Evangelism Unlimited

MEMAHAMI PERTANGGUNGAN JAWAB YANG LAYAK

MEMAHAMI PERTANGGUNGAN JAWAB YANG LAYAK

6 10 99
MEMAHAMI PERTANGGUNGAN JAWAB YANG LAYAK 10 6 99


Kisah Para Rasul 1:9-12

9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.  

10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,

11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauh-Nya dari Yerusalem.


Pendahuluan

Keyakinan dasar dalam ay 1-4 dan tugas yang layak dalam ay 5-8, membawa para perintis jemaat itu berdiri dan berkarya di atas dunia ini.  Ayat 9-12 membawa hati mereka berdomisili dan berkemuliaan di dalam sorga.  Struktur tulisan Lukas dengan demikian menunjukkan bahwa ketika seorang pelayan jemaat sedang melayani di atas dunia ini, pada saat yang sama dia juga adalah penghuni sorga; ketika dia berkecimpung dalam kesementaraan dan kefanaan pada waktu yang sama dia terbungkus kekekalan dan kemuliaan.  Secara organisatoris pelayan jemaat bertanggungjawab kepada jemaat yang di dalamnya dia terlibat tetapi sesungguh-Nya kepada Kristus yang naik dan berdiam di sorga itulah dia harus bertanggungjawab.  Melalui para murid di bukit Zaitun itu, semua pelayan jemaat   dilibatkan dalam memandang kenaikan Kristus ke sorga, ke tempat mana mereka kelak akan masuk dan kepada siapa mereka kelak akan memberikan pertanggungan jawab di kursi pengadilan-Nya, 2 Kor 5:10.

 Amanat ditinggalkan, kemuliaan digapai?

Tidak ada selang waktu antara mengucapkan ajaran dan memberi tugas dengan keterangkatan-Nya ke sorga.  Hal itu diperjelas dengan kalimat: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia…”  Mungkin Anda bertanya apakah Tuhan Yesus segera mengakhiri ajaran dan pemberian tugas karena Dia buru-buru berangkat ke sorga?”  Sorga lebih menarik bagi-Nya ketimbang dunia ini?  Kemuliaan lebih dikejar-Nya supaya Dia menjauhi kehinaan?  Kasih-Nya akan Anda dan akan dunia ini, menjawab “tidak”  kepada semua pertanyaan Anda tersebut, Yoh 3:16; Fil 2:1-8; Ibr 12:1-4.

Ajaran dan perintah yang disampaikan-Nya bersambung langsung dengan keterangkatan-Nya ke sorga, memunyai dua makna penting.  Pertama, supaya para murid, dan Anda serta setiap warga jemaat insyaf  bahwa ajaran dan tugas dari Dia, adalah sangat penting dan bernilai keabadian.  Ajaran itu tak dapat diabaikan dan tugas itu tak dapat dilalaikan tanpa membawa konsekwensi yang sangat besar karena menentukan nasib abadi manusia, baik abadi dalam kemuliaan maupun abadi dalam kebinasaan, baik bagi diri-Nya sendiri maupun bagi manusia kemana setiap warga gereja dan hamba Tuhan diutus.  Kedua, memberi kepastian dan jaminan bahwa walaupun untuk selanjutnya mereka tidak akan lagi selalu melihat dan bersekutu dengan Dia secara langsung, tetapi ajaran yang disampaikan-Nya dan tugas yang diberikan-Nya terus diingat dan dibawa dalam diri-Nya.  Dengan demikian Dia Pengajar dan Pemberi perintah itu tetapi Dialah juga yang menjadi pelaksana-Nya.  Para murid termasuk Anda dan setiap warga gereja, hanyalah menjadi alat-Nya, menjadi wadah di dalam mana dan melalui siapa Dia merealisasikannya.  Tugas utama dan satu-satunya dari setiap pelayan jemaat adalah mempersembahkan seluruh hidupnya sebagai alat yang layak bagi-Nya.  Memberikan jaminan karena kenaikan Kristus ke sorga berarti bahwa strategi pelaksanaan tugas-tugas gereja diatur dalam kekuasaan dan kewenangan sorga.
Ya, bergerak di atas dunia ini, berayun dalam gelombang politik pemerintahan bangsa-bangsa dan berjalan dalam berbagai kelemahan manusia, tetapi gereja itu dan visi-misi-Nya yang ditetapkan oleh Kristus, akan tetap teguh dan bergerak sesuai dengan kehendak-Nya. Haleluyah!

