• Gratis buku Rohani format Pdf.baik untuk gadget or laptop pembaca.

  • Situs ini menerima tulisan anda utamanya untuk membangun rohani setiap pembaca.

  • STT Kibaid Tahun Ajaran 2015/2016 Kembali Menerima Mahasiswa Baru! Klik Untuk Info Lengkapnya .

Sabtu, April 25, 2015

Indonesia  : Ganti Kelamin dan Patologi.

Any discussion that trans-sexuality might be pathological is now frowned upon. Individual choice of sexuality now trumps every other consideration in public discussion, or lack of it. However, there is little talk about the long-range implications of choice.

Walt Heyer, in his 2006 book “Trading my Sorrows,” writes about his troubled experiences as a transsexual. The following was culled from his interview with LifeSiteNews.com:

• Heyer was a little boy growing up in California in the mid 1940s, interested in cowboys, cars and steel guitars when one day, his grandmother fancied that he wanted to be a girl. She naively made for him a purple chiffon evening dress that he would wear when he visited her. According to Walt, donning that purple chiffon dress triggered something that put him on a 35 year long path that led through a dark valley of “torment, disillusionment, regret, and sorrow.” His gender identity confusion led him into alcoholism, drug addiction, and attempted suicide…

• Ultimately, Walt would resort to vaginoplasty “gender reassignment surgery” to make himself appear like a woman, something that he came deeply to regret and that he now counsels gender confused individuals to steer clear of…

• Walt recounts that the purple dress was only the first of many influences in his life that made him ashamed of being male. There was the sexual molestation he suffered at the hands of his uncle that he says made him feel ashamed of his genitals. There was the severe discipline from his father—practically indistinguishable from physical abuse, he says—that made him feel incapable of being the boy his father wanted him to be. Walt remembers never feeling good enough for his parents, never being able to please them, and never receiving the affirmation that he greatly desired.

This story isn’t unusual and takes many painful permutations. Several women have “married” “women” who had originally been men. These men had had a sex change, and then subsequently met the love-of-their-life but now had the wrong sexual organs.

This is tragic, but it’s a tragedy that the power brokers of our society will no longer talk about. It has become politically incorrect, and any attempt to break through this barrier to a place of sanity is met with charges of “bigotry” and “hate-mongering.”

Author : Pastor Daniel Mann
Instructor at New York School of the Bible, New York








Good Artikel
Faced with Gay Coercion: Fight or Flight 
Portal NKI 
Inspirator dan Kesaksian 

Minggu, April 19, 2015

Di tahun 2006, publik Amerika dikejutkan oleh skandal seks yang dilakukan tokoh terkenal Pendeta Ted Haggard, seorang tokoh yang memiliki umat 14.000an dan juga dikenal dekat dengan mantan Presiden George W. Bush yang sekaligus menjadi penasehat presiden negara adidaya itu. Dikatakan menghebohkan, karena di samping Ted Haggard sudah punya istri, anak dan cucu, dia terlibat skandal di mana dia ketahuan menyewa PSK pria dan membelikan narkoba kepada PSK yang sekaligus pemijatnya. Perselingkuhan ini ketahuan setelah Ted sibuk berkampanye anti pernikahan sesama jenis di media, termasuk televisi. Pria PSK yang kebetulan menyaksikan hal ini di TV, yang kemudian dikenal bernama Mike Jones, kemudian menghubungi fihak media dan menyatakan bahwa Ted adalah teman kencannya. Kontan saja ini menghebohkan semua fihak, baik dari kaum agamawan dan orang yang beragama tentunya. Apalagi kaum yang menentang agama (baca: ateis) menjadikan skandal ini sebagai bahan lelucon dan olok-olok di berbagai media. Intinya mereka menertawakan dan membuktikan betapa munafiknya kaum rohaniwan dan agama sebetulnya tak lebih dari sebuah kemunafikan.

Ted kemudian berhenti dari kepemimpinan di gerejanya dan berbagai kepemimpinan lainnya. Dia mengikuti program konseling dan juga mengikuti beberapa mata kuliah di universitas yang berhubungan dengan konseling selama kurang lebih dua tahun.

