Evangelism Unlimited

MEMAHAMI TUGAS YANG LAYAK

MEMAHAMI TUGAS YANG LAYAK

6 10 99
MEMAHAMI TUGAS YANG LAYAK 10 6 99

Kisah Para Rasul 1:4-8


 4 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku. 5 Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." 6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" 7 Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.  8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."


 Pendahuluan

Gereja yang layak sebagai Tubuh Kristus dan yang berkembang, tidak cukup hanya mempunyai keyakinan yang hakiki, betapa pun hal itu sangat penting.  Pengakuan iman itu baru merupakan pemasangan fondasi
bangunan.  Pembangunan harus diteruskan di atasnya.  Lukas mencatat dalam ayat 2-3 bahwa fondasi yang layak harus dilengkapi selanjutnya dengan membangun tugas yang layak sebagaimana tertulis dalam ayat 4-8.  Rumusan tugas gereja itu adalah : “kamu akan menjadi saksi-Ku.”  Warga awal gereja yang sedang bersama Kristus dalam masa 40 hari itu, masih terbatas pada para rasul.  Tetapi tugas yang Dia sampaikan kepada mereka menjadi tugas gereja sepanjang abad dan generasi.  Lukas,  ketika sedang menulis kitab ini, tahun 59 M, tahu secara jelas, bagaimana Paulus, guru dan seniornya dan koordinator dalam pelayanan misi di antara bangsa-bangsa non Yahudi, sedang ditahan di Kaesaria.  Tantangan menjadi saksiNya semakin nampak dan intensif  tetapi tugas pemberitaan Injil itu sendiri  harus terus dilaksanakan. Terhambat satu terlepas 1000 orang.

 Makna “akan

Kata akan dalam formula tugas gereja itu, mengandung makna yang luas.  Kata akan tersebut menyatakan bahwa supaya berhasil menunaikan tugas itu, maka ada bingkai waktu yang harus digunakan dengan baik, ada hambatan yang harus diatasi, ada kualifikasi yang harus dipenuhi dan ada luas wilayah yang harus dijangkau.  Menjadi saksiNya baru terlaksana sukses setelah semua kandungan “akan” tersebut terpenuhi.



1.    Waktu pelaksanaan tugas, yang harus digunakan dengan baik.


Apakah Anda telah menyadari adanya dua pernyataan tentang waktu dalam lima ayat itu?  Yang pertama adalah waktu jamuan makan dimana Tuhan Yesus menyampaikan uraian tugas itu.  Yang kedua adalah soal waktu pemulihan kerajaan Israel yang ditanyakan para murid kepada Tuhan Yesus.
Sudah menjadi kebudayaan di seluruh dunia di mana banyak keputusan penting diambil ditengah-tengah suasana makan bersama; ada banyak pemimpin yang baik memberikan tugas-tugas penting dan berat kepada rekan-rekan kerjanya ketika dia sengaja membawa mereka menikmati makanan yang enak dalam suasana nyaman di satu restoran.   Kalimat pembukaan  ayat 4: “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka” memastikan bahwa Tuhan Yesus, yang telah memiliki tubuh kemuliaan itu ikut makan.  Anda tentu yakin bahwa tubuh kebangkitanNya itu tidak lagi memerlukan makanan dan minuman.  Sudah sejak hari pertama kebangkitanNya Yohanes melaporkan bahwa Dia menjamu para muridNya, Yoh 21:9.  Tuhan Yesus menyiapkan jamuan dan ikut makan dengan para murid semata-mata untuk kepentingan para murid dan bukan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniNya yang tidak lagi memerlukan kepuasan alamiah, tidak lagi memerlukan penguatan protein, vitamin, mineral, karena tubuh kemuliaanNya itu adalah “ …dibangkitkan dalam kemuliaan;  dibangkitkan dalam kekuatan;  yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah, I Kor 15:42-44.  Tuhan Yesus, yang memberi amanat kepada warga gerejaNya melalui jamuan makan itu, ingin supaya para murid meyakini bahwa Ia selalu menjamu mereka secara rohani dan Dia tetap hadir dalam lingkungan persekutuan yang indah dan memuaskan,  Dia menyediakan semua yang mereka perlukan secara jasmani dan rohani untuk berhasil dan setia menjadi saksiNya.  Dalam suasana makan itu para murid lebih mudah untuk menginsyafi kebutuhan rohani bagi jiwa-jiwa di mana-mana yang sungguh membutuhkan makan rohani, sama seperti mereka membutuhkan makanan jasmani.