 Mata yang berbahagia

Tuhan Yesus mengatakan: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat,” Lukas 10:23.  Saya sungguh mengaminkan bahwa para murid di bukit Zaitun itu telah mengalamai kebahagiaan itu, karena mereka mendapat peluang khusus untuk melihat Yesus naik ke sorga.  Kalimat dalam ayat 9 itu jelas sekali  “…..disaksikan oleh mereka….”Ketika saya masih duduk di sekolah minggu, saya merasa iri kepada para murid itu, karena mereka diberi kesempatan ajaib memandang proses yang mahamulia itu.  Pengalaman mereka bahkan lebih mulia dari penglihatan para gembala di padang Efrata di malam natal karena para gembala itu hanya melihat bayi mungil Yesus telah terbaring dalam palungan tanpa mereka melihat proses turunnya dari sorga.  Pengalaman “padang  Efrata” dan “bukit Zaitun” sama pentingnya, hanya saja penglihatan bukit Zaitun lebih bersemarak keagungan dan kemuliaan.

 “…..dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.”

Yesus naik ke sorga berselubungkan awan kemuliaan: Shekinah. Orang Israel dalam perjalanan dari perbudakan Mesir ke tanah Kanaan dituntun oleh tiang awan kemuliaan itu.  Ketika orang Israel bersungut-sungut dan berbantah-bantah dengan hamba Tuhan Harun, maka tampaklah kemuliaan Tuhan dalam awan, Kel 16:10.  Untuk menyatakan otoritas Tuhan atas Musa, maka Allah berkata kepada-Nya: “ Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, ….supaya mereka senantiasa percaya kepadamu."  Kel 19:9.  Ketika Musa naik ke bukit Sinai, awan kemuliaan itu menutupi-Nya, Kel 24:15.   Orang Israel sadar betul bahwa kahadiran Tuhan seringkali nampak dalam bentuk kemunculan awan kemuliaan itu, sehingga mereka segera menyembah Allah begitu melihat awan Shekinah tersebut, Kel 33:10.  Kelak Tuhan Yesus akan datang kedua kali ke dunia ini bersama saleh-saleh-Nya dalam awan kemuliaan.  Allah bersuara dari dalam awan di atas bukit penampakan kemuliaan Kristus itu, Mat 17:5:  Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."  Tuhan Yesus meyakinkan kita bahwa pada kedatangan-Nya ke dua kali  “semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya,” Mat 24:30.

Dalam kenaikan-Nya ke sorga, awan itu menutup Dia sehingga para murid tidak dapat lagi melihat-Nya karena memang penampakan diri Yesus, selama empat puluh hari itu, sudah cukup bagi mereka.  Selanjutnya mereka perlu berjalan dalam iman kepada-Nya yaitu iman yang disignifikansi dengan tanda-tanda kemuliaan-Nya, dan begitu pulahlah kita mengikut Dia dalam kehidupan dan pengabdian.  Tetapi awan itu pula yang kelak akan menampakkan Dia dalam kedatangan-Nya kedua kali, datang untuk membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya tetapi sekali gus datang untuk meminta pertanggungan jawab bagaimana kita membangun hidup kita sebagai saksi-Nya, I Kor 3:11-15; II Kor 5:10.

 Dua orang berkaian putih dan pertanyaan serta pernyataannya!

Ayat 10 dan 11, sungguh mengandung nilai-nilai yang sangat perlu kita perhatikan.  Dua orang berpakaian putih itu tidak dinyatakan identitasnya, akan tetapi pakaian yang dipakainya yaitu pakaian berkilau-kilauan sama seperti yang dipakai “seseorang” yang datang kepada Kornelius di Kaesaria, dan dalam peristiwa itu, orang itu jelas adalah seorang Malaikat yang Tuhan utus kepada Kornelius, Kis 10:22-30, maka pendapat banyak orang yang serta-merta mengatakan bahwa dua orang berpakaian putih yang datang kepada para murid yang sedang termangu-mangu itu adalah Malaikat, cukup memunyai dasar yang kuat.