Setelah lama tidak terdengar kabarnya, maka pertengahan tahun ini (2010), Ted Haggard kembali ke publik dengan melakukan tur pertobatan (repentance tour), mengumumkan pendirian gereja baru dan istrinya Gayle menerbitkan buku baru yaitu “Why I Stayed: The Choices I Made In My Darkest Hour” di mana istrinya ternyata mengampuni perselingkuhan suaminya dan tetap mempertahankan pernikahan. Ia pun mengklaim bahwa suaminya sudah sembuh dari sisi “gay” yang ada pada suaminya. Hal ini menarik publik Amerika yang ingin tahu mengapa Gayle rela kembali kepada suami yang mengkhianatinya. Ia pun diundang di berbagai TV nasional termasuk Oprah Winfrey’s Show, Larry King, Good Morning America, termasuk dibuatkan film dokumenter di HBO tentang kisah Ted Haggard.

Mengapa Gayle bisa megampuni? Walaupun saya belum membaca bukunya, ada beberapa petikan pelajaran yang bisa diambil dari kisah yang dituliskannya. Ini saya ambil dari beberapa wawancara yang ada di berbagai media:

Pertama, Gayle mengakui ternyata di awal pernikahannya, bahwa suaminya pernah mengaku punya hubungan homoseksual sebelumnya. Namun Gayle menganggap enteng masalah ini dan membuat hal ini seolah tidak ada. Ini mungkin pelajaran berharga bagi setiap pasangan untuk mengecek latar belakang masing-masing dan memperbaikinya sebelum sesuatunya terlambat dan akhirnya bisa menghancurkan pernikahan. Kebanyakan pasangan, terutama wanita, tidak percaya bila suaminya selingkuh dan malah menutupinya. Lebih baik diselesaikan dengan baik dan jika perlu mencari konselor untuk menyelesaikan masalah ini.

Kedua, Gayle bersedia mengampuni suaminya. Dalam bukunya tentu ia menggambarkan betapa sakitnya mendengar cerita-cerita skandal yang kemudian ternyata ada kebenarannya. Tetapi dalam kepedihannya ia mengampuni dan sejak skandal muncul, dia tidak pernah pisah ranjang. Ini tentu pelajaran berharga bahwa pengampunan penting dalam kehidupan rumah tangga, asalkan ada pengakuan dan penyesalan dari fihak yang berselingkuh. Memilih mengampuni memang langka dalam masyarakat independen seperti Amerika, tetapi nilai ini masih ada dan perlu dilakukan. Tidak ada orang yang sempurna dan semua orang punya kesalahan, termasuk di area seksual. Inilah merupakan kesimpulan yang diambil oleh Gayle dalam masa-masa sulitnya.  Publik menganggap aneh, tetapi bagi saya itu nilai yang harus dihidupkan.

Ketiga, Gayle memutuskan untuk tetap mencintai suaminya (choosing to love). Memilih untuk tetap menaruh cinta kepada suaminya walaupun dia sudah berbohong memang bukan hal mudah. Sejak awal dia sudah memilih tetap mencintai suaminya, memilih untuk berjuang (fight) untuk mempertahankan pernikahan dan keluarganya. Kita bisa belajar ternyata cinta bukan melulu perasaan, tetapi komitmen dan penggunaan akal budi untuk memilih bertahan di dalam kelebihan dan kekurangan pasangan. Tanpa pilihan yang jelas, maka kita akan terus hidup dalam kegelapan dan sakit hati yang berkepanjangan.

Yang terpenting tentunya bagaimana sang suami sendiri yang bersedia mengakui kesalahan dan komitmen untuk memperbaikinya.

by : Pdt.Dr. Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar 







Baik Untuk Dibaca
Flashback Songs 
Portal Pdt.Markus Lingga 
Portal EasyWorship 


Senin, April 06, 2015

Kalimat dari title diatas adalah Slogan yang dikeluarkan oleh STT Kibaid yang berlokasi di Makale,Toraja, Sulawesi Selatan.Tentu slogan ini dibuat berdasarkan atas fakta lapangan yang telah mencetak banyak lulusan yang berkualitas, berdasarkan Alkitab dan mendapatkan pengakuan dari Pemerintah.