Dalam suasana itu Tuhan Yesus memberi mereka larangan dan perintah, penantian dan pengajaran rohani serta penugasan dan perlengkapan rohani.  Larangan itu adalah: “Jangan meninggalkan Yerusalem dan jangan berfokus pada keingintahuan akan waktu dan masa perealisasian  kyang kaukatakan: Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya! sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan,” Pengkh 12:1-2.

      Lukas tahu persis bagaimana Asia kecil telah dijangkau, Yunani telah dijelajahi dari utara ke selatan, tetapi melalui program kerja dan pokok-pokok doa Paulus, gurunya, ia tahu pula bahwa Italia, Spanyol, Afrika dan Asia Timur masih menjadi target untuk  dijangkau.  Masa antara Pentakosta dan Kedatangan Kristus kedua kali ke atas dunia, adalah masa anugerah, masa di mana pintu pertobatan dan keselamatan sangat terbuka bagi siapa saja yang mendengar Injil dan percaya.  Itu adalah masa dimana Karya Roh Kudus sangat aktif menyertai orang percaya dan jemaat dalam kegiatan penginjilan dan penanaman jemaat-jemaat baru.  Tiap orang percaya dituntut untuk berfokus pada kuasa rohani untuk bersaksi dan bukan pada otoritas pemerintahan untuk berkuasa.  Ya, mereka, dan kita juga, harus lebih berorientasi pada menjadi hamba pelayanNya dalam kesaksian ketimbang berorientasi otoritas memerintah dalam kerajaanNya yang belum tiba masanya. Sebelum kerajaan kemuliaanNya dibentangkan, setiap orang percaya harus memenangkan sebanyak mungkin jiwa untuk ikut serta memerintah kelak dalam kerajaanNya.

 2.    Ada hambatan yang harus diatasi


Dari pertanyaan para murid dan jawaban Tuhan Yesus dalam ayat-ayat itu, Anda dapat mengetahui bahwa ada tiga hambatan yang dapat terjadi dalam pelayanan gereja, pertama salah prioritas/orientasi, kedua tidak mengenal tugas dan ketiga tidak memahami perlengkapan yang diperlukan.

