena hawa nafsu).
Poin (1) dan (5) akan memberikan gambaran yang jelas jika dilihat di dalam Kidung Agung Salomo.
Nampak jelas apa maksud Allah menciptakan seksualitas itu dalam diri manusia sejak semula, yaitu untuk melanjutkan keturunan, untuk membendung perbuatan asusila dan untuk kesenangan manusia dalam hubungannya sebagai suami istri.  Berarti seks  bukan sesuatu yang harus dikomersialkan atau dinikmati di luar pernikahan.  Karena itu pelacuran (PSK) tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah pekerjaan, tetapi sebuah pemberontakan terhadap ketetapan Tuhan.


PENGAJARAN SEKSUALITAS ALKITABIAH
BAGI DUNIA KEKRISTENAN


1.    Tentang Masa Pubertas dan Masa Adolesensi (Remaja)
Masa pubertas manusia dibagi dalam 3 tahap:
1)    Pubertas pertama        : Usia 13/14 sampai 40 tahun.
2)    Pubertas kedua        : Usia 40 sampai 60 tahun.
3)    Pubertas ketiga        : Usia 60 tahun ke atas.
Masa remaja dikenal sebagai masa pubertas pertama.  Pada masa remaja, perasaan cinta (rasa tertarik kepada lawan jenis) mulai bertumbuh.  Perasaan pubertas biasanya ditandai dengan perasaan bingung, putus asa, tak berdaya, rasa takut dan malu.  Timbulnya perasaan cinta pada remaja adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu gelisah karena itu adalah ciptaan Tuhan, tetapi yang dibutuhkan adalah bagaimana mengontrol perasaan-perasaan itu.
2.    Pemahaman Tentang Percintaan (Cinta/Kasih)
Berbicara tentang percintaan anak muda Kristen sekarang ini tidak lepas dari pentingnya pemahaman yang benar tentang percintaan gaya Kristiani.  Istilah cinta  atau  kasih dalam konteks bahasa aslinya (Yunani) yang dipakai dalam PB dipakai beberapa kata:
a.    Storge.  Pengertian sederhananya dalam konteks hubungan manusia dengan yang lainnya adalah satu perasaan ingin melindungi/menjaga objek yang mereka kasihi.  Dalam kaitannya dengan pergaulan pemuda Kristen, kasih Storge memberi peranan penting dalam pergaulan dengan sesama atau beda jenis kelamin.  Khususnya pergaulan antar beda jenis kelamin akan memberikan dinamika perasaan di antara mereka untuk bisa saling menjaga dan menopang satu dengan lainnya.  Keindahan kasih Storge memberikan semangat positif bagi kaum muda untuk menciptakan kerukunan dan perdamaian serta persahabatan yang di dalamnya nama Yesus dipermuliakan.
b.    Philos. Kasih Philos menyebabkan seseorang memiliki perasaan ‘suka atau menyukai’  kepada objek kasih.  Jenis kasih ini berperan penting secara nyata dalam hobby seseorang, menciptakan persahabatan yang sangat kental dalam pergaulan (tingkatan lebih tinggi dari sekadar sebagai teman) dan kefanatikan terhadap seorang tokoh.
c.    Eros.  Jenis kasih Eros lebih banyak berperan dalam perasaan ketertarikan kepada lawan jenis kelamin.  Eros membawa sensasi-sensasi secara pribadi, unik dan luar biasa.  Bagi kaum muda dan yang belum menikah, kasih Eros memberikan kesempatan positif  dan  negatif.  Satu sisi dari kasih Eros adalah perasaan “jatuh cinta” seseorang.  Jatuh cinta, orang pada umumnya mengekspresikan “berjuta-juta rasanya/indahnya” karena tidak ada definisi yang paling tepat menggambarkannya.  Dalam Kidung Agung 5:8, “….. Katakanlah, sakit asmara aku!”  adalah ekspresi ‘jatuh cinta’ dari gadis Sulam kepada Salomo.   Kesempatan negatif  dari kasih Eros bagi kaum muda Kristen dan yang belum menikah adalah pada sisi gairah seks/menggerakan cinta/membangkitkan cinta sebelum diingininya (Kid. 2:7).  Dalam Kidung Agung Salomo 7:12, “…. Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu.”  Kata ‘cintaku’  terjemahan bahasa Ibrani berarti  gairah seksual untuk kegiatan hubungan seksual.
d.    Agape.   Tiga jenis kasih yang pertama adalah kasih yang dimiliki manusia sejak dari kandungan, tetapi kasih agape adalah kasih yang tidak dimiliki manusia secara alamiah.  Jenis kasih  Agape adalah karunia Tuhan yang patut disyukuri dan dipertanggung jawabkan.  Agape sifatnya ilahi, murni, stabil, tidak mengenal batas dan tergantung pada yang mengasihi.  Agape sangat penting dalam pergaulan kaum muda Kristen untuk menjaga pergaulan yang baik dan juga dapat membawa kepada kehidupan rumah tangga Kristen yang ideal.
3.    Istilah “Pacar/Pacaran” dalam Yer. 13:21, 22