Mengenal sedikit sejarah berdirinya STT Kibaid ini, dimulai didirikan oleh Pdt Benjamin Bokko' (Alm) dalam bentuk Kursus Alkitab.
Sejalan dengan tuntutan pelayanan, maka kursus ini ditingkatkan menjadi sekolah Alkitab KIBAID (SAK) pada tahun 1965 dengan lama pendidikan tiga tahun. Kemudian pada tahun 1968, ditingkatkan lagi menjadi Sekolah Theologia Kibaid (S.Th.K), dengan lama pendidikan lima tahun yakni empat tahun belajar formal dan praktek selama satu tahun.
Pada Sidang Majelis Sinode Gereja KIBAID tanggal 16 Januari 1993 di Ujungpandang (sekarang Makassar), diputuskan bahwa mulai tahun ajaran 1993/1994, Sekolah Theologia Kibaid ditingkatkan lagi menjadi Sekolah Tinggi Kibaid (STT Kibaid) dengan tiga program binaan yaitu :
Program Ijazah Teologi, Program Diploma Teologi dan Program Sarjana Teologi.
Sejak tahun 2004, STT Kibaid mendapat pengakuan resmi dari pemerintah dengan status terdaftar dari Dirjen Bimas Kristen Depertemen Agama untuk Stratum Satu Jurusan Teologi/Kependetaan dan Program Stratum Satu Jurusan Pendidikan Agama Kristen Nomor : DJ.III/Kep/HK.00.5/03/2004
Nah Tahun ajaran 2015/2016, STT Kibaid kembali mengajak seluruh Jemaat Tuhan dari berbagai Denominasi yang terpanggil untuk menjadi tenaga pelayan yang siap pakai dan berkualitas. Pembukaan pendaftaran akan dimulai pada tanggal 1 Juni - 24 Juli 2015 dan tentunya akan melalui proses seleksi sesuai jadwal yang dapat dilihat dalam brosur diatas (silahkan Klik gambarnya dan Save). Untuk Lebih Jelasnya silahkan hubungi kontak Via telp (0423)22473, 24603 (hunting) dan via email sttkibaid@yahoo.com. Sejumlah staf STT Kibaid akan berusaha melayani anda dengan terbuka.

Note:
Artikel ini sebagai informasi yang bisa di umumkan di gereja lokal tempat pembaca beribadah, Evangelism Unlimited! 

By : Pdt Markus Lingga,M.Th
Editing : Admin Longori Portal  









Baik Untuk Dibaca
Memilih Sekolah Teologi Yang Baik 
Portal KIBAID
Gaya Hidup Pemimpin

Sabtu, April 04, 2015


Markus 10:45; Roma 5:6-8; Yohanes 20:21

Beberapa waktu yang lalu,saya ada misi penginjilan di sebuah kampung X. Kampung ini mayoritas belum percaya kepada Kristus Sang Juruslamat. Ketika tim kami tiba di pondok-pondok terbuka pinggir jalan, umumnya kami hanya menemukan barang hasil kebun dan sawah yang ditempeli secarik kertas bertuliskan harga barang tersebut tanpa ada Penunggunya.

Saya mencoba untuk lebih masuk kedalam halaman si empunya pondok namuan hasilnya nihil. Akhirnya ada yang mengatakan bahwa si empunya sedang sibuk di ladang dan jika ingin beli taruh saja uangnya sesuai harga yang ditulis. Saya bertanya dalam hati bagaimana mungkin penduduk sini begitu percaya kepada pembeli sampai tidak menjaga barang dagangannya?

Tim kami pun akhirnya tiba di daerah persawahan menemui penduduk kampung yang lagi bekerja, dan kami mulai menjalankan misi penginjilan kami. Beberapa waktu berlalu dengan cepat dan saya terkejut dengan respon orang yang tidak percaya ini mengatakan sambil tersenyum sinis ; kelakuan dan sikap  kami jauh lebih baik dari warga gereja yang sering kami lihat . Banyak yang mengaku Kristen tapi kelakuannya tidak seperti yang diberitakan oleh banyak orang.

Saya tidak mau beradu argumen tentang pendapat penduduk tadi dan  merenungkannya sampai sekarang, apakah orang kristen begitu menempatkan dirinya sebagai seseorang yang paling eksklusif? Bebas bertindak semaunya dan kelak akan dihapuskan dosanya setiap saat? Saya tahu bahwa Kristus telah mati untuk menebus dosa dan menyelesaikan masalah yang membelenggu kita, namun setelah kita di ampuni masihkah kita senang kembali dalam kegelapan? Saya malah berfikir jika disuruh memilih, apakah kita seorang kristen yang ikut memikul salib ataukah orang kristen yang ikut menyalibkan Dia?