Kita dapat mengetahui dengan gamblang bahwa para warga jemaat awal yang sedang makan itu salah prioritas.  Tuhan Yesus sedang mengorientasi mereka supaya berfokus kepada DiriNya, tetapi mereka justeru lari ke fokus  lain yaitu kerajaan Israel. Terkandung di dalam pertanyaan mereka itu bahwa komunitas yang memenuhi pikiran mereka bukan komunitas gereja Kristus melainkan komunitas politis umat Israel.  Bukan memikirkan jiwa-jiwa yang terjajah dosa di seluruh dunia yang membutuhkan kelepasan oleh kuasa Injil, melainkan berorientasi pada kuasa politis untuk membebaskan Israel dari pemerintahan Romawi saat itu.  Kristus membangun beban mereka untuk Yerusalem sampai ke ujung bumi tetapi mereka hanya mengurus Yerusalem saja, dan melihat ujung bumi itu sebagai yang harus diletakkan pada posisi berseberangan.  Dalam mengharapkan pemulihan kerajaan Israel, tentu mereka meneruskan konsep lama mereka yaitu akan menjadi orang-orang penting yang duduk disamping Kristus dalam pemerintahan.  Ya, jelas mereka berfokus pada bagaimana mendapat keuntungan dan penghormatan bukan pada bagaimana menjadi hamba dan saksi Kristus yang memberi waktu, tenaga dan diri mereka.  Konsep mereka adalah bagaimana mendapat kekuatan diri  bukan pada bagaimana melucuti diri duniawi sendiri dan menerima kekuatan Roh Kudus.  Mereka memang telah mengalami banyak kemajuan dalam kerohanian mereka oleh karya kebangkitan Tuhan Yesus, tetapi masih jauh dari sempurna bahkan masih jauh dari layak untuk mengemban tugas sebagai saksi Kristus.  Itulah sebabnya Tuhan Yesus menjawab mereka dengan tegas, untuk melepaskan mereka dari hambatan salah fokus dan salah orientasi.  Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya,” ay 7.  Jika mereka meneruskan orientasi itu berarti mereka akan membuang masa anugerah, ya, tidak memanfaatkan pintu pertobatan dan keselamatan yang terbuka lebar bagi semua manusia, dengan syarat para warga gereja bersedia menyampaikan Injil kepada jiwa-jiwa yang terhilang.  Tuhan Yesus menegaskan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu mengurus waktu dan masa yang akan datang, yang menjadi otoritas Bapa, dan bahwa mereka harus manfaatkan waktu yang tersedia bagi mereka saat itu untuk terlibat aktif dalam kesaksian, pemberitaan Injil, pendirian jemaat-jemaat di seluruh dunia.

Dari uraian Tuhan Yesus selanjutnya, kita dapat mengetahui bahwa salah satu hambatan dalam diri para rasul itu adalah mereka tidak memahami dengan jelas akan tugas mereka.  Sejak Dia bangkit, Tuhan Yesus telah memberikan dua amanat agung kepada mereka.  Amanat Agung pertama diberikan pada sore hari kebangkitanNya, yang tercantum dalam Yohanes 20:19-23 yang intinya terdapat dalam ayat 21:  “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Amanat Agung yang kedua diberikan Tuhan Yesus kepada mereka diantara 39 hari penampakan diriNya sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19-20 :  “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Dari dua Amanat Agung itu, para rasul belum juga memahami tugas utama mereka.  Memang Anda tahu bahwa sulit sekali mengubah konsep berpikir para murid itu yang telah lama dipola oleh konsep teologi eksklusif  Yahudi sebagai umat pilihan Tuhan.  Mereka telah menjadi murid Yesus dalam banyak sisi tetapi di sisi teologi kekuasaan umat Israel sebagai umat pilihan, mereka masih tetap sebagai murid para teolog Yahudi.  Itulah sebabnya Yesus memberikan Amanat Agung ke tiga, pada hari-hari terakhir penampakanNya menjelang Dia naik ke sorga, sebagaimana tertulis dalam Kis 1:8.  Tuhan Yesus, melalui Amanat Agung terakhir itu mempertegas bahwa tugas mereka adalah : “Menjadi saksi-Ku.”  Kata saksi sangat paforit dalam tulisan Lukas, sehingga Anda dapat menjumpainya dalam 30 ayat.  Yang berarti “seorang yang memberitahukan apa yang telah dilihat dan didengarnya secara objektif ”.   Tuhan Yesus mengutus orang percaya sebagaimana Dia diutus oleh BapaNya, untuk pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil, dengan cara menjadi saksi Kristus. Pokok berita setiap pemberita Injil adalah Kristus yang telah menjadi manusia, yang telah lahir, disalib, dikuburkan, bangkit dan naik ke sorga, dan dalam kehidupan pemberitaan itu, mereka harus hidup sebagaimana Kristus telah memberi teladan.  Kristus yang diberitakan harus pula menjadi Kristus yang dihidupi dalam kehidupan kita, demikianlah saksi Kristus yang sejati dan layak dalam tugasnya.

