Evangelism Unlimited

MEMPRAKTEKKAN POLA HIDUP YANG LAYAK Kisah 1:12-14

MEMPRAKTEKKAN POLA HIDUP YANG LAYAK Kisah 1:12-14

6 10 99
MEMPRAKTEKKAN POLA HIDUP YANG LAYAK Kisah 1:12-14 10 6 99

 12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauh-Nya dari Yerusalem.
13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.  1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.



Pendahuluan
Dari Kis 1 ayat 1-11, para warga gereja mula-mula itu diajar dan diarahkan.  Mereka mendengar dan
melihat contoh hal-hal yang kelak harus mereka lakukan.  Kedudukan mereka sebagai murid yang duduk mendengar dan menerima pengajaan. Tetapi dalam ayat 12-14, mereka menjadi murid yang mulai bertindak untuk mengerjakan tugas mereka yang layak dan suci. Kedua bahagian itu ditengahi oleh kenaikan Kristus ke surga. Tujuan pendidikan adalah pelaksanaan, arah kemuridan adalah kedewasaan dan sasaran menerima dari Kristus adalah memberi kepada orang lain.
Para murid Yesus harus terlebih dahulu duduk dikaki-Nya menerima pengajaran supaya kelak hal yang mereka lakukan adalah hal yang sesuai dengan kehendak-Nya.  Musa, Yosua, Elisa, Murid-Murid-Nya, Paulus, adalah hamba-hamba Tuhan yang sangat berhasil dalam pelayanan mereka karena mereka sebelumnya telah berhasil menjadi murid selama bertahun-tahun dalam sekolah Tuhan. 
Beberapa tahun yang lalu, muncul kecenderungan pemahaman yang keliru bahwa kemurnian seorang yang dipanggil adalah terlihat dari kesanggupannya berbicara dan melayani tanpa belajar secara formal dalam sekolah Tuhan.  Pada masa kini muncul kecenderungan yang sebaliknya yaitu hamba-hamba Tuhan yang menjalani pendidikan formal berahun-tahun di sekolah teologi dengan gelar-gelar yang sah secara akademis, tetapi sangat miskin dalam praktek dan keterampilan pelayanan.  Seharusnya hamba Tuhan yang diajar dan belajar banyak daripadanya akan muncul buah praktek pelayanan yang lebih banyak pula.

Pola Dasar Hidup Yang Layak
Pola dasar hidup yang patut dan layak yang dipraktekkan para warga dan pelayan jemaat mula-mula itu adalah ketaatan, memelihara tim pelayanan, mengembangkan diri melalui penginjilan, dan berdoa bersama dengan bertekun dan sehati. 
Begitu pentingnya hal-hal ini sehingga kita perlu memohon pertolongan Roh Kudus untuk membawa kita memahami sebaik-baiknya dan meneladaninya dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan dan pelayanan kita.

