• Situs ini menerima tulisan anda utamanya untuk membangun rohani setiap pembaca.

  • Klik disini untuk mendownload Nyanyian Kemenangan Iman dengan berbagai format dari situs ini.

  • Dapatkan buku virtual rohani "Still Alive" Gratis dari situs Longori Portal.

Rabu, 09 April 2014

Sebuah forum terkenal di dunia maya, admin pernah membaca pertanyaan seorang member yakni bagaimana  EWS2009  bisa menampilkan dual language di satu tampilan slide.
Nggak sampai disitu yang ingin ditampilkan pun ngaak tanggung-tanggung yakni bahasa mandarin dan lainnya secara bersamaaan (maklum kebutuhan jemaat kali).
Diliputi rasa penasaran, admin pun mulai mencari informasi yang valid, namun semuanya memberitahukan bahwa jika dilakukan dalam  scriptures EWS tidak memungkinkan, dan disarankan agar supaya untuk bahasa mandarin buat slide diluar EWS2009 dengan alkitab sumber online yang didownload.
Yah walau sedikit puas, admin masih dikejar perasaan untuk menampilkan dua bahasa berbeda  (mis: Indonesia- English;Indonesia-daerah)  dalam satu tampilan projector dalam EWS.
Lho untuk apa lagi??? Heeheee... waktu itu admin pernah megikuti ibadah salah satu gereja di Denpasar, jemaatnya yah sebahagian Bule selebihnya Indonesia, jadi deh baca Alkitabnya pakai translator dengan tampilan projector satu bahasa saja . Yah otomatis admin mendengar dan melihat termenung waktu bahasa english-nya ditampilkan wkakwkakwkakwkak.

Mengecek di kolom bantuannya EWS, ternyata ada cara untuk mengedit scriptures EWS jika dibutuhkan , seperti hendak menjelaskan arti kata dalam alkitab atau memperbaiki jika ada yang selisih.
Misalnya tampilkan kitab Maleakhi 4 yang tidak bisa muncul di EWS 2009. Nah ini yang admin cari, bagaimana jika kita mengedit menjadi dual bahasa dalam satu tampilan projector dengan memanfaatkan scripture editor ini (dimasukkan ke database bukan rubah apa yang di input team EWS)??
Dibutuhkan kerjasama antara Operator projector dan Penghotbah untuk membuatnya sebelum ibadah dimulai, dimana prosesnya seperti copi paste ( tanpa ketik) yang ditaruh dalam schedule ews 2009 nantinya. Berikut langkahnya:

Buka EWS 2009 yang admin coba
Pilih Scipture alkitab sesuai jemaat yang mayoritas (mis: TB/Indonesia)
Klik kanan per ayat alkitab yang dipilih penghotbah sebelumnya (atur  per bagian jika ayat terlalu panjang)  
pilih add scipture to schedule (otomatis menjadi database EWS yang belum di save)
Pilih alkitab bahasa kedua (mis : KJV/English)ambil dari EWS dan (mis:Jawa) bisa ambil dari format Ms Acces
Klik kanan per ayat yang ingin ditampilkan bersamaan
pilih copy text to clipboard dalam ews
klik kanan alkitab pertama (mis:TB) di kolom schedule EWS yang ingin di tambahkan/edit,
Pilih edit scripture in shedule
Dalam kolom edit scripture taruh kursor pas di awal atau akhir ayat yang ingin ditambahkan
Klik kanan dan pastekan alkitab (mis:King James Version) tadi.
Admin mengaturnya di menu live; options; dan warna text supaya bisa membedakan tampilan dual leanguage Easyworship 2009 (terserah operator)
Nah sudah jadi tinggal anda lanjutkan sesuai kebutuhan misalnya di save dan masuk ke schedule.

Walau ini agak dikit repot dan perlu latihan copi paste tapi bisa menolong jemaat untuk lebih paham dalam bahasanya, sehingga baik juga dipraktekkan jika gereja pembaca masih sering manggunakan bahasa daerah, misalnya dual bahasa yakni Jawa-TB atau Toraja-TB atau Batak Toba-TB yang tampilannya seperti ini




Khusus Untuk bahasa daerah  anda bisa membukanya berdampingan dengan EWS dan bahasa daerah ini dalam format Ms Access(umumnya bawaan MS Office). Pembaca bisa memilih dalam file admin dengan memilih :klik Alkitab Bahasa Jawa ; klik Alkitab Bahasa Toraja ; Klik Alkitab Bahasa Batak Toba
setelah anda download bahasa yang digunakan maka cara membukanya adalah
Pertama ekstract alkitab bahasa daerah
klik file alkitab bahasa daerah
setelah terbuka pilih object table dan klik bible
Nah ada 4 kolom yang akan anda perhatikan
Kolom 1 (book) artinya Kitab dalam alkitab, mis diplih 2 artinya kitab keluaran,ada 66 kitab
Kolom 2 (Chapter) artinya Pasal dalam alkitab. mis dipilih 2 artinya  pasal 2 dari kitab Keluaran
Kolom 3 (Verse) artinya ayat dalam alkitab, mis dipilih 3 artinya ayat 3 dari kitab Keluaran pasal 2
Kolom 4 (bible text) artinya kalimat dalam kitab yang di pilih tadi dimana operator harus copi paste ke EWS
Untuk bahasa  daerah lainnya (hampir semua ada) dapat download Alkitabnya dengan  cara mencarinya di search engine.
Nah jika sudah di download silahkan dipraktekkan untuk pelayanan di gereja yang membutuhkan.
Selamat melayani n salam hangat!

note:
Kitab Maleakhi 4:1-6 mungkin akan diperbaiki tim EWS, sementara untuk solusinya dengan cara edit scriptures atau klik Tampilkan Kitab Maleakhi 4

by : admin  Lihat Profile Penulis


Baik Untuk Dibaca
Portal EasyWorship
Portal Sahabat
Portal NKI
Portal English


Minggu, 06 April 2014


ABSTRAK

Kepemipinan gembala adalah suatu model kepemimpinan yang ditawarkan sebagai solusi masalah kepemimpinan Kristen saat ini. Ketika banyaknya tren kepemimpinan yang muncul saat ini tidak dapat memuaskan umat, maka teori kepemimpinan gembala telah mendapatkan kajian yang ekstensif dan ternyata juga telah diaplikasikan di dalam kepemimpinan sekuler yaitu dalam perusahaan-perusahaan di dunia.  Lebih dari itu, studi kepemimpinan gembala berbicara tentang prinsip kehambaan (servant leadership) di mana karakter pemimpin seperti kebaikan, ketulusan, kecakapan, serta kesetiaan telah menjadi prinsip yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan yang mulai beralih kepada prinsip otoriter dan dilayani. Kajian ini menemukan dan menegaskan bahwa bila praktika kepemimpinan gembala ini dihayati maka dapat dipastikan akan terjadi sebuah kepemimpinan yang berhasil dan transformatif bagi gereja dan masyarakat.


