• Situs ini menerima tulisan anda utamanya untuk membangun rohani setiap pembaca.

  • Klik disini untuk mendownload Alkitab dan Kidung Gereja (NKI)Android.

  • Team Longori Portal Mengucapkan Selamat Natal Desember 2014 dan Songsong Tahun Baru Januari 2015.

Jumat, Desember 05, 2014


Kamis, 4 Desember 2014, di pelataran halaman Gereja, kembali menjadi catatan penting lagi buat KIBAID Jemaat Longori. Hal ini karena pada hari tersebut Jemaat melaksanakan Natal untuk Lokal Longori. Mendukung konsep “Pemulihan Dalam Kasih” yang dikombinasikan dengan tema Nasional "Berjumpa Dengan Allah dalam Keluarga", maka acara dikemas sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya.

Berbeda????

Dimotori oleh Bpk Yakob B. Pararuk dan  Pnt. Petrus Rimpun, acara natal ini dapat berlangsung dengan baik dan cukup diacungi jempol dari 7 gereja tetangga dengan berbagai denominasi, sehingga tentunya meninggalkan kesan dan cerita.
Yah Acara kali ini bukan hanya pegelaran Pujian PIG, Pujian dari undangan dan Kotbah Natal dengan pernak perniknya, namun juga diisi oleh tim Sekolah Minggu yang tampil dengan Pianika untuk membawakan beberapa lagu Natal. Awalnya penulis sebagai  salah satu Panitia agak ragu untuk hal ini ditampilkan, namun seiring dengan waktu selama kurang lebih 3 bulan, dengan kesabaran seorang pelatih  menghadapi anak-anak, maka keraguan itu menjadi pupus. Anak SM bisa secara berirama memainkan not-not diberikan secara simultan, bahkan sangat fantastis buat saya yang awam terhadap musik. Sebelum hari H-nya pun telah ditampilkan dalam ibadah jemaat pada tanggal 30 November sekaligus menjadi ajang gladi bersih untuk Natal Jemaat. Audiens sempat sangat hening ketika ini ditampilkan dalam dua kesempatan berbeda, semuanya dengan kesimpulan masing-masing, luar biasa, segala kemuliaan untuk Tuhan.


 Lanjut Untuk kelas remaja tidak ketinggalan mempersembahkan drama yang mengusung konsep Pemulihan Kasih, dimana seorang anak kehilangan rasa sayang dari orang tua karena kesibukan. Diisi dengan system Dubbing Suara, maka drama yang mirip pantomim ini sukses untuk  mengantar  kotbah Natal Oleh Pdt Agustinus Genggong, STh selama beberapa menit.




Mungkin yang kami ceritakan itu masih biasa saja bagi beberapa pembaca, namun satu lagi yang sedikit langka untuk kalangan gereja kami yang injili, yakni rangkaian iringan musik/lagu dalam acara natal  disertai tarian rebana. Dengan latihan secara terpisah  selama sebulan, akhir pekan menjelang natal, tarian ini langsung klop antara Lagu, Pemimpin Pujian, Pemain musik, Tarian dan Bunyi rebana. Hhmmm.... sesuatu yang baru buat jemaat, walau penulis pernah menyaksikan di lingkup KIBAID dengan hanya satu dua lagu saja. Tarian ini mirip dengan tampilan mingguan aliran kharismatik, semuanya tampil dengan performa terbaik dan jemaat pun menyambut positif dengan harapan tetap berkesinambungan. Semua peserta natal pulang dengan membawa kado natal yang membekas dihati, ini karena acara cukup apik dan talenta yang Tuhan bri digunakan secara maksimal.



Kembangkan dan teruskan  talenta yang ada padamu, karena semuanya itu untuk kemuliaan-Nya di tempat Maha Tinggi. Berdoa, cari dan bukalah kunci talenta itu, karena kelak "Rajamu" akan datang untuk melihat serta menambah hasilnya.

Berjumpa Dengan Allah Dalam Keluarga, Hamba Tuhan, Jemaat Longori, dan Tim Penulis Longori Portal  mengucapkan selamat Natal tahun 2014 dan Menyongsong Tahun Baru 2015!

By : Admin Longori Portal Profile Penulis

Special Thanks buat
Sdr Yoel Palagda (Ex musik STT Jaffray) sebagai instruktur Pianika/musik/pujian PIG
Ny. Yuriksa Malan, Leader Musik dan Pujian Penyembahan
Pnt. Merry Modji sebagai pengasuh drama (koord. acara)
Dkn. Efrain Paguling, koord.Dubbing suara dan support Sekretaris
Ny. Yuli Retno sebagai instruktur tari dan musik rebana
Gembala, Tim Musik, Pemimpin Pujian,singers dan
Seluruh Jemaat Longori.


Baik Untuk Dibaca
Portal EasyWorship
Portal Flashback Songs

Jumat, November 28, 2014


Sebagian orang yang berpikir bahwa mengejar prestasi, uang, jabatan dan popularitas itu tidak rohani. Mereka kuatir, jika kenikmatan dunia ini akan membuat mereka terlena dan hidup jauh dari kesucian.
.
Ada beberapa pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Tergantung dari kita sendiri ingin memilih yang mana. Sesuai dengan nilai-nilai, kepercayaan dan tujuan hidup kita masing-masing, demikian yang akan kita dapatkan di dunia ini.
.
Saya termasuk yang berprinsip bahwa hidup hanya sekali, jadi saya mendorong anak-anak saya untuk berprestasi sebaik mungkin dan raih mimpi setinggi-tingginya. Apa pun talenta dan mimpi yang Tuhan taruh di hati mereka, saya dorong untuk memanfaatkan dan merealisasikannya secara maksimal dengan tujuan untuk mempermuliakan nama Tuhan.
.
Saya percaya bahwa kita harus berusaha semaksimal mungkin melakukan apa yang kita bisa, -do our best-, dan berusaha menjadi yang terbaik di bidang kita masing-masing. Lalu kita memanfaatkan prestasi, uang, jabatan dan popularitas yang kita miliki untuk membuat perubahan yang baik dan memuliakan Nama Tuhan.
Tidak berarti orang berprestasi atau kaya atau populer lalu hidupnya tidak baik, lupa pada Tuhan. Buktinya Billy Graham meskipun populer, sukses, berprestasi, memiliki keluarga yang baik dan pelayanan yang sangat berhasil. Beliau menjadi penasehat beberapa Presiden Amerika. Secara tidak langsung beliau mempengaruhi dunia pula. Demikian pula Zig Ziglar, John Maxwell, Bill Hybells dan lain-lain yang mempengaruhi dunia menjadi lebih baik. Mereka berprestasi, sukses, populer dan memiliki keluarga serta kehidupan yang patut diteladani.
.
Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang yang biasa-biasa saja: tidak sukses, tidak berprestasi justru selingkuh, rumah tangga kacau dan dalam pekerjaan tidak berhasil.
.
Sesungguhnya seseorang tetap hidup benar atau tidak, tergantung karakter, nilai-nilai hidup dan fondasi rohani yang dimilikinya. Jika orang itu memiliki fondasi dari ‘batu karang’ dan tetap memelihara hubungan pribadinya dengan Tuhan, entah kesuksesan atau kegagalan menimpanya, dia akan tetap berpegang pada kebenaran Firman Tuhan.
Kaya atau miskin, sukses atau gagal, populer atau tidak, itu bukan satu-satunya faktor penentu seseorang akan tetap hidup benar atau tidak.
Mengapa kita suka mengutip kata-kata orang yang sukses dan berprestasi? Karena pada dasarnya di dalam diri setiap manusia terdapat keinginan untuk maju.  Wallace D Wattles mengatakan, “Hidup tanpa perkembangan dan kemajuan adalah hidup yang tidak layak dijalani.”
Kita tertarik membaca kisah mereka yang hebat dan sukses, karena tanpa sadar, ingin menjadi seperti mereka.
.
Orang yang berprestasi dan hebat, saat mereka berbicara, banyak orang bersedia mendengarkannya. Ditulis di berbagai media. Disiarkan di televisi. Tentunya orang-orang seperti ini, punya kuasa untuk  mempengaruhi dan mengubah kehidupan banyak orang.
Sebaliknya, kita cenderung malas membaca atau mendengarkan orang yang kita tidak tahu prestasinya.
.
Seandainya saja, orang yang memiliki prestasi hebat seperti itu adalah orang-orang yang cinta Tuhan   dan memiliki hati yang penuh kasih ingin berjuang untuk memperbaiki kualitas hidup banyak orang. Tentunya akan efektif sekali bukan?
Mari kita lihat contoh-contoh di bawah ini.
Hampir semua orang di seluruh dunia mengenal Mother Teresa. Beliau melayani orang-orang yang paling miskin, diantara orang-orang miskin di India. Karena ketekunan, kasih dan ketulusan hatinya dalam melayani mereka, Tuhan mempromosikan Mother Teresa secara luar biasa. Orang-orang di seluruh dunia tertarik dengan apa yang dilakukannya. Maka banyak orang dari berbagai negara datang ke India untuk melihat dan ikut ambil bagian dalam pelayanannya.