1.        Ketaataan, 12
Para murid tidak boleh salah paham tentang pelaksanaan pelayanan.  Selama Yesus masih di Palestina bersama mereka Yesuslah Subjek Penginisiatif yang aktif melakukan pelayanan.  Mereka hanya menjadi subjek pengikut sebagai murid.  Nilai hidup mereka terletak dalam kesetiaan mengikuti Tuhan Yesus. 
Tetapi Tuhan Yesus telah kembali ke surga, tidak lagi bersama mereka secara fisik.  Apakah nilai hidup mereka sekarang harus ditentukan secara berbeda?   Apakah sekarang mereka yang menjadi Subjek Utama pekerjaan Tuhan?  Pertanyaan ini banyak dijawab secara salah dalam praktek pelayanan pekerjaan Tuhan.  Jawaban yang benar adalah: Tidak! Pengalaman bukit Zaitun tidak mengubah nilai hidup mereka melainkan semakin mengokohkan posisi mereka sebagai subjek peserta  dan Tuhan Yesus harus semakin kokoh sebagai Subjek Penginistiatif  pekerjaan-Nya. Kepesertaan mereka tidak boleh berobah menjadi penginistiatif-pemilik pekerjaan Tuhan, karena bila terjadi seperti itu akan mengacaukan tatanan pekerjaan Tuhan. Tujuan utama Kristus  memanggil para murid itu memang adalah untuk “menyertai” Dia: “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan,” Markus 3:14-15.  Para murid, setiap hamba Tuhan, Anda, Saya, kita semua, akan membuat indah pekerjaan Tuhan dengan tetap sebagai peserta pelayanan-Nya, dan dari posisi itulah kita akan diutus untuk memberitakan Injil dan untuk mengusir setan.  Sebagai subjek peserta,  nilai hidup kita ditentukan dalam kata ini: ketaatan; Taat dalam menyertai Dia, taat dalam penginjilan dan taat dalam mengusir setan.
Dalam hal para warga jemaat mula-mula dan perintis jemaat itu sudah jelas sekali ketaatan mereka: “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem.” Tuhan sudah memilih Yerusalem sebagai titik pusat universal untuk memulai gereja-Nya.  Dengan kembali ke Yerusalem maka para rasul itu bukan saja taat kepada perintah Tuhan Yesus, melainkan mereka mau menyesuaikan diri dengan pilihan Tuhan dan ingin menjadi bahagian dalam pusat sejarah kerajaan Allah fase ketiga di dunia.  Fase pertama adalah kerajaan Allah di tengah-tengah umat Israel dimana Tuhan mengutus imam-imam, raja-raja dan para nabi-Nya.  Tetapi Israel menolak, bahkan membunuh nabi-nabi Tuhan.  Fase kedua adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri berada di Palestina di tengah-tengah umat-Nya, mengajar mereka, memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kuasa kerajaan-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan.  Umat-Nya tetap menolak Dia bahkan menyerahkan Dia untuk disalibkan dan dibunuh oleh penguasa dunia waktu itu.  Kini tiba sejarah kerajaan Allah fase ketiga yaitu pencurahan Roh Kudus untuk mendirikan gereja-Nya yang memang tetap dimulai dari Yerusalem, tetapi kelak akan berkembang ke bangsa-bangsa lain sebagai ujung bumi sebagaimana telah diprogramkan dalam amanat agung Tuhan Yesus.
Kitab ini menunjukkan beberapa aspek mengenai ketaatan.  Sikap taat kepada Tuhan hanya bisa terbangun jika kita memunyai prioritas yang benar, pertama kepada Allah baru menyusul prioritas berikutnya, 4:19; 5:29.  Keberanian bersandar kepada Tuhan dan tidak takut kepada manusia melebihi rasa takut kepada Tuhan, diperlukan untuk mentaati sepenuhnya perintah Tuhan, 5:21.  Roh Kudus dikaruniakan kepada setiap orang yang mentaati Dia, dalam hal ini Roh Kudus menolong orang percaya untuk taat dan setelah orang percaya itu terbangun dalam ketaatan, Roh Kudus menambah-nambahkan karya kuasa-Nya atas orang itu, 5:32.  Jelas sekali bahwa karakter melawan Tuhan akan membentuk seseorang apabila dia tidak bersedia mentaati Firman-Nya yang disampaikan oleh hamba-hamba-Nya, 7:39.  Rasul Paulus tidak perlu mendapat perintah Tuhan dua kali karena sekali saja dia menerima kehendak Allah yang menugasi dia, maka dia akan dengan setia memelihara hidupnya dalam ketaatan kepada pimpinan Tuhan tersebut, 26:19.
Waktu itu para warga jemaat pertama itu belum tahu apa akibat dari ketaatan mereka waktu itu, karena buah dan efek hebat ketaatan mereka barulah diketahui dengan jelas setelah sebahagian besar dari mereka telah meninggal setelah sampai kepada bahagian terakhir abad pertama Masehi;  tetapi kita pada masa kini dapat menilainya secara lengkap, sehingga kita seharusnya lebih termotivasi untuk taat ketimbang para rasul waktu itu. 
Kata “kembali” dalam kata dasar bahasa aslinya mengandung pengertian bahwa para rasul itu menempatkan diri dibawah kekuasaan Tuhan, sehingga mereka kembali ke Yerusalem.  Ketaatan sebagai sikap umum selalu membentuk sifat manusia yang pasti dipuji orang lain, akan tetapi ketaatan itu barulah bernilai kekal apabila ditempatkan sebagai sikap hidup seseorang dalam relasinya dengan otoritas Tuhan Yesus Kristus dan Firman-Nya.