PENDAHULUAN

Penulis  mengangkat satu masalah yang sedang hangat dalam kepemimpinan Kristen yaitu tentang gaya kepemimpinan. Dalam kajian soal kepemimpinan umat, para pemimpin gereja saat ini banyak dikeluhkan soal kepemimpinan yang bukan memimpin dengan hati gembala (herding leadership) melainkan memimpin dengan gaya “herder” (analogi anjing jenis herder). Masalah ini banyak terjadi di dalam gereja atau insitusi  di mana banyak pemimpin yang putus asa terhadap pengaplikasian prinsip kepemimpinan dan memilih jalan pintas yaitu dengan cara “herder” yaitu gaya otokratik dan bahkan kekerasan. Hal ini diperkuat Sonny Eli Zaluchu yang dalam tulisannya tentang Intrik di Dalam Gereja mengatakan bahwa, “Kelemahan kepemimpinan gembala biasanya ditandai dengan sejumlah aktifitas yang cenderung memaksakan kehendak, gaya penggembalaan yang tidak berkenan, mulut yang tidak terkontrol, menguatnya pengaruh dan intervensi orang-orang tertentu di dalam keputusan gembala (orang kuat, anak, menantu), visi yang lemah, doa yang kurang dan sikap yang mencerminkan kekunoan (seperti plin-plan, tidak mau mengakui kesalahan dan sikap tidak mau tahu).  Hal yang paling utama adalah gembala yang tidak mau berubah dan selalu tertutup menerima masukan karena menganggap diri benar.”

Jalan ini seringkali diambil karena paling “aman” yaitu adanya anggapan bahwa mereka (baca: pengikut atau jemaat) tidak perlu tahu. Namun seperti yang sudah diketahui bersama, model dari kepemimpinan “herder” ini menghasilkan kehancuran baik diri maupun organisasi yang dipimpin.

Lawan dari memimpin dengan otoriter adalah  memimpin dengan hati gembala di mana ini berbicara tentang melayani, menuntun, mengarahkan, menantang, dan membantu untuk bertumbuh.  Kepemimpinan gembala tidak berbicara soal aktivitas manajemen belaka, namun menumbuhkan orang yang dipimpin. Itu sebabnya mengawasi dan menuntun yang dipimpin akan lebih mudah dan akan menunjukkan hasil yang berbeda. Sudah dibuktikan bahwa orang yang dipimpin tidak dapat digerakkan dimotivasi oleh sebuah birokrasi atau prosedur sebagaimana teori manajemen. Orang hanya digerakkan oleh visi, nilai-nilai, prinsip-prinsip dan keyakinan tentang diri (Robert J. Stevens).
Hal ini diperkuat juga oleh tokok kepemimpinan Anthony D’Souza, yang mengatakan tentang kepemimpinan gembala sebagai berikut:

Bagi pemipin-gembala, produknya adalah para pengikut. Bukan keuntungan , bukan pangsa pasar. Para pengikut itu sendiri yang menjadi tujuan dan produk dari upaya pemimpin-gembala. Dan, karena itu, ketika dombanya tetap hidup menghadapi berbagai bahaya dalam perjalanan, ketika mereka bertambah kuat, gembala dengan setia menunaikan tugasnya. Domba memang harus dibimbing, didorong, dan dimotivasi untuk mencapai kinerja terbaik. Namun, domba-domba inilah yang memenuhi pemimpin-gembala ketika tidur di malam hari dan yang pertama dicari ketika sinar mentari pagi menandai setiap hari baru. Gembala benar-benar merupakan pelayan domba-dombanya. Pertumbuhan dan pemeliharaan terhadap mereka menjadi tugas dan agendanya dalam mencapai sukses (28-9).

Tetapi dalam pengamatan penulis, masalah yang terbesar dihadapi beberapa pemimpin Kristen adalah memiliki minat yang rendah dengan orang-orang serta tidak memiliki kemampuan menjalin hubungan dengan rekan-rekan (interpersonal relationship) dan tidak peduli kepada masalah-masalah emosional orang yang dipimpinnya. Hal lain adalah adanya sikap pesimis terhadap kehidupan di depan sehingga menurunkan semangat organisasi yang dipimpinnya. Ciri lainnya yang paling banyak muncul dalam kepemimpinan adalah bersikap antisosial, skeptis, kurang senyum, suka mendominasi dan agresif. Padahal ini berlawanan dengan kepemimpinan dengan hati gembala.

Fakta lain adalah pemimpin apapun jenisnya senang pendidikan formal, training, menghargai prinsip-prinsip kepemimpinan, dan juga kemampuan manajemen. Tetapi ada kelemahan mendasar kalau tidak memiliki kepemimpinan gembala yaitu hubungan (relationship). Padahal kepemimpinan yang efektif sebagaimana yang ditemukan dalam riset pakar kepemimpinan Kouzes dan Posner bahwa “kepemimpinan adalah hubungan (leadership is a relationship)”.  Mereka berdua berkata, “Kepemimpinan adalah sebuah hubungan. Kepemimpinan merupakan hubungan antara mereka yang terpanggil untuk memimpin dan mereka yang memilih untuk mengikuti. (Versi Inggrisnya: Leadership is a relationship between those who aspire to lead and those who chose to follow. Sometimes the relationship is one-to-many. Sometimes it’s one-to-one. But regardless of whether the number is one or one thousand, leadership is a relationship). (21)”

Satu hal lagi yang diingatkan oleh Dr Stacy Rinehart dalam bukunya Upside Down yang berkata: “Most believers are familiar with Jesus’ recipe for leadership success (“Whoever wants to become great among you must be your servant, and whoever wants to be first must be slave of all” [Mark 10:43-44 NIV]), but when it comes to putting that into practice, many leaders are content to leave Jesus’ advice on a dusty road in Galilee and follow society’s leadership trends.”  Banyak pemimpin mencoba mengikuti tren kepemimpinan dan melupakan prinsip Yesus tentang kepemimpinan gembala.

Masalah ini telah menjadi masalah yang serius dalam kepemimpinan umat dalam gereja dan institusi Kristen lainnya. Untuk itu penulis mencoba mengkaji tentang konsep kepemimpinan yang relevan dalam konteks kepemimpinan Kristen saat ini.


METODE PEMBAHASAN

Dalam penulisan artikel ini penulis memakai pendekatan perkembangan teoritis atas kepemimpinan gereja (theoretical development)  di mana penulis secara khusus mengkaji area model kepemimpinan Kristen dan mencoba menemukan secara signifikan modifikasi, reformulasi suatu konsep kepemimpinan yang menjadi model yang relevan dalam praktika kepemimpinan Kristen.

Di samping itu kajian ini didasari dengan memakai proses hermeneutika Kitab Suci Alkitab (sacred text) di mana hasil kajian itu akan dipresentasikan dalam bentuk pernyataan teologis yang kemudian menjadi pedoman bagi gaya kepemimpinan yang dapat relevan dalam zamannya.