Sikap kita orang Kristen sekarang bisa saja menjadikan misi penginjilan itu menjadi kabur, sehingga cita-cita awal membawa rancangan damai sejahtera itu menjadi sesuatu yang semu. Sesuai tema Paskah PGI tahun 2015, hendaklah kita menjadi agen-agen pemberita injil yang sesungguhnya dan bisa menjadi saksi hidup
akan pengorbanan Kristus untuk menebus semua orang yang mau bertobat.

Selamat merayakan Paskah

by : Pdt Pither Pakka', MA 
Gembala Gereja KIBAID Jemaat Longori









Baik Untuk Dibaca
Tema Paskah PGI Tahun 2015
Gratis Buku Rohani Format Pdf
Portal EasyWorship

Jumat, Maret 27, 2015


Sebagian besar pasangan memasuki jenjang pernikahan secara alami. Karena sudah sewajarnya pria dan wanita yang dewasa menikah. Jarang sekali pasangan-pasangan yang sudah terlebih dahulu mempersiapkan diri, mempelajari secara khusus apa itu pernikahan: tujuan, tugas, tanggungjawab, visi dan sebagainya. Kebanyakan orang meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya, tanpa mengetahui kebenaran yang pasti. Tidak heran jika banyak pernikahan yang kacau balau.
Patut digaris-bawahi bahwa pernikahan adalah untuk satu pria dan satu wanita, didasari rasa cinta dan saling percaya, berkomitmen seumur hidup untuk membina rumahtangga hingga maut memisahkan mereka berdua. Mereka menjadi satu daging yang tak terpisahkan karena persatuan suami istri merupakan gambaran Allah sendiri. Tujuan pernikahan adalah untuk mempermuliakan Tuhan dan jika memang ingin memiliki anak, maka tujuannya adalah membangun generasi Illahi.

Dengan konsep dasar ini maka ada berbagai “Jangan” yang harus dihindari:

1. Jangan memisahkan milik masing-masing.

Ada teman-teman wanita yang berprinsip bahwa uang istri adalah milik istri, sementara uang suami adalah uang istri juga. Alasannya, sebagai wanita harus berjaga-jaga, jika suatu saat suami macam-macam, wanita sudah ada pegangan. Artinya, sudah ada kecurigaan dan harapan akan perpecahan di masa yang akan datang. Hendaknya suami istri dengan terbuka mengelola bersama keuangan keluarga dan merasa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebagai suami istri, susah dan senang seharusnya ditanggung bersama.

.
2. Jangan pernah berusaha mengubah pasangan kita.

Kesalahan terbesar kita adalah ingin mengubah orang lain. Tidak ada seorang pun yang bisa kita ubah, kecuali diri kita sendiri. Kita yang harus berubah! Karena itu jika kita tidak menyukai apa yang dilakukan pasangan kita, apa yang harus kita lakukan? Ubah cara pandang kita agar kita bisa menerimanya. Jika ada sifat buruk yang tidak kita sukai, sudah resiko harus kita terima. Bukankah ini pasangan pilihan kita sendiri?

Berdoalah! Doa mengubah banyak hal. Tidak hanya mengubah orang yang didoakan, namun mengubah orang yang mendoakan juga.

Saat pasangan melakukan hal yang baik sesuai keinginan kita, segera puji dia. Pujian senantiasa lebih efektif daripada cercaan.  Perlakukan pasangan kita dengan baik, seolah-olah dia adalah pria atau wanita idaman kita, maka secara bertahap dia akan berubah sesuai dengan yang kita harapkan.

.
3. Jangan pernah membandingkan pasangan kita atau pernikahan kita dengan orang lain.

Saat kita menikah, ibaratnya kita membangun sebuah negara yang baru. Setiap negara memiliki hukum dan undang-undang yang berbeda dengan negara lainnya. Karena itu saat menikah, buat peraturan, kesepakatan dan cara hidup yang sesuai dengan visi rumahtangga yang akan kita bangun dengan pasangan. Tidak perlu meniru orang lain bahkan kita tidak perlu mengikuti aturan di rumah orangtua masing-masing. Kita harus membuat undang-undang dan hukum baru untuk rumah tangga kita sendiri agar visi, cita-cita dan mimpi-mimpi kita dengan pasangan terealisasi.