2.        Memelihara Tim kerja, 13
Hal itu ditandai dengan dua fakta, yaitu pencatatan nama-nama para rasul yang kembali ke Yerusalem bersama-sama dan sifat dari tim kerja itu yaitu sehati, seperti tertulis dalam ayat 14a.  Dalam pencatatan nama-nama itu Lukas memunyai kekhususan dibanding daftar nama dalam tulisan Matius dan Markus.  Baik dalam daftar Injil Lukas mau pun dalam Kisah Rasul, Lukas mencatat hanya 11 orang, karena Yudas Iskariot yang masih didaftarkan Matius dan Markus dengan tambahan keterangan yaitu yang telah menghianati Yesus, tidak lagi didaftarkan oleh Lukas.  Disamping itu, Matius dan Markus mencatat nama Tadeus yang dalam daftar Lukas tidak ada tetapi dalam daftar Lukas ada nama Yudas anak Yakobus sedangkan Matius dan Markus tidak mencatat nama tersebut.  Tadeus dan Yudas anak Yakobus adalah sama, sama seperti Bartolomeus sama dengan Natanael dan Matius sama dengan Lewi.  Lukas yang seorang penulis non Yahudi, yang menujukan langsung tulisan Injil Lukas dan Kisah Rasul kepada jemaat dan pembaca non Yahudi, menganggap tepat untuk tidak lagi mencantumkan dalam tulisannya tentang nama Yudas Iskariot dan keterangan penghianatannya terhadap Yesus Kristus. 
Keutuhan tim rekan sepelayanan itu tidak ditentukan oleh urutan daftar nama secara tepat tetapi lebih ditentukan oleh keutuhan semangat rohani sehingga sifat berhianat tidak layak menyelinap di dalamnya.  Mereka berangkat ke bukit Zaitun dan kembali ke Yerusalem masuk rumah tumpangan yang sama dan naik ke ruang atas rumah itu yang adalah rumah Maria ibu Yohanes Markus.  Mereka bersama-sama dipanggil oleh Tuhan Yesus, diajar dan dilatih serta diutus oleh-Nya sejak dari baptisan Yohanes di sungai Yordan, dan semua pengalaman itu cukup kuat mengikat mereka dalam satu kesatuan yang kokoh.
Cukup banyak faktor yang dapat menyulitkan keutuhan rohani dan kesehatian kelompok kecil itu.  Petrus dapat disisihkan dengan alasan telah pernah menyangkal Tuhan Yesus pada malam penangkapan-Nya; Matius atau Lewi memunyai latar belakang sebagai pegawai pajak negara penjajah yang selalu dibenci masyarakat Yahudi;  Simon orang Zelot sebagai anggota kelompok radikal boleh jadi masih nampak sisa-sisa jiwa keras kepatriotannya;  Yohanes dan Yakobus pernah berambisi negatif ingin menjadi lebih tinggi dari anggota-amggota lain dalam kelompok itu.  Hanya karena jiwa dan roh mereka telah dibentuk oleh Tuhan dan karena teladan Tuhan Yesus yang mengampuni dan menerima mereka apa adanya, yang memampukan mereka untuk saling mengampuni dan saling menerima satu sama lain, sebagai syarat-syarat penting untuk memelihara keutuhan tim pelayanan.
