• Situs ini menerima tulisan anda utamanya untuk membangun rohani setiap pembaca.

  • Klik disini untuk mendownload Alkitab dan Kidung Gereja (NKI)Android.

  • Dapatkan buku virtual rohani "Still Alive" Gratis dari situs Longori Portal.

Selasa, Juli 22, 2014

(Indonesia: Theologia kadang menjadi kata yang kotor, tetapi ini penting)

Many Christians blindly claim,

    I don’t need theology. I just believe what the Bible says!”


Theology is now a dirty word, along with “doctrine” and “dogma,” but it’s also indispensable. How else can we know what the Bible teaches? We cannot simply believe one verse in isolation from the others. They all go together and require some diligent theological work in order to rightly relate them together.

Let’s take the example of Jesus healing on the Sabbath. His enemies claimed that He was sinning because He violated the command against working on the Sabbath (Deut. 5:12-15). However, Jesus responded:

    “Now if a boy can be circumcised on the Sabbath so that the law of Moses may not be broken, why are you angry with me for healing a man’s whole body on the Sabbath?  Stop judging by mere appearances, but instead judge correctly.” (John 7:23-24)


Consequently, we cannot judge simply from the appearance of a single verse. Instead, we have to understand how it fits into the immediate context and also the context of all God’s teachings. This is theology, and we do theology all the time, but some aren’t aware of this.

Let’s take an example that goes to the heart of the Gospel. In Psalm 7, David called upon God to judge him according to his righteousness:

    The Lord shall judge the people: judge me, O Lord, according to my righteousness, and according to mine integrity that is in me.” (Ps. 7:8; KJV)


This sounds arrogant. How can any of us stand before God in our own righteousness! If we ask God for justice – for what we deserve - He will condemn the lot of us:

    Now we know that what things soever the law saith, it saith to them who are under the law: that every mouth may be stopped, and all the world may become guilty before God. Therefore by the deeds of the law there shall no flesh be justified in his sight: for by the law is the knowledge of sin… For all have sinned, and come short of the glory of God. (Rom. 3:19-20, 23)


There are many verses that deny that we can deserve anything good from God by virtue of our own righteousness or integrity, apparently contrary to David’s hope. Paul insisted that one sin will kill us and only the free gift of God provides any basis for hope (Rom. 6:23). James, also claimed that one sin will damn us (James 2:10).

If anyone rejects theology, he must suffer with this paradox – that our hope is in our own righteousness, but we can’t place any hope in this righteousness. Believing both of these truths, on face value, is a sure prescription for confusion and uncertainty. Therefore, the paradox must be resolved through some serious study.

Interestingly, David also acknowledged that we are sinners who require the mercy of God:

    Blessed is he whose transgression is forgiven, whose sin is covered. Blessed is the man unto whom the Lord imputeth not iniquity, and in whose spirit there is no guile… I acknowledge my sin unto thee, and mine iniquity have I not hid. I said, I will confess my transgressions unto the Lord; and thou forgavest the iniquity of my sin. (Ps. 32:1-5)


Well, if David understood that his blessedness derived from God’s forgiveness and not his own merit, how then could he be so brash as to direct God to judge him according to his own righteousness?

A little systematic theology can reconcile these two truths. In Psalm 7, David had been standing upon his righteousness in terms of his innocence regarding specific wrongdoing:

    Lest he [my enemy] tear my soul like a lion, rending it in pieces, while there is none to deliver. O Lord my God, If I have done this; if there be iniquity in my hands; If I have rewarded evil unto him that was at peace with me; (yea, I have delivered him that without cause is mine enemy) (Ps 7:2-4)


David wasn’t pleading that he was righteous before God, but rather in his conflict with his enemy. He was the innocent party, while his enemy was guilty. Therefore, David was asking for justice in this criminal matter and not before God! He therefore pleaded:

    Oh let the wickedness of the wicked come to an end; but establish the just: for the righteous God trieth the hearts and reins. (Ps 7:9)


There are two different aspects of justice. Before God, we are all guilty. However, before man, there are important distinctions between the innocent and the guilty. David knew he wasn’t righteous before God. However, in regards to his enemies, he regarded himself an innocent man.

Unless theology – a comprehensive study of Scripture – is used, we cannot rightly interpret the Word of truth:

    Study to shew thyself approved unto God, a workman that needeth not to be ashamed, rightly dividing the word of truth. (2 Tim. 2:15)

Author : Daniel Mann
Instructor at New York School of the Bible, New York,  February 1992 to present
Teach classes of OT, Theology and Apologetics.


Related Posts
Portal English
Portal KIBAID
Portal Pdt.Aris Mangosa

Jumat, Juli 18, 2014


Suatu Pagi  saya ke gereja dan jarang-jarang dapat kesempatan mendengar kotbah karena biasanya selalu berkotbah di mimbar. Ketika sudah tiba waktunya kotbah, seorang yang diundang khusus dari luar kota, menyampaikan kotbah. Anehnya dalam tempo lima sampai sepuluh menit saya diserang rasa kantuk yang hebat. Rasanya ingin tutup mata saja. Saya tahan mata saya karena status sebagai hamba Tuhan. Kalimat lepas kalimat berlalu diucapkan kelihatan tidak bermakna dan mengena. Tiba-tiba pernyataan Haddon Robinson masuk di kepala saya “Apa ide besarnya?”. Ini yang tidak pernah saya dapatkan. Apakah mungkin saya kurang tidur? Rasanya tidak.

Untuk membuktikannya, lalu saya lihat sekeliling dan muai bertanya apakah kalau hanya saya yang bermasalah. Ternyata di depan saya seorang ibu sibuk perhatikan brosur acara pemuda “Booming Youth” yang dibagikan pada waktu kami masuk. Di seberang kursi ada bapak mapan asyik bolak balik buletin gereja yang sudah berkali-kali dibaliknya. Seorang oma, sebelah depan kanan saya, selalu gelisah membalikkan badan dan pantat duduknya sambil menggosok-gosok tongkatnya. Mungkin dia berpikir kapan acara itu selesai. Ada ibu tiga baris di depan saya sibuk mengipasi badannya dengan buletin gereja, padahal ruangan sudah cukup dingin. Suasana sungguh terasa lesu. Bahkan seorang Ibu sebelah sudut kiri kursi saya asyiki ber-sms ria sambil menyembunyikan telepon selulernya (hp) di balik Alkitab.

Rick Warren mengingatkan kita para pengkotbah, bahwa “Preaching is all about bridging THEN (interpretation) and NOW (application). The bridge is the Timeless Principle.” Kotbah adalah “menjembantani” masa lalu Alkitab lewat penafsiran yang baik dan penerapan prinsip-prinsip itu kepada masa kini. Konsep penjembatanan adalah kunci kotbah yang menarik. Banyak kali kita berkotbah hanya bagi diri, kita senang memfokuskan pada beritanya, kita asyik dengan argumen kita, tidak peduli apa jemaat mengerti atau berhubungan dengan kehidupannya. Itu sebabnya pengkotbah tidak peduli kalau jemaatnya gelisah, karena fokus kepada uraian penafsiran teks Alkitab yang berhubungan dengan masa lalu di Israel.

Namun ada juga yang asyik dengan aplikasi yang kelihatan menarik namun kadang tidak sesuai dengan teks yang dibahas. Sibuk dengan cerita dan ilustrasi masa kini, yang sebenarnya mengena dalam kehidupan sehari-hari, namun miskin prinsip penjembatanan.

Soal tidak sesuai antara judul dan isi kotbah, memang seringkali pengkotbah terjebak untuk mengangkat banyak ide besar. Pagi ini topik kotbah seringkali dikembangkan dari aslinya. Saya mulai mendengar pengkotbah mulai berbicara tentang rasa malu, lalu rasa bersalah, dan topik yang sepertinya penting yaitu perlunya air hidup. Namun ditambahkan topik misionari dan eksploitasi perempuan dari kisah perempuan Samaria. Aduh kok banyak sekali gagasan yang hendak disampaikan? Di sini tidak ada benang merah yang ingin disampaikan. Dari gagasan tentang pertobatan, kegagalan gereja menjadi saksi (semangat reformasi yang hilang), sampai kepada usaha misi. Wow!!!

Berkotbah bukan gampang, namun kalau tidak ada saya berikan analisa yang begini, banyak hamba Tuhan akan menggampangkan berdiri di mimbar. Seorang pengkotbah perlu terus menyempurnakan cara ia menyampaikan Firman Tuhan. Tentu prinsip rohani seperti berdoa, “berendam” dalam teks Firman adalah hal dasar yang harus dilakukan pengkotbah. Namun sudahkah kita berani mengevaluasinya? Tolong... jangan bikin ngantuk jemaat!




