Evangelism Unlimited

MEMAHAMI KEYAKINAN DASAR YANG LAYAK

MEMAHAMI KEYAKINAN DASAR YANG LAYAK

6 10 99
MEMAHAMI KEYAKINAN DASAR YANG LAYAK 10 6 99


Kisah Para Rasul 1:1-3
1 Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus,  2 sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.
3 Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. 

Pendahuluan
Untuk mencapai perkembangan dalam suatu usaha diperlukan suatu dasar bertolak yang tepat, bukan?  Pasti Anda mengamini pernyataan tersebut, dan hal itu berlaku juga dalam pelayanan gereja.

Lukas menulis dalam kitab ini, mengenai pertumbuhan gereja Yesus Kristus yang sejati sebagai suatu bagian penting dalam Kerajaan Allah itu, sehingga tidak salah menjadikan kitab ini sebagai buku teks atau buku teologi atau buku sejarah pertumbuhan gereja. 

Lukas, sebagai seorang dokter, memahami betul akan urutan-urutan logis pertumbuhan suatu organisme dan ketika dia menulis tentang gereja, maka dia berbicara tentang organisme ilahi bukan lembaga organisasi belaka.  Gereja yang dapat bertumbuh adalah gereja yang sejak lahirnya hidup secara benar, sesuai dengan hakekatnya sebagai Tubuh Kristus, walaupun ia merupakan suatu komunitas nampak di tengah-tengah komunitas lain di dalam dunia ini.  Paparan akan hal itu tertuang dengan jelas dalam kitab ini pasal 1-5.

Untuk hidup sehat, jemaat Kristus harus tertanam  di atas dasar keyakinan yang hakiki.  Kisah 1:1-3 menunjukkan  pusat hakekat gereja.  Pusat mana bukan organisasi, bukan kebangsaan melainkan SATU pribadi, dan PRIBADI itu adalah TUHAN YESUS KRISTUS.  Anda mengetahui bahwa di dalam dunia sekarang ini, banyak tokoh Kristen yang lebih popular atau lebih menjulang namanya dibandingkan gereja Yesus Kristus, tetapi Lukas hendak meyakinkan Anda bahwa hanya Tuhan Yesus yang boleh dan harus lebih besar dan lebih lebih populer dari gereja. Lukas, dalam dua jilid bukunya kepada sahabatnya Teofilus, hanya mau mengangkat tinggi nama Tuhan Yesus, supaya keyakinan setiap orang percaya berdiri di atas BATU KARANG itu.  Itulah makna dibalik kalimat awal dalam buku keduanya ini : “Aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus sampai pada hari Ia terangkat.”

Mungkin Anda sudah tidak sabar bertanya : “Keyakinan-keyakinn hakiki apakah kepada Tuhan Yesus yang harus menjadi pilar-pilar pertama dalam membangun gereja yang layak sebagai Tubuh Kristus yang bertumbuh?”  Roh Kudus yang mengilhami Lukas memastikan bahwa setiap warga gereja harus memahami dan meyakini akan tujuh hal penting  yaitu: Yesus  yang historis, Yesus yang berkarya melalui KelahiranNya, KesengsaraanNya, KebangkitanNya, penampakan DiriNya dan KenaikanNya ke Sorga serta pengajaranNya tentang Kerajaan Sorga.

Dengan bersandar kepada Roh Kudus, Juru Penerang Kebenaran itu, kita akan mempelajari pokok-pokok kebenaran itu.

1. Tuhan Yesus yang historis atau menyejarah.

Kata-kata :“segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat” di akhir ayat 1 dan awal ayat 2, menjadi pengumuman penting Lukas bahwa Yesus yang Ia beritakan dan yakini adalah Yasus yang telah ada di dalam dunia ini, telah bekerja dan telah mengajar manusia.  Dia bukanlah Yesus hasil karangan berdasar atas mitos dan pandangan yang lebih disempurnakan dari berbagai agama dunia waktu itu.  Dia, Yang lahir di palungan Betlehem, yang melayani melalui pengajaran, perbuatan dan mujizat-mujizat, yang ditangkap, disalibkan, mati dan dikuburkan tetapi kemudian bangkit itu, adalah Tuhan Yesus Kristus, Allah sejati dan manusia sejati. Fakta-fakta itu sama benarnya dengan makna teologis dibelakang setiap fakta tersebut.  Meyakini faktanya tetapi menolak maknanya atau sebaliknya menerima maknanya tetapi menolak fakta historisnya, adalah sama dengan menolak Dia sama sekali. Lukas tidak ragu-ragu untuk meyakinkan kita bahwa kekekalanNya tidak hilang oleh karena Dia menjadi manusia dan berada di dalam dunia demikian juga keberadaanNya dalam sejarah tidak menyebabkan adanya perobahan dalam eksistensi-Nya yang kekal karena kesejarahan dan kemanusiaanNya adalah rancangan dan telah berlangsung dalam kekekalan.