HASIL PEMBAHASAN: PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN GEMBALA

Pada bagian ini penulis membahas hasil kajian hermeneutika dan perkembangan teoritis tentang beberapa konsep kepemimpinan gembala yang sudah banyak juga diadopsi oleh tren teori kepemimpinan secara umum:

PRINSIP KEBAIKAN

Memimpin dengan kebaikan harus berpola kepada kebaikan hati Allah. Dalam teologi  kata kebaikan (goodness atau chre¯stote¯s dalam bahasa Yunani) diidentikkan dengan kemurahan Allah (di bawah pembahasan Allah Mahakasih). Albert Barnes (teolog) memberikan arti kata ini sebagai kindness yaitu kebaikan hati, keramahan, perbuatan baik, kasih sayang. Allah baik di mana Ia penuh dengan belas kasih, baik hati, anugerah, mementingkan kepentingan orang lain (altruisme). Sehingga Allah yang penuh dengan kebaikan berarti Allah yang mengasihi umat-Nya, Allah yang lemah lembut, baik hati dan selalu memberikan anugerah baik dalam Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru. Kasih setia Allah dicurahkan kepada umat-Nya, Israel, meskipun mereka terus berdosa. Ketika Allah harus menghukum Israel karena kebebalan hati mereka yang terus menyembah berhala, Ia tetap mengasihi mereka, sehingga setelah mereka bertobat Allah tetap mengasihi dan memulihkan keadaan mereka, yang walaupun kebaikan Allah tidak pernah boleh dipisahkan dengan keadilan Allah (lihat Denny Teguh Sutandio).

Konsep kebaikan ini ini dapat sepatutnyadingaplikasikan dalam kepemimpinan Kristen. Sifat moral Allah yang mahabaik menantang pemimpin Kristen untuk memiliki kebaikan moral dan semangat alturisme dalam karakternya.

PRINSIP KETULUSAN HATI

Kajian hermeneutika tentang ketulusan hati berbicara tentang integritas seorang pemimpin. Raja Daud dalam kitab suci dikatakan bahwa “Ia menggembalakan umat Israel dengan ketulusan hatinya, dan menuntun (memimpin-led) mereka dengan kecakapan tangannya” (Mazmur 78:72). Itu sebabnya memiliki kompetensi dalam kepemimpinan saja tidak cukup, dibutuhkan juga ketulusan hati.

Rendahnya integritas telah menjadi masalah kepemimpinan Kristen sekalipun. John Maxwell mengatakan bahwa di dalam sebuah survei di Amerika yang ditujukan kepada kurang lebih 1300 para pimpinan perusahaan dan pejabat di pemerintahan, mereka ditanya kualitas apakah yang paling penting dimiliki untuk dapat sukses menjadi pemimpin.  Jawabannya menarik karena secara mayoritas (71%) mereka memilih jawaban sebagai yang terpenting: integritas (173).

Arti kata integritas adalah keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang.  Seseorang yang memiliki integritas tidak meniru orang lain, tidak berpura-pura, tidak ada yang disembunyikan, dan tidak ada yang perlu ditakuti.  Kehidupan seorang pemimpin adalah seperti surat Kristus yang terbuka (II Kor 3:2).

Integritas sebagai karakter bukan dilahirkan, tetapi dikembangkan secara satu lepas satu di dalam kehidupan kita melalui kehidupan yang mau belajar, keberanian untuk dibentuk Roh Kudus.  Itu sebabnya seorang pemimpin terkenal berani berkesimpulan, bahwa karakter yang baik akan jauh lebih berharga dan dipuji manusia dibandingkan dengan bakat atau karunia yang terhebat sekalipun.  Kegagalan sebagai pemimpin bukan terletak kepada strategi dan kemampuannya dalam memimpin, tetapi kepada tidak adanya integritas pada diri pemimpin (Lihat Maxwell, 178).

PRINSIP KECAKAPAN

Memimpin dengan kecakapan berarti memiliki kompetensi. Menurut Dr. Yakob Tomatala, kompetensi meliputi banyak hal yaitu meliputi kompetensi karakter, pengetahuan, dan keahlian (Lihat  Kepemimpinan yang Dinamis: 235-341). Dalam tulisan ini penulis khusus mengambil dua hal dari kompetensi keahlian yang menolong menguatkan kepemimpinan gembala kita yaitu kecakapan hubungan antar manusia (relationship) dan kecakapan keahlian teknis. Ada dua kompetensi kepemimpinan. Pertama, kecakapan yang berkenaan dengan “hubungan antar manusia” atau disebut juga “keterampilan atau kecakapan sosial”. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya menyadari bahwa ia membutuhkan orang lain, tetapi ia juga dengan penuh tanggung jawab dapat membina hubungan baik dengan orang lain yang menjamin kerja sama yang baik dan keberhasilan kerja. Hubungan baik dengan orang lain harus dimulai oleh pemimpin. Ia harus memiliki tekad  untuk menyukainya, menghidupinya dengan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus tetap berlaku di sini, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Tekanan utama yang diberikan di sini adalah bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang pemimpin, mencerminkan apa saja yang akan/nanti/telah diperbuat orang kepadanya. Apabila pemimpin menghendaki dan melaksanakan/membina hubungan baik dengan siapa saja, ia pun akan menerima kebaikan dari tindakannya.

Kedua, kecakapan yang berkaitan dengan “hubungan pelaksanaan tugas” di mana seseorang yang disebut ahli itu tahu dan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Keterampilan atau keahlian atau kecakapan tugas berkaitan erat dengan hal-hal praktis yang bersifat teknis, sehingga dapat juga disebut keahlian teknis/praktis. Keahlian ini berkaitan erat dengan “bagaimana melaksanakan tugas”, yang harus dilaksanakan dengan baik dan . pemimpin harus memiliki keahlian khas, khususnya yang berkenaan dengan kecakapan memimpin.

Itu sebabnya dalam memimpin, seseorang tidak boleh pernah berhenti belajar baik dalam bentuk formal ataupun informal. Pembelajaran yang terus menerus akan menghasilkan kecakapan yang lebih banyak lagi. Pembelajaran tidak berfokus kepada gelar, namun kepada pemenuhan salah satu kunci sukses pemimpin-gembala yaitu cakap, yang meliputi cakap mengajar, cakap berelasi, dan cakap memimpin.

PRINSIP KESETIAAN DALAM KEBENARAN

Kajian hermeneutikan atas kata “kesetiaan” adalah penting dalam kosakata teologi Kristen dan juga pemimpin-gembala. Setidaknya dalam Perjajian Lama maupun Perjanjian Baru pemimpin dituntut Tuhan untuk mencintai kesetiaan (love mercy) disamping adil dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6: 8). Kesetiaan harus ditunjukkan disamping kasih sayang kepada masing-masing sebab Tuhan akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran (Zakaria 7:9 dan 8:8). Setidaknya ada tiga sebab mengapa kesetiaan itu penting. Pertama,  kesetiaan adalah yang terpenting dalam hukum Taurat (Matius 23:23); kedua,  kesetiaan salah satu buah Roh Kudus yang harus ada dalam kehidupan kita (Galatia 5:22); ketiga, kesetiaan merupakan salah satu yang harus dikejar disamping keadilan, kasih dan damai (II Timotius 2:22).

Dalam pengamatan penulis, banyak ahli kepemimpinan dalam bukunya tidak suka kata kesetiaan, karena sering kali disalahgunakan sebagai tameng untuk berlindung dari kegagalan memimpin. Walaupun demikian, kesetiaan tidak boleh dihilangkan dalam kamus pemimpin-gembala, karena tanpa kesetiaan, maka kita tidak berhak menuntut loyalitas yang sama kepada pengikut kita. Justru ini yang menjadi kunci keberhasilan pemimpin-gembala.