Pertanyaan malaikat kepada para murid lebih penting untuk ditelaah daripada sekadar memperdebatkan kemunculan dan identitasnya.   Pertanyaannya : "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?  Jelas itu adalah pertanyaan retoris, pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban lisan, pertanyaan yang menggugat sikap mereka.  Karena malaikat itu bukannya tidak tahu alasan mereka menatap ke langit dengan termangu-mangu, yaitu bahwa Tuhan Yesus baru saja terangkat dan raib dari pandangan mereka.  Sebenarnya bunyi pertanyaan itu adalah: Mengapakah kamu tetap berasing diri di atas bukit zaitun ini?  Mengapakah kamu menikmati sendiri penglihatan iman yang sangat indah dan menakjubkan itu, pada hal di sana-sini, banyak orang hanya melihat kegelapan, kematian dan ketiadaan perspektif?  Bukankah tugas kamu bukan tetap di bukit ini melainkan harus turun ke lembah-lembah memasuki lorong-lorong Yerusalem, ke Yudea, Samaria dan ke ujung bumi?  Tidak insyafkah kamu bahwa prioritasmu bukan pada menatap dan mengharapkan hanya kemuliaan diri sendiri melainkan menerima turunnya janji Bapa untuk memerlengkapi kamu bagi tugas kesaksian?

Suatu renungan penting bagi anda.  Kita pun banyak menerima gugatan Roh atas kelalaian, atas ke salahan prioritas, atas kecenderungan menikmati sendiri keindahan rohani di dalam Tuhan, atas keengganan dan kelambatan kita menjumpai orang-orang lain yang juga berhak atas keselamatan dan pengalaman rohani yang indah-indah yang telah kita terima.  Pada masa kini gereja-gereja telah menyediakan begitu banyak aktifitas rohani internal untuk menyibukkan warga jemaat saling berbagi dan saling melayani; juga persekutuan-persekutuan doa oikumenis telah tumbuh dimana-mana dimana warga jemaat lintas denominasi saling menyaksikan bebesaran Tuhan yang nampak dalam  pertolongan-Nya yang ajaib, jawaban-Nya secara spontan atas doa-doa yang dinaikkan serta mujizat-mujizat kesembuhan dari berbagai penyakit; ditambah lagi dengan semakin penuhnya rak-rak buku rohani menjajakan bacaan-bacaan rohani dan tak ketinggalan ribuan keping CD kesaksian, khotbah, lagu-lagu dari orang-orang terkenal.  Semuanya itu memang sangat baik, dan orang percaya perlu memacu maju iman, kasih dan pengharapannya.  Akan tetapi keadaan itu pun dapat menjadi “bukit zaitun”  dimana warga jemaat terus terasing dari warga masyarakat  yang justeru membutuhkan terang dan garam Injil dari hidup kita.  Dalam seluruh aktifitas pemupukan kerohanian itu kita berkemungkinan kenyang sendiri, memandang sendiri betapa baik dan agungnya Tuhan itu, padahal pada saat yang sama ada ribuan orang di lembah-lembah dalam gang-gang kota, gunung-gunung terpencil, pulau-pulau terisolasi yang sedang terancam mati selama-lamanya tanpa mendengar Injil.  Maka berdirilah dua atau ribuan malaikat Tuhan sambil menggugat: “Hai warga gereja Kristus, mengapa kamu termangu-mangu sendiri memandang ke langit dan menikmati sendiri pengalaman rohanimu”?

