• Situs ini menerima tulisan anda utamanya untuk membangun rohani setiap pembaca.

  • Klik disini untuk mendownload Alkitab dan Kidung Gereja (NKI)Android.

  • Dapatkan buku virtual rohani "Still Alive" Gratis dari situs Longori Portal.

Senin, September 15, 2014

Seorang teman meminta saran, dia sakit kanker dengan stadium awal. Apakah dia boleh beriman saja bahwa Tuhan mampu membuat mujijat atau dia tetap harus ke dokter? Banyak orang yang bingung bagaimana harus bersikap dalam hal ini.
.
Seorang pendeta bersaksi, suatu hari putranya sakit panas tinggi. Saat bapak dan ibu pendeta berdoa pribadi secara terpisah, mereka berdua mendapat rhema dari Tuhan bahwa tidak perlu ke dokter. Tuhan akan menyembuhkan putra mereka secara supranatural. Mereka sepakat dan mereka sudah bersatu hati bahwa apa pun resikonya mereka akan menerima dan tidak akan saling menyalahkan. Hati mereka damai dan ada keyakinan yang kuat baik dalam hati bapak dan ibu pendeta mau pun putra mereka, bahwa Tuhan akan menyembuhkan secara supranatural. Benar juga setelah beberapa hari, putranya sembuh.
Patut diingat, bahwa pengalaman pribadi seseorang bukanlah kebenaran. Tuhan Yesus beberapa kali menyembuhkan orang buta dengan cara yang berbeda.
.
Ada dua orang buta yang minta disembuhkan. Lalu Tuhan Yesus bertanya kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”
Pada kesempatan lainnya, ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!” Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia

Peristiwa lainnya, Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
.
Inti dari ke tiga kisah di atas, untuk penyakit yang sama: buta, Tuhan Yesus menyembuhkan dengan cara  yang berbeda-beda. Artinya, kita perlu berdoa mohon hikmat Tuhan, bagaimana caranya agar penyakit kita disembuhkan. Kita tidak bisa meniru pengalaman orang lain dan menganggap Tuhan akan menyembuhkan kita dengan cara yang sama. Tidak ada rumusan yang baku.
Jangan pernah meniru pengalaman orang lain kecuali Anda memang benar-benar yakin bahwa Tuhan memang memerintahkan Anda dengan cara itu. Perlu peka dan koreksi diri, apakah keyakinan Anda benar-benar suara dan petunjuk Tuhan atau suara keinginan hati Anda sendiri. Untuk kasus-kasus yang besar, resikonya bisa mengakibatkan kematian. Hanya Anda yang tahu isi hati Anda sendiri dan apakah memang Tuhan berbicara demikian kepada Anda.
.
Saya pribadi tidak pernah mendapat rhema seperti itu.  Jika sakit, saya akan ke dokter. Dokter juga alat bagi Tuhan untuk menyembuhkan kita. Secara umum jika di kota sendiri, saya akan mendatangi dokter langganan. Tetapi saya tetap berdoa agar Tuhan memberi hikmat pada dokter tersebut untuk menganalisa dan mengobati dengan obat-obat yang tepat. Yang bisa menyembuhkan hanya Tuhan, dokter dan obat sekedar sarana saja. Jika di luar kota, saya berdoa minta Tuhan atur agar saya bisa bertemu dengan dokter pilihan Tuhan saat saya ke rumah sakit. Meski saya tidak kenal dokternya, kadang-kadang dokter umum yang baru saja lulus, hasilnya baik. Dari pengalaman saya, Tuhan selalu mengatur yang terbaik. Selalu sembuh. Saya percaya itu campur tangan Tuhan.
Beberapa waktu yang lalu, putra saya memerlukan operasi untuk tulang hidungnya yang bengkok. Kami berdoa minta Tuhan untuk menentukan dokter yang akan dipakaiNya. Saya berdoa minta Tuhan menunjukkan dengan cara yang mudah dan jelas. Saya bukan orang yang peka terhadap penglihatan, mimpi atau hal-hal supranatural lainnya. Biasa Tuhan berbicara kepada saya melalui buku, artikel, kotbah atau kadang-kadang film. Tuhan berbicara secara unik kepada setiap kita sesuai karakter kita. Yang penting kita harus terus membangun hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan melalui doa dan tekun mempelajari firmanNya. Sehingga ketika Tuhan berbicara, kita tahu karena kita mengenalNya.

Saya broadcast di berbagai grup Blackberry baik grup teman-teman SD, SMP, SMA, Kuliah dan grup teman-teman lainnya untuk mencari dokter THT yang baik, yang pernah menangani kasus yang mirip dengan anak saya. Kami sekeluarga sepakat ingin operasi di Singapura.
Sungguh ajaib, hanya 2 nama dokter yang muncul padahal teman-teman saya tersebar dari seluruh Jawa dan Bali. 99% menyarankan dokter A dan hanya 1 orang yang menyarankan dokter B. Beberapa teman memperkenalkan dengan teman atau saudaranya yang pernah dioperasi untuk kasus serupa. Menurut saya ini cara Tuhan untuk menunjukkan tuntunannya. Banyak sekali dokter THT di Singapura, namun seolah-olah saat itu saya diarahkan untuk memilih dokter tersebut.. Kasus anak saya cukup rumit, karena bentuk tulang hidungnya. Operasi berlangsung jauh lebih lama dari seharusnya. Operasi berjalan lancar dan hasilnya sangat baik. Anak saya lebih sehat berkat operasi itu. Tidak ada lagi gangguan pilek yang muncul setiap pagi. Kami juga tidak selalu memakai dokter di Singapura. Beberapa kali Tuhan justru mengarahkan kami pada dokter di Surabaya. Kami belajar untuk taat pada tuntunanNya.
Saya selalu berprinsip, kecuali untuk kasus yang sangat spesial seperti menerima rhema atau petunjuk dari Tuhan yang sangat jelas maka saya selalu menyarankan untuk tetap ke dokter. Ketika penyakit masih stadium awal, lebih mudah ditangani dan kemungkinan penyembuhan lebih besar. Jika memang Tuhan hendak menyembuhkan secara supranatural tetap bisa.
.
Dodie Osteen, ibu dari pendeta terkenal Lakewood Church di Houston, Texas: Joel Osteen, menderita sakit kanker lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu. Dodie seorang yang cinta Tuhan dan dia punya kebiasaan melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya.
Dokter sudah memvonis bahwa usianya tinggal beberapa bulan lagi. Maka dokter meminta Dodie mempersiapkan saja kematiannya. Dodie tidak percaya vonis dokter. Seperti biasa dengan yakin Dodie berdoa mengusir roh-roh penyakit kanker dan setiap kali mengucapkan janji penyembuhan dari Firman Tuhan. Hasilnya?
Dodie tetap hidup dengan sangat sehat di usianya yang ke 80 tahun ini, dan masih mengendarai mobil sendiri! Yang menarik, justru dokter yang memvonisnya hidupnya tinggal beberapa bulan lagi, sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.

Mujijat Tuhan tetap nyata. Hiduplah dekat denganNya. Apa yang kita anggap mustahil itu hanya karena otak kita tidak mampu memahaminya. Tuhan yang menciptakan alam semesta dan menciptakan diri kita secara detil. Jika ada sesuatu yang rusak, bermasalah, kurang sempurna, tentunya jalan yang terbaik adalah datang kepada Sang Pencipta! Tidak ada yang sulit bagiNya. Percayalah!
Ayoo kita gapai mujijatNya dengan iman dan doa. Tuhan memberkati.
.
by: YennyIndra
.
Dipersembahkan untuk sahabat-sahabatku tercinta: MT & SL.
Bibliografi:
Kisah Dodie Osteen dirangkum dari berbagai kotbah Joel Osteen di Youtube.

Baik Untuk Dibaca
Faith Healing: God’s Sovereignty and Human Responsibility
Portal NKI
Portal EasyWorship