By : Pdt Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar



Baik Untuk Dibaca
Portal Sahabat
Portal KIBAID
Portal Pdt. Pither Pakka

Senin, Juli 14, 2014

Pos  PI mempunyai gereja Permanen mungkin sesuatu yang langka menurut penulis, namun proses yang telah dilakukan oleh jemaat Pos PI Gereja KIBAID  PAIMAN RANTEPAO, KEC. KESSU’, TORAJA UTARA SULAWESI SELATAN merupakan sesuatu yang luar biasa. Bagaimana tidak, dengan hanya jumlah 7 KK dan total sekitar 28 jemaat Tuhan yang saling bahu membahu, mereka telah memasuki masa proses penyelesaian bangunan Gedung gereja Pos PI Permanen.

Gedung Pos PI yang mulai dibangun tahun 2013 dengan ukuran bangunan 22 x 9 meter sudah mencapai sekitar 80% penyelesaian.  Walaupun masih menyisakan sebagian plesteran luar dan pembuatan menara kembar, gedung Pos PI ini telah siap untuk dipakai beribadah. Tentunya ini tidak membuat jemaat merasa puas dengan apa yang telah dicapai dalam hal pembangunan, namun masih sangat dibutuhkan kerja keras dan dukungan doa dari setiap umatNya. Menurut penulis ini adalah sesuatu yang membanggakan dan perlu dukungan.



Penulis sempat bertanya kepada Gembala KIBAID Jemaat Longori sebenarnya kriteria apa yang cocok diberikan pada Pos PI dikalangan KIBAID? Beliau menjelaskan secara umum bahwa Pos PI miriplah cabang kebaktian yang merupakan bagian dari gereja induk, belum bisa secara full menafkahi gembala, belum mempunyai majelis dan umumnya masih menggunakan gereja darurat. Nah kalau melihat dari laju sisi bangunan Gedung Pos PI dengan tim yang ada  seperti ini gimana ya, luar biasa bukan?? Tentu Salah satunya karena penyertaan Tuhan kepada Jemaat ini dan kecintaan Jemaat terhadap pelayanan kepada Tuhan.

Nah kita bisa berbeban mendukung kerja tim Pos PI ini dengan dukungan doa dan dalam bentuk lainnya (supporting), dan tentu jika pembaca punya kesempatan anda bisa menuju kesana yang hanya berjarak 1 km ke arah timur dari Rumah Sakit Elim Rantepao Sulawesi Selatan. Jemaat disana dengan tangan terbuka akan menyambut kehadiran pembaca untuk bercerita pengalaman rohani ini. 
Pembaca Punya data gedung gereja yang dalam proses pembangunan? Kirimkan ke Kami untuk  dipublish dan didoakan bersama.

By  : Administrator
Data : Pdt. Markus Lingga,MTh (Dosen STT Makale/Gembala Pos PI Paiman)
Special Thanks: Pdt Aris Mangosa, STh

Baik Untuk Dibaca
Portal KIBAID
Portal Pdt.Markus Lingga
Portal Pdt.Aris Mangosa
Portal Administrator

Kamis, Juli 10, 2014


Mungkin dari setiap pasal dalam kitab mazmur, pasal 23-lah yang paling familiar kita dengarkan, bahkan dalam musik pun pasal inilah yang paling banyak digunakan sebagai lirik dengan arrensemen berbeda dari sepanjang jaman.


Di Inggris, sewaktu masa pemerintahan Ratu Mary I (1553-1558), sejumlah besar Jemaat Protestan melarikan diri ke daerah Eropa lainnya untuk menghindari penganiayaan. Di sana , di bawah pengaruh Luther dan Calvin, mereka mulai menyanyikan mazmur.

Selama di kawasan Eropa ini Lirik / teks masmur 23  cukup termasyhur, sehingga ada tiga buah teks karya jaman itu untuk masmur 23. NKI sendiri menggunakan “The Scottish Psalter 1650” yang dibuat di Schotlandia dan disetujui oleh Majelis Umum Gereja tahun 1650. Teks Psalter 1650 ini awalnya merupakan karya seorang musisi Francis Rouse yang menyelesaikan teksnya sekitar tahun 1644. Dalam selisih waktu 6 tahun tersebut (dari 1644 sampai 1650), gereja mempercayakan dua team untuk mengkaji ulang  dan menimbang dengan sangat hati-hati seluruh teks  yang ada. Hal ini dilakukan oleh pihak gereja untuk menghindari kasalahan dan memahami secara harfiah dari sumber asalnya masmur  bahasa Ibrani asli.
               Pekerjaan  kedua team ini menghasilkan  revisi, yang hanya berisi sebagian kecil dari teks asli Francis Rouse (Rous). Sebaliknya, apa yang muncul adalah gabungan kerja tinjauan komite  ditambah teks yang diambil dari beberapa Psalters lain yang beredar pada saat itu, sehingga jadilah lagu “The Lord Is My Sheperd” atau dalam terjemahan NKI “Selalu Hu Gembalaku” dan familiar juga  disebut “ The Scottish Psalter 1650” (source www.cgmusic.org/workshop / smp frame.htm)

Meskipun ada keraguan untuk beberapa waktu tentang komposer mazmur 23  ini, pada akhirnya dipahami bahwa melodi diciptakan sekitar tahun 1870 oleh Jessie Seymour Irvine (1836-1887). Putri Seorang Pastor Paroki ini terlahir dengan tradisi Schotlandia yang kuat dan berbakat, sehingga cendrung berkarya menghasilkan lagu masmur berirama (singable versions).  Erik Routley mencatat bahwa  lagu masmur ini tidak biasa di antara lagu-lagu mazmur lainnya di Skotlandia karena dua alasan, yaitu  satu-satunya yang diketahui telah diarrensemen oleh seorang wanita, dan  satu-satunya yang menggunakan perangkat musik "Sequence" (source www.reformedworship.org/article/september-2010)


Ketika Mary meninggal dan Elizabeth I naik tahta, sebagian jemaat yang melarikan diri kembali ke Inggris dan juga membawa lagu-lagu mazmur mereka. Lagu ini pertama kali dicetak tahun 1872 oleh George Washington Doane  dan semenjak tahun 1936 sering dipromosikan oleh “Glasgow Orpheus Choir”. Lagu ini mulai populer setelah tampil di dua kesempatan akbar pasca-Perang Dunia II royal di Inggris yaitu waktu  pernikahan Putri Elizabeth dengan Pangeran Philip di Westminster Abbey pada tahun 1947 dan waktu ulang tahun perak pernikahan Raja George VI dengan Ratu Elizabeth di St Katedral Paulus pada tahun 1948.



Berikut kutipan Teks Inggris  “The Lord’s my shepherd”
(—Psalm 23; vers. Scottish Psalter, 1650)

The Lord’s my shepherd; I’ll not want.
He makes me down to lie
in pastures green; he leadeth me
the quiet waters by.

My soul he doth restore again,
and me to walk doth make
within the paths of righteousness,
e’en for his own name’s sake.

Yea, though I walk in death’s dark vale,
yet will I fear no ill;
for thou art with me, and thy rod
and staff me comfort still.

My table thou has furnished
in presence of my foes;
my head thou dost with oil anoint,
and my cup overflows.

Goodness and mercy all my life
shall surely follow me;
and in God’s house forevermore
my dwelling place shall be.


NKI No.299 (Kutipan @Yayasan Kalam Hidup)
SELALU HU GEMBALAKU

Selalu Hu, Gembalaku,
B’ri hatiku senang
Di padang hijau di tepi
Telaga air tenang

Dib’ri-Nya jiwaku segar
Dan kar’na nama-Nya
Ditunjukkan-Nya jalanku
Yang lurus dan baka

Tak usah takut hatiku
Di lembah maut gelap
Kuturut saja tongkat-Nya
Penghiburan tetap

Kau panggil ke perjamuan
Sedia mejaku
Kepalaku Kau urapi
Dan cawanku penuh

Ku disertai rahmat-Nya
Seumur hidupku
Dan tempat diamku kekal
Di rumah Tuhan Hu

Note:
Punya referensi  tambahan tentang sejarah lagu Nyanyian Kemenangan Iman  No 299
 “ Selalu Hu Gembalaku”? Silahkan email di laman kontak, kami akan sertakan nama anda sebagai penyumbang tulisan Longori Portal.

by : Admin  Profile Penulis


Baik Untuk Dibaca
Portal Flashback Songs
Portal KIBAID
Portal English
Portal EasyWorship

Minggu, Juli 06, 2014

Artikel Ini Merupakan lanjutan dari artikel Diktat Kitab Wahyu Part 1,2 Dan 3

I.    Bagian Ketiga: “... Apa yang akan Terjadi Sesudah ini ...”
4:1-22:21

Ps. 4:1, “Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini ....”  Ayat ini dapat dibandingkan dengan 1:19, “Tuliskanlah ... apa yang akan terjadi sesudah ini.”  Ps. 4 merupakan permulaan dari bagian ketiga.  Bagian ini berbicara tentang “apa yang akan/harus terjadi sesudah” hal-hal mengenai ketujuh jemaat.  Apa yang terjadi pada ps. 1 sampai 3 sudah terjadi.  Ketujuh jemaat itu sudah tiada lagi, sedangkan apa yang digambarkan pada ps. 4 sampai 22 belum terjadi (Hagelberg, 139).