Para Nabi telah menyatakan bahwa Dia adalah Anak Manusia dalam kekekalan di masa lampau dan Yohanes melalui tulisan kitab Wahyu, mengungkapkan bahwa Dia juga Anak Domba Allah dalam kekekalan yang akan datang.  Gereja yaitu TubuhNya, sebagai organisasi yang nampak di dunia ini, mempunyai nilai keilahian karena Tuhan Yesus telah memasuki sejarah dunia dan manusia. Makna serta kuasa pertumbuhan gereja itu, bersumber dari kuasa pertumbuhan Kepalanya itu, Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sendiri menganggap bahwa keyakinan yang kokoh akan kehistorisanNya sangat perlu dimiliki oleh para muridNya yang menjadi batu-batu awal yang disusun di atas Batu Karang itu. Sampai akhir abad pertama masehi kita mengetahui bahwa Petrus, Yohanes, Yakobus, Stefanus dan Paulus serta para pelayan gereja Tuhan lainnya, secara terus-menerus memberitakan melalui kotbah dan tulisan-tulisan mereka akan Tuhan Yesus yang historis tersebut.  Sampai-sampai  Yohanes dalam salah satu suratnya menggunakan kata-kata pilihan yang paling gamblang tentang kesejarahan Yesus ketika dia menulis: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.  Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. I Yohanes 1:1-3


2. Tuhan Yesus yang telah lahir       
                                                 

KelahiranNya tidak mempunyai kedudukan teologi tersendiri melainkan manyatu dengan pengajaran akan kemanusiaanNya.  Sama seperti kita memasuki sejarah melalui proses kandungan ibu kita dan proses kelahiran setelah dikandung kurang lebih sembilan bulan, Tuhan Yesus pun melalui proses yang sama.  Sejarah kelahiranNya yang dinarasikan oleh para penulis Injil, sekaligus menyatakan eksistensiNya yang utuh sebagai Allah-Manusia sejati.  Perihal Dia menjadi janin dalam kandungan Maria dan berbagai keajaiban diseputar peristiwa kelahiranNya, semuanya menyatakan bahwa walaupun Dia adalah manusia biasa, tetapi sekaligus Dia adalah Allah yang kudus dan kekal.  Apabila pembaca Romawi dan Yunani, serta bangsa-bangsa non Yahudi lainnya, sulit untuk meresapi makna nubuat-nubuat suci DiriNya, dibandingkan dengan para pembaca Yahudi yang telah menerima nubuatan melalui para nabi yang diutus Tuhan, maka kita orang-orang non Yahudi,  dapat yakin akan kebenaran DiriNya melalui narasi pengandungan, kelahiran dan karya-karyaNya di dalam dunia ini. Meyakini akan kelahiranNya adalah sama dengan meyakini keutuhan pribadiNya sebaliknya meragukan fakta kelahiranNya adalah sama dengan meragukan kebenaran DiriNya sama sekali.  Dalam terang keyakinan itulah, maka pernyataan pertama para Malaekat kepada para gembala di padang Efrata mengenai penggenapan nubuatan melalui para nabi tentang Mesias yaitu:  “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud,” Luk 2:11, mempunyai makna yang indah dan suci.