Kamis, September 11, 2014


Artikel ini adalah lanjutan dari Diktat Kitab Wahyu Part I,II,II,IV, dan V

Tambahan Kelima: Seorang Perempuan, Anaknya, dan Naga, 12:1-17.
Bagian ps. 12-15, tidak diawali dengan peralihan apapun, karena bagian ini kembali ke bagian awal.  Masa yang dikisahkan dalam bagian ini, jauh sebelum kisah-kisah lain dalam kitab Wahyu, yaitu masa pemberontakan Iblis di Surga, kelahiran Tuhan Yesus, dan perseteruan antara Yesus dan Iblis.  Walaupun tidak ada kaitan struktrural antara permulaan bagian ini dengan pasal-pasal lain dalam kitab Wahyu, tetapi ada kaitan struktural yang kuat antara penutup bagian ini dengan kelanjutan hukuman Allah melalui ketujuh cawan.
Tujuan ps. 12-15, adalah untuk menguraikan apa yang telah dikemukakan melalui dua tambahan yang sudah ada, yaitu perihal peperangan antara umat Allah dan musuh-musuhNya serta kemenangan umat Allah yang bersaksi, yang tetap setia sampai mati.  Itulah sebabnya beberapa istilah dari dua tambahan pertama diulangi dalam bagian ini, yaitu: jumlah seratus empat puluh empat ribu orang (7:4; 14:1); masa tiga setengah masa (11:2-3; 12:6, 14; 13:5), dan binatang (11:7 dan ps. 13).
Wahyu ps. 12 memunyai banyak kesamaan dengan Yes. 26:16-27:1, di mana orang Israel disamakan dengan seorang ibu mau melahirkan, dan seekor naga dibunuh Tuhan pada hari kiamat.  Menurut Beasley-Murray, ada mitos yang mirip dengan visi ps. 12, yaitu legenda kelahiran dewa Apolos, anak Dewi Leto.  Seekor naga bernama Python diberitahu bahwa dia akan dibunuh oleh anak dewi Leto.  Karena itu, naga Python mengejar Leto dengan maksud untuk membunuhnya sebelum melahirkan anaknya.  Tetapi dewa laut bernama Poisedo menolong Leto dengan menempatkannya di pulau Ortygia.  Untuk melindungi Leto, maka Poisedo menurunkan pulau Ortygia di bawah permukaan laut, sehingga naga Python tidak dapat menemui dewi Leto.  Setelah dilahirkan, Apolos dengan segera dewasa, dan 4 hari kemudian, ia pergi membunuh naga Python itu.
Ada penafsir yang mengatakan bahwa Yohanes mengadopsi mitos kafir tersebut, tetapi Hagelberg mengatakan bahwa Tuhan-lah yang mengambil mitos yang terkenal di lingkungan kafir tersebut dan Ia memakainya dengan isi yang baru dengan maksud untuk menegaskan bahwa bukan Apolos yang akan mengalahkan si naga itu, tetapi Kristus-lah.  Di sini terjadi kontekstualisasi yang mudah dipahami oleh orang Yahudi maupun oleh orang non-Yahudi.  Pasal ini menceritakan peperangan, yaitu: peperangan di Surga (12:1-12) dan peperangan di bumi (12:13-17) (Hagelberg, 233-235).
Ps. 12:1, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”  Siapakah yang digambarkan dengan “seorang perempuan yang diselubungi matahari?”  Ada penafsir dari kalangan Katholik yang lama mengatakan bahwa dialah  Maria, ibu Tuhan Yesus, yang dilihat Yohanes di Surga, tetapi penafsir Katholik masa kini keberatan tentang tafsiran itu, sama dengan tafsiran dari kalangan Protestan.
Karena perempuan itu melarikan diri ke padang gurun sendirian sesudah anaknya diambil dan dibawa ke takhta Allah, dengan demikian tidak ada persamaan dengan Maria.  Menurut Scheunemann, perempuan itu adalah melambangkan umat Israel yang melarikan Yesus dan juga umat Perjanjian Baru.  Perempuan itu senantiasa dikejar oleh si naga besar (12:4b-6).  Itu menunjukkan usaha Iblis untuk membinasakan gereja (12:13-14).  Tetapi gereja itu dilindungi Tuhan di padang gurun.  Padang gurun bagi gereja adalah menunjuk kepada dunia (Scheunemann, 123-124).
Istilah “tanda” menonjol dalam bagian ini, menegaskan bahwa pasal ini penuh dengan lambang.  “Matahari” adalah pakaiannya dan “bulan” adalah alas kakinya.  Kedua belas suku Israel digambarkan dengan “sebuah mahkota dari dua belas bintang”.  Kitab Kej. 37:9 menuliskan bahwa matahari, bulan, dan sebelas bintang adalah melambangkan Yakub, Rahel, dan sebelas dari kedua suku Israel (Hagelberg, 235).  Menurut Peter Wongso, matahari, bulan, dan bintang menyatakan bahwa jemaat berada dalam suasana kemuliaan menyembah kepada Allah.  Maka perempuan itu, sama dengan jemaat atau Israel rohani dan juga jemaat yang ada di atas bumi ini (Wongso, 583).
Ps. 12:2, “Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.”  Pada kitab Yes. 66:7-11 dan Mikha 4:10, bangsa Israel dilambangkan sebagai ibu yang melahirkan.  Jadi pembaca pertama memahami ayat ini.
Ps. 12:3, “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.”  Naga itu disamakan dengan Iblis atau Setan pada ayat 9.  Pada kitab Mzm. 74:14, disebut Lewiatan, pada kitab Yes. 27:1, disebut ular naga yang di laut.  Pada kitab Mzm. 89:11, disebut sebagai Rahab.  Pada kitab Yeh. 29:3-5, Firaun digambarkan sebagai binatang atau sebagai “buaya” di sungai.  Naga adalah melambangkan kejahatan yang sangat jahat, yang pada akhirnya akan dimusnahkan oleh Tuhan.  Gambaran ini melambangkan Iblis, yang mendalangi pemerintah-pemerintah yang jahat sepanjang masa.
Dia “berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh”, dalam kitab Daniel 7:7 dan 24, ada kerajaan yang memakai sepuluh tanduk.  Pada ps. 17:9-13, kepalanya dan tanduknya dikaitkan dengan pemerintahan dunia yang jahat (Hagelberg, 236-237).  “Berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh” menunjuk kepada Anti-Kristus.  Sepuluh tanduk adalah menunjuk kepada sepuluh raja duniawi, seperti pada kitab Daniel 7:24.  “Di atas kepalanya ada tujuh mahkota”, hal itu melambangkan dusta yang besar.
Ps. 12:4, “Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.”  Kitab Daniel 8:10 menjadi kunci penafsiran dari peristiwa ini, yakni dengan ekornya, naga itu “menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.”  Bala tentara langit disamakan dengan bintang-bintang dan beberapa dari mereka dijatuhkan ke bumi.
Naga itu menyeret sepertiga dari malaikat, tatkala dia berdosa dan memberontak kepada Tuhan.  Sejak semula ada permusuhan antara umat Tuhan dengan Iblis, tetapi permusuhan itu mencapai puncaknya pada waktu Anak itu dilahirkan.  Pada waktu itu Iblis siap untuk memusnahkan Dia, tetapi Iblis tetap gagal.  Ini dikisahkan dalam ke-empat kitab Injil (Ibid).
Ps. 12:5, “Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.”  Siapakah Anak laki-laki itu?  Pada umumnya penafsir sepakat mengatakan bahwa ini menunjuk kepada Yesus Kristus atau Mesias.  Jika kita sepakat bahwa perempuan itu adalah jemaat, maka Anak laki-laki bukan Yesus, tetapi menunjuk kepada orang-orang percaya.  Dalam Alkitab tidak pernah dicatat bahwa Kristus keluar dari jemaat (Wongso, 583).
Scheunemann memberikan pendapatnya bahwa Anak laki-laki itu adalah menunjuk kepada Yesus dan tiap-tiap orang yang percaya, yang di dalamnya Kristus hidup.  Alasannya bahwa ps. 12:2 menunjukkan kelahiran Yesus oleh Israel dan 12:5 memunyai arti Mesianis (Scheunemann, 124).  Menurut Hagelberg, Putera itu adalah jelas menunjuk kepada Yesus Kristus, yang menjadi Raja atas segala raja.  Hanya Dia berhak memerintah segala bangsa dengan gada besi.  Ps. 12:5, mencakup kelahiran-Nya sampai kenaikan-Nya ke Surga.  Penekanannya pada ayat ini ialah peperangan-Nya dengan Iblis (Hagelberg, 238).
Ps. 12:6, “Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”  Umat Israel yang percaya kepada Yesus akan dianiaya pada masa kesengsaraan, tetapi Tuhan akan melindungi mereka.  Ayat ini menggambarkan keamanan umat Tuhan dari kelicikan-kelicikan Iblis selama pemerintahan teror oleh Anti-Kristus.  Ini sesuai dengan ajaran pada ps. 7:1-8 dan 11:1-2 (Guthrie, ed., 953).
Ps. 12:7, “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu  dibantu oleh malaikat-malaikatnya, ...”  Di sini terdapat persoalan:  Apakah ps. 12:7-12 merupakan ringkasan dari seluruh sejarah semesta alam, seperti ps. 12:6 ataukah bagian menceritakan suatu peperangan khusus di akhir zaman?  Malaikat yang bernama Mikhael muncul pada kitab Daniel 12:1 sebagai pelindung umat Tuhan.  Mikhael, penghulu malaikat itu mencampakkan naga ke bawah, hal itu sudah dinyatakan Yesus pada kitab Luk. 10:18.  Sekarang Iblis menyesatkan seluruh muka bumi dalam waktu yang terbatas (Why. 12:12).  Hanya orang Kristen yang dapat mengalahkan dia dengan darah Anak Domba Allah (Why. 12:11) (Scheunemann, 124).
Ps. 12:8, “...tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.”  Setelah ps. 12:7-10 digenapi, tindakan Iblis yang dikisahkan dalam Ayub 1:6-12 dan 2:1-6 tidak lagi terjadi.
Ps. 12:9, “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”  Di sini naga itu tidak dijuluki lagi si ular tua, tetapi dia mendapat julukan baru, yaitu Iblis atau Satan.  Iblis adalah terjemahan dari bahasa Yunani yang berarti “pemfitnah” atau “pendakwa” dan Satan berasal dari satu kata dalam bahasa Ibrani yang berarti “pendakwa”.  Si ular tua adalah si Iblis yang sudah menggoda Hawa di Taman Eden (Hagelberg, 239-240).
Ps. 12:10, “Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata:  "Sekarang telah tiba  keselamatan dan kuasa  dan pemerintahan Allah kita,  dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya,  karena telah dilemparkan ke bawah  pendakwa saudara-saudara kita,  yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.”  Identitas dia atau mereka yang bersuara tidak jelas.
Mungkin suara yang nyaring itu dari kedua puluh empat tua-tua atau suara mereka yang keluar dari kesusahan besar.  Malaikat tidak menyebut manusia sebagai saudara kita, jadi yang bersuara dalam ayat ini bukan malaikat.  Suara itu merayakan kedatangan kerajaan Allah kita, yang dikiaskan dalam kata-kata kemenangan, kuasa, dan kekuasaan.  Pada waktu Iblis dan malaikat-malaikat-nya dicampakkan dari Surga, kerajaan Allah menjadi semakin dekat dan semakin nyata (Ibid).
Ps. 12:11, “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba,  dan oleh perkataan kesaksian mereka.  Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.”  Ayat ini memberi kesan bahwa yang berbicara pada ayat 10 adalah para martyr, yaitu mereka yang mati karena kesaksian mereka.  Mereka ini diberikan kuasa untuk mengalahkan naga atau Iblis dengan darah Kristus dan perkataan kesaksian mereka.  Ada tiga kunci kemenangan mereka atas Iblis:  Pertama, oleh darah Kristus.  Kedua, perkataan kesaksian mereka.  Ketiga, kesediaan mereka bersaksi, walaupun menghadapi maut.  Kuasa kesaksian yang disertai dengan kerelaan mati sudah nyata pada ps. 11:3-10.  Pada bagian ini, kuasa yang sama dinyatakan.  Kata mengalahkan si Iblis sama dengan kata “menang”.
Ps. 12:12, “Karena itu bersukacitalah,  hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya,  celakalah kamu, hai bumi dan laut!  karena Iblis telah turun kepadamu,  dalam geramnya yang dahsyat,  karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.”  Karena peperangan di Surga pada ps. 12:7-11 mengakibatkan Iblis dan malaikat-malaikatnya dilemparkan ke bumi, maka Surga bersukacita.  Karena waktunya singkat bagi dia, maka dia bertindak keras dan garang.  Rupanya “waktu yang sudah singkat” pada ayat ini sama dengan empat puluh dua bulan atau 1260 hari atau tiga setengah masa yang disebutkan pada ps. 13:5.
Pada ps. 13 dan 17, diceritakan bagaimana Iblis mewujudkan geramnya dalam waktu yang singkat itu (Hagelberg, 243).
Ps. 12:13, “Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.”  Kini naga itu mengalihkan perhatiannya kepada perempuan, yakni gereja atau jemaat, setelah gagal dalam menghadapi Tuhan di Surga.  Perempuan itu dapat menunjuk kepada Israel yang percaya kepada Yesus.  Ini sesuai dengan pola pikir Rasul Paulus, “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.”
Ps. 12:14, “Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa.”  Dalam simbolisme pelancaran serangan naga terhadap perempuan itu, sang naga dipandang sebagai binatang air yang luar biasa, bahkan sesungguhnya selaku personifikasi dari pada laut.  Perempuan itu terbang ke padang gurun, di mana binatang air tidak dapat hidup di sana (Guthrie, ed., 954).
Ungkapan “satu masa, dua masa, dan setengah masa” adalah kutipan dari kitab Daniel ps. 7:25 dan 12:7, yang maknanya sama dengan “tiga setengah masa” atau 1260 hari atau empat puluh dua bulan.  Rupanya tiga setengah masa itu adalah bagian terakhir dari masa aniaya besar yang berlangsung dalam kurun waktu pertengahan dari tujuh masa (Hagelberg, 244).
Ps. 12:15-16, “Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu.  Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya.”  Umat Israel yang percaya kepada Yesus, yang dikejar oleh Iblis, diselamatkan melalui mujizat, sehingga air yang keluar dari mulut Iblis itu tidak dapat menyakiti mereka.  Usaha Iblis itu digagalkan oleh bumi adalah menggambarkan keamanan rohaniah orang-orang percaya terhadap serangan-serangan Iblis untuk mengancurkan mereka.
Ps. 12:17-18, “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.  Dan ia tinggal berdiri di pantai laut.”  Iblis mengerti bahwa umat Tuhan dilindungi secara ajaib, sehingga ia pergi memerangi keturunan yang lain.  “Keturunan yang lain” adalah menunjuk kepada orang bukan Yahudi yang sudah percaya kepada Yesus (Hagelberg, 246).  “Ia tinggal berdiri di pantai laut”, ada yang menerjemahkan “dan aku tinggal berdiri di pantai itu”, kalimat ini dihubungkan dengan ps. 13:1.
Ps. 13:1-15:4, menunjuk kepada ketujuh cawan yang harus ditumpahkan, yang menyelesaikan murka Allah atas mereka yang diam di bumi.  Menurut Bauckhman, kata “aku melihat” diikuti dengan sebuah tempat menandai peralihan struktural yang mudah dipahami oleh mereka yang mendengarkan pembacaan kitab Wahyu.