Bahkan para pemimpin dunia dari Presiden, Menteri dan Tokoh-Tokoh penting dunia harus antri menunggu jadwal  bertemu  dengan Mother Teresa. Mereka bersedia menunggu berbulan-bulan, untuk berbicara selama 1 jam dengan beliau. Pengaruh beliau melintasi batas negara, bangsa bahkan agama. Luar biasa bukan?
Pemikiran dan kata-kata Mother Teresa dikutip di mana-mana dan mempengaruhi pemikiran serta hidup banyak orang di seluruh dunia. Mother Teresa tidak kaya. Tetapi prestasi dan popularitas Mother Teresa sudah mempengaruhi kehidupan banyak orang. Melalui hidup dan karyanya, orang-orang melihat Tuhan yang hidup.
.
Bill Gates dan Steve Jobs adalah dua tokoh dunia yang telah mempengaruhi cara hidup orang-orang di seluruh dunia saat ini. Hampir setiap orang di dunia memanfaatkan penemuan-penemuan mereka. Setiap kita menggunakan PC, laptop, internet, gadget dan telpon genggam, maka kita bersentuhan dengan penemuan-penemuan mereka. Prestasi mereka sudah mempengaruhi  bahkan mengubah cara hidup manusia pada jaman ini. Mereka orang-orang yang sangat sukses, kaya, populer dan memiliki jabatan yang tinggi. Kehidupan mereka ditulis dalam berbagai buku dan artikel.
Bill Gates dan istrinya, Melinda Gates mendirikan yayasan pribadi terbesar di  dunia yang dikelola secara terbuka, yaitu The Bill & Melinda Gates Foundation. Yayasan ini memberikan sumbangan hingga milyaran dollar. Pada tahun 2010, pendirinya sudah memulai Komisi Pendidikan Kesehatan Profesional untuk Abad ke-21 berjudul “Transformasi pendidikan untuk memperkuat sistem kesehatan yang saling tergantung di dunia.”
Melalui program-program yang dimilikinya, yayasan ini sudah menolong jutaan orang di seluruh dunia.
Warren Buffet orang terkaya ke tiga di dunia saat ini, ikut memberikan sumbangan 10 juta lembar saham perusahaan Berkshire Hathaway miliknya pada yayasan ini. Saham itu bernilai 1.5 milyar dollar pada tahun 2006 dan nilai saham itu terus naik pada saat ini.
Jika Bill Gates bukan orang kaya dan tidak punya prestasi apa-apa, tentunya dia tidak akan bersahabat dengan Warren Buffett. Juga, tidak ada orang yang mau memberikan sumbangan sebesar itu pada orang yang tidak punya kredibilitas, prestasi serta kekayaan apa pun.
Justru karena Bill Gates adalah orang terkaya di dunia saat itu (sekarang orang ke dua terkaya di dunia), sudah teruji kredibilitas, prestasi dan kemampuannya maka Warren Buffett bersedia menyumbangkan saham yang sangat besar kepada yayasan ini. Tentunya hanya orang-orang dengan prestasi tertentu yang mampu mengelola uang sebesar ini dengan baik dan benar.
Bukankah kekayaan, prestasi dan popularitas seseorang menjadi jalan untuk membantu jutaan orang?
.
Artikel ini hanyalah sebuah pemikiran yang menurut saya menarik.
Anda boleh setuju atau tidak.
Silahkan Anda memilih:
Menjadi orang berprestasi, agar Anda memiliki  pengaruh untuk membuat perubahan yang baik demi mempermuliakan nama Tuhan,
Atau menjadi orang yang cinta Tuhan dengan prestasi rata-rata, sehingga tidak perlu mengalami dilemma dalam menjaga kekudusan.
Semuanya baik, tergantung tujuan hidup kita.
Pilihan sepenuhnya ada di tangan masing-masing!
.
                                                   Kamu adalah terang dunia.
                           Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
                                         Lagipula orang tidak menyalakan pelita
                                           lalu meletakkannya di bawah gantang,
                                                  melainkan di atas kaki dian
                                sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
                           Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
                                     supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik
                                        dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
                                                 -The book of Matthew-
                                                               ~
                                        Apakah Tuhan berkenan jika kita mengejar
                                           Prestasi, Uang, Jabatan dan Popularitas?
                                                              Tentu saja!
                                            Tuhan mau kita mengerjakan yang terbaik,
                                                             -Do our best-
                                                   berusaha menjadi yang terbaik,
                                     di bidang kita masing-masing dan di mana pun kita berada.
                                                               Yang terpenting,
                                                       Tuhan ingin kita memanfaatkan
                                           Prestasi, Uang, Jabatan dan Popularitas kita untuk
                                                         Membuat PERUBAHAN
                                      agar dapat MEMBERKATI orang lain sebanyak mungkin,
                                       sehingga DUNIA di sekeliling kita menjadi LEBIH BAIK.
                                                       Melalui apa yang kita lakukan,
                                      Dunia bisa melihat Tuhan melalui kehidupan dan karya kita.
                                               Semakin hebat prestasi dan pengaruh kita,
                                           Semakin besar pula perubahan yang bisa kita buat,
                            Maka Nama Tuhan semakin dikenal dan dikagumi di area yang lebih luas.
                                                   Prestasi, Uang, Jabatan dan Popularitas
                                           Seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin
                                                          Dengan tujuan untuk
                                          MEMPERMULIAKAN NAMA TUHAN.
                                                                -YennyIndra-

.
By: YENNY INDRA
Inspirator dan Motivator Kristen
.
Bibliografi:
- Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Bill_%26_Melinda_Gates_Foundation

Baik Untuk Dibaca
Portal Sahabat
Portal EasyWorship


Minggu, November 23, 2014

Artikel Ini Merupakan Lanjutan Artikel Diktat Kitab Wahyu Part I,II,III,IV,V,VI danVII
Pembaca bisa membaca secara lengkap dalam buku yang telah ditulis Penulis dengan menghubungi via email : markuslingga@yahoo.com
 
1.    Iblis Dikalahkan, 20:1-3.
Apabila pada ps. 19:11-21, Penunggang kuda putih itu mengalahkan segala manusia yang melawan Dia, maka pada bagian ini malaikatNya menangkap si Iblis.
Ps. 20:1, “Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari surga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ...”  Istilah “jurang maut” dapat dilihat dan dibandingkan dengan ps. 9:1 dan 11:7.  Ayat ini merupakan pembukaan dengan memakai kata-kata, “Lalu aku melihat ....”  Peristiwa yang terjadi pada ps. 19-21 terjadi secara berturut-turut.
Menurut Leon Morris, “rantai besar” itu merupakan kiasan, karena roh tidak dapat ditahan dengan rantai, tetapi sebenarnya kita tidak mengerti banyak mengenai rantai malaikat, sehingga lebih baik kita tidak memberi komentar.  Pada ps. 9:1-2, malaikat diberi kunci jurang maut untuk membuka, tetapi pada ayat ini, jurang maut itu adalah tempat untuk memenjarakan si Iblis selama kerajaan seribu tahun berlangsung.  Riwayat Iblis kemudian dilanjutkan pada ps. 20:7-10 (Hagelberg, 347).
Jurang maut adalah melambangkan suatu tempat tahanan yang menakutkan, yang sama sekali gelap, tanpa terang.  Rantai besar yang dipakai pada ayat ini adalah alat untuk mengekang aktivitas Iblis.  Iblis dirantai sama saja Iblis dikekang oleh Allah (Wongso, 746).
Ps. 20:2, “...ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, ...”  Iblis tidak ditanggap oleh Allah atau oleh Anak Domba, tetapi ia ditangkap oleh seorang malaikat yang namanya tidak jelas.  Istilah “naga” sudah ditulis pada ps. 12-13, sedangkan si ular tua ada pada Kej. 3:1-15.  Pada ayat ini muncul 4 sebutan untuk si Iblis: naga, ular tua, Iblis, dan Satan.
Masalah kerajaan seribu tahun, banyak orang menafsir ayat-ayat ini sesuai dengan pandangan teologinya sendiri, yang semestinya tidak demikian.  Tafsiran tidak boleh lahir dari teologi, tetapi sebaliknya  teologi lahir dari tafsiran.  Kalau istilah “seribu tahun” yang disebutkan 6 kali pada ps. 20:1-10 dibaca oleh orang tanpa praduga lebih dahulu, maka ia akan berpikir bahwa nanti pada kedatangan Kristus akan ada masa “seribu tahun” dan orang-orang yang mati di dalam Tuhan akan dibangkitkan dan memerintah bersama-sama dengan Kristus dalam kerajaanNya.
Ada penafsir, seperti Ladd berkata bahwa akan ada masa panjang itu, tetapi mungkin angka seribu, yaitu 10 pangkat 3 suatu angka yang sempurna, tidak perlu diartikan secara harafiah.  Sebaiknya kita mengingat bahwa Dia yang mengilhamkan visi yang menentukan panjangnya masa kerajaan Mesias.
Dibaca sebagai sastera, memang angka “seribu” sempurna, tetapi jika dibaca sebagai nubuatan yang menceritakan panjangnya kerajaan Mesias, angka itu juga sempurna.  Jika kerajaan seribu tahun bukan harafiah dan sedang berlaku masa kini, maka ungkapan Iblis diikat harus dijelaskan, kapankah Iblis diikat? Kalau Iblis sudah diikat di dalam jurang maut dan dimeterai, mengapa pengaruhnya masih ada, bahkan makin kuat?  Ternyata ada empat kata kerja yang dipakai untuk menegaskan bahwa Iblis tidak menyesatkan manusia lagi: Iblis ditangkap, diikat, dilemparkan ke dalam jurang maut, dan jurang maut disegel.  Jelas sekali bahwa Iblis bukan sekadar dibatasi, tetapi sama sekali tidak dapat menyesatkan lagi.
Masa kerajaan seribu tahun, yang bersamaan dengan Iblis dirantai dan dilemparkan ke dalam jurang maut, bukan merupakan suatu kiasan yang menceritakan keadaan masa kini.  Masa kerajaan seribu tahun itu akan dimulai pada waktu Tuhan Yesus kembali ke dunia ini.  Beasley-Murray membahas masa kerajaan seribu tahun.  Dia menjelaskan bahwa pada dasarnya kerajaan seribu tahun adalah suatu masa di antara masa kini dengan masa penciptaan langit dan bumi baru, di mana Mesias akan memerintah di bumi ini.
Kitab Yehezkiel adalah kitab yang paling dengan kitab Wahyu 20:1-22:5.  Pada Yeh. 36-37, kerajaan Mesias diceritakan dengan perumpamaan mengenai kebangkitan Israel, di mana Israel akan dikumpulkan ke tanah Kanaan dalam keadaan percaya.  Ps. 38-39, terjadi sesudah waktu yang lama sekali.  Kedua pasal tersebut menceritakan tentang perang Gog dan Magog, yang disebutkan pada Wahyu 20:7-9.  Rupanya dengan perang tersebut kerajaan seribu tahun berakhir.  Pada Yeh. 40-48, dijelaskan tentang langit baru dan bumi baru (Hagelberg, 348-352).
Ps. 20:3, “lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.”  Selama seribu tahun, Iblis sama sekali tidak dapat menyesatkan bangsa-bangsa.  Ps. 20:7-9, menjelaskan tujuan Allah, mengapa Iblis dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.