Jemaat yang sedang diombang-ambingkan oleh injil yang lain, yang ditanamkan oleh para penyesat, yaitu jemaat Galatia, diteguhkan oleh Paulus antara lain dengan memastikan kepada mereka akan kelahiran Tuhan Yesus secara ajaib dan tepat waktu sesuai kalender Allah, Gal 4:4.  Ketika rasul Paulus hampir menyelesaikan  masa pelayanannya dalam dunia ini, dia kembali menekankan akan inti Injil yang dia beritakan, yaitu tetap berfokus dalam pribadi Yesus Kristus dengan penekanan pada karya kebangkitan dan kelahiranNya, II Tim 2:8, suatu keyakinan kokoh yang sangat bertentangan dengan filsafat dan agama dunia yang dualistis waktu itu, dimana semua yang lahiriah dianggap jahat, kotor dan harus dihancurkan untuk memperoleh pengetahuan (gnosis) yang membawa kebahagiaan.

 
3. Kesengsaraan dan Kematian Tuhan Yesus. 
                                

Paulus mencatat empat pilar Injil yaitu “Kristus telah mati ….. Ia telah dikuburkan, …..Ia telah dibangkitkan…….Ia telah menampakkan diri,” I Kor 15:3-6. Pilar pertama dan kedua Injil itu adalah mengenai kesengsaraan dan kematianNya.  Para penginjil dan penanam jemaat abad pertama itu menyatakan bahwa setiap jemaat Tuhan dan setiap warga jemaat-jemaat itu harus yakin akan sengsaraNya yang meliputi: penyaliban, kematian dan penguburanNya.

Dari catatan keempat Injil kita mengetahui bahwa karya Kristus yang paling sulit diterima dan diyakini para murid pertama adalah mengenai sengsara dan kematianNya itu. Ungkapan: “Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup” membuat Anda dan setiap pembaca tidak dapat meragukan bahwa penderitaan dan kematianNya adalah sama agungnya dengan kebangkitanNya dan penampakan diriNya, dan gereja mula-mula itu harus menjadikan pokok itu sebagai bagian dari pengakuan iman mereka.  Kesaksian Renan bahwa: “Orang Kristus hidup dari keharuman kubur Kristus yang kosong,”  menyandingkan kemuliaan kebangkitanNya dengan kemuliaan kematianNya.  Hilangkanlah pokok kesengsaraan dan kematian Kristus dari isi Alkitab maka akan runtuhlah seluruh kebenaran Alkitab itu, dan dengan mencabut tiang pancang kebenaran kesengsaraanNya itu dari pendirian gereja, maka gereja itu hancur dan mati dengan sendirinya.



4. Kebangkitan Tuhan Yesus.  
                                                     

 Sangat menarik bahwa Lukas selalu mencatat dalam lima pasal pertama kitab ini bahwa para rasul itu yakin bahwa tugas utama mereka adalah menjadi saksi kebangkitan Kristus.  “Menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya, 1:22.  Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi, 2:22.  Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi, 3:15.  Rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, 4:33.  Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri, dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, 5:31-32."

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa semua mujizat yang menggoncang kehidupan global abad pertama yang datangnya dari gereja Kristen saat itu, bersumber dari kuasa kebangkitan Kristus, dan kuasa itulah juga yang menjadi kekuatan yang melebihi kekuatan maut dari keberanian kesaksian warga gereja saat itu.

Lukas mencatat “dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup”,  walaupun tidak mencatat tanda-tanda itu sendiri, karena ia tidak mau tanda-tanda itu justeru menghilangkan tujuan utama beritanya yaitu kebangkitan Kristus itu sendiri.  Warren Wiersbe mengatakan: “Iman kepada kebangkitanNya ini penting bagi gereja karena kuasa spiritual mereka sendiri bergantung kepadanya.”

 
5. Tuhan Yesus menampakkan diriNya    
                               

Tulisan Lukas memastikan bahwa Tuhan Yesus menindaklanjuti kebangkitan-Nya.  Dengan apa?  Ya, dengan penampakan Diri-Nya.  Selama 40 hari antara kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga, Dia berulang-ulang menampakkan diri kepada berbagai orang di beragam tempat.   Selama 40 hari itu Yesus sering menghilang dan kemudian tampak lagi kepada para murid. Mereka tahu betul perbedaannya ketika Dia menghilang dan ketika Dia muncul lagi dan tampak di tengah-tengah mereka.  Yang mana dari kedua keadaan itu yang lebih disukai para murid itu?  Pasti saja keadaan ketika Yesus kelihatan hadir dan bersama mereka. Apakah muatan ajaran yang Tuhan Yesus sampaikan melalui keadaan itu? Anda benar jika merenungkan bahwa keadaan yang Yesus ciptakan diantara mereka saat itu penting untuk mempersiapkan mereka ke depan ketika Tuhan Yesus kelak tidak lagi hadir mengajar mereka secara pribadi, langsung  dan kelihatan.