Tambahan keenam: Binatang pertama, 13:1-10.
Binatang ini sudah dikemukakan pada ps. 11:7, yaitu binatang yang muncul dari jurang maut, tetapi baru di sini dia digambarkan secara lengkap.
Ps. 13:1, “Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat.”  Binatang yang pertama, yang dari laut adalah seorang manusia yang dinamai Anti-Kristus.  Ia datang dari dalam laut, maka ada kesamaan dengan tuannya, yang datang dari jurang maut (9:2-11), dan yang akan ditutup kembali dalam jurang maut selama seribu tahun (Hagelberg, 247).
Binatang itu “berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh”.  Pada ps. 17:9-10, ketujuh kepala itu ditafsirkan tujuh gunung atau tujuh raja.  Mungkin berarti tokoh jahat ini menguasai tujuh raja.  “Bertanduk sepuluh” menunjuk kepada sepuluh raja yang bersekutu (bnd Dan. 7:7-25).  Binatang itu hanya memunyai sepuluh mahkota, sedang pada 19:12, Kristus memunyai banyak mahkota di atas kepalaNya.
Pada abad-abad pertama, kaisar-kaisar Roma semakin sering memakai sebutan ilahi tentang diri mereka sendiri, sampai kaisar Domitianus menyebut dirinya sebagai tuhan.  Nama-nama seperti itu dapat disebut sebagai nama-nama “hujat” yang dipakai oleh binatang itu.  Ternyata nubuatan Daniel tentang “tanduk kecil” sementara digenapi dalam pribadi Antiokhus Epifanes, tetapi penggenapannya yang menyeluruh diceritakan pada kitab Wahyu, mulai dari ayat ini.
Oknum ini juga dinubuatkan pada Injil Matius ps. 24:15.  Beberapa penafsir mengatakan bahwa binatang ini melambangkan kekaisaran Romawi atau menunjuk kepada salah satu kaisar Roma.  Menurut Walvoord, ayat ini menceritakan kekaisaran Romawi yang akan dipulihkan pada akhhir zaman dan secara khusus, binatang ini adalah pemimpin kekaisaran Romawi yang dipulihkan itu (Hagelberg, 248-249).
Ps. 13:2, “Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar.”  Di sini bentuk binatang yang kelaur dari dalam laut diceritakan.  Naga itu telah menyerahkan segala kedudukan, kuasa, dan kekuatan kepadanya.
Menurut Wongso, binatang itu “berkepala tujuh” menunjuk kepada tujuh negara yang melawan Allah, yaitu: Mesir, Asyur, Babel, Media-Persia, Yunani, Romawi sejak tahun 753 Sebelum Masehi sampai 313 Masehi, dan kekaisaran Romawi sejak tahun 313 Masehi.  Binatang itu mirip dengan penglihatan Daniel pada ps. 7: singa adalah menunjuk kepada kerajaan Babel, beruang menunjuk kepada Media-Persia, macam tutul menunjuk kepada Yunani dan Makedonia (Wongso, 608, 612).
Ps. 13:3, “Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu.”  Pada ayat 14 dicatat bahwa luka yang diderita, yang disembuhkan adalah luka akibat pedang.  Mungkin kepala itu sungguh mati, lalu bangkit sebagai mujizat dari Iblis, tetapi mungkin juga ini hanya mujizat palsu, suatu tiruan dari kebangkitan Kristus.
Kaisar Nero bunuh diri pada tahun 68 Masehi, sebelum kitab Wahyu ditulis.  Setelah kematiannya, muncul kabar angin bahwa sebenarnya ia tidak mati dan ia akan bangkit lagi.  Banyak penafsir yang sepakat bahwa kepala yang kena luka fatal itu menunjuk kepada kaisar Nero, tetapi rupanya kepala yang diceritakan pada nas ini adalah salah satu raja yang dikuasai Anti-Kristus yang akan muncul di akhir zaman (Hegelberg, 250).
Ps. 13:4, “Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: "Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?”  Iblis dan Anti-Kristus tidak hanya mencari kuasa politis, tetapi mereka juga mengingini sembahan dari manusia.  Dengan mengucapkan “siapakah yang sama seperti binatang itu?”  Adalah pujian yang seharusnya untuk Allah, tetapi sudah diselewengkan.  Pada zaman Yohanes dan pada akhir zaman, pemerintah menuntut untuk disembah.  Setiap pemerintah yang menuntut untuk disembah adalah koalisi dengan Iblis.
Ps. 13:5, “Dan kepada binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya.”  Pada ayat ini, yang memberikan kuasa kepada binatang itu bukan naga, tetapi Allah sendiri untuk mengadakan perang selama empat puluh dua bulan lamanya.  Allah yang dihujat, yang anakNya diperangi, Dia-lah yang memungkinkan Anti-Kristus bertindak, dengan batasan waktu yang tegas (Hagelberg, 251; Guthrie, ed., 955).  Empat puluh dua bulan dapat dibandingkan dengan ps. 11:2-3.
Ps. 13:6, “Lalu ia membuka mulutnya untuk menghujat Allah, menghujat nama-Nya dan kemah kediaman-Nya dan semua mereka yang diam di sorga.”  Yang ditekankan di sini ialah sikap Anti-Kristus, suka menghujat, yang bukan sampingan, tetapi sangat mendasar.  Kata “menghujat” (Yun. blasphemesai) terdiri atas kata blapto artinya melukai dan pheme artinya berkata.  Menghujat artinya mengatakan kata-kata yang melukai (Wongso, 615).
Ps. 13:7, “Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.”  Terhadap yang ada di Surga, binatang itu dapat menghujat, tetapi terhadap orang-orang kudus di dunia, ia berperang dengan kuasa yang diberikan kepadanya.  Di sini dikatakan bahwa dia dapat mengalahkan orang-orang kudus.  “Mengalahkan” sama dengan kata yang dipakai pada ps. 12:11.  Iblis hanya dapat mengalahkan orang-orang kudus secara jasmani, tetapi mereka akan mengalahkan Iblis secara rohani dan bersifat kekal.
Anti-Kristus adalah raja tiruan, yang berkuasa atas setiap suku, kaum, bahasa, dan bangsa, tetapi tidak lama lagi Kristus akan datang membangun kerajaan seribu tahun (Hagelberg, 252).  Keberhasilan Anti-Kristus bersifat paradoks dan sangat mengherankan.  Di satu pihak, ia akan berhasil sebagai organisatoris yang amat cermat dan brilian untuk membendung ancaman perang (bnd 13:4) dan untuk mengatasi kekacauan di antara bangsa-bangsa, khususnya di bidang ekonomi.  Maka kepadanya dilimpahkan segala kekuasaan atas bangsa-bangsa sebagai kepala pemerintahan dunia yang tunggal.  Dia dihormati, bahkan dipuja sebagai penyelamat dunia (13:4-8).  Manusia merasa bahagia, seolah-olah sudah memasuki zaman keemasan, akan tunduk kepada Anti-Kristus sebagai pembawa damai yang suda lama dinanti-nantikan.  Namun di pihak yang lain, segala sukses yang diperolehnya dengan jalan kekerasan dan paksaan semata-mata, bersifat totaliter, mengorbankan martabat manusia, dan mengilahkan diri manusia (Scheunemann, 134-135).
Ps. 13:8, “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.”  Semua orang yang tidak percaya kepada Yesus, akan mengikuti binatang ini.  Berarti tidak ada lagi manusia yang menyembah setengah binatang atau Tuhan.  Istilah “kitab kehidupan” dibahas pada ps. 3:5.  Tuhan Allah yang berkedaulatan telah memilih mereka yang percaya kepadaNya dan telah menulis namanya dalam kitab kehidupan.  Nama mereka yang menyembah binatang tidak dicatat.
Ps. 13:9-10, “Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!  Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang.”  Ayat 9, mirip dengan himbauan pada ps. 2-3 kepada setiap jemaat di Asia Kecil.  Ayat 10, adalah menghunjuk kepada saat pembalasan.  Walaupun keadaan mereka pada masa kesusahan besar begitu berat, tetapi Tuhan berjanji akan mengadakan pembalasan yang setimpal.  Ayat ini pasti menghibur jemaat Smirna dan jemaat-jemaat lain yang menderita aniaya.  Sesuai dengan firman Tuhan Yesus pada ps. 22:12, Dia akan datang dengan tiba-tiba dan Dia membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (Hagelberg, 255).