Fungsi Bagian ini:
Memang Tuhan Yesus sudah menjanjikan pahala yang indah kepada mereka yang setia, kepada “barangsiapa yang menang”, kepada yang menuruti apa yang tertulis dalam kitab Wahyu.  Dalam bagian ketiga kitab Wahyu dibuktikan bahwa janji-janji itu bukan omong kosong, tetapi Dia mampu menggenapi janji-Nya karena Dia akan mengalahkan musuh-Nya dan mendirikan kerajaan-Nya.  Juga mereka yang menganiaya anggota jemaat Kristus akan dikalahkan oleh Raja atas segala raja (King of Kings), sehingga mereka yang dianiaya akan dihibur dan didorong untuk setia di dalam penganiayaan (Ibid).
Struktur Bagian ini:

•    Visi Ruangan Takhta sebagai Pendahuluan, 4:1-5:14.
•    Masa Kesengsaraan, 6:1-20:3.
•    Kerajaan Seribu Tahun, 20:4-15.
•    Yerusalem yang Baru, 21:1-22:5.
•    Penjelasan Akhir dari Penglihatan, 22:6-17.
•    Bagian Penutup dari Kitab Wahyu, 22:18-21 (Ibid).

A.    Visi Ruangan Takhta sebagai Pendahuluan, 4:1-5:14.
Adegan penglihatan Yohanes berubah dari bumi ke Surga dan tinggal di sana hingga ps. 10 (Guthrie, ed., 939).  D. Scheunemann mengataakan bahwa tema ps. 4 adalah “takhta Allah yang disembah”, sedangkan tema ps. 5 adalah “Anak Domba yang layak membuka gulungan” atau dengan kata lain ps. 4 dan 5 berbicara tentang “berita takhta Allah” dan “berita Anak Domba” (Scheunemann, 69).
Pendahuluan ini melukiskan ruangan takhta Allah di Surga.  Dalam bagian ini Tuhan Yesus yang telah menjanjikan pahala, mulai menyediakan pahala-pahala itu.  Oleh karena bumi masih penuh dengan orang-orang jahat, maka bumi perlu dibersihkan.  Musuh Tuhan dan orang yang menindas umat Tuhan belum dikalahkan.  Sama seperti ketujuh surat diawali dengan satu visi mengenai Tuhan Yesus, demikian juga ada visi Tuhan Yesus di Surga yang mengawali bagian ini.
Apa yang dialami Yohanes pada ps. 4 dan 5 merupakan “engsel” dalam struktur kitab Wahyu.  Dari satu segi, bagian ini terkait erat dengan ps. 1-3 mengenai pahala-pahala yang dijanjikan, karena pada ps. 4 dan 5 ada juga takhta, pakaian putih, dan mahkota.  Dari segi yang lain, bagian ini terkait dengan ps. 6 sampai 22, dengan ketujuh Meterai dari gulungan kitab yang dibuktikan satu per satu.
Pada ps. 4, Dia yang bertakhta, yang di kelilingi dengan takhta dan 4 makhluk, dipuji sebagai Pencipta.  Pada ps. 5, Domba Allah yang mendekati Dia yang bertakhta dipuji sebagai Penebus.  Peristiwa pengambilan gulungan kitab yang ada di tangan Dia yang bertakhta menjembatani 2 pasal ini.  Makna dari gulungan kitab tersebut sangat penting, akan dibahas pada bagian berikut ini.
Menurut pengalaman jemaat-jemaat yang ada pada ps. 2-3, kuasa kejahatan di bumi ini dengan bebas mengancam dan menyusahkan jemaat-jemaat Kristus.  Tetapi menurut perspektif ruangan takhta yang digambarkan pada ps. 4 dan 5, yang berkuasa mutlak adalah Tuhan Allah dan bukan kejahatan yang ada di bumi (Hagelberg, 140-141).  Ps. 2 dan 3 menyoroti kelemahan jemaat di bumi, namun ps. 4 menyoroti kesempurnaan jemaat Surgawi, yang hanya tahu memuji dan menyembah saja (Wongso, 394).
1.    Peralihan, 4:1-2.
Ps. 4:1, “Kemudian daripada itu aku melihat: Sesungguhnya sebuah pintu terbuka di Surga dan suara yang dahulu yang telah kudengar berkata kepadaku, seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.”  Yohanes dibawa ke Surga untuk “melihat apa yang harus terjadi sesudah ini”.  Titik ini merupakan peralihan struktur dari ketujuh pesan, yang menceritakan situasi jemaat tertentu pada zaman itu ke bagian berikutnya, yang menceritakan tentang akhir zaman.
Istilah “harus” perlu ditekankan.  Ini berarti nubuatan-nubuatan yang ada dalam bagian ini bukan hanya merupakan peristiwa yang akan terjadi, tetapi “harus” terjadi, karena Dia yang bertakhta sudah mengatakannya (Hagelberg, 141).
Ps. 4:2, “Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terletak di Surga, dan di takhta itu duduk Seorang.”  Kata “Seorang”  dapat lebih jelas jika dibandingkan dengan ps. 5:7, yaitu Allah, Bapa itu yang duduk di takhta itu.  Kata “takhta” sangat penting dalam kitab Wahyu karena dipakai 47 kali.  Ini memberikan isyarat bahwa hal pertama yang perlu diketahui mengenai Surga ialah bahwa Allah yang tinggal di dalamnya memunyai wibawa yang mutlak atas alam semesta ini (Guthrie, ed., 939).
2.    Takhta dan sekelilingnya, 4:3-11.
Ps. 4 dikhususkan untuk mengorientasi para pembaca pada situasi, oknum, dan kelakuan yang terjadi di ruang takhta di Surga.
Ps. 4:3, “Dan Dia yang duduk di atas takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang gemilang bagaikan zamrud rupanya.”  Permata-permata yang disebutkan pada ayat ini sulit dipastikan identitasnya yang sebenarnya.
Ada penafsir yang mengatakan bahwa rincian permata, seperti permata yaspis dan sardis hanya dicatat untuk menciptakan suasana kemuliaan Surga, tidak perlu mencari makna yang dalam.  Tetapi ada juga penafsir yang berkata bahwa setiap rincian dalam firman Allah penting dan perlu ditafsirkan.  Seorang penafsir bernama Thomas mengikuti pola ini.
Dia menjelaskan bahwa  identitas permata yang disebut yaspis sulit dipastikan, tetapi permata sardis adalah batu permata yang berwarna merah tua, yang sering diukir pada zaman itu.  Ada juga yang menafsirkan, seperti Beasley-Murray: Yaspis dari jenis yang paling berharga adalah hijau, sardis berwarna merah, dan zamrud adalah batu kristal yang memantulkan warna-warni prismatis yang berupa pelangi.  Tujuan dari pelangi itu adalah untuk menyembunyikan bentuk dari Allah.  Pelangi itu bukan awan biasa, tetapi pelangi adalah peringatan abadi tentang janji Allah untuk membatasi amarahNya terhadap manusia di bumi (bnd. Kej. 9:13) (Hagelberg, 142-143; Guthrie, ed., 939-940).
Ps. 4:4, “Dan sekeliling takhta itu ada 24 takhta, dan di takhta-takhta itu duduk 24 tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.”  Untuk memastikan identitas ke 24 tua-tua itu, kita harus menafsirkan berdasarkan konteks dan struktur.  Konteks dekat lebih baik daripada konteks jauh.
Dalam konteks dekat telah disebutkan tentang takhta, pakaian putih, dan mahkota.  Barangsiapa yang menang menurut ps. 2 dan 3 akan didudukkan di atas takhta (3:21), akan dikenakan pakaian putih (3:4), dan akan dikarunia mahkota (2:10).  Ada hubungan dengan ps. 2 dan 3, karena ketiga unsur tadi dijanjikan kepada “barangsiapa yang menang”.  Ps. 4:4, yang mengungkapkan 24 tua-tua yang memiliki ketiga unsur tadi.
Pada ps. 2 dan 3 diungkapkan tentang janji kepada barangsiapa yang menang dan pada ps. 4:1 dituliskan tentang apa yang harus terjadi sesudah ini, yaitu penggenapan dari janji Tuhan kepada barangsiapa yang menang.  Berarti bilangan 24 tua-tua adalah menunjuk kepada “orang-orang percaya yang setia sampai mati, orang-orang percaya yang telah menang”.  Mereka sudah diberikan sebagian dari pahala, yaitu takhta, pakaian putih, dan mahkota, tetapi mereka belum menerima kuasa atas bangsa-bangsa dan pahala itu akan disediakan Kristus dengan segera (Hagelberg, 143-144).
Beasley-Murray menafsirkan ke-24 tua-tua dalam 2 pengertian: Pertama, menunjuk kepada makhluk-makhluk malaikat.  Kedua, mereka adalah perwakilan Surgawi dari umat Allah dalam aspek mereka yang rangkap dua selaku imam-imam dan raja-raja yang jumlahnya 24 orang, yang mengingatkan kita kepada ke-12 suku bangsa Israel dan ke-12 rasul (Guthrie, ed., 940).  Penafsiran ini apakah sesuai dengan konteks atau suatu penafsiran yang dipaksakan?  Kelihatannya masuk akal, tetapi sulit dijelaskan.
Ps. 4:5, “Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.”  Pada waktu Allah turun ke gunung Sinai, ada “guruh, kilat, dan awan padat” (Kel. 19:16).  Dalam Wahyu 1:4, “ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya” sudah ditafsirkan sebagai Roh Kudus.  Dalam ayat ini “ketujuh obor yang menyala-nyala” juga ditafsirkan sebagai Roh Allah.  “Ketujuh Roh Allah” dapat dibandingkan dengan ps. 5:6 (Hagelberg, 145; Guthrie, ed., 940).
Ps. 4:6, “Dan di hadapan takhta itu ada sesuatu seperti lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada 4 makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan sebelah belakang.”  Morris menegaskan bahwa Yohanes memakai kata-kata “seperti dan bagaikan” memberi kesan bahwa Yohanes sendiri yang melihat langsung, tetapi tidak dapat memberi kata-kata yang jelas tentang apa yang dilihatnya itu.  Oleh karena itu, seorang penafsir sebaiknya tidak usah menafsirkan ayat tersebut secara rinci. Pada zaman Yohanes, pada umumnya kaca tidak bening dan sama sekali tidak mirip kristal.  Pasti kaca bagaikan krisal dianggap oleh pembaca mula-mula sebagai sesuatu yang luar biasa dan sangat berharga.
Nampaknya apa yang dikatakan “seperti lautan kaca bagaikan kristal” serta “kilat dan bunyi guruh yang menderu” dan “tujuh obor menyala-nyala” memberi kesan bahwa takhta itu tidak dapat didekati oleh manusia, karena takhta itu begitu mulia (bnd. Kel. 24:10; Yeh. 1:22, 26; Why. 15:2-3).
“Empat makhluk” dapat dibandingkan dengan Yesaya 6:1-3, ada “Serafim” dan Yehezkiel 10:14, ada “Kerubim”.  Mereka penuh dengan mata di sebelah muka dan di sebelah belakang.  Mereka ada di tengah-tengah takhta itu.  Selain makhluk ini, hanya Anak Domba yang dapat berdiri begitu dekat dengan Allah sendiri (5:6; 7:17).  Adanya begitu banyak mata melambangkan bahwa makhluk itu mengamat-amati apa saja yang terjadi di situ (Hagelberg, 146).
Ps. 4:7, “Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.”  Masing-masing makhluk yang digambarkan dalam Yehezkiel 1:10-11 memunyai 4 muka, sedangkan pada ayat ini masing-masing makhluk memunyai satu muka, tetapi baik di dalam kitab Yehezkiel maupun pada ayat ini ada “singa, lembu, manusia, dan burung nasar”.
Pada tahun 300 Masehi, Rabbi Abahu menjelaskan Yeh. 1:0-11 dengan berkata, Ada 4 binatang yang perkasa.  Burung yang paling perkasa adalah rajawali, binatang ternak yang paling perkasa adalah lembu, binatang liar yangb paling perkasa adalah singa, dan yang paling perkasa dari semuanya adalah manusia.  Allah telah mengambil semuanya ini ... untuk takhta-Nya.”  Kalau tafsiran tokoh Yahudi itu diterapkan pada ke-4 makhluk dalam ayat ini, maka ada kesan bahwa seluruh ciptaan Allah diwakili oleh ke-empat makhluk tersebut (Hagelberg, 147; Guthrie, ed., 940).
Ps. 4:8a, “Dan ke-empat makhluk itu masing-masinng bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata.”  Dalam Yesaya 6:2, ada “Serafim” yang juga memunyai 6 sayap, 2 sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, 2 sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka, dan 2 sayap dipakai untuk melayang-layang.  Menurut seorang penafsir bernama Thomas, ini berarti bahwa “Serafim” itu kagum dan siap menuruti perintah Tuhan.  Dalam nas ini Yohanes menyebut kembali keberadaan mata mereka, yang sudah dijelaskan pada 4:6 (Ibid).