Hambatan yang ketiga adalah para murid tidak sadar akan perlengkapan yang mereka perlukan.  Teguran Tuhan Yesus terhadap kesalahan prioritas para murid dilanjutkan dengan kalimat “Tetapi kamu akan menerima kuasa…” Yang mereka cari adalah kuasa dan yang Yesus tawarkan juga adalah kuasa.  Bahasa sama tetapi sumber dua jenis kuasa itu sangat berbeda.  Kuasa yang dirindukan para rasul bersumber dari kuasa kerajaan Israel, itu adalah kuasa duniawi, kuasa politis.  Tetapi bukan itu yang mereka perlukan.   Mereka membutuhkan kuasa yang lebih tinggi, yaitu kuasa dari dan di dalam diri Roh Kudus.  Larangan dan penantian yang Dia perintahkan dalam ayat 4 dan 5 mengarah kepada perolehan kelengkapan tersebut.  Melalui baptisan, kepenuhan dan pencurahan Roh Kudus yang dijanjikan Bapa, mereka akan memperoleh kuasa dari sorga tersebut.  Orang yang telah sungguh memahami dan telah menghayati akan perlengkapan itu adalah Paulus: “Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng,” demikianlah ia bersaksi dalam 2 Kor 10:4.  Dalam melaksanakan tugas kesaksian,  mereka akan menghadapi hambatan-hambatan hebat yang antara lain akan datang dari kekuasaan politik Roma, kekuasaan filsafat dan budaya Yunani serta kekuasaan legalistik agama Yudaisme. Hanya kuasa Allah yang dapat menjadikan mereka mampu melewati rintangan-rintangan tersebut, dan dapat memelihara mereka untuk memanfaatkan waktu terbuka dengan baik, serta menerangi hati dan pikiran mereka untuk tetap memahami dengan jernih akan tugas yang layak dan utama mereka.

 3.    Kualifikasi yang harus dipenuhi


Tuhan Yesus menghendaki para saksinya mengalami lima hal supaya menjadi pelaksana tugas yang layak .  Yang pertama taat kepadaNya, kedua menanti, ketiga dibaptis dengan dan menerima kuasa Roh, keempat menjadi saksi dan kelima  menjangkau Yerusalem, Yudea, Samaria dan ujung bumi.



Ketaatan

Dibalik kata-kata dalam aya 4: “Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem,” terdapat tuntutan positif Kristus kepada mereka yaitu ketaatan.  Saat itu Yerusalem tidak merupakan tempat yang kondusif bagi keamanan dan kesejahteraan para rasul.  Di Yerusalem berdiam para pemimpin Yahudi yang sungguh membenci Yesus dan yang telah berhasil mengeksploitasi rakyat untuk menolak pembebasan Yesus dari penyaliban.  Sebagai murid-murid Yesus, mereka menjadi orang-orang yang masuk daftar buronan pemerintah Yahudi.  Berada di Yerusalem berarti mereka masuk sarang macan yang memang telah lama siap menerkam mereka.   Jika mereka mau mengikuti perintah Yesus, ada harga yang mereka harus bayar yaitu bersedia mengabaikan rasa takut dan pertimbangan logis akal mereka akan keamanan diri mereka saat itu. Namun jika mereka lulus dalam ujian itu, kualitas hidup yang akan mereka peroleh dari Kristus ialah hidup ketaatan, rela menyangkal diri dan mau memikul salib, suatu kualifikasi hidup yang memang dituntut dari orang-orang yang layak disebut pengikut Kristus, Luk 9:23, 27. Dalam perintah itu, Tuhan Yesus ingin memantapkan sikap hidup warga jemaatNya, sebab jalan panjang Yerusalem sampai ke ujung bumi, yang akan mereka jalani seumur hidup mereka, bukanlah jalan mulus, enak dan mudah.  Jalan itu penuh duri, berlekak-lekuk, ancaman, dan sabungan nyawa laksana seekor anak domba yang berada di tengah-tengah kerumunan serigala ganas.  Hanya orang yang telah terbangun sikap hidup ketaatannya kepada Kristus melebihi  ketaatannya kepada dirinya sendiri dan tarikan duniawi, yang akan diteguhkan oleh Roh Kudus untuk melaksanakan tugas kesaksiannya.

