Evangelism Unlimited

ABORTUS (Pengguguran Kandungan)

ABORTUS (Pengguguran Kandungan)

6 10 99
ABORTUS (Pengguguran Kandungan) 10 6 99

 Pada beberapa waktu yang lalu, media berita di negara kita, menyajikan banyak berita mengenai pengguguran kandungan di berbagai daerah, terutama yang terjadi di Jakarta dan Surabaya, dua kota terbesar di Indonesia.
 Tentunya, jauh lebih banyak praktek pengguguran kandungan yang tidak diberitakan dibanding yang diberitakan.  Aborsi terjadi bukan hanya di kota tetapi juga di desa.  Pengguguran kandungan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin dari yang rakyat biasa sampai kalangan terpandang.  Oleh warga masyarakat yang terkebelakang sampai mereka  yang sangat pandai.
Sama seperti banyak hal yang lain, terhadap praktek aborsi itu ada yang pro atau menyetujui dan ada juga yang menentangnya.  Sikap penerimaan dan penentangan terhadap aborsi biasanya dikaitkan dengan alaan agama, tetapi tidak jarang didasarkan atas alasan-alasan yang lain seperti: alasan sosial, alasan psikologis dan alasan kemanusiaan.
 Bagi orang Kristen yang sungguh mendasarkan hidup dan imannya di atas Firman Tuhan, seharusnya dia menolak praktek aborsi, bukan karena alasan social, psikologis dan anhtropologi semata-mata, melainkan karena suatu alasan yang lebih kuat dan lebih pasti yaitu alasan teologis dan Alkitabiah.
 Dibandingkan dengan masa pada lampau, pada masa kini aborsi diterima oleh banyak negara maju, sebagai suatu praktek yang legal atau tidak bertentangan dengan hukum, dan dilakukan secara terang-tarangan bahkan ada rumah sakit, ada dokter dan ada perawat khusus yang melayani pelaksanaannya.  Akan tetapi, sejak dari dahulu, di mana pun di dunia ini, aborsi secara gelap, artinya secara tersembunyi,  sangat banyak dilakukan.

Paling tidak ada empat (4) motif atau dorongan pelaksanaan aborsi baik secara legal maupun secara illegal.

1. Perasaan Malu
Perasaan seperti itu dialami karena kehamilan di luar nikah yang sah artinya kehamilan yang terjadi karena persinahan atau pemerkosaan.  Wanita yang hamil itu menggugurkan kandungan-nya, baik atas persetujuan dengan partner sinahnya, ataupun atas keputusannya sendiri, merasa sangat malu jika dia melahirkan anak haram.  Perasaan malu wanita itu lebih besar dibandingkan rasa takut menjadi  pembunuh.  Padahal, setelah ia melakukan aborsi, dia akan hidup di bawah tekanan “rahasia pembunuhan” itu, seumur hidupnya, suatu tekanan yang sungguh berat, yang dia tidak ketahui sebelum ia melakukan oborsi.

2. Alasan Peri Kemanusiaan
Penggunaan alasan ini biasanya di lakukan di dareah dimana abortus diterima secara sah.  Di dalamnya terdapat peri kemanusiaan untuk janin dalam kandungan dan peri kema-nusiaan untuk sang ibu.
a.           Peri kemanusiaan untuk bayi
Bayi dalam kandungan digugurkan, biasanya, karena telah diketahui bahwa bayi dalam kandungan tersebut ternyata catat pisiknya.  Secara medis, dengan fasilitas modern dewasa ini, sudah sangat mudah untuk mengetahui cacat tidaknya bayi yang masih berada di dalam kandungan.  Jadi, daripada bayi itu lahir untuk hidup di dalam suatu penderitaan dan tekanan karena fisiknya cacat, maka lebih baik dia dicegah untuk lahir melalui aborsi.
b.           Peri kemanusiaan untuk Ibu/keluarga
Bagi sang ibu yang hamil melalui hubungan gelap, secara psikologis, tidak sanggup  memelihara anaknya di bawah sorotan masyarakat yang merendahkan dirinya.  Jadi untuk “menolong” ibu itu lepas dari tekanan psikologia tersebut, aborsi dianggap sebagai satu-satunya jalan.
     Ada keluarga yang kemampuan ekonomi dan tingkat sosialnya sangat rendah, sehingga pertambahan seorang anak saja dalam keluarga tersebut akan lebih memperparah keadaan social dan ekonomi keluarga.  Maka melalui aborsi keluarga tersebut “dikasihi” karena dilepaskan dari kemungkinan yang lebih buruk lagi.

3.   Alasan Internasional
Ledakan penduduk dunia akhir-akhir ini, sangat dahsyat.  Jika tidak dihentikan, dianggap akan menimbulkan berbagai-bagai problem social secara nasional dan internasional.  Tidak dapat diharapkan bahwa ledakan pertambahan penduduk itu akan berhenti dengan sendirinya.  Segala cara harus diusahakan untuk mengatasinya.  Salah satu cara yang dianggap ampuh adalah melalui aborsi.
     Sebenarnya, penyebab konflik social di mana-mana saat ini, keterbelakangan dan kemiskinan yang masih mendera sebaha-gian besar penduduk dunia, sangat naïf jika dianggap bahwa pertambahan penduduk dunia dunialah yang menjadi sumber utamanya.  Melakukan tindakan jahat, berupa aborsi, untuk mencegah momok yang belum pasti, jelas merupakan tindakan yang tidak bertanggungjawab.