Anda tentu telah memahami makna kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga.  Namun, mungkin Anda masih menyimpan tanda tanya tak terjawab mengenai maksud penampakan diri-Nya.


Ia hadir untuk menyertai orang percaya
 Berita paling pertama dan utama yang Ia sampaikan melalui penampakan Diri-Nya adalah bahwa: “Aku hadir dalam hidup dan menyertai perjalanan kehidupan setiap orang percaya kepada-Ku, kapan pun dan di mana pun.”  Keyakinan akan hal itu sangat mendasar bagi para rasul dan gereja serta warga jemaatNya yang akan segera memasuki gelanggang dunia mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi.  Mereka semua diberi janji-Nya yang tidak berubah: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau, dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau,” Ibr 13:5.

Yesus juga mau mengajar mereka bahwa walaupun tidak lama lagi Dia akan naik ke sorga, meninggalkan mereka secara  jasmani, tetapi itu bukan berarti Dia tidak bersama mereka, kendatipun tidak terlihat mata mereka.  Ya, indah sekali bahwa mereka dilatih untuk berjalan bukan lagi dengan penglihatan melainkan dengan iman untuk meyakini bahwa kebesaranNya melebihi batas-batas penglihatan.   GerejaNya harus lebih menggunakan wawasan pandangan mata spiritual dalam kehidupan dan pelayanan.

 
 Dia hadir Untuk menyelamatkan


Selama Tuhan Yesus melayani di Palestina, sampai kematian-Nya, tidak seorang pun saudara-saudara-Nya yang percaya kepada-Nya.  Tetapi setelah Dia naik ke sorga, Lukas mencatat bahwa semua saudara-Nya telah menjadi orang percaya dan bergabung menjadi warga persekutuan orang percaya, Kis 1:14.  Tak dapat disangsikan bahwa pertobatan mereka  berawal dari penampakan diri Tuhan Yesus kepada Yakobus, saudara-Nya, I Kor 15:7.  Pada saat itu juga, Yakobus menjadi percaya, dan segera memenangkan adik-adiknya.  Kuasa penyelamatan di dalam penampakan diri-Nya, terlihat lebih jelas lagi di dalam hidup Saulus, yang kemudian berganti nama menjadi Paulus.  Dia diubah bukan saja dari tidak percaya menjadi percaya, tetapi juga dari pembenci dan permbasmi orang percaya menjadi pengasih dan pengembang orang beriman;  dari hamba hukum dan kedagingan menjadi abdi kasih dan anugerah.  Kehadiran-Nya yang menyelamatkan ini, mungkin tidak lagi Anda butuhkan, karena Anda telah menjadi milik-Nya.  Tetapi Dia ingin menyatakan penyelamatan-Nya kepada banyak orang lain melalui kahadiran dan kesaksian hidup Anda, melalui hidup Anda yang sukses menjadi garam dan terang dunia, dan melalui doa serta pengorbanan harta dan uang Anda.

 
 Dia hadir untuk mengangkat dan memulihkan yang terjatuh


Penampakan diri-Nya yang penuh dengan suasana mengharukan adalah penampakan-Nya kepada Tomas dan Petrus, sebagai murid-murid “bermasalah”.  Kepada Tomas yang menjadi rapuh oleh karena keragu-raguan dan ketidak percayaan.  Kepada Petrus yang tergeletak dalam lumpur kelemahan karena penyangkalannya akan Tuhan Yesus.  Yesus mengetahui pergumulan mereka.  Dia datang untuk mengangkat dan membaharui.  “Ya Tuhanku dan Allahku”, adalah ungkapan yang keluar dari mulut Tomas, Yoh 20:28 dan “Tuhan Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau,” merupakan respons Petrus, Yoh 21:15-17, setelah Tuhan Yesus menjumpai mereka.  Pengakuan itu membuktikan bahwa hidup mereka telah dipulihkan.