Keindahan dan kenangan masa muda di dalam pergaulan muda-mudi adalah kesempatan yang datang satu kali seumur hidup.  Masa-masa remaja dengan kenangan ‘cinta monyetnya’; masa pemuda dengan kenangan yang penuh ‘trik dan intrik’ dunia percintaan agar dapat memenangkan hati ‘si dianya’; dsb.  Dalam menikmati masa-masa indah ini tidak lepas dari godaan-godaan untuk melakukan dan bahkan terjerumus dalam kegiatan  seksualitas yang menjurus kepada  seks bebas atau seks pra-nikah. 
Gaya hidup pergaulan muda-mudi duniawi yang mengagung-agungkan  seks, melakukan  seks (percumbuan, perciuman, dsb) dan  berhubungan seks menjadi kebiasaan, yang dianggap wajar dilakukan sebelum nikah.  Gejala dan kecenderungan ini menjadi pola buruk yang kadang dianut oleh kaum muda Kristen dewasa ini.  Falsafah dan kebiasaan ini tidak terlepas dari pengaruh istilah yang umum dipakai oleh banyak kalangan, yaitu istilah pacar/pacaran.
Menurut Epafroditus H. Adijanto, acuan untuk mengupas etimologi istilah pacaran adalah Yer. 13:21-22, “Apakah yang kaukatakan, apabila diangkat menjadi kepalamu orang-orang yang kauperlakukan sebagai pacar?  …..”    Kata pacar pada ayat 21 dalam bahasa Ibrani (al-loof) yang berarti keintiman;  sehingga terjemahannya ….. kauperlakukan sebagai teman keintiman.  Dalam pengertian lain kata pacar juga berarti:  Teman hubungan intim/teman hubungan seks/teman main seks!   Dalam konteks ayat 21-22 tersebut sangat jelas apa yang sedang terjadi ketika ada orang tertentu yang diangkat menjadi pemimpin, juga diberikan ‘pelayanan seks’, maka akibatnya adalah terjadi pelecehan seksualitas yang sangat fatal.
Dalam Kidung Agung Salomo 7:10-12 dipakai juga istilah ‘ bunga pacar’ (Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!).  pengertian ‘di antara bunga-bunga pacar’ sebagai simbol tempat yang tepat untuk melakukan hubungan  seks bagi pasangan suami istri. 
Pengaruh dari etimologi kata ‘pacaran’  dan falsafah yang mengikutinya, memberikan suatu istilah kepada beberapa orang untuk menjadikan ‘masa pacaran’ secara kesempatan untuk mencari kecocokan dengan pasangannya dan kesempatan coba-coba dulu.  Semuanya dicoba, termasuk di dalamnya coba-coba hal seksualitasnya.
Oleh karena itu, istilah pacaran tidak layak dan tidak cocok dipakai dalam dunia pergaulan muda-mudi Kristen yang belum menikah.
Pendapat itu sejalan dengan pendapat seorang ahli Psikologi Gary R. Collins yang menyamakan istilah berpacaran dengan istilah seks.  Dalam pengungkapannya Collins memakai kata atau (berpacaran  atau seks) berarti maknanya sama.
4.    Tentang Keperawanan (virginitas)
Keperawanan (virginitas) seorang perempuan menimbulkan polemik.  Sebagian kaum perempuan masih mempertahankan keperawanannya hingga hari pernikahannya tiba untuk dipersembahkan sebagai yang terbaik untuk suaminya, tetapi sebagian yang lain menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah ketinggalan zaman.  Karena arus informasi global dan issu-issu tentang HAM, maka tiap wanita berhak menentukan hidupnya sendiri, termasuk masalah seksualitasnya sebelum menikah.