KESIMPULAN

Tren kepemimpinan telah berkembang sangat pesat dan dapat dengan mudah dipelajari secara mandiri. Bahkan nilai dan prinsip biblika telah mewarnai semua lini prinsip ilmu kepemimpinan. Namun dalam lini praktika, gereja diperhadapkan dengan kompleksitas kultural, masalah sosial, dan konteks yang sangat beragam. Saat ini pemimpin tidak boleh berhenti dengan penerapan kepemimpinan dalam kehidupan.  Ada banyak keunikan yang akan ditemukan di lapangan. Seperti kata Robert Clinton, pemimpin sedang memasuki “university of life”, di mana penerapan nilai kepemimpinan tidak pernah berhenti. Nilai-nilai itu harus terus digali.

Salah satu hal yang menjadi solusi dalam kepemimpinan sat ini adalah perlunya pengembangan kepemimpinan yang berhati gembala. Nilai ini bersumber dari Yesus sendiri lewat hidup dan pengajaranNya.  Prinsip itu didasarkan kepada kebaikan, ketulusan hati, kecakapan, dan kesetiaan dalam kebenaran. Prinsip ini kekal, namun penerapannya membutuhkan waktu dan kerja keras di dalam konteks masyarakat pascamodernitas ini.

Hal ini ditegaskan dengan pernyataan Anthony D’Souza tentang hasil dalam menerapkan pemimpin-gembala, “Oleh karena itu, gembala adalah model bagi para pemimpin dari segala organisasi, termasuk perusahaan industri dan komersial. Pemimpin dituntut untuk bertindak sebagai gembala sejati atas organisasinya, yang pertama-tama dan terutama dilihat sebagai komunitas manusia. Dengan demikian, pemimpin semacam ini akan memperoleh loyalitas dan komitmen dari para pegawai dan pelanggan, dan pada gilirannya akan meraih apa yang tidak pernah dapat diperintahkan oleh pemimpin lain (29).”

Note
Jika ingin menggunakan ulang artikel ini segera hubungi Penulis  dengan email : drdanielronda@gmail.com

By: Pdt Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar

Baik Untuk Dibaca 
Portal Sahabat
Portal Easyworship
Portal NKI
Portal Administrator


Jumat, 04 April 2014

 Roma 5:1-11
        Hingga kini tanggal 3 april 2014 dunia dicengangkan dengan hilangnya pesawat MH 370 milik maskapai Malaysia ailines. Justru ini pencarian yg terlama sepanjang sejarah,dengan beberapa spekulasi berita dari pembajakan,meledak sampai jatuh tanpa diketahui. Diberitakan bahwa pesawat boing 777-200 adalah pesawat komersial tercanggih saat ini sebagai hasil karya umat manusia. Namun apa yg terjadi, sejak 08 maret 2014 pesawat ini hilang dari pantauan radar dalam penerbangan dari kualalumpur malaysia ke Beijing Cina. Ini salah satu bukti bahwa karya manusia bisa gagal dan terbatas, tapi karya Allah dalam Yesus tidak pernah gagal dan tanpa batas walau Iblis berusaha menggagalkannya.
       Dalam teks ini ada beberapa dampak Karya Kristus bagi kita.

   I. Karya Kristus Membuat Kita Hidup Dalam Damai Sejahtera Allah (1)
    Hidup damai dengan Allah berarti, memiliki hubungan yang baik dgn Allah. Hubungan manusia dengan Allah telah rusak bahkan putus sejak di taman Eden. Sejak itu, manusia hidup menjadi seteru Allah. Manusia cenderung melakukan apa yg baik menurut pandangannya, keinginan hatinya dan bukan menurut kehendak Allah.
     Melalui iman kepada Yesus, hubungan dengan Allah pulih kembali. Mat 28:19-20 segala kuasa di Surga dan di Bumi diserahkan kepadaNya. Menarik kita simak apa yg dikatakan Alquran Ali Imran ayat 45 " Al masih Isa bnu Maryama wajihan fi al dunya wa al akhirah". (Yesus putra Maria terkemuka di dunia dan di Akhirat. Yesus penguasa atas hidup kita, karya-Nya adalah melalui Iman kepadaNya kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah.
      Kematian Yesus mendamaikan kita dengan Allah. (10).

  II. Karya Kristus memampukan kita bersukacita ditengah kesulitan (3-5)
   Rancangan Allah selalu yg terbaik bagi anak-anakNya. Oleh sebab itu, percayakanlah hidupmu padaNya tiap saat. Yesus berkata: "Diluar Aku (Yesus) kamu tdk bisa berbuat apa-apa." Yoh 15:5.
   Apapun masalah saudara, seberat apapun tantanganmu Ia tdk pernah meninggalkanmu. Kalau Dia izinkan engkau menghadapi tantangan tujuannya adalah: supaya engkau tidak takabur dalam hidup melainkan selalu berharap kepadaNya dan melalui kesengsaraan itu, akan menimbulkan ketekunan yg akan menghadirkan tahan uji menuju pengharapan sebab pengharapan kepada Yesus tidak mengecewakan.
    Camkan saudara Tuhan tidak berjanji bahwa lautan akan tenang, tetapi Dia berjanji Akan menyertai engkau. Dia Imanuel.

III. Karya Kristus Bagi kita  Mempertegas Kasih Allah dalam Hidup (6,8,10)
   Dalam ayat 5 Firman Tuhan katakan, pengharapan kepadaNya tidak mengecewakan. Dia Allah yang berdaulat atas hidup kita baik jasmani maupun rohani. Untuk mempertegas kasiNya bagi kita, coba simak hal berikut ini:
    a. Ia telah mati untuk kita orang durhaka ketika kita masih lemah ayat 6.
    b. Ia telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa (8)
    c. Kita damai dengan Allah oleh kematian AnakNya.
Saudara, Dia mengahadiahi kita, itulah sebabnya harga yg seharusnya kita bayar Dia telah melunasiNya di kayu salib. Pecayalah kepadanya maka engkau akan diselamatkan. AMIN


By : Pdt. Aris Mangosa, STh Profile Penulis


Baik Untuk Dibaca
Link Pdt. Aris Mangosa
Link Pdt. Markus Lingga
Link John Dana
Link Pither Pakka

Jumat, 28 Maret 2014


"Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia" (1 Yohanes 4:16).

Kita belajar kepada Tuhan Yesus yang datang ke dunia karena kasih-Nya kepada manusia, perhatikanlah perintah-Nya: "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39). Memahami Kasih dan mengasihi sesama mengandung makna:

PERTAMA: Bagaimana Tuhan Yesus Kristus Mengasihi manusia (Yohanes 15:13). Firman-Nya: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13). Inilah kasih yang menyelamatkan adalah pengikat yang paling kuat diantara kita sesama manusia. Tuhan Yesus Kristus memberi teladan kehidupan terhadap kita, untuk saling mengasihi.