4.  Emansipasi Wanita
Menurut suatu data yang benar, di negara di mana tuntutan kesamaan hak antara wanita dengan laki-laki telah melembaga, justeru telah menyebabkan terjadinya berbagai-bagai kasus yang negatif lebih banyak ketimbang yang positif.  Salah satu panflet yang bersuara paling nyaring dalam pawai penuntutan kesamaan hak tersebut adalah : “Tubuhku adalah milik saya sendiri".  Ukuran moral orang lain jangan dipaksakan pada saya, termasuk pada kandungan saya!”  Menurut tuntutan tersebut, wanita harus bebas menentukan sendiri apakah dia mau atau tidak mau menggugurkan kandungannya;  tidak boleh ada aturan yang mengatur atau menghambat keinginannya tersebut.
   Sebenarnya, dunia ini dan tubuh manusia, adalah milik Tuhan yang dipinjamkan-Nya kepada kita.  Lagi pula, yang dibunuh melalui praktek aborsi, adalah mutlak orang lain, bukan diri ibu itu sendiri.
   Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alasan utama dari pelaksanaan aborsi adalah untuk kepentingan diri sendiri.

Etika Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan, tidak sedikitpun memberi tempat pada penerimaan aborsi.  Ada beberapa sebabnya.

1. Dilawan pada umumnya oleh agama-agama besar di dunia ini
 Pernah ada rapat atau konsili para rabbi Yahudi yang di hadiri sebanyak 900 orang, dari Amerika dan Kanada.  Konsili itu memutuskan: “Supaya Undang-Undang Negara Bahagian New York dibatalkan sebab keputusan untuk membolehkan pembunuhan janin adalah tanda bahwa kita sedang menuju kepada masa kekerasan yang dengannya ras manusia terancam.”  Memang, kita mengetahui bahwa karena penerimaan aborsi maka 1 juta bayiYahudi di Jerman, telah dibunuh di awal abad 20.
 Tokoh dan pemikir teologia pertama Gereja Katolik, Thomas Aquino,  menolak tegas pelaksanaan aborsi, dan keyakinan tersebut tetap dipegang kuat sampai sekarang ini.
 Marten Luther dan Calvin, sebagai wakil dari gereja-gereja Kristen, menolak abortus bahkan mengatakan bahwa : “Walaupun masih tertutup di dalam rahim, lebih hebat membunuh bayi yang masih di dalam rahim dari pada yang telah ada di luar rahim”.
 Agama-agama lain juga menolak pelaksanaan abortus.
Apabila agama-agama dan pandangan-pandangan dalam dunia ini menyadari bahwa aborsi adalah pelanggaran moral karena hal itu tidak lain adalah pembunuhan, maka ajaran dan etika Kristen yang diterangi oleh ilham Roh Kudus sendiri sudah tentu harus lebih tegas lagi menilai dan menolak aborsi.

2. Pandangan-pandangan yang melegalisasi pelaksanaan aborsi dewasa ini menutup hati dan telinga  kepada suara Tuhan.
Melegalisasi aborsi seolah-olah merupakan sebab dari penentuan saat terjadinya seorang manusia di dalam rahim, pada hal apabila dikaji lebih dalam, justeru legalisasi aborsi itulah yang menjadi prinsip awalnya.Penentuan saat mulai terjadinya manusia dalam rahim, semakin lama semakin merosot sehingga pada dewasa ini telah ada yang menetapkan bahwa seorang bayi baru dikategorikan sebagai seorang manusia setelah ia 30 hari lahir dari rahim ibunya.Yang berarti, menurut pendapat itu, bayi dapat dibunuh tanpa dianggap kesalahan, asal dia dibunuh sebelum mencapai usia tersebut karena sebelum mencapai usia itu dia belum dianggap manusia yang berexistensi.  Mengapa panetapan itu semakin merosot?  Oleh karena disesuaikan dengan keperluan penerimaan dan pelaksanaan aborsi secara legal.  Pandangan itu sama sekali tidak objektif tetapi semata-mata secara subjektif.  Tidak ilmiah sama sekali karena justeru pandangan itu menyampingkan fakta-fakta yang asli yaitu kebenaran yang mutlak dan terpercaya secara ilmu pengetahuan, hanya karena fakta-fakta tersebut dapat melawan legalisasi tentang aborsi.
Yang lebih hebat ialah, bahwa dalam segala penentuan dan legalisasi itu penilaian Allah sang Pencipta manusia, sama sekali dikesampingkan.  Metodenya saja telah merupakan pemberon-takan kepada Pemilik hidup manusia, apalagi akibatnya yaitu aborsi itu sendiri.Ajaran dan etika Kristen dalam segal hal harus dengar-dengaran justeru kepada Firman Tuhan dan norma-norma Ilahi, sebagai yang mutlak dan yang harus mengadili segala norma dan penilaian manusia.

