• Situs ini menerima tulisan anda utamanya untuk membangun rohani setiap pembaca.

  • Klik disini untuk mendownload Alkitab dan Kidung Gereja (NKI)Android.

  • Tema Natal Nasional Tahun 2014.

Kamis, November 13, 2014

(Handalkah Kitab Perjanjian Lama?)
Many of the challenges that we face come down to this – questions about the reliability of the Biblical accounts. Before I went away to seminary, I subscribed to the “Biblical Archeology Review.” After reading several of the articles, it became clear that all of the authors subscribed to something called the Documentary Hypothesis, which maintains that the OT was the product of a series of scribes – identified as “J,” “E,” “P,” and “D” (some add others) – who had cut-and-pasted the OT into existence over a period of several hundred years (400-200 BC). This would make the Bible the product of a human creative enterprise, and not of truth.

I was very disturbed about this widely accepted theory, but didn’t have a clue how to critique it. I therefore decided to tuck it away into a crevice of my mind and not worry about it until I had the tools to deal with it. However, it didn’t remain in its appointed crevice but secretly crept into my reading of Scripture, infecting me with uncomfortable doubts. As a result, I stopped reading the Bible with the gusto I had prior to this.

Thankfully, someone placed a copy of the late Gleason Archer’s “Survey of Old Testament Introductions” into hands. The text was dry and detailed, but it challenged JEPD and restored to me my Bible. More recently (2003), the eminent Egyptologist, K.A. Kitchen reexamined the reliability of the OT by comparing it with the contemporary archeology and writings of the surrounding cultures. From these comparisons, he has concluded that the Biblical accounts match the corresponding time periods and cultures, precluding a later dating.

Kitchen is a widely respected scholar. Commenting on “On the Reliability of the Old Testament,” Yale scholar William W. Hallo writes,

• “After decades of ‘minimalism’ [the belief that the OT only gives us a minimal amount of solid history], it is refreshing to have this first systematic refutation from the opposite position.”

University of Chicago’s Harry A. Hoffner Jr. adds,

• “Kitchen approaches his subject with the skill and experience of a bona fide expert…His book takes into account the latest discoveries. There could be no better author for a book like this, an author who for over forty years has read, published and taught most of the ancient texts he cites…”

After surveying the reliability of the OT accounts of the Israelite monarchy, Kitchen asserts that the Biblical accounts of Israel’s earlier history are still reliable:

• “The world of Gen. 12-50 is certainly not that of the monarchy period. It is equally not that of Joshua to Samuel, nor of the overlordship of the Egyptian empire from 1550 to the twelfth century B.C. It fits only the period before that, the twentieth to seventeenth centuries.” (495)

• “When we go back (before ca. 1000) to periods when inscriptional mentions of a then-obscure tribal community and its antecedent families…then chronologically typological comparisons of the biblical and external phenomena show clearly that the Hebrew founders bear the marks of reality and of a definite period. The same applies to the Hebrew’s exodus fro Egypt and appearance in Canaan…The Sinai covenant…has to have originated within a close-set period (1400-1200)…The phenomena of the united monarchy fit well into what we know of the period and of ancient royal usages.” (500)

Kitchen claims that the Bible’s historical accounts seem to be authentic based on his comparisons with other cultures from those periods. He therefore concludes,

• “The Old Testament comes out remarkably well, so long as its writings and writers are treated fairly and evenhandedly, in line with the independent data, open to all.” (500)

For many decades, the material hadn’t been treated fairly. Kitchen exposes the JEPD theory as pure speculation:

• “They exist only in the minds of their modern creators (from Witter and Astruc to the present day) and as printed in their published studies…it does not constitute fact, and cannot substitute for it…The standards of proof among biblical scholars fall massively and woefully short of the high standards that professional Orientalists and archeologists are long accustomed to and have a right to demand. Some MSS, please!” (492)

There was never produced a stitch of hard evidence for this hypothesis – no manuscripts or cross-cultural studies. It was Julius Wellhausen who had systematized JEPD into what became known as the “Documentary Hypothesis,” which subsequently commandeered our best seminaries and universities.

• “Not only did Wellhausen (like his peers) work in a cultural vacuum – that is how he wanted it to be, undisturbed by inconvenient facts from the (ancient) outside world. He resented being pointed toward high-antiquity data from Egypt and Mesopotamia, and damned their practitioners for it.” (494)

However, these deficiencies did not prevent this Bible-depreciating hypothesis from taking captive the worldviews of our most esteemed schools:

• “Thus the theorists had a field day for many decades, and what had been merely bold theory became fixed dogma, as though set in concrete. A purely theoretical minimalism (lacking any factual verification) was enshrined as dogma in theology and divinity schools and faculties.” (497)

My argument is not against scholarship or even the university. Without scholarship, we wouldn’t have Kitchen’s or Archer’s refutations! Nor would we even have an English Bible! My concern is about how truth can be so perverted and how our cultural biases can spread unchecked even in our foremost pillars of education. And once these worldviews become entrenched, it requires generations before the evidence can filter in. Wellhausen still remains enthroned in many schools.

Author by : Pastor Daniel Mann
Instructor at New York School of the Bible, New York,  February 1992 to present
Teach classes of OT, Theology and Apologetics.

Baik Untuk Dibaca
Portal NKI 
Portal KIBAID 
Portal Flashback Songs 

Minggu, November 02, 2014

                  You cannot be a poor communicator and a good leader (Henry Blackaby).