Selama ini, Yesus, Guru Agung mereka, masih bersama-sama dengan mereka secara jasmani dan menjadi magnit kuat menarik mereka ke dalam ikatan kesatuan utuh.  Tetapi kini Dia telah naik ke surga, mata mereka tidak lagi melihat dan tangan mereka tidak lagi dapat meraba-Nya. Mereka laksana pendayung kapal yang sedang berlayar di lautan bergelombang hebat, tanpa nakoda, pada hal mereka sedang mengemban tugas universal berakibat kekal, dari Sang Nakoda yang telah meninggalkan mereka tersebut.  Namun, mereka yakin akan janji-Nya untuk menyertai mereka sampai akhir zaman, asal mereka tetap dalam pelaksanaan proyek-Nya menjadikan murid Kristus dengan pergi memberitakan Injil, menjemaatkan orang percaya dan mendidik serta mendewasakan warga gereja-Nya.  Dan baik mereka waktu itu sadar atau tidak, doa Tuhan Yesus akan kesatuan mereka, Yohanes 17:22-23, sedang berlangsung dalam kehidupan mereka.
Kata bahasa asli “sehati” dalam PB terdapat hanya satu kali di luar Kisah Rasul yaitu di Roma 15:6 yang menekankan bahwa warga jemaat dapat memuliakan Allah dengan menerapkan kesehatian tersebut.  W. Wiersbe mengatakan bahwa kesatuan seperti itu diperlukan oleh orang kristen dewasa ini.  Beliau mengutip ucapan seorang pengkhotbah yang saleh dari Inggris bernama Rowland Hill: “Saya tidak ingin tembok-tembok pemisah di antara aliran-aliran kristen itu diruntuhkan, tetapi hendaknya direndahkan, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk saling berjabat tangan.”
Kata asli “sehati” itu terdapat sebelas kali di dalam kitab Kisah Rasul yang membuktikan betapa pentingnya kesehatian di antara para warga jemaat dalam melakukan pelayanan penginjilan dan pendirian jemaat-jemaat Kristus. Kata kesehatian itu dalam kitab Kisah Rasul menekankan dua sisi yaitu kebersamaan dan kesehatian, sebagai saling membuktikan dan saling menguatkan artinya kesehatian patut diwujudkan dalam kebersamaan dan kebersamaan (secara phisik) tanpa kesehatian hanyalah moral umum (provan) belaka bukan moral surgawi.  Para warga gereja awal itu menghidupi kedua sisi kesehatian tersebut. 
  Kesehatian adalah salah satu syarat doa yang berkenan kepada Tuhan, 1:14;  Roh Kudus dicurahkan ke atas warga gereja itu yang berkumpul bersama-sama dan sehati, 2:1;  Persekutuan yang dinamis dan penuh semangat di dalam jemaat Tuhan dimungkinkan dengan adanya kesehatian, 2:46;  Ketika hamba-hamba Tuhan menghadapi perlawanan terhadap pekabaran Injil dan pelayanan,  warga jemaat seluruhnya akan ikut serta dalam peperangan rohani melalui doa apabila telah hidup dalam kebersamaan dan kesehatian, 4:24;  Ketika semua orang percaya bersama dan sehati dalam persekutuan, maka Tuhan leluasa melakukan mujizat-mujizat melalui hamba-hamba-Nya, 5:12;  Pemberitaan Injil yang disampaikan oleh hamba Tuhan dapat membangkitkan iman bersama dan bulat hati di antara para pendengar, 8:6;  Kebersamaan dan kesehatian dalam masyarakat dengan strategi pendekatan yang sopan dan baik, dapat melembutkan hati penguasa yang diktator untuk menyejahterakan rakyat, 12:20;  Keputusan organisatoris untuk memelihara ajaran dan memajukan pelayanan gereja Tuhan harus diambil dalam suasana dan sikap kesehatian, 15:25;   Penentangan dan perusakan pekerjaan Tuhan dapat berlangsung apabila kuasa kegelapan membangkitkan kebersamaan dalam komunitas yang tidak percaya, hal itu harus sungguh mendorong warga gereja untuk hidup dalam kebersamaan dan kesehatian surgawi untuk menghadapinya, 7:57; 18:12; 19:29.