Tambahan ketujuh: Binatang kedua, 13:11-18.
Dengan binatang yang kedua ini, ada tiga oknum jahat yang pokok yang dijuluki “trinitas palsu”, yang meniru Allah Tritunggal yang sejati.  Sama seperti Kristus menerima kuasa dari Allah, Bapa, demikian juga Anti-Kristus menerima kuasa dari Iblis (Why. 13:4).  Roh Kudus mempermuliakan Kristus, demikian pun binatang yang kedua mempermuliakan Anti-Kristus (Why. 13:12).
Ps. 13:11, “Dan aku melihat seekor binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba dan ia berbicara seperti seekor naga.”  Siapakah yang dimaksud dengan binatang yang keluar dari dalam bumi?  Pada umumnya penafsir mengartikannya sebagai Anti-Kristus, nabi palsu atau kuasa agama lain.  Berbicara seperti naga berarti ia adalah juru bicara Setan.
Ia melaksanakan perintah binatang yang pertama.  Jika kita mempelajari syair Ibrani, maka binatang yang keluar dari dalam laut adalah sejajar dengan binatang yang keluar dari dalam bumi.  Laut dan bumi adalah istilah simbolis, yang menyatakan lingkup aktivitas Setan.  Binatang ini membunuh orang yang tidak menyembah dia.  Ia juga memberi tanda pada dahi orang yang menyembahnya; yang dijadikan tanda penguasaan perdagangan dan ekonomi.  Binatang dari dalam bumi, wujud nyatanya adalah ekonomi sebagai berhala mereka.  Di dalam dunia politik, ekonomi merupakan motivator utama untuk mendukung kuasa politik (Wongso, 617-618).
Binatang kedua ini bertanduk dua, sedang binatang pertama bertanduk sepuluh.  Dia mirip dengan domba, tetapi berbicara seperti naga, berarti dia adalah penipu seperti Iblis (Hagelberg, 256).
Ps. 13:12, “Dan seluruh kuasa binatang yang pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh.”  Tugas utamanya ialah menyebabkan seluruh bumi menyembah binatang pertama.  Pembaca mula-mula pasti masih ingat akan penyembahan kepada kaisar yang diwajibkan bagi mereka.  Sama seperti Iblis memberi kuasa kepada Anti-Kristus, demikian juga Anti-Kristus memberi kuasa kepada nabi palsu.  Binatang kedua ini adalah melambangkan imamat agama Anti-Kristus atau dia adalah imam besar Anti-Kristus.
Ps. 13:13, “Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang.”  Imam-imam kafir tidak segan-segan memakai tipu muslihat seperti mengeluarkan api, sepertinya dari langit dan membuat berhala berbicara (Guthrie, ed., 956).
Pada kitab Ul. 13:1-2 dan 2Tes. 2:9, umat Allah sudah diperingatkan supaya tidak disesatkan dengan tanda-tanda palsu.  Binatang yang kedua, seperti Elia yang palsu.  Dalam hal itu, dia seperti dua saksi yang mengeluarkan api dari mulut mereka untuk menghanguskan semua musuh mereka.
Ps. 13:14, “Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu.”  Oknum ini tiga kali disebut sebagai nabi palsu (16:13; 19:20, dan 20:10).  Ungkapan “mereka yang diam di bumi” menunjuk kepada orang-orang yang tidak mau percaya kepada Anak Domba Allah (13:12, 18; 17:2, 8).  Pada zaman Yohanes, wakil kaisar mendirikan patung kaisar yang harus disembah.  Siapa yang menolak patung kaisar akan dihukum mati.  Nampknya kebiasaan tersebut akan dijalankan pada akhir zaman (Hagelberg, 258).
Ps. 13:15, “Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh.”  Menurut Mounce, ada patung yang dihidupkan dalam sastera zaman itu.  Nabi palsu itu bukan saja menjadi ahli bicara yang mahir, tetapi juga dapat membuat mujizat, meskipun mujizatnya berasal dari Iblis.  Para imam kafir, dengan pembicaraan perutnya membuat berhala berbicara (Ibid).
Ps. 13:16-17, “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.”  Pada ps. 7:3, hamba-hamba Allah dimeterai pada dahi mereka.  Istilah “kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba menekankan bahwa tidak ada yang dikecualikan dari kewajiban itu.
Anti-Kristus akan menguasai perdagangan, sehingga ia melarang jual beli bagi mereka yang tidak menerima tanda itu.  Pada zaman itu, orang Ibrani, orang Yunani, dan orang Roma memunyai kebiasaan untuk mengganti huruf dengan bilangan.  Huruf A disamakan dengan 1, B disamakan dengan 2, dan seterusnya.  Beasley-Murray menyebut tulisan yang digoreskan di sebuah tembok di Pompeii: “Aku cinta dia yang namanya 545” (Hagelberg, 259-260).
Ps. 13:18, “Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.”  Menurut Irenaeus pada tahun 130-202 Masehi, angka 666 adalah angka Latinisasi: Latin dalam bahasa Yunani (LATEINOS): L=30, A=1, T=300, E=5, I=10, N=50, O=70, S=200, jumlah = 666.  Setiap huruf Latin memunyai angka tertentu, misalnya: A=1, B=2, dan seterusnya (Wongso, 619).  Angka 666 itu tidak perlu untuk kita, karena angka itu tetap tidak mencapai angka sempurna, seperti angka 777.  Beasley-Murray mencatat bahwa bilangan nama Yesus dalam bahasa Yunani adalah 888, lebih dari sempurna (Hagelberg, 260-261).
Irenaeus juga memberi penjelasan yang lain bahwa angka 666 adalah nama dari seorang Yunani, yaitu EUANTHAS, E=5, U=400, A=1, N=50, TH=9, A=1, S=200, jumlahnya 666.  Ada juga pendapat menurut mitos Yunani bahwa ini menunjukkan seorang penentang Allah bernama Teitan: T=300, E=5, I=10, T=300, A=1, N=50, jumlahnya 666.  Banyak penafsir modern menganggap kaisar yang menganiaya jemaat zaman Yohanes adalah Nero, maka angka 666 ini menunjuk kepada Nero.  Angka 666 dalam bahasa Yunani: Hexkoaioi hekekonta hex.  Singkatan angka 666 dalam bahasa Yunani: x=600, ks=60, s=6.  Singkatan nama untuk Kristus ialah Xs, lafal kata ini ks seperti suara yang dikeluarkan oleh ular, maka dijelaskan sebagai tanda bagi Anti-Kristus atau Kristus palsu (Wongso, 620).

Tambahan kedelapan: 144.000 orang, 14:1-5.
Kisah tentang Iblis, Anti-Kristus, dan nabi palsu pada ps. 12 dan 13 memang berat dan ngeri untuk dibaca, namun pada ps. 14 perhatian kita tidak lagi kepada tokoh kejahatan, tetapi pada Kristus dan mereka yang memuji Dia.  Kita dihibur dan dikuatkan karena Raja kita pasti menang dan Dia beserta umatNya yang setia dalam segala kesusahan.
Bukit Sion bukanlah menunjuk kepada geografis, tetapi menunjuk kepada Bait Suci, suatu suasana di mana umat Allah berkumpul untuk beribadah, suatu suasana penampakan kemuliaan serta penebusan Allah (Wongso, 621).
Ps. 14:1, “Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.”  Nampaknya peristiwa ini terjadi di bukit Sion, sesudah masa aniaya besar.  Bukit Sion itu menunjuk kepada Yerusalem Surgawi dari pemerintahan seribu tahun (21:9-10).
Pada kitab Mzm. 2:6; 9:12; 48:3, Bukit Sion adalah tempat kediaman Mesias sebagai Raja.  Pada kitab Yoel 2:23, 32; 3:16, dikatakan bahwa keselamatan dari Sion.  Nampaknya kedua tema tersebut cocok dengan konteks ini, sebab ada seratus empat puluh  empat ribu (144.000) orang yang dimeteraikan pada ps. 7 dan ada 144.000 orang yang tiba dengan selamat di bukit Sion, tanpa yang hilang.  Orang-orang itu memakai namaNya dan nama Bapa-Nya sebagai tanda di dahi mereka.
Tanda ini kontras dengan tanda 666 yang dipakai oleh penyembah Anti-Kristus.  Identitas kumpulan 144.000 orang pasti sama dengan jumlah pada ps. 7 atau dengan kata lain, angka 144.000 adalah jumlah orang-orang Yahudi yang bertobat dan percaya kepada Yesus.  Mereka ini tidak menyembah binatang dan tidak menyembah kepada Anti-Kritus, dan mereka telah bersama-sama dengan Kristus di bukit Sion (Hagelberg, 261-262).
Ps. 14:2, “Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.”  Bunyi suara yang didengar Yohanes begitu mengesankan, sehingga digambarkan dalam tiga macam bunyi: “bagaikan desau air bah, bagaikan deru guruh yang dahsyat, dan seperti pemain-pemain kecapi.”  Itu berarti bunyi yang dia dengar bukan hanya dahsyat, tetapi juga indah.
Ps. 14:3, “Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.”  Nyanyian baru dinyanyikan dalam konteks kemenangan dan keselamatan jasmani.  Nyanyian mereka adalah khas dan ayat ini tidak memunyai indikasi bahwa kelompok penyanyi itu adalah pria yang tidak menikah.
Ps. 14:4, “Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu.”  Ayat ini harus ditafsirkan secara simbolis, yang menunjukkan kemurnian rohani (Guthrie, ed., 959).
Pada ps. 7 tidak diterangkan bahwa mereka “perawan.”  Jumlah 144.000 orang itu adalah perawan secara rohani.  Tetapi kumpulan orang itu tidak melambangkan semua umat Allah.  Mereka adalah orang-orang yang dipilih, dimeteraikan, dan ditebus oleh Tuhan pada masa aniaya besar.  Kata “perawan” dijelaskan dengan tidak mencemarkan diri dengan perempuan-perempuan.  Jika “perawan” diartikan secara rohani, maka tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan harus juga ditafsirkan secara rohani.  Kalimat ini tidak berarti bahwa hubungan seks dalam pernikahan dianggap sebagai kecemaran.
“Perawan” dalam pengertian orang-orang yang kudus.  Mereka mengikuti Anak Domba ke mana Ia pergi.  Anak Domba artinya Dia yang telah disembelih.  Istilah “buah sulung” artinya mereka ini adalah kumpulan yang sungguh dihormati dan juga menandai bahwa “panen” sedang berlangsung (Hagelberg, 264-265).
Ps. 14:5, “Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.”  Pada zaman Anti-Kristus adalah zaman yang penuh dengan dusta, tetapi mereka ini tidak berdusta.  Ini sesuai dengan nubuatan Zefanya 3:13, “sisa Israel itu” tidak melakukan kelaliman atau berbicara bohong.  Dalam mulut mereka tidak terdapat lidah penipu.