Ps. 4:8b, “... dengan tidak henti-hentinya mereka berseru siang dan malam: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”  Seruan makhluk-makhluk ini mirip dengan apa yang dikatakan pada nas lain, “Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir” (1:17; 22:13), dan bahwa “Dia-lah Alfa dan Omega” (1:8; 21:6; 22:13).  Kata-kata yang hampir sama dipakai untuk menunjuk kepada Allah, Bapa itu sendiri.
Ps. 4:9, “Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya.”  Ayat ini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk itu adalah pemimpin penyembahan Surgawi.  Dalam kitab Wahyu, sebutan “yanng duduk di atas takhta itu” dipakai 11 kali dan sekali pada ps. 20:11 dengan ungkapan yang hampir sama (Hagelberg, 148).
Ps. 4:10, “Maka tersungkurlah ke-24 tua-tua di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya.  Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu sambil berkata: ....”  Ke-empat makhluk itu memuji Allah dan sebagai tanggapan ke-24 tua-tua itu menyembah Dia dengan melemparkan mahkota mereka di hadapan-Nya.  Kejadian ini bukan hanya sekali, tetapi “setiap kali” (ayat 9) makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian.  “Pelemparan mahkota” itu dari tua-tua tidak jelas.  Rupanya mereka melakukan itu terus menerus, tetapi mahkota mereka tidak habis-habisnya.  Istilah “melemparkan” dapat diterjemahkan “meletakkan”, tetapi pada umumnya istilah ini berarti melemparkan (Ibid, 149).
Ps. 4:11, “... Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau yang layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”  Pujian sebelum gulungan kitab diketengahkan lebih terfokus pada kemuliaan Alllah sebagai Pencipta, dan sesudah gulungan kitab itu diilhamkan, pujian lebih terfokus pada kemuliaan Tuhan sebagai Penebus.
3.    Gulungan kitab dan Anak Domba, 5:1-7.
Ps. 4 berbicara tentang lingkungan dan pelaku, namun baru pada ps. 5 ada satu unsur lagi yang dikemukakan, yaitu sebuah gulungan kitab yang ada di tangan kanan Allah, yang menjadi pusat ps. 5.
Ps. 5:1, “Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan 7 meterai.”  “Gulungan kitab yang ada di tangan kanan Allah dan dimeterai dengan 7 meterai”, menurut hukum Romawi bahwa gulungan itu adalah satu Testament yang berisi kehendak terakhir seseorang sebelum meninggal.  Memang Allah tidak mati, tetapi Allah telah menyatakan kehendak-Nya untuk zaman akhir dalam gulungan itu.  Gulungan itu berisi rencana Allah yang sudah ditetapkan (Scheunemann, 72).
Gulungan kitab itu ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya.  Barclay menjelaskan bahwa bagian balik papirus sulit untuk ditulisi, sehingga bagian sebelah luar dari gulungan kitab jarang ditulisi.  Bagian ini dapat dibandingkan dengan Yehezkiel 2:10, “timbal balik”.
Gulungan itu dimeterai dengan 7 meterai.  Menurut hukum Roma “surat wasiat” harus ditutup dengan 7 meterai, sama seperti gulungan kitab itu.  Setelah pewaris telah meninggal, ke-7 saksi yang dulunya sudah memasang meterai mereka masing-masing dipanggil dan gulungan surat wasiat dibuka.  Karena itu, makna “gulungan kitab” pada ps. 5 ini sangat jelas bagi mereka, yaitu adanya warisan yang akan dibagi (Hagelberg, 151).
Pada ps. 21:7, mereka yang menang dikaitkan dengan mereka yang menerima warisan.  Dalam Efesus 5:5 dan Matius 5:5; 19:29, dituliskan bahwa ada warisan khusus untuk orang percaya yang mantap ketaatannya.  Kalau memang gulungan kitab itu merupakan surat wasiat peristiwa itu mengandung suatu arti yang indah bagi orang percaya yang sungguh setia dan sungguh-sungguh menuruti apa yang tertulis pada ps. 2 dan 3.  Tuhan sudah menentukan suatu warisan yang luar biasa untuk “orang yang menang”.  Tinggal surat wasiat itu dibuka dan warisan menjadi milik orang yang menang.  Tetapi surat wasiat itu disegel dengan 7 meterai.  Kebiasaan budaya dan hukum Roma ini dipergunakan oleh Tuhan menjadi unsur yang pokok dalam struktur kitab Wahyu (Ibid, 152).
Ps. 5:2, “Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”  Mereka semua mengerti bahwa meterai itu tidak boleh dibuka oleh sembarangan orang.
Ps. 5:3, “Tetapi tidak ada seorang-pun yang di Surga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.”  “Di bawah bumi” adalah menunjuk kepada hades (Guthrie, ed., 941).  Pembagian ciptaan Allah menjadi tiga bagian: Surga, bumi, dan di bawah bumi atau hades.
Ps. 5:4, “Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.”  Yohanes menangis karena ia mengerti kepentingan dari gulungan kitab itu.  Dia ingin sekali agar meterainya atau segelnya dibuka, sehingga orang yang menang dapat menerima warisan mereka dari tangan Kristus (Hagelberg, 152-153).
Ps. 5:5, “Lalu berkatalah seorang dari tua-tau itu kepadaku: Jangan engkau menangis! Sesungguhnya singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab dan membuka ketujuh meterainya.”  Ada 2 sebutan, yaitu “singa dari suku Yehuda” dan “tunas Daud” adalah sebutan yang diambil dari Kej. 49:9-10 dan Yes. 11:1, sebutan yang sudah lama dipakai oleh guru-guru Israel mengenai Mesias.  Dikatakan Dia telah menang, yaitu menunjuk kepada kemenangan-Nya di kayu salib (Guthrie, ed., 941; Hagelberg, 153).
Ps. 5:6, “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan ke-empat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh; itulah Roh Allah yang diutus ke seluruh dunia.”  Di tengah-tengah taktha, di tengah-tengah 4 makhluk dan di tengah-tengah tua-tua berdirilah bukan singa, tetapi Anak Domba yang telah disembelih.  Domba yang telah disembelih mengingatkan kita akan Yesaya 53:7.  Yang ditekankan di sini ialah kemenangan-Nya dijelaskan.  Anak Domba itu tidak mati lagi, tetapi Dia berdiri di tengah-tengah segala kemuliaan ruangan takhta Allah.
“Bertanduk tujuh”, tanduk dalam Perjanjian Lama melambangkan kekuatan (Mzm. 75:4-7) dan kemuliaan (Zak. 1:18-19).  Angka 7 menunjukkan kerajaan-Nya yang sempurna.  Memiliki “tujuh mata”,  dalam Perjanjian Lama “mata” menunjukkan kemahatahuan yang ada pada YHWH (dibaca Adonai) (bnd Zak. 4:10).  Anak Domba itu penuh kuasa dan pengetahuan (Guthrie, ed., 941; Hagelberg, 154).
Ps. 5:7, “Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.”  Anak Domba itu menerima gulungan kitab dari Allah, yaitu Dia yang duduk di atas takhta itu.  Dalam Mazmur 2:8 dituliskan, “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepada-Mu menjadi milik pusaka-Mu, dan ujung bumi menjadi kepunyaan-Mu.”  Pada ps. 5:7, jelas bahwa yang datang mendekati dan meminta adalah Tuhan Yesus sendiri.
4.    Pujian kepada Dia yang mengambil gulungan kitab, 5:8-14.
Ps. 5:8, “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah ke-empat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan, itulah doa orang-orang Kudus.”  Menurut Beasley-Murray, agaknya hanya tua-tua saja yang memegang satu kecapi dan satu cawan emas (Guthrie, ed., 941).
Setelah Yesus menerima gulungan kitab itu dari Dia, maka tersungkurlah makhluk-makhluk itu menyembah Dia.  Apa yang dianggap hina di bumi, sangat dihargai di Surga, “doa orang-orang kudus ada di dalam cawan emas.”  Kemenyan melambangkan doa umat Allah (Mzm. 141:2; Why. 8:3-4).
Ps. 5:9, “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli kami bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.”  Nyanyian yang dinyanyikan itu bukan hanya baru dari segi waktu, tetapi secara hakikatnya memang baru.  Dan sebelumnya memang tidak pernah ada nyanyian yang sama dengan nyanyian baru tersebut.
Allah, Bapa dipuji sebagai Yang Layak pada 4:11 karena Dia yang menciptakan segala sesuatu.  Pada pasal ini, Tuhan Yesus dipuji sebagai Yang Layak karena Dia yang menjadi Penebus.  Nyanyian itu menekankan bahwa Tuhan Yesus bukan hanya Penebus Israel saja, tetapi Penebus manusia dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa (Hagelberg, 157).
Ps. 5:10, “Dan Engkau telah membuat mereka menjadi raja-raja dan imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”  Bagian pertama dari ayat ini ada pada ps. 1:6 dan seluruh ayat ini diulangi pada ps. 20:6.  Apa yang direncanakan bagi umat Israel, yaitu keturunan jasmani Yakub, sudah digenapi pada nas ini.  Menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam-imam adalah panggilan Israel (Kel. 19:6), suatu hak istimewa yang diberikan juga bagi gereja (1Ptr. 2:9).
Ps. 5:11, “Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.”  Rasul Yohanes baru sadar bahwa sekian banyak malikat yang turut  menyembah Yesus.  Menurut Beasley-Murray angka “laksa”, yaitu 10.000 adalah angka yang paling besar dalam bahasa Yunani.  Secara harafiah, Yohanes berkata bahwa di situ ada beberapa laksa kali beberapa laksa ditambah beberapa ribu kali ribu malaikat, tetapi rupanya yang ingin ditekankan adalah bahwa jumlah malaikat itu tak terhitung jumlahnya, seperti juga pada Daniel 7:10; Ibr. 12:22 (Hagelberg, 160).
Ps. 5:12, “... katanya dengan suara nyaring: Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian.”  Sekali lagi istilah “layak” ditekankan dalam pujian kepada Anak Domba.  Dia dipuji karwna Dia telah menjadi korban bagi kita (Dia dipuji dengan 7 istilah).  Ke-empat istilah yang pertama menunjuk kepada hakikatNya sendiri dan tiga istilah terakhir menunjuk pada sikap manusia dan malaikat terhadap Dia.
Ps. 5:13, “Dan aku mendengar semua makhluk yang di Surga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya berkata: Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.”  Pada ps. 5:6, penglihatan Yohanes diperluas, sehingga dia dapat melihat Tuhan Yesus.  Pada ps. 5:11, penglihatannya diperluas, sehingga dia dapat melihat sekian banyak malaikat di Surga.  Demikian juga pada ayat ini, Yohanes dapat mendengar semua yang diciptakan oleh Allah.
Dengan menyebut “di Surga, di bawah bumi, di laut dan yang di dalamnya”, Yohanes sungguh menegaskan bahwa pujian ini disampaikan oleh semua makhluk yang ada.  Itulah yang perlu direnungkan, bukan rincian yang jauh dari maksud Yohanes, misalnya: “Siapa yang memuji di laut?”  Karena penebusanNya menjangkau seluruh ciptaanNya, maka pujian bagi Dia juga datang dari seluruh ciptaanNya.  Hagelberg, 161).
Pada ps. 4 dan 5 dapat diringkaskan: Ps. 4, Allah, Bapa (Dia yang duduk di atas takhta) yang dipuji, sedang pada ps. 5:1-12, Tuhan Yesus (Anak Domba) yang dipuji, dan ps. 5:13-14, baik Allah, Bapa maupun Tuhan Yesus kedua-duanya dipuji (Ibid).
Ps. 5:14, “Dan ke-empat makhluk itu berkata: Amin.  Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.”  Pada ps. 4:8-10, segala pujian yang digambarkan dalam ruangan takhta Allah, dimulai oleh ke-empat makhluk dan ke-24 tua-tua dan pada ayat ini pula pujian tersebut ditutup oleh mereka juga.
Pada ps. 4 dan 5 pembaca mengetahui waktu pemberian pahala yang indah yang disediakan bagi mereka yang setia da taat sampai kesudahannya, yaitu saat Penebus dan Raja kita meminta dari Allah, Bapa itu supaya warisan-Nya disiapkan untuk diwariskan melalui pembersihan yang dahsyat, sehingga Dia dapat mendirikan kerajaan-Nya dan mereka yang setia turut serta memerintah bersama dengan Dia.