 Menanti


Untuk itu, mereka, para murid itu, harus menanti di Yerusalem.  Mereka tidak sekedar tidak meninggalkan Yerusalem. Berada di kota itu, bukan tujuan utama mereka, melainkan hanya sebagai salah satu langkah ke arah pencapaian tujuan itu.  Tugas mereka selanjutnya di kota itu adalah menanti penggenapan janji Bapa.  Akar kata Yunani dari mana kata menanti diterjemahkan mengandung arti penghargaan yang tinggi kepada sesuatu.  Ketika para murid menanti di Yerusalem, hal itu mereka lakukan harus atas dasar penghargaan yang luar biasa kepada dua hal, yaitu menghargai setinggi-tingginya Kristus yang menyuruh mereka dan menghargai setinggi-tingginya apa yang mereka nantikan yaitu penggenapan janji Bapa.Ya, nilai ketaatan mereka harus ditempatkan dalam posisi meninggikan Kristus dan Bapa yang telah memberikan janji itu.  Logika rohaninya adalah ketaatan kita, betapa pun itu indah, tetapi masih lebih rendah dari Dia yang kita taati.  Tidak boleh ada pencapaian kehidupan rohani yang menyebabkan kita merasa menjadi sangat penting, terhormat dan lebih tinggi dari orang lain.  Keberhasilan kita untuk mencapai tahap hidup taat, harus diposisikan sebagai penghambaan diri kepada Dia.   Di sisi lain mungkin Anda pernah heran mengapa banyak orang Kristen tidak mau taat sepenuhnya kepada Firman Tuhan yang bagi Anda sudah jelas betul bahwa jika mereka taat pasti mereka akan mengalami kehidupan yang indah di mata Tuhan.  Sebabnya adalah karena mereka belum menginsyafi tingginya dan mulianya nilai kebenaran Firman Tuhan yang harus mereka taati.

