Evangelism Unlimited

Suatu Pemikiran Tentang Perlunya Persekutuan Kaum Pria

Suatu Pemikiran Tentang Perlunya Persekutuan Kaum Pria

6 10 99
Suatu Pemikiran Tentang Perlunya Persekutuan Kaum Pria 10 6 99
Persekutuan Kaum Pria (PKP) yang baru dibentuk dalam pelayanan Gereja KIBAID melalui SSA XV pada bulan Juli  2012 yang lalu, menimbulkan beragam pendapat yang kontradiktif. Ada yang mengatakan, untuk apalagi dibentuk PKP (Persekutuan Kaum Pria) sudah terlalu banyak persekutuan dalam gereja kita. Ada juga yang mengatakan PKP dibentuk karena kita meniru Gereja lain, bahkan ada yang mengatakan PKP tidak adakan mungkin jalan karena pengalaman masa lalu pernah di bentuk tetapi macet/tidak jalan. Juga ada yang mengatakan kaum pria sangat sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak mungkin akan mengadakan persekutuan. 


Masalah karir, keluarga, dan pelayanan banyak yang harus "ditangani sekaligus" oleh kaum pria/bapak. Namun, sering dijumpai ketidaksiapan/ ketidakseimbangan, bahkan "ketiadaan" (Absence) peran yang jelas dari seorang pria. Sebagai contoh, dalam banyak keluarga hanya ibu yang berperan. Ibu yang banyak berinisiatif minta pendapat/nasehat/ konseling kepada para konselor/ hamba Tuhan. Apalagi kalau menyangkut masalah anak (pergaulan, sekolah, dan pacaran), seringkali ibu lebih concern ketimbang ayah. Tak jarang kaum ibu merasa tertekan. Ketika ibu-ibu ditanya  "Mana bapaknya, Bu ?" Seringkali sang ibu menjawab, "Wah, susah Pak. Bapaknya anak-anak selalu sibuk, tak ada waktu. Dia sama sekali tidak memperhatikan keluarga. Padahal yang punya anak ‘kan dia juga. Tapi, semua urusan mesti istri yang mengerjakan." Keluhan seperti ini bukan hanya sekali dua kali kita hadapi, tetapi sangat sering!!! Karena itu,ketika dalam SSA XV Gereja KIBAID Di Hotel Misliana pada bulan Juli  2012 yang lalu penulis sangat bersyukur bahwa doa dan kerinduan penulis bertahun-tahun tentang masalah Pelayanan Kaum Pria yang” seakan-akan terabaikan” pada masah lalu dalam pelayanan gereja KIBAID ternyata sudah terjawab dengan dibentuknya Persekutuan Kaum Pria.
Penulis tergelitik dengan satu ungkapan dari salah satu peserta sidang sinode Am XV Gereja KIBAID yang mengatakan, “Ibu-ibu  pernah menyampaikan bahwa apa gunanya Kaum Wanita selalu dibina tetapi kaum pria “membinasakan karena tidak pernah mendapat pembinaan khusus.” Artinya PKW gereja KIBAID secara khusus punya kerinduan supaya Kaum Pria juga mendapat pembinaan. Menurut penulis kaum pria tidak lebih rohani dari kaum wanita, sehingga pelayananan kepada kedua persekutuan ini harus balance. Penulis menghimbau kaum bapak untuk membaca, merenungkan, sekaligus meresponi peran kita sebagai kaum pria. Memang benar jusrtu kaum prialah yang harus mendapat pembinaan yang lebih banyak karena bagaimanapun kaum pria sebagai kepala sangat berpengaruh kepada yang dibawahnya (isteri, anak-anak). Jika kepala ikan sudah busuk jangan harap badan sampai ekor akan baik. Baik tidaknya seekor ikan dilihat dari kepalanya. Suatu analogi yang sangat pass bagi kaum pria sebagai kepala dan imam dalam rumah tangga. 

Man Of Integrity (Pria Berintegritas)
Kata Ibrani untuk integritas mencakup pengertian whole, sound, unimpaired, memiliki hati yang tulus. Orang yang berintegritas memiliki etika dan moral yang baik, tak ada kemunafikan, dan bertekad memegang janji (dari sini muncul istilah promise keeper = pemegang janji, suatu gerakan pria di Amerika yang memiliki komitmen untuk kembali pada janji mereka). Pria yang berintegritas adalah pria yang antara ucapan dan tindakannya sama benar, tak ada yang disembunyikan, tidak mendua.
Sedikit sekali dalam masyarakat kita jumpai orang yang memiliki karakter semacam itu. Krisis integritas telah menyentuh berbagai lapisan, khususnya para kaum pria. Dalam komunitas Kristen, integritas sangat diperlukan dalam pelayanan. Menurut Steve Sonderman yang sangat concern/perhatian terhadap pelayanan kaum pria, integritas pelayanan akan muncul/nampak dalam tiga hal:

(1) Integritas nampak dalam pengakuan. Pria berintegritas tahu apa yang mereka yakini dan lakukan. Ia tahu apa yang benar. Ia tak mudah tergoyahkan. Ia tahu apa yang harus dilakukan, meski harus membayar harga yang mahal.