B.    Masa Kesengsaraan, 6:1-20:3.
Bentuk Bagian ini:
Bentuk bagian yang mengisahkan masa kesengsaraan ini menarik.  Ada 7 meterai atau segel, ada 7 sangkakala, dan ada 7 cawan.  Meterai, sangkakala, dan cawan merupakan kerangka atau garis besar dari bagian ini.  Enam meterai itu dibuka Tuhan disertai hukuman atas bumi.  Lalu meterai yang ketujuh terdiri atas 7 sangkakala.  Enam sangkakala pertama diceritakan, lalu sangkakala yang ketujuh terdiri atas 7 cawan.  Struktur ini menekankan dahsyatnya hukuman atas “mereka yang diam di bumi”.  Meterai yang ketujuh merupakan ketujuh sangkakala dan sangkakala yang ketujuh merupakan ketujuh cawan.
Jadi, setelah enam hukuman berlalu, muncul lagi tujuh hukuman yang baru, dalam bentuk sangkakala dan setelah enam hukuman berlalu, muncul lagi tujuh hukuman baru, dalam bentuk cawan, menunjukkan hukuman yang bertubi-tubi akan menimpa bumi.  Selain rantai kisah ini, ada beberapa hal lain yang juga disisipkan sebagai tambahan.  Setiap “tambahan” itu, juga merupakan dorongan untuk ketujuh jemaat di Asia Kecil.
Bagian ini menceritakan “masa kesengsaraan” yang merupakan “minggu ketujuh puluh” pada kitab Daniel 9, suatu masa yang berlanjut tujuh masa.  Di antara nas-nas yang lain, Amos 5:18-20, menceritakan kesengsaraan yang akan dialami umat Israel pada masa itu.
Ada penafsir yang mengatakan bahwa ke-enam meterai dalam Wahyu 6 melambangkan masa kini, yaitu “zaman gereja”, yang penuh peperangan dan penderitaan, seperti yang dikatakan pada Mrk. 13:5-13, “barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru”.  Tetapi paham tersebut agak sulit diterima kalau kita membaca 6:8.  Jadi kalau meterai ke-empat dibuka, paling tidak ada kira-kira satu milyar orang akan dibunuh.  Berarti itu bukan zaman sekarang.  Alasan lain berkaitan dengan permintaan Tuhan Yesus pada ps. 5, kalau enam meterai adalah zaman gereja, seharusnya gulungan  kitab sudah diminta Tuhan dan sedang dibuka, tetapi tidak demikian yang terjadi.
Lebih baik, sesuai dengan dahsyatnya pembukaan meterai dan kepentingan pengambilan gulungan kitab, pengambilan gulungan kitab dianggap permulaan “masa kesengsaraan” dan pembukaan meterai dianggap sebagai bagian sebagian dari hukuman Allah atas “yang diam di bumi” pada masa kesengsaraan.  Hukuman yang dahsyat harus mendahului pendirian kerajaan Allah di bumi, sangat jelas dalam Amos 5:18-20 dan Yesaya 2:12-21 (Hagelberg, 162-165).
Isi Bagian ini:
Bagian ini memunyai kesamaan dengan Mrk. 13, Mat. 24, dan Luk. 21, saat Tuhan Yesus bernubuat mengenai akhir zaman.  Beasley-Murray mencatat kesamaan-kesamaan tersebut sebagai berikut:


Markus 13                                                                          Wahyu 6
1.    Perang-perang                                                       1.    Perang-perang
2.    Perselisihan Internasional                                        2.    Perselisihan Internasional
3.    Gempa bumi                                                          3.    Kelaparan
4.    Kelaparan                                                             4.    Wabah atau Sampar
5.    Penganiayaan                                                        5.    Penganiayaan
6.    Gerhana, bintang berjatuhan,                                 6.    Gempa bumi, gerhana, bintang berjatuhan
 dan goncangan kuasa-kuasa langit                                       pembesar bersembunyi di gua dan Langit         
                                                                                            menyusut


1.    Ketujuh Meterai atau Segel, 6:1-8:6.
Pada saat setiap meterai dibuka, hukuman disampaikan kepada yang diam di bumi.  Hukuman ini berasal dari Surga, bukan dari Iblis atau Anti-Kristus.  Bumi ini dihakimi oleh Allah.  Juga gulungan kitab itu (surat wasiat untuk barangsiapa yang menang) sedang dibuka oleh Tuhan, bukan oleh Iblis.
Empat Meterai Pertama: Empat Kuda, 6:1-8

a.    Meterai Pertama, 6:1-2.

 Kuda Putih
Ps. 6:1, “Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: “Mari!”  Yang membuka meterai pertama itu adalah Anak Domba yang telah disembelih dan yang layak, yaitu Tuhan Yesus sendiri.  Tuhan Yesus hanya membuka meterai atau segel dan salah satu dari ke-empat makhluk itu ditugaskan untuk memanggil “kuda yang pertama datang” (“Mari!”).
Ps. 6:2, “Dan aku melihat: Sesungguhnya ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota.  Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.”  Ke-empat jenis kuda ini ada hubungannya dengan ke-empat kereta perang yang dinubuatkan dalam kitab Zakharia 6:1-8.  Ke-empat warna yang disebutkan dalam kitab Zakharia melambangkan ke-empat penjuru mata angin, sedangkan warna yang diungkapkan dalam Wahyu 6 tampaknya sesuai dengan “sifat malapetaka masing-masing” (Hagelberg, 166-167).
“Kuda putih dan penunggangnya.”  Menurut Peter Wongso bahwa “kuda putih dan kuda merah” dari 2 meterai yang pertama melambangkan peperangan dan pertempuran antar umat manusia.  “Kuda hitam dan kuda hijau kuning” dari meterai ketiga dan ke-empat menyatakan kekurangan bahan makanan yang disebabkan oleh peperangan, sehingga harga barang kebutuhan melonjak naik (Wongso, 440).
Ada juga yang menafsirkan penunggang kuda yang menang yang dikaitkan dengan ps. 19:11-12 adalah Kristus sendiri.  Ada juga tafsiran yang mengatakan bahwa yang menunggangi “kuda putih” adalah Anti-Kristus.
Tidak terlalu aneh jika Tuhan Yesus menunggangi “kuda putih” pada ps. 19:11-12 dan Anti-Kristus pada ps. 6:2, karena Anti-Kristus adalah imitasi dari Kristus.  Menurut tafsiran ini, Anti-Kristus akan menang, tetapi mungkin tanpa penumpahan darah.  Nas ini dikaitkan dengan 1Tes. 5:3; 1Yoh. 2:18; Mat. 24:5.  Tafsiran ini sejajar dengan pandangan Billy Graham (Hagelberg, 167; Graham, 106).
Scheunemann juga mengatakan bahwa Anti-Kristus digambarkan dengan orang yang berkuda putih.  Menurut Why. 13:7, Anti-Kristus maju dari kemenangan kepada kemenangan.  Busur dan panah dapat diartikan sebagai senjata Anti-Kristus (Yeh. 39:2-3) (Scheunemann, 79).  Penjelmaan Anti-Kristus masa kini adalah dalam wujud agama palsu atau agama tiruan (pesatnya pertumbuhan agama-agama Timur di Amerika Utara), Setanisme, bidat-bidat, ajaran liberal yang berasal dari dalam gereja, dan materialisme modern (Graham, 106-164).
Hagelberg mengatakan penafsiran itu kuat, tetapi sebaiknya “kuda putih dan penunggangnya” dimengerti sebagai lambang dari kekuasaan militer yang akan demikian menonjol pada masa kesengsaraan.  Memang Anti-Kristus merupakan satu unsur yang amat penting dalam kekuasaan militer, tetapi lambang tersebut tampaknya lebih tepat ditafsirkan sebagai kekuasaan militer akhir zaman daripada hanya sebagai Anti-Kristus (Hagelberg, 167).  Kuda putih membawa penunggang yang menipu telah menderap dari gulungan kitab dan turun dari Surga menuju bumi untuk menimbulkan malapetaka (Graham, 165).