Para murid sudah jelas tidak memiliki pertanggungan jawab yang layak saat itu. Sama halnya dengan ribuan warga jemaat Kristus, dan semoga Anda tidak termasuk?  Pernyataan para malaikat itu perlu disimak dengan jelas.  “Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

 Kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan Kedatangan-Nya Kembali kedunia Ada kesamaan antara kenaikan Kristus ke sorga dengan kedatangan-Nya ke dua kali kelak.  Paling sedikit ada lima persamaan-Nya:

Pertama, Dia pergi dan akan datang dengan awan kemuliaan

 Tentang kedatangan-Nya kelak, Tuhan Yesus berkata: “Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya,” Mat 24:30. Rasul Paulus pun menyatakan: “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan,” I Tes 4:16-17

Kedua, tanah terakhir yang diinjak ketika Dia naik akan sama dengan tanah pertama yang akan Dia injak pada kedatangan-Nya kedua kali

Tanah yang dijejak kaki-Nya ketika Dia terangkat ke surga adalah tanah di bukit Zaitun, Kis 1:12. Tentang kedatangan-Nya kelak, nabi Zakaria menubuatkan:  “Kemudian TUHA akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran. Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan,”  Zakaria 14:3-4.  Perang itu adalah salah satu perang eskatologis, yaitu perang Harmagedon, yang juga telah dinyatakan kepada rasul Yohanes dalam Wahyu 16:15-16, yang akan terjadi mendahului berdirinya Kerajaan Milenial-Nya.

Ketiga, Dia naik disaksikan hanya oleh murid-murid-Nya demikian juga kelak ketika Dia datang  di udara untuk mengangkat orang percaya perjanjian baru akan dilihat dan disadari hanya oleh warga gereja-Nya;

Merujuk kembali ke I Tes 4:16-17, di situ jelas sekali bahwa yang akan menyambut kedatangan-Nya di udara itu hanya warga gereja-Nya, orang-orang percaya kepada-Nya, yang akan bangkit dan yang akan diubah serta yang akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan.  Tuhan Yesus sendiri menubuatkan bahwa orang-orang yang bukan milik-Nya tidak akan mengetahui kedatangan-Nya di awan-awan tersebut ketika Dia berkata:  “dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan,” Mat 24:39-41.  Sehingga, Tuhan Yesus menasihati para murid-Nya juga kita, : “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang,” Mat 24:42.

Keempat, kepergian-Nya melibatkan malaikat demikian juga pada saat kedatangan-Nya;

Sejak Dia dikandung oleh Maria, kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga, selalu disertai kehadiran para malaikat.  Demikian juga kelak, pada kedatangan-Nya kedua kali; “Penghulu malaikat berseru..” I Tes 4:16; Satu-satunya peristiwa dimana seluruh malaikat akan terlibat adalah pada kedatangan Tuhan Yesus kedua kali dan hal itu berdasarkan pengumuman dan janji Tuhan Yesus sendiri : "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya,” Mat 25:31.

Kelima, Dia pergi melintasi udara yang berarti menembus otoritas penghulu udara kuasa kegelapan, demikian juga ketika Dia datang kembali akan membuat tidak berdaya Iblis yang bermarkas besar di udara itu.


Sebagai akibat pemberontakan Lucifer kepada Allah, maka dia dibuang dari surga ke udara, dan sejak saat itu sampai sekarang dia menjalankan kuasa perlawanannya kepada Allah dan pekerjaan-Nya dari udara, sehingga Firman Tuhan menasihati kita: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara,” Efs 6:11-12.  Ketika Tuhan Yesus naik ke surga, melintasi udara, Dia melucuti otoritas di udara yang berada dalam tangan Iblis.  Begitu juga kelak, Dia bahkan akan datang di udara, dan akan melakukan reuni dengan gereja-Nya dan memberi tubuh kebangkitan kepada setiap orang percaya di udara tersebut, dan baru setelah itu Dia membawa mereka masuk ke dalam surga, I Tes 4:16-17.  Kuasa Iblis dibuat tidak berdaya oleh kemuliaan kenaikan dan kedatangan-Nya kelak. 

Puji Tuhan.