.

4. Jangan pernah mengucapkan kata “Cerai”
.
Hidup bersama dengan pasangan pasti pernah mengalami gesekan. Kita datang dari keluarga, latar belakang, kebiasaan dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Namun jangan pernah berpikir apalagi mengucapkan kata “Cerai” karena kita sudah berkomitmen seumur hidup dalam pernikahan dan hanya maut yang boleh memisahkan kita dengan pasangan kita.

Pasangan yang kerap mengucapkan kata “cerai” biasanya berakhir dengan perceraian. Firman Tuhan mengatakan berkat dan kutuk ada di dalam mulut kita.

.
5. Jangan menjawab saat pasangan sedang emosi.
.
Banyak pertengkaran meruncing dan menimbulkan sakit hati berkepanjangan karena salah kata. Hal ini biasa terjadi karena ketika salah satu pasangan sedang emosi, lalu yang lain menjawab. Suasana kian memanas karena ke dua belah pihak emosi.

Saat emosi, mudah sekali kita mengeluarkan kata-kata yang akan kita sesali kelak. Luka akibat keterlanjuran ini, apalagi yang bersifat melecehkan, sulit sekali dihilangkan. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

.
6. Jangan mengambil kesimpulan sebelum bertanya dengan jelas.
.
Banyak pasangan yang hubungannya dingin karena persepsi yang salah tentang pasangannya. Seorang suami yang sudah punya persepsi bahwa istrinya pelit, maka apa pun yang dilakukan akan dianggap pelit. Padahal sang suami belum menanyakan alasan dibalik keputusan istrinya.

Ada pula wanita yang selalu cemburu kepada suaminya. Pulang terlambat, langsung curiga. Timbul pertengkaran akibat pikiran-pikiran negatif. Saat mau bertanya, ternyata persepsi dan kesimpulannya salah. Beri kesempatan orang lain untuk menjelaskan alasan dan pemikirannya. Upaya sederhana ini dapat mengurangi ribuan pertempuran yang tidak perlu.

Dari hasil penelitian, orang cenderung ingin menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, orang yang terus menerus dicurigai justru merasa tidak aman dan cenderung ingin melakukan apa yang dituduhkan kepadanya. Karena itu, bijaklah dalam bersikap.

.
7. Jangan mengungkit kesalahan-kesalahan lama.

.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap orang berubah, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Penyebab kita bertengkar karena kita melihat hal-hal yang tidak kita sukai. Tentunya harapan kita adalah melihat pasangan kita menjadi lebih baik. Oleh karena itu, setiap kita melihat perubahan positif, meski pun hanya sedikit, segera puji dia. Dari penelitian, pujian mendorong orang untuk melakukan lebih lagi hal yang dipuji. Sebaliknya, orang paling benci jika kesalahan-kesalahannya dulu selalu diungkit-ungkit. Hal ini menimbulkan sumber pertengkaran yang tidak pernah berakhir. Bersikaplah senantiasa bahwa pasangan kita sedang berubah menjadi lebih baik.

Biasakan jika yang jadi persoalan pulang terlambat, misalnya, jangan bahas diluar persoalan pulang terlambat. Dari pengalaman, tidak ada orang yang marah jika ditegur sesuai kesalahannya. Biasanya persoalan menjadi besar jika dikait-kaitkan dengan kesalahan sebelumnya atau peristiwa yang terjadi sebelumnya. “Kamu ini memang SELALU terlambat…” atau “Kamu ini memang TIDAK PERNAH punya perhatian terhadap keluarga..” Ini contoh-contoh kalimat yang mengaitkan masa lalu sehingga membuat masalah makin besar.

Yang harus dibahas hanya masalah pulang terlambat hari ini. Bukan yang kemarin atau dulu.

.
8. Jangan bertengkar di depan anak.


Saat anak-anak kecil, pertengkaran membuat anak merasa tidak aman. Anak cenderung merasa bersalah dan seolah-olah ‘didorong’ untuk memilih salah satu orangtuanya. Saat anak-anak dewasa, pertengkaran orangtua tidak menjadi teladan yang baik bagi mereka kelak dalam berumah tangga. Anak-anak membutuhkan keteladanan kita bagaimana cara membina rumahtangga yang harmonis.