Kepemimpinan dan berkomunikasi sesuatu yang tidak terpisahkan. Dan salah satunya adalah kemampuan public speaking, seperti ceramah, pidato, presentasi, dan komunikasi massa lainnya. Tetapi, mengapa ada yang pintar sekali berbicara di depan umum, tetapi ada juga kalau sedang bicara sangat membosankan? Padahal kita tahu orang tidak akan membeli ide kita kalau cara komunikasi kita sangat jelek.
Pidato pemimpin negara yang paling membosankan yang saya pernah dengar adalah mantan presiden Suharto. Dia hanya membaca. Namun ajaibnya, semua diam asyik mendengar (mungkin juga tidur barangkali ya?!). Kecuali saat dia bertemu dengan petani, terlihat sekali gairahnya dan semangatnya. Anehnya, saat saya masih SMA sudah bisa menikmati acara kelompencapir di TVRI, apalagi ada dialog dengan presiden Suharto. Pemimpin yang asyik didengar bicaranya adalah Jusuf Kalla dan seringkali dia tidak mengikuti teks yang sudah disiapkan. Selalu enak didengar kalau JK bicara. Mantan Presiden SBY yang paling lancar dan teratur jika berbicara di depan umum, namun kadang berputar-putar sehingga butuh konsentrasi khusus untuk memahami maksudnya. Pemimpin lain tidak sedikit  yang  belepotan bicara di depan umum . Mungkin saat ini mereka sedang memperbaiki diri.
Masalah yang dihadapi adalah bukan pembicaranya yang tidak baik, mengingat dia sudah terangkat menjadi pemimpin. Namun pembicaraannya sering tidak dimengerti, kepanjangan, membosankan, tidak ada daya tarik, tema yang itu-itu saja. Yang justru dianggap menarik adalah pembicara yang memiliki latar belakang entertainer, sedangkan pembicara lainnya seperti kehilangan daya tariknya. Apalagi ceramah hanya berisi presentasi dari isi dengan gaya yang tidak menarik, berputar-putar, atau bertele-tele.
Menurut hemat saya, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa pemimpin berbicara itu tidak menarik. Pertama, isi atau berita ceramah atau presentasi yang sangat miskin dan juga tidak akurat. Ini terjadi karena pembicara tidak menggunakan sumber yang tepat untuk menggali isi dari ceramahnya dan hanya memakai cara yang dangkal dalam memahami kebenaran yang hanya lewat pengalaman semata-mata yang diceritakan. Pendengar awam katakan, lebih banyak ceritanya daripada isi. Biasanya pembicara ini suka melucu dan melenceng dari tema, yang mana sebenarnya tidak jelek. Pembicara justru perlu punya “sense of humor”. Namun semuanya harus terukur dan tepat penggunaan humor itu yang harus disesuaikan dengan isi. Saya sering temukan pembicara agama bisa membuat pendengarnya tertawa dari awal sampai akhir, namun kalau ditanya pendengar apa isinya, sudah lupa. Ini karena memang tidak ada isi dan kalaupun ada sangat dangkal. Masalahnya, Tidak punya “big ideas” atau tidak ada apa gagasan besar yang ada dalam ceramah atau presentasinya?
Kedua, kajian isinya mendalam namun miskin aplikasi dan cerita praktis. Eksposisi pembicaraan yang digali sangat tidak jelas dengan cara memuja pemakaian istilah teknis, jargon bahasa tinggi, penuh dengan kutipan-kutipan para ahli dan gambaran abstrak dengan bahasa yang eksklusif dan ilmiah. Ini yang menyebabkan ceramah menjadi sangat membosankan tidak aplikatif bagi pendengar. Pendengar hanya diajak mengikuti mendengar bahasa yang tinggi yang dalam tanpa pernah menyadari pendengar membutuhkan aplikasi dan pentignya cerita untuk menjembatani konsep dan penerapan. Di sini pembicara miskin “how’-nya.
Ketiga, adalah faktor miskin cara dalam berkomunikasi atau miskin penyajian. Cara menyampaikan ceramah atau presentasi tidak koheren atau tidak beraturan sehingga pendengar sulit mengikuti apa yang menjadi tujuan dari ceramah. Harusnya ada tatanan yang baik yaitu mulai dari penjabaran tema, poin-poin yang menuju puncak, dan konklusi serta tantangan. Bila ini tidak beraturan bahkan keluar dari topik, pendengar akan menjadi bingung apa sebenarnya tema dan tujuan ceramah. Belum lagi faktor tidak menguasai teknik presentasi, intonasi, gerak tubuh, tatapan mata, dan semua yang berhubungan dengan teknis komunikasi massa. Ini bisa kita pelajari. Presentasi yang baik harus menyentuh level kognitif (kepala) yaitu level intelektualnya, juga level emosional, dan level spirit manusia.
Faktor waktu berceramah juga menyumbang kebosanan pendengar. Ada ceramah yang kepanjangan dalam menyampaikan gagasannya, bahkan berulang-ulang ditekankan sehingga pendengar menjadi bosan sekali. Daya tahan pendengar biasanya tidak lama. Sesekali bila ada pembicara tamu yang menarik mungkin pendengar bisa bertahan, namun tidak untuk selamanya. Jangan kita terobsesi menjadi pembicara yang bicaranya berkepanjangan. Dunia telah dipengaruhi “generasi MTv”, di mana generasi yang baru tidak bisa konsentrasi untuk waktu lama dengan tampilan yang monoton.
Jadi kesimpulan mengapa presentasi tidak menarik, setidaknya ada tiga prinsip: 1. Isi yang miskin; 2. Miskin dalam penerapan dan aplikasi. 3. Komunikasi atau cara presentasi yang miskin.
Memperbaikinya bukan hal yang singkat. Menurut saya semua harus lewat suatu proses kehidupan. Menjadi pembicara adalah sebuah proses dan tidak ada pil ajaib yang dapat mengubah seorang pembicara langsung jadi. Ada proses waktu yang dijalani seorang pembicara. Ia perlu banyak melatih diri dan memiliki jam terbang ceramah yang banyak. Pembicara harus juga banyak belajar dan mengembangkan kompetensi dan produktivitas. Dia harus belajar memperdalam isi dari ceramahnya seusai bidangnya. Dan kita harus belajar menjembatani antara isi dan aplikasi lewat retorika, argumen, imajinasi, ilustrasi, dan sisi emosional diangkat.
Pembicara yang baik juga melakukan pemilihan kata yang tepat. Bill Hybels mengartikulasikannya dengan tepat: “The very best leaders I know wrestle with words until they are able to communicate their big ideas in a way that captures the imagination, catalyzes action, and lifts spirits (Bill Hybels, Axiom,17). Artinya, pemimpin hebat selalu bergumul dengan kata-kata sehingga mereka dapat mengkomunikasikan gagasan besar dengan memakai imajinasi, mengajak untuk melakukan yang disertai dengan mengangkat semangat dan jiwa pendengar. Kalau kita lihat mantan pemimpin bangsa kita,   SBY dalam hal ini patut dipuji karena dalam menyusun kalimat-kalimat yang dikatakan sempurna dan dia mulai menatap pendengar waktu bicara. Hanya perlu ada pendekatan yang lebih langsung dan kata-kata yang lebih sederhana serta mengangkat semangat bangsa. Prinsipnya “language matter” - bahasa itu penting!

by: Pdt.Dr Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar

Baik Untuk Dibaca
Portal Sahabat
Portal Inspirasi dan Motivasi
Portal Pdt.John Dana

Minggu, Oktober 26, 2014

(Ester 2: 7)
Masih hangat diingatan kita ketika para penambang di daerah Chili yang tertimbun selama 70 hari didalam lubang sempit sedalam 700 meter. Mereka bertahan hidup dengan konsumsi makanan yang sangat terbatas, selama tim penyelamat memberikan upayanya dalam proses evakuasi. Tidak ketinggalan pula Presiden mereka terlibat dalam memberikan dukungan buat rakyatnya, semua sungguh luar biasa hebatnya perhatian yang mereka berikan.

Baru –baru ini dalam masa kampanye Presiden Jokowi kita dihadapkan dengan satu tim koalisi Indonesia Hebat yang tentunya berisikan orang-orang pilihan yang sangat care terhadap kemajuan bangsa ini. Apa yang mereka perjuangkan setidaknya sebagian merupakan pemikiran  untuk penyelamatan rakyat kecil yang tidak hidup layak.

Dua bagian diatas pernah juga dilakukan oleh Ester dan Mordekai, dimana dalam kerajaan Ahasyweros mereka berjuang untuk penyelamatan satu bangsa yang mungkin secara manusia tidaklah mungkin. Dari kehidupan Ester masa kecil hingga menjadi ratu nampak bahwa Ia adalah salah satu orang yang hebat dalam kehidupannya sehingga bangsa Yahudi tetap ada sampai sekarang.

Apa ciri dasar supaya kita bisa di katakan sebagai seorang Kristen yang hebat.

1.    Siap diproses oleh Tuhan, Ester adalah anak yatim piatu yang dari kecil di asuh oleh pamannya, Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi ratu, namun proses hidup yang dijalani menjadikannya seorang yang hebat. Proses tidak mengenal menyerah selalu berfikir positif, dan giat bekerja dalam berbagai keadaan, baik itu ekonomi dan segala persoalan akan membentuk kita menjadi lebih baik didalam Tuhan.

2.    Tidak egois, Salah satu sikap ester yang patut diteladani adalah walaupun ia seorang ratu tidak pernah memikirkan untuk dirinya sendiri. Sikap ini sangatlah mirip dengan presiden chili, tim evakuasi dan para korban yang mau saling berbagi dalam keterpurukan . Walau kita kecil dalam komunitas sikap ini penting untuk menunjukkan kasih Allah buat semua orang.

3.    Mengandalkan Tuhan dalam segala hal, Ester melakukan dua hal besar dalam proses penyelamatan yakni mau bekerja dan mengandalkan Tuhan. Ia meminta supaya dalam proses pergumulan ini, orang Yahudi berpuasa selama 3 hari 3 malam dan berdoa. Ketika ia menghadap Raja, Iapun mendapat kasih sehingga Raja menaruh belas buat bangsa yahudi.

Siap menjadi Kristen Hebat? Coba lakukan tiga hal dasar diatas dengan murni dan ketulusan!

By: Pdt Aris Mangosa, STh  Profile Penulis
Baik Untuk Dibaca 
Portal Pdt. Piter Pakka 
Portal English 
Portal KIBAID 

Jumat, Oktober 17, 2014

                                                            Show me your friends,
                                                      And I will predict your future.
                                                Tunjukkan pada saya teman-temanmu,
                                            Dan saya akan meramalkan masa depanmu.