KEDUA: Bagaimana Tuhan Yesus Kristus Memberikan Roh Kudus, Supaya Kita Mampu Mengasihi Sesama (Roma 5:5). Firman-Nya: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma5:5). Kasih yang menyelamatkan adalah kasih yang berkorban, bukan menerima, seperti yang dilakukan oleh nabi Hosea terhadap Gomer istrinya (Hosea 3:1-3). Tuhan Yesus Kristus memberikan kekuatan kasih luar biasa.

KETIGA: Bagaimana Tuhan Yesus Kristus Memberikan Teladan Kehidupan Untuk Mengasihi (Ibrani 9:14). Firman-Nya: "betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup" (Ibrani 9:14). Inilah teladan kehidupan Tuhan Yesus Kristus yang tertinggi bagi manusia, dalam hal kasih-Nya.

DOA : Ya Tuhan Yesus Kristus, kami datang memohon kekuatan kasih Allah yang tertinggi dan termulia, supaya dapat mengasihi sesama tanpa pamrih, tetapi karena dorongan serta pekerjaan Roh Kudus Tuhan. Amin.

by : Pdt.Joko Rochman Khristiyanto
Gembala GKII Semarang

Baik Untuk Dibaca 
Link Sahabat
Link EasyWorship
Link Administrator

Selasa, 25 Maret 2014

(BAGIAN PERTAMA)


PENDAHULUAN
 
Penulis Kitab Wahyu
Menurut 1:4, 9 dan 22:8 menyatakan tanpa penjelasan bahwa kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes.  Karena tidak adanya keterangan tentang Yohanes yang lain, maka menurut Hagelberg bahwa Yohanes yang dimaksudkan adalah Yohanes Rasul (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 1).

Justinus Martyr menulis dalam dialog dengan Trypho tahun 135 menyatakan bahwa Rasul Yohanes-lah penulis kitab Wahyu.  Pernyataannya itu dapat diterima kebenarannya karena beberapa tahun Justinus tinggal di Efesus.  Demikian juga dengan Eusebius, Irenius, Clement, Origen, Tertullianus, dan Hippolytus sama-sama mengakui bahwa penulis kitab Wahyu adalah Rasul Yohanes (Ibid.)
Menurut Peter Wongso bahwa keraguan dan penyangkalan akan Rasul Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu dimulai dan dipelopori oleh Dionysius dari Alexandria (190-264).  Dionysius adalah murid dari Origen (185-254).  Ketika Origen diasingkan oleh pemerintah Romawi ke Kaisarea, maka Dionysius menjabat sebagai kepala Catechetical School of Alexandria.  Dia menyangkal Rasul Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu.  Alasannya didasarkan pada 22:1-6 di mana Kristus akan datang kembali untuk mendirikan kerajaan seribu tahun di bumi.  Dionysius tidak setuju dengan istilah kerajaan seribu tahun.
Selain itu, menurut Dionysius bahwa ada dua kuburan Yohanes di kota Efesus, yang satu untuk Yohanes Rasul dan yang lain untuk Yohanes dari Efesus.  Ia berpendapat bahwa Yohanes dari Efesus bukan seorang rasul, melainkan seorang penatua dan ia inilah penulis kitab Wahyu.  Teori Dionysius telah banyak memengaruhi para sarjana Barat, termasuk William Barclay dan R. H. Charles (Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab: Kitab Wahyu, 88),

Alasan lain yang dipakai Dionysius menolak Yohanes Rasul sebagai penulis kitab Wahyu adalah karena bahasa Yunani yang dipakai dalam kitab Wahyu berbeda dengan Injil Yohanes dan ketiga surat Yohanes lainnya.  Bahasa Yunani yang dipakai untuk Injil Yohanes dan ketiga kitab Yohanes adalah bahasa yang halus dang indah, sedangkan bahasa yang dipakai dalam kitab Wahyu adalah bahasa Yunani yang baku (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 2).  Alasan Dionysius adalah benar jika ditinjau dari segi tata bahasa, tetapi apakah alasan itu sudah cukup kuat dipakai sebagai standar?
George Eldon Ladd mengemukakan bahwa perbedaan tata bahasa, seperti yang dipakai Dionysius disebabkan karena Yohanes menulis Injil Yohanes dan ketiga kitab Yohanes dibantu dengan sekretaris, sehingga menghasilkan tata bahasa Yunani yang bagus sedangkan kitab Wahyu adalah hasil buah pena Rasul Yohanes sendiri.  Kita dapat memahami tata bahasa Yohanes karena dia adalah seorang Ibrani asli yang menulis dalam bahasa Yunani (Ibid.).
John R.W. Stott memberikan kesimpulan bahwa penulis kitab Wahyu adalah Yohanes tanpa penjelasan lebih lanjut, yaitu Yohanes Rasul, murid yang paling dikasihi Yesus, anak Zebedeus, yang masih hidup setelah rasul-rasul lain sudah meninggal, dan menikmati umur panjang sebagai pemimpin gereja Efesus (John R.W. Stott, Bagaimana Pandangan Kristus akan Gereja, 10).   Demikian juga dengan Billy Graham setuju bahwa Rasul Yohanes-lah penulis kitab Wahyu pada masa tuanya di Pulau Patmos (Billy Graham, Derap Kuda yang Mendekat, 7).

Tahun Penulisan Kitab Wahyu
Mengenai tahun penulisan kitab Wahyu, ada dua pendapat, yaitu: Pertama, ditulis pada zaman kekaisaran Nero (54-68).  Kedua, ditulis pada zaman kekaisaran Domitianus (81-96).  Kemungkinan tahun penulisan yang benar adalah:
Pertama, Irenius mengatakan bahwa kitab Wahyu ditulis pada akhir kerajaan Domitianus, yaitu tahun 96.
Kedua, sudah ada pengalaman yang matang dari ke-tujuh jemaat.  Jika terjadi pada zaman Nero, belum ada data bahwa jemaat-jemaat itu sudah mengalami kemerosotan (pasal 2-3).
Ketiga, jemaat Laodikia menganggap dirinya kaya (3:17), sedang pada zaman Nero kota Laodikia mengalami gempa bumi yang dahsyat (tahun 60 atau 61).
Keempat, adanya penganiayaan pada 1:9; 2:10, 3; 3:10 adalah cocok dengan zaman Domitianus.  Setelah pembakaran kota Roma, Nero mengkambing hitamkan orang Kristen, sehingga orang Kristen dianiaya dengan kejam, tetapi penganiayaan yang diceritakan dalam kitab Wahyu bukan model penganiayaan yang dilakukan oleh Nero karena penganiayaan Nero hanya di Roma saja, sedangkan dalam kitab Wahyu terjadi sampai di Asia Kecil.  Kaisar Domitianus mewajibkan setiap orang harus menyembah kaisar.  Orang Kristen yang tidak siap menyembah kaisar dianiaya di setiap tempat (Ibid).
Menurut Handbook to the Bible, “Kitab Wahyu ditulis sekitar tahun 90-95 M, walaupun ada yang mengatakan lebih awal lagi.” (Handbook, 730).