A.    Kerajaan Seribu Tahun, 20:4-15.
Kerajaan seribu tahun hanya diceritakan pada 12 ayat saja.  Tiga ayat yang menceritakan apa yang terjadi di dalam kerajaan itu, empat ayat menceritakan pemberontakan terakhir, dan lima ayat menceritakan penghukuman terakhir.  Ps. 20:4-6, menceritakan mengenai mereka yang bertakhta dalam kerajaan seribu tahun.
1.    Orang-Orang yang Memerintah dengan Tuhan Yesus Selama Seribu Tahun, 20:4-6.
Ps. 20:4, “Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.”
Siapakah yang duduk di atas takhta-takhta itu?  Sebagian besar penafsir mengartikannya sebagai himpunan dari jiwa-jiwa mereka yang dipenggal kepalanya.  Janji Allah kepada mereka yang menang, yang mati syahid pada masa kesengsaraan digenapi pada masa kerajaan seribu tahun.
Polikarpus sebagai Uskup di Smirna memahami akan hal tersebut, sehingga ia menerima kematiannya dengan semangat yang luar biasa.  Dalam Perjanjian Lama, istilah “menghakimi” berkaitan erat dengan memerintah.  Akan terjadi kebangkitan bagi jiwa-jiwa yang dilihat Yohanes untuk memerintah selama seribu tahun bersama dengan Kristus.
Para teolog yang menolak kerajaan seribu tahun berkata bahwa kalimat “mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun” berarti kita hidup kembali dalam Kristus, seperti yang dikatakan pada Yoh. 5:25, yakni kebangkitan secara rohani saat kita percaya kepada Tuhan Yesus.
Kerajaan seribu tahun sering disebut Millenium dari bahasa Latin: Mille artinya seribu dan annus artinya tahun.  Orang yang menganut paham bahwa tidak ada kerajaan seribu tahun disebut Amillenial.  Orang yang percaya bahwa Tuhan Yesus akan kembali ke bumi sebelum kerajaan seribu tahun secara harafiah disebut Pre-Millenial.  Dan orang yang percaya bahwa Tuhan Yesus akan datang ke bumi sesudah kerajaan seribu tahun secara harafiah disebut Post-millenial.  Dave Hagelberg termasuk penganut paham Pre-millenial (Hagelberg, 356-358).
Ungkapan “memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun”, tidak berarti akan menjadi raja kecil di suatu negara kecil, tetapi orang-orang kudus berada di dalam Kristus, artinya kita akan turut memerintah bersama dengan Kristus di dalam kerajaan-Nya.
Ps. 20:5, “Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan pertama.”  Istilah “kebangkitan pertama” adalah menunjuk kebangkitan dari kematian secara harafiah, bukan sinonim dengan kebangkitan secara rohani (Guthrie, ed., 974).
Ayat ini menimbulkan permasalahan, apakah kerajaan seribu tahun hanya untuk mereka yang disebutkan pada ps. 20:4?  Bagaimana dengan umat Allah Perjanjian Lama?  Bagaimana dengan umat Allah masa kini, sebelum aniaya besar?  Menurut 1Tes. 4:16-17, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga dan mereka yang mati di dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.  Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”  Tetapi sebelum diangkat, harus diubah lebih dahulu dalam sekejap mata menurut 1Kor. 15:51-52.  Ungkapan “orang-orang mati yang lain” yang tidak bangkit sebelum berakhir masa seribu tahun adalah menunjuk kepada orang-orang mati yang tidak percaya kepada Kristus (Hagelberg, 360-361).
Ps. 20:6, “Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.”  Ayat ini mirip dengan janji yang pernah diberikan kepada jemaat Smirna: “Barangsiapa menang ... tidak menderita apa-apa dari kematian kedua.”  Janji ini digenapi pada ps. 20:6. 
Jika ada kematian kedua berarti ada kematian yang pertama.  Kematian pertama adalah kematian yang kelihatan, yaitu kematian jasmani, sedangkan kematian kedua adalah menunjuk kepada hukuman kekal.  Jika ada kebangkitan pertama berarti ada juga kebangkitan kedua.  Kebangkitan pertama sudah jelas untuk orang-orang yang mati di dalam Kristus, sedangkan kebangkitan kedua adalah diperuntukan kepada orang-orang yang tidak mendapat bagian dalam kebangkitan pertama.

2.    Pemberontakan Terakhir, 20:7-10.
Ps. 20:7, “Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, ...”  Istilah “jurang maut” bukan menunjuk kepada suatu lokasi, karena Setan bereksistensi dalam dunia rohani, bukan dunia materi.  Iblis dirantai berarti Iblis dikekang oleh Allah dalam segala aktivitasnya (Wongso, 732).
Iblis itu tidak bebas sendirinya, tetapi Allah sengaja melepaskan dia untuk sementara waktu, sehingga sekali lagi ia pergi menyesatkan bangsa-bangsa yang membuktikan bahwa Iblis memang kerjanya hanya tahu menyesatkan saja.
Ps. 20:8, “... dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.”  Istilah “Gog dan Magog” , nabi Yehezkiel sudah menubuatkan tentang peperangan Gog dan Magog.  Menurut Yeh. 38:2, Gog adalah raja agung dari negeri Mesekh dan Tubal.  Pada Kej. 10:2 dan 1Taw. 1:5, Magog adalah cucu nabi Nuh.  Pada Yeh. 38:2; 39:6, Magog adalah suku yang bermusuhan dengan umat Allah.  Di dalam surat yang dibuat dari tanah liat yang ditemui di Tel-el-Amarna, sebutan Gog menunjuk pada suku-suku yang berada di sebelah utara Israel (Hagelberg, 364).
Ps. 20:9, “Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, ...”  Adanya pemberontakan yang hebat, yang sifatnya massal diceritakan dengan satu kalimat.  Penyelesaiannya juga diceritakan dengan satu kalimat.  Kota yang dikasihi itu adalah menunjuk kepada kota Yerusalem, yang merupakan lawan kota Babel.  Ungkapan “perkemahan orang-orang kudus” menurut dugaan menunjuk kepada Yerusalem Surgawi (Guthrie, ed., 975).

3.    Penghakiman di Takhta Putih, 20:11-15.
Setelah pemberontakan yang paling akhir, maka terjadilah penghakiman yang terakhir.  Pada saat itu, langit dan bumi yang lama akan berakhir dan masa kerajaan seribu tahun juga berakhir.
Ps. 20:11, “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.”  Istilah “takhta putih” dalam bahasa Yunani thronon megan leukun terjemahannya takhta putih yang besar.  Kata thronon menunjuk kepada kedudukan seorang penguasa.  Siapa yang duduk di atas tempat itu akan menentukan makna dari tempat itu (Wongso, 737).
Ps. 20:12, “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.”  Istilah “orang-orang mati yang berdiri di depan takhta” adalah menunjuk kepada orang-orang yang telah mengalami kebangkitan kedua, berarti kebangkitan kedua dianggap sudah berlangsung pada ayat 12 (Guthrie, ed., 975).
Mereka disebut sebagai orang-orang mati yang berdiri karena mereka tidak percaya kepada Kristus (Hagelberg, 368).  Mereka dihakimi menurut catatan tentang segala perbuatan mereka.
Ps. 20:13, “Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.”  Ada penafsir yang menganggap ayat 13 kontra dengan ayat 11, tetapi sebenarnya tidak ada yang kontra, karena kitab Wahyu memakai bahasa apokaliptik yang memang agak lebih bebas dari pada peraturan logika dan waktu.
Ps. 20:14-15, “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.  Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.”  Ayat 14 hanya mengulangi ayat 13.  Istilah “maut” adalah mereka yang dipegang oleh kuasa maut.  Maut dan kerajaan maut merupakan kuasa yang terakhir yang harus dikalahkan oleh Yesus.
Ayat 15, merupakan ringkasan mengenai takhta putih.  Yang ditegaskan pada ayat ini ialah satu-satunya cara untuk lepas dari lautan api ialah nama kita harus tertulis dalam kitab kehidupan.  Orang yang tidak memunyai kewarganegaraan dalam kerajaan Allah akan dilemparkan ke dalam lautan api (Hagelberg, 370-371).