 Dibaptiskan dengan Roh Kudus


Para murid itu telah taat dan sedang menanti di kota Yerusalem.  Yang mereka nantikan adalah pembaptisan dengan Roh Kudus.  Seseorang yang mau menjadi pelayan dalam gereja Tuhan, apalagi para murid yang akan menjadi perintis pelayanan gereja itu,  harus mengalami baptisan Roh Kudus.  Itulah sebabnya Bapa menjanjikan pengalaman itu dan itu pulahlah yang menjadi salah satu maksud kenaikan Yesus untuk duduk di sebelah kanan Bapa. Penantian itu terealisasi pada hari Pentakosta yang akan kita pelajari kelak dalam pasal 2.  Pemahaman yang jelas akan baptisan Roh Kudus itu, membuat kita harus segera melihat secara ringkas pengalaman  mereka pada Pentakosta itu.  Lukas mencatat dalam Kis 2:4 bahwa pada hari Pentakosta orang-orang percaya yang menanti itu, mengalami bukan saja baptisan Roh Kudus melainkan mereka juga mengalami kepenuhan Roh Kudus.  Apakah baptisan dan kepenuhan Roh Kudus merupakan dua pengalaman yang berbeda, ataukah keduanya sama saja?  Perjanjian Baru jelas mengajar kita bahwa kedua hal itu berbeda.  Rasul Paulus menulis tentang baptisan Roh Kudus dalam I Kor 12:13: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”  Sedangkan mengenai kepenuhan Roh Kudus dia menulis: “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,” Efesus 5:18.  Terbaca dengan jelas dari dua ayat di atas bahwa baptisan Roh bersifat informasi yang bertujuan meyakinkan warga jemaat, bahwa mereka mengalami baptisan Roh itu oleh karya Roh Kudus, sedangkan kepenuhan Roh bersifat perintah yang ditujukan kepada warga jemaat supaya mereka mengalaminya.  Ya, setiap warga jemaat, harus yakin bahwa sejak bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat pribadi, dia telah dibaptis artinya dimasukkan ke dalam Tubuh Kristus oleh karya Roh Kudus.  Hal ini menentukan status mereka di dalam Tubuh-Nya yang diberikan kepadanya sebagai akibat imannya kepada Kristus.  Tidak boleh ada orang percaya yang terisolasi di luar Tubuh Kristus.  Pengalaman itu terjadi tidak berulang-ulang melainkan hanya satu kali saja, itulah sebabnya pengalaman baptisan Roh itu tidak diperintahkan kepada orang percaya untuk mengalaminya melainkan diberitakan kepadanya supaya setiap warga jemaat itu hidup sesuai dengan statusnya di dalam Kristus dan di dalam Tubuh-Nya.  Warga jemaat di Efesus sudah mengalami baptisan Roh sejak mereka percaya tetapi banyak di antara mereka yang tidak mengaplikasi dalam kehidupan mereka sehari-hari akan status mereka di dalam Kristus dan di dalam Tubuh-Nya; banyak di antara mereka yang tidak hidup di dalam terang, tidak sedikit yang mengikuti hawa nafsu duniawi, dan ada hubungan suami-isteri dan rumah tangga Kristen yang tidak bernuansa kasih dan kekudusan.  Solusi untuk hal itu, adalah mereka harus mengalami kepenuhan Roh Kudus, yaitu suatu pengalaman kehidupan dimana seorang percaya menyerahkan diri sepenuhnya kepada pimpinan dan penguasaan Roh Kudus, sehingga Roh itu memakaikan karakter-karakter Kristus ke dalam kehidupannya, demikianlah ia hidup tidak mengikuti dunia dan kedagingan melainkan semakin serupa dengan kehidupan Kristus.  Larangan Yesus bagi para murid meninggalkan Yerusalem dan perintah-Nya bagi mereka untuk menanti janji Bapa itu, dengan demikian tampak jelas perlunya yaitu supaya para murid itu, warga jemaat awal, dibaptiskan dengan Roh dan sekaligus mengalami kepenuhan Roh Kudus.

 Menjadi Saksi Kristus


Dengan pengalaman yang luar biasa itu, mereka akan dapat melaksanakan tugas mulia yaitu menjadi saksi Kristus.  Kata “menjadi” menyatakan adanya proses aktif yang harus terjadi terus-menerus.  Proses itu adalah beroleh otoritas rohani (arti yang tepat untuk “kuasa”), untuk berubah ke arah standar hidup yang layak menjadi saksi Kristus dan mempunyai otoritas rohani untuk menyelenggarakan hak dan hidupnya sebagai saksiNya.  Mereka berproses menjadi saksi Kristus yang layak sambil berjalan maju sebagai saksi-Nya. Jadi otoritas rohani menjadi saksi Kristus diperoleh melalui pengalaman ketaatan kesaksian.