Penerima Kitab Wahyu
Alamat kitab Wahyu seperti yang tertera pada 1:4 adalah jemaat-jemaat yang ada di Propinsi Asia Kecil dalam kerajaan Roma bagian Barat Turki masa kini.  Sejak tahun 900 BC orang Yunani sudah merantau ke Propinsi Asia dan membangun kota-kota yang termashyur (Scheunemann, Berita Kitab Wahyu, 20).
Secara khusus kitab ini ditulis kepada tujuh jemaat tertentu di tujuh kota di Asia Kecil (1:11).  Jarak antara tujuh kota itu sekitar 50-80 Km.  Di setiap tujuh kota itu terdapat Kantor Pos besar untuk wilayah Propinsi Asia bagian Barat Tengah.  Secara umum, sebagai bagian dari Alkitab, kitab Wahyu juga ditulis untuk setiap orang Kristen (2:7, 17, 29, dst) (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 5).
Tempat Penulisan Kitab Wahyu
Kesaksian Tertullianus mengatakan bahwa pada permulaan masa penganiayaan kaisar Domitianus, baik keluarga Tuhan Yesus maupun saksi mata terakhir yang masih hidup ialah Rasul Yohanes yang dibawa ke Roma atas perintah Domitianus.  Setelah Yohanes disiksa, dia dibuang ke Pulau Patmos (Scheunemann,

Berita Kitab Wahyu, 20).
Billy Graham juga menuliskan bahwa Yohanes adalah tahanan politik Roma yang dibuang ke pulau dekat pantai Asia Minor (Turki).  Di sana ia bekerja sebagai pekerja tambang, yaitu membawa pecahan-pecahan batu granit dari karang ke galangan kapal di bawah benteng Romawi.  Yohanes dibuang ke pulau Patmos yang berbatu dan berukuran panjang 16 Km dan lebar kurang lebih 10 KM (Graham, Derap Kuda yang Mendekat, 1 dan 6).
Kesaksian tersebut adalah sesuai dengan pernyataan Yohanes sendiri pada 1:9, “Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.”  Patmos adalah salah satu pulau di kepulauan Dodekanese terletak kurang lebih 55 Km Barat Daya dari tepi pantai Asia Kecil.  Dari Efesus, Yohanes dibuang ke Patmos selama beberapa tahun (kira-kira tahun 95) dan di situlah Yohanes menulis kitab Wahyu.  Sekarang Patmos termasuk wilayah Yunani (Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid 2, 207).

Gaya Penulisan Kitab Wahyu
Penulisan kitab Wahyu berbeda dengan penulisan Injil Yohanes dan ketiga kitab Yohanes lainnya.  Di sini Dionysius salah memahami tentang tata bahasa yang dipakai oleh Rasul Yohanes menulis kitab Wahyu.
Nama kitab Wahyu berasal dari kata pertama naskah kitab Wahyu ialah “apokalypsis” yang berarti penyataan atau yang tidak terselubung lagi atau wahyu.  Kata “apokalypsis” adalah istilah yang khas Perjanjian Baru.  Kata ini dipakai dalam lima pengertian:
Pertama, dipakai untuk penyataan kehendak Tuhan dalam kehidupan seorang Kristen supaya ia tahu langkah mana yang patut diambilnya.  Paulus ke Yerusalem karena “apokalypsis” Allah (Gal. 2:2).
Kedua, dipakai untuk penyataan kebenaran Allah kepada manusia, seperti pernyataan Rasul Paulus dalam Galatia 1:12.
Ketiga, dipakai untuk penyataan rahasia-rahasia Allah, khususnya rahasia Tuhan menjadi Manusia dalam inkarnasi Tuhan Yesus (Roma 16:25).
Keempat, dipakai untuk penyataan kuasa dan kekudusan Allah pada hari penghukuman Allah (Roma 2:5).
Kelima, dipakai untuk penyataan kedatangan Tuhan Yesus dalam kemuliaan yang disambut oleh orang yang diampuni dosa-dosanya sebagai apokalypsis pujian dan kemuliaan (1Ptr. 1:7), kasih karunia (1Ptr. 4:13) (Scheunemann, Berita Kitab Wahyu, 17-18).
Kitab Wahyu bersifat “apokalypsis” yang memiliki empat gaya kepenulisan, yaitu penglihatan, perumpamaan, pelambang, dan dialog (Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab: Kitab Wahyu, 29).
Billy Graham mengakui bahwa Yohanes menulis kitab Wahyu dalam gaya bahasa puitis tertentu yang dikenal sebagai bahasa apokalyptik.  Penulis apokalyptik seperti Yohanes adalah penulis yang menggunakan gambaran dan lambang yang hidup untuk berbicara tentang penghakiman Tuhan dan akhir zaman.  Beberapa bagian dari Perjanjian Lama, seperti Yehezkiel dan Daniel mempergunakan bahasa apokalyptik.  Sebagai seorang apokalyptis, Yohanes memusatkan perhatiannya pada satu tema yang menggemparkan: Akhir dari sejarah manusia dan permulaan zaman Yesus Kristus yang mulia.  Karena itu pesannya selalu merupakan peringatan dan pengharapan, yaitu peringatan akan penghakiman yang akan datang dan pengharapan akan kemenangan Kristus yang tak dapat dielakkan atas kejahatan dan berdirinya kerajaanNya yang abadi (Graham, Derap Kuda yang Mendekat, 10-12).