B.    Langit dan Bumi Baru, 21:1-22:5.
1.    Pendahuluan: Yerusalem Baru, 21:1-8.
Penglihatan yang terakhir ini terjadi sesudah penghukuman takhta putih dan juga sesudah kerajaan seribu tahun.  Langit dan bumi yang lama sudah tidak ada lagi.  Peralihan ini antara kerajaan seribu tahun dan kerajaan kekal (dengan langit baru dan bumi baru) juga diceritakan pada 1Kor. 15:24, “Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.”  Dalam penglihatan ini, Yerusalem baru menjadi pusat dari ciptaan yang baru (Hagelberg, 371-372).
Ps. 21:1, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.”  Ayat ini sudah dinubuatkan Yesaya pada ps. 65:17, Allah menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru.  Yohanes melihat bahwa “lautpun tidak ada lagi.”  Mengapa laut masih disebut, padahal laut sudah terhisap dalam istilah bumi?  Maounce mengatakan bahwa dalam firman Allah “laut” sering mengacu kepada orang-orang fasik, seperti pada Yes. 57:20; Why. 13:1, 6-7.
Inti dari ungkapan “laut pun tidak ada lagi” karena laut dianggap sebagai tempat dari segala yang jahat.  Pemikiran utama dari ungkapan ini ialah pengucilan Iblis dari orde kehidupan yang baru (Guthrie, ed., 976).
Ps. 21:2, “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”  Kata “kudus” dan “baru” mengingatkan kita bahwa kota Babel adalah najis dan lama.  Kota itu berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya, seperti yang dituliskan pada Yes. 54:5.
Beasley-Murray mengatakan bahwa kota itu sebenarnya adalah gereja, yang berhias .... (Guthrie, ed., 976).  Istilah “bagaikan” mengingatkan kita bahwa pengantin perempuan itu adalah kiasan sama seperti ps. 17:18 yang menjelaskan bahwa pelacur besar itu adalah kiasan untuk kota Babel.
Ps. 21:3, “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”  Istilah “kemah” Yunanyinya skene artinya Allah tinggal bersama-sama manusia (Guthrie, ed., 976).  Pada Yoh. 1:14, dapat diterjemahkan, “Firman itu telah menjadi manusia dan berkemah di antara kita, ...” artinya Allah itu diam bersama-sama dengan manusia.
Ps. 21:4, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”  Ayat ini mirip dengan Yes. 25:8, “Ia akan meniadakan maut ...  Tuhan Allah akan menghapus air mata dari pada segala muka ....”  Pada ps. 7:17, kita dapat membaca bahwa Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka ....  Ayat ini menyatakan kepada jemaat-jemaat sebagai pembaca pertama suasana kerajaan Allah dan Kristus.  Ini menjadi penghiburan kepada jemaat-jemaat yang menghadapi aniaya, walaupun mereka menangis, tetapi di dalam kerajaan Allah semuanya sudah tidak ada lagi.
Ps. 21:5, “Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”   Apa yang dilihat oleh Yohanes adalah wujud nyata dari 2Kor. 5:17.
Ps. 21:6, “Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.”  Ayat ini menggenapi Yes. 55:1.  Pada kitab Wahyu, ada dua minuman yang jauh berbeda.  Ada minuman dari cawan emas yang penuh dengan segala kenajisan dan kekejian percabulan pelacur besar dan ada minuman dari air kehidupan yang sifatnya Cuma-Cuma (Hagelberg, 377).
Ps. 21:7, “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.”  Ayat 6 menyebutkan apa yang disediakan bagi “orang yang haus”, sedang ayat 7 menyebutkan apa yang disediakan bagi setiap orang yang menang.  Istilah “anak” bukan menunjuk kepada anggota keluarga secara kelahiran, tetapi menunjuk pada anak yang sudah ditetapkan sebagai ahli waris oleh ayahnya (Ibid, 378).
Ps. 21:8, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua”
Istilah “penakut” pada konteks Wahyu ialah orang-orang yang takut kepada manusia, sehingga menyangkal Kristus, lalu menyembah Anti-Kristus.  “Orang yang tidak percaya”, termasuk orang-orang Kristen yang murtad dan hang kafir.  Orang “keji” adalah orang yang menyembah binatang itu (bnd 17:4) (Guthrie, ed., 977).  Orang-orang demikian mungkin masih ada pada awal kerajaan seribu tahun, mungkin juga mereka haus akan air kehidupan, tetapi oleh karena ikatan-ikatan lain, mereka tidak berhasil meninggalkan dosa-dosa mereka (Hagelberg, 378).
2.    Benteng dan pintu gerbang Yerusalem Baru, 21:9-21.
Ps. 21:9, “Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”  Di sini Yohanes dibawa oleh malaikat ke tempat yang tinggi untuk menyaksikan turunnya Yerusalem baru dari Surga ke bumi.  Penyingkapan tentang pengantin itu telah disebutkan pada ps. 19:7-9, di mana dikatakan bahwa dia telah mempersiapkan dirinya bagi suaminya.  Di sini janji itu digenapi, tetapi bukan dengan kiasan tentang pengantin, melainkan tentang kota Yerusalem.
Ps. 21:10, “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah.”  Kota itu turun dari Surga.  Nampak di sini bahwa setelah kedatangan Kristus nanti, orang-orang percaya akan berada di bumi baru, bukan di Surga.  Justru itu bumi baru diciptakan.  Memang seperti kata Paulus pada Fil. 1:23, pada waktu kita meninggal kita akan ke Surga tanpa tubuh, tetapi setelah Yesus datang membangun kerajaan-Nya di bumi, orang-orang percaya akan ada di bumi tempat kerajaan Kristus (Surga ada di bumi) (Ibid, 380).
Kapankah Yerusalem dibentuk?  Mungkinkah kota ini yang dimaksudkan Yesus pada Yoh. 14:2-3?  Tidak jelas.  Kota itu terdiri atas emas tulen (21:18), pada ps. 22:2, di sana ada pohon kehidupan, yang berbuah dua belas kali setahun.
Ps. 21:11, “Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.”  Gambaran Yaspis tidak jelas, tetapi mungkin istilah batu-batuan itu menggambarkan kemuliaan Allah.
Ps. 21:12, “Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel.”  Ayat 12-13 yang menyebutkan pintu-pintu gerbang Yerusalem baru sesuai dengan yang ditulis pada Yehezkiel ps. 48:31-34, hanya nabi Yehezkiel tidak menyebut 12 malaikat.  Temboknya yang besar lagi tinggi adalah gambaran fungsi ganda, yaitu untuk menahan di luar, mereka yang tidak mendapat berkat dan karunia kota itu dan untuk menjamin keamanan bagi penghuninya (Guthrie, ed., 977).
Ps. 21:13, “Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang.”  Ayat ini menimbulkan problema, apakah orang-orang kudus dapat keluar masuk?  Apakah orang-orang non-kudus masih ada kemungkinan masuk kota kudus itu?  Karena kota itu memunyai 12 pintu gerbang.  Menurut Peter Wongso bahwa pintu-pintu itu bukan dipakai untuk keluar masuk, tetapi hanya melambangkan kesatuan orang-orang percaya dengan Kristus untuk selama-lamanya (Wongso, 771).
Ps. 21:14, “Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.”  Ada kesejajaran dengan 12 pintu gerbang yang bertuliskan 12 suku Israel dengan 12 batu dasar yang bertuliskan 12 rasul.  Dua belas batu dasar mengingatkan kita pada Ef. 2:20, “jemaat dibangun di atas dasar para rasul dan nabi.”  Dengan menyebut 12 suku Israel dan 12 rasul berarti Yerusalem dimaksudkan untuk Israel dan untuk jemaat Kristus Perjanjian Baru (Hagelberg, 382).
Ps. 21:15-16, “Dan ia, yang berkata-kata dengan aku, mempunyai suatu tongkat pengukur dari emas untuk mengukur kota itu serta pintu-pintu gerbangnya dan temboknya.  Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama.”
Pada Yeh. 40-42, ada seorang malaikat yang mengukur Bait Allah dengan tongkat pengukur.  Pada Zakh. 2:1-2, tali pengukur dipakai untuk mengukur Yerusalem.  Mounce mengatakan biasanya panjang tongkat jaman itu kira-kira sepuluh meter.  Pada Yeh. 45:2; 48:20 disebutkan bahwa Bait Allah itu berbentuk empat persegi, tetapi baru pada ayat ini dikatakan panjangnya, lebarnya, dan tingginya sama.  Berarti Yerusalem baru berbentuk kubus.  Ukurannya dua belas ribu Mil atau kira-kira 18.000 Km.
Menurut Bauckhman, 12.000 Mil atau 18.000 Km adalah angka untuk umat Allah (144.000 = 12x12).  Ia mengamati bahwa angka 12 (12x12) dikalikan dengan 1.000 untuk menambah unsur keluasan, dengan demikian ukuran 12.000 Mil menjadi pernyataan bahwa kota adalah kota yang sangat luas bagi umat Allah tidak seperti Tanah Kanaan yang terbatas, dari Galilea sampai laut mati hanya 110 Km saja (Hagelberg, 383-385).
Ps. 21:17-18, “Lalu ia mengukur temboknya: seratus empat puluh empat hasta, menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat.  Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.”  Ukuran 144 hasta adalah menunjuk kepada ukuran lebar tembok bagian atas, bukan tingginya, karena panjang, lebar, dan tinggi kota Yerusalem adalah sama dengan 12.000 Mil.
Permata yaspis adalah melambangkan kemuliaan Allah, berarti kota Yerusalem penuh dengan dengan kemuliaan Allah, sampai temboknya pun menyatakan kemuliaan-Nya.  Lantai kota itu terbuat dari emas tulen.  Pada ps. 21:21, emas itu bagaikan kaca bening, berarti tembus cahaya, yang menekankan kemuliaan Allah yang luar biasa (Ibid, 385-386).
Ps. 21:19-20, “Dan dasar-dasar tembok kota itu dihiasi dengan segala jenis permata. Dasar yang pertama batu yaspis, dasar yang kedua batu nilam, dasar yang ketiga batu mirah, dasar yang keempat batu zamrud, dasar yang kelima batu unam, dasar yang keenam batu sardis, dasar yang ketujuh batu ratna cempaka, yang kedelapan batu beril, yang kesembilan batu krisolit, yang kesepuluh batu krisopras, yang kesebelas batu lazuardi dan yang kedua belas batu kecubung.”
Menurut seorang sarjana bernama Anathasius Kircher dari Mesir pada abad ke-17 bahwa batu permata yang diceritakan dalam daftar ini sama dengan batu permata yang melambangkan kedua belas rasi bintang (12 zodiak bintang dalam astrologi), tetapi urutan yang dipakai pada dua ayat ini berlawanan dengan urutan rasi bintang yang tradisional.
Menurut Leon Morris bahwa urutan dibalik untuk menandai bahwa rasi bintang harus ditolak oleh umat Allah (Ibid, 387-388).  Menurut rasi bintang: Yaspis melambangkan ikan (fish), nilam melambangkan air (water), mirah melambangkan kambing (goat), zamrud melambangkan manusia berkepala kuda (acher), unam melambangkan kalajengking (scorpion), sardis melambangkan timbangan (balance), ratna cempaka melambangkan anak dara (virgin), beril melambangkan singa (lion), krisolit melambangkan kepiting (crab), krisopras melambangkan kembar (twin), lazuardi melambangkan lembu emas (bull), dan kecubung melambangkan kambing putih (ram) (Wongso, 773).
Ps. 21:21, “Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.”  Mutiara dan emas pada ayat ini sulit dibayangkan.  Tidak ada orang di bumi ini yang memunyai emas murni, apalagi yang bagaikan kaca bening.