Apa kata Alkitab tentang Virginitas? 
a.    Virginitas menyatakan kesucian/kemurnian seorang perempuan (Im. 21:13-14; Luk. 1:27;  Why. 14:4).
b.    Virginitas menyatakan nilai/martabat/harga diri seorang perempuan (Ul. 22:20-21, 28-29; Kel. 22:16-17.  Karena itu virginitas seorang gadis dalam PL dilindungi oleh undang-undang, sehingga bagi seorang perempuan yang terbukti telah merusak keperawanannya sebelum menikah dapat dijatuhi hukuman mati (Ul. 22:20-23, 28-29; Kel. 22:17; Im. 21:13-14).
5.    Tentang Masturbasi/Onani
Secara alamiah seorang perempuan mengalami masa haid rata-rata tiap 28 hari sekali, demikian juga dengan laki-laki mengalami masa haid setiap 5 minggu sekali.  Sperma laki-laki yang sudah matang secara alamiah akan keluar dengan sendirinya yang disebut dengan mimpi basah (wet dream).  Masalah masturbasi/onani apakah termasuk dosa atau tidak? Untuk menjawabnya, pikirkanlah pertanyaan ini, apakah ada/bisa orang yang sedang melakukannya tidak membayangkan tentang seks atau seorang wanita/laki-laki atau gambar-gambar yang menggairahkannya?
Bagaimana dengan onani yang dilakukan oleh pria yang sudah menikah?  Menurut Epafroditus H. Adijanto, hal itu perlu dipertimbangkan, misalnya karena suatu kondisi di mana istrinya atau dia sendiri berada di luar kota beberapa hari/minggu atau istrinya sedang sakit, sehingga tidak bisa melayani kebutuhan seks suaminya, maka onani boleh dilakukan dengan catatan bahwa ketika melakukannya, fantasi seks adalah berorientasi kepada bayangan tubuh dan kemolekan istrinya sendiri dan  bukan bayangan wanita lain.
Menurut dr. Boyke bahwa suami istri yang saling berjauhan lebih baik masturbasi/onani dari pada pergi selingkuh atau pergi ke tempat pelacuran.
Menurut laporan koran Kompas bahwa laki-laki yang keseringan melakukan onani lebih besar potensinya akan menderita penyakit prostat.
Kegiatan seks pada wanita yang belum menikah disebut masturbasi, yaitu dengan sengaja merangsang/menstimulasi seks dirinya sendiri dengan benda-benda stimulator dengan maksud untuk mencapai sensasi/kepuasan seks dari alat-alat tersebut.  Menurut Kidung Agung Salomo 2:7; 3:5; 8:4, “Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, ….: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!”  Ayat-ayat ini merupakan teguran/nasehat kepada kaum wanita yang belum menikah untuk tidak membangkitkan dan menggerakkan cinta/seks sebelum waktunya.
Waktu bagi seorang wanita untuk dapat menikmati seks adalah dalam konteks pernikahan bersama dengan suaminya.  Menurut Adijanto, kegiatan seks lainnya yang tidak boleh dibangkitkan dan digerakkan sebelum waktunya adalah petting (kegiatan seks dalam percumbuan, perangsangan, atau rabaan tanpa kegiatan coitus).