(2) Integritas nampak dalam keselarasan (their walk matches their talk). Apa yang dikomunikasikan kepada istri dan anak selaras dengan apa yang dilakukan. Istri dan anak tak akan begitu saja percaya kepada suami/ayah yang hanya kelihatan "saleh" di gereja namun "salah" dalam keluarga, kantor, dan komunita lainnya. Para pria perlu mengembangkan konsistensi antara apa yang mereka lakukan pada hari Minggu dan apa yang mereka lakukan pada hari lain. Acapkali seorang bapak/ayah begitu baik/lembut di lingkungan gereja tetapi sangat kasar dan kurang perhatian bila ada di lingkungan keluarga.

(3) Integritas nampak dari karakter. Para pria perlu menunjukkan "kejujuran" dalam bertindak. Dengan kesadaran bahwa "dia tak mau melakukan hal yang salah bukan karena takut dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Seorang pria melakukan hal yang benar karena itulah karakternya yang hakiki. Sekalipun ia pernah berbuat salah, ia tak akan malu mengakuinya, dan ia akan memohon pemulihan dari Tuhan."

Man of intimacy (pria "berdekatan")
Sulit menemukan terjemahan yang tepat tanpa menghilangkan arti dan keindahan kata intimacy. Intimacy (keintiman) berasal dari bahasa Latin intus yang artinya within (di dalam). Dengan demikian, keintiman berarti membagi kehidupan dengan yang lain, membiarkan orang lain masuk ke dalam hati kita yang"terdalam" dan kita menjelajah ke dalam hati mereka sedemikian sehingga keduanya menjadi satu. 
Para pria perlu mengembangkan kedekatan (intimacy) di dalam tiga area kehidupan:

(1) Ia memerlukan kedekatan dengan Allah. Para pria perlu menyadari bahwa Allah menjadikan manusia untuk mengenal Dia – bahkan lebih dalam dari itu. Manusia perlu to enjoy Him, to experience Him (pengalaman hidup bersama dengan Dia). Manusia diciptakan oleh Allah untuk Allah. Ia dapat menikmati kehadiran Allah setiap waktu dalam hidupnya.

(2) Ia memerlukan kedekatan dengan istri. Para pria perlu menyadari untuk melihat pernikahan bukan sekedar sebagai "the marriage thing," misalnya dengan cara membelikan barang-barang untuk istri tapi meninggalkan istri "di belakang." Pernikahan bukanlah hanya menyangkut benda-benda yang diberikan. Perhatian, kasih, kedekatan, dan keterlibatan emosi adalah hal yang amat dibutuhkan seorang istri. Seorang ahli mengklasifikasikan kedekatan dalam beberapa hal tersebut :
Emosi : tertawa dan menangis bersama
Sosial : pergi, berjalan, menemui teman-teman bersama
Fisik : berpegangan tangan, bersentuhan
Rohani : berdoa bersama, beribadah bersama
Kedekatan/keintiman antara suami dan istri melibatkan semua hal : membagi impian, harapan, ketakutan, dan kegagalan; beranjak lambat laun dari "the marriage thing" sampai menjadi "total person." Jika seorang suami tidak memiliki intimacy atau keintiman dengan isterinya,  baik secara emosiaonal, rohani, atau jasmani, maka dapat dipastikan akan terjadi kematian didalam hubungan tersebut. Suami maupun isteri, masing-masing akan berhenti berfungsi seperti yang telah Allah rancangkan.

(3) Ia memerlukan kedekatan dengan orang lain. Para pria memerlukan persekutuan dengan sesama pria dalam bentuk "male-friendship/fellowship." Dalam Alkitab terdapat banyak tokoh yang memiliki sahabat pria: Musa- Harun; Yosua – Kaleb; Daud – Yonathan; Paulus – Barnabas, Timotius, Lukas; Tuhan Yesus – Petrus, Yakobus, Yohanes, para murid. Amsal 27:17 menyatakan, "besi menajamkan besi, para pria (terjemahan harfiah dari teks Ibrani, LAI menterjemahkan dengan kata ‘orang’) menajamkan sesamanya." Kebanyakan pria tidak memiliki teman dekat – khususnya secara rohani. Kita harus menciptakan situasi yang memungkinkan para pria merobohkan tembok-tembok pemisah dan saling mengenal satu dengan yang lain. Kekristenan bukan "a solo sport" (olah raga tunggal). Para pria hendaklah bertumbuh bersama di dalam persekutuan – saling mendukung dan menguatkan.