Betapa banyak warga Tubuh-Nya, mungkin Anda termasuk, yang membutuhkan kehadiran-Nya yang mengangkat dari kejatuhan.  Yang mengubah ketergeletakan menjadi ketegarteguhan.  Yang mengganti malam gelap kejatuhan menjadi surya pagi kemenangan.  Sejarah gereja dan Alkitab telah menulis dengan tinta emas, betapa banyaknya orang yang diteguhkan oleh Tomas dan Petrus, sebagai buah peneguhan Kristus yang mereka sendiri sudah terima.  Bagaimana dengan Anda?  Apakah mengeluarkan buah yang seimbang dengan berkat-Nya atas hidup Anda?


 Dia hadir untuk memberi kesuksesan dalam kehidupan


Semalaman, pada suatu musim paling baik untuk menangkap ikan, para murid-Nya telah menjala sepanjang malam tanpa hasil seekor ikan pun, Yoh. 21:5.  Tetapi ketika  mereka menebarkan jala ke sebelah kanan perahu, sebagai ketaatan mereka kepada perintah Yesus, yang pada pagi itu menampakkan Diri di tepi Danau, maka mereka mendapat sejumlah besar ekor ikan yang besar-besar.  Usaha mereka, tanpa sepengetahuan dan kehendak-Nya, membawa kepada kegagalan.  Tetapi ketaatan mereka kepada Kristus yang hadir itu, mengantar mereka kepada keberhasilan.

Walaupun tidak semua keberhasilan menjadi tanda keberkenanan-Nya atas hidup seseorang, dan tidak semua kegagalan merupakan akibat pembangkangan kepada-Nya, tetapi jika Anda terus menerus gagal, tanpa sejahtera, mengalami seolah-olah hampir semua pintu tertutup bagi Anda, maka Anda membutuhkan kehadiran-Nya yang mempu mengubah Anda, sesuai kesediaan Anda untuk kembali dan memulai lagi dari titik di mana Anda berhenti mengikuti kehendak-Nya.

 
Dia hadir untuk mengajar dan memberi pengertian yang baru akan kebenaran dan Diri-Nya


        Di suatu sore dengan sang surya menggelar warna merah lembayungnya di atas jalan panjang ke desa Emaus, berjalanlah dua orang murid Yesus, dengan penuh tanda tanya.  Keadaan mereka tiba-tiba diinterupsi oleh kehadiran Kristus yang telah bangkit, tanpa mereka ketahui bahwa Dia itulah, Kristus sendiri.  Dalam ketidaktahuannya, mereka menceriterakan mengenai Yesus yang telah mati kepada Yesus yang bangkit.  Mereka mencoba membolak-balik nalar dan ingatan mereka untuk mengerti nubuatan-nubuatan Alkitab mereka tentang Mesias, tetapi “penutup” mata rohani mereka tetap menghalangi pengertian mereka.  Semua keadaan itu berobah tatkala Yesus memperkenalkan diri.  Segera sesuatu yang menutupi mata mereka, tersingkap, dan mereka segera memahami Firman Tuhan dan mengenal bahwa Yesus yang bangkit itulah yang baru saja menyatakan diri dan menyertai mereka, Lukas 24:13-35.

        Bila Anda merindukan pemahaman lebih mendalam akan Dia dan Firman-Nya, Anda akan gagal jika lari kepada usaha akal manusiawi Anda belaka.  Bersandarlah kepada Dia dan yakinilah kehadiran-Nya. maka Dia akan semakin memperkenalkan diri kepada Anda, dan memberi penerangan kepada pengertian Anda untuk melihat keajaiban-keajaiban Firman-Nya.  “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku,” I Kor 15:8, demikian kesaksian rasul Paulus.  Dampak besar dari penampakan diri Kristus kepada Paulus ada dua yaitu yang pertama Saulus diselamatkan dan menjadi Paulus yang terpanggil menjadi hambaNya, Kis 9. Dan yang kedua adalah Dia mendapat didikan dan penyataan Firman Tuhan, antara lain mengenai perjamuan kudus, I Kor 11:23, dan pengajaran tentang kedatanganNya kedua kali di udara serta kebangkitan dan pengangkatan orang percaya, I Tes 4:15.