Ketika kami pindah ke Surabaya beberapa tahun lalu, banyak teman-teman yang menolong kami. Saat kami membutuhkan barang-barang elektronik untuk melengkapi apartemen kami, ada teman yang memperkenalkan kami pada toko langganannya sehingga kami cukup mengangkat telpon lalu barang pesanan kami bisa dikirim ke rumah.
Saat kami perlu money changer yang harganya bagus dan bisa kirim ke rumah, teman lain memperkenalkan kami dengan saudaranya yang memiliki usaha money changer.
Dengan modal nama baik, kebiasaan untuk selalu bayar tepat waktu dan teman-teman yang baik, kehidupan kami jauh lebih nyaman dan mudah. Kami punya teman-teman yang potensial dan mereka tidak khawatir memperkenalkan kami, karena mereka yakin dan sudah mengenal karakter serta kebiasaan kami.
Beberapa minggu yang lalu, Nita datang dengan wajah kusut. Suaminya ditangkap polisi dengan tuduhan kasus narkoba. Nita bercerita bahwa sesungguhnya sudah lima tahun terakhir suaminya tidak pernah mengkonsumsi narkoba lagi. Pada hari yang naas, Henry teman lama suaminya datang ke rumahnya. Suami Nita sudah bertahun-tahun tidak pertemu dengan Henry. Ternyata Henry yang berprofesi sebagai bandar narkoba sedang jadi target buronan polisi. Tepat saat Henry di rumahnya, polisi datang menangkapnya. Tidak hanya Henry yang ditangkap, melainkan suaminya juga. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum pidana, selalu bikin pusing kepala. Entah bagaimana kejadian sesungguhnya, benar atau salah tetap bikin repot.
Dari ke dua kisah di atas, kita bisa belajar bahwa teman-teman kita mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan kita. Kesuksesan atau kegagalan, hidup jadi mudah atau justru jadi celaka, tergantung sekali siapa orang-orang terdekat kita. Pernahkah kita menyadari bahwa baik saat kita naik atau turun, selalu ada teman yang memberi pertimbangan, memperkenalkan atau setidaknya memberi kita informasi.
Saat sakit memerlukan dokter atau ingin berinvestasi di suatu tempat, biasanya kita minta pertimbangan dari teman-teman dekat yang kita percayai. Jika teman kita wawasannya luas, tentunya saran yang diberikannya akan baik dan menguntungkan. Namun tidak sedikit orang yang menjadi bangkrut karena berinvestasi di tempat yang salah akibat ikut temannya. Kita lebih percaya kata-kata teman dekat kita daripada iklan atau ungkapan para ahli! Teman-teman kita mempengaruhi mindset –pola pikir dan cara pandang- serta pilihan-pilihan yang kita ambil. Karena itu pilihlah teman dengan hati-hati dan seksama. Pertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah bergaul dengan teman tersebut membawa kita naik atau turun. Membawa hidup kita lebih baik atau lebih runyam. Kita harus berani mengambil keputusan untuk meninggalkan teman-teman yang membuat kita turun, kalah dan gagal.
Untuk teman-teman yang masih lajang, pertimbangkan baik-baik kualitas orang yang akan Anda nikahi. Pasangan hidup adalah ‘sahabat’ yang paling dekat dan paling berpengaruh dalam kehidupan Anda. Tidak hanya itu, keberuntungannya menjadi keberuntungan Anda namun kegagalannya juga menjadi kegagalan Anda. Tidak sedikit pria yang sangat berpotensi untuk maju dan sukses, namun terhambat perkembangannya karena memiliki istri yang tidak berani keluar dari zona nyaman, tanpa wawasan, boros dan tidak mampu mengatur keuangan. Suaminya sibuk banting tulang untuk memenuhi tuntutan tagihan kartu kredit dan berbagai tagihan lainnya yang tidak habis-habisnya.
Sebaliknya, tidak sedikit wanita yang berpotensi untuk maju dan sukses, namun terhambat karena suaminya yang pencemburu dan tidak bisa menerima bahwa istrinya lebih ‘sukses’ daripada dirinya.
Banyak pasangan yang lupa bahwa suami istri adalah tim sehingga kesuksesan suami atau istri, sesungguhnya adalah kesuksesan mereka bersama. Perlu wawasan, jiwa besar dan kemampuan menghargai pasangan yang sedemikian rupa sehingga mereka sungguh-sungguh menyatu lalu bersama-sama saling mendukung untuk menjadi yang terbaik sesuai versi  unik mereka masing-masing tanpa bersaing.
“Tunjukkan pada saya teman-temanmu, dan saya akan meramalkan masa depanmu.” Ungkapan bijak yang sangat terkenal ini, mengajarkan bahwa masa depan kita tidak akan jauh berbeda dengan kehidupan teman-teman kita. Jika Anda ingin maju, jadilah orang yang bersedia belajar menjadi orang yang berpikiran positif, berwawasan luas dan rendah hati. Hanya orang rendah hati yang bersedia dikritik, dikoreksi dan mau memperbaiki diri. Saat Anda menjadikan diri Anda demikian, orang-orang seperti itu pula yang tertarik kepada Anda. Orang yang sukses dan positif tidak suka bergaul dengan orang yang pesimis, minder dan suka mengeluh.
Ketika Anda berhasil membangun persahabatan dengan orang-orang yang maju, positif dan berwawasan luas, lalu Anda bersedia belajar dan bertindak dengan tekun tanpa mengenal lelah, tidak lupa membangun karakter yang baik, maka dengan sendirinya keberuntungan, kesuksesan dan kebahagiaan akan segera menghampiri Anda.
Selamat mencoba! Tuhan memberkati.
                                        Ada teman yang mendatangkan kecelakaan,
                     tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.
                                       Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,
                                     dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
                                                          The book of Proverb

by: Yenny Indra 

Source Photo:-signspinterest.com
Baik Untuk Dibaca
Portal Administrator 
Portal Sahabat 
Portal English 