Tambahan kesembilan: Tiga Malaikat, 14:6-13.
Pesan dari ketiga malaikat itu saling berkaitan dan semakin meningkat:  Panggilan untuk bertobat, pengumuman tentang hancurnya Babel ibu kota kejahatan, dan penyiksaan terhadap penyembah binatang tersebut.
Ps. 14:6, “Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, ...”  Malaikat yang terbang di tengah langit untuk memberitakan Injil adalah penyataan tentang sarana penginjilan melalui telekomunikasi canggih yang sanggup memberitakan Injil ke seluruh umat manusia.
Istilah “langit” adalah menunjuk kepada atmosfir sebagai jala pantulan suara, yang digunakan dewasa ini dalam sistem komunikasi (Wongso, 622-623).  Istilah “Injil itu” memunyai dua kemungkinan: Pertama, berita bahwa Tuhan akan datang segera.  Kedua, berita Injil keselamatan, supaya terlepas dari penghakiman (Hagelberg, 266-267).
Ps. 14:7, “...dan ia berseru dengan suara nyaring: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”  Seluruh bangsa dipanggil kepada pertobatan dan ibadah kepada Allah.  Pesan ini dinamai Injil kekal, karena berkat-berkat yang kekal dari berita kegembiraan masih tetap tersedia bagi mereka yang menyambutnya (Guthrie, ed., 958).
Ps. 14:8, “Dan seorang malaikat lain, malaikat kedua, menyusul dia dan berkata: “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.”  Babel adalah menunjuk kepada kerajaan dunia.  Berita penggenapannya diungkapkan pada ps. 17-18.  Babel adalah lambang roh kefasikan yang setiap zaman berusaha untuk menarik manusia untuk tidak menyembah Allah sebagai Sang Pencipta (Hagelberg, 268).
Ps. 14:9-10, “Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,  maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.”
Hukuman bagi mereka yang menyembah binatang dan patungnya adalah sangat berat.  Berita dari malaikat yang ketiga, dengan suara nyaring adalah merupakan peringatan dan kesempatan untuk bertobat.  Hukuman itu diumpamakan dengan anggur yang tanpa campuran, yang dapat dikatakan “kental”.  Hukuman itu sama seperti hukuman terhadap Sodom dan Gomora yang dihukum dengan api dan belerang (Ibid, 269).
Ps. 14:11, “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.”  Istilah “siang malam” menunjuk kepada siksaan yang kekal.  Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa Neraka itu adalah tempat di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan apinya tidak padam (Mrk. 9:48).
Ps. 14:12, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.”  Ayat ini merupakan penerapan Yohanes tentang berita yang disampaikan oleh ketiga malaikat tadi.  Nubuatan mengenai berita ketiga malaikat itu adalah untuk meneguhkan jemaat-jemaat dalam ketaatan dan iman kepada Yesus.
Ps. 14:13, “Dan aku mendengar suara dari surga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”  Ayat ini juga merupakan penghiburan bagi jemaat-jemaat di Asia Kecil.  Istilah perbuatan mereka menyertai mereka adalah menunjuk kepada upah yang tertulis pada ps. 22:12.  Perbuatan itu merupakan dasar untuk mendapat upah sebagai hadiah.

Tambahan kesepuluh: Tuaian Gandum di Bumi, 14:14-16.
Setelah berita dari tiga malaikat tadi, di sini dikisahkan juga tentang dua tuaian di seluruh bumi.  Pertama, tuaian gandum dan kedua, tuaian anggur.  Dua visi ini berkaitan erat dengan Yoel 3:13, “tuaian yang sudah masak.”  Dia akan datang segera dan melakukan penghukuman sebagai penggenapan dari dua visi yang dikisahkan pada ps. 19-20.
Ps. 14:14, “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya.”  Identitas dari “seorang seperti Anak Manusia” dipermasalahkan oleh beberapa penfsir, karena mustahil malaikat memberi perintah kepada Tuhan Yesus.  Pada ayat 15, Dia yang dinamai Anak Manusia diperintah oleh malaikat lain yang keluar dari Bait Suci.
Dalam bahasa Yunani ditulis homoiou uion anthropon (like a son of man bukan like the son of man) artinya seperti seorang anak manusia, bukan seperti anak manusia itu karena ditulis tanpa kata sandang.  Itu berarti lebih condong kepada malaikat daripada Tuhan Yesus.  Tetapi ada juga penafsir yang mengatakan bahwa istilah seperti Anak Manusia adalah menunjuk kepada Tuhan Yesus, jika dibandingkan dengan ps. 1:13, yang juga memakai kata dalam bahasa Yunani homoiou uion anthropon.  Ditinjau dari doktrin kitab wahyu, istilah Anak Manusia adalah menunjuk kepada Tuhan Yesus (Wongso, 630-631).  Pendapat ini didukung oleh Leon Morris, Dave Hagelberg, dan penafsir lainnya.
Ps. 14:15-16, “Maka keluarlah seorang malaikat lain dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu: “Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.” Dan Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumi pun dituailah.”  Kesulitan pada ayat 14 dan 15 ialah apakah mungkin Tuhan Yesus diperintah oleh malaikat?  Hagelberg menjawab, bukan soal mungkin atau tidak mungkin, Tuhan Yesus tidak seperti manusia yang suka mempertahankan jabatan, kehormatan, dan sebagainya.  Tuhan Yesus tunduk kepada otoritas Bapa yang memberikan perintah kepada utusanNya, yaitu melalui malaikatNya (Hagelberg, 275).

Tambahan kesebelas: Tuaian Buah Anggur di Bumi, 14:17-20.
Ps. 14:17, “Dan seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di surga; juga padanya ada sebilah sabit tajam.”  Malaikat kelima ini keluar dari Bait Suci sama dengan malaikat yang keempat di atas.  Sebagaimana Anak Manusia membawa sabit tajam, demikian juga dengan malaikat ini membawa sabit tajam.
Ps. 14:18-19, “Dan seorang malaikat lain datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya: “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.”  Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam kilangan besar, yaitu murka Allah.”
Pada ps. 6:9-11 dan 8:3-5, mezbah memunyai hubungan erat dengan doa-doa orang-orang kudus.  Hukuman yang segera ditimpakan atas mereka yang diam di bumi adalah merupakan jawaban utama dari doa orang-orang kudus pada ps. 6:10.  Kepada malaikat ini dipercayakan kuasa atas api.  Yesus menuai gandum adalah menunjuk kepada orang-orang yang percaya dibawa masuk kerajaan Allah, sebagaimana gandum dibawa masuk ke lumbung.  Malaikat menuai anggur di bumi adalah menunjuk kepada penghukuman atas orang-orang yang tidak percaya kepada Krisus, termasuk para penganiaya jemaat.  Jadi Kristus bersifat menyelamatkan, sedangkan malaikat itu bersifat menghukum.  Orang-orang yang tidak percaya seumpama dengan anggur yang tidak lama lagi dibuang ke dalam kilangan murka Tuhan (Wongso, 632).
Ps. 14:20, “Dan buah-buah anggur itu dikilang di luar kota dan dari kilangan itu mengalir darah, tingginya sampai ke kekang kuda dan jauhnya dua ratus mil.”  Di luar kota menunjuk di luar kota Yerusalem.  Mungkin dimaksudkan akan terjadi pertempuran di luar kota Yerusalem dan pertempuran itu diumpamakan dengan kilangan.  Karena banyaknya orang yang mati, maka darahnya mengalir setinggi 150 Cm dan mengalir sepanjang 1600 stadia atau 296 Km.  Seorang pengarang kuno berkata, panjang tanah Israel adalah 1664 stadia berarti darah itu mengalir sepanjang tanah Israel (Hagelberg, 277-278).

1.    Ketujuh Cawan, 15:1-16:21.
Tambahan-tambahan pada mata rantai kisah kitab Wahyu sudah berakhir dengan tuaian buah anggur dan perhatian pembaca dikembalikan pada mata rantai meterai, sangkakala, dan yang terakhir ialah cawan.

a.    Pendahuluan ketujuh Cawan, 15:1-16:1.
Ps. 15:1, “Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, besar dan ajaib: tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka terakhir, karena dengan itu berakhirlah murka Allah.”  Dengan munculnya malaikat-malaikat itu, maka jalannya kisah hari kiamat sudah mendekati puncaknya.  Artinya jika ketujuh malaikat itu sudah menjalankan tujuh malapetaka mereka, maka berakhirlah murka Allah.  Ketujuh malapetaka itu sudah didahului oleh malapetaka meterai dan sangkakala. Ayat 1 merupakan judul bagi ps. 15 dan 16 kata Beasley-Murray.
Ps. 15:2, “Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Allah.”  Ayat 2-4 merupakan sisipan yang mendahului ditumpahkannya ketujuh cawan.  Sebagaimana pada ps. 7, sebelum malapetaka ketujuh sangkakala diceritakan pertama-tama didahului dengan penglihatan Yohanes tentang orang-orang yang keluar dari kesusahn besar (7:9-44), demikian juga sebelum malapetaka ketujuh cawan dikisahkan, pertama-tama Yohanes melihat orang-orang yang telah mengalahkan binatang, patungnya, dan bilangan namanya.
Orang-orang ini berdiri di tepi lautan kaca, sedang pada ps. 7 mereka berdiri  di hadapan takhta Allah dan Anak Domba.  Pada ps. 4:6, “lautan kaca bagaikan kristal” berada di hadapan takhta Allah, berarti mereka yang disebutkan pada ps. 15:2 berdiri di hadapan takhta Allah (Hagelberg, 280-281).
Ps. 15:3-4, “Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!  Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.”
Dalam Perjanjian Lama terdapat dua nyanyian Musa, yaitu dalam Kel. 15 dan Ul. 32.  Yang dipakai pada ps. 15:3-4, adalah nyanyian Musa dari Kel. 15, di mana Musa merayakan hari kemenangannya atas Firaun.  Nyanyian itu juga digambarkan sebagai nyanyian Anak Domba karena Dia meraihkan kemenanganNya yang besar dan yang utama.  Nyanyian ini cocok sekali dengan konteks jemaat-jemaat pada ps. 2 dan 3.
Ps. 15:5, “Kemudian dari pada itu aku melihat orang membuka Bait Suci -- kemah kesaksian -- di surga.”  Kemah  kesaksian adalah nama yang diberikan kepada Tabut Perjanjian atau kemah hukum Allah.  Ayat ini menekankan penghakiman-penghakiman yang segera akan dilaksanakan (Guthrie, ed., 960).
Ps. 15:6, “Dan ketujuh malaikat dengan ketujuh malapetaka itu, keluar dari Bait Suci, berpakaian lenan yang putih bersih dan berkilau-kilauan dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.”  Bahasa Yunani untuk batu adalah lithon, sedangkan lenan adalah linon.  Yang manakah yang tepat?  Ini berarti tujuh malaikat dengan tujuh hukuman berasal dari Allah.  Pakaian mereka menyatakan bahwa mereka kudus dan mulia, sesuai dengan tugas mereka (Hagelberg, 284).
Ps. 15:7, “Dan satu dari keempat makhluk itu memberikan kepada ketujuh malaikat itu tujuh cawan dari emas yang penuh berisi murka Allah, yaitu Allah yang hidup sampai selama-lamanya.”  Latarbelakang dari cawan yang penuh berisi murka Allah adalah nubuatan dari Perjanjian Lama, ketika bangsa-bangsa kafir dituntut minum dari cawan yang penuh anggur, sehingga mereka mabuk.  Cawan itu menunjukkan penghakiman dari Allah.
Ps. 15:8, “Dan Bait Suci itu dipenuhi asap karena kemuliaan Allah dan karena kuasa-Nya, dan seorang pun tidak dapat memasuki Bait Suci itu, sebelum berakhir ketujuh malapetaka dari ketujuh malaikat itu.”  Dalam Perjanjian Lama, asap menandai hadirat Allah, seperti pada kitab kel. 19:18, di mana para imam tidak dapat memasuki rumah Tuhan menyelenggarakan kebaktian karena kehadiran kemuliaan Tuhan.  Ayat-ayat merupakan pendahuluan dari hukuman ketujuh cawan, menandakan bahwa hukuman terakhir adalah datang dari Allah sendiri, bukan dari malaikat.
Hukuman cawan ini mirip dengan hukuman sangkakala, tetapi lebih berat dan lebih tajam.  Hukuman sangkakala masih memiliki batas-batas, seperti sepertiga bumi, dan sebagainya, tetapi hukuman dari cawan pada ps. 16 tidak ada batasannya.  Hukuman cawan berlangsung secara beruntun tanpa ada sisipan tambahan, tidak seperti yang terdapat pada hukuman meterai dan sangkakala.
Ps. 16:1, “Dan aku mendengar suara yang nyaring dari dalam Bait Suci berkata kepada ketujuh malaikat itu: “Pergilah dan tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allah itu ke atas bumi.”  Ayat ini masih termasuk pendahuluan.