6.    Tahap-tahap Pergaulan Muda-Mudi Kristen yang Sepatutnya

a.    Perkenalan.  Akibat dari pertemuan adalah perkenalan.  Perkenalan ini dapat bersifat umum, bisa laki-laki dengan laki-laki, bisa laki-laki dengan perempuan, bisa perempuan dengan perempuan  dan bisa perempuan dengan laki-laki.  Pengalaman ini kadangkala ada beberapa di antara mereka mempunyai kesan “pandangan pertama” yang akan mengarah kepada pergaulan yang lebih khusus.
b.    Teman.  Setelah perkenalan, selanjutnya adalah teman.  Teman adalah dasar dari kebutuhan manusia yang memiliki kebutuhan sosial.  Pertemanan ini bisa terjadi seperti pada masa perkenalan tadi.  Teman itu sifatnya umum dan luas cakupannya dalam hal tahu nama, alamat, nomor telepon, dsb.  Jumlah teman sangat tergantung kepada seseorang dalam bergaul dengan orang lain.
c.    Sahabat/teman dekat/teman spesial.  Perbedaan yang mencolok antara teman atau sahabat adalah dari jumlahnya.  Persahabatan dapat bersifat umum dan khusus.  Bersifat umum karena lingkup persahabatan itu luas dalam pengertian jenis kelamin, umur, etnis, budaya dan latar belakang seseorang.  Sahabat atau teman dekat menyangkut pengenalan karakter, kelebihan-kelebihan, hobby, dan pengenalan hati yang spesifik.  Pengenalan ini memberikan kesempatan untuk saling menopang dan saling melengkapi sebagai sahabat.  Tahap persahabatan adalah tahap di mana saling memberi dan menerima dan tahap inilah yang sangat penting untuk memiliki kesempatan untuk menjadi teman spesial (jika laki-laki – perempuan).  Teman spesial  adalah masa-masa dua orang sahabat berlainan jenis timbul ‘getar-getar cinta/jatuh cinta’ di antara mereka.  Persahabatan adalah masa yang  paling tepat untuk dua orang yang berlainan jenis membawa hubungan mereka menjadi sepasang suami istri di kemudian hari.  Masa ini bukan masa uji coba secara  seksual, apakah cocok atau tidak, tetapi merupakan masa untuk saling mengenal secara dalam sebelum mengambil keputusan untuk bertunangan.
d.    Pertunangan.  Pertunangan adalah masa peneguhan di hadapan banyak orang bahwa mereka yang tadinya hanya teman spesial  sekarang mengumumkan hubungan mereka akan masuk ke dalam kehidupan pernikahan.  Cara peneguhan pertunangan memiliki beberapa macam cara, misalnya acara “tukar cincin”, dsb.  Menurut tradisi Yahudi, pertunangan maksimal 1 tahun.  Pertunangan dilindungi oleh hukum, sehingga untuk membatalkannya dibutuhkan istilah perceraian.  Karenanya pertunangan  lebih cepat lebih baik untuk menghindari  bahaya hangus oleh hawa nafsu birahi yang belum waktunya.
e.    Pernikahan (pacaran).  Pernikahan adalah tahap peneguhan secara sah seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi pasangan suami istri.  Secara nyata bahwa dalam pernikahanlah sebenarnya pacaran itu legal dalam hukum Kristus.  Pernikahan  itulah pacaran yang sebenarnya di mana suami istri adalah  teman hubungan intim/teman hubungan seks/teman main seks yang legal.  Pacaran  adalah salah satu berkat dari kehidupan pernikahan suami istri.  Masa pacaran dalam pernikahan memiliki rentang waktu seumur hidup bagi suami istri.