3.    Kemuliaan Yerusalem Baru, 21:22-27.
Ps. 21:22, “Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.”  Bait Suci dengan segala lambang-lambangnya sudah tidak ada lagi, sebab wujud dari lambang-lambang itu kini sudah hadir, yaitu pribadi Yesus Kristus sendiri.
Ps. 21:23, “Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.”  Bagi pembaca mula-mula dapat memahami kebiasaan orang-orang kafir, di mana matahari, bulan, dan benda-benda langit lainya adalah dijadikan ilah-ilah.  Semuanya itu sudah pudar karena ada kemuliaan yanga asli dari Allah sendiri.
Ps. 21:24, “Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; ...”  Ayat ini dilatarbelakangi dengan Yes. 60:3-11, di mana tema kesejajaran Yerusalem baru dengan Babel kembali diungkapkan di sini.  Pada ps. 17 dan 18, bangsa-bangsa dan raja-raja disesatkan dan dijadikan mabuk oleh kota Babel, tetapi pada masa kekekalan, bangsa-bangsa dan raja-raja yang ada menyerahkan kekayaan mereka kepadanya.
Keadaan rohani mereka yang ada di luar Yerusalem baru, yang membawa kekayaan mereka ke kota yang indah itu perlu dipikirkan.  Kita sudah melihat bahwa mereka yang menang akan didudukkan di atas takhta Tuhan Yesus dan akan memerintah atas bangsa-bangsa.  Ayat ini sulit karena orang-orang yang tidak percaya bersama dengan si Iblis serta pengikutnya sudah dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang.  Siapakah yang disebutkan pada ayat ini?
Keadaan orang-orang yang percaya yang tidak menang, yang tidak bertobat sesuai dengan tuntutan-tuntutan yang diungkapkan pada ps. 2 dan 3, tidak dibahas dalam kitab Wahyu.  Mungkinkah mereka akan seperti itu?  Mereka selamat, sehingga tidak dilemparkan ke dalam lautan api, tetapi mereka tidak meraih mahkota dan takhta.  Mereka menjadi warga dari kerajaan kekekalan, tetapi tanpa pahala. Mungkinkah ayat ini menjelaskan keadaan mereka?  Mereka berada di luar dari kota Yerusalem baru, mereka menikmati cahayanya, dan mereka membawa kekayaan mereka kepadanya, tetapi mereka tidak boleh tinggal di dalam Yerusalem baru (Hagelberg, 390).
Ps. 21:25-26, “... dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.”  Para pembaca di Smirna, mereka tidak menikmati apa yang disebut rasa aman.  Harta dan jiwa mereka selalu terancam.  Di Yerusalem baru nanti tidak ada lagi ancaman karena di sana tidak ada lagi musuh.
Ada penafsir yang mengatakan bahwa ayat 25 kontradiktif dengan ps. 7:15, “mereka akan melayani Dia siang malam”, sedang pada ps. 21:25, tidak ada lagi malam.  Sebenarnya tidak ada yang kontras, karena ps. 7:15 berbicara tentang masa kerajaan seribu tahun, sedangkan ps. 21:25 berbicara tentang masa kekekalan.  Ayat 26 hanya merupakan penegasan dari ayat 24.
Ps. 21:27, “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.”  Ayat 27 menceritakan keadaan langit baru dan bumi baru nanti, yang tidak terhampiri segala yang najis dan yang jahat.  Ayat ini menegaskan kekudusan Yerusalem baru.

4.    Sungai kehidupan dan Hamba Anak Domba di Yerusalem Baru, 22:1-5.
Ps. 22:1, “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.”  Ayat ini diilhami kitab Yeh. 47:1-12, “air yang keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci” yang mengalir menjadi sungai yang masuk ke laut mati, yang airnya menjadi tawar dan penuh dengan ikan.
Penglihatan Yehezkiel menunjuk kepada masa kerajaan seribu tahun, sedangkan 22:1 adalah masa kekekalan.  “Sungai air kehidupan” mengandung makna Roh Allah, kekudusan, dan kehidupan kekal pada Kel. 40:12, 30; Im. 14:8-9; Yes. 44:3, dsb.
Ps. 22:2, “Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.”  Ayat ini sama dengan ps. 21:24 menimbulkan pertanyaan tentang istilah “bangsa-bangsa.”  Pada Kej. 2:9; 3:22 “pohon kehidupan” disebutkan, Wahyu 2:7 ada buah pohon kehidupan disebutkan dan akan dimakan oleh mereka yang menang.
Pada ayat ini kelimpahan buah di kota Yerusalem baru diceritakan.  “Buah” itu adalah lambang atau menandai hidup kekal yang berkelimpahan.  Adanya kemungkinan bahwa bangsa-bangsa yang disebutkan pada ayat ini sama dengan ps. 21:24, atau mungkin bangsa-bangsa yang memberontak dan melawan Tuhan pada ps. 20:8, tetapi kemudian mereka bertobat.  Rupanya mereka ini tinggal diluar kota Yerusalem baru, mereka di bawah pemerintahan Anak Domba serta mereka yang duduk di atas takhtaNya.
Untuk apa mereka disembuhkan dengan daun pohon kehidupan?  Jika bagian ini menceritakan masa kekekalan, bagai mungkin masih ada penyakit?  Nas ini sangat sulit ditafsirkan ....  Menurut Beasley-Murray bahwa penyembuhan dari dedaunan itu harus diartikan dalam arti yang murni rohani.  Dalam kerajaan Allah, orang-orang kudus akan menerima makanan rohani dan penyembuhan luka-luka karena dosa (Guthrie, ed., 979).
Ps. 22:3, “Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, ...”  Ada beberapa pengertian tentang “tidak ada lagi laknat”, yaitu: Pertama, bahwa kutuk Allah yang ada dalam Kej. 3:14-19 akan ditiadakan.  Kedua, bahwa perintah untuk memusnahkan berhala serta segala bangsa yang menyembah berhala, akan ditiadakan.  Rupanya tafsiran kedua itu lebih kuat, seperti yang dikutip dari Zakh. 4:11 (Hagelberg, 394).
Ps. 22:4, “... dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.”  Pada ps. 1:16 dituliskan bahwa “wajahNya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik”,  tetapi di sini dikatakan bahwa mereka akan diam di Yerusalem baru akan melihat wajahNya.  Melihat wajah Allah adalah merupakan kerinduan umat Tuhan sepanjang masa.  Pada 3:12 dan 14:1 dituliskan bahwa mereka yang menang dan 144.000 orang Yahudi itu diberi nama baru yang tertulis pada dahi mereka.
Ps. 22:5, “Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.”  Ayat ini merupakan penegasan ulang dari ps. 21:23.
Ungkapan “mereka akan memerintah sebagai raja ...” harus dikaitkan dengan ps. 20:4, berarti pemerintahan mereka tidak berakhir setelah kerajaan seribu tahun.  Rupanya yang diam di dalam Yerusalem baru adalah mereka yang menang (ps. 2 dan 3) dan akan memerintah sebagai raja selama-lamanya.  Kota Yerusalem akan menjadi pusat pemerintahan, yaitu menjadi ibu kota dari bumi baru itu.  Jika mereka memerintah di sana, mereka memerintah siapa?  Jelas orang-orang yang tidak percaya Yesus tidak ada lagi di sana.
Pada kitab Wahyu, mereka yang tidak setia sampai, mereka yang tidak melakukan pekerjaan-Nya sampai kesudahannya tidak dijelaskan.  Yang dijelaskan panjang lebar adalah mereka yang setia atau mereka yang menang, karena kitab Wahyu mendorong orang supaya menang bukan asal-asalan.
Barangkali orang-orang itu yang tidak menang, yang akan diperintah oleh mereka.  Mereka itu selamat, tetapi seperti keluar dari dalam api (1Kor. 3:15).  Mereka akan selamat dan diperbolehkan masuk kerajaan Allah, ke dalam langit baru dan bumi baru, tetapi tidak akan memerintah, melainkan akan diperintah (Hagelberg, 397-398).  Yang jelas ada orang yang selamat, tetapi seperti keluar dari dalam api.  Orang-orang seperti itu tidak begitu jelas ceritanya dalam kitab Wahyu, kecuali yang banyak dijelaskan adalah mereka yang menang.