b.    Ketujuh Cawan ditumpahkan, 16:2-21.
Cawan Pertama, 16:2
Ps. 16:2, “Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.”  Mereka yang memakai tanda dari binatang itu menerima tanda baru lagi, yaitu bisul jahat dan berbahaya.  Tulah ini mirip dengan tulah keenam pada kitab Keluaran (Hagelberg, 288).
Bisul jahat dan berbahaya dalam bahasa Yunani helkos kakon kao poneron.  Kata kakos menunjukkan manusia yang kehilangan kepribadian yang seharusnya dimiliki.  Kata poneros artinya beracun menunjukkan bentuk aktivitas yang jahat, pemikiran jahat yang keluar dari hati, perkataan yang jahat, usaha yang jahat, dan sebagainya.  Kata helkos adalah sejenis penyakit kulit.  Penderita bisul ini mendapatkan penghukuman dalam bentuk fisik, jiwa, moral, dan sebagainya (Wongso, 661).
Cawan Kedua, 16:3
Ps. 16:3, “Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.”  Ini mirip dengan tulah yang pertama dan sangkakala yang kedua, tetapi hukuman ini jauh lebih dahsyat.  Bukan saja soal areanya, tetapi pada kitab Kel. 7 dan Why. 8, tidak memakai ungkapan “seperti darah orang mati.”  Hukuman cawan ini lebih jauh jangkauannya dan lebih mengerikan (Hagelberg, 288).
Cawan Ketiga, 16:4-7
Ps. 16:4, “Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah.”  Ini mirip dengan tulah pertama dan sangkakala ketiga, tetapi hukuman sangkakala ketiga, dikatakan air sungai dan mata air menjadi pahit, bukan menjadi darah.  Itu berarti hukuman cawan ini lebih mengerikan dan menakutkan.
Ps. 16:5, “Dan aku mendengar malaikat yang berkuasa atas air itu berkata: "Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini.”  Pada ps. 7:1, ada empat malaikat yang menahan keempat angin bumi, berarti malaikat yang berkuasa atas air tidaklah mengherankan.  Pada ps. 14:18, ada malaikat yang berkuasa atas api.
Ps. 16:6, “Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!”  Sama halnya dengan ps. 16:2, ada kesejajaran antara dosa dan hukumannya.  Beasley-Murray dan Mounce menjelaskan bahwa adanya kesejajaran antara dosa dan hukumannya merupakan hal yang tidak asing bagi orang-orang Yahudi (Hagelberg, 289).
Ps. 16:7, “Dan aku mendengar mezbah itu berkata: "Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu.”  Sebenarnya mezbah itu tidak berbicara, tetapi siapa yang ada di atasnya itu yang berbicara.  Ini adalah kiasan yang biasa dipakai dalam sastera Ibrani dan Yunani.
Cawan Keempat, 16:8-9
Ps. 16:8-9, “Dan malaikat yang keempat menumpahkan cawannya ke atas matahari, dan kepadanya diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api.  Dan manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu dan mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia.”  Cawan yang keempat berbeda dari sangkakala yang keempat pada ps. 8:12, di mana “matahari  terpukul oleh sangkakala yang keempat, sehingga sepertiganya menjadi gelap.”
Ps. 16:8, cawan itu ditumpahkan kepada matahari, sehingga matahari sangat menyengat manusia.  Matahari memancarkan suhu yang sangat panas, yang menghanguskan manusia.  Kata “menghanguskan” dalam bahasa Yunani kaumatisal artinya terbakar secara terus menerus.  Allah menciptakan matahari demi segala keperluan manusia dan makhluk hidup lainnya, tetapi manusia malah menjadikannya sebagai dewa, sehingga Tuhan akan menjadikan sangat panas untuk menghanguskan manusia itu sendiri
Panas matahari tidak akan mematikan, tetapi hanya membawa penderitaan, supaya manusia bertobat (Wongso, 666).  Pada ps. 16 ini nyata bahwa hukuman-hukuman malapetaka itu berasal dari Allah sendiri, tetapi walaupun manusia dihukum, manusia tidak bertobat (16:9, 11, 21).
Cawan Kelima, 16:10-11
Ps. 16:10-11, “Dan malaikat yang kelima menumpahkan cawannya ke atas takhta binatang itu dan kerajaannya menjadi gelap, dan mereka menggigit lidah mereka karena kesakitan, dan mereka menghujat Allah yang di surga karena kesakitan dan karena bisul mereka, tetapi mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka.”  Cawan kelima ini merupakan hukuman pertama yang diarahkan secara khusus kepada binatang itu.  Hukuman ini berkaitan dengan tulah kegelapan pada kitab Keluaran 10:21.  Charles menyarankan bahwa kesakitan yang berlebihan dari malapetaka ini adalah karena belalang-belalang demonis dari sangkakala kelima yang muncul berbarengan dengan asap dari jurang maut, menggelapkan langit dan menyebabkan siksaan atas pengikut dari binatang itu (Guthrie, ed., 960).  Akibat malapetaka dari cawan kelima berbeda dengan yang terjadi pada pelayanan dua saksi (11:3-13), hukuman malapetaka dari cawan ini tidak menghasilkan pertobatan (Hagelberg, 291).
Cawan Keenam, 16:12-16
Ps. 16:12, “Dan malaikat yang keenam menumpahkan cawannya ke atas sungai yang besar, sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur.”  Malapetaka cawan yang keenam merupakan persiapan untuk menghadapi perang “Harmagedon”, suatu perang yang akan dikisahkan lebih lanjut pada ps. 19:17-21. 
Persiapan pertama, mengeringkan sungai Efrat, dengan tujuan supaya tidak ada halangan fisik bagi tentara dan raja-raja yang akan datang dari sebelah Timur.  Pada kita Kel. 15:18, sungai Efrat adalah batas tanah perjanjian yang ideal.  Malapetaka cawan keenam berkaitan dengan sangkakala keenam.
Persiapan kedua, penarikan pasukan dan raja dari seluruh dunia, akan diuraikan pada bagian berikutnya (Hagelberg, 291-292).
Pengertian “harmagedon” dari kata har artinya gunung dan magedon dihubungkan dengan megiddon, nama sebuah kota di Yizreel di kaki gunung Karmel.  A. Pohl mengusulkan supaya kata har itu diartikan secara simbolis sebagai puncak pemusatan secara kekuasaan Anti-Kristus, sedangkan kata megiddon bukan merupakan suatu tempat, melainkan merupakan suatu nasip, yaitu nasip kekalahan secara ajaib.  Har membicarakan kejayaan Anti-Kristus, sedang megiddon membicarakan kekalahan Anti-Kristus (Scheunemann, 144).
Ps. 16:13, “Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak.”  Sebagian dari hukuman cawan keenam keluar dari mulut naga (Iblis), dari mulut binatang yang keluar dari laut (Anti-Kristus), dan dari mulut binatang yang keluar dari dalam bumi (nabi palsu).  Itu berarti hukuman Allah keluar dari mulut musuh Allah sendiri.
Beasley-Murray dan Mounce sepakat bahwa “tiga jenis roh yang menyerupai katak” adalah hasutan dari mereka yang menarik raja-raja pada peperangan yang dahsyat itu.  Katak berkaitan dengan tulah kedua pada kitab Kel. 8:1-5 (Hagelberg, 292).
Ps. 16:14, “Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.”  Pada ps. 13:13, dikisahkan tentang karya nabi palsu dan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukannya.  Rupanya ayat ini juga menceritakan puncak karyanya.
Pada ayat 12, dikatakan ada raja-raja dari seluruh dunia yang akan datang dari sebelah Timur, yang tak terhalang oleh sungai Efrat, ternyata ada juga raja-raja dari seluruh dunia yang akan datang untuk ikut serta dalam perang itu.  Sebutan hari Allah yang Mahakuasa tidak jauh berbeda dengan hari yang disebutkan pada kitab 1Kor. 1:8; Fil. 1:10.
Pada kitab Zefanya 3:8, dinubuatkan tentang gagasan mengenai kumpulan bangsa-bangsa melawan Tuhan, tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka dikumpulkan untuk dikalahkan pada Hari Allah Yang Mahakuasa.  Ini menunjuk kepada perang “Harmagedon”.
Ps. 16:15-16, “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.  Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.”  Merupakan suatu kejutan karena firman ini merupakan perkataan Tuhan Yesus sendiri, lebih khusus pada konteks roh-roh Setan.
Pikiran ini seperti diarahkan kembali kepada ps. 2 dan 3.  Kita dijanjikan kebahagiaan khusus jika kita berjaga-jaga dan memperhatikan pakaian kita.  Pada ps. 3:3, Tuhan Yesus berkata bahwa Dia akan datang seperti pencuri.  “Ketelanjangan” disebutkan pada ps. 3:17-18.  Rupanya istilah “Harmagedon” dalam bahasa Ibrani berarti gunung Megido, tetapi selain di dalam ayat ini tidak disebutkan dalam keseluruhan isi Alkitab.  Rupanya lokasi gunung Megido ada di sebelah Utara gunung Karmel, di sana ada lembah yang strategi dan luas untuk mengadakan peperangan (Ibid, 294-295).
Cawan Ketujuh, 16:17-21
Ps. 16:17, “Dan malaikat yang ketujuh menumpahkan cawannya ke angkasa. Dan dari dalam Bait Suci kedengaranlah suara yang nyaring dari takhta itu, katanya: "Sudah terlaksana.”  Penumpahan cawan ke angkasa adalah merupakan malapetaka yang dahsyat dari pada pengrusakan di atas bumi (ayat 2), atau lautan (ayat 3), atau air atau matahari (ayat 8); ini menandai pukulan terakhir melawan kekuatan-kekuatan yang jahat, secara manusiawi maupun secara Setaniah.
Karena itu, suara Allah memproklamasikan dengan ucapan “sudah terlaksana” atau sudah selesai (bnd Yoh. 19:30) (Guthrie, ed., 961).  Rupanya cawan yang ditumpahkan ke udara mengakibatkan badai yang luar biasa.
Ps. 16:18, “Maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu.”  Ayat ini mengisahkan hebatnya badai dan gempa bumi yang diakibatkan oleh cawan ke ketujuh.  Bauckhman mengatakan ayat ini merupakan puncak dari perkembangan hukuman Allah, seperti yang terdapat pada ayat-ayat ini:
4:5, kilat dan bunyi guruh yang menderu.
8:5, bunyi guruh disertai halilintar dan gempa bumi.
11:19, kilat, deru guruh, gempa bumi, dan hujan es yang lebat.
16:18-21, kilat dan menderulah bunyi guruh dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat serta hujan es yang besar.
Di sini terjadi peningkatan hukuman.  Gempa bumi diulang-ulang dalam hukuman tersebut.  Ingatlah bahwa ada jemaat yang ada di Asia Kecil yang pernah mengalami gempa bumi yang cukup menakutkan  dan merusak, seperti jemaat Filadelfia (Hagelberg, 297).
Ps. 16:19, “Lalu terbelahlah kota besar itu menjadi tiga bagian dan runtuhlah kota-kota bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Maka teringatlah Allah akan Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya.”  Pada ps. 18:10, 16, 18, 19, dan 21 sebutan kota besar menunjuk kepada Babel.  Rupanya ayat ini mulai menceritakan apa yang terjadi pada ps. 17 dan 18.
Kalau kota-kota bangsa-bangsa runtuh, kota Babel bukan hanya runtuh, tetapi akan mengalami cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka Allah.  Babel dibalaskan karena Babel telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya (14:8).
Ps. 16:20-21, “Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung.  Dan hujan es besar, seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.”  Mungkin sebagai akibat gempa bumi, maka pulau-pulau dan gunung-gunung hilang dari muka bumi.  Malapetaka ini adalah sebagian dari wujud kegeraman Allah yang jauh lebih dahsyat dari pada apa yang terjadi pada ps. 6:14.  Dalam Perjanjian Lama, seperti kitab Yehezkiel 38:18-22, hujan es dipakai Allah sebagai hukuman.  Sama seperti dengan kesepuluh tulah pada kitab Keluaran tidak membawa pertobatan, demikian juga dengan melapetaka yang ditimpakan Tuhan pada manusia (Ibid, 298-299).