Suatu Renungan yang Indah

Kenaikan Kristus ke surga dan kedatangan-Nya kelak kedua kali, melibatkan universal dan metaversal: surga dan dunia, udara dan bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan; mahluk menusia dan malaikat yang kudus maupun yang jahat.  Semuanya hadir untuk menunjukkan bahwa Dialah Penguasa dan Dialah satu-satu-Nya yang berdaulat atas semuanya;  tetapi sekaligus ditampilkan pula bahwa Dia mengatur waktu dan penampilan segala sesuatu.  Untuk sementara ada dari ciptaan-Nya yang mendominasi yang lain dan ada yang bermusuhan dan merusak yang lain.  Bahkan Dia membiarkan diri-Nya dilawan dan pekerjaan serta milik-Nya seolah-olah tidak berdaya kepada ciptaan lainnya.  Mereka tahu persis kemahakuasaan-Nya tetapi juga sekaligus mengalami fakta-fakta yang seolah-olah menyatakan ketidakberdayaan-Nya.  Fakta-fakta itu dapat membuat para murid-Nya termangu-mangu karena mereka belum melihat akhirnya, sama seperti yang diketahui oleh Tuhan Yesus, dan memang dalam pengutusan mereka untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi,  mereka akan bergelut dalam pertarungan dan pertentangan antara Fakta Ilahi yang mereka yakini, dengan fakta empiris yang mereka rasakan sehari-hari.

Para murid warga awal gereja-Nya itu, dalam perikop teks ini diberi dua tonggak kekekalan.  Tonggak pertama tertancap dibumi di tempat dimana langkah awal diayunkan untuk menjadi saksi-Nya, dan tonggak itu adalah Dia dan kenaikan-Nya ke surga.  Tonggak kekekalan kedua, adalah Kristus dan kedatangan-Nya kedua kali, tonggak mana tertancap di surga, dari mana nanti Dia akan datang ketika tugas para tebusan-Nya sebagai saksi-Nya sudah berakhir.  Pada antara kedua tonggak itulah warga tebusan-Nya diutus untuk bersaksi, untuk mengajar, untuk menyatakan kasih-Nya untuk mengumandangkan Firman-Nya, untuk memenangkan jiwa-jiwa dan berperang melawan kuasa kegelapan yang juga berjuang menyaksikan, mengajarkan kebohongan dan menyatakan kuasa kebencian.  Tugas kegelapan lebih mudah kerena mereka hanya perlu melawan saksi-saksi Kristus, karena dunia dan jiwa-jiwa di dalamnya memang sudah dalam sangkar kegelapan, kekuasaan dosa.  Sedangkan para warga gereja, saya, anda, kita, tugasnya lebih berat karena harus melawan kuasa Iblis di satu sisi, dan memenangkan jiwa-jiwa yang di dalam kegelapan dosa tersebut di sisi lain.  Tetapi dari teks kenaikan-Nya dan janji kedatangan-Nya kembali ini, Tuhan Yesus, memberi mereka jaminan dan kepastian bahwa mereka berjuang berangkat dari kemenangan yang sudah pasti menuju kepada kemenangan yang juga sudah pasti walau masih dalam nuansa janji-Nya.

Fenomena kuasa dalam kenaikan-Nya ke surga termasuk di dalamnya Otoritas-Nya yang melebihi otoritas kuasa Iblis,   ditunjukkan kepada mereka begitu jelas di masa persiapan peluncuran mereka sebagai utusan-Nya.  Dan itulah yang menjadi kunci selamanya dalam pelayanan warga gereja-Nya. 
Kunci adalah awal dan penentu kepemilikan atas sesuatu termasuk atas dunia pelayanan ini.  Hal-hal fakta empiris yang akan ditemui dalam keterutusan itu, tidak meruntuhkan kemenangan dan pencapaian visi-misi-gereja-Nya, walaupun akan merupakan gangguan yang tidak kecil bahkan bisa mewujud dalam pengalaman yang menyakitkan seperti kelaparan, kekurangan, penjara, siksaan, kematian, penyakit, penolakan.

“Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga, “ yang diucapkan malaikat itu, memang memberi mereka kepastian bahwa saat itu mereka harus memberi pertanggungan jawab atas tugas kesaksian mereka di atas dunia ini, akan tetapi sekligus pula berita itu memberi kepastian pengharapan bahwa sama seperti Tuhan Yesus naik ke surga, demikian juga kelak, mereka akan diangkat ke surga setelah tugas mereka selesai pada saat kedatangan-Nya kedua kali.

by : Pdt.Dr. John S. Dana, MTh   Lihat Profile Penulis


Rangkaian judul yang berhubungan
Memahami Keyakinan Dasar Yang Layak
Memahami Tugas Yang Layak

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top