Minggu, Oktober 12, 2014

Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel I, II, III, IV, V dan VI

1.    Babel Dikiaskan sebagai Pelacur, 17:1-18.
Sebagian dari hukuman cawan yang ketujuh, yaitu hukuman atas Babel diuraikan lebih lanjut pada ps. 17 dan 18.  Identitas Babel menjadi pokok penafsiran yang menonjol pada ps. 17:1-19:10.  Scheunemann memberikan topik pasal-pasal ini ialah “kejayaan dan kejatuhan Babel.”  Apakah Babel seorang manusia, sebuah kota, sebuah kerajaan, sebuah sistem, atau budaya?  Apa hubungan Babel pada ps. 17 dengan Babel pada ps. 18?  Hubunangannya dapat dilihat pada ayat-ayat berikut:
-    Percabulan dengan raja di bumi, 17:2 dan 18:3.
-    Sebutan kota besar, 17:18 dan 18:16.
-    Kekayaan, 17:4 dan 18:2-3.
-    Darah orang-orang kudus, 17:6 dan 18:24.
-    Pakaian yang mewah, 17:4 dan 18:16.
-    Cawan, 17:4 dan 18:6.
-    Dimusnahkan dengan api, 17:16 dan 18:8.
-    Dimusnahkan atas kehendak Allah, 17:17 dan 18:5 (Hagelberg, 300).
Rupanya Babel pada ps. 17 dan 18 adalah satu.  Ps. 17 memakai bahasa apokaliptik, sehingga Babel dilukiskan sebagai pelacur yang menjijikkan dan dinyatakan begitu buruk rohaninya.  Pada ps. 18, Babel yang sama dipandang dari sudut pedagang-pedagang di bumi, dinyatakan sebagai kota besar dan kaya, yang jatuh tiba-tiba.  Yang menjadi persoalan, apakah Babel itu kota atau hanya lambang?
Pada kitab Yesaya 47:7-10, Babel yang sebenarnya digambarkan dengan seorang wanita yang sombong, maka menggambarkan sebuah kota dengan seorang wanita bukanlah sesuatu yang aneh dalam Alkitab.  Tetapi jika kota Babel ditafsirkan secara harafiah, maka akan terjadi masalah, seperti pada ps. 18:11, mengapa pedagang-pedagang di bumi merasa tidak ada lagi yang membeli barang-barang mereka.
Tanggapan ini cukup kuat untuk menyatakan bahwa Babel adalah lambang sebuah kerajaan yang luas ataupun suatu sistem perdagangan dunia.  Tanggapan ini masuk akal kalau Babel adalah sebuah kota yang memiliki pengaruh dan perdagangan yang luas.
Mungkin nama Babel merupakan nama samaran dan nama yang sebenarnya bagi kota itu tetap dirahasiakan dalam kitab Wahyu.  Ada penafsir yang mengatakan bahwa Babel menunjuk kepada kota Roma karena kota Roma memiliki tujuh gunung, seperti yang disebutkan pada ps. 17:8.  Ada juga penafsir yang lain mengatakan bahwa Babel yang disebutkan dalam Perjanjian Lama akan dipulihkan kembali pada kitab Wahyu 17 dan 18.
Menurut Hagelberg dengan nada ragu-ragu bahwa Babel adalah kota-kota yang sudah mengalami globalisasi, yang semakin mewah dan semakin amoral, itulah Babel.  Berarti kota Babel menunjuk kepada kota modern di bumi, seperti: Hollywood, Hong Kong, San Fransisco, Shanghai, dan sebagainya.  Memang identitas Babel sulit dipastikan, tetapi kita dapat ditolong dengan garis besar berikut:
Pasal 16:19b, Babel dihukum.
Pasal 17, jatuhnya Babel dipandang sebagai rahasia apokaliptik yang dinyatakan.
Pasal 18, jatuhnya Babel dipandang dari bumi.
Pasal 19:1-6, tanggapan Surga mengenai jatuhnya Babel (Hagelberg, 301-302).
Menurut Scheunemann, Babel itu memunyai dua pengertian: Pertama, Babel (Yun. Babilon) adalah sebuah  kota kuno yang termasyhur.  Secara politik, Babel tidak berarti, tetapi dalam Imperium Romanum, Babel menjadi simbol untuk kehidupan dalam kemewahan dan standard hidup yang tinggi.
Kedua, Babel adalah nama kebudayaan Barat yang sudah meninggalkan Injil dan semua kebudayaan tanpa Tuhan dan kebudayaan yang melawan Tuhan.  Pengaruh perempuan sundal sama dengan Babel, yaitu mencakup seluruh dunia (17:5, 15).  Khususnya dosa seks, pesta pora, kehidupan mewah, kesombongan, egoistis, digambarkan dengan pakaian perempuan sundal (17:4-5).  Babel adalah nama samaran untuk sistem perdagangan kapitalistis yang hanya mencari keuntungan dengan mengorbankan jiwa manusia (18:11-13c) (Scheunemann, 149-150).
Ps. 17:1, “Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.”  Munculnya seorang dari ketujuh malaikat yang membawa ketujuh cawan mengaitkan bagian tentang Babel dengan hukuman ketujuh cawan.
Ternyata kata-kata yang sama dipakai pada ps. 21:9, di mana keadaan “pengantin perempuan, mempelai Anak Domba” dipertentangkan dengan “pelacur besar itu.”  Menurut Yes. 23:16, kota Tirus dikatakan sundal atau pelacur, begitu juga dengan kota Niniwe pada kitab Nahum 3:4.  Rupanya istilah “pelacur besar” menyatakan bahwa dia yang dihukum pada ps. 17 dan 18 sombong dan penuh dengan berhala, sama seperti Tirus dan Niniwe.
Bagi Walvoord dan beberapa penafsir Injili lainnya mengatakan bahwa “pelacur besar” yang diceritakan pada ps. 17 melambangkan orang-orang Kristen yang telah mencampakkan segala ajaran Kristus.  Tafsiran demikian didasarkan pada pemakaian konsep pelacuran yang melambangkan Israel yang tidak setia dan disebut sebagai pelacur pada Yeh. 16 dan 23 dan pada kitab Hosea.
Unsur yang paling menonjol pada agama palsu dan penyembahan berhala, tetapi yang paling menonjol pada pasal ini ialah dosa seks dan materialisme.  Dua dosa ini yang paling meningkat di kota-kota besar pada masa modern ini.  Penyembahan berhala memunyai hubungan erat dengan materialisme dan dosa seks.  Sekularisme modern dinodai dengan dosa seks, materialisme, dan juga agama palsu.  Pada ps. 17, kita dapat belajar sebuah kota besar pada akhir zaman dalam bahasa apokaliptik, demikian kita dapat melihat penilaian “budaya global” melalui pasal ini.
Pada kitab Yer. 51:13, Babel yang sebenarnya memang disebutkan, “Engkau yang tinggal di tepi sungai besar ....”  Babel yang sebenarnya memang tinggal di tempat yang “banyak airnya.”  Pasal 17:1-3 merupakan pendahuluan dari visi mengenai Babel (Hagelberg, 303-305).
Ps. 17:2, “Dengan dia raja-raja di bumi telah berbuat cabul, dan penghuni-penghuni bumi telah mabuk oleh anggur percabulannya.”  Pada kitab Yer. 51:7 dituliskan, “Babel tadinya seperti piala emas di tangan Tuhan yang memabukkan seluruh bumi.  Bangsa-bangsa yang minum dari anggurnya, itulah sebabnya bangsa-bangsa menjadi gila.”  Babel yang lama dan Babel yang akan datang memengaruhi raja-raja dan penghuni-penghuni bumi dengan pengaruh yang buruk.  Pemakaian istilah “anggur percabulannya” menyatakan bahwa dalam bagian ini dosa seksual dimaksudkan sebagai dosa utama.  “Anggur” adalah minuman yang merangsang peredaran darah dan dapat memabukkan serta menyebabkan tindakan yang lepas kontrol.  Anggur juga memunyai daya tarik, yang membuat ketagihan.  Kebanyakan minum anggur akan mengarahkan orang kepada percabulan (Wongso, 689).
Ps. 17:3, “Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat seorang perempuan duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Binatang itu mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.”  Pada ayat 1 dikatakan pelacur itu duduk di atas tempat yang banyak airnya, tetapi pada ayat 3 dikatakan bahwa pelacur itu duduk di atas seekor binatang.  Ada dua kebenaran yang disampaikan kepada pembaca melalui gambaran ini:  Pertama, dia menguasai banyak orang.  Kedua, dia didukung oleh Anti-Kristus, yaitu binatang yang memunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk (bnd 13:1). 
Pada ayat 3, ada hal yang sepertinya kontra dengan ayat 1.  Pada ayat 1 dikatakan bahwa perempuan itu duduk di atas tempat yang banyak airnya, sedangkan pada ayat 3, dia duduk di atas seekor binatang di “padang gurun.”  Menurut Beasley-Murray bahwa Yohanes mengingat nubuat Yesaya terhadap Babel yang berjudul, “Ucapan ilahi terhadap padang gurun di tepi laut” (Yes. 21:1) (Guthrie, ed., 962).
Yohanes melihat bahwa binatang itu “merah ungu”, warna yang sangat indah sering dikaitkan dengan dosa, seperti pada Yes. 1:18.  Pada ps. 13:1-6, dikatakan bahwa binatang itu menghujat nama Allah.  Tema yang sama ditekankan dalam ayat ini.  Apa yang dikatakan tentang pelacur itu jauh berbeda mengenai mempelai Kristus pada ps. 21:2.
Ps. 17:4, “Dan perempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang dihiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.”  Kemewahan dan kebobrokan moral kota itu diungkapkan di sini dengan hidup.  Pakaian yang digambarkan dalam ayat ini menyatakan kemewahan, karena cat warna yang dipakai sangat mahal.
Pakaian pelacur itu jauh berbeda dengan pakaian mempelai Kristus yang memakai lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih (19:8).  Pelacur itu memegang “cawan emas” yang selayaknya penuh dengan minuman yang baik dan bermutu, tetapi cawan itu merupakan tipu muslihat, karena isinya hanya segala kekejian dan kenajisan percabulannya (Hagelberg, 307).
Ps. 17:5-6, “Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: "Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi."  Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran.”  Nama samaran dari pelacur itu memberi kesan bahwa wanita itu menjadi sumber dari segala pelacur, sumber dari segala kekejian.
Penganiayaan orang Kristen pada zaman kaisar Nero dan Domitianus tidak sebanding dengan penganiayaan yang ada pada ayat 6.  Dipamerkannya nama pelacur itu pada dahinya, mungkin menyindir kebiasaan pelacur Romawi yang memamerkan nama-nama mereka pada dahinya.
Ps. 17:7-8, “Lalu kata malaikat itu kepadaku: "Mengapa engkau heran? Aku akan mengatakan kepadamu rahasia perempuan itu dan rahasia binatang yang memikulnya, binatang yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh itu.  Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi.”
Yesus Kristus disebut sebagai “yang ada dan yang sudah ada, dan yang akan datang.”  Anti-Kristus memunyai suatu kemiripan, namun dia tidak sama dengan Tuhan.  Ada penafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah Roma, yang telah ada, namun tidak ada, tetapi akan muncul kembali dari jurang maut dan akan mencapai pekerjaan yang mengerikan seperti Firaun, raja-raja Asyur, dan Antiokhus Epifanes pada zaman purba (Guthrie, ed., 963).
Ps. 17:9-10, “Yang penting di sini ialah akal yang mengandung hikmat: ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk, ketujuhnya adalah juga tujuh raja: lima di antaranya sudah jatuh, yang satu ada dan yang lain belum datang, dan jika ia datang, ia akan tinggal seketika saja.”  Akal yang mengandung hikmat belum tentu disediakan bagi kita zaman ini, mungkin hikmat itu disimpan sampai tiba akhir zaman.  Pada Ul. 29:29, dikatakan yang tersembunyi ialah bagi Allah ....  Memang ketujuh bukit ada di kota Roma yang sudah terkenal sejak zaman dulu, tetapi hal itu tidak memberikan jaminan bahwa kota Roma adalah si pelacur besar.
Tujuh kepala memunyai makna tujuh raja.  Menurut Walvoord, ketujuh gunung dan ketujuh raja adalah menunjuk kepada tujuh kerajaan besar, yaitu Yunani, Persia, Babel, Asyur, Mesir, Roma, dan satu kerajaan yang akan muncul pada akhir zaman.  Menurut Beasley-Murray, tujuh raja yang disebutkan adalah kaisar-kaisar Roma dan satu raja yang akan datang pada akhir zaman.  Masalahnya dengan pendekatan ini adalah daftar kaisar yang sebenarnya, sulit disesuaikan dengan pernyataan ayat ini (Hagelberg, 310-311).
Ps. 17:11-12, “Dan binatang yang pernah ada dan yang sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah raja kedelapan dan namun demikian satu dari ketujuh itu dan ia menuju kepada kebinasaan.  Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu adalah sepuluh raja, yang belum mulai memerintah, tetapi satu jam lamanya mereka akan menerima kuasa sebagai raja, bersama-sama dengan binatang itu.”
Simbolisme yang dipakai semakin rumit.  Semula binatang itu memunyai tujuh kepala, tetapi pada ayat ini binatang itu sepertinya menjadi satu dengan ketujuh kepala.  Dalam sastera apokaliptik, gambaran tidak dapat diartikan sebagai foto.  Rupanya Anti-Kristus turun menjadi raja yang sejajar dengan ketujuh raja itu.
Walaupun sulit untuk mengidentifikasi binatang itu, tetapi yang pokok dan yang ditekankan ialah binatang itu menuju kebinasaan (Ibid, 311).  Rupanya ketujuh atau delapan raja yang diungkapkan pada 17:11 memerintah satu per satu, sedangkan kesepuluh raja yang disebutkan pada ayat ini memerintah pada waktu yang sama, yaitu pada akhir zaman.  Beasley-Murray mengatakan bahwa mungkin kesepuluh raja itu adalah raja  yang telah dinubuatkan pada ps. 16:12, yang berbunyi, “Dan malaikat keenam menumpahkan cawan ke atas ... sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur.” (Ibid, 312).
Ps. 17:13-14, “Mereka seia sekata, kekuatan dan kekuasaan mereka mereka berikan kepada binatang itu.  Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”  Kelompok raja-raja atau bangsa-bangsa ini akan menyerahkan kekuatan dan kekuasaan mereka kepada Anti-Kristus.  Pada ayat 14 dikatakan orang-orang percaya, khususnya para pembaca mula-mula diberikan jaminan bahwa mereka akan mengalahkan Anti-Kristus.
Ps. 17:15, “Lalu ia berkata kepadaku: “Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.” Ini tidak berarti bahwa semua air dalam kitab Wahyu melambangkan bangsa-bangsa.  Air yang dimaksudkan adalah air yang dilihat Yohanes, di mana wanita pelacur itu duduk.  Gambaran itu mengesankan: sama seperti air yang banyak dapat mendatangkan banjir dan membawa semua yang ada di depannya dalam kekacauan, demikian juga kekejian dan kenajisan dibawa di mana-mana oleh bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa yang dipengaruhi oleh pelacur besar itu (Ibid, 314).
Ps. 17:16-18, “Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi dan telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api.  Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi.  Dan perempuan yang telah kaulihat itu, adalah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi.”
Dalam kitab Wahyu, kejahatan memunculkan dirinya dalam dua bentuk, yaitu Anti-Kristus beserta dengan raja-raja yang bersekutu dengan dia dan kota Babel beserta dengan raja-raja yang berbuat cabul dengan Babel.
Anti-Kristus memakai kekerasan untuk mengancam agar manusia menyembah dia, sedangkan Babel memakai daya tarik dosa seksual dan materialisme untuk memikat manusia.  Dua bentuk ini merupakan ancaman bagi orang-orang Kristen.  Pada ayat 16, kesepuluh raja yang memihak kepada Anti-Kristus membenci pelacur itu, bahkan mereka membakarnya dengan api.  Berarti yang jahat melawan yang jahat.  Ayat 17 menyatakan bahwa walaupun Anti-Kristus dan sepuluh raja tetap melawan Tuhan, tetapi Allah dapat memakai mereka untuk melaksanakan kehendak-Nya, yang dalam kasus ini bertujuan untuk menghakimi Babel atau pelacur itu.
Pada zaman Yohanes, Roma-lah kota besar yang memerintah atas raja-raja di bumi.  Seandainya orang Kristen menafsirkan ayat ini pada zaman itu, pasti yang dimaksudkan ialah kota Roma sendiri.  Pelacur yang dikisahkan pada ps. 17 adalah kota besar yang dikisahkan pada ps. 18, berarti ayat 18 merupakan peralihan ke ps. 18.