3.        Mengembangkan diri melalui penginjilan yang berhasil, 14c
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.”  Jika ayat ini dibandingkan dengan Yohanes 7:5 : “Sebab saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya,”  maka kita menyimpulkan bahwa suatu perkembangan yang sungguh baik telah terjadi secara khusus di antara saudara-saudara secara jasmani Tuhan Yesus.  Mereka telah berobah dari tidak percaya menjadi percaya.  Mereka telah mengalami proses penginjilan dimana mereka memutuskan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Allah dan Juruselamat mereka secara pribadi.  Siapakah yang menolong mereka atau bagaimanakah caranya sehingga mereka mengalami perobahan yang luar biasa tersebut?
Ada dua kemungkinan.  Yang pertama, para rasul itu terus menerus berusaha melakukan pendekatan dan meyakinkan saudara-saudara Tuhan Yesus bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan Tuhan melalui para nabi.  Pendekatan semacam itu sangat mungkin karena ada hubungan dekat secara darah-daging antara Yohanes dan Yakobus saudaranya dengan saudara-saudara Tuhan Yesus, karena ibu Yohanes dan Yakobus bersaudara dengan Maria yang melahirkan Yesus. Keyakinan kepada Yesus yang begitu kuat dalam diri murid-murid-Nya, yang disaksikan saudara-saudara Yesus, tentu mengundang keingintahuan mereka.  Dan itulah kesempatan yang baik bagi murid-murid-Nya untuk bersaksi kepada saudara-saudara-Nya apalagi setelah Dia bangkit.  Yang kedua adalah melalui Yakobus, anak sulung Maria bersama Yusuf, adik Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus, setelah bangkit, menampakkan diri secara khusus kepada Yakobus, I Kor 15:7, yang segera membawa Yakobus sungguh percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Mesias dan Juruselamat satu-satunya.  Setelah Yakobus bertobat dia menginjili saudara-saudaranya yang lain dan mereka juga menjadi percaya.  Persekutuan warga gereja mula-mula itu sangat efektif dalam kesaksian mereka karena hanya dalam beberapa hari saja, jumlah mereka telah mencapai 120 orang, ay 15.
Ada kecenderungan bahwa ketika para hamba Tuhan masih sedang dalam pembentukan,  mereka masih sangat rajin untuk bersaksi dan memberitakan Injil, tetapi mulai berkurang semangat penginjilannya bahkan berhenti total menginjili setelah menjadi hamba Tuhan yang “mapan” dan “berkedudukan.” Para rasul harus menjadi teladan bagi hamba-hamba Tuhan masa kini, untuk mempertahankan kesukaan memberitakan Injil secara umum dan secara pribadi setiap kali Tuhan membuka kesempatan.  Dicatat dalam satu buku bahwa ada seorang hamba Tuhan di Amerika Serikat, yang telah berjanji dengan Tuhan bahwa dia akan bersaksi setiap hari minimal kepada satu orang yang belum percaya.  Pada satu hari dia begitu sibuk di kantor gerejanya, sehingga dia merasa hari itu dia akan gagal memenuhi janjinya karena dia tidak memunyai kesempatan untuk menginjili satu orang pun.  Ketika malam sudah tiba, dia sudah lelah dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya, yang dapat ia tempuh dengan berjalan kaki dari kantornya, tiba-tiba hujan turun cukup lebat, tetapi untung dia telah menyediakan payung karena memang saat itu musim hujan.  Setelah mengunci kantor, dia segera membuka payung untuk berjalan ke rumah, tiba-tiba dia melihat seorang masih muda yang berlari merapat ke sudut tembok kantornya untuk bernaung dari basah kuyup.  Pendeta itu segera mendekatinya, saling berkenalan dan dia tahu bahwa rumah orang itu lebih dekat daripada rumahnya dan pendeta itu akan melewati rumah ayah yang masih muda itu, maka dia mengajak untuk berjalan bersama dibawah perlindungan payungnya yang cukup besar.  Pendeta itu bersyukur karena ternyata Tuhan membuka kesempatan bagi dia untuk memenuhi janjinya dan dia menginjili orang yang berkeyakinan agnostisisme (yakin bahwa mungkin Allah ada tetapi tidak dapat dikenal oleh manusia karena Dia terlalu tinggi dan suci) itu.  Malam itu adalah pertemuan pertama mereka dan atas kesepakatan mereka pembicaraan dilanjutkan pada hari-hari setelah itu, dan pada akhirnya orang itu menjadi orang kristen yang sungguh percaya kepada Kristus dia dan keluarganya menjadi anggota jemaat yang sungguh maju di dalam Tuhan di gereja yang digembalakan oleh pendeta yang menginjili dia.
 