C.    Penjelasan Akhir dari Penglihatan, 22:6-17.
Sesudah Yohanes mendapat penglihatan Yerusalem baru, penglihatan dan kesaksian itu dikuatkan oleh beberapa perkataan.  Perkataan yang pertama, diucapkan oleh malaikat yang muncul pada ps. 21:9.  Perkataan kedua, oleh Tuhan Yesus sendiri.  Dan yang ketiga, oleh rasul Yohanes.  Tidak mudah mengidentifikasi siapa yang berbicara pada ayat-ayat ini.  Pada bagian ini, ada 3 tema yang dibicarakan: Pertama, bahwa firman itu benar.  Kedua, bahwa Tuhan Yesus akan kembali secara mendadak.  Ketiga, bahwa ada pahala bagi setiap orang yang menuruti apa yang tertulis dalam kitab ini.
Bagian ini memunyai beberapa kesamaan dengan bagian pembukaan kitab Wahyu:
-    Nubuatan yang benar, 1:3 dan 22:6, 9-10, 18-19.
-    Panggilan Yohanes, 1:1, 9-10 dan 22:8-10.
-    Anjuran untuk membacakan kitab, 1:3, 11 dan 22:18.
-    Tujuan untuk membesarkan hati jemaat, 1:3 dan 22:7, 12, 14.
Ps. 22:6, “Lalu Ia berkata kepadaku: “Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.”  Di sini ada mata rantai saluran ilham, yaitu dari Allah kepada malaikat-Nya, dan kepada hamba-hamba-Nya, mirip dengan ps. 1:1.
Ungkapan “apa yang harus segera terjadi” juga sudah diungkapkan pada ps. 1:1.  Sepanjang zaman, umat Kristen harus berjaga-jaga menantikan kedatangan Kristus.  Tanggal dan tahun kedatangan Kristus tidak diilhamkan supaya setiap generasi tetap berjaga-jaga (Hagelberg, 400).
Ps. 22:7, “Sesungguhnya Aku datang segera.  Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!”  Rupanya yang berbicara pada ayat ini adalah Tuhan Yesus sendiri, karena ayat ini sama dengan ps. 1:3 yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.  Bauckhman mengamati bahwa sama seperti 1:1 bergema pada ps. 22:6, demikian juga ps. 1:3 bergema pada ps. 22:7, untuk menandai bahwa ps. 22:6-9 merupakan penutup dari penglihatan Yerusalem baru dan sekaligus sebagai permulaan penutup kitab Wahyu (Ibid, 401).
Ps. 22:8-9, “Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya.  Tetapi ia berkata kepadaku: “Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!”
Ungkapan “dan aku, Yohanes” ditempatkan pada awal kalimat untuk memberikan tekanan bahwa Yohanes-lah yang menyaksikan dan melihat penglihan itu.  Kata “semuanya” pada ayat 8 menunjuk kepada seluruh isi kitab Wahyu.  Berarti segala perkataan kitab Wahyu berakhir di sini (Ibid, 402).  Ps. 22:8-9, menceritakan kekeliruan Yohanes dalam hal menyembah malaikat.
Ps. 22:10, “Lalu ia berkata kepadaku: “Jangan memeteraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya sudah dekat.”  Pada kitab Daniel ps. 12:4, “Tetapi engkau Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah ... sampai akhir zaman.”  Kitab Wahyu jangan dimeteraikan, karena isi kitab Wahyu harus dituruti sebab waktunya sudah dekat (Ibid, 403).
Ps. 22:11, “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!”  Ayat ini mirip denan Daniel 12:10, “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik ....”
Karena mendekat hari penghakiman, biarlah orang jahat terus berbuat jahat dan orang benar dan kudus semakin menguduskan dirinya.  Menurut Beasley-Murray, nas ini menantang manusia untuk mengoreksi dirinya.  Mereka yang berbuat jahat, boleh tetap berbuat jahat, tetapi hukuman sudah disediakan.  Orang kudus biarlah tetap kudus karena pahala mereka sudah sedia (Ibid, 404).
Ps. 22:12, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”  Ayat ini menekankan tema kitab Wahyu, Yesus akan datang segera untuk membawa upah.  Tuhan Yesus akan datang untuk menghancurkan musuhNya dan membagikan pahala bagi mereka yang setia.
Ps. 22:13-14, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”  Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.”  Di sini Tuhan Yesus memperkenalkan diriNya bahwa Dia adalah sama dengan Allah (bnd 1:8; 21:6).  Dua hak dijanjikan kepada mereka yang memenuhi syarat ketaatan: Pertama, hak untuk pohon kehidupan.  Dan kedua, hak untuk masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.
Orang-orang yang tidak menang, hanya membawa kekayaan mereka ke kota itu (21:24, 26) dan hanya menikmati cahaya dari kota Yerusalem saja.  Ucapan bahagia ini adalah yang terakhir dari tujuh ucapan bahagia pada kitab Wahyu.  Ucapan bahagia ini mencerminkan ps. 1:3 karena ada janji kebahagiaan bagi orang yang menuruti apa yang tertulis pada kitab Wahyu.  Ayat ini berfungsi untuk mengingatkan pembaca akan janji itu (Ibid, 406-407).  “Membasuh jubah” artinya mereka yang menuruti perintahNya (Guthrie, ed., 980).
Ps. 22:15, “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.”  Pada ps. 21:8 dijelaskan tentang orang-orang berdosa dan mereka berada dalam lautan api dan belerang, sedangkan ps. 22:15 dikatakan “orang-orang itu berada di luar.”
Menurut Hagelberg, maksud orang-orang ini adalah orang-orang yang sudah percaya kepada Anak Domba, tetapi mereka ini tidak menang, mereka tidak meninggalkan dosa mereka, walaupun sudah diperingatkan.  Kasus ayat ini sama dengan ps. 21:24 (Hagelberg, 407).  Ada juga penafsir yang mengatakan bahwa ayat ini sama dengan kasus ps. 21:8 karena ps. 22:6-17 merupakan penegasan ulang atau merupakan kesimpulan atau penutup kitab Wahyu.
Ps. 22:16, “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.”  Kitab Wahyu bukan karangan manusia, sehingga Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Ia yang mengutus malaikat-Nya untuk memberi kesaksian dan dituliskan oleh Yohanes.  Istilah “tunas Daud”, yaitu penggenapan dari Yes. 11:1.  “Bintang Timur yang gilang gemilang” adalah penggenapan dari Bil. 24:17.  Sebutan “bintang timur” menjadi lambang pengharapan zaman Mesias yang akan mengakhiri zaman kelaparan (Ibid, 408).
Ps. 22:17, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!”  Di sini Roh Kudus bersama dengan gereja memanggil Kristus  untuk datang ke bumi, sesuai dengan janjiNya.  “Barangsiapa yang mendengarnya”, yaitu setiap pribadi yang mendengar kata-kata nubuat ini.  Kata-kata ini mirip dengan “datanglah kerajaan-Mu” (Mat. 6:10).
“Barangsiapa yang haus dan mau”, yaitu ditujukan kepada siapa saja yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi yang terbuka kepada-Nya diajak datang dan mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma.  Ayat ini menawarkan keselamatan dengan cuma-cuma.  Takhta dan mahkota tidak ditawarkan dengan cuma-cuma, tetapi hanya keselamatan saja karena keselamatan adalah kasih karunia.  Tawaran ini bukan kepada orang-orang yang ada di dalam Yerusalem baru, tetapi ditawarkan kepada orang-orang masa kini (Ibid, 409).
Bagian Penutup Kitab Wahyu
22:18-21

Bagian ini berfungsi sebagai penutup kitab Wahyu.  Pada bagian ini, Yohanes mengingatkan akan bahaya mengubah isi kitab ini.  Ini semacam kutuk terhadap orang yang mau mengubah penulisan ini.
Ps. 22:18, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.”  Kata “aku” menunjuk kepada Yohanes yang memberi kesaksian.  “Perkataan-perkataan” adalah menunjuk kepada isi kitab Wahyu.  Menurut Mounce, pada waktu penerjemah selesai menerjemahkan Septuaginta (LXX), mereka mengucapkan suatu kutuk yang mirip dengan kutuk pada ayat ini (Ibid, 410).
Ps. 22:19, “Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”  Pada ps. 2:7, hak untuk makan buah pohon kehidupan merupakan pahala bagi yang menang, hak itu bukan menandai keselamatan, tetapi ketaatan.
Pada ps. 22:5, Yerusalem baru dihuni mereka yang sudah menang.  Mereka yang percaya kepada Kristus, tetapi tidak menang akan berada di luar Yerusalem baru.  Pemahaman tersebut dikuatkan oleh ps. 22:18-19.  “Makan buah pohon kehidupan dan tinggal di dalam kota kudus” merupakan pahala bagi mereka yang menang.  Jika seseorang mengurangi isi kitab Wahyu, maka pahalanya akan hilang, tetapi keselamatannya tidak hilang (Ibid, 411).
Ps. 22:20-21, “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!  Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.”  Tuhan Yesus sendiri-lah yang bersaksi mengenai kitab Wahyu.  Ia menginginkan agar kedatangan-Nya selalu ada di depan mata kita.  Yohanes begitu rindu, sehingga ia berkata, Amin! datanglah Tuhan Yesus!
Salam ini mengingatkan kita bahwa nubuat ini adalah sepucuk surat, pelajaran-pelajarannya patut dimiliki secara pribadi.  Kitab Wahyu dimulai dengan gaya surat (1:4) dan diakhiri dengan gaya surat, yang mencantumkan ucapan berkat.  Dengan khidmat, kitab Wahyu ditutup dengan kata “Amin.”  Amin artinya benar dan pasti.