Pendekatan Penafsiran Kitab Wahyu
Cara menafsir kitab Wahyu tergantung pada pendekatan seseorang.  Berikut ini ada empat cara penafsiran kitab Wahyu:
Pertama, Pendekatan Preterist.  Golongan preterist beranggapan bahwa sebagian besar kitab ini sudah digenapi dalam sejarah gereja abad pertama.  Menurut mereka seluruh kitab Wahyu hanya menceritakan keadaan umat Allah pada zaman kekaisaran Romawi saja.  Segala nubuatan yang besar dalam kitab Wahyu telah digenapi dengan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi.  Kebanyakan penafsir modern memakai pendekatan preterist.  Kesulitan bagi mereka adalah menafsir kemenangan total yang dituliskan pada pasal 18-22, karena tidak ada kemenangan yang seperti ini yang pernah terjadi pada zaman kekaisaran Romawi.
Kedua, Pendekatan Historis.  Golongan ini berpendapat bahwa kitab Wahyu itu suatu nubuatan kejadian-kejadian penting dalam sejarah dari zaman rasul-rasul sampai kepada akhir zaman.  Menurut mereka bahwa kitab Wahyu merupakan nubuatan yang menguraikan sejarah Eropa Barat sampai kedatangan Tuhan Yesus pada hari kiamat.  Banyak orang yang memakai pendekatan ini, tetapi tafsiran mereka tidak menyatu.
Ketiga, Pendekatan Idealis.  Golongan ini berpendapat bahwa kitab Wahyu tidak melukiskan peristiwa-peristiwa sejarah, melainkan membentangkan kenyataan-kenyataan rohani dengan kiasan dan ibarat.  Menurutnya kitab Wahyu tidak menceritakan kelakuan atau peristiwa,melainkan hanya menguraikan prinsip-prinsip yang bersifat teologis.
Keempat, Pendekatan Futuris.  Golongan futuris beranggapan bahwa sebagian besar kitab Wahyu memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman.  Menurut pendekatan ini, pasal 1-3 menceritakan mengenai zaman penulis dan pasal 4-22 merupakan nubuatan mengenai akhir zaman (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 10-12 dan J.S. Baxter, Menggali Isi Alkitab: Roma sampai Wahyu, 213-214).
Morris dan Mounce menghargai keempat pendekatan tersebut.  Menurut mereka setiap pendekatan masing-masing memunyai kekuatan dan kelemahan.  Dan kita harus belajar dari hasil penafsiran mereka.  Golongan Preterist dan Historis mengingatkan kita bahwa kitab Wahyu memunyai akar dalam sejarah dan latar belakang pembaca mula-mula amat penting dalam proses penafsiran.  Dari golongan Futuris mengingatkan kita bahwa kegenapan utama dari pasal 4-22 harus terjadi pada akhir zaman.  Dan golongan Idealis juga mengingatkan kita bahwa prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam kitab Wahyu sungguh berlaku sepanjang sejarah manusia.  Hagelberg setuju dengan Morris dan Mounce, tetapi akhirnya Hagelberg lebih setuju dengan Pendekatan Futuris sebagai patokan untuk menjaga kesatuan struktur kitab Wahyu (Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu, 12-13).
Para penafsir kitab Wahyu yang awal, seperti Justinus Martyr, Irenius, dan Hippolytus menulis bahwa kitab Wahyu menubuatkan kerajaan seribu tahun secara harafiah.  Setelah kerajaan seribu tahun, ada kebangkitan umum, penghukuman, dan pembaharuan langit dan bumi.
Di wilayah Alexandria, bapa-bapa gereja, seperti Origen mengembangkan metode yang disebut metode spiritual atau allegoris.  Metode Origen tidak memperhatikan kebenaran harafiah, tetapi yang dipentingkan ialah kiasan (figuratif) atau selalu merohanikan sesuatu.  Agustinus meneruskan perkembangan metode allegoris.  Selama seribu tahun bagi metode allegoris merupakan pendekatan yang biasa.  Metode allegoris erat hubungannya dengan pendekatan golongan Idealis.
Pada abad XII, Joachim seorang Katolik Italia menolak tafsiran allegoris yang beranggapan bahwa zaman ini adalah zaman kerajaan seribu tahun yang disebutkan pada pasal 20.  Menurut Joachim, kerajaan seribu tahun belum dimulai.  Menurut Hagelberg, ada empat prinsip penafsiran kitab Wahyu yang dapat menjadi pegangan: 1) Berdasarkan konteks dan struktur.  2) Penafsiran yang mempertimbangkan latarbelakang si penulis dan pembaca mula-mula.  3) Penafsiran yang cenderung menerima arti biasa (harafiah), kecuali ada alasan kuat yang menuntut arti kiasan.  4) Penafsiran secara komprehensif (menyeluruh), yaitu penafsiran yang mempertimbangkan seluruh ajaran Alkitab (Ibid, 13-14).

Ringkasan Kitab Wahyu
Bagian pertama: pasal 1 menyatakan “siapakah Tuhan Yesus?”
Bagian kedua: pasal 2-3 tentang tujuh surat yang menuntut penerapan dan menjanjikan hadiah.
Bagian ketiga: pasal 4-22 tentang kedatangan dan kemenangan Tuhan Yesus yang akan mengalahkan setiap musuh dan membagikan hadiah (Ibid, 26).
 
Garis-Garis Besar Kitab Wahyu
Masing-masing penafsir membuat garis besar kitab Wahyu sesuai dengan asumsinya dan pendekatannya.  Dalam penafsiran ini penulis memakai garis besar kitab Wahyu seperti yang dibuat oleh Dave Hagelberg karena cukup praktis dan sederhana untuk dapat memahami kitab Wahyu secara komprehensif.

I.    Bagian Pertama: “... apa yang telah kaulihat ...”, 1:1-20.
A.    Pembukaan, 1:1-8.
   1.    Judul dan kata pengantar, 1:1-3.
   2.    Salam, 1:4-8.
B.    Penglihatan Yohanes, 1:9-20.
   1.    Latarbelakang dari penglihatan, 1:9-11.
   2.    Penglihatannya sendiri, 1:12-20.

II.    Bagian Kedua: “... apa yang terjadi sekarang ...”, 2:1-3:22.
A.    Surat kepada Jemaat di Efesus, 2:1-7.
B.    Surat kepada Jemaat di Smirna, 2:8-11.
C.    Surat kepada Jemaat di Pergamus, 2:12-17.
D.    Surat kepada Jemaat di Tiatira, 2:18-29.
E.    Surat kepada Jemaat di Sardis, 3:1-6.
F.    Surat kepada Jemaat di Filadelfia, 3:7-13.
G.    Surat kepada Jemaat di Laodikia, 3:14-22.

III.    Bagian Ketiga: “... apa yang akan terjadi sesudah ini ...”, 4:1-22:21.
A.    Visi ruangan takhta sebagai pendahuluan, 4:1-5:14.
   1.    Peralihan, 4:1-2.
   2.    Takhta dan sekelilingnya, 4:3-11.
   3.    Gulungan kitab dan Anak Domba, 5:1-7.
   4.    Pujian kepada Dia yang mengambil gulungan kitab, 5:8-14.
B.    Masa kesengsaraan, 6:1-20:3.
1.    Ketujuh Meterai atau Segel, 6:1-8:6.
     a.    Meterai pertama, 6:1-2.
     b.    Meterai kedua, 6:3-4.
     c.    Meterai ketiga, 6:5-6.
     d.    Meterai keempat, 6:7-8.
     e.    Meterai kelima, 6:9-11.
     f.    Meterai keenam, 6:12-17.
Tambahan Pertama    : 144.000 orang dimeteraikan, 7:1-8.
Tambahan Kedua    : Orang banyak ... yang keluar dari kesusahan besar, 7:9-17.
     g.    Meterai ketujuh, 8:1-6.
2.    Ketujuh Sangkakala, 8:7-11:19.
     a.    Keempat Sangkakala yang pertama, 8:7-12.
     b.    Ketiga Sangkakala terakhir, 8:13-11:19.
                   1)    Sangkakala kelima, 8:13-9:12.
                   2)    Sangkakala keenam, 9:13-21.
Tambahan Ketiga    : Gulungan kitab, 10:1-11.
Tambahan Keempat    : Dua Saksi, 11:1-14.
                    3)    Sangkakala ketujuh, 11:15-19.
Tambahan Kelima    : Seorang Perempuan, Anaknya, dan Naga, 12:1-17.
Tambahan keenam    : Binatang pertama, 13:1-10.
Tambahan ketujuh    : Binatang kedua, 13:11-18.
Tambahan kedelapan: 144.000 orang, 14:1-5.
Tambahan kesembilan: Tiga Malaikat, 14:6-13.
Tambahan kesepuluh: Tuaian Gandum di Bumi, 14:14-16.
Tambahan kesebelas    : Tuaian buah anggur di Bumi, 14:17-20.
3.    Ketujuh Cawan, 15:1-16:21.
    a.    Pendahuluan ketujuh Cawan, 15:1-16:1.
    b.    Ketujuh Cawan ditumpahkan, 16:2-21.
4.    Babel dikiaskan sebagai pelacur, 17:1-18.
5.    Kota Babel dimusnahkan, 18:1-24.
    a.    Pemusnahan Babel diberitakan, 18:1-8.
    b.    Tanggapan Dunia, 18:9-19.
c.    Babel tidak akan dipulihkan, 18:20-24.
    6.    Sukacita di Surga, 19:1-10.
    7.    Dia kembali, 19:11-16.
    8.    Dia mengalahkan binatang itu serta tentaranya, 19:17-21.
    9.    Iblis dikalahkan, 20:1-3.
C.    Kerajaan seribu tahun, 20:4-15.
    1.    Orang-orang yang memerintah dengan Tuhan Yesus selama 1.000 tahun, 20:4-6.
    2.    Pemberontakan terakhir, 20:7-10.
    3.    Penghakiman di Takhta Putih, 20:11-15.
D.    Langit dan Bumi baru, 21:1-22:5.
    1.    Pendahuluan: Yerusalem baru, 21:1-8.
    2.    Benteng dan pintu gerbang Yerusalem baru, 21:9-21.
    3.    Kemuliaan Yerusalem baru, 21:22-27.
    4.    Sungai kehidupan dan Hamba Anak Domba di Yerusalem baru, 22:1-5.
E.    Penjelasan akhir dari penglihatan, 22:6-17.