4.        Berdoa bersama: dengan bertekun dan sehati, 14a
Inilah sisi paling mendasar dari praktek pola hidup yang layak yang dilakukan para pendiri jemaat pertama itu.  Dengan berdoa bersama-sama secara sehati dan tekun, maka mereka telah menemukan formula “menanti” janji Bapa yang sangat tepat.  Mereka masih ingat betul bagaimana Kristus berdoa empat puluh hari empat puluh malam sebelum Dia memulai pelayanan-Nya secara resmi, dan mereka telah menerapkan ajaran-ajaran Guru dan teladan-teladan-Nya tentang doa.  Persekutuan doa itu diikuti semua warga gereja awal yang dalam beberapa hari saja telah berkembang menjadi 120 orang.  Kelompok 120 orang itu yang berdoa dengan bertekun dan dengan sehati, pasti merupakan kelompok doa yang hebat dan yang pertama kali dimobilisasi sejak Yesus kembali ke surga.  Akumulasi makna ajaran dan teladan-Nya tentang kesalehan hidup, termasuk berdoa, yang berpuncak dalam peristiwa pemandangan kemuliaan kenaikan-Nya ke surga dan janji kedatangan-Nya kembali,  mulai menghasilkan langkah-langkah agung dalam pola hidup warga awal gereja-Nya.
Dalam seluruh catatan kitab Kisah Rasul, kita dapat melihat tiga pilar doa yang efektif yang dipraktekkan oleh hamba-hamba Tuhan dan warga jemaat.  Pilar-pilar itu adalah pertama berdoa dalam proses meminta, mencari dan mengetuk pintu, kedua memunyai kuasa doa dan yang ketiga memunyai kuasa berdoa.
Pilar pertama, berdoa dalam proses meminta, mencari dan mengetok pintu.  Hal itu sesuai dengan yang diajarkan Tuhan Yesus di bukit, Mat 7:7-8: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  Ketiga kata itu: meminta, mencari, mengetok menyatakan proses kedewasan rohani orang percaya yang berangkat dari hubungan yang renggang dengan Tuhan kepada hubungan yang semakin mendekati Dia dan akhirnya berpuncak dalam penyatuan rohani. 
Proses meminta menekankan keperluan peminta atau pendoa, untuk disampaikan kepada Tuhan yang diyakini dapat memberikan apa yang diperlukan dan yang diminta kepada-Nya.  Dalam proses meminta, yang lebih diinginkan hanya berkat Tuhan bukan Diri Tuhan sendiri.  Tuhan walaupun jauh di surga sana, dapat memberikan berkat kepada pendoa yang jauh dari Dia. Contoh paling jelas tentang proses meminta ini adalah seperti orang-orang Yahudi yang meminta atau mengharapkan otoritas Tuhan untuk melepaskan mereka dari kuasa penjajahan bangsa lain, atau seperti Simon di Samaria itu yang meminta kuasa Tuhan seperti yang dia lihat ada pada Filipus, dan rasul Petrus yang datang dari Yerusalem, Kis 8:1-20. 