KEPUSTAKAAN
Alkitab Edisi Studi.  Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
Alkitab. TB. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007.
Baxter, J.S.,  Menggali Isi Alkitab, Jilid 4 (Roma – Wahyu). Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982.
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1996.
Graham, Billy,  Derap Kuda yang Sedang Mendekat. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1987.
Guthrie, D., ed.,  Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3.  Jakarta: YKBK/OMF, 1988.
Hagelberg, Dave,  Tafsiran Kitab Wahy.  Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1997.
Handbook to the Bible: Pedoman Lengkap Pemahaman Alkitab. Bandung: Kalam Hidup, 2002.
Marshall, R.A.,  The New International Version: Interlinear Greek-English New Tetament. Michigan: Grand Rapids, 1984.
Newell, Lynne,  Kitab Daniel (Seri Tafsiran Alkitab). Malang: SAAT, 1996.
Scheunemann, D.,  Berita Kitab Wahyu. Malang: Gandum Mas, 1997.
Stott, John R.W.,  Bagaimana Pandangan Kristus akan Gereja. Malang: SAAT, 1990.
The Wycliffe Bible Commentary: Tafsiran Alkitab Wycliffe, Volume 3 Perjanjian Baru.  Malang: Gandum Mas, 2001.
Vien, W.E.,  Vine’s Expository Dictionary of Old and New Testament.  Lowa: World Bible Publishers, 1981.
Wongso, Peter,  Eksposisi Doktrin Alkitab: Kitab Wahyu.  Malang: SAAT, 1996.


by : Pdt Markus Lingga', MTh Profile Penulis
Dosen STT Kibaid Makale

Baik Untuk Dibaca
Diktat Kitab Wahyu Part 7 
Portal Pdt.John Dana 
Portal Pdt.Markus Lingga 
Portal Administrator 

Kamis, November 13, 2014


(Handalkah Kitab Perjanjian Lama?)
Many of the challenges that we face come down to this – questions about the reliability of the Biblical accounts. Before I went away to seminary, I subscribed to the “Biblical Archeology Review.” After reading several of the articles, it became clear that all of the authors subscribed to something called the Documentary Hypothesis, which maintains that the OT was the product of a series of scribes – identified as “J,” “E,” “P,” and “D” (some add others) – who had cut-and-pasted the OT into existence over a period of several hundred years (400-200 BC). This would make the Bible the product of a human creative enterprise, and not of truth.

I was very disturbed about this widely accepted theory, but didn’t have a clue how to critique it. I therefore decided to tuck it away into a crevice of my mind and not worry about it until I had the tools to deal with it. However, it didn’t remain in its appointed crevice but secretly crept into my reading of Scripture, infecting me with uncomfortable doubts. As a result, I stopped reading the Bible with the gusto I had prior to this.

Thankfully, someone placed a copy of the late Gleason Archer’s “Survey of Old Testament Introductions” into hands. The text was dry and detailed, but it challenged JEPD and restored to me my Bible. More recently (2003), the eminent Egyptologist, K.A. Kitchen reexamined the reliability of the OT by comparing it with the contemporary archeology and writings of the surrounding cultures. From these comparisons, he has concluded that the Biblical accounts match the corresponding time periods and cultures, precluding a later dating.

Kitchen is a widely respected scholar. Commenting on “On the Reliability of the Old Testament,” Yale scholar William W. Hallo writes,

• “After decades of ‘minimalism’ [the belief that the OT only gives us a minimal amount of solid history], it is refreshing to have this first systematic refutation from the opposite position.”

University of Chicago’s Harry A. Hoffner Jr. adds,

• “Kitchen approaches his subject with the skill and experience of a bona fide expert…His book takes into account the latest discoveries. There could be no better author for a book like this, an author who for over forty years has read, published and taught most of the ancient texts he cites…”

After surveying the reliability of the OT accounts of the Israelite monarchy, Kitchen asserts that the Biblical accounts of Israel’s earlier history are still reliable:

• “The world of Gen. 12-50 is certainly not that of the monarchy period. It is equally not that of Joshua to Samuel, nor of the overlordship of the Egyptian empire from 1550 to the twelfth century B.C. It fits only the period before that, the twentieth to seventeenth centuries.” (495)

• “When we go back (before ca. 1000) to periods when inscriptional mentions of a then-obscure tribal community and its antecedent families…then chronologically typological comparisons of the biblical and external phenomena show clearly that the Hebrew founders bear the marks of reality and of a definite period. The same applies to the Hebrew’s exodus fro Egypt and appearance in Canaan…The Sinai covenant…has to have originated within a close-set period (1400-1200)…The phenomena of the united monarchy fit well into what we know of the period and of ancient royal usages.” (500)

Kitchen claims that the Bible’s historical accounts seem to be authentic based on his comparisons with other cultures from those periods. He therefore concludes,

• “The Old Testament comes out remarkably well, so long as its writings and writers are treated fairly and evenhandedly, in line with the independent data, open to all.” (500)

For many decades, the material hadn’t been treated fairly. Kitchen exposes the JEPD theory as pure speculation:

• “They exist only in the minds of their modern creators (from Witter and Astruc to the present day) and as printed in their published studies…it does not constitute fact, and cannot substitute for it…The standards of proof among biblical scholars fall massively and woefully short of the high standards that professional Orientalists and archeologists are long accustomed to and have a right to demand. Some MSS, please!” (492)

There was never produced a stitch of hard evidence for this hypothesis – no manuscripts or cross-cultural studies. It was Julius Wellhausen who had systematized JEPD into what became known as the “Documentary Hypothesis,” which subsequently commandeered our best seminaries and universities.

• “Not only did Wellhausen (like his peers) work in a cultural vacuum – that is how he wanted it to be, undisturbed by inconvenient facts from the (ancient) outside world. He resented being pointed toward high-antiquity data from Egypt and Mesopotamia, and damned their practitioners for it.” (494)

However, these deficiencies did not prevent this Bible-depreciating hypothesis from taking captive the worldviews of our most esteemed schools:

• “Thus the theorists had a field day for many decades, and what had been merely bold theory became fixed dogma, as though set in concrete. A purely theoretical minimalism (lacking any factual verification) was enshrined as dogma in theology and divinity schools and faculties.” (497)

My argument is not against scholarship or even the university. Without scholarship, we wouldn’t have Kitchen’s or Archer’s refutations! Nor would we even have an English Bible! My concern is about how truth can be so perverted and how our cultural biases can spread unchecked even in our foremost pillars of education. And once these worldviews become entrenched, it requires generations before the evidence can filter in. Wellhausen still remains enthroned in many schools.

Author by : Pastor Daniel Mann
Instructor at New York School of the Bible, New York,  February 1992 to present
Teach classes of OT, Theology and Apologetics.


Baik Untuk Dibaca
Portal NKI 
Portal KIBAID 
Portal Flashback Songs 


Minggu, November 02, 2014

                  You cannot be a poor communicator and a good leader (Henry Blackaby).