2.    Kota Babel Dimusnahkan, 18:1-24.
Pada ps. 17 kita telah melihat penilaian atas “budaya global” atau “sekularisme” secara apokaliptik, sementara ps. 18 menggambarkan sifat dan nasip budaya global, yang terpusat di kota Babel.  Pada ps. 17, ditekankan segi rohani dari sekularisme, sedang pada ps. 18 ditekankan segi jasmaninya.
a.    Pemusnahan Babel Diberitakan, 18:1-8.
Ps. 18:1-2, “Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya.  Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, ...”
Pada kitab Yeh. 43:2 dituliskan bahwa kemuliaan Allah Israel datang ... dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya, tetapi dalam ayat ini hanya malaikat yang datang.  Sebutan kekuasaan besar serta penjelasan mengenai terang menyatakan bahwa dia bukan malaikat biasa.  Jatuhnya Babel telah dinubuatkan pada Yes. 21:9.  Karena beratnya hukuman atas Babel, maka raja-raja di bumi tidak mau tinggal di dalamnya , sehingga yang tinggal “hanya roh-roh jahat, roh najis, burung yang najis” (Ibid, 316-317).
Ps. 18:3, “karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.”  Menurut ayat ini, kota Babel dihukum berat karena telah melibatkan orang lain (semua bangsa, raja-raja di bumi, dan pedagang-pedagang) berbuat dosa.
Ps. 18:4, “Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya.”  Suara ini memanggil mereka dengan sebutan umat-Ku.  Pada akhir zaman perintah ini merupakan perintah untuk mengungsikan diri dari kota Babel, tetapi sepanjang sejarah panggilan ini merupakan panggil untuk tidak kompromi dengan dosa-dosa yang baisa dilakukan Babel.
Pada ps. 2 dan 3, Tuhan juga memberikan perintah supaya jangan mengambil bagian dalam dosa-dosa mereka agar tidak ditimpa malapetaka-malapetaka (Ibid, 318).
Ps. 18:5-6, “Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya.  Balaskanlah kepadanya, sama seperti dia juga membalaskan, dan berikanlah kepadanya dua kali lipat menurut pekerjaannya, campurkanlah baginya dua kali lipat di dalam cawan pencampurannya; ...”  Istilah dosa Babel sudah bertimbun-timbun sampai ke langit, mungkin dilatarbelakangi kitab Yer. 51:9 yang berkata bahwa dosa Babel “sudah sampai ke langit, sudah menjangkau awan-awan.”  Karena itu adalah mustahil dilupakan.
Malaikat yang berbicara atas nama Allah, yang menyuruh umat-Nya pergi dari dosa Babel, memerintahkan kepada para malaikat lainnya untuk melakukan pembalasan.  Patokannya seperti hukum Perjanjian Lama, “gigi ganti gigi, mata ganti mata, dsb” tidak cukup diterapkan kepada Babel yang telah menyesatkan segala bangsa, tetapi dua kali lipat, seperti yang dinubuatkan pada Yer. 16:18.  Menurut Ladd bahwa ungkapan ini merupakan idiom yang berarti “hukuman yang lengkap, yang penuh (Ibid, 319).
Ps. 18:7, “...berikanlah kepadanya siksaan dan perkabungan, sebanyak kemuliaan dan kemewahan, yang telah ia nikmati. Sebab ia berkata di dalam hatinya: Aku bertakhta seperti ratu, aku bukan janda, dan aku tidak akan pernah berkabung.”  Hukuman tuaian juga berlaku bagi Babel yang perkasa dan sombong, seperti bunyi firman Tuhan, “Apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya” (Gal. 6:7).  Pada Yes. 47:7-8, terdapat kata-kata kesombongan dari Babel yang tetap menjadi ratu ....  Dan ternyata Tuhan akan membalaskan atau membalikkan keadaan mereka itu.
Ps. 18:8, “Sebab itu segala malapetakanya akan datang dalam satu hari, yaitu sampar dan perkabungan dan kelaparan; dan ia akan dibakar dengan api, karena Tuhan Allah, yang menghakimi dia, adalah kuat.”  Pada ayat 7, Babel berkata aku tidak akan pernah berkabung, suatu sikap yang kontras dengan kenyataan pada ayat 8, yaitu segala malapetakanya akan datang dalam satu hari.
Pada akhir dari zaman akhir itu, Babel akan dibakar dengan api, seperti nubuatan nabi Yeremia pada ps. 51.  Kesombongan Babel akan lenyap oleh tindakan Tuhan Allah yang kuat.
b.    Tanggapan Dunia, 18:9-19.
Raja-raja di bumi, pedagang-pedagang, nahkoda-nahkoda, dan pelayar, yaitu orang-orang yang telah memperkaya diri mereka melalui kejayaan Babel akan menangis dan meratap.
Ps. 18:9, “Dan raja-raja di bumi, yang telah berbuat cabul dan hidup dalam kelimpahan dengan dia, akan menangisi dan meratapinya, apabila mereka melihat asap api yang membakarnya.”  Yang meratap pada ayat ini adalah yang disebut sebagai raja-raja di bumi, bukan kesepuluh tanduk atau kesepuluh raja, yang bersekutu dengan Anti-Kristus untuk memusnahkan Babel (17:12-17).  Mereka yang disebutkan pada ayat ini adalah sekutu Babel, sedangkan kesepuluh raja pada ps. 17 adalah raja-raja yang membenci Babel.  Bagian ini mirip dengan tulisan Yehezkiel ps. 26:16-18 tentang kota Tirus (Ibid, 320-321).
Ps. 18:10, “Mereka akan berdiri jauh-jauh karena takut akan siksaannya dan mereka akan berkata: “Celaka, celaka engkau, hai kota yang besar, Babel, hai kota yang kuat, sebab dalam satu jam saja sudah berlangsung penghakimanmu!”  Isi dari setiap ratapan adalah sama, yaitu dalam satu jam saja sudah berlangsung penghakimanmu!  Dari sekian banyak raja, tidak ada satu raja pun yang berani datang menolong Babel.  Mereka hanya berdiri jauh-jauh dan menangis (Guthrie, ed., 965).
Ps. 18:11, “Dan pedagang-pedagang di bumi menangis dan berkabung karena dia, sebab tidak ada orang lagi yang membeli barang-barang mereka,...”  Mereka berdukacita, bukan karena sahabat mereka gugur, tetapi karena bisnis mereka merugi besar.  Dengan jatuhnya Babel, pasaran barang mewah pun ikut hancur.  Bandingkan daftar bangsa-bangsa pedagang yang berdagang dengan Tirus (Yeh. 27:12-24).
Ps. 18:12-13, “... yaitu barang-barang dagangan dari emas dan perak, permata dan mutiara, dari lenan halus dan kain ungu, dari sutera dan kain kirmizi, pelbagai jenis barang dari kayu yang harum baunya, pelbagai jenis barang dari gading, pelbagai jenis barang dari kayu yang mahal, dari tembaga, besi dan pualam, kulit manis dan rempah-rempah, wangi-wangian, mur dan kemenyan, anggur, minyak, tepung halus dan gandum, lembu sapi, domba, kuda dan kereta, budak dan bahkan nyawa manusia.”
Secara tidak langsung nas ini mengecam dan juga mencela kemewahan dan pemborosan Roma, demikian juga kekayaan Laodikia.  Beasley-Murray berkata bahwa Babel berdosa karena Babel memakai barang mewah itu untuk menarik raja-raja dari Allah ke dalam materialisme dan penyembahan kepada Mamon.
Menurut Bauckhman, daftar ini ditambah dengan nyawa manusia sebagai puncaknya, mengecam eksploitasi dan kolonialisme yang dijalankan melalui kuasa militer dan tipu daya materialisme.  Jumlah barang mewah yang mereka dagangkan ada 28 macam, yaitu 4 x 7 = 28.  Angka 4 melambangkan semesta alam dan angka 7 melambangkan kelengkapan, maka daftar ini mewakili segala barang mewah yang ditawarkan oleh dunia kepada manusia, yaitu seluruh perbendaharaan mereka (Hagelberg, 324).
Ps. 18:14-16, “Dan mereka akan berkata: “Sudah lenyap buah-buahan yang diingini hatimu, dan segala yang mewah dan indah telah hilang dari padamu, dan tidak akan ditemukan lagi.”  Mereka yang memperdagangkan barang-barang itu, yang telah menjadi kaya oleh dia, akan berdiri jauh-jauh karena takut akan siksaannya, dan sambil menangis dan meratap, mereka berkata: “Celaka, celaka, kota besar, yang berpakaian lenan halus, dan kain ungu dan kain kirmizi, dan yang dihiasi dengan emas, dan permata dan mutiara, sebab dalam satu jam saja kekayaan sebanyak itu sudah binasa.”
Yang berkata atau berbicara pada ayat 14 kurang jelas.  Rupanya sewaktu para pedagang mengatakan ini kepada Babel, mereka mengatakannya sambil menangis.  Menurut Mounce, kata “mewah” pada ayat 14 adalah menunjuk pada makanan yang diimpor dari jauh, sedangkan kata “indah” pada ayat yang sama adalah menunjuk pada pakaian dan hiasan yang mahal dan luar biasa (Ibid, 325).  Pada ayat 16, nampak bahwa mereka sangat terkesan melihat sebuah kota yang dapat mencapai puncak kejayaan dalam bidang harta, bisa hancur dalam waktu yang singkat.
Ps. 18:17-18, “Dan setiap nakhoda dan pelayar dan anak-anak kapal dan semua orang yang mata pencahariannya di laut, berdiri jauh-jauh, dan berseru, ketika mereka melihat asap api yang membakarnya, katanya: “Kota manakah yang sama dengan kota besar ini?”  Pada ps. 18:17-19, ucapan dukacita diteruskan oleh kelompok yang ketiga, yaitu mereka yang terlibat dalam usaha pengiriman barang, sama seperti raja-raja dan pedagang-pedagang, mereka hanya dapat berdiri jauh-jauh.  Pada kitab Yehezkiel ps. 27:32 ditulis, “Dalam meratap karena engkau mereka mengucapkan, menangis ratapan: Siapa seperti Tirus, yang sudah dimusnahkan di tengah lautan?” (Ibid, 326).
Ps. 18:19, “Dan mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka dan berseru, sambil menangis dan meratap, katanya: “Celaka, celaka, kota besar, yang olehnya semua orang, yang mempunyai kapal di laut, telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal, sebab dalam satu jam saja ia sudah binasa.”  Kata kerja “menangis dan meratap” dipakai 3 kali pada ps. 18:11, 15, dan 19.  Istilah celaka diucapkan 3 kali pada ps. 18:10, 16, dan 19.  Frasa “dalam satu jam saja” juga diulangi 3 kali pada bagian ini, pada ps. 18:10, 16, dan 19.
Tanggapan dunia terhadap Babel yang dimusnahkan, yaitu mereka berdukacita, bukan karena kehilangan sahabat mereka, tetapi karena mereka kehilangan sumber pendapatan mereka.  Setelah itu kita melihat tanggapan Surga dikisahkan pada ps. 18:20-24.
c.    Babel tidak akan Dipulihkan, 18:20-24.
Ps. 18:20, “Bersukacitalah atas dia, hai surga, dan kamu, hai orang-orang kudus, rasul-rasul dan nabi-nabi, karena Allah telah menjatuhkan hukuman atas dia karena kamu.”  Di sini Allah menghibur umat-Nya.  Hai kamu yang dianiaya oleh pelacur besar, hai kamu yang darahnya diminum olehnya, inilah kemenanganmu.  Pemakaian kata “karena kamu” memberikan penegasan bahwa mereka yang berseru dan berdoa pada ps. 6:10 dan 8:3-4, akhirnya dihiburkan.
Pada ps. 6:11, kita membaca bahwa mereka yang dianiaya harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap kawan-kawan pelayan dan saudara mereka, yang dibunuh sama seperti  mereka.  Ps. 18:20, mengisahkan saat genapnya jumlah kawan-kawan ... yang akan dibunuh.  Di sini terjadi peralihan dari dukacita ps. 18:2-18 kepada keadaan sukacita pada ps. 18:19-19:6 (Ibid, 328).
Ps. 18:21, “Dan seorang malaikat yang kuat, mengangkat sebuah batu sebesar batu kilangan, lalu melemparkannya ke dalam laut, katanya: “Demikianlah Babel, kota besar itu, akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi.”  Pada kitab Yes. 20, Yer. 13, dan Yeh. 4, nabi Allah mempergunakan alat peraga untuk menegaskan berita.
Demikian juga pada ayat 21 ini, seorang malaikat yang kuat memakai batu sebesar kilangan sebagai alat peraga.  Sebuah batu besar yang dilemparkan ke dalam laut, tidak akan ditemukan lagi, demikian pun dengan kota Babel.  Nas ini mengingatkan pembaca akan nubuatan nabi Yeremia pada ps. 51:63-64 dan nabi Yehezkiel pada ps. 26:21.
Ps. 18:22, “Dan suara pemain-pemain kecapi dan penyanyi-penyanyi, dan peniup-peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi di dalammu, dan seorang yang ahli dalam sesuatu kesenian tidak akan ditemukan lagi di dalammu, dan suara kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu.”  Pada ayat 9-19 dijelaskan tentang Babel yang dimusnahkan dari jauh, tetapi pada ayat ini Babel dimusnahkan dari dalam.
Ps. 18:23-24, “Dan suara pemain-pemain kecapi dan penyanyi-penyanyi, dan peniup-peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi di dalammu, dan seorang yang ahli dalam sesuatu kesenian tidak akan ditemukan lagi di dalammu, dan suara kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu.”  Ada 3 alasan bagi hukuman yang begitu berat jatuh: Pertama, bahwa pedagang-pedagangmu adalah pembesar-pembesar di bumi.  Dengan melipatgandakan materi, maka mereka menjadi kaya dan terpandang.
Kedua, bahwa oleh sihirmu semua bangsa disesatkan.  Dengan ilmu sihir, Babel telah menipu bangsa-bangsa, sama seperti Niniwe pada Nahum 3:4.  Ketiga, bahwa kota Babel bertanggung jawab atas pembunuhan nabi-nabi, orang-orang kudus, dan semua orang yang dibunuh di bumi.  Darah yang seperti itu tidak berharga pada ps. 2 dan 3, tetapi pada pasal ini ternyata darah itu sangat berharga.  Pasal ini juga mengingatkan bahwa kekayaan dan kemewahan harta benda hanya bersifat sementara.  Semuanya akan dibakar.  Jemaat Laodikia disadarkan supaya mereka tidak bersandar pada kekayaan mereka, tetapi harus bertobat.