Menjangkau
Para saksi yang  telah mempunyai otoritas ilahi seperti itu akan mampu menjangkau  seluruh lingkup tugas yang layak baginya.  Bagi para murid Kristus waktu itu harus menjangkau Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi.  Dan mereka telah mentaati amanat agung tersebut, sebagaimana dibuktikan dalam narasi Lukas ini.  Pada bagian pertama yaitu pasal 1-7 mereka menjadi saksi di Yerusalem.  Pada bagian kedua yaitu pasal 8-12 mereka menjadi saksi di seluruh Yudea dan Samaria, sedangkan pada bagian ketiga yaitu pasal 13-28 mereka menjadi saksi sampai ke ujung bumi.  Di dalam kemampuan menjangkau ini terdapat kuasa perluasan, kuasa penerobosan dan kuasa pengembangan serta  kuasa penciptaan baru.  Ujung bumi lebih luas dari Samaria, Samaria lebih jauh dari Yudea dan Yudea lebih luas dari Yerusalem.  Laksana sebuah batu yang dilemparkan ke dalam kolam, tidak hanya menyebabkan goncangan air di tempat dimana batu itu jatuh, melainkan akan menyebabkan adanya gelombang/riak yang semakin lama semakin luas, demikianlah karya kuasa Roh Kudus yang beroperasi dalam kehidupan kesaksian hamba-hamba Kristus melahirkan perluasan secara geografis dan secara kualitas kehidupan.  Yerusalem dan Yudea merupakan lingkup kerajaan Yehuda, yang sejak tahun 721 BC dianggap orang Yahudi sebagai kerajaan umat Allah yang murni sedang kerajaan Israel di Utara yang berpusatkan Samaria telah dianggap tidak murni lagi sebagai kerajaan umat Tuhan.  Telah ada sengketa terjadi sejak itu, antara Yehuda dan Samaria, Yoh 4:9.  Tetapi para saksi Kristus harus menerobos garis pembatas dan garis sengketa tersebut.  Tuhan Yesus sendiri telah memberi mereka teladan, Yoh 4:4-30.  Agak sulit bagi para rasul untuk memahami dan mentaati amanat yang universal dari amant agung pertama dan kedua, karena ketika Yesus mengutus murid-murid dalam pelayanan,  Dia membatasi ruang lingkup pelayanan mereka hanya kepada orang Israel, dan tidak boleh pergi kepada orang Samaria dan bangsa-bangsa lain, Mat 10:5-6.  Tetapi oleh kuasa Roh Kudus yang turun ke atas mereka, ruang lingkup pelayanan mereka dikembangkan bukan hanya sampai ke Samaria yang bagaimanapun masih serumpun dengan mereka, melainkan juga kepada semua manusia di seluruh dunia.  Mereka bertanggungjawab atas keselamatan semua umat manusia.  Tujuan amanat agung Kristus yang meluas jaraknya, yang menerobos semua penghalang dan mengembangkan tanggungjawab para murid tersebut adalah untuk mendirikan jemaat atau Tubuh Kristus, ke dalam mana setiap orang yang bertobat karena kesaksian mereka, akan dibaptiskan oleh Roh Kudus untuk menjadi satu tubuh dalam satu kandang penggembalaan Kristus, I Kor 12:13; Yoh 10:16.  Dengan demikian terciptalah satu komunitas baru, komunitas yang universal, yang bahkan meliputi jiwa-jiwa orang beriman yang telah ada di dalam sorga.

Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah apakah penjangkauan daerah pelayanan itu dilakukan secara bergilir artinya Yudea baru dilayani setelah selesai di Yerusalem dan ujung bumi baru diinjili setelah selesai di Samaria, Yudea dan Yerusalem?  Kata “dan” di antara kata Yerusalem, Yudea, Samaria dan ujung bumi berarti para saksi harus melaksanakan tugas kesaksiannya di setiap tempat itu pada setiap saat.  Struktur tulisan Lukas dalam kitab ini menunjukkan hal itu.  Mereka mula-mula menjadi saksi di Yerusalem karena di sanalah mereka dibaptiskan dan dipenuhi pertama kali oleh Roh Kudus.  Sementara tugas kesaksian terus berlangsung di Yerusalem, gereja mula-mula itu menembus daerah daerah lain di Yudea.  Selanjutnya Samaria dijangkau dengan Injil ketika kesaksian masih terus dilaksanakan di Yerusalem dan Yudea.  Barnabas diutus ke Antiokhia (ujung bumi) ketika kesaksian para warga gereja dan para rasul masih terus dilaksanakan di Yerusalem, Yudea dan Samaria.  Penjangkauan secara serentak tersebut dimungkinkan oleh semakin banyaknya warga jemaat yang dikader dan menyerahkan diri untuk terjun dalam kancah pelayanan kesaksian akan Injil
Kristus.