Proses mencari, lebih maju dari meminta.  Pencari harus melakukan pendekatan kepada Diri Tuhan melalui beribadah, bersekutu, melayani,  bersaksi, memberi harta dan diri kepada Tuhan.  Dia harus meninggalkan posisinya, kehidupan lamanya, ketawarannya, ketidakbernyalaan hidupnya, dan datang kepada Tuhan.  Namun dalam melakukan semua itu masih dalam rangka pendekatan supaya dicurahi berkat-berkat Tuhan yang diperlukan dan diharapkan.  Kornelius di Kaisari itu menjadi contoh yang sangat jelas dalam hal ini.  Dia membutuhkan keselamatan dari Tuhan sehingga dia melakukan pendekatan dalam doa, puasa, mencari hamba Tuhan, mendengarkan Firman Tuhan, bersekutu dan membuka peluang keluarga dan bawahannya mendengar Firman Tuhan, Kis 10:1-48.  Tetapi setelah Kornelius menjadi orang percaya, maka hidupnya meningkat dari proses mencari ke proses berikutnya.
Proses mengetok pintu berarti pendoa harus datang ke rumah dan ke kamar tinggal orang yang kepadanya dia meminta, tidak ke sembarang rumah dan sembarang kamar, lalu dia mengetok pintu kamar dan orang itu membuka pintu lalu bertemu muka dengan muka, saling berpelukan dalam kasih yang kudus, larut dalam persekutuan antar pribadi.  Dalam pertemuan itu Diri Tuhan menjadi segalanya dan berkat-berkat-Nya menjadi urutan berikutnya bukan lagi yang pertama dan terutama. Tingkat rohani ini adalah seperti yang Tuhan Yesus katakan: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.  Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya,” Yoh 15:4,5,7.  Ketika seseorang percaya telah sungguh-sungguh memelihara keberadaannya di dalam Tuhan, maka terjadilah dalam dirinya seperti janji Tuhan Yesus dalam Yohanes 4:14:  “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  Dr AB. Simson membuat sajak lagu yang sangat tepat menyatakan kebenaran ini: 
 Dulu yang kucari yakni berkat Hu
S'karang yang kurindu hanya Tuhanku
Dulu hal merasa yang kuinginlah
S'karang yang kucinta firman sajalah. 
Dulu ku berharap t’rima ‘nug'rah Nya; 
S'karang ku beroleh Dia yang memb’ri;
Dulu ku bernanti kesembuhan Nya;
S'karang ku mendapat Tabib Almasih.
      Dulu ku bersusah dan bersungutlah; 
S'karang ku bersandar sambil berserah; 
Dulu aku cari pegang tangan Hu;
S'karang Tuhan Yesus pegang tanganku. 
Dulu ku meminta pakai kuasa Hu; 
S'karang kuasa Roh-Nya p’nuhi hatiku; 
Dulu ku bekerja untuk diriku; 
S'karang ku mencari kemuliaan Hu.