3.    Sukacita di Surga, 19:1-10.
Ps. 19:1-10 merupakan lanjutan dari kisah penghukuman atas Babel.  Pada bagian ini, dukacita atas hukuman pelacur besar itu beralih menjadi sukacita atas pesta pernikahan Anak Domba dan mempelaiNya yang kudus.  Kontras antara pelacur dan mempelai ditonjolkan.  Juga kontra antara Babel dan Yerusalem baru.
Setiap pribadi di Surga akan memuji Allah karena Babel dihukum.  Sukacita mereka kontras dengan keadaan di bumi, sebab di bumi manusia berdukacita ketika menyaksikan hukuman yang menimpa Babel.
Ps. 19:1-2, “Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di surga, katanya: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.”
“Himpunan besar orang banyak di Surga” adalah menunjuk kepada para nabi dan orang-orang kudus yang mati demi kesetiaan terhadap kebenaran Tuhan (18:24).  Mendengar penghakiman Kristus ini, mereka memuji kesetiaan dan keadilan Allah yang telah membela mereka dan memuji Allah, karena telah menghukum pelacur itu.
Kata “haleluya” dalam bahasa Ibrani halal-jah atau dalam bahasa Yunani hallelouia artinya puji Tuhan (Wongso, 739).  Alasan mereka memuji Tuhan karena besar dan adil segala penghakiman-Nya.
Ps. 19:3, “Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: "Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.”  Sesuai dengan ps. 17:16; 18:8-9, 18 bahwa Babel akan dibakar dengan api.  Pada Yes. 34:8-9, negeri Edom juga dihukum Tuhan dan asapnya naik untuk selama-lamanya (Hagelberg, 333).
Ps.19:4, “Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: “Amin, Haleluya.”  Ayat ini berisi tanggapan dari kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk yang menyembah Allah karena adanya penghakiman yang benar dan adil atas pelacur besar itu (Wongso, 740).  Pada ps. 4:10; 5:8, 14; 7:11; 11:16; 19:4, kedua puluh empat tua-tua jatuh tersungkur dan pada ps. 4:10; 5:8; 7:11, keempat makhluk itu juga jatuh tersungkur.
Ps. 19:5, “Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”  Identitas suara itu tidak dijelaskan.  Beasley-Murray berkata bahwa suara itu berasal dari salah satu dari ke-4 makhluk itu, karena mereka yang paling dekat dengan takhta dan tidak mungkin Kristus yang berkata: Pujilah Allah kita (Guthrie, ed., 968).
Ps. 19:6, “Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.”  Pada ayat ini, mereka merayakan kedatangan kerajaan Allah.  Pujian mereka menarik, dengan berkata bahwa Tuhan Yesus telah menjadi raja, seolah-olah nubuatan pada ps. 19:11-20:3 sudah datang (Hagelberg, 334-335).
Kristus telah menjadi raja, berarti Setan, naga, pengikutnya, nabi palsu, dan bangsa-bangsa yang sudah menjadi pengikutnya, semuanya akan menghadapi penghakiman Kristus yang mutlak berkuasa.  Ia menjadi raja bukan setelah Ia melaksanakan penghakiman, tetapi suatu pengumuman mengenai kenyataan bahwa Ia telah menjadi raja (Wongso, 740).
Ps. 19:7, “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.”  Istilah “pengantin” di sini adalah kebalikan dari si pelacur besar yang dimusnahkan.  Ladd mengatakan bahwa perkawinan Anak Domba sama sekali tidak diceritakan secara langsung dalam firman Tuhan.  Ayat ini hanya mengumumkan tibanya perkawinan Anak Domba, tetapi peristiwa itu sendiri tidak diceritakan sama sekali.
Tetapi kalau kita merenungkan Yes. 25:6; Mat. 8:11; 22:2-14; 26:29, dan Luk. 14:15-24, maka kita akan menemukan kesan bahwa ada hubungan erat antara perkawinan Anak Domba dengan kerajaan seribu tahun (Hagelberg, 335-336).  Pada 2Kor. 11:2, jemaat digambarkan sama dengan mempelai perempuan.
Ps. 19:8, “Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]”  Ayat ini dapat diperbandingkan dengan ps. 17:4, di mana pakaian pelacur besar itu adalah “kain ungu dan kain kirmizi, yang dihiasi dengan emas, permata, dan mutiara”, tetapi pakaian pengantin Kristus adalah “lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih.”
Ps. 19:9, “Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.”  Ungkapan “perjamuan kawin” menunjukkan kesukacitaan bersama, bukan menunjuk kepada pesta pora, makan, dan mabuk-mabukan atau fenomena yang sama dengan pesta kawin di dunia ini (Wongso, 741).
Ayat 9 ini ditujukan kepada jemaat-jemaat di Asia Kecil yang dianiaya untuk meyakinkan mereka bahwa mereka-lah yang berbahagia jika mereka setia dan secara khusus kepada jemaat Laodikia yang merasa kaya diyakinkan bahwa apa yang mereka sedang nikmati bukan-lah kebahagiaan  yang sejati.
Ps. 19:10, “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.”  Malaikat Allah tidak boleh disembah.  Mungkin karena malaikat itu begitu dahsyat, sehingga Yohanes menyembah dia, tetapi malaikat itu menegur dia karena malaikat adalah juga hamba Tuhan.
Ps. 19:9-10, merupakan penutup dari kisah pemusnahan pelacur besar.  Pembukaan kisah 17:1-3 mirip dengan ps. 21:9-10.  Demikian juga penutup kisah pelacur besar itu mirip dengan penutup kisah pengantin Kristus (19:9-10 mirip 22:6-9).