Man Of Identity (Pria Beridentitas)
Alkitab menyuguhkan model yang positif dan prinsip maskulinitas/kejantanan sejati yang menyeluruh dari seorang pria. Para pria digambarkan memiliki identitas yang jelas. Mereka dicipta oleh Allah, segambar dengan rupa Allah. Mereka dicipta secara unik, baik secara kepribadian, temperamen, maupun fisik. Di mata Allah, kita berharga dan dikasihi. Allah mengasihi kita sampai Tuhan Yesus rela mati untuk kita.
Maskulinitas sejati kita dapatkan dari Tuhan Yesus. Ia dapat menangis dan penuh belas kasihan; tetapi Ia dapat tegas dan keras seperti paku. Ia berani menegur orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi di lain saat begitu lembut berbicara dan memberi pertolongan. Para pria perlu menyatakan identitasnya dengan jelas di tengah-tengah dunia ini.
Tidak ada sukacita ataupun kepuasan yang lebih besar dari yang dirasakan oleh seorang pria yang telah mengenal hakekat menjadi pria yang serupa dengan Kristus yang menjadi pria sejati. Sejati tidaknya seorang pria ditentukan oleh hatinya atau manusia batiniahnya,karakter moralnya, dan bagaimana ia menampilkan sifat dan karakter Kristus dalam seluruh aspek kehidupannya.

Man Of Influence (Pria Berpengaruh)
Para pria perlu menyadari perubahan dunia dan masyarakat saat ini. Kita hidup dengan dua tujuan. Kita hidup untuk kekekalan bersama Kristus, tapi semasa hidup ini kita menginvestasi banyak hal dalam memberi pengaruh pada orang lain – bahkan keluarga kita sendiri.
Mazmur 78 menggambarkan bagaimana ayah mengajar anak, dan pada gilirannya anak mengajar generasi berikutnya. Generasi berikut dipengaruhi oleh tindakan kita hari ini. Kita dapat mempengaruhi anak yang lahir pada abad ke-21 sejak saat ini. Betapa besar pengaruh ayah dalam kehidupan anak-anak. Dietrich Bonhoeffer pernah berkata : "A righteous man is one who lives for next generation." Orang benar adalah orang yang hidup untuk generasi berikutnya. Itulah pengaruh.

Penutup.
Seandainya kaum pria (kaum bapak) dapat memiliki empat karakter demikian, tentunya peran dan kehadiran para pria di tengah keluarga, lingkungan pekerjaan, dan masyarakat sosial khususnya dalam pelayanan akan sangat terasa. Kalau kita jujur menilai sesungguhnya semua kegiatan yang “berbauh” rohani selalu didominasi oleh kaum wanita. Marilah para pria, kita bergandeng tangan, bersekutu, dan membentuk suatu "fellowship" tempat anda tidak merasa berjuang sendiri menghadapi tantangan hidup ini. Ingatlah bahwa kehadiran anda di tengah rekan lain sangat berarti.
Kini saatnya para kaum pria gereja KIBAID mendapatkan pembinaan khusus, untuk saling membangun, menguatkan melalui persekutuan sehingga kaum pria Gereja KIBAID dapat menjalankan peran dan fungsi sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah. Jika kaum pria dipulihkan pasti akan dapat menjadi pengayom yang berhati “Bapa” bagi seluruh anggota keluarga.  Pria yang tampil sebagai bapa yang baik akan mampu memberikan proteksi sehingga keluarga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi seluruh anggota keluarga. Setan berusaha menghalangi supaya kaum pria tidak mengalami pemulihan, sebab Setan tahu jika laki-laki dipulihkan menjadi pria yang takut akan Tuhan (Mazmur 128), maka keluarga akan jadi bahagia.  Keluarga yang bahagia sebagai gereja kecil sangat mempengaruhi keutuhan dalam persekutuan secara berjemaat. Pelayanan kepada Persekutuan Kaum Pria begitu Urgen. Selamat bersekutu Kaum pria Gereja KIBAID. Maju terus pantang mundur. Ayo kapan lagi kalau bukan sekarang, siapalagi kalau bukan kita………………

Sumber.
Edwin Louis Cole. Menjadi Pria Sejati. Jakarta: Metanoia, 2009.
Steven J.Lawson. Seri Kebapaan. Warisan Abadi. Jakarta: Metanoia, 2007.

By:
Pdt. Eben Heiser  (lihat profile penulis)

Bacaan menarik lainnya:
Peranan Kaum Pria dalam Pertumbuhan Jemaat 
Menikmati Kehadiran Anak Selagi Bisa 


0 komentar:

Posting Komentar

 
LONGORI PORTAL © 2012-2018. All Rights Reserved. Design by Malan_Family - www.kibaidlongori.org
Top