 Kunci Utama

   “Roh Kudus turun ke atas kamu” adalah kunci utama.  Kunci untuk memunyai pemahaman yang layak, kunci untuk melaksanakan tugas yang layak dan kunci untuk mencapai kualifikasi hidup yang layak sebagai saksi Kristus.  Kata “turun” menunjukkan suatu  pengalaman dengan Roh Kudus dalam dimensi yang berbeda dengan yang telah mereka alami ketika “dihembusi oleh Kristus” dalam Yohanes 20:22.  Pengalaman dengan Roh Kudus yang mereka alami oleh hembusan Kristus tersebut adalah untuk menolong mereka meyakini akan eksistensi kebangkitan-Nya dan memampukan mereka memahami tugas-tugas yang akan Dia sampaikan dan amanatkan kepada mereka.  Hal itu sama seperti yang Allah lakukan kepada hamba-hamba-Nya di dalam Perjanjian Lama ketika Ia memanggil dan memberikan tugas tertentu kepada orang-orang tertentu pula. Itulah sebabnya Tuhan Yesus masih perlu menyertai dan mengajar langsung mereka selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya sebelum Ia naik ke surga, sedangkan setelah Roh Kudus turun ke atas mereka, pada peristiwa Pentakosta, Kristus tidak lagi hadir dan menampakkan diri kepada mereka, karena kehadiran-Nya sudah mewujud dalam kehadiran Roh Kudus yang menetap dalam hidup setiap orang percaya dan dalam jemaat-Nya.

Dalam seluruh PB Lukas paling banyak menggunakan kata yang dia gunakan di ay 8 ini yaitu kata “turun.”  Dia menggunakannya sebanyak 8 kali empat kali dalam Injil Lukas dan empat kali dalam Kisah Rasul.  Yang lain yang menggunakannya hanya Paulus dan Yakobus masing-masing satu kali saja.Makna kata itu dalam penggunaan Lukas adalah suatu pihak yang lebih kuat mendatangi dan atau menguasai suatu pihak yang lebih lemah untuk maksud tertentu.  Tekanannya bukan pada proses turun itu sendiri tetapi pada akibatnya yaitu penguasaan dan pengendalian sesuai maksud pihak yang lebih kuat.   Roh Kudus yang dijanjikan akan turun ke atas orang percaya tentulah Pribadi yang berkuasa melebihi manusia. Sesuai schedule Tuhan, Ia datang ke dalam kehidupan orang percaya, baik secara pribadi maupun secara kolektif.  Tujuannya adalah untuk mengenakan kehidupan Kristus kedalam kehidupan orang percaya dan memerlengkapi dengan kesanggupan untuk pelayanan khusus bagi kemajuan pemberitaan Injil dan pengembangan jemaat Kristus. Dan Roh Kudus dalam menyeleggarakan hal itu, Dia menetap di dalam kehidupan setiap orang percaya, dengan demikianlah maka janji Kristus dalam Yohanes 14: 17, tergenapi,  suatu pengalaman dengan Tuhan yang belum pernah terjadi dengan seseorang pun sebelumnya, namun harus terus menjadi pola pengalaman setiap warga jemaat Kristus setelah itu.

Tugas sebagai saksi Kristus, yang menerobos setiap penghalang, yang mengembangkan tanggungjawab dan yang mencipatakan berdirinya organisasi gereja Kristus dalam sejarah dan dunia serta mampu menjangkau dunia bagi Kristus, dapat dicapai oleh turunnya, berdiamnya dan berkaryaNya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.


by : Pdt. Dr. John S Dana, MTh   Lihat Profile Penulis

Artikel berkaitan
Memahami Keyakinan Dasar Yang layak
Memahami Pertanggung Jawab Yang Layak

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top