Bersambung …

by : Pdt Markus Lingga' MTh   Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Portal Pdt.Aris Mangosa
Portal Pdt. Piter Pakka
Portal NKI

Minggu, September 07, 2014

Matius 28 : 6  “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring”.

       "Mengapa saya harus menyembah Seorang Yahudi yang mati?"

       Pertanyaan tulus dan menantang ini diajukan oleh seorang mahasiswa muda Yahudi pada saat  menghadiri  penginjilan yang dilakukan oleh penulis dan komposer dari lagu ini, Alfred Hendry Ackley.

       Dalam buku Forty Gospel Hymn Stories, George W. Sanville mencatat jawaban A.H. Ackley terhadap pertanyaan ini, yang pada akhirnya mendorong penulisan Injil himne ini populer:

       "Dia hidup! Aku berkata kepadamu, Dia tidak mati, tetapi hidup di sini dan selamanya! Yesus Kristus lebih hidup hari ini daripada sebelumnya. Aku bisa membuktikannya dengan pengalaman saya sendiri, serta kesaksian yang tak terhitung ribuan jumlahnya ."

       Mr Sanville melanjutkan:

       "Terus terang, jawaban tegas Mr Ackley, bersama-sama dalam  upayanya  untuk memenangkan orang bagi Kristus, berbunga dalam nyanyian dan mengkristal menjadi sebuah khotbah meyakinkan  'Dia Hidup!' . Kepekaan akan KehidupanNya menjadikan inspirasi untuk bahan khotbah, dan khotbah dalam lagu. Dalam  pembacaan cerita  Injil, kata-kata 'Dia bangkit'  memberikannya makna baru.
Bukti bahwa Dia Hidup adalah Alkitab, hatinya sendiri, dan kesaksian sejarah yakni pengalaman mulia murid Tuhan Yesus yang menyaksikan bahwa  Dia telah hidup. Atas dasar itu, ia duduk di depan piano dan menyuarakannya dalam bentuk lagu. Ia mengatakan, "Pikiran kehadiranNya selalu hidup sehingga tercipta musik dengan spontan dan  mudah.”   Dari getaran dalam jiwanya sendiri terciptalah lagu meyakinkan  "He Lives” yang diterjemahkan dalam NKI no 298 “Yesus Hidup”.

Himne ini pertama kali muncul di Triumphant Service Songs, sebuah himne yang diterbitkan oleh Perusahaan Rodeheaver , pada tahun 1933. Dan lagu “Yesus Hidup” telah menjadi favorit untuk jemaat Injili untuk saat ini.

AH Ackley lahir pada tanggal 21 Januari 1887, di Spring Hill, Pennsylvania dan menikah dengan Helen Armacost. Dia menerima pendidikan sepenuhnya dalam bidang musik, termasuk studi dalam komposisi di Royal Academy of Music di London, Inggris. Sebagai seorang pemusik, ia diakui sebagai pemain cello yang handal. Setelah lulus dari Westminster Theological Seminary, ia ditahbiskan menjadi Pendeta Presbyterian, pada tahun 1914. Sambil melayani sebagai pendeta Presbyterian di Pennsylvania dan California, Ackley selalu meneruskan minatnya dalam penulisan  lagu-lagu himne. Disamping   ia menulis sekitar lebih dari 1.500 lagu rohani dan sekuler, ia  juga membantu dalam penyusunan berbagai buku nyanyian Rohani dan buku nyanyian untuk Perusahaan Rodeheaver . Sebagai penghargaan atas kontribusinya untuk musik Rohani, ia dianugerahi kehormatan Doctor of Sacred Music Degree dari John Brown University.  Ackley meninggal di Whittier, pada tanggal 3 Juli 1960 dan dimakamkan di Rose Hills Cemetery, Whittier, California.


Lihat Kutipan teksnya dalam bahasa Inggris
“He Lives”
I serve a risen Saviour; He's in the world today.
I know that He is living, whatever men may say.
I see His hand of mercy, I hear His voice of cheer,
And just the time I need Him He's always near.


Chorus:
He lives! He lives! Christ Jesus lives today!
He walks with me and talks with me along life's narrow way.
He lives! He lives! Salvation to impart!
You ask me how I know He lives? He lives within my heart.


In all the world around me I see His loving care,
And though my heart grows weary I never will despair.
I know that He is leading, thro' all the stormy blast;
The day of His appearing will come at last.

Rejoice, rejoice, O Christian! Lift up your voice and sing
Eternal hallelujahs to Jesus Christ, the King!
The Hope of all who seek Him, the Help of all who find,
None other is so loving, so good and kind.

NKI No.298 (Kutipan @ Yayasan Kalam Hidup)
"YESUS HIDUP"
Jurus’lamat yang hidup t’rus kulayanilah,
Welakin dunia sangkal tetap kupercaya;
Besar kemurahan-Nya padaku sen’tiasa
Dan bila aku perlu Ia dekatlah

Koor:
Yesus (Yesus), Hidup (hidup) Hidup selamanya
Dia berjalan sertaku, Kudengar suaraNya,
Yesus (Yesus) Hidup (hidup), menjamin s’lamatku
Ku tahu benar Yesus hidup, hatiku rumah-Nya

Didalam dunia ini kurasa kasih-Nya
Yang s’lalu menghiburkan hati dalam susah
Dia memimpinku menghadapi bahaya
Hingga ku jumpa Dia dalam surga

Bersorak, hai Masehi, bernyanyi, bergemar!
B’ri puji bagi Yesus, Raja yang terbesar!
Dialah Penolongku, Pohon Hidup tetap
Yang tak ada bandingannya di dunia g’nap

Note:
Punya referensi  tambahan tentang sejarah lagu Nyanyian Kemenangan Iman  No 298     “ He Lives”? Silahkan email di laman kontak, kami akan sertakan nama anda sebagai penyumbang tulisan Longori Portal.

Referensi
http://articles.ochristian.com
http://www.cyberhymnal.org/bio/a/c/ackley_ah.htm

by : Admin Longori Portal  Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Portal FlashBack Songs
Portal KIBAID
Portal Inspirator Dan Kesaksian
Portal Pdt.Markus Lingga

Kamis, September 04, 2014

Ada banyak jemaat tidak menikmati kotbah di gerejanya. Mengapa jemaat mengeluh tentang kotbah? Bukankah Firman Tuhan seharusnya menjadi kekuatan sebuah gereja setelah era reformasi yang mengumandangkan “sola scriptura” yaitu hanya Firman Tuhan?

Masalah yang dihadapi adalah bukan pengkotbah yang tidak baik, namun kotbahnya sering tidak dimengerti, kepanjangan, membosankan, tidak ada daya tarik, tema yang itu-itu saja. Yang justru dianggap menarik adalah pengkotbah yang memiliki latar belakang kharismatik, sedangkan pengkotbah lainnya seperti kehilangan daya tariknya. Apalagi kotbah hanya berisi presentasi dari isi dengan gaya yang tidak menarik.

Menurut hemat saya, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa kotbah itu tidak menarik. Pertama, isi atau berita kotbah yang sangat minim dan juga tidak akurat. Ini terjadi karena pengkotbah tidak menggunakan sumber yang tepat untuk menggali isi Alkitab dan hanya memakai cara yang dangkal dalam memahami kebenaran lewat pengalaman semata-mata yang diceritakan. Jemaat awam katakan, lebih banyak ilustrasi daripada isi. Biasanya pengkotbah ini suka melucu dan melenceng dari tema, yang mana sebenarnya tidak jelek. Pengkotbah justru perlu punya “sense of humor”. Namun semuanya harus terukur dan tepat penggunaan humor itu.

Kedua, kajian biblikanya mendalam namun miskin aplikasi dan cerita praktis. Eksposisi yang digali sangat tidak jelas dengan cara memuja eksegesis, hermeneutik, metode historis-gramatika, penuh dengan kutipan-kutipan para ahli dan gambaran historis masa lalu yang menyebabkan kotbah menjadi sangat membosankan tidak aplikatif bagi jemaat. Jemaat hanya diajak mengikuti masa lalu yang dalam tanpa pernah menyadari jemaat membutuhkan aplikasi.

Ketiga, adalah faktor miskin cara dalam berkomunikasi. Cara menyampaikan kotbah tidak koheren atau tidak beraturan sehingga jemaat sulit mengikuti apa yang menjadi tujuan dari kotbah. Harusnya ada tatanan yang baik yaitu mulai dari penjabaran tema, poin-poin yang menuju puncak, dan konklusi serta tantangan. Bila ini tidak beraturan bahkan keluar dari topik, jemaat akan menjadi bingung apa sebenarnya tema dan tujuan kotbah.
Faktor waktu berkotbah juga menyumbang kebosanan jemaat. Ada kotbah yang kepanjangan dalam menyampaikan gagasannya, bahkan berulang-ulang ditekankan sehingga jemaat menjadi bosan sekali. Daya tahan jemaat biasanya tidak lama. Sesekali bila ada pengkotbah tamu yang menarik mungkin jemaat bisa bertahan, namun tidak untuk selamanya. Jangan kita terobsesi menjadi pengkotbah yang bicaranya berkepanjangan.