Keadaan “menghilang” pada suatu masa dan kemudian “kelihatan lagi” telah membantu gerejaNya untuk menantikan kedatanganNya ke dua kali untuk menyatakan kerajaanNya di atas dunia ini.  Itulan penampakan yang meneguhkan pengharapan eskatologis dan mempertebal keyakinan akan kesementaraan dan kefanaan dunia ini, suatu jalinan ramuan rohani yang penting dalam pembangunan gerejaNya.


6. KenaikanNya ke Sorga

“Sampai pada hari Ia terangkat,” 1:2.  GerejaNya yang mulai Dia bangun sebagai organisasi di atas dunia itu, sangat membutuhkan kepastian keyakinan dimana Kristus, kepalanya, berada.  Itulah sebabnya hanya warga gereja awal itulah yang diberi “izin” khusus memandang peristiwa spiritual yang luar biasa itu.  Mereka telah diajar dan diyakinkan akan kesejarahanNya, juga akan karya-karya kelahiran dan kemanusiaanNya, kesengsaraan dan kematianNya, kebangkitanNya dan penampakan diriNya. Melalui karya kenaikanNya ke sorga itu maka mereka diyakinkan bahwa Yesus Kristus kembali ke dan berada dalam kemulianNya di tempat yang mahatinggi di sebelah kanan Allah. Dengan pemandangan itu pasti mereka lebih mudah meyakini akan pengajaran Yesus bahwa Ia pergi untuk menyediakan rumah bagi mereka di dalam sorga, Dia akan menggenapi janjiNya untuk kembali dan menjemput mereka untuk mendiami rumah yang Ia sediakan itu.

Lukas mencatat dalam akhir bukunya yang pertama kepada Teofilus, yaitu Injil Lukas, betapa kenaikan Kristus ke sorga itu telah membawa perobahan yang sangat indah dan mengherankan dalam kehidupan para muridNya itu. Saya yakin Anda telah biasa mendengarkan bahwa perobahan total kehidupan murid-murid Tuhan Yesus terjadi oleh pencurahan Roh Kudus, bukan oleh mujizat-mujizat, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yeaus ke Sorga.  Memang hal itu dapat Anda baca dalam Kitab Kisah Rasul.  Tetapi Lukas dalam Injilnya itu pasal terakhir,  Luk 24:50-53, memberi gambaran yang mungkin Anda belum pernah meneliti dan menikmatinya.  Dinyatakan  di sana bahwa justeru kenaikan Kristus ke sorga lah yang pertama membawa pembaharuan yang luar biasa dalam kehidupan para murid itu, dan bahwa itulah yang menjadi dasar dari pembaharuan-pembaharuan dalam kehidupan mereka selanjutnya.  KenaikanNya ke sorga membaharui murid-murid dalam tiga arah hubungan. 

Yang pertama adalah dalam hubungan ke atas. yaitu kepada Kristus; "Pulang ke Yerusalem dengan sukacita," ayat 52b, adalah perbuatan para murid Kristus yang menyatakan pembaharuan dalam hubungan ke atas oleh kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.  Anda perlu memahami dengan jelas bahwa mereka ke Yerusalem karena dua sebab. Yang pertama adalah karena mereka diperintah  oleh Tuhan Yesus untuk pergi ke sana dan terhadap perintah-Nya itu mereka mengambil sikap taat sepenuhnya.  Yang kedua adalah karena mereka ingin diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.  Tepatnya,  mereka  ingin menerina tugas untuk menjadi saksi Kristus yang berhasil.  Dengan hanya sedikit saja sikap membangkang dan rasa enggan melayani Dia, sudah cukup untuk mencegah mereka ke Yerusalem dan lari dari kehendak-Nya sambil mencuci tangan dari semua usaha menjadi saksi-Nya. Anda akan rugi jika tidak memperhatikan bagaimana perasaan mereka dalam perjalanan pulang ke Yerusalem.  Lihatlah baik-baik bahwa mereka sangat  bersukacita dalam perjalanan itu. “Samakah sukacita  mereka setelah kenaikan Kristus dengan sukacita mereka sebelum penyaliban-Nya?”  Jawabannya singkat saja : "Sangat berbeda!” Yang menjadi dorongan sukacita dan ketaatan mereka sebelumnya, lain sekali.  Keinginan-keinginan mereka sebelum kenaikan-Nya, bersifat “jasmani dan materi”.  Tidak jarang mereka berdebat memperebutkan tempat tertinggi di sisi  Tuhan Yeaus,  dalam Kerajaan-Nya.  Ya, orangnya sama dan suasana serta tempatnya sama, tetapi penyebab dan status sukacita mereka telah lain sama sekali. Berarti perobahan telah terjadi.  Oleh kenaikan Kristus ke sorga, mereka bersukacita dalam ketaatan kepada Kristus. Betapa mulianya hal itu, bukan?