Kepemimpinan dan berkomunikasi sesuatu yang tidak terpisahkan. Dan salah satunya adalah kemampuan public speaking, seperti ceramah, pidato, presentasi, dan komunikasi massa lainnya. Tetapi, mengapa ada yang pintar sekali berbicara di depan umum, tetapi ada juga kalau sedang bicara sangat membosankan? Padahal kita tahu orang tidak akan membeli ide kita kalau cara komunikasi kita sangat jelek.
Pidato pemimpin negara yang paling membosankan yang saya pernah dengar adalah mantan presiden Suharto. Dia hanya membaca. Namun ajaibnya, semua diam asyik mendengar (mungkin juga tidur barangkali ya?!). Kecuali saat dia bertemu dengan petani, terlihat sekali gairahnya dan semangatnya. Anehnya, saat saya masih SMA sudah bisa menikmati acara kelompencapir di TVRI, apalagi ada dialog dengan presiden Suharto. Pemimpin yang asyik didengar bicaranya adalah Jusuf Kalla dan seringkali dia tidak mengikuti teks yang sudah disiapkan. Selalu enak didengar kalau JK bicara. Mantan Presiden SBY yang paling lancar dan teratur jika berbicara di depan umum, namun kadang berputar-putar sehingga butuh konsentrasi khusus untuk memahami maksudnya. Pemimpin lain tidak sedikit  yang  belepotan bicara di depan umum . Mungkin saat ini mereka sedang memperbaiki diri.
Masalah yang dihadapi adalah bukan pembicaranya yang tidak baik, mengingat dia sudah terangkat menjadi pemimpin. Namun pembicaraannya sering tidak dimengerti, kepanjangan, membosankan, tidak ada daya tarik, tema yang itu-itu saja. Yang justru dianggap menarik adalah pembicara yang memiliki latar belakang entertainer, sedangkan pembicara lainnya seperti kehilangan daya tariknya. Apalagi ceramah hanya berisi presentasi dari isi dengan gaya yang tidak menarik, berputar-putar, atau bertele-tele.
Menurut hemat saya, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa pemimpin berbicara itu tidak menarik. Pertama, isi atau berita ceramah atau presentasi yang sangat miskin dan juga tidak akurat. Ini terjadi karena pembicara tidak menggunakan sumber yang tepat untuk menggali isi dari ceramahnya dan hanya memakai cara yang dangkal dalam memahami kebenaran yang hanya lewat pengalaman semata-mata yang diceritakan. Pendengar awam katakan, lebih banyak ceritanya daripada isi. Biasanya pembicara ini suka melucu dan melenceng dari tema, yang mana sebenarnya tidak jelek. Pembicara justru perlu punya “sense of humor”. Namun semuanya harus terukur dan tepat penggunaan humor itu yang harus disesuaikan dengan isi. Saya sering temukan pembicara agama bisa membuat pendengarnya tertawa dari awal sampai akhir, namun kalau ditanya pendengar apa isinya, sudah lupa. Ini karena memang tidak ada isi dan kalaupun ada sangat dangkal. Masalahnya, Tidak punya “big ideas” atau tidak ada apa gagasan besar yang ada dalam ceramah atau presentasinya?
Kedua, kajian isinya mendalam namun miskin aplikasi dan cerita praktis. Eksposisi pembicaraan yang digali sangat tidak jelas dengan cara memuja pemakaian istilah teknis, jargon bahasa tinggi, penuh dengan kutipan-kutipan para ahli dan gambaran abstrak dengan bahasa yang eksklusif dan ilmiah. Ini yang menyebabkan ceramah menjadi sangat membosankan tidak aplikatif bagi pendengar. Pendengar hanya diajak mengikuti mendengar bahasa yang tinggi yang dalam tanpa pernah menyadari pendengar membutuhkan aplikasi dan pentignya cerita untuk menjembatani konsep dan penerapan. Di sini pembicara miskin “how’-nya.
Ketiga, adalah faktor miskin cara dalam berkomunikasi atau miskin penyajian. Cara menyampaikan ceramah atau presentasi tidak koheren atau tidak beraturan sehingga pendengar sulit mengikuti apa yang menjadi tujuan dari ceramah. Harusnya ada tatanan yang baik yaitu mulai dari penjabaran tema, poin-poin yang menuju puncak, dan konklusi serta tantangan. Bila ini tidak beraturan bahkan keluar dari topik, pendengar akan menjadi bingung apa sebenarnya tema dan tujuan ceramah. Belum lagi faktor tidak menguasai teknik presentasi, intonasi, gerak tubuh, tatapan mata, dan semua yang berhubungan dengan teknis komunikasi massa. Ini bisa kita pelajari. Presentasi yang baik harus menyentuh level kognitif (kepala) yaitu level intelektualnya, juga level emosional, dan level spirit manusia.
Faktor waktu berceramah juga menyumbang kebosanan pendengar. Ada ceramah yang kepanjangan dalam menyampaikan gagasannya, bahkan berulang-ulang ditekankan sehingga pendengar menjadi bosan sekali. Daya tahan pendengar biasanya tidak lama. Sesekali bila ada pembicara tamu yang menarik mungkin pendengar bisa bertahan, namun tidak untuk selamanya. Jangan kita terobsesi menjadi pembicara yang bicaranya berkepanjangan. Dunia telah dipengaruhi “generasi MTv”, di mana generasi yang baru tidak bisa konsentrasi untuk waktu lama dengan tampilan yang monoton.
Jadi kesimpulan mengapa presentasi tidak menarik, setidaknya ada tiga prinsip: 1. Isi yang miskin; 2. Miskin dalam penerapan dan aplikasi. 3. Komunikasi atau cara presentasi yang miskin.
Memperbaikinya bukan hal yang singkat. Menurut saya semua harus lewat suatu proses kehidupan. Menjadi pembicara adalah sebuah proses dan tidak ada pil ajaib yang dapat mengubah seorang pembicara langsung jadi. Ada proses waktu yang dijalani seorang pembicara. Ia perlu banyak melatih diri dan memiliki jam terbang ceramah yang banyak. Pembicara harus juga banyak belajar dan mengembangkan kompetensi dan produktivitas. Dia harus belajar memperdalam isi dari ceramahnya seusai bidangnya. Dan kita harus belajar menjembatani antara isi dan aplikasi lewat retorika, argumen, imajinasi, ilustrasi, dan sisi emosional diangkat.
Pembicara yang baik juga melakukan pemilihan kata yang tepat. Bill Hybels mengartikulasikannya dengan tepat: “The very best leaders I know wrestle with words until they are able to communicate their big ideas in a way that captures the imagination, catalyzes action, and lifts spirits (Bill Hybels, Axiom,17). Artinya, pemimpin hebat selalu bergumul dengan kata-kata sehingga mereka dapat mengkomunikasikan gagasan besar dengan memakai imajinasi, mengajak untuk melakukan yang disertai dengan mengangkat semangat dan jiwa pendengar. Kalau kita lihat mantan pemimpin bangsa kita,   SBY dalam hal ini patut dipuji karena dalam menyusun kalimat-kalimat yang dikatakan sempurna dan dia mulai menatap pendengar waktu bicara. Hanya perlu ada pendekatan yang lebih langsung dan kata-kata yang lebih sederhana serta mengangkat semangat bangsa. Prinsipnya “language matter” - bahasa itu penting!

by: Pdt.Dr Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar


Baik Untuk Dibaca
Portal Sahabat
Portal Inspirasi dan Motivasi
Portal Pdt.John Dana

Minggu, Oktober 26, 2014

(Ester 2: 7)
Masih hangat diingatan kita ketika para penambang di daerah Chili yang tertimbun selama 70 hari didalam lubang sempit sedalam 700 meter. Mereka bertahan hidup dengan konsumsi makanan yang sangat terbatas, selama tim penyelamat memberikan upayanya dalam proses evakuasi. Tidak ketinggalan pula Presiden mereka terlibat dalam memberikan dukungan buat rakyatnya, semua sungguh luar biasa hebatnya perhatian yang mereka berikan.

Baru –baru ini dalam masa kampanye Presiden Jokowi kita dihadapkan dengan satu tim koalisi Indonesia Hebat yang tentunya berisikan orang-orang pilihan yang sangat care terhadap kemajuan bangsa ini. Apa yang mereka perjuangkan setidaknya sebagian merupakan pemikiran  untuk penyelamatan rakyat kecil yang tidak hidup layak.

Dua bagian diatas pernah juga dilakukan oleh Ester dan Mordekai, dimana dalam kerajaan Ahasyweros mereka berjuang untuk penyelamatan satu bangsa yang mungkin secara manusia tidaklah mungkin. Dari kehidupan Ester masa kecil hingga menjadi ratu nampak bahwa Ia adalah salah satu orang yang hebat dalam kehidupannya sehingga bangsa Yahudi tetap ada sampai sekarang.

Apa ciri dasar supaya kita bisa di katakan sebagai seorang Kristen yang hebat.

1.    Siap diproses oleh Tuhan, Ester adalah anak yatim piatu yang dari kecil di asuh oleh pamannya, Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi ratu, namun proses hidup yang dijalani menjadikannya seorang yang hebat. Proses tidak mengenal menyerah selalu berfikir positif, dan giat bekerja dalam berbagai keadaan, baik itu ekonomi dan segala persoalan akan membentuk kita menjadi lebih baik didalam Tuhan.

2.    Tidak egois, Salah satu sikap ester yang patut diteladani adalah walaupun ia seorang ratu tidak pernah memikirkan untuk dirinya sendiri. Sikap ini sangatlah mirip dengan presiden chili, tim evakuasi dan para korban yang mau saling berbagi dalam keterpurukan . Walau kita kecil dalam komunitas sikap ini penting untuk menunjukkan kasih Allah buat semua orang.

3.    Mengandalkan Tuhan dalam segala hal, Ester melakukan dua hal besar dalam proses penyelamatan yakni mau bekerja dan mengandalkan Tuhan. Ia meminta supaya dalam proses pergumulan ini, orang Yahudi berpuasa selama 3 hari 3 malam dan berdoa. Ketika ia menghadap Raja, Iapun mendapat kasih sehingga Raja menaruh belas buat bangsa yahudi.

Siap menjadi Kristen Hebat? Coba lakukan tiga hal dasar diatas dengan murni dan ketulusan!

By: Pdt Aris Mangosa, STh  Profile Penulis
Baik Untuk Dibaca 
Portal Pdt. Piter Pakka 
Portal English 
Portal KIBAID 
 

Komentar Facebook

We want You to read with Us again and again II Tema Natal PGI KWI 2014 "Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga,Bdk. Imamat 26:12" II Team LONGORI PORTAL mengucapkan Selamat Hari Natal Desember 2014 dan Menyongsong Tahun Baru Januari 2015