IV.    Bagian Penutup Kitab Wahyu, 22:18-21.


Bersambung..........



Note :
Jika ingin menggunakan artikel ini sebaiknya berhubungan ke Penulis via email : markuslingga@yahoo.com
Artikel ini terdiri dari beberapa bagian yang akan di publish di template yang berikut

by : Pdt Markus Lingga, MTh   Lihat Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Link Pdt. Markus Lingga, MTh
Link Pdt. Dr. John S. Dana, MTh
Link Pdt. Pither Pakka'

Rabu, 19 Maret 2014

(Indonesia: Slogan Bawah Tanah Kaum Atheis)

I haven’t seen the subway poster, but I heard that it reads, “One million New Yorkers can be good without God!” Of course, atheists, like anyone else, can be good without God. We all possess that uncomfortable conscience which raises a fuss whenever we do something wrong. The conscience is so persuasive that it usually keeps us within certain limits, at least superficially. However, the real question is whether or not the atheist has an adequate rationale to do good.

Despite the poster’s bold claim, there are several warning signs to the contrary. The atheist must first believe that there is such a thing as “goodness,” rather than a useful idea that we create in order to make society work. If there is no reality of “goodness” and “evil,” then we can’t even begin to talk coherently about being good without God.

The other warning alarm begins to sound when the atheist unfurls his rationale for doing good. This rationale generally consists of a combination of factors such as “enlightened” selfishness and pragmatism. As one atheist explained enlightened selfishness:

“This principle transforms itself into a rational desire for community. We cherish and enjoy this life for others as well as ourselves; we care for each other as parts of infinite nature; we become persons and lovers of nature; and we endeavor not only to preserve each other in being but also to promote a shared happiness through acts of kindness, through friendliness, and also through laws [call them laws of nature] and institutions that foster and promote life.”

However, selfishness and pragmatism can just as easily promote some pretty ugly behaviors, as we have often seen. Sometimes, we find that our best interests are served by using others. Such is the fabric of human history!

I don’t think that this latest atheist initiative – subway-sloganeering – will be able to address these deficiencies any more than their “Blasphemy Contest,” but we can’t blame them for trying.

Author : Daniel Mann
Instructor at New York School of the Bible, New York,  February 1992 to present
Teach classes of OT, Theology and Apologetics.

Baik Untuk Dibaca
Portal Sahabat
Portal Easyworship
Portal NKI

Selasa, 18 Maret 2014

Senin, 17 Maret 2014 pukul 9.30 di Rumah sakit St. Anna Kendari, Bapak Pither Pakula Bittikaka tutup usia.
Mungkin kita sering hanya mendengar nama P.P Bittikaka jika dalam pertemuan-pertemuan sebagai salah seorang tokoh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), namun jika admin flash back kebelakang, banyak kesan yang beliau tinggalkan buat admin untuk dijadikan sebagai pengalaman perjuangan dalam pelayanan. Berikut kesan almarhum semasa hidupnya :

1. Tahun 1968, Almarhum adalah salah seorang pemuda senior penggagas berdirinya PKM Gereja KIBAID. (lihat link berhubungan dibawah)
2. Awal tahun 1970, majelis gereja KIBAID jemaat Latimojong menugaskan PP. Bittikaka untuk menjajaki kemungkinan dapat membuka pelayanan di Kendari serta mendata anggota gereja KIBAID yang berdominsili di Kendari.
3. P.P Bittikaka adalah sebagai pioner berdirinya gereja KIBAID Klasis Kendari,  dimulai dengan cerita  sewaktu mengumpulkan jemaat mula-mula beliau selalu tampil di gereja-gereja Kendari non KIBAID dengan mempersembahkan pujian (solo) yang diambil dari bagian Nyanyian Kemenangan Iman.
4. Pada tanggal 31 Juli 1973 Pdt. PM. Rerung gembala sidang gereja KIBAID jemaat Pomalaa meresmikan terbentuknya gereja KIBAID Jemaat Kendari
5. Almarhum adalah salah seorang penggagas berdirinya ibadah tahunan Natal klasis Pomalaa-Kendari yang pelaksanaannya  berganti tempat setiap tahun
6. Berdirinya Klasis Kendari menjadikan Natal Klasis Pomalaa-Kendari berubah nama menjadi Natal Gabungan
7. Natal Gabungan tahun 80-an Di Gereja KIBAID Pomalaa, beliau dalam pesan natal mengungkapkan alasan mengapa KIBAID tidak bisa masuk dalam acara Mimbar Agama di salah satu acara TVRI (admin lupa alasannya)
8. Tahun 80-an  sebagai penggagas tim PWI, almarhum  yang paling gencar mempromosikan KIBAID disalah satu surat kabar umum yakni Media Kita (sekarang Kendari Pos grup Jawa Pos). Waktu itu artikelnya selalu menceritakan kegiatan nasional dan lokal gereja KIBAID dalam format cetakan masih hitam putih
9. Tahun 2005 pertemuan admin yang terakhir kalinya di kota kendari, beliau berpesan dimanapun admin bekerja untuk selalu mendahulukan Tuhan dalam segala hal, Terimakasih atas semuanya.
     
Artikel ini admin tulis sebatas ingatan adminstrator dan mengumpulkan referensi dari beberapa media online, jika ada selisih kami meminta dengan sangat untuk dimaklumi, Selamat Jalan PP Bittikaka!


by  : Admin  Profile Penulis


Link Berhubungan
Sejarah PKM Gereja KIBAID

Komentar Facebook

We want You to read with Us again and again II Gratis Buku Virtual Rohani dari kami dengan klik salah satu Image Slider di bagian atas Beranda II Situs ini menerima Tulisan Anda baik Itu Sebagai Sumbangan atau Ingin Menjadi Team Kami II Dukung Web Kami Dalam Bentuk Doa dan Dengan Memberikan Reaksi/Comment Anda di Form Yang Tersedia