Perobahan kedua adalah dalam hubungan ke dalam yaitu kepada diri mereka sendiri; "Sujud menyembah-Nya” adalah pernyataan dalam ayat 52a yang paling jelas menyatakan bagaimana kenaikan Kristus telah membaharui para murid secara ke dalam. Jelaslah bagi Anda bahwa kenaikan Kristus membawa perobahan yang menjadi anti klimaks dari sikap mereka sebelumnya.  Sikap keragu-raguan, ketidakpercayaan, dan kebingungan mereka diganti dengan penyembahan yang meliputi lahir dan batin mereka, yang dinyatakan dengan kata: sujud.  Kesujud-sembahan para murid itu hanyalah tanda dari perobahan di dalam hati dan pikiran mereka.  Kepercayaan dan pengenalan mereka terhadap Yesus Kristus telah sangat berobah.  Inilah pembaharuan ke dalan itu.  Pembaharuan dalam yang diungkapkan ke luar yaitu dalam bentuk “sujud menyembah”.

Perobahan ketiga adalah dalam hubungan ke luar yaitu kepada masyarakat umum di sekitar mereka; "Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah", demikian catatan dalam ayat 53, yang sekaligus menyatakan bagaimana murid-murid mengalami pembaharuan ke luar oleh kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.  “Senantiasa dalam Bait Allah” tentu tidak berarti secara hurufiah. Anda memang dapat berkata bahwa tidak mungkin mereka makan di sana, tidur di sana terus-menerus dari waktu ke waktu. Pernyataan itu bermakna bahwa mereka bersikap terang-terangan sebagai pengikut Yesus Kristus tanpa ada sedikitpun rasa takut.  Anda dapat membandingkan dengan sikap mereka sebelumnya yang penuh dengan ketakutan.  Kini, di tengah-tengah masyrakat Yerusalem, dikelilingi para imam dan ahli Torat, yang sangat membenci mereka, mereka memuliakan  Allah.  Mereka tidak ingin menjadi garam yang tawar, dan sangat keberatan menjadi cahaya yang tertutup oleh gantang, melainkan memberi hidup mereka menjadi kota yang terletak di atas bukit, yang dapat dilihat dan disaksikan oleh dunia.


7.         Kerajaan Allah


Pokok pengajaran akan Kerajaan Allah disampaikan Tuhan Yesus selama 40 hari penampakan diriNya antara kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga.  Dan pengajaran tersebut terkait secara langsung dengan Pribadi dan Karya Tuhan Yesus Kristus.  Hal itu sangat logis bukan?  Dialah Raja dari kerajaan Allah itu; oleh KehidupanNya di dunia maka Kerajaan Allah itu hadir secara nyata di dunia ini;  Kerajaan Allah itu menyelamatkan manusia, melalui karya kematian dan kebangkitanNya;  Kuasa dan otoritas Kerajaan Allah itu nampak oleh kuasa kebangkitanNya, dan Kerajaan itu berkuasa dalam hati setiap orang percaya sejak mereka menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat;  Kerajaan Allah itu akan meliputi seluruh dunia ini, melalui pemberitaan Injil yang harus dilakukan di dalam dan melalui gerejaNya.  Dengan merujuk kepada penekanan pengajaran Tuhan Yesus selama 40 hari itu, Lukas mau mengatakan kepada pembacanya:  “Jangan pernah memisahkan Kerajaan Allah dengan Diri dan karya Tuhan Yesus Kristus, supaya jangan mengulangi kesalahan yang dilakukan umat Israel, yang justeru menjadi batu penghalang bagi mereka untuk percaya kepadaNya.”

Pasti Anda bertanya apakah yang Tuhan Yesus maksudkan dengan Kerajaan Allah itu dan mengapa pokok itu sangat perlu dipahami dan diyakini oleh para rasul dan warga jemaat awal itu?

Dalam kitabnya yang pertama, yaitu Injil Lukas, dia menyatakan bahwa : “juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu," Lukas 17:21.