Bagaimana memperbaikinya? Menurut saya sederhana. Menjadi pengkotbah adalah sebuah proses dan tidak ada pil ajaib yang dapat mengubah seorang pengkotbah langsung jadi. Ada proses waktu yang dijalani seorang pengotbah. Ia perlu banyak melatih diri dan memiliki jam terbang kotbah yang banyak. Namun semua juga sangat bergantung kepada Allah dan karunia dari Tuhan. Pengkotbah harus banyak berdoa.

Kita juga harus mengingatkan jemaat dalam menghadapi pendetanya yang kurang bisa berkotbah. Pertama, doakan hamba Tuhan kita agar Tuhan bisa dipakai dalam berkotbah. Kedua. Bila setelah didoakan belum ada perubahan, maka kita patut datang berbicara dengan pendeta kita dan katakan kepadanya dengan penuh kasih tentang kotbahnya. Ketiga, kirim pendeta kita untuk menghadiri peningkatan kemampuan dalam kotbah. Dan yang terakhir, bila belum ada perubahan mungkin sebaiknya hamba Tuhan itu menyadari bahwa Tuhan memberi karunia yang lain. Itu sebabnya kita undang hamba-hamba Tuhan lain dapat berkotbah di gereja kita. Setiap pengkotbah jangan putus asa untuk maju. Bila ada kritik dari jemaat, terima dengan senang hati sehingga menjadi kajian agar kotbah kita lebih baik di kemudian hari.

by: Pdt Daniel Ronda
Rektor STT Jaffray Makassar

Baik Untuk Dibaca
Portal EasyWorship
Portal Administrator
Portal Flashback Songs

Jumat, Agustus 29, 2014

(Indonesia : Apa Yang Menjadi Penyembahan Berhala Dalam Kekristenan )
 

 Theistic evolutionists – they are now calling themselves “Christian evolutionists” – often charge us with “idolatry.” They claim that we idolize the Bible instead of Jesus and demean us with the indictment of “bibliolatry,” as this Facebooker has done:

    There is a trend in modern society, no more than a trend...a religion, an idolatry that elevates scripture above Jesus. This 'bibliolatry', if you will, is rooted in a modern mindset that values reductionism over mystery. A reading of the Bible over Jesus.


Must we choose either Jesus or His teaching? Why should not the two go together, as Jesus taught:

    Whoever has my commands and keeps them is the one who loves me. The one who loves me will be loved by my Father, and I too will love them and show myself to them… Anyone who loves me will obey my teaching. My Father will love them, and we will come to them and make our home with them.  Anyone who does not love me will not obey my teaching. (John 14:21-24; also John 15:7-15)


If we love Jesus, we will keep His Word. If we don’t keep His Word, it means that we don’t love Him. We cannot love Jesus by baking for Him or even by touching. The way we love Him is by abiding in His Word. This abiding determines all else – faith, worship, obedience, and even love.

The Bible uniformly reveals that loving God is a matter of loving His Word. Hating Him is hating His Word. The two are inseparable! God demonstrated this to King David, when He confronted him about his adultery with Bathsheva:

    Then Nathan [the Prophet] said to David, “… This is what the Lord, the God of Israel, says: ‘I anointed you king over Israel, and I delivered you from the hand of Saul.  I gave your master’s house to you, and your master’s wives into your arms. I gave you all Israel and Judah. And if all this had been too little, I would have given you even more. Why did you despise the word of the Lord by doing what is evil in his eyes? You struck down Uriah the Hittite [Bathsheva’s husband] with the sword and took his wife to be your own. You killed him with the sword of the Ammonites. Now, therefore, the sword will never depart from your house, because you despised me and took the wife of Uriah the Hittite to be your own.’ (2 Sam. 12:7-10)


Here, “despising the word of the Lord” is used interchangeably with “despised me.” These two concepts are inseparable. When we reject God’s Word, it is tantamount to rejecting Him. Why then are we charged with “bibliolatry?”

Either our detractors do not know the Word or perhaps they even despise it. I pray that it is the less serious explanation – the first one – and that they might see the error of their charge.

Author by : Pastor Daniel Mann
Instructor at New York School of the Bible, New York,  February 1992 to present
Teach classes of OT, Theology and Apologetics.

Related Link
Portal KIBAID
Portal English
Portal Sahabat

Senin, Agustus 25, 2014

Setelah publikasi sebelumnya tentang pembanguan Pos PI Paiman di Toraja ini, kembali jemaat beserta gembala melanjutkan  proses pembangunan  yakni program pembangunan menara kembar , plamor dinding luar dalam dan pemasangan tegel lantai. Tentu selain doa  diperlukan management yang sangat brilliant dari semua tim. Mulai dari management waktu, SDM, teknik, pengelolaan dana, dst. Rancangan awal dari tim ini telah banyak mengelola dana yang tidak sedikit untuk mencapai target waktu yang telah diimpikan.  Dana ini sebenarnya bersumber dari jemaat sendiri, Lembaga Pengusaha Kristen dan beberapa donator pribadi di beberapa daerah (Merauke, Palangkaraya dan Batam).

Khusus dana dari Lembaga Pengusaha Kristen lebih terfokus kepada CMM yakni Charitas Makassar Ministry yang dikoordinir oleh Pdt. Robert Sokoy, M.Th. di Makassar.
CMM ini mempunyai panggilan untuk menyalurkan berkat Tuhan bagi hamba-hamba Tuhan dan pelayanan gereja yang sifatnya bantuan, baik itu bantuan untuk pembangunan fisik (gedung gereja), maupun bantuan untuk para gembala jemaat di tempat-tempat yang dianggap perlu disuplai. Tentunya sebelum dibantu Pos PI ini telah disurvey untuk layak tidaknya mendapatkan bantuan dan terus dimonitoring untuk melihat kemajuan yang telah dicapai dalam hal penggunaannya.





Di bidang perlengkapan pelayanan,  CMM telah menyalurkan juga bantuan untuk Pos PI ini berupa  Keyboard, Sound, Genset (pembangkit listrik) dan kursi plastik 30 buah yang semuanya telah digunakan oleh jemaat dalam ibadah.
Selain berkat materi yang telah digunakan dengan baik, jemaat ini pun semakin keberkatan dengan bertambahnya  jumlah KK yang sebelumnya hanya 27 menjadi 30 KK yang otomatis menambah jumlah jemaat sebelumnya.

Jemaat  mengucap syukur dan berterimakasih atas segala upaya yang telah dilakukan, baik itu dukungan doa, dukungan materi dari donatur (pribadi dan Lembaga) yang mungkin tidak disebutkan dan semua supporting yang telah diberikan. Tentunya besar harapan agar supaya keberlanjutan dukungan dalam  kegiatan ini tetap selalu dinamis, sehingga apa yang mungkin dicita-citakan jemaat dapat tercapai. Kemuliaan Tuhan di tempat Maha Tinggi


NB: Punya cerita tentang kegiatan gereja pembaca? Kirimkan ke Longori Portal, akan kami publish untuk didukung bersama.

By : Administrator  Profile Penulis
Contact Person : Pdt. Markus Lingga, MTh (markuslingga@yahoo.com)
Special Thanks : Pdt Pither Pakka, MA

Baik Untuk Dibaca
Portal NKI
Portal Pdt. Piter Pakka
Portal Sahabat

Minggu, Agustus 17, 2014

Yeremia 29:7  Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
Kita sangat bersyukur dengan bisa menikmati HUT RI ke – 69, pada tanggal 17 agustus 2014. Dengan banyak sejarah yang telah kita lewati, masih banyak hal dalam bangsa ini yang perlu diperbaiki. Banyak fakta di negeri ini yang diputar balikkan, kebenaran dibuat salah demi kepentingan pribadi atau golongan, sehingga itu menjadi hal yang wajar dalam kehidupan. Dalam dunia pendidikan masih banyak harus dibayar mahal untuk mendapatkan pendidikan terbaik walau kecil yang mendapat beasiswa. Dalam bidang kesehatan kita pernah mendengar statement orang miskin dilarang sakit. Dibidang kerukunan beragama cendrung konflik sehingga sangat mudah terprovokasi, hubungan horizontal semakin luntur.
Memasuki usia kemerdekaan yang tidak muda lagi, kita sebagai orang percaya hendaknya bisa berdoa untuk hal-hal diatas dengan tujuan :
1.    Agar tercipta kesejahteraan di negeri ini, (yeremia 9:7)
Kesejahteraan yang dimaksudkan adalah perlakuan adil, bijak dan bisa membuat masyarakat tidak terabaikan sehingga semua sama di mata penguasa negeri. Kesejahteraan bukan berarti materilistis yang membuat masyarakat diperhamba, namun sebijak apa kita menggunakannya sehingga kita merasa cukup dan keberkatan.
2.    Supaya supremasi hukum bisa di tegakkan,   Mikha 7:3-4  Tangan mereka sudah cekatan berbuat jahat; pemuka menuntut, hakim dapat disuap; pembesar memberi putusan sekehendaknya, dan hukum, mereka putar balikkan!
Orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri; hari bagi pengintai-pengintaimu, hari penghukumanmu, telah datang, sekarang akan mulai kegemparan di antara mereka!
Kasus seperti  dialami Ketua MK yang sempat menghebohkan sudah dinubuatkan dalam kitab Mika dan tidak tertutup kemungkinan orang-orang bahkan organisasi Kristen bisa mengalami hal yang sama. Fakta bisa diputar balikkan, yang benar jadi salah dan sebaliknya yang salah bisa dibenarkan. Tak sebatas kasus yang membawa dasar hukum, kegiatan pada hari minggupun bisa dijadikan pembelokan,  mendahulukan  rekreasi, olahraga minggu, hura-hura bahkan hanya bersantai dirumah membuat hati lebih tenang.
Kita berdoa supaya hukum bisa ditegakkan seadil-adilnya, dan kita bisa juga meluruskan kegiatan kita setiap minggunya.
3.    Mat 28:1-20 ; Kis 1:8, Supaya bangsa ini dimenangkan bagi Kristus,
Tugas memberitakan injil merupakan tugas semua orang percaya, semua harus bekerja walau ada tantangan-tantangan yaitu penguasa kegelapan, dan jika Tuhan berkenan Visi Bless Indonesia 2020 bisa terjadi sehingga kemuliaan bagi Tuhan di persembahkan dari bangsa ini.

By :  Pdt. Aris Mangosa   Profile Penulis

Baik Untuk Dibaca
Portal Pdt Piter Pakka
Portal English
Portal NKI


Komentar Facebook

We want You to read with Us again and again II Gratis Buku Virtual Rohani dari kami dengan klik salah satu Image Slider di bagian atas Beranda II Situs ini menerima Tulisan Anda baik Itu Sebagai Sumbangan atau Ingin Menjadi Team Kami II Buat Kami Lebih Baik Dengan Dukungan Doa dan Dengan Memberikan Reaksi/Comment Anda di Form Yang Tersedia