      Koor : Dapat Tuhan Yesus dapat s'muanya; 
      S'mua dalam Yesus,
     Dan Yesus s'muanya

(Nyanyian Kemenangan Iman No 106).


Pilar ke dua: kuasa doa.  Sepanjang kitab ini dapat dikatakan bahwa di setiap halamannya tercatat kuasa doa yang nampak dalam pelayanan.  Berbagai cacat tubuh manusia dipulihkan; Beragam penyakit disembuhkan; Orang-orang mati dibangkitkan; Kuasa iblis dikalahkan; Orang-orang yang dirasuk setan dilepaskan; Banyak yang bertobat; Gereja-gereja didirikan bahkan di tempat-tempat yang sangat sukar;  Perselisihan diselesaikan; Injil diberitakan dengan sangat jelas dan berulang-ulang;  semua itu sebagai jawaban atas doa-doa para rasul dan orang-orang percaya.  Itulah yang kita namakan kuasa doa.  Seolah-olah surga begitu dekat dengan bumi untuk menyatakan kemuliaannya, Allah begitu aktif berkarya di dalam dan melalui umat-Nya.  Tetapi kuasa doa itu tidak terletak dalam diri para pendoa, tidak terletak dalam rumusan kata-kata doa mereka, tetapi semata-mata kehendak Allah menyatakan karya-Nya secara aktif.  Kuasa doa adalah kuasa Allah yang Dia nyatakan atas kehendak-Nya sendiri untuk kemuliaan-Nya dan untuk memberkati umat-Nya, untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia ini serta untuk menyatakan dominasi-Nya atas kuasa kegelapan, sesuai cara dan waktu yang Dia tetapkan sendiri.  Tidak boleh ada hamba Tuhan, bahkan rasul-Nya sekalipun, yang boleh mengklaim kuasa doa sebagai hasil kesalehan diri mereka.  Walaupun Allah menyatakan juga bahwa ada hubungan antara penyataan kuasa-Nya dengan ketekunan dan keteguhan iman umat-Nya dalam berdoa, tetapi bukan yang menentukannya.
Pilar ketiga, kuasa berdoa.  Di dalam taman Getsemani, menjelang penangkapan Yesus, diselenggarakan doa secara berkelompok: kelompok satu terdiri dari delapan murid, kelompok dua terdiri dari tiga murid dan kelompok tiga: Tuhan Yesus sendiri, seperti dicatat oleh Matius 26:36-46.  Anggota kelompok satu dan dua, kedapatan berulang-ulang tertidur ketika seharusnya mereka berdoa, hanya Yesus yang terus berdoa sepanjang waktu menjelang datangnya rombongan penangkap yang dipimpin oleh Yudas.  Dalam kisah itu, Yesus bukan hanya memunyai kuasa doa melainkan Dia memunyai kuasa berdoa, sementara murid-murid-Nya tidak memunyai kuasa berdoa sama sekali.  120 orang itu selama menanti 10 hari lamanya, hidup dalam kuasa berdoa.  Kis 4:31: “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”  Itu adalah kuasa doa sekaligus menyatakan adanya kuasa berdoa dari warga jemaat itu.  Menjelang hari ketujuh Petrus akan diputuskan akan dihukum mati/dieksekusi, maka sejak hari pertama ia dipenjarakan, warga jemaat terus dalam kuasa berdoa dan akhirnya nampak kuasa doa yaitu Petrus dilepaskan oleh Tuhan melalui malaikat-Nya, Kis 12:1-19.  Penyeberangan penginjilan ke daratan benua Eropa untuk pertama kalinya adalah hasil kuasa berdoa di Troas, Kis 16:4-12.  Tuhan memakai Paulus melepaskan semua penumpang kapal yang karam dari kematian, setelah Paulus hidup dalam kuasa berdoa, Kis 27:21-44.
Rumusan Kisah Rasul menyatakan bahwa : Apabila orang percaya dan hamba-hamba Tuhan telah berhasil menjalani dan hidup dalam proses meminta, mencari dan mengetok (Pilar Doa Pertama), maka akan dengan sangat mudah bagi dia untuk masuk dalam kuasa berdoa: semalaman, beberapa malam sekalipun, tanpa mengantuk dan sungguh menikmati hidup dihadirat Allah (Pilar Doa Ketiga), maka hidupnya pun dapat dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kuasa doa (Pilar Doa Kedua), seseuai rencana Tuhan.


by : Pdt. Dr. John S. Dana, MTh  Lihat Profile Penulis
Related Link
Memahami Tugas Yang Layak
Memahami Keyakinan Dasar Yang Layak

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top