3. Pandangan Alkitab
Alkitab memang tidak menyebutkan aborsi secara langsung.  Akan tetapi Perjanjian Baru menyamakan antara anak yang telah lama lahir dengan anak yang masih di dalam rahim.  Lukas 1:41, 42 menyebutkan tentang Yohanes Pembaptis, yang waktu itu masih di dalam rahim ibunya.  Bayi Yohanes yang masih dalam rahim itu, dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab PB), disebut: “brephos”.  Dalam I Petrus 2:2, bayi yang telah dapat meminum susu juga disebut :”brephos”  Dalam Kisarasul 7:19, Firaon meminta supaya “Brephos” orang Israel dibunuh, dan hal ini lebih menekankan kepada bayi-bayi yang telah lahir.  Sedangkan Rasul Paulus dalam 2Timotius 3:15, memcatat bahwa Timotius, yang telah dapat menerima pelajaran Firman Tuhan, disebutkan juga dengan “brephos”.
Dapat disimpulkan bahwa Janin dalam rahim, bayi yang baru saja lahir, dan anak kecil sampai yang telah berusia tahunan di luar rahim, semuanya disebutkan sebagai “brephos”.  Menghilangkan kehidupan janin dalam rahim, atau bayi atau anak-anak sama nilainya yaitu pembunuhan.  Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan adalah dosa dan tak dapat dilakukan tanpa konsekwensi-konsekwensi yang tidak ringan.

4. Untuk mengatasi problema-problema social, dan psikologis tidak boleh dan tidak dapat dilakukan dengan cara aborsi.
  Secara persangkaan dan dalam waktu sementara, mungkin  kelihatannya seolah-olah aborsi menjadi jalan keluar dari  problem-problem tersebut, tetapi sebenarnya cara itu hanya merupakan penyelesaian secara semu saja.  Justeru, setelah itu, akan menimbulkan problem-problem yang lebih berat dan lebih rumit.  Jangan dilupakan bahwa : “Perasaan membunuh akan melekat dalam hati dan ingatan sang ibu yang melakukannya seumur hidupnya, demikian juga di dalam hati dan ingatan para dukun, dan para medis yang telah bertindak sebagai tukang-tukang aborsi.”  Hal itu merupakan suatu beban psikologis yang justeru telah meluas kepada orang-orang yang tidak seharusnya mengalami hal itu.
Kita percaya bahwa Allah dapat menghukum masyarakat dan bangsa serta individu-individu yang melanggar perintah-Nya: yang berbunyi: “Jangan membunuh”  Hukuman itu dapat menyebabkan problem-problem social, ekonomi, politis, bencana alam, wabah dan dekadensi moral yang lebih parah dan lebih luas.

Kesimpulan
 Seharusnya, kaum wanita, yang oleh karena alasan apapun juga, menderita dibawah tekanan karena kehamilan yang sedang dialaminya, memerlukan bimbingan moral, medis dan pastoral.   Mereka harus ditolong secara psikhis dan social terutama secara spiritual supaya mereka dapat menerima kehamilannya dengan pasrah dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan yang berkata : “Marilah kepada-Ku, semua yang berbeban berat, Aku akan memerikan kelegaan kepadamu.”  Itulah yang harus menjadi tugas sang partner, yaitu seorang dokter, seorang pekerja social, seorang ibu, seorang ayah dan seorang hamba Tuhan, bukan malah menjerumuskan sang calon ibu itu ke dalam jurang kehancuran yang lebih dalam.
 Pasti dunia akan menikmati berkat Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, bila anak-anak cacat, orang-orang tak berdaya secara ekonomis, social, dibiarkan lahir dan hidup sambil ditolong dengan kasih, dengan simpati dan dengan tindakan-tindakan nyata yang benar dan bukan malah menjadikan mereka korban-korban pembunuhan legal melalui abortus, jauh sebelum mereka insyaf akan perlakuan kejam terhadap diri mereka.
 Jika pembaca saat ini ada yang sedang mempertimbangkan untuk melakukan aborsi, saya minta dalam kasih Kristus supaya saudara membatalkan niat tersebut.  Janganlah menjadi pembunuh terhadap orang lain, hal mana akan terus mengejar saudara seumur hidup.  Kalau pembaca artikel ini ada yang telah pernah melakukan aborsi dan saat ini sangat tertekan, ketakutan, dan merasa sangat bersalah yang begitu dahsyat, datanglah dengan pertobatan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus.  Dia telah mati untuk menebus saudara dari dosa saudara.  Dia bersedia mengampuni saudara, jika saudara sungguh-sungguh bertobat, dan percaya serta menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan dalam hidup saudara.

Amin!


by : Pdt. Dr. John S Dana, MTh  Lihat Profile Penulis

Artikel yang berhubungan
Pendidikan seksualitas Yang Alkitabiah
Mensyukuri Karya Yang Luar Biasa Dalam Kehidupan Kita

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top