KESIMPULAN

1.    Seks itu adalah karunia Tuhan yang harus dihormati.
2.    Hubungan seks hanya dibenarkan di dalam konteks pernikahan yang sah.
3.    Hubungan seks di luar pernikahan yang sah adalah pemberontakan terhadap ketetapan Tuhan. 
Referensi bagian Alkitab yang melarang seks luar nikah:
•    Kis. 15:20 (supaya mereka menjauhkan diri dari percabulan);
•    Kis. 21:25 (harus menjauhkan diri dari percabulan);
•    Rm. 13:13 (jangan dalam percabulan);
•    1Kor. 6:9 (orang cabul dan berzinah tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah);
•    1Kor. 6:13 (tubuh bukanlah untuk percabulan);
•    1Kor. 6:18 (jauhkanlah dirimu dari percabulan);
•    1Kor. 7:2 (mengingat bahaya percabulan, lebih baik kawin);
•    1Kor. 10:8 (janganlah kita melakukan percabulan);
•    Gal. 5:19 (perbuatan daging … adalah percabulan);
•    Ef. 5:3 (percabulan jangan di antara kamu);
•    Kol. 3:5 (matikanlah dalam dirimu … percabulan);
•    1Tes. 4:3 (supaya kamu menjauhi percabulan;
•    Ibr. 12:16 (janganlah ada orang yang menjadi cabul);
•    Ams. 6:32 (siapa melakukan zinah tidak berakal budi);
•    Kel. 20:14 (jangan berzinah), dsb.
Akibat seks luar nikah:
 Tidak mendapat tempat dalam kerajaan Allah (1Kor. 6:9).
 Apa yang ditanam, itu juga yang dituai (Gal. 6:7).
 Kesaksian Kristen menjadi rusak (2Kor. 3:3).
 Trauma, kehamilan yang tidak dikehendaki, penyakit HIV/AIDS, KDRT, penyesalan seumur hidup, dsb.

Solusinya:
 Preventif:
     Awasi diri sendiri (1Tim. 4:16).
     Perlu penguasaan diri (Gal. 5:23).
     Dengarlah nasihat orang tua, orang bijak, dan firman Tuhan (Kel. 20:12).
     Hindari pergaulan bebas.
     Perlu pembinaan dari pihak gereja dan pihak yang     terkait.
     Perlu pikiran yang sehat/positif (Fil. 4:8).
 Kuratif:
     Bertobat dan minta pengampunan (1Yoh. 1:9).


Referensi :

Adijanto, Epafroditus Hery.  Arsitektur Seks Alkitabiah.  Makassar:  Holistik Ministry Publisher, 2007.
Archibald D. Hart sebagaimana yang dikutip oleh Daniel Ronda dalam Artikel “Menolong Orang Tua Menghadapi Bahaya Pornografi”.
Collins, Gary R.  Konseling Kristen yang Efektif.  Malang: Literatur SAAT, 2007.
 “Penyakit Prostat,”  Kompas,  2008.
Lingga, Markus.  Bahan Pelajaran untuk PKM Dirgantara tentang “Love and Dating.”    Gereja KIBAID Jemaat Dirgantara, Makassar, 2007.
Lingga, Markus.  Bahan Pelajaran untuk PKM Dirgantara tentang “Nilai Keperawanan Seorang Perempuan Kristen.” Gereja KIBAID Jemaat Dirgantara, Makassar, 2005.
Lingga, Markus.  Catatan Kuliah Rumah Tangga Kristen/PAK Dewasa.  STT Kibaid, Makale,  2009.
Trisna, Jonathan A.  Pernikahan Kristen. Jakarta:  Lembaga Pendidikan Theologia Bethel Jakarta, 1987.
Wright H. Norman.   Melestarikan Kemesraan dalam Pernikahan. Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1994.


By :  Pdt. Markus Lingga, MTh   Lihat Profile Admin


Artikel Menarik Lainnya
Mensyukuri Karya Yang Luar Biasa Dalam Kehidupan Kita 

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top