4.    Dia Kembali, 19:11-16.
Antara kisah pelacur besar atau Babel (17:1-19:10) dan kisah pengantin Kristus atau Yerusalem baru (21:9-22:10) terdapat peralihan kerajaan atau kisah kedatangan Krisus.  Di sini sangat ditekankan kisah kemenangan-Nya atas segala yang melawan Dia (Hagelberg, 338-339).  Bagian ini berisi penghakiman Mesianis atas Harmagedon (Guthrie, ed., 969).
Ps. 19:11, “Lalu aku melihat surga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.”  “Nama Yang Setia dan Yang Benar” mengingatkan kita pada ps. 3:14.  Ayat ini menekankan syarat bagi seorang hakim; Ia harus setia dan benar serta yang adil.  Yesus tidak menghakimi denan sekilas pandang, tetapi Ia menghakimi dengan benar dan adil.
Ps. 19:12, “Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri.”  Ada beberapa unsur di sini yang mengaitkan penglihatan ini dengan pasal 1 dan juga sifat-sifat Kristus pada ps. 2 dan 3.  Dia adalah “Yang Setia dan Yang Benar”, mataNya bagaikan nyala api, berarti Dia yang menghibur umatNya pada ps. 2 an 3, Dia juga yang akan datang sebagai hakim pada akhir zaman (Hagelberg, 340).
Ps. 19:13, “Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah.”  Walaupun Ia belum terjun ke dalam peperangan, jubah yang Dia pakai telah dicelup ke dalam darah.  Rupanya “darah” yang disebutkan pada ayat ini adalah darah-Nya sendiri, berarti Dia yang datang menghakimi dunia adalah Dia yang telah datang untuk menyelamatkan.  Kata “firman Allah” dalam bahasa aslinya ho logos tou theou (the word of God) bukan menunjuk kepada kata-kata, melainkan menunjuk kepada pribadi, seperti yang dituliskan oleh Yohanes pada Injil Yohanes ps. 1:1-3.
Ps. 19:14-15, “Dan semua pasukan yang di surga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih.  Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa.”
Siapakah yang mengikuti Dia dari Surga?  Apakah para malaikat atau orang-orang yang sudah menang?  Menurut Beasley-Murray bahwa pasukan dari Surga meliputi pasukan malaikat dan mungkin juga orang-orang kudus yang telah bangkit (Guthrie, ed., 970).
Kalau ayat ini merupakan penggenapan ps. 17:14, maka ayat ini menggambarkan keadaan mereka yang sudah menerima dan menuruti segala yang diperintahkan pada ps. 2 dan 3.  Sama seperti Kristus, mereka juga akan menunggangi kuda putih sebagai lambang kekudusan dan kemenangan Juruselamat dan Raja mereka (Hagelberg, 341).
Bagaimana Ia menghakimi mereka yang diam di bumi, dikiaskan dengan tiga kiasan yang diambil dari Perjanjian Lama, yaitu: “dengan pedang tajam yang keluar dari mulutNya, gada besi, dan kilangan anggur.”  Pada penglihatan Yohanes ps. 1:16, Yohanes sudah bersaksi tentang pedang yang tajam yang bermata dua keluar dari mulutNya.  Ia akan memerintah dengan gada besi, lebih dijelaskan lagi Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah.  Sama seperti anggur diinjak-injak, demikian juga mereka akan menderita.  Kiasan ini, yang diambil dari Yes. 63:2-4 juga dipakai pada Wahyu 14:19-20.
Ps. 19:16, “Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”  Selain nama pada ps. 19:13, yaitu “Firman Allah”, Dia juga memunyai nama Raja segala raja, Tuan segala tuan.  Nama itu tertulis pada jubah, rupanya supaya terlihat waktu berperang (Hagelberg, 343).
5.    Dia Mengalahkan Binatang itu serta Tentaranya, 19:17-21.
Pada bagian ini diceritakan tentang pesta perjamuan lain, yang suasananya berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya.  Pesta perjamuan yang dikisahkan pada bagian ini menceritakan kesusahan, penderitaan, dan maut, sama sekali tanpa pengharapan.
Pada pesta ini yang diundang adalah burung-burung pemakan bangkai dan yang dimakan adalah daging semua raja, panglima, dan pahlawan serta daging semua kuda dan penunggangnya dan daging semua orang, yaitu semua orang yang telah memihak pada Anti-Kristus dan melawan Tuhan.  Pada kitab Wahyu, ada dua wanita, dua kota, dan juga ada dua perjamuan.  Nas ini mirip dengan Yes. 39:17-20 sebuah nubuatan mengenai pesta korban di akhir zaman (Hagelberg, 343-345).
Ps. 19:17-18, “Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: “Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar, supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar.”
Inilah deskripsi dalam bentuk syair yang melukiskan keruntuhan besar dari Anti-Kristus.  Malaikat adalah agen untuk memanggil burung-burung di udara untuk datang berpesta daging manusia.  Perjamuan ini disebut perjamuan Allah karena diadakan oleh Allah sendiri.  Suasana perjamuan ini merupakan kebalikan dari suasana perjamuan yang biasa dilakukan oleh manusia.  Bukan manusia yang diundang, melainkan burung-burung bangkai dan yang dimakan adalah daging-daging manusia.  Nubuatan ini menghibur mereka yang ada di Smirna yang dianiaya oleh para pembesar dan para pejabat.  Istilah “semua orang” sebenarnya berarti segala macam orang tanpa terkecuali (Ibid).
Ps. 19:19, “Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya.”  Persiapan dari peperangan ini diceritakan pada ps. 16:12-16.  Yang berperan di sini hanya Penunggang kuda saja, tentaraNya hanya menyaksikan kemenanganNya (Ibid).
Ps. 19:20, “Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.”
Nyatanya tidak ada pertarungan maut, Anti-Kristus dan nabi palsunya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api.  Istilah “lautan api” hanya dipakai pada kitab Wahyu.  Istilah “gehenna” (lembah ben-hinom dalam Yer. 7:31) menunjuk kepada tempat yang sama dan dipakai 12 kali dalam Perjanjian Baru.  Binatang itu dan nabi palsu adalah yang pertama dilemparkan ke dalam lautan api.  Setelah itu Iblis (20:10), maut, dan kerajaan maut (20:14), dan segala orang jahat (21:8) juga dilemparkan ke dalamnya (Ibid).
Ps. 19:21, “Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.”  Rupanya pedang yang keluar dari mulut Penunggang kuda adalah kiasan untuk firman Kristus.  Penghakiman yang digambarkan di sini nampaknya mengandung penghancuran jasmani dari mereka yang terlibat, roh-roh mereka mungkin sekali dikirimkan ke hades, kerajaan maut (Guthrie, ed., 971).