b.    Meterai Kedua, 6:3-4.
 Kuda Merah
Ps. 6:3-4, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: Mari!  Dan majulah seekor kuda lain ... kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.”  Giliran makhluk yang kedua dari ke-empat makhluk untuk memanggil kuda merah padam dan penunggangnya.  Penunggang itu dikarunia kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi dan dikarunia sebilah pedang yang besar.
Menurut Scheunemann bahwa kuda berwarna merah menunjukkan “penumpahan darah”.  Terjadi peperangan demi peperangan.  Anti-Kristus tidak membawa damai , melainkan mengambil damai sejahtera.  Bangsa-bangsa saling membinasakan dan saling membunuh.  Bangsa-bangsa menjadi korban atas mezbah Anti-Kristus.  Manusia yang menolak hidup di bawah salib, hidup di bawah pedang yang besar.  Dalam kekacauan-kekacauan peperangan Anti-Kristus merebu kekuasaan dunia (Scheunemann, 79-80).
“Kuda merah padam” yang berkuasa mengambil damai sejahtera dari atas bumi sejajar dengan Mat. 24:6-7, ketika ada deru perang dan kabar-kabar tentang perang dan bangsa akan bangkit melawan bangsa.  “Kuda yang pertama” menang, tetapi peperangan tidak disebutkan atau tanpa penumpahan darah.  Selanjutnya muncul “kuda kedua” yang membawa peperangan dan kekerasan.
Mungkin “kuda pertama” melambangkan peperangan saat ada satu negara menyerang negara lain, tetapi “kuda kedua” melambangkan kekacauan dan perang saudara.  Pada tahum 68-89 Masehi, kekaisaran Romawi digoncang dengan munculnya empat kaisar yang masing-masing merebut kuasa lewat kekerasan (Hagelberg, 168-169).

c.    Meterai Ketiga, 6:5-6.

Kuda Hitam
Ps. 6:5-6, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.  Ayat 6, Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."  “Kuda hitam” adalah pembawa bala kelaparan.  Sesudah kuda peperangan, muncullah kuda kelaparan.  “Kuda hitam” itu memberi peringatan kepada manusia akan adanya kelaparan yang hebat yang mengakibatkan  kematian besar-besaran karena karena kelaparan (Scheunemann, 80; Graham, 212).
Istilah “timbangan” menunjuk kepada kelaparan.  Satu dinar adalah upah buruh untuk sehari.  Biasanya orang dewasa makan roti yang dibuat dati secupak gandum untuk sehari.  Jika harga secupak gandum adalah sedinar berarti penghasilan setiap orang setiap hari hanya cukup untuk diri sendiri.  Kalau sudah berkeluarga, ia dapat membeli tiga cupak jelai dengan harga sedinar, tetapi kualitas gizi jelai lebih rendah daripada gandum.  Kelaparan ini sejajar dengan Mat. 24:7.
“Janganlah rusakkan minyak dan anggur” agak sulit ditafsirkan, tetapi nampaknya ini berarti bahwa orang kaya masih dapat membeli minyak zaitun dan anggur (Hagelberg, 169-170).  Tetapi Scheunemaan menafsirkan bahwa “jangan rusakkan minyak dan anggur” berarti di tengah-tengah bala kelaparan, Tuhan masih memelihara orang percaya, kalau minyak dan anggur diartikan secara rohani yang tetap disediakan oleh Tuhan (Scheunemann, 80).

d.    Meterai Keempat, 6:7-8.
Ps. 6:7-8, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!"  Ayat 8, Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.”
 Kuda Hijau Kuning
Billy Graham menyebut kuda ke-empat itu “kuda pucat” (Yun. chloros).  Kuda yang gemetar dan yang mengangkat kakinya karena marah, berwarna “hijau kuning”, seperti rumput yang tidak sehat.  Goodspeed menerjemahkan, seperti warna muka yang pucat karena ketakutan.  Moffat mencat kuda dengan warna pucat kelabu, seperti warna mayat (Graham, 261).
Kuda ke-empat ini di samping membawa kematian karena kelaparan dan peperangan, juga akan membunuh seperempat dari yang diam di bumi.  Mereka mati karena kelaparan, perang, sampar (wabah), dan karena binatang-binatang buas.  Hukuman ini sejajar dengan Mat. 24:7.  Menurut Mounce, “warna hijau kuning” adalah warna mayat yang sudah berbau menyengat.  Ke-empat macam penderitaan ini, yaitu pedang, kelaparan, sampar, dan binatang-binatang buas juga dinubuatkan oleh Yehezkiel 14:13-21 (Hagelberg, 170-171).

Tiga Meterai Terakhir, 6:9-17; 8:1-6
e.    Meterai Kelima, 6:9-11.
Ps. 6:9, “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.”  Meterai kelima ini berisi “kematian banyak orang Kristen yang dibunuh karena kesaksiannya dan persoalan ketidakadilan di atas muka bumi”.  Menurut Scheunemann bahwa jiwa-jiwa yang dilihat Yohanes di bawah mezbah adalah jiwa-jiwa orang Kristen Yahudi dahulu yang mati syahid (Scheunemann, 81).  Ayat ini sejajar dengan Mat. 24:9, “... kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh ....”
Ps. 6:10, “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"  jiwa-jiwa tadi bertanya: Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka ...?  Permintaan mereka itu yang berupa pembalasan adalah berpusat pada Dia yang kudus dan benar, dan mereka rindu supaya kekudusan dan kebenaran-Nya dinyatakan di seluruh bumi.  Dalam sastera Yahudi juga dikatakan bahwa:
1)    Mereka yang mati syahid menuntut pembalasan.
2)    Allah sudah memastikan jumlah mereka.
3)    Doa mereka yang mati syahid akan dikabulkan pada waktu kerajaan Allah dinyatakan (Hagelberg, 173-174).
Ps. 6:11, “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.”  Nampaknya “jubah putih” ini sama dengan “pakaian putih” yang diberikan kepada ke-24 tua-tua dan kepada barangsiapa yang menang.
Nampaknya hari terakhir itu masih menunggu sampai jumlah mereka genap.  Sesuai dengan penjelasan ayat ini, jumlah mereka yang mati syahid sudah ditentukan oleh Allah.  Jumlah itu harus digenapi dulu baru Dia datang mendirikan kerajaan-Nya (Guthrie, ed., 944).

f.    Meterai Keenam, 6:12-17: Hari Murka Anak Domba dan Persiapan Pengadilan.
Ps. 6:12, “Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.”  Hukuman yang terkait dengan meterai ke-enam, dimulai dengan “gempa bumi yang dahsyat” secara harafiah.  Demikian juga dengan matahari menjadi hitam dan bulan menjadi merah.  Pendekatan harafiah ini bukan berarti segala kiasan ditolak.  “Menyusutnya langit bagaikan gulungan kitab” merupakan kiasan yang melambangkan dahsyatnya malapetaka-malapetaka di langit.  Peristiwa di angkasa , seperti “matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut”, sudah dinubuatkan dalam nas yang menceritakan tentang hari kiamat.  Yes. 13:10, “Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusan di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya” (bnd Yeh. 32:7-8; Yoel 2:10, 31; Amos 8:9; Mat. 24:29).
Peristiwa-peristiwa itu sungguh dahsyat, sehingga mengakibatkan ketakutan yang luar biasa pada manusia (6:15-16).  Lebih-lebih, inilah satu-satunya tempat dalam Alkitab yang menyatakan “murka Anak Domba Allah” (6:16c-17) (Hagelberg, 177-178; Scheunemann, 82).
Ps. 6:13, “Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang.”  Istilah yang diterjemahkan bintang memunyai arti yang lebih luas daripada hanya bintang, sehingga nas ini menceritakan bintang berekor yang berjatuhan ke atas bumi.
Ps. 6:14, “Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.”  Ayat ini sama dengan Yes. 34:4, “... dan langit akan digulung seperti gulungan kitab.”  Tidak ada tulisan Yahudi yang menceritakan malapetaka yang seperti “tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya”.
Ps. 6:15, “Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung.”  Tujuh sebutan ini menjangkau seluruh lapisan manusia, dengan menekankan lapisan-lapisan atas yang melawan pekerjaan Tuhan di bumi.  Daftar ini diulangi dalam ps. 19:18, saat hukuman yang mereka takuti justru akhirnya terjadi.
Dulu jemaat Smirna dan Filadelfia takut kepada orang-orang tersebut, tetapi sekarang dengan membaca mengenai hukuman ini, mereka tidak perlu takut lagi.  Nanti “orang-orang besar” tidak lagi menakutkan umat Allah (Hagelberg, 178-179).
Ps. 6:16, “Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu."  Mereka takut menghadap Allah yang duduk di atas takhta-Nya dan terhadap Anak Domba, karena itu, mereka lebih suka mati.  Mereka takut terhadap murka Anak Domba.  Murka Anak Domba menunjukkan Kristus dalalm sifat yang telah disinggung dalam Ia memiliki 7 tanduk (5:6), yakni kekuasaan yang bulat mendirikan kebenaran dan melaksanakan keadilan (6:10) Guthrie, ed., 944).
Ps. 6:17, “Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?  Menurut apa yang mereka lihat, sudah tiba hari Tuhan, dan sebentar lagi mereka akan dihukum.  Mereka mengerti bahwa mereka tidak akan sanggup bertahan menghadapi pengadilan yang adil.  Mereka mengutip Nahum 1:6.