Jika bertengkar, masuk kamar dan tutup pintu. Cukup suami istri yang tahu persoalannya. Jangan ceritakan ke orang lain meski dengan istilah ‘konseling atau curhat’. Semakin sering kita menceritakan masalah kita, maka masalah itu kian memburuk tanpa kita sadari. Tidak ada perbaikan kecuali ada kesediaan salah satu pihak untuk berkorban dan berubah terlebih dahulu dan jangan lupa berdoa.
Inilah sebagian ‘JANGAN’ yang harus dihindari dalam pernikahan. Pernikahan adalah hubungan yang harus diusahakan dan dibina seumur hidup. Tidak ada pernikahan yang bisa dinilai kesuksesannya hingga salah satu meninggal, lalu bisa dievaluasi perjalanan pernikahannya. Artinya setiap orang harus terus belajar dan membangun pernikahannya hingga akhir hidupnya.

Sesuatu yang menarik, ketika kita memperlakukan pasangan kita seolah-olah dia adalah pasangan yang paling ideal dan paling kita kagumi, secara bertahap, pasangan kita akan menjadi seperti itu. Hargai, hormati, kagumi dan perlakukan pasangan kita penuh kasih, maka kita pun akan menjadi orang yang bahagia. Prinsip dalam kehidupan ini sesuai Firman Tuhan adalah ‘Beri, maka kamu akan diberi’.
.
Dalam hidup ini tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan sebuah keluarga yang penuh kasih, saling menerima dan saling mendukung setiap anggotanya untuk menjadi pribadi yang terbaik sesuai rencana Tuhan dalam hidupnya. Itulah tujuan Tuhan menciptakan dan mempersatukan kita menjadi sebuah keluarga. Kebahagiaan tercipta karena kita mengusahakannya.

Selamat membangun keluarga bahagia. Tuhan memberkati.

.

                                         Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu,

                                          sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

                                              Hai suami-suami, kasihilah isterimu

                                          dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

                                                       The Book of Colossians

.

by : YennyIndra 











Baik Untuk Dibaca
Portal English 
Pemimpin 
Portal Pdt.Piter Pakka 

Jumat, Maret 20, 2015

Meskipun John M. Neale  percaya bahwa  teks ini berasal dari abad kedua belas, namun tidak ada naskah pada abad itu yang berisi teks " The Strife Is O'er, the Battle Done "  telah ditemukan. Berdasarkan sebuah himne Latin "finita iam sunt proelia", lagu " The Strife Is O'er, the Battle Done " pertama kali muncul dalam koleksi “Jesuit Symphonia Sirenum Selectarum” tahun 1695.

Menceritakan tentang Kematian Paskah,  himne ini menggambarkan  bagaimana Kristus menghadapi pertempuran terakhir melawan kekuatan jahat. Kristus keluar sebagai  pemenang dalam pertempuran itu dan kebangkitan-Nya menandai hasil yang menentukan. Setiap bait dimulai dengan beberapa aspek kebangkitan Kristus dan selanjutnya adalah untuk respon  pujian akan kemenangan tersebut.

Referensi lirik lagu “The Strife Is O'er, the Battle Done” perbaitnya diambil dari beberapa kitab yakni 
ayat  1 = 1 Kor. 15:20
ayat  2 = 2 Tim. 01:10, Kol 2:15
ayat  3 = Lukas 24:26
ayat  4 = Wahyu 01:18
ayat  5 = 1 Kor. 15:55
Namun Nyanyian Kemenangan Iman hanyalah sampai empat ayat saja yang diterjemahkan dari lirik terjemahan Francis Pott  dan dalam NKI 295 diberi  title “Peperangan, Siksa Tlah Lalulah”

Sebagai Penerjemah dari bahasa aslinya, Latin dan Siria ke bahasa Inggris,  Francis Pott (1832-1909) menerjemahkan teks tersebut sekitar  tahun 1859. Pott  kuliah di Brasenose College, Oxford, Inggris, dan berhasil mendapat dua gelar yakni B.A dan M.A. Pott diangkat menjadi Diaken tahun 1856 dan Imam pada tahun 1857 di Gereja Inggris. Gangguan pendengaran beratnya menyebabkan Ia  pensiun dari penggembalaan di Norhill  Ely (1866-1891). Selama pensiun ia mengabdikan dirinya untuk menata proses dalam ibadah dan bernyanyi sebagai panduan dalam gereja.