Bersambung …

by : Pdt. Markus Lingga, MDiv Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Diktat Kitab Wahyu Part 6
Portal Flashback Songs
Portal Pdt.Markus Lingga
Portal NKI

Jumat, Oktober 10, 2014

PGI dan KWI telah menyepakati tema natal tahun 2014 yaitu 
"Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga (Bdk.Imamat 26:12)"
Administrator melihat nats imamat 26 : 12 yang bertuliskan :
“ Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu, dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umatKu ”. Firman Allah ini menjadi  jaminan bagi setiap orang dan keluarga yang percaya akan nama-Nya, bahkan kita akan menjadi umat yang perkasa dan berkemenangan karena Allah selalu menyertai umat-Nya.
Siapkan Natal Pembaca bersama Keluarga, Jemaat dan Siapa saja Tuhan memberkati!

Sumber: website PGI
by : Administrator Longori Portal   Profile Admin

Baik Untuk Dibaca
Portal Nyanyian Kemenangan Iman 
Portal Inspirator & Kesaksian

Komentar Facebook

We want You to read with Us again and again II Tema Natal PGI KWI 2014 "Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga,Bdk. Imamat 26:12" II Blog ini menerima Tulisan Anda baik Itu Sebagai Sumbangan atau Ingin Menjadi Team Kami II Buat Kami Lebih Baik Dengan Dukungan Doa dan Dengan Memberikan Reaksi/Comment Anda di Form Yang Tersedia