Dalam pernyataan ini Lukas merujuk kepada kekuasaan atau pemerintahan Allah secara rohani yang berada di dalam hati manusia.  Anda dapat meyakini sekokoh-kokohnya bahwa pemberitaan Injil, yang Dia amanatkan kepada gerejaNya mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi itu, tujuannya yang pertama dan terutama adalah supaya semakin banyak orang, dimana-mana,  percaya dan menerima Tuhan Yesus sehingga dengan demikian otoritas Allah itu hadir dan berkuasa dalam hati mereka.

Dr Zodhiates, seorang Yunani, yang kemudian menjadi warga negara Amerika, dan mahir dalam bahasa Ibrani,  mengatakan bahwa “Dalam beberapa ayat Alkitab Kerajaan Sorga yang boleh disamakan dengan Kerajaan Allah, di satu sisi menyatakan secara khusus mengenai pemerintahan Allah di antara orang percaya sementara mereka masih ada di atas dunia ini, tetapi di sisi lain, menyatakan pemerintahan Allah di dalam kemuliaan.    Ya, Alkitab mencatat mengenai kerajaan Allah yang rohani dan kekal yang pertama-tama berada di atas dunia yang tidak sempurna ini, tetapi setelah itu akan dinyatakan dalam keadaan yang sempurna dalam kemuliaan.

Warga gereja mula-mula hampir semuanya adalah orang-orang Yahudi yang selama berabad-abad telah menanti dan berjuang untuk terwujudnya kerajaan Allah secara politis di atas dunia yang mereka identikkan dengan pemerintahan umat Tuhan itu dengan otoritas  yang jaya dan tak tertandingi di atas dunia ini;  mereka lebih menekankan sisi penampakan kerajaan Allah itu dan sama sekali tidak meyakini dan mengajarakan akan sisi otoritas spiritualnya.  Oleh karena itu, sebagai murid-murid Kristus,  mereka sangat memerlukan pemahaman yang baru dan benar tentang Kerajaan Allah itu.  Jika tidak, mereka akan melaksanakan tugas yang tidak layak dan mereka akan gagal dalam kesaksian mereka, padahal kesuksesan mereka menjadi kunci dari pewujudan visi dan misi pendirian dan pertumbuhan gereja Yesus Kristus.



Kesimpulan

Lukas, dalam kalimat-kalimat pembuka buku keduanya ini, meletakkan pengajaran yang merupakan fondasi gereja.  Dalam tulisan lanjutannya nampak bahwa kebenaran-kebenaran itu terus-menerus mewarnai pelayanan dan pengembangan organisasi dan organisme Tubuh Kristus.  Langkah ini konsisten kepada Visi Gereja yang telah Tuhan Yesus ungkapkan dalam Matius 16:18:  “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Batu Karang Gereja adalah Tuhan Yesus Kristus sedangkan batu-batu kerikil yang diperlukan untuk melanjutkan bangunan itu adalah para rasul dan semua warga jemaat, sesuai fungsi mereka berdasarkan karunia Roh Kudus.

Pilar-pilar pancang yang berdiri di atas dan bersumber dari Batu Karang itu, yang akan meneguhkan dan mensinergikan fungsi semua batu kerikil dalam pembangunan itu adalah Oknum Kristus yaitu Dia yang historis seperti ditulis dalam Alkitab secara khusus dalam keempat Injil dan Karya-karya historisNya mulai dari kelahiranNya sampai kenaikanNya ke sorga.

Dia mengajar gereja untuk menunggu kedatangan kedua kali Rajanya, sebelum ia berharap untuk mengalami realisasi pemerintahanNya dimana gereja ikut serta didalamnya;  Ya, Kerajaan Allah yang jaya itu akan datang, tetapi gereja harus menantikan dulu dan mempercepat kedatangan Rajanya, melalui karya pemberitaan Injil kepada semua suku dan manusia, di Yeruslem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi, karya mana mendapat kekuatan dan kuasa oleh Roh KudusNya.


By :   Pdt. Dr. John S. Dana, M.Th  Lihat Profile Penulis


Rangkaian Judul Yang Berhubungan
Memahami Tugas Yang Layak
Memahami Pertanggung Jawab Yang Layak

0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top