Musiknya sudah lama ada sebelum diterjemahkan Francis Pott yang lahir tanggal 29 Desember 1832  (admin: itulah sebabnya lagu ini tidak diketahui penciptanya = Anon). Asal usul lagu ini kuncinya terletak pada  paduan suara  “The Great Italian Renaissance” dengan komposer Giovanni Pierluigi da Palestrina (Palestrina, Italia, 1525). Salah satu komponis paling berbakat dari usianya, Giovani Palestrina banyak dipengaruhi oleh musik gereja  dari abad-abad sebelumnya. Dia mulai berlatih musik pada umur sembilan tahun ketika menjadi anggota paduan suara di Gereja Santa Maria Maggiori  kampung halamannya. Memasuki tahun 1544 ia menjadi seorang guru Vokal   dan pelatih organ di Katedral kampung halamannya, selama itu Palestrina  mulai menulis karyanya. Tahun 1551 Uskup tempat Palestrina berjemaat  menjadi Paus Julius III,  dan iapun dibawa  oleh Paus untuk menjadi  musisi  di  kota Roma.

Dekade pertamanya tinggal di kota Roma, Ia mengalami kesulitan dimana selama waktu itu ia kehilangan dua putranya, dua saudaranya dan istrinya yang meninggal pada tahun 1580. Palestrina kemudian menikah  lagi dengan janda kaya pengusaha bulu dan kulit , lalu  kemudian hidup membantu istrinya untuk memajukan penjualan usaha tersebut.
Karena kehebatannya dalam bidang musik ia pernah menjadi pengajar di Jesuit Seminari 1565-1571 dan pemimpin biduan di Capella Giulia di St Petrus dari 1571 sampai 1594. Ia pun akhirnya meninggal di kota Roma.

Simak Teks lagunya dalam Bahasa Inggris
The Strife Is O'er, the Battle Done
Alleluia, alleluia, alleluia!

The strife is o'er, the battle done;
the victory of life is won;
the song of triumph has begun.
Alleluia!

The powers of death have done their worst,
but Christ their legions has dispersed.
Let shouts of holy joy outburst.
Alleluia!

The three sad days are quickly sped;
he rises glorious from the dead.
All glory to our risen Head.
Alleluia!

He closed the yawning gates of hell;
the bars from heaven's high portals fell.
Let hymns of praise his triumph tell.
Alleluia!

Lord, by the stripes which wounded thee,
from death's dread sting thy servants free,
that we may live and sing to thee.
Alleluia!

Final Ending:
Alleluia, alleluia, alleluia!

Kutipan NKI No.295 (Sumber buku NKI @ Yayasan Kalam Hidup)
Peperangan, Siksa T’lah  Lalulah
Pep’rangan, siksa t’lah lalulah;
Ya, kemenangan termulia;
Dunia gemar dan soraklah:
“Haleluyah!”

Kuasa maut yang lama siksakan
Oleh Kristus t’lah dihancurkan
Bersoraklah! Hai, makhluk s’kalian:
“Haleluyah!”

Hari duka seg’ra lalulah
Tuhan berbangkit! Haleluyah!
Raja kita hidup s’lamanya!
“Haleluyah!”

Demi bilur-Mu, biar saleh-Mu
Dilepaskan dari sengat maut
Agar hidup dan memuji Hu;
“Haleluyah!”

Note:
- John M. Neale adalah seorang sarjana Inggris dari gereja Anglikan yang juga adalah seoraang penulis lagu Hymne Rohani.
- Jika Pembaca mempunyai referensi otentik tentang NKI no 295,kontak admin dan akan kami sertakan nama anda sebagai penyumbang tulisan.

By; Manasje Malan




Baik untuk dibaca
Portal EasyWorship
Portal Pdt.Piter Pakka'
Gaya Hidup Pemimpin





Komentar Facebook

We want You to read with Us again and again II Tema Paskah PGI tahun 2015 yaitu "Kristus Yang Bangkit, Mengutus Kita Mewujudkan Damai Sejahtera (Bdk Yoh 20:21)" II Sekolah Tinggi Theologia (STT) Kibaid tahun ajaran 2015/2016 Kembali Menerima Mahasiswa Baru, Silahkan Klik Slider Gambar Di Halaman Beranda