Bersambung ….

by : Pdt. Markus Lingga M.Th  Profile Penulis

Link Berhubungan
Diktat Kitab Wahyu Part - 1
Diktat Kitab Wahyu Part - 2
Diktat Kitab Wahyu Part - 3
Portal Pdt.Markus Lingga
Portal Pdt.Aris Mangosa

Selasa, Juli 01, 2014

Awalnya meeting digereja kami selalu menggunakan projecktor pinjaman dari luar, maklumlah  projector untuk gereja sudah dipasang permanent menggantung diatas plafond dan kabel VGA-nya sudah ditarik panjang ke balkon belakang sekitar 25 meteran (operatornya dari arah belakang). Jadi deh kerepotan kalau meeting-meeting persekutuan seperti majelis/pembangunan mau pakai tampilan slide dan operatornya adalah pembicara didepan. Nah waktu penulis melihat ada slot VGA pilihan yang lain di projector permanent,  kami berfikir untuk membeli kabel VGA sekitar 20 meteran untuk ditarik dari projecktor utama kedepan dekat mimbar.

Untunglah belum sempat terbeli, penulis berfikir bahwa kabel VGA ini tidak cukup fleksibel untuk selalu digulung tiap akhir rapat, apalagi sedikit mudah patah bagian  dalam kabel dekat leher pin konektornya. Setelah browsing kemana-mana akhirnya ketemu socket konektor VGA convert ke socket RJ 45 (socket RJ 45 mirip socket telepon tapi sedikit lebih besar karena untuk internetan). Dengan konektor ini maka otomatis kabel yang digunakan pun menjadi kabel LAN (Internet/Ethernet) yang siap selalu digulung dan perlakuan sedikit ekstrim, lebih ringan,  sedikit handal dan pastinya akan sedikit lebih murah.


Wah ini yang “mungkin” penulis sering lihat di mal-mal kota dan sekolah bertaraf internasional, jika tidak wifi (sedikit mahal) maka alternatif digunakan  kabel LAN (dikit murah) yang bisa juga diparalel ke banyak monitor dengan satu CPU dari jarak lebih jauh.

Pesanan konektor converter online pun tiba dengan baik, harganya Rp 60.000 sepasang, dan pesannya yang socket VGA male keduanya. Setelah di rakit dengan kabel LAN (sama kabel yang dipakai modem internet speedy telkom) ,  maka kami test antar laptop dan monitor PC hasilnya sangat memuaskan tanpa penurunan resolusi, dan pastinya sekalian kami test juga ke program multimedia/Easyworship gereja, wow hasilnya sangat memuaskan.

Ada beberapa aturan yang ditulis dalam menggunakan kabel LAN dalam mengirim sinyal data dan video ke monitor:
1.    Panjang Kabel LAN sebaiknya 30 Meteran (penulis coba sampai 50 meter tetap baik)
2.    Alur kabel LAN yang dipasang sebaiknya selisih 30 cm dari kabel power atau neon ( penulis coba rapatkan 3 cm cukup baik, namun tidak ada selisih atau terlalu rapat maka gambar sedikit berkedip)
3.    Sebaiknya gunakan Kabel LAN (UTP) yang berkualitas (he…he siapa yang mau kw2?? silahkan)
4.    Kabel UTP yang digunakan dipasang straight/lurus pada konektor rj 45.



Jika pembaca agak susah mendapatkan konnektor ini maka ada cara lain yang bisa ditempuh, yakni menyoldernya  sendiri antara kabel UTP ke pin VGA yang baru. Pin VGA ini bisa didapatkan di toko elektronik, walau sedikit agak repot perhatikan contoh gambar dibawah ini.



Pin VGA ini mempunyai nomor yang harus dicocokkan dengan warna kabel UTP,  Berikut list urutannya :

Pin 1        > orange
Pin 2        > Hijau
Pin 3        > Biru
Pin 4        > Tidak digunakan
Pin 5        > Tidak digunakan
Pin 6        > Putih-Orange
Pin 7        > Putih-Hijau
Pin 8        > Putih Biru
Pin 9        > Tidak digunakan
Pin 10        > Tidak digunakan
Pin 11        > Tidak digunakan
Pin 12        > Tidak digunakan
Pin 13        > Coklat
Pin 14        > Putih Coklat
Pin 15        > Tidak digunakan


Solder baiklah setiap pin sesuai warna dari bagian kabel UTP , jangan sampai bersinggungan/bersentuhan solderannya. Biar yakin ukurlah  dengan multitester (OHM) untuk memastikan sambungan terkoneksi dengan baik tanpa ada yang terhubung antar pin . 

Nah siap digunakan  untuk memuji Tuhan dan meeting gereja, salam hangat!
Special thanks untuk Pdt. Pither Pakka, Ferdy, Efrain Paguling dan Ferbrianis dalam instalasi perangkat.


by :  Administrator   Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Portal EasyWorship
Portal KIBAID
Portal Pdt.Aris Mangosa
Portal Sahabat

Kamis, Juni 26, 2014

Yohanis 2:1-11, Rumah tangga merupakan unit terkecil dalam suatu community, dan tidak jarang persekutuan ini mendapatkan sukses yang luar biasa melalui kehidupan rohani yang baik. Tentu setiap lorong kehidupan RT ini dipenuhi dengan masalah yang sangat universal bahkan unik. Sayang Kesuksesan, keunikan dan bahkan penderitaan kadang memacu andrenalin manusia untuk berfikir menggunakan akal dan kemampuannya sendiri tanpa mau melibatkan sang Juruslamat dalam kehidupan berumah tangga. Akibatnya kadang ada masalah yang tidak terselesaikan secara tuntas, bahkan menjadi lebih fatal dari yang diharapkan.
Alkitab pun tidak memberikan syarat yang terlalu melewati batas akal manusia untuk melibatkan Tuhan dalam kehidupan RT, selalu memberikan peluang (pengampunan) yang sangat menguntungkan. Penulis disini memaparkan  tiga syarat yang bisa ditempuh dalam kehidupan RT agar kita merasakan kepedulian Kristus:

1.    Mengundang Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Simpel saja ketika bangun pagi sebelum aktifitas di mulai, berikan waktu terbaik buat Tuhan, berdoalah bersama keluarga, minta supaya Tuhan campur tangan dalam segala aktifitas harian. Menghadirkan Tuhan sebagai tuan rumah akan membereskan segala perkara tepat pada waktunya. Bukan berarti masalah kemarin harus selesai pada hari ini, namun dibutuhkan doa, kerja keras, kelemah lembutan dan kesabaran untuk menunggu jawaban terbaik.
2.    Melibatkan Yesus adalah hal yang mutlak dalam setiap perkara di sekeliling rumah tangga.  Kita bisa membandingkan dalam keluaran 3, dimana air berubah menjadi darah, ini merupakan ciri kehidupan manusia yang tidak mau melibatkan Tuhan dalam perkaranya. Selalu membawa masalah dengan melibatkan orang yang juga memiliki masalah yang sama pada waktu itu, seolah-olah untuk menghibur diri. Tumbuhkan rasa cinta mula-mula seperti ketika anda baru saling mengenal, libatkan Tuhan dan bersekutu kepada orang beriman yang dapat membantu menasehati RT munuju lebih baik.
3.    Taat kepada Dia. Janji Tuhan bahwa ketaatan yang teruji akan membawa berkat dalam kehidupan RT Kristen. Berkat itu adalah yang terbaik bagi semua, tentunya bukan hanya personal dalam keluarga yang diberkati, tetapi seluruh bagian dari komunitas yang ada didalamnya.      

By: Pdt. Pither Pakka, MA (Konseling) Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Portal NKI
Portal Pdt.Markus Lingga
Portal Sahabat

Komentar Facebook

We want You to read with Us again and again II Gratis Buku Virtual Rohani dari kami dengan klik salah satu Image Slider di bagian atas Beranda II Situs ini menerima Tulisan Anda baik Itu Sebagai Sumbangan atau Ingin Menjadi Team Kami II Buat Kami Lebih Baik Dengan Dukungan Doa dan Dengan Memberikan Reaksi/Comment Anda di Form Yang Tersedia